Hello My Love
.
.
oOo
.
.
First time?
.
.
oOo
Happy Reading...
Mingyu baru selesai kelas praktik, tubuhnya sangat lelah karena jam tidurnya sangat sedikit. Setelah jam kuliah, ia lanjut ke klinik membantu pamannya demi mengumpulkan uang untuk membeli cincin yang diminta Wonwoo.
"Mingyu, tolong kembalikan torso itu ke lab. " Aron meminta tolong karena ia sendiri sudah membawa banyak barang.
"Oke sunbae."
"Bagaimana Gyu, persiapan untuk magang?"
"Sedikit lagi, kemarin juga sudah ikut tes. Aku ingin segera lulus saja."
"Haha seperti sedang kejar target Gyu!"
"Memang... hahaha..."
Keduanya larut dalam obrolan, saat menaiki anak tangga, Aron berjalan lebih dulu dan Mingyu mengikuti dari belakang.
'Tap tap tap' terdengar langkah tergesa dari atas. Seseorang tampak tergesa saat akan turun dan berpapasan dengan Aron yang membawa dus berisi berbagai barang.
"Oohh...oohhh..."
"Aaaaaakkkkkk" Mingyu terkejut karena Aron kehilangan keseimbangan dan ia berusaha menahan agar tidak jatuh. Namun dengan kondisi kedua tangannya tidak berpegangan maka Mingyu ikut terhuyung dan akhirnya terjatuh berguling.
"Aaakkk... pinggangku..." Mingyu meringis kesakitan.
"Mingyu..." Aron panik melihat Mingyu kesakitan.
"Dimana yang sakit?"
"Kaki... aaakkkhhh..."
"Aku sudah telepon ambulans, sepertinya ia terkilir. Aku minta maaf." Ucap seorang gadis yang sempat bertabrakan dengan Aron sebelum terjatuh. Aron hanya mendelik kesal namun ia terus fokus pada kondisi Mingyu yang sudah kesakitan setelah jatuh dari tangga.
Mingyu segera dibawa ke rumah sakit terdekat untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Ia terus berteriak kesakitan.
"Pasien bernama Kim Mingyu, terjatuh dari tangga. Kemungkinan kakinya terkilir." Ucap seorang perawat yang bertugas pada seorang dokter di ruang gawat darurat.
"Baiklah, Kim Mingyu kamu harus tahan ya. Saya akan coba membantu menggeser tulang agar kembali seperti semula."
"Tidak! Aku takut!"
"Yak, kamu jangan takut. Kita harus kerja sama, saya bantu kamu dan kamu harus menahannya."
Mingyu panik karena ia sudah membayangkan rasa sakitnya seperti apa.
"Tidak! Apa tidak ada metode lain?"
"Yak, kamu jangan menolak. Pasien di rumah sakit ini bukan kamu saja, kami sangat sibuk. Cepat pegang dia!" Perintah dokter itu pada perawat.
Mingyu panik saat perawat wanita mulai mendekat. "Oh tunggu! Aku minta Wonwoo saja! Hanya Wonwoo yang boleh menyentuhku!" Ucap Mingyu mantap setelah sadar dengan tulisan nama rumah sakit pada name tag salah satu perawat.
"Wonwoo?" sang dokter menatap Mingyu heran.
"Iya, Jeon Wonwoo. Tolong panggilkan dia." Mingyu meminta dengan raut wajah minta dikasihani.
"Dokter muda Jeon itu maksud kamu?" Dokter yang menangani Mingyu melirik tajam.
"I..iya..." Mingyu menelan ludahnya merasa takut dengan tatapan dokter itu. Permintaan Mingyu dituruti, Wonwoo segera datang setelah ada yang mencarinya.
"Sayang..." Mingyu seperti anak kecil mengadu pada ibunya, Wonwoo yang sudah paham dengan kondisi Mingyu dari perawat yang mencarinya langsung mendekati Mingyu.
"Sudah siap?" Dokter memberi aba-aba.
Mingyu yang ketakutan langsung memeluk erat tubuh Wonwoo dan menenggelamkan wajahnya pada dada Wonwoo.
Dokter dan perawat yang melihatnya hanya menggelengkan kepala. Wonwoo sendiri merasa malu dengan tingkah Mingyu. Mingyu awalnya memang ketakutan namun ia merasa lebih tenang saat Wonwoo bersamanya.
'Krek... krek'
'Aaaaaaaaakkkkkkkkkk'
Jeritan panjang keluar dari Mingyu dan Wonwoo menahan saat Mingyu memeluknya sangat erat.
"Sudah..." Wonwoo menenangkan kekasihnya dan Mingyu mulai tenang. Wonwoo membantu menghapus air mata bercampur keringat dingin Mingyu.
"Dokter Jeon, aku serahkan pasien ini padamu." Dokter senior langsung memberi tugas pada Wonwoo untuk merawat Mingyu.
"Iya dok..." jawab Wonwoo dan segera dokter senior itu pergi meninggalkan Wonwoo dan Mingyu.
"Sayang, tulang ekorku sakit..."
"Iya, nanti ada yang datang untuk foto. Kamu disini dulu saja. Aku urus kaki kamu dulu." Wonwoo segera mengobati kaki Mingyu memberikan gips dibantu perawat dan tak lama bagian X-Ray datang untuk foto. Mingyu langsung tenang karena semuanya berjalan dengan lancar walau awalnya penuh drama.
Mingyu sudah dipindah ke kamar rawat, saat malam Wonwoo datang mengecek karena Mingyu adalah tanggung jawabnya saat ini.
"Belum tidur?"
"Bagaimana bisa tidur? Kaki aku masih nyeri." Ucap Mingyu manja meminta perhatian. Wonwoo hanya tertawa melihatnya.
"Kenapa? Senang ya lihat aku kena musibah?"
"Bukan, hanya saja situasi kita saat ini. Kamu adalah pasienku. Lucu kan?"
Mingyu ikut tertawa dan mengangguk mengerti.
"Karena aku pasienmu, maka aku boleh minta apa saja ya."
"Mau minta apa?"
"Aku mau ke toilet..."
"Baiklah aku bantu." Wonwoo membantu Mingyu untuk bangun namun Mingyu malah merintih kesakitan.
"Kenapa? Dimana yang sakit?"
"Punggung aku sakit, sepertinya aku sulit bangun."
"Baiklah, aku ambilkan pispot untukmu." Wonwoo segera keluar kamar dan tak lama ia kembali lagi.
"Aku buang air disini?"
"Iya tentu saja, kamu tidak bisa jalan ke toilet."
"Memalukan..." Mingyu merengut menahan malu namun memang tidak ada cara lain. Wonwoo hanya mengulum senyum.
"Aku keluar, teriak saja kalau sudah selesai."
"Aku pasienmu, kenapa ditinggal?"
"Kamu kan mau buang air, apa aku harus membantumu buang air juga?"
"Tentu saja, orang tuaku membayar tagihan rumah sakit dan ini kelas VIP. Jadi kamu harus membantuku semuanya tanpa terkecuali untuk buang air."
Wonwoo terkejut dan langsung tertawa geli.
"Kamu pikir aku di gaji dari sini? Baiklah, karena kamu pasien istimewa maka aku akan bantu." Wonwoo merasa gemas namun tetap menurut dan bersiap menggunakan sarung tangannya. Mingyu menahan geli namun pipinya terasa sangat panas.
Jantung Wonwoo terus berdetak sangat cepat hanya karena permintaan Mingyu. Beruntung Mingyu berada di kamar VIP dan hari telah malam, sudah lewat dari jam besuk.
"Mana?"
"Ambil saja dokter... dia di dalam..."
Wonwoo sangat gemas dengan tingkah Mingyu padanya. Mingyu benar-benar mengerjainya saat ini.
"Aku buka ya..."
"Buka saja..."
Wonwoo menarik nafasnya dan tangannya mencari batang penis milik Mingyu.
"Senang?"
Mingyu tak bisa menahan tawanya. "Hmmm tentu saja..." Mingyu menahan malu karena Wonwoo membantunya buang air namun kapan lagi mengerjai Wonwoo seperti ini.
Bagi Mingyu saat Wonwoo melihat bagian tubuhnya tidak menjadi masalah karena mereka memang merencanakan untuk hidup berdua nantinya.
Jemari lentik Wonwoo membersihkan ujung penis milik Mingyu dengan tissu setelah selesai buang air dan menyimpan kembali ke tempat semula.
"Pasien Mingyu, kalau mau buang air besar silahkan minta aku lagi untuk mengurusnya." Wonwoo kembali menyindir.
"Sayang, jangan marah. Kalau untuk itu aku akan memaksa ke toilet. Walau syaraf belakang aku sangat sakit."
"Ya sudah, ini sudah malam. Istirahatlah..." Wonwoo menyimpan pispot di bawah ranjang takut Mingyu membutuhkan lagi.
"Punggung aku sakit." Mingyu mulai merengek, Wonwoo harus ekstra sabar menghadapinya.
"Baiklah, aku bantu oleskan salep."
"Dokter disini memang hebat..."
Wonwoo hanya melirik Mingyu namun tangannya membantu Mingyu melepas atasan piyamanya. Secara telaten Wonwoo mengoleskan salep di punggung dengan sedikit pijatan agar otot Mingyu tidak kaku lagi.
"Angkat sedikit pinggul kamu."
"Kenapa?"
"Bokong kamu juga di oles..."
"Eh?"
"Ini salah satu pelayanan rumah sakit juga untuk pasien istimewa seperti kamu."
"Oh..." Mingyu menurut untuk menaikkan pinggulnya dan Wonwoo melepas celana sampai bokong Mingyu terlihat semua.
Wonwoo terus terkekeh geli dan Mingyu sendiri menahan malu.
"Sayang..."
"Kenapa? Bukannya kamu yang minta?"
"Iya tapi... kalau begini, aku telanjang saja."
"Adik kamu mau di oles juga tidak?"
"Eih jangan! Nanti dia terbakar!"
Wonwoo benar-benar tak berhenti tertawa. "Aku rasa celana kamu harus dilepas semua, agar kaki kamu bisa aku pijat.
"Eih serius? Sudah jangan, ini sudah malam. Lebih baik kamu istirahat saja."
"Nanti di rumah saja pijat seluruh tubuhnya..." Mingyu meminta saat Wonwoo membantu memakai atasan piyamanya lagi.
"Sudah tidak berlaku kalau sudah keluar."
"Eih, di rumah lebih bebas."
"Aku bukan dokter pribadi kamu."
"Aku bayar..."
"Bayar pakai apa?"
"Pakai cinta..."
Wonwoo langsung terkekeh geli, begitu juga dengan Mingyu.
"Sudah malam, istirahatlah..."
"Lalu kamu? Aku ditinggal? Ini rumah sakit, bagaimana kalau ada arwah datang?"
"Kamu sudah besar, kenapa percaya takhayul?"
"Aku pasien VIP..."
"Baiklah, oke... aku temani disini..." Wonwoo langsung mengalah kalau Mingyu sudah menyinggung masalah VIP. Mingyu tertawa senang bisa membujuk Wonwoo, kapan lagi bisa berduaan di malam hari.
Wonwoo langsung ke toilet untuk mencuci tangannya, jantungnya terus berdebar.
"Astaga, manja sekali dia."
Wonwoo hanya terdiam setelah keluar dari toilet, Mingyu menepuk bantal agar Wonwoo tidur di sampingnya.
"Aku tidur di sofa saja..."
"Kenapa? Aku takut kalau tidur sendiri... aku pasien V..."
"Iya oke." Potong Wonwoo cepat dan ia langsung naik ke ranjang Mingyu.
"Tidurlah..."
"Tidak ada kecupan selamat tidur untuk pasien..."
"Sepertinya kamu harus membuat daftar tugas untukku..."
Mingyu hanya mengerucutkan bibirnya saat Wonwoo menatap tajam.
'Chup' Wonwoo mengecup lembut bibir Mingyu dan Mingyu tersenyum senang, permintaannya telah dituruti. Mingyu langsung memejamkan mata, tubuhnya butuh istirahat karena besok ia akan menjalani terapi.
Wonwoo ikut terlelap setelah bekerja seharian, ditambah mengurusi pasien seperti Mingyu yang sangat manja. Gadis cantik itu tidur miring dengan memeluk tubuh besar Mingyu.
oOo
Berita Mingyu yang terjatuh membuat Seokmin dan Jun segera membesuk keesokan harinya.
"Mingyu-ya, bagaimana?" Tanya Seokmin penasaran dengan kaki Mingyu yang masih terbungkus perban.
"Masih nyeri hehe... tapi tadi pagi sudah ikut terapi."
"Astaga... cepat sembuh..." ucap Seokmin.
"Aku rasa ia akan betah di rumah sakit." Ucap Jun dengan melirik ke arah Mingyu dan tersenyum.
"Memangnya kenapa?" Tanya Seokmin bingung dengan tampang polosnya.
"Lihat saja." Jun menunjuk papan pasien di ranjang Mingyu dan Mingyu sendiri tertawa senang.
"Oh! Dasar kamu Gyu!" Seokmin ikut tertawa setelah membaca ada nama Wonwoo disana.
"Bagaimana bisa? Aku dengar dari Aron sunbae, kalau orang lain yang menelepon ambulans." Seokmin masih penasaran.
"Kalau untuk kasusnya untuk seorang Kim Mingyu pasti bisa saja." Balas Jun.
Mingyu masih terkekeh geli. "Itu namanya jodoh, aku tidak tahu kalau ambulansyang datang dari rumah sakit ini."
"Lalu? Dokter kamu mana?"
"Wonwoo masuk siang, nanti juga dia datang dan malamnya kami tidur berdua disini."
"Dasar mesum..." ucap Seokmin.
"Walau ia mesum juga tidak bisa apa-apa, kakinya saja masih sakit." Jun meledek dan membuat Mingyu terdiam. Seokmin tertawa senang dibuatnya.
"Setidaknya bisa tidur berdua dalam 1 ranjang." Mingyu memeletkan lidah, ia tidak mau kalah.
"Kalau hanya tidur biasa, aku dan Jisoo noona sering."
Mingyu dan Jun langsung melirik ke arah Seokmin.
"Sering?" Jun mengernyitkan dahinya.
"Kalau sering artinya lebih dari sekali. Aku yang kenal lama dengan Wonwoo saja baru semalam, tapi kamu..."
"Aaahh... bercanda... tidak bukan begitu..." Seokmin mendadak grogi sementara Mingyu dan Jun masih curiga padanya. Seokmin kelepasan bicara.
"Sudah... uh ah uh ah?" Tanya Jun masih penasaran.
Seokmin balas menatap Jun dengan tatapan polosnya. "Hampir..." Seokmin buru-buru membekap mulutnya sendiri. Jun mengangguk mengerti dan Mingyu hanya melongo mendengarnya.
"Wow..." Mingyu mulai tersadar dan suasana masih hening.
"Aish sudahlah kenapa jadi membahas ini?" Seokmin malu sendiri.
"Wah kalian sudah datang..." Wonwoo masuk ke dalam kamar untuk mengecek keadaan Mingyu. Wonwoo tersenyum pada Jun dan Seokmin. Seokmin bernafas lega karena Wonwoo datang.
"Sudah terapi tadi?"
"Sudah..." balas Mingyu manja.
"Punggung masih sakit?"
"Masih sayang... untuk gerak masih nyeri."
"Iya, nanti aku ambil obat yang lain."
Jun dan Seokmin hanya mengulum senyum melihatnya, seperti dugaan Jun kalau Mingyu akan betah untuk dirawat.
"Aku tinggal ya, nanti aku datang lagi." Wonwoo pamit memberi waktu untuk Jun dan Seokmin yang sedang membesuk.
"Memangnya masih sakit..." Seokmin mencoba mengetes menyentuhnya.
"Aaakkk... kamu tidak percaya? Sungguh sakit, kamu coba saja jatuh dari tangga biar merasakan seperti apa."
"Lalu kalau aku jatuh, apa aku bisa dapat dokter yang cantik juga?"
"Coba saja, dan aku yakin Jisoo noona akan mengamuk."
"Oh... tidak jadi..." ucap Seokmin cepat dan Jun terkekeh geli.
oOo
Seorang perawat pria masuk ke dalam ruangan dimana Wonwoo berada. Wonwoo sedang membuat laporan di mejanya.
"Dokter Jeon..."
"Ada apa?"
"Pasien di kamar VIP itu menolak di waslap, dia mengatakan kalau hanya dokter yang boleh menyentuhnya. Dia tidak mau kalau saya yang membersihkan tubuhnya."
Wonwoo hanya terdiam, Mingyu membuat ulah lagi. Semenjak Mingyu dirawat, beban tugas Wonwoo semakin banyak. Banyak perawat yang mengadu, dari Mingyu yang tidak mau makan karena mencari Wonwoo untuk menyuapinya atau hal-hal kecil lainnya.
"Baiklah, nanti aku kesana." Ucap Wonwoo pasrah.
Wonwoo segera menyelesaikan laporan dan bersiap menuju kamar Mingyu.
Mingyu tertawa senang saat Wonwoo datang ke kamarnya.
"Gyu... serius, ini bukan tugasku."
"Tapi aku pasien kamu..."
Wonwoo hanya menarik nafas, berulang kali ia mengatakan kalau ia tidak di gaji dan Mingyu juga paham sejak awal Wonwoo magang. Namun Wonwoo selalu sabar dalam menghadapi Mingyu.
"Aku hanya ingin bersama kamu... bosan aku sendiri... kamu tahu kan, kedua orang tuaku selalu sibuk..." ucap Mingyu sendu.
"Aku tahu, maaf sudah menyakiti perasaan kamu." Wonwoo menatap Mingyu yang menunduk lalu memeluknya.
"Aku disini..."
"Terima kasih, aku juga tidak mau sakit begini."
"Iya aku paham. Oke kamu mau mandi di toilet atau aku lap saja?"
"Terserah kamu saja, asal kamu yang merawat."
"Aku bantu ke toilet saja ya, rambut kamu sudah lepek. Kaki kamu juga sudah mulai membaik, tadi aku sudah lihat hasilnya."
Mingyu mengangguk dan Wonwoo segera membantu Mingyu masuk ke dalam toilet. Wonwoo harus profesional, pertama kalinya ia memandikan pasien.
Walau ia cukup merasa terangsang melihat Mingyu dalam keadaan telanjang, namun ia harus tampak biasa saja.
"Kamu sepertinya tidak malu kalau begini?"
"Kenapa harus malu? Kamu kan calon istriku."
Wonwoo hanya tertawa disela memberi sabun pada tubuh Mingyu. Kedua orang tua Mingyu memang tidak menemani putranya, mereka sudah mempercayakan pada Wonwoo yang sudah mereka anggap sebagai putrinya sendiri.
"Ini kamu beri sabun..." Wonwoo memerintah dengan melirik penis Mingyu.
"Kamu saja, aku kan pasien kamu..."
"Baiklah..." Wonwoo pasrah kalau Mingyu sudah mengeluarkan kalimat andalannya. Secara perlahan Wonwoo mengusap bagian perut Mingyu hingga kaki. Mingyu sendiri tampak tenang duduk di closet.
Wonwoo benar-benar harus profesional namun keadaan penis Mingyu mulai menegang saat Wonwoo mengusapnya dengan sabun cair.
Wonwoo menggigit bibirnya, menahan hasrat.
'Fokus Won, Mingyu sedang sakit.'
"Dia bangun..." ucap Mingyu.
Wonwoo hanya menelan ludahnya dan tetap konsentrasi pada pekerjaannya. Ia berharap cepat selesai. Wonwoo sudah berkeringat dingin, pakaian seragamnya juga sedikit basah padahal sudah ia gulung.
"Gyu..."
Mingyu menatap Wonwoo yang berdiri dengan menyender wastafel.
"Aku tidak kuat kalau begini..."
"Hmm..." Mingyu menatap heran, raut wajah Wonwoo sangat gelisah. Wonwoo langsung naik ke pangkuan Mingyu dan mencium bibir Mingyu seolah menuntut agar Mingyu memuaskan hasrat.
Mingyu menyambut gembira dengan sikap Wonwoo. Keduanya saling melumat bibir, kedua tangan Mingyu meremas pinggang ramping Wonwoo.
"Kamu menginginkannya sayang...?"
"Gyu... aku..."
Mingyu segera melumat habis bibir Wonwoo, ia sudah paham apa yang Wonwoo inginkan. Tangan kurus Wonwoo bergerak meraih kunci pintu dan langsung memutar agar pintu terkunci.
"Gyu..." pandangan Wonwoo penuh mabuk asrama.
"Buka pakaian kamu, kita mandi bersama..."
Kalimat perintah dari Mingyu yang diucapkan dengan berbisik langsung dituruti oleh Wonwoo. Gadis cantik itu langsung bangun dan melepas pakaian seragamnya.
Mingyu terus menatap tanpa kedip proses Wonwoo melepas pakaian hingga telanjang seperti dirinya. Wonwoo sudah hilang akal sehat, kalau ketahuan pihak rumah sakit maka ia pasti kena skors.
"Tubuhmu sangat indah..."
Wonwoo hanya tersenyum malu dan langsung kembali duduk di pangkuan Mingyu. Tak menyiakan kesempatan maka Mingyu langsung mengecup lembut leher jenjang gadis cantik yang sudah berada di pangkuannya.
Berbagai kecupan diberikan hingga bibir Mingyu telah sampai pada payudara Wonwoo yang berbentuk bulat sempurna, masih kencang dan sangat kenyal. Wonwoo menahan agar tidak menimbulkan suara aneh, ia menahan dengan menggigit bibirnya saat Mingyu menjilat dan menyedot putingnya dengan gemas.
"Pelan-pelan... tidak ada yang minta..." Wonwoo meremas rambut Mingyu.
"Hehe sudah pelan sayang..." Mingyu saat ini merasa sangat bahagia, ia kembali melumat bibir Wonwoo yang tak pernah bosan ia sapa.
"Akkhh...!" Wonwoo sedikit terlonjak saat jari Mingyu mulai mengusap bibir vaginanya. Secara perlahan Mingyu memasukkan jarinya dan Wonwoo menahan dengan meremas punggung Mingyu. Menahan rasa sakit yang untuk pertama kalinya hingga meninggalkan bekas cakaran pada punggung pemuda tampan itu.
Mingyu meraih bibir Wonwoo lagi dan terus melumat dengan lembut untuk mengurangi rasa sakit yang Wonwoo rasakan. Mingyu kembali menyentuh vagina Wonwoo dengan ujung penisnya. Batang penisnya sudah menegang sempurna.
"Sayang..."
"Aku siap..." ucap Wonwoo pasrah. Mingyu dengan perlahan memasukkan penisnya dan Wonwoo hampir berteriak langsung membekap mulutnya sendiri.
"Sayang..." Mingyu menatap Wonwoo yang sudah mengeluarkan air mata.
"Tidak apa..." Wonwoo mulai mengusai dengan keadaan saat ini. Keduanya mulai bergerak, Wonwoo mulai bergerak perlahan dengan menahan rasa sakitnya. Mingyu tersenyum menatap gadis yang paling ia cintai, keduanya larut dalam ciuman mesra di sela kegiatan sex pertama kalinya.
"Gyu... do you love me...?"
"Off course..." balas Mingyu dan keduanya kembali saling melumat bibir. Mingyu terus menuntun pinggul Wonwoo untuk terus bergerak.
Wonwoo terus mendesah pelan. "Ah... ah... hmmm... ah..." Ia dengan cepat mengusai diri menikmati permainan singkat di toilet kamar pasien. Mingyu terus memberi tanda kepemilikan di area payudara Wonwoo. Keduanya terus saling bertukar saliva. Mingyu yang sempat merasa nyeri dengan tulang ekornya tapi berkat fisioterapi yang telah ia lakukan membuat ia sembuh lebih cepat.
"Aku mau keluar..." Mingyu mengerang dan Wonwoo langsung berdiri. Cairan putih kental keluar dari penis Mingyu dan Wonwoo melihat semua prosesnya lalu ia tertawa.
"Akhirnya..." Mingyu tersenyum senang setelahnya. Ia merasa puas seolah melepas beban yang berat.
"Gyu sakit..." Wonwoo menunjuk vaginanya dan ada bercak darah di selangkangan.
Mingyu meraih tangan Wonwoo dan menciumnya. "Aku akan mempercepat untuk melamar kamu..."
Wonwoo tersenyum sangat manis dan kembali menunduk langsung berciuman lagi. "Aku tunggu..."
Wonwoo langsung meraih sabun cair lagi dan kembali mengusap ke seluruh tubuh Mingyu dan dirinya.
Mingyu merasa sangat segar setelah Wonwoo memandikannya dan memberikan kepuasan batin.
"Aku tak menyangka akan mendapat dokter yang hebat."
"Dan ini hanya berlaku untuk pasien bernama Kim Mingyu saja."
Mingyu tertawa geli saat Wonwoo mengganti perban yang basah di kaki Mingyu. Tak lama petugas mengantar makan malam dan tugas Wonwoo masih berlanjut dengan menyuapi Mingyu makan.
Mingyu terus menatap Wonwoo tanpa bosan, ia tak menyangka akan melakukan sex pertama dengan sahabat kecilnya di tempat yang tak terduga.
"Kenapa? Ada yang aneh?"
Mingyu hanya tersenyum dan menggeleng.
"Cepat habiskan, aku masih ada tugas."
"Tidak bisakah kamu disini terus?"
"Nanti setelah aku periksa pasien yang lain."
Mingyu mengangguk mengerti kesibukan Wonwoo.
"Aku tinggal dulu ya." Wonwoo mulai turun dari ranjang dengan perlahan dan Mingyu terus memerhatikannya.
"Sayang... kamu tak apa?"
"Hmmm masih sakit... tidak apa, aku pergi dulu..."
"Hati-hati..." ucap Mingyu penuh kekhawatiran. Sepeninggal Wonwoo, Mingyu sendirian lagi dan ia merasa sangat bosan. Hari telah mulai larut malam dan Wonwoo belum datang lagi, Mingyu merasa sangat merindukan gadisnya.
Dengan perlahan ia turun dari ranjangnya untuk mencari keberadaan Wonwoo karena ponselnya tidak bisa dihubungi. Mingyu cemas dengan keadaan Wonwoo apalagi mereka habis melakukan seks. Mingyu masih ingat kalau Wonwoo menahan sakit.
Setelah bertanya pada perawat maka Mingyu mendatangi ruangan dimana Wonwoo berada. Wonwoo terlihat serius dengan pekerjaannya. Mingyu bernafas lega kalau Wonwoo baik-baik saja.
"Sayang... aku menunggumu..."
Wonwoo langsung menoleh dan melihat Mingyu sudah berada di dekatnya.
"Oh... maaf, aku baru mau kesana tapi ini belum selesai."
Mingyu tersenyum dan langsung mencium puncak kepala Wonwoo dan mengambil posisi duduk di sebelahnya.
"Selesaikan saja, aku temani ya..."
"Hmm baiklah... ini sudah mau selesai." Wonwoo kembali fokus menyelesaikan tugasnya dan Mingyu membaca buku milik Wonwoo.
Setelah Wonwoo selesai maka Mingyu kembali ke kamar ditemani Wonwoo. Mereka kembali tidur dalam 1 ranjang.
Mingyu terus memandang wajah Wonwoo, ia merasa semakin mencintai gadisnya itu dan tak ingin berpisah sedetikpun rasanya. Wonwoo tampak nyaman dalam pelukan hangat Mingyu, selain karena lelah karena tugasnya dan ia juga lelah dengan kegiatan bersama Mingyu di sore hari.
oOo
Mingyu telah keluar dari rumah sakit, ada rasa senang kondisi tubuhnya kembali fit namun ia sedih karena Wonwoo tidak merawatnya. Mingyu tidak bisa menggoda Wonwoo lagi, ada rasa mengganjal dan ia akan merindukan saat kebersamaan ia dengan Wonwoo.
Mingyu dijemput oleh kedua orang tuanya, selama perjalanan ia hanya terdiam dan berpikir positif kalau ia masih dapat bertemu Wonwoo dan berencana akan menghabiskan waktu bersama dengan kencan yang biasa ia lakukan saat Wonwoo libur.
"Sudah sampai." Ucap sang ayah dan Mingyu langsung tersadar dari lamunannya.
"Ini dimana?" Mingyu bingung karena ayahnya parkir di halaman sebuah gedung apartemen.
"Keluarlah, bawa koper kamu juga. Nanti kamu tahu jawabannya."
Mingyu tetap menurut dan mengikuti kedua orang tuanya hingga sampai di depan unit apartemen.
"Untuk sementara kamu tinggal disini, ayah sudah memindahkan barang-barang kamu. Rumah mau di renovasi."
"Oohh..." Mingyu mengangguk mengerti dan sang ayah langsung membuka pintu. Mingyu tersenyum senang karena keadaan apartemen yang nyaman dan tenang.
"Kamar aku dimana?"
"Hanya ada 2 kamar disini, ruangan itu untuk kamu belajar dan yang besar itu kamar kamu."
"Lalu ayah dan ibu?"
"Ayah dan ibu tetap di rumah, lagipula kami sering di luar rumah, kalau kamu kan harus dalam suasana tenang untuk belajar." Ibunya menjelaskan.
"Ooohh..." Mingyu tersenyum senang dan ia segera menuju kamarnya untuk meletakkan koper. Mingyu hanya terdiam melihat kondisi kamarnya, ada aroma manis menguar saat ia membuka pintu.
Mingyu mengedarkan pandangan merasa ada yang aneh dengan adanya meja rias dan beberapa kosmetik.
"Katanya ini kamarku? Ayah tidak salah masuk apartemen kan?" Mingyu bergumam dan mencoba mengecek membuka lemari pakaian.
"Eh... ini benar pakaianku, lalu... ini... milik siapa? Oh!"
Mingyu segera keluar kamar dan dari arah dapur terdengar suara tertawa.
"Hai! Sudah sembuh kakinya? Selamat datang..."
Mingyu tertawa senang dan langsung menghampiri gadis yang menyambutnya.
"Ini ada apa? Ayah dan ibu beri kejutan?"
Ayah dan ibunya Mingyu hanya tersenyum dan mengangguk senang melihat raut wajah putranya sangat bahagia.
"Aku beli kue untuk perayaan kamu sudah keluar dari rumah sakit."
Mingyu langsung duduk dan menunggu potongan kue dari Wonwoo. Pipi Mingyu terus bersemu merah setelah mengetahui barang yang di kamarnya milik siapa.
"Ayah mau teh?" Wonwoo menawari minuman dan ayah Kim mengangguk.
"Ibu juga Won."
"Baiklah..." ucap Wonwoo semangat setelah menghidangkan kue. Mingyu terkejut lagi karena Wonwoo mengubah panggilannya tidak 'paman-bibi' lagi.
"Sayang, kamu mau teh juga?"
Mingyu terkejut kesekian kalinya, biasanya Wonwoo hanya memanggil nama. Ayah dan ibunya hanya menahan geli melihat ekspresi putranya.
"Kenapa diam? Istri kamu menawari minuman." Ucap sang ayah.
"Istri?" Mingyu masih bingung, ia hanya terjatuh dari tangga dan kemampuan daya ingatnya baik-baik saja. Ia tidak amnesia.
"Ini bukan mimpi, sakit kan?" Wonwoo mencubit pipi Mingyu.
"Mau teh atau jus?"
"Teh juga..." jawab Mingyu lirih dan Wonwoo segera menghidangkan teh untuk Mingyu.
"Aku masih bingung..."
"Tidak usah bingung, siapkan diri kamu saja. Minggu besok kalian akan menikah."
Mingyu terkejut lagi dengan ucapan ibunya dan ia menoleh ke arah Wonwoo yang tampak tenang menikmati kue.
"Mendadak..." ucap Mingyu lirih.
"Tidak mendadak Gyu, ini sudah direncakan sejak lama. Ibu tahu kamu sedih saat Wonwoo pindah setelah lulus sekolah. Dan setelah kamu masuk kuliah, kamu agak nakal sering pulang malam dan mabuk. Saat ibu ada tugas ke Changwon, ibu bertemu dengan ibunya Wonwoo dan menceritakan semuanya. Dan akhirnya keluarga Jeon kembali pindah lagi. Ibu merasa kamu akan berubah kalau bertemu lagi dengan Wonwoo."
Mingyu terdiam dan mengakui kesalahan ia di masa lalu dan benar adanya, ia sempat stress saat Wonwoo pindah dan setelah mereka menjalin hubungan lagi, sikap Mingyu berubah menjadi anak baik lagi.
"Maka setelah ibu tahu kalian berdua berhubungan lagi, ayah dan ibu mengutarakan niat menikahkan kalian dan kedua orang tuanya Wonwoo juga setuju."
"Oh..." Mingyu menunduk malu namun jantungnya terus berdebar dengan cepat.
"Aku cerita pada ibu kalau kamu mau melamar aku dan ibu langsung protes, tidak usah ada acara lamaran, kalian langsung saja menikah." Ucap Wonwoo diiringi tawa dan ibunya Mingyu ikut tertawa geli.
"Jadi, kamu sudah tahu lama rencana ini?"
Wonwoo hanya tertawa. "Tidak juga, tapi setelah aku cerita pada ibu lalu ibu tiba-tiba menyuruh persiapkan diri."
Wanita paruh baya di depan Mingyu yang masih terlihat sangat cantik itu terus tertawa geli. "Ibu langsung suruh ayah agar mempercepat semuanya, maklum karena ayah dan ibu sibuk jadi kami juga minta bantuan pada orang tua Wonwoo."
"Ayah sebenarnya sudah lama menyiapkan apartemen ini, untuk kalian berdua. Dan saat kamu di rumah sakit, Wonwoo sibuk mengatur barang."
"Benar, aku membereskan kamar dan ruang belajar lalu di rumah sakit harus melayani pasien VIP yang selalu merengek."
"Maaf..." Mingyu semakin merasa malu langsung memeluk Wonwoo dan bersembunyi di balik punggung calon istrinya. Ayah dan ibunya hanya tertawa melihat kemesraan putranya dan calon menantunya.
"Jadi, ayah mengatakan rumah di renovasi itu bohong?"
"Tentu saja tidak, kamar kamu benar sedang di renovasi, kalau kalian berdua menginap jadi lega ruangannya. Nanti kamar Wonwoo juga di renovasi agar adil." Ucap sang ayah dan membuat Mingyu tertawa senang.
Impiannya hidup bersama dengan Wonwoo sudah terwujud dan sebentar lagi mereka akan sah menjadi pasangan suami-istri.
"Mingyu, setelah kuliah kamu yang ini selesai kamu harus lanjut ambil kuliah lagi."
"Iya ayah siap!"
"Wonwoo bagaimana? Setelah magang mau lanjut kuliah lagi?"
"Tidak ayah, Mingyu saja. Nanti aku semakin sibuk jadi sulit mengatur waktu untuk mengurus rumah dan terutama mengurus pasien VIP ini."
"Aish aku bukan pasien VIP tapi suami kamu."
"Aku lebih nyaman menyebut pasien VIP." Wonwoo memeletkan lidahnya dan membuat Mingyu semakin gemas, kalau tidak ada kedua orang tuanya maka pasti Wonwoo sudah habis diserang Mingyu.
"Ya sudah, uang kuliah kamu nanti ayah depositokan saja untuk cucu."
"Cucu?" Ucap Mingyu dan Wonwoo serempak dan kedua orang tuanya Mingyu tertawa geli.
"Kalian tidak perlu buru-buru, nikmati saja. Wonwoo juga masih magang, Mingyu juga sebentar lagi magang dan lanjut S2. Kalian sangat sibuk..." ucap ibunya Mingyu.
Mingyu mengangguk mengerti, ini akan menjadi perjalanan yang sangat panjang namun kedua orang tuanya sangat perhatian dengan memberi hadiah seorang pendamping untuknya agar Mingyu tidak merasa bosan. Menjadi dokter memang tidak mudah.
oOo
Berita bahagia Mingyu langsung ia bagikan kepada Seokmin dan Jun. Mingyu terus tertawa dengan menatap layar ponselnya, Wonwoo yang telah selesai mandi langsung menyusul Mingyu untuk siap tidur.
"Seru sekali..." ucap Wonwoo dan mulai mengoleskan minyak zaitun untuk memijat kaki Mingyu.
"Mereka iri, mereka ingin datang kesini."
"Besok kita mau fitting, ajak makan saja setelah kita selesai."
"Oh benar." Mingyu langsung menurut dan segera memberitahu teman-temannya untuk berkumpul esoknya merayakan bersama.
Di tempat berbeda Seokmin menatap layar ponselnya dengan serius. Jisoo yang melihatnya merasa heran langsung mendekat.
"Kamu kenapa? Lihat apa?"
"Aku pikir Mingyu bercanda, dia mengatakan akan menikah dan saat ini sudah tinggal bersama."
"Dengan Wonwoo? Lalu?"
"Mereka pasti bebas melakukannya..." ucap Seokmin dengan menunduk.
"Melakukan apa?"
Seokmin melirik ke arah Jisoo dan keduanya saling tatap. "Melakukan yang biasa dilakukan pasangan."
"Kamu mau?" Jisoo langsung tanggap dengan apa yang di maksud Seokmin.
Seokmin terus mengedip dan Jisoo menunggu jawaban.
"Nanti hidung aku jadi korban..."
Jisoo tertawa lebar dan membuat Seokmin semakin bingung. Jisoo merasa Seokmin benar-benar takut dengan ancaman Jisoo tempo hari.
"Apa yang akan kamu lakukan kalau setelah melakukan dan ternyata aku sudah tidak perawan?"
Seokmin menelan ludahnya. "Kamu sudah tidak perawan?" Seokmin kecewa kalau benar Jisoo sudah tidak suci lagi, padahal Jisoo adalah kekasih pertama Seokmin.
Jisoo hanya terdiam dengan terus menatap Seokmin.
"Pasti ada alasannya, dan aku terima. Aku tetap setia padamu..."
"Yakin?"
"Kamu tidak percaya padaku? Apa perlu aku hamili kamu? Biasanya kalau wanita hamil akan mencari pria yang menghamili."
Jisoo tertawa geli mendengarnya. "Aku bercanda..." Jisoo langsung mengalihkan perhatian lagi menuju laptop. Seokmin merajuk langsung memeluknya dari belakang.
"Besok aku ada jadwal interview, kamu bisa antar?"
"Apapun akan aku lakukan untuk kamu Hong Jisoo."
"Baiklah, aku senang mendengarnya."
"Sayang..."
"Jangan sekarang..."
"Kenapa?"
"Aku sedang haid."
Seokmin hanya menarik nafas dengan terus memeluk tubuh mungil Jisoo dengan erat, bahkan Seokmin terus mengecup leher dan pundak Jisoo, sementara Jisoo tetap melanjutkan kegiatannya tidak merasa terganggu dengan sikap Seokmin.
.
.
.
TBC
Annyeong,
Akankah Seokmin mengikuti jejak Mingyu? Kamu belum boleh main terlalu jauh 'nak, hehehe... Aku belum ada gambaran dengan SeokSoo atau JunHao. Karena aku hanya ingin menulis apa yang ingin aku tulis.
Malam Jum'at sebong di Hongkong ^^,
Thank's to :
Moon Vibes / Kyunie / Mockaa17 / Tyna89Meanie / rizka0419 / marinierlianasafitri / Cha ChrisMon / jeononu / LittleOoh
30 Agustus 2018
