From : Unknow Number

Receive 2 hours ago

Ayo bertarung.

.

Tao memandang malas layar ponselnya. Ia baru selesai kursus. Saat mengecek ponsel, tahu-tahu ada pesan dari nomor tak dikenal mengajak berkelahi. Bukan sekali atau dua kali Tao menerima pesan singkat macam ini. Ia sudah diteror dengan pesan yang sama selama seminggu belakangan.

Awalnya Tao sempat tidak bisa tidur ketika pertama kali mendapat pesan tersebut. Ia merasa diancam. Apalagi ia mendapat pesan berisi dua kata itu sampai lima kali dalam sehari.

Respon beragam ia dapatkan dari orang-orang yang ia ceritakan. Baekhyun yang paling heboh saat ia ceritakan tentang nomor tak dikenal itu. Bahkan pikiran gadis sipit itu sudah kemana-mana. Seperti melapor polisi, atau menyewa mata-mata swasta. Sehun hanya menanggapi sebagai orang iseng kurang kerjaan. Tiffany malah terlihat aneh. Gadis itu terlihat datar saja saat ia ceritakan, seakan sudah tahu.

Belakangan, ia menganggapnya sebagai angin lalu. Ia tidak merasa ada yang menguntit atau berperilaku mencurigakan–kecuali Tiffany yang bisa tiba-tiba memegang ponselnya.

"Pesan misterius lagi ya?" Suara Sehun tiba-tiba menyeruak.

Tao kaget. Ia langsung menoleh dan mendapati Sehun sedang berdiri di sampingnya. Awalnya namja itu diam, kemudian tiba-tiba tertawa. Tao menyerngit dahi. Ada apa dengan lelaki ini? Secara refleks ia meraba wajahnya. Mungkin ada yang salah di sana. Namun tawa Sehun malah semakin kencang.

"Kau kenapa, Hun?"

"Kau tahu? Harusnya aku bawa kamera tadi untuk memotret wajah kagetmu. Aneh sekali. Seperti ini." Sehun memeragakannya kemudian tertawa lagi dan mengabaikan sambitan "manis" dari Tao.

.

.

.

Kazuma House Production

proudly present…

.

.

.

Me Prometa

® 2013

.

.

.

"Kai, aku minta kripiknya," kata Chanyeol. Tanpa menunggu jawaban sang empunya, ia memasukkan tangannya ke bungkus kripik di tangan Kai dan mengambil segenggam.

"Minta atau merampok?" sindir Kai sedikit kesal. Chanyeol hanya nyengir.

Sudah biasa kalau sekitar jam sepuluh Kai memiki waktu snack malam. Ia tidak perlu khawatir akan gemuk seperti Xiumin karena dia tidak pernah gemuk. Beratnya hanya berkisar di angka 69 kilo saja. Maka dari itu Manager tidak pernah melarangnya, apalagi mengingat jatah latihan menarinya paling banyak.

CKELEK…

Kai dan Chanyeol yang sedang menonton pertandingan sepak bola menoleh ke pintu. Kris baru pulang–entah dari mana. Seusai latihan dance, leader mereka memisahkan diri tanpa bilang apa-apa pada mereka. Bukan sekali atau dua kali. Tapi seminggu belakangan selalu begitu.

Kai sudah bisa menebak apa yang akan Kris lakukan. Tanpa mandi atau makan, Si Naga akan menjatuhkan diri di tempat tidur lalu tidak keluar sampai besok siang.

"DUIZHANG! MANDI SANA! KAU BAU!" teriak Chanyeol pada roommatenya. "Dia itu tidak sadar diri, apa? Baunya sangat tidak enak," keluh Chanyeol, Si Tiang Nomor Dua.

"Tidur saja di sini." Kai melirik sofa yang mereka duduki.

"Terima kasih saranmu, Mate," balas Si Tiang Nomor Dua. Ia memakan semua kripik di tangannya dalam sekali lahap, kemudian menepuk kedua tangannya, membersihkan remah-remah kripik.

Kai tidak terlalu memperhatikan Chanyeol. Namja bermarga Park itu masuk ke kamarnya, kemudian keluar dengan bantal di kedua tangan. Kai mengerjapkan matanya. "Mau mengunsi ke mana?"

"Kamar Suho Hyung," jawab Chanyeol.

Kai terdiam sebentar sampai bunyi debuman pintu menyadarkannya. "Ya! Aku tidur di mana?!"

Ia berusaha membuka kenop pintu yang dikunci dari dalam. Bukan hanya digedor dengan tidak manusiawi, ia juga menendang pintu, menimbulkan bunyi bising yang membangunkan member EXO-M. Bahkan Luhan yang kalau tidur tidak bisa diganggu gugat sampai bangun dengan mata sayu. Keempat yeoja itu memandangi Kai penuh tanya.

"Ada apa, Kai?" tanya Kyungsoo yang kamarnya bersebelahan dengan kamar Kai.

Kai menoleh, mendapati Kyungsoo dengan mata bulat dan piyama kuning sedang menatapnya. "Chanyeol Hyung seenaknya pindah ke kamarku! Aku harus tidur di mana? Aku tidak mau tidur dengan Duizhang. Pulang-pulang dia langsung tidur, tidak mandi lagi," adu Kai.

"Euww…" desis Xiumin jijik.

"Tidus saja di sofa," usul Lay yang tadi kembali ke kamar lalu memberikan Kai sebuah bantal kepala. "Jangan berisik."

Berangsur-angsur mereka meninggalkan Kai yang mendekap bantal dari Lay. Kini hanya tinggal Kyungsoo yang masih berdiri bersama Kai. "Kau mau kuambilkan selimut?" tanya Kyungsoo.

"Tidak. Terima kasih, Noona," tolak Kai halus. Padahal dalam hati ia berharap Kyungsoo akan menemaninya menonton pertandingan Liga Inggris. Tentu saja ia tidak bisa berharap lebih. Kyungsoo tidak tahan kalau diajak begadang. Rekor begadangnya saja jam setengah satu pagi.

"Aku tidur dulu," pamit Kyungsoo kemudian berpesan, "jangan tidur terlalu malam."

Kai mengacungkan jempol. "Tenang saja. Tidak malam, kok. Hanya pagi." Kyungsoo langsung menatapnya tajam. Kai menampilkan senyum bodoh. "Hanya bercanda. Selamat tidur." Kemudian namja berkulit tan itu kembali menyamankan diri di sofa sambil mendekap bantal.

.

.

.

.

.

"Wow… slow down, dude," kata Chanyeol sambil nyengir. Dalam hati ia bergeridik ngeri ketika melihat Kris menghajar samsak dengan beringas dan berulang-ulang. "Kau sedang ada masalah?"

Kris tidak menanggapi. Ia berhenti memukul dengan kedua tangan menggantung lemas di kedua sisi badan dan kepala mendongak. Ia mengambil napas banyak-banyak kemudiam melirik Chanyeol dan menggeleng sekilas. Ia menerima saja saat Chanyeol menyodorkan sebotol air.

Seminggu ini Kris berpikir keras–terhitung stress juga–sampai ia kehilangan dua kilo berat badannya. Mengalahkan Tao tanpa harus memukulnya? Itu hal paling mustahil yang pernah Kris dengar dari mulut seorang Tiffany Huang–selama ini percakapan mereka sekedar basa-basi standar.

Akhirnya ia menemukan caranya. Setiap hari Kris menghabiskan waktu malam setelah latihan dance untuk menyambangi satu dojo dan dilatih secara private oleh sang pemilik. Kris harus membayar lebih untuk layanan itu. Tapi tak masalah. Apapun demi Tao.

"Lenganmu bisa sebesar Siwon Hyung dalam waktu sebulan," ledek Kai.

Lagi-lagi Kris tidak menanggapi. Percuma menanggapi Kai karena dia sendiri takkan peduli meski sudah dimarahi. Jadi abaikan saja. Nanti diam sendiri.

"Kalau ini hanya karena adegan MV nanti, aku ragu," komentar Suho.

Harus Kris akui, insting Suho sangat kuat. Analisisnya selama ini hampir selalu tepat. Suho memperhatikan semua member. Di antara mereka, tidak ada yang bisa menyembunyikan rahasia. Mungkin Chanyeol bisa. Dia terbuka pada semua orang, namun juga tertutup untuk beberapa hal.

Kai merangkul pundak Kris yang lebih tinggi darinya. "Ayolah, Hyung. Sudah berapa lama kita kenal? Bukan kemarin, kan? Kalau ada masalah, cerita saja pada kami. Masalah cinta? Ada Suho Hyung yang bisa menjawab." Kai disambit botol oleh Suho. "Mau kabur dari latihan? Aku dan Chanyeol bisa membantu."

Kris melepas rangkulan Kai. "Kau hanya bocah. Mengerti apa?" Ia lalu meninggalkan Kai yang sudah sibuk lagi mengobrol dengan Suho dan Chanyeol.

Namja jangkung itu berjalan keluar gym. Pikirannya masih pusing dengan Tao. Tiffany melarangnya untuk menemui Tao. Kadang ia ragu, apakah Tiffany benar-benar ingin membantunya atau tidak, mengingat gadis berambut merah itu juga EXOtic. Fans mana yang ingin idolanya jalan dengan gadis lain?

Namun ia mencoba tetap percaya pada Tiffany. Mana mungkin dia tega pada adiknya sendiri?

"Kris!" panggil Luhan. Mau tak mau Kris berbalik. Luhan sedang berlari ke arahnya. "Mau beli minum, ya? Titip, dong. Empat botol, ya," pesan Luhan sambil memukul lengan Kris seperti dulu. Kemudian kembali berlalu dari hadapan Kris.

"Uangnya?" seru Kris.

Luhan berbalik sambil terus berbalik. "Beliin!" candanya lalu mehrong, kemudian menghilang di belokan.

Kris sadar, hubungannya dan Luhan semakin baik dari hari ke hari setelah memburuk sejak kejadian di China. Mungkin ia harus berterima kasih pada Kai yang dengan jahil mengerjai Luhan. Juga pada koreografer yang memasangkan mereka pada lagu mereka selanjutnya. Karena berdua, mau tak mau mereka pasti bicara. Hasinya hubungan mereka kembali seperti biasa.

.

.

.

.

.

Jangan kalian kira Tiffanya membiarkan Kris berusaha sendiri untuk kembali mendapatkan hati adiknya hanya karena dia EXOtic. Kalian salah besar.

Kalau Tiffany tidak berniat membantu Kris, mana mau ia repot-repot memikirkan cara menakhlukan hati Si Kungfu Panda? Lebih baik ia diam saja berlagak bodoh dan membiarkan Kris mengemis maaf pada Tao di depan flatnya. Hitung-hitung fan meeting gratis, kan? Nyataya tidak.

Karena itu, beginilah Tiffany, sedang bercermin sambil merapikan kembali rambut merahnya. "Sempurna," ia bergumam kecil lalu menyambar tasnya.

Ia berjalan keluar. Seperti biasa, ia akan memakan kapsul suplemen warna pink yang sudah disediakan Mama-nya di meja. Ia nyaris saja tersedak obatnya sendiri ketika melihat Tao melintas di depanya dalam balutan kaos putih, celana training dan tongkat wushu di tangan.

"Kau mau ngapain?" tanya Tiffany sambil menyeka air di dagunya.

Dahi Tao berkerut. "Tentu saja latihan wushu. Masa aku latihan pengibaran bendera?" tanya Tao setengah bercanda. "Eh? Ada apa?" tanya Tao kaget saat tiba-tiba Tiffany menarik tongkatnya kemudian menggelayuti lengannya. Senyum Tiffany mencurigakan.

"Kau harus ikut ke salon hari ini!" kata Tiffany kemudian meletakkan tongkat wushu itu di dekat mesin cuci.

"Ya! Jangan ditaruh di sana!" kata Tao sewot.

Tiffany tidak peduli. "Ayo pergi!" ajaknya sambil menyeret Tao keluar. "Mama, Baba! Kami pergi! Tenang saja, tidak sampai semalam waktu itu, kok!" katanya mengingat waktu mereka pulang dari Lotte World mereka diomeli karena tiba di rumah saat jam sebelas malam.

"Aku belum setuju, Jie!" rengek Tao. "Jie!"

Tiffany menarik Tao di sepanjang jalan menuju halte. Seperti anak kecil. Tak jarang mereka menjadi bahan perhatian orang-orang di sana. Di luar dugaan Tao, tenaga Tiffany jauh lebih besar darinya. Mungkin selama ini dia seperti Tsunade yang menyimpan chakra di dahi. Mungkin saja. Atau mungkin karena akhir-akhir ini dia tidak latihan wushu lagi?

Kalau iya, satu-satunya orang yang akan Tao marahi adalah Tiffany. Kakak perempuannya itu yang membuat ia tidak bisa melepas kerinduannya pada wushu selama seminggu ini. Ada saja alasannya saat ia ingin latihan wushu. Menemani dia, lah. Nonton, lah. Sampai yang paling tidak masuk akal adalah minta dibelikan es dekat gedung pink itu. Kan jauh.

"Maumu apa sih, Jie?" tanya Tao saat Tiffany sudah berhasil mendudukkan diri di salah satu kursi bus yang bersebelahan dengan jendela. Ia manyun. Kesal berat dengan gadis cantik di sampingnya yang sedang asyik cengar-cengir bahagia sampai matanya hilang.

"Kau itu perempuan. Kau harus merawat diri! Kecantikkan itu penting." Tao memutar matanya. "Kau itu seperti laki-laki, kau tahu? Memangnya kau mau tidak menikah sepanjang hidupmu?" Sesunggunya Tiffany ragu dengan kalimat terakhirnya. Se-tomboy apapun Tao, dia berani jamin Wufan tetap mencintainya.

"Euww…" desis Tiffany.

"Apa?" Tao hanya melirik.

"Bajumu ini apa-apaan, sih?" Tiffany menarik lengan kaos yang dipakai Tao. "Seperti baju tidur! Kau tidak punya baju lain yang lebih perempuan, ha?"

Tao memutar tubuhnya ke samping. Tidak terima dengan perkataan Tiffany yang mulutnya jadi tajam kalau masalah fashion. "Aku niatnya mau latihan. Kau saja yang seenaknya menarikku. Ya masa aku latihan pakai kemeja?"

Tiffany duduk menyandar dengan tangan dilipat di depan dada dan mulut berdecak. "Aku harus membawamu ke Myeongdong."

"He?" Tao kaget, "untuk apa?"

"Kau pikir untuk apa lagi? Tentu saja mendandanimu!"

"TIDAK MAU!"

.

.

.

.

.

"Umm…"

"Huft…"

Tiffany mengigit bibir, menimbang-nimbang. Tao yang dijadikan manekin secara paksa sudah mendengus berkali-kali dan menghentakkan kakinya, menciptakan suara bising di toko tersebut. Ini adalah baju ke tujuh yang dipakaikan Tiffany padanya. Dan gadis itu masih mengacak-acak baju lain dan memakaikannya pada Tao? Mau sampai kapan mereka berada di sana? Sudah lebih dari tiga jam!

Mungkin Tao masih bisa sabar kalau jiejie-nya memilihkan dia kaos atau kemeja. Tapi ini?! Tiffany sedang memilihkan sebuah baju Lolita untuknya!

"Lebih baik kau memakaikan hotpants padaku, daripada baju berumbai-rumbai seperti itu. Melihatnya saja ribet. Bagaimana memakainya?" komentar Tao berharap Tiffany mau memahami isi hatinya.

"Ya sudah, kita cari hotpants saja."

Facepalm.

Tao, kau salah bicara.

Tiffany menaruh dua baju Lolita di tangannya kembali di gantungannya, lalu berlalu menuju deretan hotpants berbagai warna. Tao kembali mendengus untuk kesekian kalinya. Ini pasti masih akan sangat lama. Untuk pakai baju sendiri saja Tiffany memakan waktu hampir setengah jam.

Sebenarnya Tao tidak tomboy. Tao tidak mengakui dirinya tomboy, meski menguasai wushu. Tapi ia juga tidak mau menganggap dirinya girly. Cek saja lemarinya, kau pun masih bisa menemukan baju-baju berwarna pink ataupun yang bergambar Rilakkuma di sana. Dia merasa tersinggung sekali ketika Tiffany bilang ia seperti laki-laki.

Rasa lapar di perut Tao membuatnya ingin makan. Seingatnya ia melewati satu gerai milk tea tadi. Tanpa bilang-bilang, Tao meninggalkan Tiffany di toko sendirian. Biar saja gadis itu sibuk sendiri dengan dunia fashionnya. Nomor satu perut.

Tao masuk ke gerai milk tea yang berjarak tiga toko dari tempatnya semula. Seperti pada umumnya, ia memesan di depan meja kasir. Setelah segelas Choco Milktea dengan bubble-bubble berwana pink ada di tangan, Tao segera berbalik.

Hampir saja ia menjatuhkan minumannya kalau tidak dipegang menggunakan tissue. Bukan karena licin, namun karena seseorang yang ternyata sejak tadi berdiri di belakangnya. Gadis berambut pink pucat–sekarang ditutupi topi–yang waktu itu bersama Wufan dan memandanginya sinis.

Baik Tao maupun Luhan sama-sama melemparkan tatapan tajam terbaik mereka. Dengan sengaja Tao menyenggol pundak Luhan saat melewatinya hingga topi gadis itu jatuh. Tao bisa mendengar gerai milktea menjadi ramai. Masa bodo, lah.

"HUANG ZI TAO!" teriak Tiffany, langsung berjalan cepat, menjitak kepala adiknya ketika ia melihat adiknya berada di depan gerai milktea.

"Auch…" Tao meringis sambil memegangi kepalanya. Ia bisa melihat Tiffany berkacak pinggang sambil melotot padanya. "Sakit tahu…"

Tiffany menghentakkan kakinya kesal. "Kau membuatku panik, tiba-tiba menghilang begitu! Cepat ikut aku!" Gadis berambut merah itu menggaitkan lengannya di lengan Tao lalu berjalan lurus. Tao mengikut saja.

"Mau ke mana?" tanya Tao sambil sesekali menyedot milktea-nya.

"Tentu saja salon. Kau butuh rambut baru."

"Kau mau memotong rambutku seperti apa lagi? Ini saja sudah sepundak. Kau mau mencepaknya?" tanya Tao. Ia kembali dibuat kaget oleh Tiffany. "Jie… please, Jie…"

Tiffany tidak mendengarkan mereka tetap masuk ke sebuah salon bernuansa pink. Dua orang pekerja langsung menyambut mereka.

.

.

.

.

.

Luhan berlari masuk ke dalam van dengan napas terengah-engah. Di luar, fans mengerubuni dan mengetuk-ngetuk kaca jendela. Luhan hanya melambaikkan tangan pada mereka tanpa membuka jendela. Ia menusuk sedotan di gelas milktea-nya lalu minum dengan rakus. Teman-teman se-grupnya yang tadi sedang asyik dengan urusan masing-masing langsung mengalihkan pandangan pada Luhan.

"Kenapa, Lu? Habis dikejar banteng?" ledek Kai melihat Luhan dibanjiri keringat. Kalau saja makeup matanya bukan waterproof, makup Luhan sudah pasti meluber seperti hantu.

"Ini semua gara-gara pandamu, Kris!" tuduh Luhan pada namja yang duduk di sampingnya. Kris yang tadi sedang sibuk dengan ponselnya menoleh. Dahinya berkerut tidak mengerti. "Dia menabrakku dengan sengaja hingga topiku melayang!"

Kris mengulum senyum tipis. "Kan sudah kubilang, dia jahil."

Luhan mendengus kesal. Untung mobil sudah melaju masuk ke jalan toll, jadi tidak ada fans yang melihat Luhan sedang berwajah kesal sambil mengigiti sedotan. Luhan menolak untuk menoleh pada Kris meski sudah dijanjikan akan diberi hadiah olehnya. Paling dia memasak ramyun lagi, pikir Luhan semakin kesal.

Alis Kai menyatu. Bibirnya dimonyongkan. "Pandanya Kris? Memangnya Kris Hyung punya panda? Tidak mungkin kan boneka pandamu bisa jalan sendiri membeli milktea?" Kai jadi ngeri sendiri. "Jangan-jangan bonekamu kerasukan seperti Chucky." Kai menepuk dahi. "Matilah kita… hidup kita takkan tenang lagi di dorm. Kau harus membakarnya, Hyung. Kalau berlu dimutilasi dulu."

"Apaan, sih…" sinis Xiumin sambil menoyor kepala Kai yang duduk di sampingnya di kursi paling belakang. "Kau berlebihan, Maknae."

Kai mehrong. "Kalau aku benar, Noona yang akan dibunuh duluan."

"Dasar anak kecil," ledek Chanyeol sambil tetap asyik pada ponselnya.

Kai kesal. Selalu ia disebut-sebut sebagai anak kecil oleh hyungdeul dan noonadeul-nya. Memang ia seperti anak kecil. Tapi lelaki sembilan belas tahun mana yang mau disebut sebagai anak kecil? Beda beberapa tahun saja merasa tua, cibirnya dalam hati.

.

.

.

.

.

To Be Continue…

2.472 words

Karena saya udah nggak punya kegiatan selama libur, saya usahain untuk update tiap hari :)

Ada HunHan moment, gak? HunHan moment pasti ada. Sekarang belom muncul karena Luhan belom kenal sama Sehun ^^.

Luhan jadi antagonis? Soalnya saya males dimana-mana Lay mulu yang jadi pihak ketiga TaoRis. Kan kasian, hahaha. Dan muka Lay nggak cocok untuk jadi cewek ceria dan iseng yang suka ngegerecok kaya Luhan.

HunTao moment cuma sekedar temen aja kok. KrisTao moment mungkin agak ke belakang ^^.

Kris bisa inget lagi sama Tao setelah dicium Luhan #agaknyesekjuganuliskayagini =3="

Thanks to: ZiTao99, dian deer, farahpark, Ryu Que, Viivii-ken, anykta, Milky Andromeda, SiDer Tobat, fumiwari, 7D, Jung hyun neul, PrinceTae, Sehun's Wife, KyuKi Yanagishita, vi, SelcyMorimoto, Uchiha Tachi'4'Sora, PandaPandaTaoris, Shim Yeohae, dan semua yang sudah membaca, fave, alert. Gomawo~

NB: EXO ikut MCountDown INA gak, sih? Kalo nggak males minta ke ortu -_-

Sign,

Uchiha Kazuma Big Tomat

Finished at:

Friday, May 31, 2013

02.25 P.M.

Published at:

Thursday, June 06, 2013

08.00 P.M.

Me Prometa © Kazuma House Production ® 2013