Virious
by. Hitomi Shoyou

Eyeshield 21
Riichiro Inagaki dan Yusuke Murata.

Warning : OOC dan TYPO


Pagi ini seperti biasa Mamori menemani teman-temannya berlatih. Sudah menjadi kewajiban rutin bagi para atlet amefuto itu dalam melakukan latihan pagi-pagi seperti ini. Mamori juga masih setia menggantikan sang kapten yang pergi keluar negeri. Di dalam lapangan terlihat para anggota Wizards cukup semangat dalam menjalankan latihan pagi ini. Dari sana terlihat Yamato melambaikan tangan kearah Mamori yang berada dipinggir lapangan.

"Anezaki, bisa kau berikan aku minum?" seru Yamato dari kejauhan.

"Tentu," sahut Mamori mulai menghampiri orang-orang yang sudah terkapar di tanah lapangan.

Mamori mulai membagikan minuman dan juga handuk kecil kepada teman-temannya.

"Karin bagaimana rasanya menjalankan latihan sebagai pemain?" tanya Mamori.

"Lelah sih tapi sangat menyenangkan. Biasanya aku hanya melihat yang lain berlatih dari pinggir lapangan dan sekarang aku bisa merasakannya," jawab Karin.

"Baguslah kalau begitu," Mamori tersenyum.

"Oh ya, Hiruma masih lama juga di Amerika?" tanya Yamato.

"Dia akan kembali besok. Tadi malam dia memberitahuku,"

"Apa? Sampah itu akan kembali besok? Sudah bagus dia pergi," kata Agon dengan santai.

"Eh Agon? Tidak biasanya kau mau latihan," tanya Mamori.

"Tentu saja aku akan latihan jika ada orang semanis dirimu," kata Agon dengan rayuannya seperti biasa.

'Aku menyesal bertanya padanya,' runtuk Mamori dalam hati.

"Ngomong-ngomong soal besok, apa ada yang mau-"

TENNGGG TENNGGG TENNGGG

Bunyi lonceng raksasa di atas gedung Universitas menggema cukup keras sehingga memotong perkataan Mamori.

"Ah aku jam kuliah pagi hari ini,"

"Aku juga!"

"Kami duluan ya,"

Beberapa anggota Wizards langsung melesat ke ruang club untuk mengganti pakaian mereka.

.
.

Mamori, Yamato, Taka, dan Karin berjalan di koridor Universitas menuju kantin. Jam kuliah mereka akan diadakan satu jam lagi. Jadi sebelum memulainya mereka bermaksud untuk mengisi perut mereka pagi ini.

"Jadi apa yang ingin kau katakan tadi Anezaki?" tanya Yamato.

"Oh ya, apa kalian mau ikut denganku besok? Aku, Suzuna, Monta, dan Sena berencana akan menjelajah hutan pinggir kota," kata Mamori.

"Hutan pinggir kota?" kata Karin.

"Iya. Monta dan Suzuna sangat penasaran ingin masuk kesana. Ya hitung-hitung kita akan berkemah mungkin. Aku juga sudah mendapatkan seorang yang ahli dalam menjelajah hutan," kata Mamori.

"Bukankah kau besok masih harus tetap menemani Hiruma mengatur latihan?" kata Yamato.

"Tidak. Hiruma memberikanku libur, hanya besok saja. Jadi bagaimana?"

"Bagaimana ya…?" kata Yamato tampak berpikir.

"Kita tidak mungkin bisa ikut jika besok iblis itu datang," sahut Taka yang masih tetap meluruskan pandangannya pada buku yang sedang dia baca.

"Taka benar. Sepertinya kami tidak bisa ikut," kata Karin.

"Maaf Anezaki," sambung Yamato

"Iie, tidak apa-apa. Memang benar, jika dia sudah datang tidak ada alasan untuk membolos dari latihan," kata Mamori.

Yamato mengangguk menyetujui.

~Virious~

Enma University

Keadaan gedung Universitas cukup sepi dari keadaan biasanya. Bukan karena hari ini adalah hari libur atau semacamnya. Hanya saja hari ini adalah hari penyambutan sang pemilik gedung Universitas. Seperti yang pernah di lakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Sang pemilik Universitas datang berkunjung entah seperti hanya berpidato dan melihat keadaan Universitas. Sehingga di sinilah para mahasiswa maupun mahasiswi berada. Di aula gedung Universitas, duduk dengan rapi dan siap mengikuti jalannya acara.

"Maaf MAX! Tadi aku bangun kesiangan. Apa acaranya sudah mulai?" kata Monta langsung mengambil tempat duduk di samping Sena. Beruntung bagi Monta karena Suzuna menempati kursi yang berada di barisan paling belakang sehingga tidak membuat dirinya mencolok karena datang terlambat.

"Tenang saja Monmon, baru pembukaan saja kok," kata Suzuna.

"Sepertinya aku tidak melihat Riku?" kata Monta mencari sosok Riku.

"Aku dan Sena sudah mengajaknya tapi katanya dia malas. Jadi dia menunggu di kantin," kata Suzuna. Monta mengangguk paham.

"Lalu Mizumachi juga sengaja tidak mau ikut ya?" tanya Monta lagi pada Kurita yang duduk di barisan depannya.

Kurita menoleh kebelakang, "Dia ingin ikut tapi semuanya menolaknya,"

"Menolaknya?"

"Orang tidak smart itu benar-benar tidak smart. Acara resmi begini bisa-bisa dia hanya membuat malu dirinya sendiri dengan membuka kaosnya karena semangat tidak smartnya," kata Kotarou dengan bahasa smart-nya.

Seketika Monta, Suzuna, dan Sena membayangkan Mizumachi saat ini ikut dalam acara ini dan dengan semangat amefuto dia berteriak-teriak sambil melepas kaosnya. Mereka langsung sweatdrop membayangkannya.

"A.. Aku mengerti maksudmu," kata Monta.

"Stt, bisa kalian tenang sedikit? Orang itu sedang berpidato," kata Unsui.

'Dia ini benar-benar murid yang teladan,' batin Suzuna dan yang lainnya yang menyetujui.

"Oh ya soal besok, Mamo-nee setuju mau ikut lho," kata Suzuna dengan suara pelan.

"Benarkah MAX?!"

"Tapi kita juga jangan beritahu yang lain. Kalian mengerti kan?" kata Suzuna.

Sena dan Monta mengangguk mengerti. Lalu mereka bertiga kembali mendengarkan orang yang berpidato di atas panggung.

.
.

PROK PROK PROK

Suara tepuk tangan dari para mahasiswa dan mahasiswi Enma mengakhiri acara penyambutan yang telah berjalan sekitar sejam yang lalu.

"YA~ Selesai juga," ucap Suzuna langsung berdiri merenggangkan tangannya keatas.

"Monta bangun…" kata Sena sedikit mengguncangkan tubuh Monta yang tertidur di kursi.

'Dasar pemalas…' batin beberapa orang yang melihat Monta.

"Benar-benar tidak smart,"

"Biar aku saja yang bangunkan," kata Suzuna.

Suzuna mendekat kearah Monta. Tepat berada di telinga Monta. Sena dan yang lainnya hanya memperhatikan dan menebak kira-kira apa yang akan di lakukan gadis hiperaktif itu.

"Beri sambutan untuk tamu kehormatan kita yang cantik dan anggun… Anezaki Mamori," kata Suzuna membisikkan kata di telinga Monta.

"MAMORI-SAN!" Reflek Monta langsung bangun, berdiri, dan bertepuk tangan. Cukup kencang, ya cukup kencang pemirsa.

Krik Krik krik…

Monta berhenti tepuk tangan. Melihat podium sudah kosong. Menoleh sekeliling, sudah sepi.

"Lho? Mamori-san? Kemana?" kata Monta.

Sedangkan yang lain tertawa melihat kejadian itu. Sena juga tidak bisa menahan untuk tertawa, tapi setidaknya ia tidak tertawa sekeras Suzuna dan Kotarou.

"HAHAHAHA… Ga smart banget,"

"Hahaha… bener banget," kata Suzuna.

Monta menoleh kearah dua orang itu, "Kalian… ngerjain aku MAXXX!"

"Aura Montakongnya keluar," celetuk Kotarou.

"Apa kau bilang MAX?! Kau mau tahu gimana kalo sisirmu itu aku patahin?!"

"Jangan sisirku," Kotarou langsung kabur untuk melindungi sisir kesayangannya yang selalu ia bawa kemana pun itu. Monta langsung mengejarnya.

"Kekanakkan sekali mereka," ucap Unsui.

"Tapi jadi hiburan tersendiri lho Unsui senpai," kata Suzuna sambil nyengir.

"Aku lapar~ Ayo kita ke kantin," kata Kurita.

"Riku juga sedang ada di sana. Ayo kita kesan_ GYAAA!" Suzuna terpeleset kulit pisang. Di duga itu adalah kulit pisang yang Monta buang dengan sembarangan saat mendengarkan pidato.

Tinggal beberapa jarak lagi Suzuna membentur lantai jika tangan seseorang menahan pinggangnya. Suzuna yang tadi menutup matanya jadi membuka matanya.

"Se..Sena.." kata Suzuna.

Posisi kedua tangan Sena menahan tubuh Suzuna di bagian pinggang. Lama mereka terus dalam posisi seperti itu karena saling terpesona.

"Ka..Kami duluan ya," Kurita dan Unsui langsung berjalan lebih dulu.

Sena langsung tersadar dan membantu Suzuna berdiri tegak.

"Ma..Maaf," kata Sena malu malu.

"Eh? Sena tidak salah kok. Terima kasih ya," kata Suzuna sama dengan Sena, malu malu.

.
.

Clifford berdiri di dekat jendela apartement. Memperhatikan keadaan luar yang cerah dengan sinar matahari sebagai penerang alami bumi. Seberkas cahaya jatuh mengenai tangannya. Ia memperhatikan tangannya yang terkena cahaya itu.

"Hanya karena ini aku tidak bisa memenuhi janjiku. Maaf Wakana…"

Dan ia kembali mengingat serangkaian kejadian tadi malam.

Flashback

Clifford sedang berada diruang rapat kastil para petinggi Virious. Malam ini adalah keputusan final yang harus Clifford terima. Dia dianggap gagal dalam menjalankan tugas dan membebaskan tahanan Emfire tanpa persetujuan petinggi lain.

"Perbuatanmu ini sangat serius D. Louis. Bahkan hukuman mati tidak cukup atas hal yang telah kau lakukan," kata Shogun.

"Sudahlah hukuman apapun cepat berikan. Kalian benar-benar menganggu waktu istirahatku hanya untuk rapat seperti ini," kata Mr. Don.

"Hukuman mati sudah cukup," kata Habashira Rui.

"Maaf sebelumnya para petinggi Virious yang terhormat. Sesuai perjanjian Clifford harus meninggalkan Virious jika ia gagal. Sebagai orang yang berwibawa jangan sampai kalian tidak konsisten," kata Shin.

"…" semua peserta rapat diam sampai Shogun membuka mulutnya.

"Shin benar. Baiklah keputusan terakhir, mulai detik ini D. Louis dinyatakan harus meninggalkan Virious," kata Shogun mengakhiri rapat.

Clifford sendiri hanya diam. Semua peserta rapat bubar meninggalkan Clifford dan beberapa tentara yang bertugas mengiring Clifford sampai perbatasan. Tidak mereka saja, Shibuya, Bud, dan Tatanka juga masih di sana.

"Clif…" Shibuya menepuk bahu sahabatnya.

Clifford melihat mereka bertiga sekilas lalu berdiri dan meninggalkan ruang rapat, masih dikawal para tentara.

Sebelum Clifford pergi, dia meminta waktu kepada para tentara agar membiarkannya untuk membawa beberapa barang. Para tentara menyetujui tetap masih menunggu dalam lingkungan kastil. Clifford berjalan menuju kamarnya, membuka pintunya.

"Wakana?" kata Clifford melihat Wakana duduk di kursinya.

"Clifford-sama anda sudah berjanji pada saya," kata Wakana melihat Clifford.

Tahu maksud Wakana, Clifford hanya diam. Dia berjalan menghampiri Wakana dan mengelus pucuk kepala Wakana pelan.

"Sangat berbahaya jika kau ikut," kata Clifford.

"Saya tidak peduli, Clifford-sama sudah berjanji. Tidak pernah sekalipun anda mengingkari janji yang pernah anda janjian pada saya sebelumnya," kata Wakana.

Clifford kembali diam dan berpikir. Menatap mata Wakana yang kosong itu. Mata yang sebelumnya memiliki warna yang indah.

"…baiklah."

.
.

Clifford berlari menembus gelapnya malam dan lebatnya hutan. Sebelumnya Clifford berhasil lolos dari kastil melalui jendela kamarnya yang berada di sisi kanan. Cukup tinggi, tapi itu bukan masalah besar baginya. Tidak sampai disitu lalu ia harus berhadapan dengan tentara yang berjaga di sisi kanan itu. Pertarungan itu dimenangkan oleh Clifford. Tidak mau membuang waktu Clifford langsung menarik Wakana untuk berlari. Mereka tidak bisa menggunakan kuda. Karena kandang kuda berada di sisi berlawanan, sangat ber-resiko jika ia nekat memakai kuda.

Dan mereka sekarang masih berlari menjauh dari kastil menuju perbatasan. Derap kaki lain mulai terdengar. Itu adalah tentara yang berjaga di kastilnya. Mereka tidak bisa diremehkan karena mereka adalah tentara di bawah tangan Seijuro.

Wakana terlihat lelah. Staminanya tidak sebanding dengan Clifford.

"Clifford-sama…"

"Kita harus cepat Wakana,"

SRET

Clifford mendadak berhenti berlari. Di depannya sudah berdiri beberapa tentara pimpinan Shin. Dia terkepung dan mau tidak mau ia harus menghadapi para tentara itu.

Dari kumpulan tentara itu Shin melangkah kedepan dengan angkuhnya.

"Seharusnya kau bisa menepati janjimu D. Louis,"

Shin mengarahkan tangannya tanda agar para tentaranya mulai menyerang Clifford.

Clifford bertarung sekaligus melindungi Wakana. Cukup sulit memang tapi ia harus fokus agar tidak ada kesalahan apapun. Tingkatnya sebagai petinggi menjadi keuntungan sendiri baginya, karena dari setiap serangan dan kekuatan ia lebih unggul daripara tentara itu.

TRANG! TRANG! BUAGH!

Bunyi pedang yang beradu dan beberapa tendangan yang Clifford lancarkan dalam pertarungan menjadi alunan nada dalam hutan itu.

Beberapa tentara kalah menghadapi Clifford dan terkapar di tanah. Peluh mengalir di dahi Clifford karena lelah. Dia kembali menghadang serangan tentara yang mulai menyerangnya kembali. Dan semua tentara berhasil ia kalahkan.

"Kemampuanmu memang hebat. Tapi apakah lebih hebat dariku?" Shin langsung menyerang Clifford.

Clifford mendorong Wakana untuk menyingkir dari pertarungan. Karena para tentara sudah pingsan bisa dipastikan situasi aman. Karena musuh tinggal satu dan sekarang sedang Clifford tangani.

TRANG

Pedang mereka beradu. Tenaga seimbang, tidak ada yang bergeser maju atau mundur.

"Bukankah sudah kubilang agar kau tidak membawanya?"

"…" Clifford hanya diam.

"Apa ini D. Louis yang sekarang ku kenal? Mengingkari janji,"

"Tapi sepertinya aku tidak pernah berkata ya atau menyetujui perjanjian sepihakmu," kata Clifford.

Geram, Shin melepas aduan pedangnya dan memutar gaya spin sampai berada dibelakang Clifford dan mengarahkan pedangnya ke punggung Clifford. Clifford juga tidak kalah cepat langsung melompat salto. Matanya sempat bertemu dengan mata Shin yang berada dibawahnya. Shin maju beberapa langkah dan mengarahkan pedangnya keleher Clifford tepat seperti Clifford. Mereka berdua saling menodongkan pedang di leher lawannya.

"Sebagai pihak yang salah sebaiknya kau mengikuti peraturan yang benar," kata Shin.

"Itu tidak berlaku padaku," ucap Clifford.

Shin dengan gerakan cepat mendongak dan merendahkan badan, memutar pedangnya kearah kaki Clifford. Clifford melompat dan berdiri diatas pedang dan berjalan, menendang wajah Shin. Gerakkan Clifford cukup cepat sampai bisa menendang wajah Shin telak. Shin mundur beberapa meter, dia berdiri dan mengusap sedikit darah yang keluar dari hidungnya.

"Hanya kebetulan saja," ucap Shin tersenyum sinis.

"…"

Lagi-lagi Shin yang pertama menyerang. Dan lagi-lagi Cifford menahannya.

Wakana hanya menyaksikan pertarungan itu.

Serangan demi serangan Shin lancarkan beberapanya mengenai Clifford walaupun tidak fatal begitu pula Shin. Kemampuan mereka seakan seimbang.

"Sudah cukup sampai disini buang-buang waktunya," Clifford mengarahkan telapak tangannya kearah Shin baru saja terkena serangan pukulan dari Clifford.

"Deliasnor Batzu," ucap Clifford dan detik berikutnya banyak kelelawar yang keluar dari tangannya dan mengerumuni Shin.

'Ilusi?' batin Wakana. Karena dia tidak melihat apa pun. Tapi Shin terlihat mengusir kelelawar-kelelawar itu. Biarpun tidak menyerang dengan serangan serius kelelawar yang banyak itu cukup mengganggu. Selagi Shin sibuk menebas-nebas ilusi kelelawar dengan pedangnya. Clifford segera menghampiri Wakana dan kembali menariknya untuk berlari.

.
.

Sudah cukup jauh mereka berlari dan mereka juga sudah melewati perbatasan. Cahaya di depan terlihat.

'Sudah pagi kah?' batin Clifford.

"Clifford-sama, kita akan kemana?" tanya Wakana.

"Satu-satunya tempat yang bisa kita tempati hanya tempat para manusia," kata Clifford masih mengiring Wakana menuju pinggir hutan.

Hutan semakin menitis dan cahaya semakin terlihat. Bias cahaya sudah bisa Clifford rasakan menyentuh kulitnya. Matanya cukup terganggu dengan sinar itu. Wakana juga bisa merasakan cahaya matahari menyentuh kulitnya. Tapi…

'Kenapa terasa panas sekali?' batin Wakana. Semakin lama Wakana merasa seperti terbakar.

"Clifford-sama," panggil Wakana.

Clifford menoleh kebelakang, matanya sedikit melebar. Wakana sedikit berasap terutama dibagian tubuh yang terkena cahaya matahari.

"Waka_"

TAP

Sosok berjubah yang menutupi hampir seluruh tubuhnya berdiri dibelakang Wakana. Wajahnya tidak terlihat karena tudung itu juga cukup bisa menutupi kepalanya. Dan langsung mendekap Wakana lalu berlari sangat cepat.

'Seorang vampire!' Clifford mengejar sosok itu yang berlari menuju kembali ke dalam hutan. Clifford bisa mengejarnya.

"Lepaskan dia," ucap Clifford tegas.

"Dan kau akan membakarnya dengan tempat manusia itu?"

'Ini…suara Shin?!' batin Clifford.

Sosok itu kembali berlari…

"Tunggu!"

Sosok itu yang diyakini adalah Shin kembali berhenti masih membopong Wakana dibahu kirinya. Tangan kanannya bersiap menyabut pedang di sisi kanan pinggangnya jika Clifford menyerang.

"Aku…Mohon jaga dia…Shin," kata Clifford.

Shin tidak menduga apa yang akan dikatakan Clifford.

"…" Shin hanya diam lalu kembali berlari pergi meninggalkan Clifford sendirian.

'Maafkan aku Wakana,' ucap Clifford dalam hati.

Flashback End

Kini Clifford berada di tempat para manusia hidup. Diperadaban mereka dan jelas hal itu semua asing bagi Clifford. Tapi Clifford sama jeniusnya dengan Hiruma dengan hitungan jam dia bisa meneliti dan berbaur seperti manusia kebanyakan. Bahkan sekarang ia bisa tinggal disebuah apartement setelah sebelumnya ia menewaskan seorang pengusaha dan mengambil uang yang pria itu miliki untuk sementara membayar apartement yang ia tinggali.

~Virious~

Hiruma baru saja selesai membereskan semua barang-barangnya untuk kembali ke Jepang sore nanti.

TOK TOK TOK

Pintu kamar apartement diketuk dari luar.

"Hm? Tidak biasanya mata merah sialan mengetuk pintu," kata Hiruma.

Tak kunjung dibukakan pintunya, orang di luar itu masuk kedalam.

"Yo bocah," Marco masuk dan langsung duduk di sofa ruang tamu.

"Suara cola sialan?" kata Hiruma lalu beralih pergi keruang tamu.

"Yo," sapa Marco menenggak colanya.

Hiruma memincingkan matanya. Ada yang aneh, koper siapa yang berjejer di dekat sofa. Dan lagi kenapa Himuro itu ada disini? Begitulah pertanyaan yang ada di benak Hiruma.

Mengerti tatapan Hiruma, Marco menepuk koper di depannya.

"Ini koperku. Dan ini koper Maria. Ah ya soal kenapa kami membawa koper ini kami akan ikut denganmu," jelas Marco.

Hiruma menaikkan sebelah alis kirinya.

"Bagaimana menjelaskannya ya, Maria ini sangat ingin bertemu Yang Mulia_ Reinkarnasinya lebih tepatnya," kata Marco.

"Dan kau juga?" kata Hiruma.

"Tentu saja. Bukan karena ingin bertemu dengan Stlamier hanya ingin menjaga Maria," kata Marco.

"Jaga biacaramu yang tidak sopan itu Reiji Marco. Namaku Maruko Himuro Zeornix bukan Maria!" kata Himuro tegas.

"Itu adalah nama special untukmu tuan putri Zeornix," kata Marco.

"Reiji Marco!" bentak Himuro.

"Hentikan perkelahian suami-istri kalian di apartementku! Cari tempat lain saja sana," kata Hiruma ketus.

Himuro ber-hey protes, berbeda dengan Marco yang masih santai dan menenggak colanya.

"Jadi kita akan berangkat sore nanti ya? Lumayan masih lama. Bagaimana jika kita berkeliling di apartement ini Maria," kata Marco berdiri dan membungkuk gaya bangsawan.

"Aku tidak mau,"

"Aku anggap itu persetujuan," Marco menarik tangan Himuro lembut sedikit menyeret.

BLAM

Pintu tertutup meninggalkan Akaba yang masih berada diruang tamu. Akaba meletakkan gitarnya.

"Fuh, sepertinya hanya tinggal aku yang belum membereskan barang-barangku," Akaba berjalan menuju kamar.

Hiruma beralih ke dapur untuk mengambil softdrink di lemari pendingin.

.
.

"Baiklah, cukup sampai disini pertemuan kita kali ini. Selamat Siang," dosen pun keluar dari kelas. Paramahasiswa maupun mahasiswi berhamburan keluar kelas. Mamori sedang membereskan buku-bukunya dan memasukkannya kedalam tas.

"Anezaki apa kau mau ikut dengan kami?" tanya Yamato yang sudah di depan Mamori. Disampingnya berdiri Karin.

"Aku dan Yamato akan makan siang di restaurant yang tidak jauh dari sini. Kau mau ikut?" kata Karin.

"Sepertinya tidak bisa. Maaf… Aku sudah ada janji dengan Riku dan yang lainnya," kata Mamori.

"Begitu. Baiklah kami duluan ya," Yamato berjalan keluar kelas dengan Karin.

"Di lihat-lihat mereka cocok juga ya," gumam Mamori lalu tertawa kecil. Meraih tasnya dan keluar kelas.

Mamori berjalan menuju gerbang Universitas. Sesekali entah siapa pun itu menyapanya, tidak heran jika banyak orang yang menyukainya karena Mamori memang ramah.

'Haahhh… biarpun dilupakan aku masih saja memikirkan mimpi itu,' kata Mamori pada dirinya sendiri.

'Anak itu benar-benar mirip Hiruma,'
'Jangan-jangan dia benar Hiruma!'

Mamori berhenti melangkah lalu menggelengkan kepalanya pelan.

'Tidak mungkin. Hahaha… Anak itu manis di lihat darimanapun. Berbeda sekali dengan Hiruma yang seperti iblis. Tatapan matanya saja berbeda. Hiruma itu menyebalkan, suka seenaknya saja, pokoknya menyebalkan!'.

Mamori berkedip sekali, dua kali, 'Kenapa aku… jadi memikirkan iblis ituuu!' jerit Mamori dalam hati.

BRUK

"Aduh…" keluh Mamori yang jatuh terduduk setelah bertabrakan dengan seseorang.

"Ma..Maaf… Anda tidak apa-apa?" tanya orang itu mengulurkan tangannya untuk membantu Mamori berdiri.

"Tidak apa-apa kok. Saya juga salah karena melamun dan tidak memperhatikan jalan," Mamori menerima uluran itu dan berdiri. Membersihkan celanannya dari debu yang mungkin menempel.

"Saya juga tidak memperhatikan jalan. Sekali lagi maaf," kata orang itu. Seorang pria berpenampilan biasa dengan celana jeans biru dongker, kaos putih dengan gambar king pada catur dan jaket berwarna hijau tua.

"Tidak apa-apa," kata Mamori ramah.

'Kenapa aku merasa aura gadis ini berbeda tidak seperti manusia kebanyakan,' pria itu membetulkan kacamatanya.

"Hey Takami. Disana kau rupanya," Sakuraba melambai-lambaikan tangannya memberi isyarat posisinya.

Takami melihat kedepan lewat celah bahu Mamori.

"Sekali lagi saya minta maaf. Permisi," kata Takami ramah dan berjalan berlawanan dengan Mamori.

Mamori kembali berjalan dan memasuki sebuah toko, lebih tepatnya toko buku.

Mamori menjelajahi setiap sudut, mencari Riku dan yang lainnya.

"Ne ne, disini Mamo-nee," suara Suzuna menjadi petunjuk arah Mamori. Dia berdiri di dekat sebuah rak buku, Mamori pun menghampirinya.

"Kemana yang lain?" tanya Mamori.

"Mereka sudah menyebar. Sena dan Monta langsung ketempat komik, Riku dan Unsui ketempat buku-buku entahlah apa itu yang pasti tentang bidang kuliah juga, Kurita berada ditempat buku-buku resep masakan, Mizumachi dan Kotarou entahlah mungkin mereka berkeliling," kata Suzuna sambil berjalan.

Hari ini mereka memang ingin membeli buku, Riku juga langsung menyetujuinya karena dia juga tengah mencari suatu buku.

"Besok jadi kan Mamo-nee?" tanya Suzuna.

"Tentu saja. Tapi nanti Riku tahu tidak ya? Aku kan tinggal dengannya,"

"Benar juga. Bagaimana kalau hari ini Mamo-nee menginap dirumahku saja? Kebetulan dirumah juga tidak ada siapa-siapa. Dengan begitu Mamo-nee tidak akan ketahuan," usul Suzuna.

"Ide bagus. Baiklah nanti sore aku kerumahmu ya," kata Mamori.

~Virious~

Waktu siang berjalan sampai mencapai waktu sore di London. Hiruma dan rombongannya tengah bersiap menaiki pesawat tujuan Jepang. Seperti keadaaan bandara pada umumnya, Bandara Heathrow cukup ramai dengan lalu lalang para penumpang dan sesekali para staff bandara ada di sana. Hiruma berjalan sambil membawa tas yang tidak terlalu besar. Orang-orang melihatnya bisa dibilang antara kagum dan takut. Mereka kagum karena penampilan Hiruma yang lumayan keren menurut mereka dan takut karena yang memandangnya Hiruma beri death glare.

"Kurasa kau cukup terkenal jika dikalangan 'mereka' bocah," kata Marco.

"Ke ke ke, aku anggap itu pujian cola sialan," ucap Hiruma.

Kembali ke Jepang…

Di sini warna langit sudah gelap. Matahari sudah tidak bekerja sekarang. Digantikan penerangan malam, bulan dan beberapa bintang.

Mamori sudah berada di rumah Suzuna. Mereka sedang berada di ruang makan. Hari ini Mamori yang memasak, Suzuna sangat setuju karena memang ia tidak terlalu pandai memasak. Bau harum tercium oleh penciuman Suzuna.

"Ini dia steak ala Mamori," Mamori meletakkan satu piring steak di depan Suzuna dan satu piring di depannya.
"Terlalu lama di Amerika membuatku jadi terbiasa memasak makanan Amerika. Tidak masalah kan?" kata Mamori.

Suzuna menggeleng sambil tersenyum, "Makanan apapun yang Mamo-nee buat sepertinya enak. Saat mencium baunya saja sudah membuatku tidak sabar memakannya,"

Mamori tertawa singkat, "Baiklah ayo makan," kata Mamori.

"Itadakimasu!" seru keduanya. Mereka memulai memakan steak itu.

.
.

Setelah makan malam Suzuna pergi ke kamarnya. Mamori masih ada di dapur untuk mencuci piring kotor.

"Selesai," Mamori mengelap tangannya yang basah. Lalu mengingat-ingat hal apa yang sekiranya belum dibereskan.

"Sepertinya sudah semua. Baiklah aku langsung tidur saja, besok kan akan melakukan perjalanan," Mamori pergi ke kamar tamu yang sebelumnya sudah Suzuna beri tahu.

Malam semakin larut. Sebagian besar orang-orang sudah terlelap dan menikmati alam mimpi mereka. Berbeda dengan makhluk malam yang masih berkeliaran. Makhluk malam yang tidak biasa, mereka berbeda, mereka bergerak di malam hari, membutuhkan makanan yang bernama… darah.

Tidak sebebas itu para vampire level bawah berkeliaran. Jika ada musuh pasti ada pembasmi. Jika ada vampire pasti ada pemburu vampire yang biasa disebut hunter. Hunter di wilayah mereka bertugas menjaga manusia dari incaran penghisap darah. Hal itulah yang menyebabkan masih tabunya keberadaan vampire di dunia manusia. Karena hunter menekan keberadaan vampire agar tidak menjadi perhatian para manusia.

Takami dan Sakuraba sedang berada di kediaman Takami. Mereka duduk berhadapan dan saling diam.

"Kumohon kembalilah menjadi hunter Sakuraba. Aku merasa keberadaan vampire di luar sana semakin bertambah. Aku tidak tahu apa penyebabnya. Jumlah hunter dan vampire sangat tidak sebanding sekarang ini," kata Takami.

"…" Sakuraba masih diam. Hanya melihat kebawah.

"Kejadian waktu itu bukan sepenuhnya kesalahanmu. Kau harus tahu itu. Wakana juga pasti tidak akan menyalahkanmu. Sakuraba,"

"Tetap saja_"

"Jika semua temanmu satu persatu tewas di tangan vampire apa kau juga akan semakin terpuruk? Dan kau hanya diam? Membiarkan usaha teman-temanmu sia-sia? Itu sangat salah! Kehilangan seharusnya membuat dirimu lebih kuat dari sebelumnya Sakuraba,"

"…."

"…."

"…Takami..Izinkan aku bergabung kembali!" Sakuraba menatap Takami dengan keyakinan.

Sekilas Takami tersenyum bangga, "Dengan senang hati kami menerimamu kembali," kata Takami.

"Terima kasih Takami,"

"Bukan masalah. Ada satu hal yang belum kuberitahu padamu, Riku juga sudah mulai bergabung kembali. Saat ini dia sedang patrol seperti biasanya, kau bisa bergabung dengannya jika mau," kata Takami.

Tidak lama getar ponsel Takami menandakan ada seseorang yang menghubunginya.

'Riku,' batin Takami lalu mengangkat ponselnya.
"Ya Riku?"
"Vampire yang aneh?"
"Begitu baiklah aku dan Sakuraba akan ketempatmu sekarang,"

Takami menutup ponselnya. Lalu melihat kearah Sakuraba.

"Akan kujelaskan nanti sekarang kita harus bergegas menyusul Riku," Takami berdiri mengambil pasak peraknya. Pasak dengan panjang sekitar 30 centi tapi pasak itu dalam keadaan terlipat. Jika digunakan biasanya akan memanjang menjadi sekitar 1,5 meter. Sakuraba membawa pistol peraknya, memang hanya itu yang ia bisa gunakan. Berbeda dengan Riku, Riku bisa memakai segala jenis senjata kecuali pedang perak.

Takami dan Sakuraba langsung bergegas menuju tempat Riku menggunakan motor milik Takami.

.
.

Riku baru saja keluar dari sebuah supermarket. Dia berjalan di pinggir trotoar. Keadaan jalanan yang cukup sepi memang sudah biasa terlihat jika malam sudah selarut ini. Tanpa sengaja bahu Riku menabrak seseorang.

"Maaf saya tidak senga_" perkataan Riku terdiam sebentar melihat orang itu.

Seorang pria, tinggi, warna rambut kuning khas seperti orang Amerika. Bukan itu yang Riku perhatikan melainkan mata merah menyala orang itu. Dan warna kulit orang itu yang terlihat cukup putih mungkin bisa dibilang pucat. Clifford berjalan lagi tanpa menghiraukan Riku.

GREB

Riku menarik jaket bagian belakang Clifford.

"Siapa kau sebenarnya?" tanya Riku lantang.

Clifford tidak berbalik menghadap Riku atau pun menjawab pertanyaan Riku. Clifford menyentakkan tangan Riku lalu berjalan sangat cepat bisa di kategorikan berlari karena kecepatannya sangat cepat.

'Dia benar vampire!' Riku langsung mengikuti Clifford dengan kemampuan larinya yang tidak kalah cepat.

Dari depan sana seorang wanita tengah menunggu bus di halte yang sepi.

'Gawat! Bisa-bisa wanita itu diserang,'

Clifford terus menghindari Riku. Di depan sana ia melihat wanita, dengan cepat ia melompati atap halte dan kembali berlari. Sedangkan wanita itu tidak menyadari keberadaan Clifford karena dia bergerak dengan cepat.

'Apa?! Dia tidak menyerang? Aneh sekali. Aku harus menghubungi Takami-san,' Riku mencari-cari nomor Takami tanpa mengalihkan padangannya dan kecepatan larinya pada Clifford.

"Takami-san, ada vampire yang cukup aneh,"

Riku berhenti berlari karena Clifford entah lari kemana. Kini Riku berada sela antara gedung pertokoan.

"Ketempatku sekarang. Aku berada di sekitar blok toko peralatan musik Itemi," Riku menutup ponselnya.

.
.

BRUM BRUM BRUM

Deru motor berhenti dibelakang Riku.

"Riku, dimana vampire itu?" Sakuraba menghampiri Riku.

"Aku kehilangan jejaknya. Gerakannya 3 kali lebih cepat dari vampire yang biasa kita tanggani. Dan lagi saat ada manusia yang berada ditempat sepi dia tidak menyerangnya," jelas Riku.

"Aneh sekali," kata Sakuraba.

"Sepertinya dia bukan vampire yang biasa kita hadapi. Dalam kata lain dia vampire yang berlevel tinggi," kata Takami.

"Berlevel tinggi? Untuk apa mereka kesini. Bukankah vampire berlevel tinggi bisa dibilang vampire sempurna. Mereka tidak akan kalah dengan nafsu mereka terhadap darah bukan?" kata Riku.

"Kau benar soal itu. Berarti vampire itu ada tujuan lain datang ke tempat ini," kata Takami.

TAP

Suara tapak kaki mendarat mengalihkan pembicaraan ketiga hunter itu. Mereka menoleh kesumber suara. Disana berdiri Clifford yang Riku kejar beberapa menit yang lalu. Ketiga hunter bersiap dengan diri mereka sendiri dan senjata mereka.

Pria itu melangkah dengan santai mendekati ketiga hunter itu.

"Hunter. Apa kalian pernah bertemu dengan Stlamier?"

'Stlamier? Siapa itu?' pikir ketiganya.

"Sepertinya kalian tidak tahu," pria itu berbalik akan pergi.

"Diam ditempatmu!" seru Sakuraba.

Langkah Clifford berhenti dalam posisi membelakangi ketiga hunter itu.

"Cukup aneh jika vampire berlevel tinggi datang ke wilayah manusia. Apa tujuanmu?" kata Riku mulai mengintrogasi.

"…" Clifford hanya diam.

Malam ini adalah patroli pertama Riku setelah kembali menjadi hunter. Dan perburuan pertamanya ia harus berhadapan dengan vampire berlevel tinggi. Tapi dia tidak gentar atau pun merasa takut. Kedua pistol perak sudah ada di genggaman tangan kanan dan kirinya.

"Terpaksa kami menembakmu jika kau tidak mengatakannya," ancam Riku.

Dan ancaman itu sepertinya tidak terpengaruh karena Clifford tetap tidak bergerak. Sedetik berikutnya Clifford melangkah, akan pergi.

DOR

Riku mengeluarkan sebutir peluru peraknya kearah punggung Clifford.

SEETT

Clifford menghindar dengan sangat cepat saat peluru itu akan mengenainya beberapa centi lagi. Peluru perak itu menancap di tembok.

"Sebaiknya kalian tidak perlu mencampuri urusan orang lain," Clifford mengarahkan telapak tangannya kearah ketiga hunter itu.

"Windzer,"

SYUUTT! BRUG!

"Kh,"

"Ugh,"

Terdengar rintihan kesakitan dari ketiga hunter setelah mendapatkan serangan yang cukup keras. Clifford menyerang mereka menggunakan salah satu kekuatannya, seperti angin yang mampu melempar orang dengan kuat. Dan hal itu baru saja di alami ketiga hunter itu sampai tubuh mereka menabrak gedung yang ada disebrang jalan. Ketiga hunter itu terjatuh dengan posisi telungkup. Serangan itu cukup keras sampai membuat mereka langsung pingsan.

Clifford melihatnya hanya datar dan langsung pergi meneruskan perjalanannya di malam itu.

To Be Continue…


Monta: kayanya agak beda nih MAX!

Hitomi: hehe.. Monmon sadar juga. Ya tadinya mau dibuat pertarungan gitu yang agak serius antara Clifford dan 3 hunter terus ada yang mati (Riku,Sakuraba, N Takami : Sadis!).
Ga tega juga makanya aku bikin pingsan doing *nyengir*

Riku: pingsan sih pingsan tetep aja bonyok juga

Hitomi: hehe… karena diriku ngefans denganmu Riku jadi ga tega bikin adegan matinya. Shi shi shi *ketawa tanpa dosa*

Suzuna: pasti dia baca fanfic yang sadis-sadis lagi tuh jadi kaya gitu

Monta: *ngangguk setuju*

Hitomi: kalian berisik aja nih. Hush hush *ngusir*
Nah minna, terus ikutin chapter selanjutnya. Yah walaupun lama update maklumin sajalah, karena saya seorang anak kelas 12 yang sudah harus siap-siap menghadapi segala ujian. Ujian praktek, ujian akhir sekolah, ujian nasional, ujian dimarahi mama *ga termasuk deh nih kayanya*
So, sampai berjumpa di chapter selanjutnya~~