Yosh... kusa mengambil keputusan untuk mempercepat cerita ini...
Jadi, mari kita skip ke beberapa tahun kemudian... XD
Disclaimer: BLEACH punya kusanagi dalam mimpi indah kusa...XD *dicincang Tite Kubo*
Seeking Happiness
Chapter 10
~Beberapa tahun kemudian~
Seorang bocah bermata emerald berusia sekitar 10 tahun menatap keluar jendela kamarnya di lantai dua. Di depan panti asuhannya, nampak sebuah pemandangan yang tidak biasa –sebuah mobil berwarna hitam parkir di sana.
Sang bocah bermata emerald mendengar bahwa hari ini dua orang keluraganya akan berkurang, Jinta dan Ururu. Hari ini mereka diadopsi oleh pasangan yang tidak memiliki anak, Kisuke dan Yoruichi.
Tak lama, Toushiro melihat Jinta dan Ururu keluar dari panti asuhan bersama seorang pria berambut pirang yang mengenakan topi aneh dan wanita cantik berkulit gelap dan berambut ungu. Jinta menyadari Toushiro menatapnya dari jendela kamarnya dan menyengir lebar kepadanya.
Beberapa tahun berlalu, hubungan Toushiro dan Jinta menjadi lebih baik. Walaupun mereka berdua tetap sering berkelahi, yang biasanya selalu dimenangkan oleh Toushiro, tetapi hubungan mereka berdua sudah lebih baik. Mungkin karena sering berkelahi itulah mereka menjadi seperti saudara lebih dekat dari siapapun. Begitu juga dengan Ururu, walau sang gadis sangat pendiam, tetap ia sangat baik kepadanya. Ia sudah menganggapnya sebagai kakak perempuan terbaiknya setelah Rukia. Toushiro benar-benar tidak mau berpisah dengan mereka berdua.
Setelah bercakap-cakap sesaat dengan Isane dan Nanao, pasangan suami-istri Kisuke dan Yoruichi mengajak Jinta dan Ururu menuju mobil mereka –menuju rumah baru yang tentunya jauh lebih baik dari pada panti asuhan kecil dan miskin ini.
Toushiro ingin pergi menemui Jinta dan Ururu dan mengantar mereka berdua dengan senyuman, tetapi ia tidak bisa melakukannya. Jika ia turun ke bawah dan menemui mereka berdua sekarang, ia pasti akan meminta mereka berdua untuk tidak pergi.
Ia tidak mau hal itu sampai terjadi.
Ini yang terbaik bagi mereka berdua, ia harus membiarkan mereka berdua pergi demi kebahagiaan mereka berdua.
Toushiro menempelkan kedua tangannya ke jendela, menatap mobil yang membawa Jinta dan Ururu pergi menjauh. Sang bocah berambut putih tersenyum. Sebelum Jinta pergi, ia sempat melihat sang bocah berambut merah mengucapkan sesuatu padanya dari mobil. Walaupun ia tidak bisa mendengar apa yang Jinta katakan padanya, tetapi ia yakin sang bocah berambut merah mengatakan sampai jumpa lagi padanya.
Ya... suatu saat mereka pasti akan bertemu lagi di suatu tempat dengan waktu dan keadaan yang berbeda.
"Toushiro." panggil seseorang memecah lamunannya. Kemudian sang bocah berambut putih membalikan tubuhnya dan berhadapan dengan seorang remaja berusia sekitar 15 tahun, Renji.
"Ren-nii..." kata Toushiro dengan nada sedih.
"Mereka sudah pergi. Apa tidak apa-apa, kau tidak menemui mereka?" tanya Renji. Sebelumnya ia sudah membujuk sang bocah bermata emerald untuk menemui dan berbicara kepada Jinta dan Ururu, tetapi sang bocah bermata emerald menolaknya dan mengurung dirinya di dalam kamarnya.
Toushiro pergi menjauh dari jendela. Kemudian ia duduk di atas kasurnya dengan melipat lututnya ke dadanya, "Itu yang terbaik bagiku dan mereka." jawab sang bocah sambil membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.
Renji mengehela nafasnya dan duduk di samping Toushiro. Ia mengerti apa yang dirasakan sang bocah berambut putih saat ini. Ia pun merasakannya perasaan yang sama dengannya –perasaan yang ia rasakan setiap kali anggota keluarganya berkurang karena mereka keluarga baru mereka. Perasaan sedih karena kehilangan keluarga yang sangat penting baginya.
Renji mengangkat tangannya hendak mengelus-elus kepala sang bocah berambut putih. Tetapi kemudian ia mengurungkan niatnya karena sang bocah berambut putih bukan lagi anak kecil. Tentu sang bocah berambut putih belum dewasa, tetapi ia juga bukan lagi bocah mungil cengeng yang selalu bergantung padanya dan Rukia. Ia pasti tidak akan suka di perlakukan seperti anak kecil lagi.
Tiba-tiba, Rukia datang dan memukul kepala Toushiro dengan keras, "A-apa yang kau lakukan Ruki-nee?" tanya Toushiro sambil memegang kepalanya sambil menatap kesal mata violet sang gadis berambut hitam yang nampak marah. Walaupun sang gadis bermata violet sudah berusia 13 tahun, tetapi karena tubuhnya yang kecil, ia tampak seperti gadis kecil berusia 10 tahun.
"Kenapa kau tidak turun dan memberikan salam perpisahan pada Jinta dan Ururu tadi?" tanya Rukia dengan nada marah, "Apa kau tahu, Ururu tadi menangis karena merasa kau tidak peduli padanya."
Dada Toushiro berdenyuh sedih mendengar pernyataan Rukia. Dalam hati ia merasa angat menyesal karena sudah membuat Ururu menjadi sedih, tapi...
"Itu tidak perlu!" kata Toushiro sambil membuang mukanya dengan keras kepala. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan kemudian berjalan menuju meja belajar tua yang selalu ia perebutkan dengan Jinta. Toushiro meletakkan tangan kurusnya di atas meja itu dan mata emeraldnya tampak sedih. Sekarang, meja itu miliknya dan tak akan ada yang memperebutkannya lagi.
Mata Rukia berdenyit-denyit kesal mendengar pernyataan sang bocah berambut putih. Dalam hati ia bertanya-tanya kemana perginya sisi manis sang bocah berambut putih yang cengeng dan selalu bergantung padanya.
"Toushiro..." teriak Rukia marah. Ia merasa kecewa sudah salah mendidik dan membesarkan bocah mungil yang begitu manis dan imut menjadi bocah yang keras kepala seperti ini. Tetapi kemudian ia mengurungkan niatnya untuk marah setelah mendengar pernyataan sang bocah.
"Salam perpisahan? Aku tidak mau melakukan hal itu. Seperti suatu saat aku tidak akan bertemu lagi dengan mereka." kata sang bocah keras kepala sambil membalikan tubuhnya kepada dua remaja yang lebih tua darinya dengan kedua tangan ia lipat di depan dadanya.
Renji meletakkan tangannya di pundak sang gadis bermata violet dan tersenyum tipis kepadanya. Rukia menghela nafasnya dan kemudian tersenyum. Tanpa ia sadari bocah mungil cengeng yang selalu bergantung padanya kini sudah tumbuh lebih dewasa.
Untuk sementara waktu mereka terdiam sampai Toushiro kembali bertanya kepada dua remaja yang lebih tua darinya, "Neh... Ruki-nee, Ren-nii, apa suatu saat kita juga akan berpisah?" tanya Toushiro dengan tatapan dan wajah sedih.
Renji dan Rukia terdiam mendengar pertanyaan sang bocah berambut putih. Mereka tidak bisa memastikan siapa yang akan pergi selanjutnya. Mereka tidak tahu kapan akan datang lagi orang yang akan membawa salah satu dari mereka pergi meninggalkan panti asuhan.
Renji mengepalkan tangannya, "Kau bicara apa Toushiro?" tanya Renji dengan nada gugup, "Tentu saja kita tidak akan berpisah."
Bohong... mereka bertiga tahu itu bohong, tapi mereka ingin mempercayainya.
"Sekarang ini aku membantu Kyouraku-san bekerja di kepolisian. Ia bilang mungkin suatu saat aku juga bisa menjadi seorang polisi." Jelas Renji, "Jika aku sudah menjadi polisi dan memiliki uang, aku akan membeli sebuah rumah untuk kita huni bertiga, jadi kita tidak perlu berpisah."
"Ya... apa yang Renji katakan benar!" tambah Rukia, "Kita akan selalu bersama."
Mereka bertiga tersenyum... setidaknya kebohongan itu masih memiliki harapan untuk menjadi nyata...
Mungkin...
~H~
Mind to review?
-kusanagi-
