LEE TAEYONG
I DON'T LIKE YOU
Yuka
.
.
KETUKAN jemari Taeyong pada mejanya terdengar semakin keras. Ia mengernyit tanda sebal. Kenapa kelas biologi tidak segera berakhir? Guru Kim sepertinya menikmati kesengsaraannya.
Oh, jika kau bertanya kenapa dia merasa sengsara, maka jawabannya adalah orang yang duduk di bangku tepat di depannya. Seorang lelaki seusianya duduk dengan tegap. Rambut coklatnya yang keunguan sesekali terterpa angin dari jendela yang dibukanya sejak tadi pagi. Aroma kayu manis bercampur vanilla dengan sedikit kesegaran mint selalu tercium dari tubuhnya. Parfumkah? Taeyong sangat tidak menyukainya.
Setiap kali mereka berdekatan Taeyong selalu merasa perutnya digelitiki dan itu membuatnya sangat tidak suka. Berdecak kecil Taeyong menyandarkan tubuhnya ke tembok. Dia duduk di kursi paling pojok. Dengan sesekali melirik keluar jendela, Taeyong melewatkan acara pengelompokan tugas biologi yang guru Kim bicarakan.
Jadi sekarang, Taeyong hanya bisa berkedip saat dia ditatap oleh sepasang mata coklat besar yang beberapa kali berkedip kecil. Oh tidak. Taeyong menegakkan tubuhnya seraya menatap Yuta –sekarang baru kau sebut namanya, dengan tatapan dingin. Sekali lagi, Taeyong tidak menyukai Yuta.
"Ada apa?" tanya Taeyong setelah beberapa detik terdiam dan baru ia sadar jika kelas sudah kosong. Yuta berdiri di depannya dengan wajah bingung, sedih, dan sedikit penasaran.
Yuta menyerahkan kertas pada Taeyong, "Guru Kim mengatakan kalau kita satu kelompok."
Taeyong melebarkan matanya. Satu kelompok? Dengan Yuta? Lihat, benar kan. Guru Kim sangat menikmati kesengsaraannya.
"Benarkah?" tanyanya dengan alis bertaut. Wajah Yuta sontak menjadi cemas, "Ya, begitulah." Katanya agak ragu. Taeyong berdecak kesal.
"Uhm... kapan kita bisa mengerjakan tugas itu?"
Taeyong menatap Yuta lagi dengan kesal, "Hari ini juga, di rumahku. Aku ingin hal ini segera berakhir." Katanya sebelum mengambil tas dan berjalan keluar meninggalkan Yuta yang berlari di belakangnya.
Rumah Taeyong tidak jauh dari sekolah. Hanya membutuhkan 20 menit berjalan dan mereka sampai. Orangtuanya selalu pulang larut dan dinas ke luar kota jadi dia terbiasa sendiri. Tidak ada yang bicara bahkan setelah mereka masuk ke kamar Taeyong di lantai dua. Yuta mengucap permisi kemudian mendudukkan diri di karpet Captain America milik Taeyong. Mereka duduk berjauhan. Tidak ada yang bicara.
Sepertinya Yuta begitu tidak suka dengan keheningan jadi dia mulai bergumam menyanyikan lagu yang dia suka. Hal itu membuat Taeyong yang sedang membaca buku mengernyit kecil. Yuta tidak boleh menyanyi, pipi Taeyong serasa dipanasi dan Taeyong tidak suka itu.
Tapi dia memilih untuk diam.
Sesaat kemudian Yuta berhenti bergumam. Taeyong sedikit lega dan hal itu tapi kemudian rasa tidak sukanya kembali saat Yuta meletakkan kepalanya di meja dengan bibir mengerucut. Tangannya mulai menggambar kecil di kertas yang seharusnya menjadi tugas mereka.
"Ya. Apa yang kau lakukan? Cepat kerjakan!" kata Taeyong. Ia merasa terganggu karena Yuta terus-terusan mengerucutkan bibirnya dengan pipi menggembung. Hal itu membuat Taeyong susah bernafas dan Taeyong tidak suka hal itu.
Yuta menggaruk tengkuknya, "Taeyong-ah, apa kau benar-benar tidak menyukaiku?" tanyanya. Taeyong mendesah berat, "Ya. Sekarang cepat kerjakan."
"Kenapa kau tidak menyukaiku?"
Taeyong meletakkan bolpoinnya, "Tidak ada alasan. Aku hanya tidak suka semua tentangmu." Katanya membuat Yuta menunduk. Dia terlihat sangat sedih.
"Setidaknya beri aku alasan..." katanya pelan membuat Taeyong menggeram.
"Aku tidak suka wajahmu. Aku tidak suka mata besarmu. Aku tidak suka bibir merahmu. Melihat itu semua.. membuatku.. aku tidak tahu, malu?" tanya Taeyong menjambak rambutnya sendiri. Yuta mendongak menatap Taeyong yang mengedarkan pandangannya.
"Kau... tidak suka karena aku jelek?"
Taeyong menggeram, "Bukan! Kau tidak jelek. Kau sangat manis! Lalu setiap kau bicara rasanya perutku seperti digelitiki itu menyebalkan!" katanya membuat Yuta mengernyit kecil.
"Apalagi saat kau tersenyum sungguh! Rasanya pipiku seperti oven dan itu sangat menyebalkan. Setiap malam aku memikirkanmu dan itu membuatku sebal!" katanya lagi terdengar frustasi.
Beberapa saat kemudian Taeyong merasakan Yuta mendekat ke arahnya dan mengelus bahunya, "Aku juga, merasakan hal itu kok." Katanya pelan membuat Taeyong mendongak.
Mereka bertukar tatap. Perlahan Yuta tersenyum, "Aku tidak tahu apa yang membuatmu tidak suka padaku tapi semua yang ceritakan aku juga merasakannya. Aku rasa aku menyukainya." Katanya.
Taeyong mengerucutkan bibirnya, "Tapi menyebalkan kan?"
Yuta mengangguk, "Iya. Menyebalkan."
"Aku rasa aku tidak membencimu, Yuta." Kata Taeyong setelah beberapa detik terdiam. Yuta memiringkan wajahnya menatap teman sebayanya itu dengan bingung.
"Maksudmu?"
Taeyong bergerak, menghadap Yuta dengan jantung berdegub kencang. Tangannya meraih tangan Yuta yang masih memegang bolpoin. Anak berusia 15 tahun itu bergumam kecil, "Aku tidak tahu apa namanya tapi aku rasa aku tidak membencimu. Aku terlalu menyukaimu, jadi aku bersikap seperti itu."
Yuta tersenyum lebar, "Aku tidak tahu juga apa namanya, tapi aku rasa perasaan kita sama."
Mereka tersenyum satu sama lain sebelum menarik beberapa buku yang ada di meja untuk dikerjakan bersama. Sekarang, tidak ada jarak di antara mereka. Kulit lengan mereka bersentuhan. Taeyong bisa menghirup aroma kayu manis dengan sangat dekat karena kepala Yuta berada tepat di bawahnya. Dan Taeyong merasa dia tidak benar-benar membencinya.
.
.
.
.
.
A/N: BAIQLAH. Iya, ini adalah chapter terakhir Drabble Series "Our Love Strories" teman-teman XD YEAY! Wkwkwkw. Ahh... nggak kerasa udah end aja ya? /PLAK/ /NGACA KEMANA AJA LO WOY!/ X'D Awalnya aku bikin drabbles ini nggak mikir bakal dapet respon sedahsyat ini, serius XD bener-bener luar biasa, dapet review satu aja rasanya "Ahhh gamsahamnida siapapun dia/?" XD aku yakin temen-temen author yang lain juga gitu kkk.
Seratus lebih review! Nggak nyangka! Waw! Sumpah nggak nyangka, luar biasa banget temen-temen semua, jinjja. :'D Ya, aku nggak bisa bilang apa-apa selain terima kasih sih, :'3 bener-bener terima kasih. I'd thank God buat kesempatan menyelesaikan FF ini, wkwkw. Dan nggak nggantung (semoga sih wkwk) dan sesuai rencana awal. XD selanjutnya, udah pasti untuk readers tercintah wkwkw. Terima kasih untuk:
2113, Arisa Hosho, aspartam, Yuta Noona, wakaTaeYu, MynameX, cacacukachanhun, BlueBerry Jung, Desi VBaexian1048, Elsa688, Fujoshimulfan, JenTababy, preidhisik, Kim991, Min Milly, ParkHara1997, Park RinHyun-Uchiha, Ryuukiyoshi Raikiri, Sokyu977, YetaollieWin2, Yuhiko Aya, aku ini sayangmu, angstpoem, aprilliahartanti, deerianda, , ichiruuu, , mikki09, miyuukims, mtxgdvtzk, odultLu, pcy25, seiyuuka, sya09, yuhu uuu, yutaeyongblahblahblah, yxnghua, kiyo, shaxobarm, untold stor 0, TenCara, Yuyu arxlnn, kirionana, CathleyaDRsa, ichiruuu, MinMiJk, KimTYX, Zhiecho, dkamome, teman-teman guest yang nggak kesebut namanya T T, teman-teman yang nggak kesebut namanya, juga teman-teman Siders wkwkw lain kali komen atuh ;)
Terima kasih udah favorite, follow, review, nemenin dan nungguin aku dalam perjalanan nulis FF ini, meski nggak aku balas satu-satu, aku harap kalian tahu aku selalu berterima kasih atas setiap review yang kalian berikan hehehe XD. Semoga FF ini bisa jadi penghibur kalau lagi bosen, semoga bermanfaat dalam bentuk apapun itu. Selanjutnya aku akan lebih kerja keras lagi buat nulis yang lebih bagus dan nyelesein semua FF yang aku aplot, hahaha. Biar nggak ada utang XD Dan, boleh lho baca FF yang baru ku buat ;) /DASAR NGGAK TAHU MALU/ X''D itu pun kalau ada yang mau sih. Yah kayanya aku bakal kangen nulis FF ini hiks(?) Last, aku titip Yuta dan para selirnya di FF ini di hati kalian ya, semoga nggak terlupakan. Hehehe.
SEE YOU IN MY OTHER FFS! /hugs and kisses/ XOXO~
-With All Love, YUKA.
