"Beautiful lie"
by: lavenderviolletta
Naruto by : Masashi Kishimoto
[Hinata H. x Sasuke U. ]
Romance/hurt/comfort
.
.
.
Sasuke berjalan mendekat ke arah pintu bermaksud untuk membukanya, namun langkahnya terhenti ketika Hinata menarik tangannya , memohon untuk tidak membukakan pintu yang sedari tadi di ketuk-ketuk oleh Itachi. Sasuke menatap Hinata sekilas, di tepisnya tangan Hinata dan kembali melangkahkan kakinya mendekati pintu, pantang menyerah Hinata kini memegangi kaki Sasuke, menghentikan pergerakan kakinya.
"jangan ku mohon".
"biar ku selesaikan malam ini".
"tidak Sasuke, aku mohon jangan buka pintunya".
"tch. Begitu takut kah kau pada Itachi?".
Hinata menggelengkan kepalanya, perlahan dia berdiri dan memberanikan diri menatap mata onyx Sasuke yang menatapnya tajam.
"aku hanya tidak ingin terjadi pertengkaran antara kau dan Itachi".
"..."
"Hinataaaa... buka pintunya? Hinataaaa !"
.
"Sasuke, kau harus sembunyi".
"tidak mau, biarkan saja Itachi melihatku disini".
"ku mohon Sasuke, apa aku harus bersujud padamu?".
"tch. Bahkan kau rela bersujud padaku hanya karena Itachi"
Hinata berlutut di depan Sasuke dengan poni yang menutupi sebagian wajahnya, Sasuke dapat melihat dengan jelas tetesan air mata Hinata berjatuhan membasahi lantai. Sasuke berjongkok seraya menyatukan keningnya dengan kening Hinata.
"kau begitu mencintainya?". Tanya nya sambil menghapus air mata yang membasahi pipi Hinata.
"kau begitu takut dia kecewa padamu?". Hanya Isak tangis Hinata yang terdengar oleh Sasuke sebagai jawabannya.
"akan ku turuti keinginanmu". Hinata menatap Sasuke mendongakan kepalanya, Sasuke mendekatkan bibirnya di telinga Hinata seraya berbisik "tapi kau harus menemani ku tidur malam ini".
.
.
.
"Hinataa .. syukurlah, apa yang terjadi padamu?". Dengan cepat Itachi langsung memeluk tubuh Hinata begitu Hinata membukakan pintu kamarnya, "kau tau? Aku sangat mengkhawatirkanmu?". Ujarnya sambil menangkap kedua pipi Hinata dengan kedua tangannya, "apa yang terjadi?". Tanya nya lagi, Hinata dapat melihat pandangan onyx Itachi yang memandangnya intens.
"a-aku tadi me-melihat hantu". Jawabnya bohong. Itachi yang mendengar pernyataan Hinata hanya mengernyitkan kedua alisnya seolah tak percaya, Hinata yang sadar akan tatapan Itachi yang penuh curiga terhadapnya kembali meyakinkan Itachi.
"yah aku tadi melihat sesuatu ketika bercermin, karena takut aku melemparkan ponselku hingga cerminya menjadi pecah". Kali ini Hinata berkata tanpa ada jeda dan rasa gugup walaupun sebenarnya jantung nya berdetak kencang, Itachi mendekati cermin yang pecah dan mengamatinya, "ini seperti pecah karena pukulan tangan". Ujarnya dalam hati. "Hinata apa kau terluka?" Tanya nya lagi.
"hm.. tidak Ita-kun, aku baik-baik saja, sudah malam, sebaiknya kau segera kembali ke kamarmu, dan lagi aku sangat lelah sekali, aku ingin tidur ". Lagi-lagi Hinata kembali membohongi Itachi.
"kau tidak terluka, tapi kenapa ada tetesan darah disini?". Kata Itachi sambil menjongkokan badannya dan mengambil tetesan darah yang menempel di lantai dengan ujung jarinya. Hinata membulatkan matanya, kaget karena dia tidak sempat membersihkan darah dari tangan Sasuke yang masih berteteran.
"ano.. Ita-kun, mungkin itu darah menstruasiku".
"hm?". Itachi menautkan kembali kedua alisnya seraya menatap sang kekasih yang kini tengah berdiri gugup di hadapannya.
"iya Ita-kun, aku sedang dalam masa datang bulan, dan belum sempat mengganti pembalutnya".
"benarkah? " tanyanya lagi dengan pandangan yang mengintimidasi.
"ka- kau tidak percaya padaku? Apa kau mau lihat sendiri hah?". Wajah Hinata berubah merah padam begitu berkata demikian ekstrimnya pada Itachi.
"hm.. aku percaya padamu, tapi kenapa jadi gugup seperti itu?".
"karena aku malu mengatakannya". Ujarnya kembali berbohong.
Itachi mendekati Hinata, mengambil dagunya sehingga mata onyx nya dapat menangkap lavender Hinata.
"bagaimana jika aku tidak percaya dan ingin melihatnya hm?". Goda Itachi di sertai seringai jahilnya.
"eh?".
Itachi terkikik melihat perubahan pada wajah kekasihnya, "aku hanya bercanda". Ujarnya.
"tidurlah, kau pasti sangat lelah kan?". Hinata hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Itachi.
"oyasumi Hime". Kata Itachi sambil mengecup bibir Hinata lembut.
.
.
.
.
Sasuke keluar dari persembunyianya begitu Itachi meninggalkan kamar Hinata, ia kemudian membaringkan tubuhnya di atas kasur king size yang menjadi tempat tidur Hinata malam ini, "kau cocok menjadi actor". Ujarnya, Hinata hanya diam menanggapi apa yang telah di katakan Sasuke, "kemarilah". Kata Sasuke sambil menepuk tempat kosong di sampingnya, meminta Hinata untuk mengisinya disana. Perlahan Hinata pun menghampiri Sasuke, menuruti keinginannya.
.
.
.
Itachi pov:
Apa mungkin dia membohongiku? Ataukah aku yang terlalu curiga berlebihan terhadapnya? Tetapi mengapa feelingku mengatakan bahwa dia membohongiku? Cermin yang pecah karena lemparan ponsel, seperti terlihat pecah karena pukulan tangan manusia, dan darah yang dia katakan bahwa itu darah menstruasinya? Mungkin jika benar akan ada bekas tetesan darah juga pada betis dan kakinya, tapi aku tak melihatnya sama sekali, dan lagi, jika benar dia melihat hantu, pasti dia tidak berani untuk tidur sendiri malam ini, dia pasti memintaku untuk menemaninya, atau jika tidak mungkin tidur denganku dia pasti meminta untuk tidur bersama Karin, tetapi sebaliknya dia malah menyuruhku untuk segera kembali karena alasan ingin cepat tidur, ini semua terlalu janggal, Hinata? ada apa denganmu? Apa kau membohongiku?
.
.
Sasuke membelai rambut Hinata lembut, kedua tangannya berpindah pada pipi Hinata, mengambil dagunya dan menyatukan bibirnya dengan bibir Hinata, Hinata hanya bisa diam dengan perlakuan-perlakuan Sasuke terhadapnya, Sasuke semakin memperdalam ciumannya hingga ia beralih pada leher Hinata dan hendak membuat kissmark disana, Hinata yang menyadari akan apa yang dilakukan Sasuke terhadapnya segera mendorong Sasuke hingga Sasuke melepaskan ciumannya.
"jangan Sasuke, bagaimana jika-"
"jika Itachi menanyakan ini?" Sasuke kembali membuat kissmark pada leher Hinata, tidak mempedulikan perintah Hinata.
"cukup Sasuke !".
.
.
.
.
"aku tidak tau Itachi-kun, dari tadi aku sendirian di kamar". Ujar Karin
"hm, aku mengetuk pintu kamarnya berulang-ulang tapi dia tak menjawab".
"mungkin dia sudah tidur". Kata Karin meyakinkan.
"semoga saja". Balas Itachi dengan suara yang agak parau.
"memangnya ada apa? Ita-kun mencari Sasuke-kun".
"hanya ingin memastikan, Arigatou Karin, maaf mengganggu waktumu". Jawab Itachi sambil pergi meninggalkan Karin.
"eh? Apa maksudnya?".
.
.
.
.
"Sasuhh..." erangan dan desahan Hinata membuat Sasuke semakin menjadi-jadi, perlahan tangannya mulai membuka satu persatu kancing dari baju tidur yang di pakai Hinata.
"Stop Sasuke, jangan lakukan ku mohon".
"aku ingin kau menjadi miliku Hinata, jika aku telah menyentuhmu Itachi tidak akan lagi menginginkanmu dan kita bisa hidup bersama".
"tidak dengan seperti ini Sasuke".
"percaya padaku Hinata, aku janji akan betanggung jawab". Ujarnya Sambil kembali memagut bibir Hinata ke dalam ciumannya.
.
Sesuatu mengganjal di otak Itachi, pria ber umur 26 tahun itu tampak gelisah di dalam kamar tidurnya, perasaannya tak menentu seolah memikirkan sesuatu, gusar karena kedua onyx nya yang tak mau terpejam ia pun bangkit dari tempat tidurnya, langkahnya mendekati perapian cerobong asap yang tak jauh dari tempat tidurnya, menghangatkan dirinya, bosan dengan pemandangan api yang dilihatnya ia pun berjalan mendekati jendela, menatap langit malam dan butiran salju yang turun cukup banyak malam ini.
.
Lama berpagutan dengan Hinata, Sasuke kini mulai kehilangan kesadaran dirinya, tangannya kini mulai berani membuka satu per satu kancing baju tidur yang di kenakan Hinata sehingga memperlihatkan dada indah Hinata yang membuatnya tergoda dan kembali membuat kissmark disana, membuat tanda seolah Hinata adalah miliknya malam ini, tangannya kembali bermain, meremas nya cukup kasar penuh nafsu yang menggebu.
"plaakkkk !". tangan mulus Hinata mendarat di pipi Sasuke, menyadarkan pria berambut raven itu dari apa yang telah di lakukan padanya.
"tch".
"kau keterlaluan Sasuke". Hinata mendorong Sasuke yang sedari tadi menindihnya, Sasuke hanya bisa berdecih kesal ketika Hinata menolak untuk melakukan hal yang lebih dengannya malam ini.
"ku minta kau keluar sekarang". Ujarnya sambil mengancingi satu persatu kancing bajunya yang telah di buka Sasuke dan bahkan melihat isi dan membuat kissmark di sana. Tak memperdulikan Hinata yang mengusirnya Sasuke malah membaringkan dirinya di sebelah Hinata dan menutup tubuhnya dengan selimut "aku ingin tidur disini". Hinata hanya bisa mendecih, "mau kemana?". Tanya Sasuke sambil memengangi tangan Hinata ketika sadar Hinata beranjak dari tempat tidurnya.
"kau tidur disini kan? Jadi biarkan aku tidur di sofa". Balasnya ketus.
"kau tidur denganku nona Hyuuga". Ujarnya sambil terus memegang tangan Hinata.
"…."
"aku janji tidak akan menyentuhmu".
.
.
.
.
"ohayoo.. " ucap Hinata pada Itachi yang datang menghampiri meja makannya.
"ohayoo". Balas Itachi dengan memberikan kecupan singkat di kening dan bibir Hinata lembut.
"kau menyiapkan semuanya sendiri Hime?". Tanya nya sambil duduk di kursi meja makan yang telah di siapkan Hinata dan meneguk coklat panas yang di sampingnya terdapat beberapa potong roti dengan slei strawberry yang siap mengisi perutnya pagi ini.
"hm". Balas Hinata sambil mengoleskan slei berwarna merah itu ke dalam roti.
"Karin tidak membantumu?"
Hinata hanya menggelengkan kepalanya sambil menyerahkan roti yang telah di lapisi slei strawberry itu pada Itachi.
"arigatou hime, melihatmu memperlakukanku seperti ini aku jadi tak sabar ingin cepat-cepat menikahimu". Ujarnya lagi sambil mengusap puncak kepala Hinata lembut.
"Ddrrttt… dddrrttt.. ddrrttt.."
Itachi menautkan kedua alisnya begitu melihat Hinata mengambil ponsel dari saku bajunya. Hinata yang sadar akan Itachi yang memandangnya curiga pun hanya tersenyum. "ini dari tousaan, dia menanyakan kapan kita kembali". Ujarnya sambil memperlihatkan sederetan pesan dari Hiashi yang ada di layar ponselnya. Itachi mengambil ponsel yang di berikan Hinata, dia tidak mempedulikan apa isi pesan yang di berikan Hiashi, dia membulak-balikan ponsel itu seolah memeriksa keadaan ponsel dari wanita bersurai indigo yang kini ada di hadapannya.
"tidak cacat sama sekali".
"eh?"
"bukankah semalam kau melemparkan ponselmu?". Tanya Itachi sambil terus membulak-balikan ponsel Hinata.
"oh yah haha,, aku juga merasa aneh cerminnya pecah tetapi untungnya ponselku tidak rusak". Hinata sadar kalau Itachi tidak bodoh dan tidak semudah itu dia membodohinya, namun apa salahnya berusaha.
"ponsel yang bagus". Balas Itachi sambil mengembalikan ponsel itu pada Hinata. Dan kembali melanjutkan sarapan paginya.
"ohayo, wahh kalian sudah sarapan terlebih dulu rupanya". Ujar Karin yang di ikuti Sasuke di belakangnya.
"Bruuuukkkkkkkkk !"
"Ita-kun? Ada apa?" Tanya Hinata kaget karena Itachi yang tiba-tiba memukul meja makan dengan tangannya, kemarahan Itachi terbentuk karena melihat perban yang melilit di tangan kanan Sasuke, pandangan murka itu terlihat jelas oleh Sasuke, tak memperdulikan tatapan Itachi Sasuke kembali menatap Itachi dengan pandangan kosong. "kau mau kemana?". Tanya Hinata sambil memegang tangan Itachi ketika Itachi mulai melangkahkan kakinya meninggalkan meja makan, Itachi hanya memandang Hinata sekilas, ia menepis tangan Hinata tanpa menjawab pertanyaannya ia kembali melangkahkan kakinya dengan Hinata yang mengikutinya dari belakang.
"ada apa dengan kakak mu Sasuke-kun?" Tanya Karin.
Sasuke hanya diam menanggapi pertanyaan Karin, seolah tak terjadi apa-apa Sasuke dengan tenangnya memasukan satu persatu potongan roti ke dalam mulutnya. Karin yang melihat tingkah Sasuke hanya bisa menautkan kedua alisnya, dia merasa bingung dengan kedua sifat dari kakak beradik yang jenius dan tampan ini.
.
.
.
"tunggu Ita-kun !". teriak Hinata sambil berlari mendekati Itachi.
"….."
"kau mau kemana? Hujannya cukup deras, dan apa yang mau kau lakukan disini?".
"…."
Itachi hanya diam, tidak menjawab dari sederetan pertanyaan yang membuat Hinata bingung akan sikapnya. Ia kembali melangkahkan kakinya menuju Hutan pinus yang kini berada 3 meter dari tempatnya berdiri.
"Ita-kun !" teriak Hinata, kali ini dengan tangannya yang kembali memegang tangan Itachi, Hinata menghentikan langkah Itachi, tangannya yang dingin karena berada di luar dengan keadaan salju yang terus turun membuat tangannya terasa seperti es, "ada apa?". Tanya nya sambil menangkupkan kedua tangannya pada pipi Itachi, menginginkan onyx yang berada di hadapannya menatap iris lavendernya. "katakan, apa yang membuatmu seperti ini?". Tanya nya kembali. Cukup lama Itachi menatap Hinata,"kita kembali". Bujuk Hinata sambil mengecup bibir Itachi singkat.
"kau mengkhianatiku".
"eh?".
"apa saja yang kau lakukan bersama Sasuke semalam?".
"apa maksudmu Ita-kun".
Itachi membuka syal yang melilit di leher Hinata, memperlihatkan bercak-bercak merah atas apa yang telah Sasuke lakukan padanya semalam. Hinata hanya bisa membulatkan matanya, seolah takut dengan pria yang kini menatapnya tajam, Itachi melemparkan syal milik Hinata ke sembarang arah, langkahnya terus mandekati wanita bersurai indigo yang kini tengah menatapnya takut.
"dimana lagi dia membuatnya?". Itachi terus melangkah mendekati Hinata dengan Hinata yang terus memundurkan langkahnya karena takut sampai pada dia tidak bisa melangkah mundur lagi karena punggungnya telah menyentuh pohon pinus yang kini berada di belakangnya, menghentikan pergerakannya.
"I-Ita-kun, jangan, hiks.." ucapnya ketika Itachi mulai memaksa membuka bajunya. Tidak menghiraukan tangisan Hinata Itachi terus memaksa Hinata, tangisan Hinata membuatnya sedikit terusik, Itachi mengunci bibir Hinata dengan ciumannya, tak ingin mendengar suara tangisan yang keluar dari Hinata, tangannya terus memaksa untuk membuka baju yang di pakai Hinata hingga menjadikannya sobek dan memperlihatkan setengah bahunya yang semula tertutup, robekan baju itu semakin besar ketika Itachi terus memaksanya, hingga ia dapat melihat kissmark di dada Hinata.
"cukupp Itachi…. Hiks..". suara yang sangat parau dan kecil itu terdengar jelas oleh indra pendengaran Itachi, Hinata menunduk, sekujur tubuhnya terkulai lemas hingga akhirnya kedua lutunya harus beradu dengan salju. Itachi menjongkokan tubuhnya, mengambil dagu Hinata menginginkan kejujuran keluar dari mulutnya. "kau melakukannya?". Tanya nya penuh intens. Hinata hanya menggelengkan kedua kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Itachi, "kau tidur bersamanya semalam?". Tanya nya lagi, Hinata tidak bisa menunduk untuk menghindari tatapan Itachi, ia sadar akan kemarahan Itachi yang membabibuta saat ini, tangan Itachi terlalu kuat untuk membuatnya menunduk, hanya tatapan sayu yang di bisa di lihat Itachi dari kedua lavender di hadapannya.
"jawab".
"….."
"kau tidur bersamanya eh?"
"…"
"JAWAAABBBB !"
"memangnya kenapa jika semalam dia tidur bersamaku?". Itachi membalikan badanya, mendapati Sasuke kini berdiri di belakangnya dengan kedua tangan yang di masukan ke dalam saku celananya. "kau". Ucapnya penuh murka. "Buuugghhhhh…..". satu pukulan di terima Sasuke dari Itachi, "tch". Ucapnya sambil menghapus tetesan darah yang keluar dari ujung bibir tipisnya.
"kau tau dia itu siapa hah?". Kata Itachi sambil terus memukul Sasuke.
"berhenti Ita-kun, jangan lakukan lagi". Teriak Hinata di belakang Itachi.
Itachi menghentikan pukulannya, "kalian brengsek !". ujarnya sambil pergi meninggalkan Hinata dan Sasuke.
"hiks.. hiks.. ". Sasuke mendekati Hinata, memeluknya, menenangkan gadis yang kini tengah menangis karena Itachi. "kita menyakitinya Sasuke". Hinata berkata di sela-sela tangisannya. "sudahlah, keadaanmu lebih penting sekarang". Balas nya sambil menggendong tubuh Hinata, membawanya kembali ke penginapan.
.
.
.
Hinata tidak mendapati Itachi berada di penginapan, dia mendapat kabar dari kabuto bahwa Itachi telah kembali ke jepang, meninggalkan Hinata.
"kau akan pulang bersamaku".
"kita akan kembali besok". Ujarnya lagi.
"arigatou Sasuke".
.
.
.
.
Kekagetan Hinata tercipta ketika melihat Lamborghini milik Itachi terparkir indah di halaman rumahnya, dia merasakan akan terjadi sesuatu hal yang buruk padanya saat ini, Sasuke yang melihat ketakutan Hinata segera menggenggam tangan Hinata, "kau bersamaku". Ujarnya dan kemudian keduanya keluar dari mobil ferarri Sasuke, siap menghadapi dengan apa yang akan terjadi pada keduanya.
"tadaima". Ucap Hinata begitu memasuki ruang utama di rumahnya.
"otousaan, okasaan". Kata Sasuke kaget melihat kedua orang tuanya beserta Itachi berada di ruangan yang sama .
"Sasuke, kau pulang juga nak, kemarilah kaachan merindukanmu". Ujar Mikoto.
"ini suatu kebetulan, karena kalian berada disini juga, Sasuke, besok lusa pernikahan Itachi dan Hinata akan di langsungkan, jadi tousaan minta kau jangan kembali ke Kanada sampai resepsi pernikahan Itachi dan Hinata selesai".
"me-menikah?". Tanya Hinata bingung.
"ini kejutan sayang". Jawab Itachi sambil mendekati Hinata, membawanya menjauh dari Sasuke, namun langkahnya terhenti ketika Sasuke juga memegang tangan Hinata.
"dia tidak mencintaimu". Kata Sasuke datar.
"kau". Balas Itachi geram.
"ada apa ini?". Tanya Hiashi bingung.
"Sasuke, berhenti bercanda nak, ini bukan waktunya". Ujar Mikoto menasehati.
"jaga sikapmu Sasuke". Kali ini Fugaku yang berbicara.
Posisi Hinata kini berada di tengah-tengah pria kakak beradik ini dengan tangan Hinata yang di tarik oleh keduanya.
"apa yang di katakan Sasuke benar".
"gomenne Ita-kun". Kata Hinata sambil melepaskan tangan Itachi yang memegang tangannya kuat.
"tch. Kau akan menikah denganku Hinata".
"tapi aku tidak mencintaimu".
"jangan katakan lagi, kau akan menikah denganku mengerti !".
"Sasuke, Itachi apa yang terjadi dengan kalian?". Tanya Fugaku.
"Hinata, jangan membuat tousaan malu". Hisahi menimpali.
"Sadarkah atas apa yang kauk ucapkan nak, kau membuat tousaan,-"
"Hiashi-sama". Ujar Neji begitu melihat Hiashi pingsan sambil memegangi dadanya.
"otosaann….". teriak Hinata.
.
.
.
.
.
Mata Hinata melebar ketika mendapati sederetan garis zigzag yang sempat akan menjadi lurus di layar computer rumah sakit Konoha, "otosaan". "Hina,-". "cukup otusaan jangan bicara dulu, Hinata mengusap tangan Hiashi lembut, mengecupnya penuh kasih sayang, Hiashi dapat merasakan tetesan air hangat yang membasahi tangannya.
"kau dan Sasuke saling mencintai".
"jangan katakan lagi otosaan ku mohon".
"kenapa kau mencintai calon adik iparmu".
"tousaan kecewa pada,- uhuk.. uhuk.. uhuk..". darah kental keluar dari mulut Hiashi.
"Otosaan".
"sepertinya sebentar lagi Hidupku akan berakhir".
"tidak otosaan".
"aku hanya ingin melihat kau menikah sebelum kematianku".
"hiks.. hikss".
"tapi otosaan tidak memaksamu nak, menikahlah dengan seseorang yang benar-bener kau cintai dan mencintaimu".
"jika Sasuke pilihanmu, tousan merestuinya".
Hinata menggelengkan kepalanya, "aku berjanji pada Okasaan, dan juga Hanabi, aku akan berbakti dan menurutimu otosaan. Aku akan menikah dengan Itachi".
"tidak seperti itu Hina,-"
"ini sudah menjadi keputusanku".
"lalu bagaimana dengan kebahagianmu? Bagaimana dengan Sasuke?".
"kebahagiaanku adalah kalian, Tousaan dan Hanabi, dan lagi ini untuk kebaikan bersama, bagaimana jadinya Sasuke jika dia menikah denganku, dia akan menderita, aku melakukan ini demi kebaikan kita semua".
"Hina,-"
"Ita-kun adalah pria yang baik, dia begitu mencintaiku meskipun aku telah mengecewakannya".
"kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu?".
Hinata mengangguka kepalanya dan mengecup punggung tangan Hiashi lembut.
.
.
..
.
.
Chapter depan sepertinya akan menjadi chapter terkahir, hmm.. saya menemukan flame disini, sepertinya ada yang tidak menyukai Sasuke atau bisa saya bilang Sasuke haters. Arigatou untuk semua yang udah review., karena review kalian membuat saya semangat untuk terus menulis.
Arigatouozaimas Mina-san..
