THE CONNECTED LINE
Gundam Seed/Destiny © Sunrise, Bandai, and their creators
This is just a fan work and no material profit taken from this. Cover picture is not mine.
A/N: Early dine again, everyone! Same reason as usual. Hehe
Hope you enjoy!
.
X: CAGALLI
.
"Bagaimana penampilanku? Tolong jawab jujur. Ada yang akan mendapatkan jitakan dariku jika aku terlihat konyol," rapalku cepat dan agak panik di depan cermin.
Aisa tertawa. "Kalau ada yang mengatakan Anda terlihat konyol, saya sendiri yang akan mengurus surat operasi mata untuknya." Aisa menyisipkan jepit rambut kecil di rambutku sebentar sebelum mundur satu langkah. Senyum di bibirnya benar-benar terlihat puas. "Kau terlihat luar biasa, Nona Cagalli!"
Yang terlihat di pantulan cermin itu adalah seorang gadis dengan rambut pirang yang diikat kuda dan sebagian rambut disisihkan di depan telinga. Gadis itu—aku—mengenakan gaun panjang polos berwarna hijau. Sweater manis berwarna cokelat muda menutupi bahuku yang kurus. Tidak terlalu meriah, tapi cukup membuatku terlihat dewasa dengan make-up yang sibuk kuberi peringatan tiap menyentuh kulitku. Yang lebih penting, sweater ini sudah satu set dengan gaunnya. Irit all the way, hore!
"Aku tidak akan terkejut seandainya setelah ini akan ada banyak laki-laki yang datang ke rumah untuk mencari Anda, Nona Cagalli. Oh, jangan lupa sepatunya!" ujarnya riang.
Aku menoleh dan menatap sepatu berhak sepuluh senti itu seolah melihat kasur yang terbuat dari jarum. Kukeluarkan tatapan paling memelas yang kupunya.
Pemilik rambut nyentrik itu hanya memberikan senyum jahilnya dan mengeluarkan sepatu lain dari rak—masih berhak juga hanya saja lebih pendek setengahnya. "Jangan protes lagi," tegurnya.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari arah pintu yang terbuka. Kami menoleh. Marie, salah seorang pelayan kediaman Athha, berkata, "Sudah waktunya, Nona."
Aku menarik napas dalam-dalam.
.
"... memang anak yang ceria dan sering melakukan sesuatu tanpa memikirkannya terlebih dulu, tapi yah, itulah Cagalli yang kita kenal, kan?"
Tawa para hadirin pecah. Sang anak ceria yang terkadang sering melakukan sesuatu tanpa berpikir dulu itu hanya bisa tersenyum simpul di samping sang pembicara. Oh, jangan pikirkan dia. Dia tuli.
"Yah, saya percaya Putri Cagalli sudah bisa memberikan pidatonya sendiri di usianya yang ke-17. Karenanya, saya tidak akan bicara lebih banyak lagi. Sebagai penutup," Ayah menoleh ke arahku dan tersenyum tulus, "tujuh belas atau lima puluh tahun, Putri Cagalli akan selalu menjadi gadis kecil bagi saya. Semoga dia bisa menjadi wanita yang berguna bagi Orb nantinya, dan di atas semua itu, semoga Putri Cagalli selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan."
Aku mengesampingkan tepuk tangan yang mengiringi dan memilih untuk tidak membalas tatapan Ayah. Tega-teganya ... berkata begitu setelah menyembunyikan alasan utama mengadopsiku selama bertahun-tahun ...
Ayah mengucapkan terima kasih dan mundur, memberiku tempat di podium. Aku maju dan melepaskan senyum formal yang sudah kukuasai sejak kecil. "Terima kasih atas kesempatannya, Ayah Sayang, meski saya tidak mengerti kenapa harus ada podium di pesta ulang tahun."
Ekspresi sebagian besar orang dewasa berubah, sedangkan teman-temanku—teman sekolah, mayoritas pelayan pribadiku, dan beberapa staf kediaman Athha—mendengus menahan tawa.
"Baiklah," aku menarik napas, "pertama-tama, terima kasih untuk pernyataan cintanya, Ayah. Semoga seandainya saya tidak bisa berbuat banyak untuk Orb, cinta Ayah untuk saya tetap sama," sindirku, menyempatkan diri untuk memberi tatapan tajam padanya sebelum kembali menoleh ke depan. "Terima kasih karena Anda sekalian bersedia hadir di pesta ulang saya. Pak Perdana Menteri, para Anggota Dewan yang terhormat, dan orang-orang berjiwa besar lainnya yang sangat berjasa bagi Orb yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, terima kasih karena bersedia meninggalkan pekerjaan kalian yang lebih penting untuk saya. Juga teman-teman saya," pandanganku jatuh ke Luna, Meer, dan Milly yang berdiri bersama teman-teman sekolahku yang lain. Mereka bertiga melambai. "Aku menyayangi kalian," ujarku dengan senyum tulus.
"Saya mengerti, di gerbang awal menuju kedewasaan ini akan ada banyak tanggung jawab yang harus saya emban—yang tidak akan bisa saya tanggung sendirian." Aku menoleh ke arah Athrun yang berdiri di samping panggung dan kembali menoleh ke depan untuk mencari sosok adik (ya, adik) kembarku. Mau tidak mau aku merasa kecewa karena belum bisa menemukannya. Ekspresi beberapa petinggi yang kurasa tahu masalah yang kumaksud tetap memasang wajah datar mereka. "Tapi begitu juga semua anak-anak seumuran saya, kan?" timpalku dengan cengiran lebar.
Kugaruk belakang kepalaku, bingung, dan langsung dibalas dengan dehaman kuat dari Ayah. Aku langsung menurunkan tanganku. Tawa serempak pecah lagi.
Aku bisa merasakan wajahku memanas. Ugh, memalukan. "Baiklah, saya sendiri bingung kenapa saya meracau soal itu. Saya benar-benar bingung harus memberikan pidato apa di acara ulang tahun saya sendiri, jadi ...," jelasku jujur.
"Ceritakan tentang sekolahmu, Cags! Kehidupan asmaramu!" sahut Dearka, yang—tentu saja—langsung dibekuk oleh Yzak dan Milly.
Seringaiku merekah. "Itu akan menjadi topik yang sangat menyenangkan dan menantang untuk diceritakan, Tuan Elsman. Tapi saya yakin para hadirin yang terhormat ini tidak punya waktu selama itu untuk mendengar bagaimana saya meraut pensil setiap awal kelas dan mendapat hukuman karena lupa mengerjakan PR matematika. Untuk asmara, saya masih belum punya pacar atau dalam tahap pendekatan—kau bisa tenang, Yah."
Ayah mengeluarkan ekspresi curiganya dan hal itu berhasil memicu tawa audiens.
"Terima kasih untuk sarannya, Tuan Elsman, tapi sebaiknya saya akhiri saja supaya kita semua bisa mulai makan dan bersenang-senang. Sekali lagi, saya benar-benar senang atas kehadiran Anda semua di sini. Mohon bimbingan untuk ke depannya. Terima kasih."
.
"Pidatomu hebat, Cags! Lain daripada yang lain," puji (atau sindir?) Meer saat aku akhirnya bisa bergabung dengan mereka setelah diseret Ayah untuk berkenalan dan berbasa-basi dengan puluhan pria—dan terkadang pemuda—membosankan.
"Wah, aku tersanjung." Kuambil segelas soda dari pelayan yang lewat sambil membawa sebaki penuh aneka minuman dingin. Kuteguk minuman itu dan mengacungkan gelasnya ke arah penyelamatku. "Terima kasih atas bantuanmu, Dearka. Kau luar biasa!" balasku senang.
"Katakan itu pada sayangku dan si pemarah di sampingku ini," jawab Dearka santai, menampillan barisan gigi putihnya dengan bangga. Ah, andai dia menyadari aura gelap yang dipancarkan Milly dan Yzak di kanan-kirinya.
Aku baru akan mengucapkan sesuatu untuk mendinginkan keadaan saat seseorang memanggilku. Oh, itu dia, pengawal pribadi dan rahasiaku yang menawan. Bahkan meski dia hanya mengenakan jas abu-abu tua di atas kemeja merah marun, dia berhasil membuatku susah mengabaikan keberadaannya.
"Maaf, teman-teman, tapi Putri Cagalli kita baru saja dipanggil oleh Pak Presiden."
Itu kodenya.
Aku menepuk dahi dan mengerang. "Aku lupa! Ayahku itu ... memang dasar seenaknya." Kutatap wajah teman-temanku dengan menyesal. "Maaf, teman-teman! Sepertinya aku tidak bisa menemani kalian lagi nanti. Masalah dengan ayahku ini agak rumit. Maaf, ya!"
"Kau membuat masalah apa lagi, Cagalli?" tanya Shiho, gadis manis dengan rambut cokelat yang sangat panjang dan sering terlihat bersama Yzak kalau laki-laki jutek itu tidak sedang bersama Dearka.
"Lucunya, aku tidak melakukan apa pun." Aku tidak perlu melihat untuk tahu ekspresi bingung yang ditunjukkan Shiho. "Sudah makin malam, kalian sebaiknya pulang saja. Tidak ada lagi yang menarik—kalian tahulah. Kita akan lanjutkan 'pesta yang sebenarnya' lain kali. Daaah!" Aku dan Athrun melambai singkat sebelum berbalik dan pergi.
Sekarang waktunya serius.
Jadi begini rencananya, seperti yang kalian ketahui, aku pura-pura dipanggil Ayah karena 'suatu masalah' agar bisa pergi menjauh dari pesta, menuju sisi lain halaman—yaitu halaman Barat—di mana mobil dan tim yang menjemputku sudah siap menunggu. Pesta seperti ini biasanya tidak berlangsung lama kalau undangannya orang-orang penting, tentu saja. Mereka punya terlalu banyak pekerjaan yang lebih penting ketimbang menghadiri pesta ulang tahun anak tujuh belas tahun sehingga diharapkan sebelum pukul 22.00—tiga puluh menit lagi—semuanya sudah pulang, menyingkir dari tempat yang akan jadi target serbuan alien.
Ya, kau menebaknya dengan benar. Delapan belas Mei pukul 22.00 adalah waktu aku dilahirkan ke dunia. Saat jarum jam berhenti di angka yang tepat, usiaku baru resmi tujuh belas. Itu artinya akan ada semacam kembang api tahun baru yang menunjukkan keberadaanku bagi para immortal.
Ratusan pasukan sudah disiapkan untuk menyambut perangkap ini. Aku, Athrun, dan Ayah akan pergi ke rumah lama kami di bagian Kota Orb yang lebih jauh selagi mereka sibuk menyerang kediaman Presiden. Aku hanya berharap tidak banyak dari pihak kami yang kalah.
"Jaket Anda, Nona Athha," ujar Athrun datar sambil menyerahkan jaket hitam tebal yang terlihat sangat panas.
Aku menatapnya sambil terus berjalan. "Aku sudah memakai sweater."
"Turuti saja." Ia melempar jaket itu tiba-tiba dan membuatku mau tak mau menangkapnya secara refleks. Aku ingin protes, namun tahu jelas usaha itu akan sia-sia. Akhirnya aku memakainya sambil menggerutu.
Kami berempat—duanya lagi pengawal yang kami temui di dalam rumah—berjalan cepat dengan langkah lebar-lebar menyusuri koridor. Betapa terkejutnya kami saat pintu menuju halaman terbuka dan menampilkan pemandangan yang mengerikan.
Sekitar sepuluh puluh meter di depan, mobil yang seharusnya membawa kami ke rumah persembunyian dipenuhi jilatan api. Lima orang pria berjas hitam terkapar tidak bergerak di sekitarnya.
Aku baru mengambil satu langkah mendekat saat Athrun tiba-tiba menyerukan namaku dan menarikku ke belakang.
Suara debum keras menyusul sedetik kemudian dari mobil yang meledak, menyemprotkan udara panas yang terasa sampai tempat kami tiarap melindungi diri. Suara metal yang berjatuhan setelah terlontar akibat kekuatan yang sangat besar meramaikan malam.
Salah seorang pengawal di belakangku menyerukan beberapa pertanyaan dengan nada mendesak lewat alat komunikasi yang menempel di telinganya. Suara band dari halaman depan yang awalnya sayup-sayup terdengar kini sunyi. Aku hanya sanggup diam dengan mata membulat. Tubuhku mati rasa.
"Cagalli, kau terluka?" sahut Athrun sambil menggoyangkan kedua lenganku kuat-kuat.
Butuh beberapa detik bagiku untuk mencerna pertanyaannya sebelum akhirnya menggeleng. "A-apa yang terjadi, Athrun?" tanyaku terbata. Perasaanku tiba-tiba tidak enak.
Pemilik rambut biru itu menarikku berdiri dan mengedarkan pandangannya dengan waspada. "Aku tidak tahu." Ia terdengar benar-benar frustrasi. Aku mengerti. Seharusnya ada tim lain yang bersembunyi di sekitar tempat penjemputan untuk memastikan tidak ada tamu yang berkeliaran atau 'tamu yang tidak diundang'. Mereka akan langsung memberitahu kalau ada keadaan yang tidak disangka-sangka, tapi ... siapa yang—apa yang bisa menyerang mereka dengan begitu cepat sampai-sampai tidak mengirim peringatan?
Seolah menjawab pemikiranku, sebuah pekikan tinggi yang disusul tawa nyaring membelah udara. "Wah, halo, anak-anak!" Athrun dengan cepat berputar dan merentangkan tangannya di depanku, menarik pistolnya dan mengarahkannya tanpa ragu ke sumber suara.
Makhluk itu berdiri dengan satu tangan di atas pinggul sepuluh meter dari kami. Seketika kakiku terpaku. Wanita kaki ayam itu lagi?
Seringai menjengkelkannya yang biasa keluar lagi. Sayapnya yang dulu ditembus oleh peluru Athrun meninggalkan dua lubang berbatas samar. Kedua lengannya terlipat di depan dada, memperlihatkan lengan kirinya yang dibalut kain berwarna kekuningan. "Waktu itu aku tidak bercanda, anak manusia. Aku bisa membunuhmu kapan pun kumau."
"Ya? Lalu kenapa tidak kaulakukan saja?" tantang Athrun.
Harpy menjengkelkan itu mendengus. "Aku punya urusan lain yang lebih penting dari pada menghabisi pemain figuran sepertimu."
Aku menurunakan lengan Athrun dan menatapnya tajam. "Kau tidak akan mendapatkan Kira," ujarku mantap—bersyukur berhasil menutupi perasaan takut yang menjalar.
Ia mengibaskan tangan dan memutar bola mata untuk memberi efek dramatis. "Bukan bocah tidak berguna itu juga. Aku tidak tertarik lagi padanya. Membunuhnya atau tidak sama saja. Yang kuinginkan sekarang itu dirimu, anak bodoh. Masih tidak mengerti juga?"
"Bagaimana kalau kuberi tanda tanganku saja?"
Ekspresinya berubah marah. Athrun menyikutku. Ya, ya, memprovokasi musuh tanpa rencana memang bukan keputusan bagus.
"Apa kau sudah merasa hebat, Coordinator?" Ia berdesis dengan raut jijik. Tante itu mengibaskan tangan kanannya dan kuku-kuku panjang seperti yang kulihat dulu muncul. "Aku akan mengajarimu cara menutup mulut!"
Tiba-tiba Athrun mendorongku sampai terjerembab ke tanah, lalu melompat mundur dengan ekspresi kaget di wajahnya. Ia menembakkan beberapa peluru. Harpy itu menghindar dengan lihai dan saat salah satu peluru Athrun hampir membuat lubang baru di sayap hitamnya, sayap itu menghilang.
Athrun sama sekali tidak diberi kesempatan untuk terkejut karena harpy itu maju dengan kecepatan yang tidak masuk akal dan mengayunkan cakarnya ke kepala Athrun. Pemuda itu menunduk dan mengeluarkan belati dari sabuk di pinggangnya tepat waktu untuk menangkis cakar mematikan yang tiba-tiba muncul dari tangan kiri sang Harpy. Athrun memanfaatkan momen saat monster itu terhuyung, terbawa gaya yang ditimbulkan saat tangannya terpental, dan mengayunkan belatinya ke leher Harpy itu yang terbuka. Sayangnya, sayap hitam itu tiba-tiba kembali dan menampar wajah Athrun, memaksanya mundur mengambil jarak. Tante Harpy itu sudah kembali ke posisinya dan (aku yakin) akan menebas tubuh Athrun yang masih limbung ketika satu tembakan dahsyat melontarkan monster itu beberapa meter ke samping.
"Cepat bawa Cagalli ke sini!" seru Ayah di dekat pintu masuk rumah, berdiri dengan moncong senapan baja yang masih berasap a la Rambo.
"Ayah!" sahutku. Aku tahu ayahku keren, tapi ini yang paling keren!
Sedetik kemudian Athrun sudah menyambar lenganku dan menarikku berlari ke arah rumah. Selusin pasukan bersenjata menyeruak dari belakang Ayah dan berdiri mengitari kami, menembakkan peluru-peluru baja ke arah musuh yang berusaha mendekat. Berbagai macam makhluk yang selama ini hanya kulihat di film atau buku menyeruak keluar dari balik pagar dan semak-semak, beberapa malah ada yang muncul dari langit.
Ini benar-benar gila.
Aku langsung melingkarkan lenganku ke leher Ayah dan memeluknya erat-erat, tiba-tiba merasa menjadi gadis kecil lagi yang ketakutan. Ayah membalas pelukanku tak kalah erat namun tidak memberiku waktu berlama-lama. Ia langsung mendorongku menjauh dan menarik tanganku. Kami bertiga berlari di sepanjang koridor dengan beberapa pasukan yang mengikuti. Suara-suara tembakan dan pekikan itu tidak terdengar senyaring tadi.
"Kalian harus pergi ke gerbang Selatan," jelas Ayah tegas. Suaranya yang tetap stabil saat berlari di usianya yang tidak lagi muda membuatku terkesan.
Tunggu. "Ayah tidak ikut?" balasku cepat, menatapnya dengan mata membulat.
"Aku akan pergi ke Utara dengan penggantimu. Dengan begitu perhatian mereka akan terpecah sehingga akan lebih mudah bagi kita. Kisaka sudah menunggu kalian, tapi kita tidak punya waktu. Kalian harus cepat."
"Tapi—"
"Pastikan dia selamat," Ayah memotongku dan mengalihkan perhatiannya pada Athrun. "Aku mohon."
Athrun terdiam sejenak sebelum mengangguk mantap. Ekspresinya mengeras penuh tekad.
Aku baru akan membantah saat beberapa jeritan terdengar bersahut-sahutan dari belakang kami. Athrun berbalik dan belum sempat memosisikan senjatanya saat tubuhnya terpelanting melewati Ayah dan aku. "Athrun!" jeritku saat punggungnya membentur lantai dan meluncur beberapa meter sebelum diam tak bergerak.
Aku baru akan berlari ke arahnya ketika sesuatu menghantam sisi kiriku dengan kuat dan membuatku terlempar ke dinding. Rasa pusing dan nyeri yang menusuk-nusuk mendadak menyerang kepala dan badanku. Aku mengerang. Kucoba bangkit dengan bertumpu pada tanganku, namun tak mampu. Ukh, apa yang terjadi?
"Kalian mortal benar-benar membuatku muak!"
Aku mengerjap beberapa kali dan berusaha mengontrol napasku sebelum mengangkat kepala. Tubuhku membeku. Aku bisa merasakan bulu kudukku meremang saat akhirnya menyadari apa yang menyerang kami. Tante Harpy yang tidak lelah-lelahnya mengejar kami berdiri dengan satu kaki di atas dada Ayah yang berusaha melepaskan diri. Tangan dan sebagian batang tubuh kanan monster itu lenyap dengan batas hitam yang tidak teratur. Partikel-partikel hitam masih melayang dari sana. Tidak ada lagi ekspresi main-main di wajahnya yang kini jelas-jelas murka.
"Kenapa kau bersikeras berlarian seperti kecoa bersama manusia-manusia ini? Ayolah, jangan terlalu idiot! Mereka hanya peduli padamu karena kau coordinator! Mereka merawatmu, memenuhi segala keinginanmu, tersenyum, memberimu cinta-blah-blah-blah hanya untuk memanipulasimu supaya memihak mereka," ia meludah, "selama ini yang mereka lakukan adalah menipumu! Tidak bisakah kau bangun dan melihat semua itu? Kau bahkan tidak perlu menggunakan otakmu! Mereka menjijikkan!"
Kupaksa tubuhku berdiri dengan berpegangan pada tembok. "Kau ...," aku memejamkan mata saat rasa pusing kembali menyerang, "kau tidak tahu apa-apa ..."
"Aku? Tidak tahu? Bocah, aku sudah terjun ke bisnis ini jauh lebih lama dari padamu." Ia menginjak dada Ayah lebih kuat. Aku bergidik. "Kami tidak seperti mereka! Tidak ada manipulasi! Kami bicara pada para coordinator dengan sejujur-jujurnya!"
"Dan jika mereka menolak, kalian akan menghabisi mereka."
"Karena itulah mereka sebaiknya setuju!"
Aku mendengus. "Tawaran yang sangat menggoda," gumamku sarkatis. "Enyahlah. Aku tidak akan bekerja sama," kataku tegas.
Sang Tante Harpy menggeram dan aku tidak percaya ia bisa terlihat lebih murka dari sebelumnya. "Kau—"
Harpy itu tiba-tiba menjerit dan melompat mundur sambil terhuyung saat Ayah berhasil menyabet pergelangan kakinya dengan belati Athrun yang jatuh sebelum dia terlempar. "Pergi sekarang, Cagalli!" Ayah berhasil berdiri dan sudah memasang ancang-ancang dengan belati yang siap di tangannya.
Tanpa berpikir pun aku tahu usaha Ayah untuk memberiku waktu tidak akan bekerja. "Ayah, jangan—"
Monster itu menggeram seperti hewan sebelum memukul Ayah ke dinding dan merebut belati itu. Ayah baru akan bangkit ketika besi dingin itu menghujam perutnya.
Tubuhku membeku. Darahku terasa dingin ketika jeritan Ayah bergema dan tubuh tegapnya rubuh dengan noda merah yang mulai merembes di kemeja putihnya. Aku menggeleng. Tidak ... TIDAK!
Harpy itu berbalik ke arahku dengan tatapan dingin. "Ini baru satu pelajaran untukmu, Coordinator. Sekarang, kalau kau mas—"
Duak!
Aku mengerjap. Harpy yang sesaat lalu berdiri di depan dan siap membunuhku kini tersungkur tak sadarkan diri.
"Fuh, teflon baja antikarat, selalu bermanfaat."
Tanpa ba-bi-bu aku langsung menerjang laki-laki berambut cokelat yang memegang alat masak itu dan memeluknya erat-erat, membuat kami hampir jatuh. "Kira," bisikku di samping telinganya. Air mata mengalir deras sepanjang pipiku dan membasahi bajunya.
Kira berusaha melepaskan pelukanku dengan sangat lembut. "Maaf, Cagalli, tapi kita harus pergi." Tatapannya mengarah ke bawah sejenak. Aku mengikuti arah pandangnya.
Dadaku kembali terasa sakit. Rasa mual dan marah menyerangku ketika melihat begitu banyak darah yang membasahi baju Ayah dan lantai tempatnya berbaring. Wajahnya yang mulai disemati keriput itu sudah kehilangan warnanya. Aku mengepalkan kedua tanganku kuat-kuat.
Kira berlutut. "Kuharap ini cukup," gumamnya sambil melepas ikat pinggang serta rompinya, melipatnya beberapa kali, dan mengikatnya di sekitar luka di perut Ayah. Ia menarik tali itu dua kali untuk memastikan ikat pinggang itu terpasang kencang dan mantap. Tanganya meraih walky talky dari seorang pengawal yang gugur di dekat kami. "Tuan Uzumi terluka di depan dapur bagian Barat. Cepatlah. Keadaan beliau agak gawat."
Pemuda itu bahkan tidak menunggu balasan. Kira berdiri dan mengedarkan pandangannya sejenak dengan kedua alis bertaut. Perhatiannya jatuh ke sosok Athrun yang masih tidak bergerak dan beralih ke sosok harpy yang terbujur untuk beberapa lama. Kedua alisnya bertaut.
Ia menjarah borgol dari dua pasukan yang gugur dan memasangnya pada tangan dan kaki harpy. Ia juga melepas dasinya, melipatnya satu kali, lalu menutup mulut makhluk itu dengan kencang. Akhirnya Kira menarik tanganku dan mulai berlari.
"Ayah," kataku dengan suara tercekat. Kupejamkan mataku erat-erat. Ingatan saat belati itu menusuk tubuh Ayah masih terpantri jelas. Aku bahkan masih bisa mendengar jeritan kesakitan Ayah.
"Tuan Uzumi akan baik-baik saja. Mereka akan menemukannya tepat waktu," jawab Kira seolah bisa membaca pikiranku. Kira membuka pintu di sebelah kanan dengan tiba-tiba dan menarik kami masuk. Suara tembakan dan pekikan terdengar dari lorong yang baru saja kami tinggalkan. Kira sama sekali tidak melambat. Ia membuka pintu lain yang terhubung dengan lorong berikutnya dan kami mulai berlari.
"Tapi ... begitu banyak darah ... dan Athrun ..."
Kira menggenggam tanganku lebih erat. "Cagalli, mereka akan baik-baik saja."
"Apa kau bisa menjaminnya? Kau berani menjaminnya?" bentakku tajam, membiarkan amarah menguasai tubuh dan pikiranku.
Kira tidak menjawab. Ia mengambil satu belokan lagi dan kembali mengayunkan teflon mematikannya saat seekor werewolf kurus menyambut kami. Werewolf itu bahkan belum menyelesaikan raungan mengintimidasinya saat pantat teflon Kira menghantam telinga dan tengkuknya.
Kira melepaskan tanganku dan memindahkan teflon itu ke tangan kirinya. "Sakit." Ia mengibas-ngibaskan tangan kanannya beberapa kali sebelum memindahkan alat dapur itu lagi di tangan kiri. Tangan satunya kembali menggenggam tanganku.
Aku menarik napas dalam-dalam dan berusaha menenangkan diri. "Kita harus ke gerbang Selatan. Kisaka menunggu di sana," jelasku.
Kira mengangguk. "Kau yang tahu tempatnya. Silakan pandu."
Kini giliran aku yang menariknya.
.
Kami hampir bertubrukan dengan Aisa saat baru saja berbelok di lorong terakhir yang menuju pintu Selatan. Wanita berambut biru tua itu langsung menodongkan kedua pistol dalam genggamannya ke kepala kami. "Ini kami, Aisa!" Kami berdua mengangkat kedua tangan dan mengambil langkah mundur.
Wanita itu memerhatikan kami beberapa saat sebelum menurunkan senjatanya dengan kesal. "Dari mana saja kalian!?" bentaknya. Aku tahu ia hanya mengajukan pertanyaan itu karena terbawa keadaan, bukannya mengharap jawaban. Pakaian pelayannya sedikit robek dan koyak di sana sini. Kurasa ini salah satu alasan SPPPP tentang baju di balik seragam imut itu dibuat.
"Kami di sini sekarang. Ke mana?"
"Ikuti aku." Wanita itu memberi isyarat dengan kepalanya dan kami kembali berlari.
Aisa beberapa kali menembakkan peluru dan Kira mengayunkan teflonnya untuk menangkis anak-anak panah dan monster kelelawar kecil bersayap empat yang mengarah ke kami. Aisa melepaskan belatinya dari sarung dan memberikannya padaku untuk berjaga-jaga. Kami harus menunduk dan berlindung di bawah meja atau pilar untuk menghindari serangan batu atau panah dari beberapa monster yang terlihat seperti campuran kelelawar dan kurcaci jelek yang bisa terbang.
Aisa baru membuka pintu tujuan kami ketika tiba-tiba ia langsung menutupnya lagi dan meletakkan tubuhnya di lantai menutupi kami. Beberapa anak panah menembus pintu kayu itu bertubi-tubi, membuat serpihan-serpihan kayu terlontar.
"Sial! Mereka tidak ada habis-habisnya!" umpat Aisa sembari mengisi lagi pelurunya.
"Ini tidak akan berhasil!" seru Kira. Aku mendongak dan melihat saudara kembarku sedang melihat ke luar jendela dengan tatapan awas.
Aku berdiri dan ikut melihat. Memang benar, jumlah immortal yang menyerang pasukan yang berjaga di gerbang Selatan semakin bertambah dan bertambah saja. Pasukan-pasukan itu—termasuk Kisaka—juga terlihat jelas mulai kewalahan.
"Kau punya rencana lain?" tanya Aisa dengan napas memburu. Ia menekan kepala kami berdua ke bawah sebelum menembaki immortal-immortal yang mendekati jendela.
Kira menarik lengan Aisa dan menatap wanita itu lurus-lurus. "Suruh semuanya pergi! Mereka tahu rencana kita! Mereka tidak akan melepaskan mobil-mobil itu!" jelasnya cepat.
Kira sudah menarik tanganku dan bersiap untuk berdiri saat kini Aisa yang menahannya. "Tunggu! Apa yang akan kau lakukan? Kita harus membawa Nona Athha ke rumah perlindungan!"
Kira melepaskan tangannya dan menjawab tegas, "Pergi saja! Aku punya rencana!"
Aku bisa mendengar panggilan Aisa sebelum ditutup dengan umpatan keras. Kira sama sekali tidak peduli. Kami terus berlari, memasuki beberapa ruangan dengan pintu tembusan, atau bersembunyi di balik dinding saat immortal mendekat.
Tanpa sadar kami sudah berada di luar rumah. Kami menjaga posisi kami tetap tertutupi pohon atau dinding sebelum berhenti di garasi. Kira berlari mengambil sepedanya dengan cekatan dan menyuruhku duduk di belakangnya. "Pegangan yang kuat. Awas rokmu," ingat Kira dengan suara datar yang tetap lembut.
Aku memeluk pinggang Kira erat-erat, membuat tubuhnya kaku. Kugeser tanganku dan berganti menggenggam erat bajunya, namun tangannya tiba-tiba menangkup tangan kananku."Tidak, tak apa. Aku hanya kaget," ujarnya.
Aku menggeleng. "Begini saja," balasku pelan.
Kira memberiku sekilas tatapan khawatir sebelum kembali menatap ke depan dan mencondongkan badannya, menggenggam kemudi sepeda erat-serat. Suara keributan yang tiba-tiba meningkat dari arah gerbang Selatan seolah menjadi tanda. Kira menoleh dan memastikan sebagian besar pasukan immortal sudah pergi mengejar mobil Kisaka yang seharusnya mengangkut kami. Setelah yakin, Kira mengayuh.
Aku menutup mata dan semakin mengeratkan peganganku, merasakan kulit Kira ikut tergenggam. Kira mengayuh dengan sangat cepat sampai aku yakin bannya bisa lepas kapan saja. Aku berusaha memusatkan perhatianku pada suara gemeresik dedaunan yang menyambar wajah dan tubuh kami ketimbang suara-suara pertempuran di sekitar kami.
Akhirnya kami sampai di depan gerbang. Kira berhenti sejenak dan menoleh ke kanan dan kiri. Aku belum sempat menyuarakan kebingunganku saat akhirnya pemuda itu berdecak dan justru mengayuh sepedanya lurus-lurus, melompati trotoar, menyeberangi jalan lain, dan mengayuh lagi di balik deretan pohon taman, menjauhi rumah.
"Rumah persembunyian." Aku mencoba mengingatkannya.
"Tidak," jawabnya langsung di sela napasnya yang memburu, "terlalu terbaca. Aku yakin puluhan immortal sudah menunggu di sana, menunggumu dan kabar dari sini. Tempat itu hanya akan jadi medan perang."
Aku tidak membalas dan hanya menyandarkan kepalaku di punggung Kira. Dia tidak berkata apa pun lagi.
Kira terus mengayuh tanpa henti dan berusaha untuk tetap berada di balik bayang-bayang gedung, pohon, atau dinding jalan. Ia meminggirkan sepedanya di halaman kantor pos sebelum menarikku berlari lagi. Aku kagum dengan staminanya.
Kami menuruni tangga subway yang tidak jauh dari kantor pos dan kubiarkan Kira menyeretku. Aku tidak begitu memerhatikan kelanjutannya. Hal yang terakhir kuingat adalah saat Kira dan aku akhirnya duduk dan kubiarkan kepalaku jatuh di bahu Kira sebelum tidur mengambil alih kesadaranku.
.
To be Continued ...
.
My worry's getting closer and closer. LOL. Semoga penyampaian chapter ini nggak terlalu susah dimengerti karena banyak action-nya ya. It's quite challenging and still fun, though, writing action scenes. Hoho.
Terima kasih banyak untuk readers dear yang udah nyempetin mampir. Terima kasih super duper untuk kalian yang udah nyempetin mampir dan review! Jangan ragu untuk kasih kritik atau sarannya, ya!
Have a fun day, everyone!
