Beberapa review saya balas lewat PM, sisanya di sini!
always sleepy XD:
Miku 'ya? Di chapter selanjutnya dia baru muncul lagi. Soalnya dia juga sibuk jaga perpus*plak
Iya, nanti saya pikirkan ending yang bagus!
Chapter selanjutnya ada Miku Kaito'nya 'kok!
Terima kasih atas reviewnya 'ya! :)
Yumi Neko Gamine:
Saya pasti lanjutin 'kok! Iya, Len'nya bikin greget! :3
Terima kasih atas reviewnya! :)
zeze:
Iya, saya buatnya agak rumit. Begitulah. Emang agak ngulur-ngulur waktu 'sih. Maaf jika membosankan. m(_ _)m
Tambahin gorenya? Untuk beberapa chapter ke depan 'sih gorenya masih dikit. Pas Len'nya udah selesai operasi baru ada gore dan romancenya akan saya tambahin lagi! Nanti saya seimbangkan keduanya.
Saya akan coba banyakin deskripsinya.
Terima kasih atas review dan kritiknya! :)
Disclaimer:
Vocaloid punya Yamaha dan Crypton Future Media.
Warning:
Typo, OOC dan lainnya.
Happy Reading!
Kelima orang yang mendengar dua kata yang keluar dari mulut pemuda honeyblonde itu hanya bisa diam sambil memandangnya tak percaya. Mereka kira, hal penting 'lah yang ingin dibicarakan. Ternyata, hanya hal sepele.
"Hanya kunjungan orang tua? Itu biasa 'kan? Kenapa kau terlihat panik, Len?" tanya gadis honeyblonde yang duduk di sebrangnya itu. Pemuda yang dipanggil 'Len' itu menghela nafas berat.
"Tou-san dan Kaa-san 'kan sudah dianggap meninggal oleh masyarakat. Tak mungkin jika kalian berdua datang ke acara kunjungan itu untuk mendampingiku 'kan?"
Leon dan Lily memandang anaknya yang tengah menatap keduanya dengan pandangan yang terlihat kecewa. Keduanya hanya bisa memalingkan wajahnya dengan rasa tak enak pada anaknya.
"Aku tahu kalau rencana kalian soal 'kematian palsu' itu untuk melindungiku. Tapi, rencana itu juga berdampak buruk padaku."
Keduanya menelan ludahnya saat mendengar pernyataan putra mereka yang sepertinya benar-benar kecewa dengan mereka. Kok' situasinya jadi canggung 'ya?
"Yah… kami tak pernah memikirkan sampai sejauh itu 'sih…" ucap Leon jujur dengan senyum ragu dan tangan kanannya yang menggaruk belakang kepalanya.
"…Sudah kuduga…" Len menghela nafas berat. Ia pun mengangkat kepalanya dan menatap Rin yang sepertinya sedang merundingkan soal acara kunjungan itu dengan kedua orang tuanya. "Kalau Rin, siapa yang mendampingi?"
Rin menoleh ke arah Len dan tersenyum kecil.
"Kaa-san! Kalau Tou-san, nanti yang lainnya takut lagi…" ucap Rin sambil menjulurkan lidahnya. Wajar saja 'sih, Rinto 'kan Komandan kepolisian. Jelas saja kalau siswa lainnya takut dengannya.
"Kalau begitu… aku minta Kaito-san saja 'deh…"
Leon langsung memandang Len horor. Apa ia salah dengar? Len mau minta tolong pada Kaito untuk menggantikan dirinya mendampingi putranya? Leon tak akan mengijinkannya!
"Gak boleh! Tou-san yang pergi!"
Kali ini Len yang memandang Leon tak terima. Kalau Leon yang pergi dan mengetahui perilaku siswa lainnya pada Len, Leon bisa mengacau di sana.
"Gak mau. Kaa-san saja," tawar Len dengan bibirnya yang dikerucutkan sedikit. Rin cengo melihatnya. Ini pertama kalinya ia melihat Len yang terlihat agak manja itu. Wajah Len jadi terlihat manis. Tunggu, kenapa Rin jadi memikirkan ekspresi Len?!
"Memangnya kenapa kalau Tou-san yang pergi? Tou-san dan Kaa-san 'kan sama saja!" ucap Leon dengan nada bicaranya yang mulai meninggi. Len hanya menjawabnya sambil sedikit berdecih kesal.
"Aku maunya Kaa-san. Kalau Tou-san memaksa pergi, aku lebih baik pergi dengan Kaito-san." Leon diam. Kalau sudah seperti ini, lebih baik mengalah saja.
"Terserah kau saja 'lah…"
Sabtu pagi, di Crypton High School. Para murid satu persatu datang ke sekolahnya didampingi oleh orang tua mereka.
Beberapa siswa dan orang tua sempat melirik ke arah Len dan Lily yang mendampingi putranya itu. Entah kenapa, pandangan mereka seperti mengintimidasi.
"Kau selalu ditatap seperti itu?" bisik Lily sedikit khawatir dengan keadaan Len di sekolah itu. Len yang tadinya sedang memainkan ponselnya itu segera mengangkat kepalanya dan menatap Lily datar.
"Begitulah," jawab Len singkat sambil mengangkat kedua bahunya. Lily hanya bisa memandangnya dengan khawatir. Len hanya tersenyum ke arah Ibunya itu tanda agar Ibunya tak khawatir tentang keadaannya. Tapi, tetap saja Lily khawatir sebagai seorang Ibu.
"LEN!"
Len menoleh ke belakangnya dan mendapati Rin yang berlari ke arahnya dengan Lenka yang berjalan di belakangnya. Len menghela nafas pelan. Ia pasti akan dimarahi lagi oleh Rin. Paling tidak, Rin akan meneriakinya.
"Kenapa lari?" tanya Len bingung. Jarang-jarang Rin lari-lari kayak begitu. Oh ya, mereka gak berangkat bareng karena keduanya harus menjemput Ibu mereka masing-masing tadi pagi.
"Kenapa kau berangkat duluan?! Kenapa gak bangunin aku?!" tanya Rin yang mencengkram kerah seragam Len. Yang ditanya hanya menghela nafas malas. Lenka dan Lily hanya tertawa melihat tingkah Rin dan Len itu. Apa kedua anak mereka itu gak nyadar kalau wajah mereka cukup dekat dan hampir ciuman? Sudah begitu, beberapa siswa yang lewat juga ikut melihat ke arah mereka karena teriakan Rin tadi.
"Aku sudah bangunkan 'kok. Kau saja yang susah dibangunkan. Lagipula, aku 'kan masih harus menjemput Kaa-san."
Rin menggembungkan kedua pipinya dengan wajah marahnya.
"MOU! LEN KEJAM! SETIDAKNYA, TINGGALKAN AKU PESAN KALAU MAU PERGI DULUAN!"
Lenka, Lily dan beberapa orang yang berada di sekitar mereka langsung menutup telinga masing-masing saat mendengar Rin berteriak dengan lengkingannya. Len 'sih hanya menghela nafas sambil memutar bola matanya. Ia sudah terlalu sering mendengar lengkingan Rin itu.
"Daripada kau terus meneriakiku, lebih baik kita masuk kelas sekarang, Rin."
Rin mengerjapkan kedua matanya dan memiringkan kepalanya dengan pandangan bingung.
"Kita sudah terlambat tiga menit. Bel sekolah sedang bermasalah. Yah, mungkin akan kena ceramah Hiyama-sensei pagi ini."
Rin menganga saat mendengar Len mengatakan itu dengan santainya. Lenka dan Lily kembali tertawa saat melihat tingkah keduanya yang bagi mereka lucu itu. Ah Len, kau tak tahu kalau Rin sedang labil pagi ini.
"KENAPA KAU TAK BILANG?!"
Sesuai perkiraan Len. Keduanya langsung diceramahi oleh Kiyoteru saat masuk kelas. Len 'sih santai saja. Rin langsung keringat dingin saat mendengar omelan Kiyoteru karena keterlambatan mereka. Lenka dan Lily yang berdiri di belakang kelas bersama orang tua murid lainnya hanya bisa mengulum senyum tipis.
"Jadi, kenapa kalian terlambat?" tanya Kiyoteru di akhir omelannya itu dengan penuh kesabaran. Len mengangkat kepalanya dan mulai buka suara.
"Rin memarahiku di gerbang tadi. Jadi-"
"Itu 'kan kesalahanmu karena tak membangunkanku!" ucap Rin memotong ucapan Len sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan dagunya yang dinaikkan sedikit.
"Tidak baik memotong ucapan seseorang, Rin," ucap Len dengan datar. Rin menggembungkan pipinya dengan wajah marahnya. Kiyoteru hanya bisa menghela nafas pelan melihat reaksi kedua muridnya setelah dimarahi olehnya itu. Apa kedua murid di hadapannya itu gak nyadar soal kesalahan yang mereka perbuat?
"Kalian kembali ke tempat duduk kalian," perintah Kiyoteru sambil menghela nafas lagi.
Rin dan Len yang mendengar perintah itu langsung berjalan menuju bangku mereka yang terletak di pojok kelas. Dengan pandangan para siswa dan beberapa orang tua murid yang menatap mereka tajam.
"Ada yang bisa menjawab soal ini?"
Kelas langsung hening saat melihat soal yang tertulis di papan. Kiyoteru menghela nafas pelan saat melihat wajah murid-muridnya yang sudah keringat dingin itu. Apa soal yang diberikannya sulit? Padahal, pemecahannya hanya harus menggunakan rumus phytagoras.
Wajah Kiyoteru berubah sedikit cerah saat melihat Len mengangkat tangannya. Yah, bisa dibilang, hanya Len yang aktif menjawab tiap soal yang diberikannya. Walau ekspresinya datar terus 'sih.
"Kagamine-san."
Len langsung bangkit dari posisinya setelah Kiyoteru memanggilnya sambil menunjuknya. Ia pun segera berjalan menuju papan dan mengerjakan soal yang tertulis di papan secara rinci.
Lily yang berdiri di belakang kelas hanya bisa tersenyum lebar saat melihat Len mengerjakan soal di papan dengan cepat. Ia tahu kalau penelitiannya pada Len gagal. tapi, ia bangga dengan Len yang aktif di kelas.
"Maaf, Sensei. Apa anda tidak pilih kasih?"
Kiyoteru menoleh ke orang tua murid yang baru saja mengatakan kalimat yang seperti protes itu. Kiyoteru menggeleng pelan.
"Saya tidak pilih kasih. Tadi, anda lihat sendiri 'kan, kalau hanya Kagamine-san yang mengangkat tangannya?" tanya Kiyoteru dengan tenang.
Lily menelan ludahnya saat mendengar kalimat yang dilontarkan oleh salah satu orang tua murid itu. Protes. jujur saja, ia tak terima anaknya diprotes!
"Tapi, dari tadi hanya anak itu saja yang menjawab. Kenapa anda tak memberikan kesempatan pada siswa lain untuk menjawabnya?" tanya orang tua murid yang lainnya dengan senyum angkuh. Kiyoteru mendesah kesal sesaat.
Lily menghela nafas. Sepertinya, keberadaan Len masih belum diterima sepenuhnya oleh para orang tua murid. Ini masalah.
"Baiklah, jika itu yang anda inginkan. Kasane-san, maju ke depan dan kerjakan soal ini," perintah Kiyoteru sambil menunjuk sebuah soal yang seharusnya dikerjakan dengan perbandingan terbalik.
Gadis berambut magenta dengan gaya pigtail itu langsung gugup saat mendengar namanya dipanggil oleh sang guru. Ia pun bangun dari kursinya dan menoleh ke segala arah dengan gelisah.
"S-saya tak mengerti, Sensei…"
Kiyoteru menghela nafas. Ia sudah duga. Kalau ia menunjuk murid untuk mengerjakan suatu soal, pasti murid tersebut belum mengerti pemecahannya. Lebih baik ia yang tanya siapa yang mau mengerjakannya 'kan?
"Apa anda sudah lihat? Kalau saya menunjuk murid secara acak untuk mengerjakan soal, belum tentu ia bisa mengerjakannya," ucap Kiyoteru berusaha sabar mengatasi protes dari para orang tua murid.
"Tapi, bisa saja anak itu curang dalam mengerjakan soal 'kan?" ucap salah satu orang tua murid sambil menunjuk ke arah Len yang masih berdiri di depan kelas dengan wajah datarnya.
"Anakku tak akan melakukannya!" ucap Lily yang mulai naik pitam. Orang tua mana yang tak marah jika anaknya dituduh melakukan kecurangan?
"Anak? Bocah itu 'kan sudah membunuh orang tuanya! Paling, kau hanya salah satu staf dari kepolisian yang menjadi walinya 'kan?" tebak wanita paruh baya itu dengan senyum angkuh.
"Jangan sok tahu kau! Kau-"
"Kaa-san!"
Lily menghentikan ucapannya dan menatap Len yang baru saja memanggilnya dari depan kelas. Bisa terlihat kalau Len menatapnya dengan tujuan agar ia tak melanjutkan debatnya itu. Lily mengerutkan kedua alisnya bingung.
"Jangan dilanjutkan…"
"Tapi-"
"Aku sudah biasa…"
Lily menghela nafas pelan. Jika Len sudah seperti itu, lebih baik ia menurut saja. Ia melirik ke arah wanita paruh baya yang baru saja berdebat dengannya itu. Lily berdecih saat melihat wanita itu menunjukkan senyum angkuhnya. Ingin rasanya ia menampar wajah wanita itu.
"Jangan lakukan yang tidak-tidak, Kaa-san."
Lily kembali menatap Len yang baru saja memperingatinya itu. Pasti karena instingnya itu ia bisa menebak apa yang dipikirkan Lily barusan.
"Tapi Len-"
"Tak ada tapi-tapian."
Lily menggembungkan sebelah pipinya dengan kesal. Lenka hanya bisa menepuk punggung Lily untuk menenangkannya. Kalau boleh jujur, Rin yang dari tadi duduk di kursinya juga ingin menghajar wanita yang tadi menuduh Len itu 'sih.
"Len, kau terlalu cuek! Sekali-kali balas ucapan mereka 'dong!"
Len hanya angkat bahu sambil memasukkan nasi omelet ke dalam mulutnya. Rin mendengus kesal. Len terlalu santai.
Beberapa orang tua murid mulai melihat ke meja Rin dan Len dengan pandangan yang mengintimidasi. Sejujurnya, Rin agak risih dengan pandangan mereka itu. Tapi, maudiapain lagi?
"Len, kenapa kau tak bilang kalau kau selalu dibegitukan oleh orang-orang?" tanya Lily yang duduk di depan Len dengan pandangan menyelidik.
"Kalau aku bilang, Kaa-san dan Tou-san bisa menghajar mereka dan aku pasti kena panggilan."
Lily bergumam tak terima atas alasan Len. Walau alasan yang diberikan Len ada benarnya juga 'sih.
"Kalian selalu makan bento bersama?" tanya Lenka yang duduk di depan Rin sambil menopang dagunya dengan tangan kanannya. Len menelan nasi omelet yang berada di mulutnya dan menatap Lenka dengan bingung.
"Iya, memang kenapa?" tanya Len bingung. Rin 'sih sibuk memberikan deathglare pada orang-orang yang melihat ke arahnya itu.
"Hanya pakai satu pasang sumpit?" tanya Lily dengan senyum jahil yang mulai terukir. Len mengangguk sambil memasukkan nasi omelet ke dalam mulutnya lagi.
"Berarti, kalian sudah pernah ciuman 'ya?"
Rin langsung menoleh ke arah Ibunya dengan matanya yang terbelalak. Sebenarnya, apa 'sih yang dibahas oleh Ibunya dan Ibu Len? Kok' tiba-tiba bahas soal ciuman? Di dalam kelas lagi!
"Mungkin?"
Lenka dan Lily saling pandang dengan senyum jahil. Lalu keduanya kembali memandang anak mereka dengan senyum jahilnya. Rin langsung menggidik ngeri saat melihat pandangan dari Ibunya itu.
"A-apa?" tanya Rin agak ketus karena risih dengan pandangan dari Ibunya itu.
"Kalian pernah ciuman 'ya?" tanya Lenka dengan smiling. Rin langsung komat-kamit dengan wajahnya yang berubah agak horor.
"N-nggak 'kok! Gak pernah!" kilah Rin sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan wajahnya yang memerah.
"Bohong dosa 'loh."
Rin menoleh ke arah Len dengan pandangan horornya. Kenapa harus Len yang bilang? Kenapa Len gak bisa baca situasi? Arkh! Jangan pikirkan lagi! Kepolosan Len benar-benar membuatnya sedikit kesulitan berkomunikasi dengan Len.
Lenka dan Lily hanya tersenyum simpul saat melihat pandangan horor Rin ke Len. Itu berarti, mereka pernah ciuman 'kan? Apalagi, Len bilang soal bohong. Len tak akan pernah berbohong!
Hah, menggoda Rin dan Len memang menyenangkan. Tapi, Lily tetap saja merasa terganggu dengan pandangan membunuh dari beberapa orang tua murid di sekitarnya itu.
Pintu kelas diketuk secara perlahan. Beberapa murid dan orang tuanya menoleh ke arah pintu kelas. Sang guru yang sedang mengajar di depan kelas pun segera menoleh ke arah pintu dan berjalan ke sana, lalu membuka pintu.
"Selamat siang! Maaf, mengganggu acara belajar-mengajar. Tapi, saya ada perlu dengan salah satu murid anda."
Guru bernama Akikoloid itu hanya bisa tersenyum aneh saat melihat pria paruh baya berambut pirang sebahu di hadapannya itu. Tapi, ia tetap mempersilahkan pria itu memasuki kelas.
Semua murid memandang ke arah pria pirang yang baru memasuki kelas itu, kecuali Rin dan Len yang asyik mencorat-coret buku catatan mereka dengan gambar-gambar karikatur.
"Leon!"
Mendengar suara Ibunya yang memanggil nama Ayahnya, Len pun mengangkat kepalanya dari buku catatannya dan memandang ke depan kelas dengan wajah datarnya yang biasa.
Rin pun mengikuti arah pandang Len. Ekspresi Rin langsung berubah menjadi kaget dengan mulutnya yang menganga. Len 'sih kaget, cuma ketutupan sama wajahnya yang datar-datar aja.
"Hai, Lily!" balas Leon sambil melambaikan tangannya pada Istrinya yang sedang berdiri di belakang kelas itu.
"Leon, di sini Len di-"
"Kenapa Tou-san ke sini?"
Leon langsung memandang ke arah Len yang baru saja memotong ucapan Lily. Sebenarnya, itu tak sopan. Tapi, Leon 'sih cuek saja. Sedangkan Lily mencibir aksi Len itu.
"Gak ada kerjaan. Jadi, mau sekalian lihat kau belajar. Itu saja," balas Leon sambil mengangkat kedua bahunya.
Para orang tua murid yang berada di belakang kelas hanya bisa saling bisik satu sama lain saat mendengar Len memanggil Leon dengan panggilan 'Tou-san'. Lily mulai memberikan deathglarenya ke arah para orang tua murid itu. Dari awal ia sudah sangat kesal dengan mereka!
"Tou-san pulang saja. Aku baik-baik saja 'kok. Aku bisa jaga diri," pinta Len dengan matanya yang menyipit. Sebenarnya, ia ingin mengusir Ayahnya. Kalau Ayahnya sampai tahu ia ditindas hanya karena perkaranya dulu, Leon bisa mengamuk di kelasnya.
"Hahaha… Kau memang bisa jaga diri dari penjahat atau apapun yang memakai senjata api. Tapi, kau tak bisa melawan para orang tua yang menindasmu itu 'kan?" tanya Leon sambil berkacak pinggang dengan senyum miring dan wajahnya yang terlihat kesal.
Para orang tua murid yang dimaksud hanya bisa menelan ludahnya. Len hanya bisa menghela nafas, lalu menggaruk belakang kepalanya dengan matanya yang memandang ke arah lain. Lily tersenyum penuh kemenangan. Rin dan Lenka 'sih hanya bisa tersenyum aneh. Dan Akikoloid hanya bisa memandang situasi dengan bingung. Kok' dia guru yang mengajar malah dicuekin?
"Tou-san, jangan bahas ini di sini. Bahas nanti saja sepulang sekolah…"
"Seenaknya saja kau mengatur Ayahmu!" balas Leon sambil menyentil kening Len hingga Len sedikit merintih. Selama bicara dengan Len tadi, Leon terus saja berjalan ke arah kursi Len yang berada paling belakang di kelas itu.
"Leon, marahi Len!" perintah Lily sambil menunjuk Len yang hanya bisa mengumpat kesal atas ucapan Ibunya itu.
"Nah, kita bicarakan ini di luar kelas!" Dan Leon langsung menyeret Len ke luar kelas. Sedangkan beberapa orang tua murid yang berada di belakang kelas sedang berbisik satu sama lain.
Akikoloid yang sedang mengajar hanya bisa menghela nafas melihat tamu yang datang tiba-tiba dan langsung menarik muridnya itu. Ah, anggap saja kejadian tadi angin lalu.
"Baiklah, kita lanjutkan pelajaran kita."
"Kenapa kau tak memberitahu Tou-san soal masalahmu di sekolah, Len?"
Len menghela nafas sambil memutar bola matanya malas. Ah, untuk apa memberitahu? Yang ada, sekolahnya hancur karena Ayahnya yang marah. Lebih baik diam 'kan?
"Heh, kau berpikir kalau Tou-san akan menghancurkan sekolahmu hanya karena mereka yang mengucilkanmu, begitu?"
Len menatap Ayahnya yang kini tengah tersenyum sinis padanya. Ia hanya angkat bahu saja. Ia terlalu malas memperpanjang masalah ini.
Leon menghela nafas. Ia tahu kalau rencana yang dibuatnya dengan Lily adalah untuk melindungi Len dari pemerintah yang kemungkinan besar menginginkan kemampuan Len itu. Tapi, ia dan Lily sama sekali lupa akan dampak negative yang sekarang berdampak pada Len.
"Kita bicarakan ini nanti saja. Kau lanjutkan saja pelajaranmu."
"Foto?"
Rin memiringkan kepalanya bingung saat Ayahnya tiba-tiba mengajaknya berfoto. Len yang berdiri di samping Rin hanya bisa memandang Rinto dengan bosan. Buat apa foto? Emangnya Rinto narsis apa? Kok' pake ngajak-ngajak?
"Yup. Mengingat, sebentar lagi kalian naik kelas dan Len yang sudah mau dioperasi, kami berencana untuk foto-foto. Yah, semacam kenang-kenangan," jelas Rinto dengan smiling. Rin memandang Ayahnya dengan pandangan aneh. Sebenarnya, apa 'sih yang dipikirkan Ayahnya itu?
"Memangnya, aku mau mati apa?"
Rin dan Rinto langsung memandang Len dengan pandangan aneh. Kenapa Len berpikiran begitu?
"Kenapa kau berpikiran begitu?" tanya Rin dengan sebelah alisnya yang terangkat bingung.
"Kan' untuk kenang-kenangan. Sama seperti untuk mengenang seorang yang sudah meninggal 'kan?" tanya Len dengan tampang polos yang membuat Rin dan Rinto sweatdrop.
"Bukan. Cuma untuk refreshing aja 'kok. Kalian mau 'kan?" tanya Rinto dengan senyum lebar.
"Siapa aja yang ikut? Siapa yang fotoin?" tanya Rin dengan tampang bingungnya.
Rinto menyeringai dan membuat Rin dan Len saling pandang dengan wajah aneh.
"Lihat saja nanti."
TBC
A/N: Yup! Berikutnya acara foto-foto! Oh ya, mungkin chapter berikutnya akan agak lama updatenya. Soalnya, saya lagi mau menyelesaikan fic yang samurai! Oke, sekian chapter kali ini, review please! :)
