OUR

(A Million Pieces)

Kibum melirik arloji ditangan kirinya. Sudah lima belas menit dan Kyuhyun tak kunjung kembali. Dia menepuk pundak Donghae, meminta ijin keluar gedung untuk mencari Kyuhyun. Donghae mengangguk meski matanya masih menatap ke lapangan basket. Pertandingan akan segera dimulai, bahkan Changmin, Minho dan Jonghyun sampai Siwon sudah masuk ke lapangan sambil menebar senyum ke deretan bangku penonton yang sejak tadi meneriaki nama mereka.

Kibum mengangguk kecil ketika pandangannya menemukan Changmin tengah menatapnya, menanyakan keberadaan Kyuhyun yang tak dia jumpai disamping Kibum. Menepuk pundak Donghae sekali lagi sebelum mendapat anggukan dari Changmin, Kibum segera berdiri, keluar gedung dengan mata mencari sosok Kyuhyun.

Dan Kibum menemukannya tepat ketika dia memasuki lorong menuju luar gedung, Kyuhyun dengan keadaan yang membuat kerja jantungnya semakin cepat. Kibum mempercepat langkahnya begitu melihat sosok tinggi dengan rambut blonde yang familiar dimatanya ada disana, didepan Kyuhyun-nya, menatap adiknya dengan pandangan yang sulit diartikan, tak melakukan apapun meski melihat Kyuhyun sedikit merundukan tubuhnya dengan tangan memegang dadanya. Dia, Yifan. Kris.

"Kyuhyun-ah?!"

"Long time no see, Jifan-ie" Kibum melihat Kris melambaikan tangannya dengan senyum kecil. Nafas Kibum terengah ketika Kris menyebut nama mandarinnya. Jifan. Nama itu sudah dia kubur dalam-dalam ketika dia memutuskan kembali ke Korea.

"Sepertinya uri Guixian melupakan terlalu banyak" Kibum menatap tajam begitu Kris mengatakan kalimatnya. Itu bukan bentuk keprihatinan, tapi sebuah ancaman dan Kibum bukan anak bodoh yang tak tahu kalau dia tengah diancam sekarang.

Kibum tak menyahut namun beralih menatap Kyuhyun, "Gwenchana, Kyu?"

Kibum rasa dia bodoh seketika. Dia melihat Kyuhyun kesakitan tapi dia menanyakannya lagi. Tapi kehadiran Kris didepan mereka, didepan Kyuhyun terutama entah mengapa membuat kakinya lemas seketika, otak cerdasnya mendadak buntu. Kejadian masa lalu itu bahkan kini mulai berputar dikepalanya, seperti rol film yang sengaja diputar hanya karena melihat sosok berambut blonde itu.

Kyuhyun menepis tangan Kibum yang hendak memegangi tangannya, dia ingat hari itu, ketika sosok seusia dirinya merintih kesakitan memegangi dadanya, sampai sosok itu hilang kesadarannya dengan seulas senyum yang sekarang entah mengapa membuatnya takut.

.

,

Kibum meremas tangannya dengan perasaan kacau. Kyuhyun pingsan setelah menanyakan siapa dia sebenarnya. Dan entah refleks atau apa, Kris-lah yang menggendong Kyuhyun sambil berlari mencari taksi, meninggalkan Kibum yang akhirnya mengikuti keduanya dengan kaki gemetar.

Dan disinilah dia sekarang, duduk dengan gelisah sambil berkali-kali melihat kearah ruang UGD dimana Kyuhyun masuk setengah jam lalu. Kris entah kemana. Pemuda berambut blonde itu tak lagi dia temui ketika Kyuhyun akhirnya didorong masuk ke ruang UGD.

"Kibum?!"

Pemuda itu refleks berdiri, menatap Ayah Ibunya yang datang dengan nafas memburu. Dan dia tak bisa menahan air mata yang berdesakan keluar dari matanya begitu Ibu langsung memeluknya sambil terisak.

"Kyuhyun, Bu" isaknya mulai terdengar.

"Iya, tidak apa-apa" tepukan dipunggung dengan suara terisak Ibunya membuat Kibum makin terisak. Ia takut sekali. "Kyuhyun anak yang kuat. Dia akan baik-baik saja. Tidak. Dia pasti baik-baik saja" sebuah keharusan dari keputusasaan yang Kibum dengar dari ucapan 'penenang' dari Ibunya. Entahlah. Tapi melihat kondisi Kyuhyun dan betapa wajah Dokter Park terlihat tegang ketika dia dan Kris mendorong bangsal Kyuhyun, membuat Kibum tahu adiknya tidak baik-baik saja.

.

.

"Kyu!"

Sosok bocah sama pucatnya dengan Kyuhyun berlari mendekat –awalnya, karena setelah sadar nafasnya mulai tersenggal, dia memelankan larinya, memilih berjalan. Toh Kyuhyun tak akan berlari melihatnya. Dia kan bukan hantu atau monster.

"Sudah lama?"

"Menurutmu?" Kyuhyun itu bocah yang suka sekali menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi. Dan bocah pucat didepannya sudah mengenalnya begitu baik, jadi dia hanya tertawa garing sebelum bergumam 'mianhae'. "Kenapa?" Kyuhyun sedang meminta alasan yang masuk akal, yang bisa dia jadikan alasan memaafkan keterlambatan bocah seusia didepannya.

"Yifan ge merecokiku seperti biasa" dengusan keluar dari mulut bocah itu.

"Yifan ge mirip sekali dengan Kibum. Dia juga suka merecokiku" adu Kyuhyun. "Baiklah, hari ini kau kumaafkan Luhan" tepukan dipundak bocah itu –Luhan, disambut kekehan.

"Tapi Yifan ge keren sekali" Kyuhyun berdiri dengan semangat. "Dia bisa memasukan bola dari titik 3 point" katanya sambil mempraktekan shoot seperti yang dia lihat saat menonton Yifan bermain basket tempo hari. "Kibum tidak suka basket. Dia lebih suka bergaul dengan buku-buku yang tebalnya ratusan halaman" dengus Kyuhyun ketika ingat dia pernah merengek pada Kibum untuk menemaninya bermain basket, sempat menolak tapi akhirnya luluh juga. Namun Kyuhyun harus menghela nafas ratusan kali selama mereka bermain karena Kibum bahkan tak tahu peraturan bermain basket. Akhirnya Kyuhyun menyerah, membuang bola sejauh mungkin sambil menatap Kibum kesal. Kibum sih santai saja, dia kan sejak awal sudah bilang pada saudara kembarnya itu kalau dia tidak suka bermain basket, tapi dasar Kyuhyun itu menyebalkan, dan sialnya dia tak bisa menolak permintaan bocah yang bahkan hanya berbeda beberapa menit darinya.

"Tapi Kibum ge kan pintar" Luhan iri karena Kibum pintar, Kyuhyun juga pintar. Dia bahkan rela memanggil Kibum dengan suffix 'ge' meski umur mereka sama hanya gara-gara Kibum kakak kelasnya. Saat Kyuhyun protes, Luhan hanya bilang karena dia mengagumi Kibum.

"Aku juga pintar" Kyuhyun tak mau kalah. Dia kan juga selalu ranking satu.

"Jadi kau mau seperti Kibum ge?"

"Aku tidak suka baca buku setebal ratusan halaman" elak Kyuhyun. Semua hal tentang hobi Kibum banyak yang tak cocok dengan Kyuhyun. Salah satunya hobi Kibum yang suka membaca itu. Kyuhyun lebih suka menghabiskan waktunya dengan bermain game atau bermain basket.

"Kau ingin seperti Yifan ge?"

Luhan mengangguk antusias. "Yifan ge pintar bermain basket. Aku mau jadi pemain basket hebat suatu hari nanti" mata Luhan saat membicarakan basket sama dengan mata Kyuhyun, penuh ketertarikan.

"Tapi Yifan ge kan tidak mau mengajari kita" padahal Yifan itu baik sekali meski wajahnya sama datarnya dengan Kibum. Yifan selalu mengabulkan keinginan Luhan seperti Kibum yang selalu mengabulkan keinginan Kyuhyun. Tapi soal basket, entah mengapa Yifan tak pernah mengabulkannya, bahkan meski Luhan mendiamkannya beberapa hari. Yifan punya sifat teguh pendirian sama seperti Kibum.

"Kyuhyun-ie, kau mau membantuku membujuk Yifan ge kalau aku bisa menang melawanmu hari ini?"

Kyuhyun tampak berpikir sebentar sebelum menghela nafas, "Baiklah, aku akan membantumu jika kau berhasil menang satu lawan satu denganku" Kyuhyun belum pernah mencoba membujuk Yifan. Tapi dia akan berusaha, lagipula dia cukup dekat dengan Yifan.

"Serius?"

"Aku tak menjanjikan hasilnya baik. Tapi akan kuusahakan"

Luhan tersenyum sumringah. Dia suka bagaimana Kyuhyun mengerti dirinya dengan baik. Dia suka bagaimana Kyuhyun menyukai basket seperti dirinya. Dia suka bagaimana Kyuhyun membuat semangatnya selalu membara.

"Kalau aku kalah, kubantu kau menghindari les selama seminggu" janji Luhan. Kyuhyun itu bukan anak penurut, dan dia tak suka ikut les seperti Kibum. Sudah Kyuhyun bilang kalau banyak hal tentang hobi Kibum yang tak cocok dengannya kan? Les juga salah satunya.

Kyuhyun mengangguk antusias. "Call"

Jabatan tangan kedua bocah itu mengawali permainan basket sore itu dibawah langit yang mendung.

.

.

Kyuhyun terbangun dengan keadaan lemas dan dengan menggunakan masker oksigen. Dia juga menemukan tiang infus disamping bangsalnya, beserta elektrokardiograf yang memantau detak jantungnya. Tak ada siapapun diruangan bernuansa putih yang Kyuhyun yakin sebuah ruang UGD. Mungkin dokter tak mengijinkan keluarganya masuk. Entahlah.

Tepat ketika Kyuhyun mencoba membuka masker oksigennya, seseorang membuka pintu. Kyuhyun melihat Kibum masuk dengan mengenakan pakaian steril berwarna hijau khas rumah sakit. Ketika pandangan mereka bertemu, Kyuhyun bisa melihat Kibum tersenyum lebar padanya. Sangat lebar, sampai Kyuhyun tak yakin kalau didepannya kini adalah Kibum –saudara kembarnya yang super datar itu.

"Sudah bangun?" tanya Kibum. Pemuda itu memencet tombol untuk memanggil dokter. "Tidurmu lama sekali" sindirnya.

Kyuhyun tak menyahut, namun memberi kode pada Kibum untuk membukakan masker oksigennya. Kibum menggeleng, membuahkan dengusan kesal dari Kyuhyun. Tak tahukah Kibum kalau rasanya tak nyaman?

"Kita tunggu Dokter Park" digenggamnya tangan Kyuhyun yang terbebas dari jarum infus. "Ibu dan Ayah baru saja pulang, aku menyuruh mereka istirahat. Mereka akan kembali besok pagi" jelasnya pada Kyuhyun.

Tak lama Dokter Park datang. Tersenyum ketika sepasang manik cokelat Kyuhyun menatapnya dengan lemah. Pria itu segera mendekat bersama seorang suster yang familiar dimata Kyuhyun. Ngomong-ngomong suster itu yang belakangan sering menemani Dokter Park memeriksanya. Kyuhyun tak tahu namanya. Hanya familiar saja pada wajahnya. Lagipula dia juga tak punya kewajiban menghafal nama suster kan.

"Kau mau aku membukanya?" Dokter Park tersenyum setelah memeriksa. Keadaan Kyuhyun mulai stabil.

"Apa tidak apa-apa, Dok?" Kibum menyela. Dia takut sekali tadi. Hampir saja dia kehilangan Kyuhyun untuk selamanya.

Dokter Park mengangguk sambil tersenyum, berusaha tak mengusak kepala Kibum karena gemas melihat reaksi pemuda itu.

.

.

"Aku kenapa?"

Suara Kyuhyun hampir tak terdengar, kalah dengan suara elektrokardiograf yang menunjukan detak jantungan yang masih lemah. Namun karena sejak tadi Kibum memperhatikannya, Kibum jadi menengar pertanyaan itu.

"Kau pingsan, dan hampir membuatku mati berdiri" katanya ketus. "Sudah kubilang kan, kalau tidak mau bilang setidaknya beradalah ditempat yang bisa kulihat" lanjutnya dengan suara memelan.

"Lalu aku kenapa?" ulang Kyuhyun. Ingin jawaban lain, karena maksud pertanyaannya pun bukan tentang kondisinya sekarang.

Kibum berdehem, "Jangan membicarakannya sekarang, hn?" namun Kyuhyun tetaplah bocah keras kepala yang tak akan menyerah untuk mendapatkan apa yang dia mau. Pemuda itu hanya menggeleng dengan mata berkaca, mencari simpati Kibum dengan puppy eyes-nya.

"Kau shock, lalu bangun dengan kehilangan sebagian memorimu" jelas Kibum. "Dokter bilang itu amnesia sementara karena tekanan psikis" lanjutnya.

"Kenapa menutupinya? Bagaimanapun aku berhak tahu" Kyuhyun bertanya setelah mereka terdiam cukup lama. Mata Kyuhyun memerah, menahan kekesalannya.

"Kau pikir aku tega memberitahumu kalau sahabatmu meninggal dan keluarganya menyalahkanmu?" Kibum selalu tak habis pikir kekeras kepalaan Kyuhyun selalu membuatnya kesal. "Kita sama-sama tak tahu kalau Luhan punya penyakit jantung. Kita hanya tahu kalau Yifan melarangnya bermain basket" suara Kibum kembali memelan. Ia ingat, adiknya ini juga punya penyakit jantung.

Pandangan Kyuhyun menerawang, harusnya Kyuhyun tahu pasti ada alasan kenapa Yifan melarang Luhan bermain basket. Harusnya Kyuhyun tahu, Yifan yang begitu menyayangi Luhan tak akan begitu keras kepala menolak mengajari Luhan bermain basket kalau tak ada alasan. Tapi dulu dia kan hanya bocah biasa yang berpikir terlalu polos.

"Dan aku tak mau hal seperti Luhan terjadi padamu, Kyu" Kibum sudah menggenggam tangan Kyuhyun lagi. "Aku tahu kami egois dengan membawamu kembali ke Korea tanpa menyelesaikan masalah disana. Tapi aku tak bisa kehilangamu. Aku tak bisa membuatmu hidup dengan perasaan bersalah yang bahkan aku tahu bukan kau penyebab Luhan meninggal"

"Ani. Aku membuatnya meninggal, hyung"

Kibum menggeleng, "Aku disana Kyu. Kau tahu aku tak bisa melepaskan pandanganku darimu sejak dulu kan? Aku disana, mendengarkan pembicaraan kalian dan menyaksikan semuanya" helaan nafas terdengar. Pandangan Kibum menerawang, seolah menembus waktu kembali ke masa lalu. "Jika bertanya siapa yang bersalah, mungkin jawabannya itu aku. Aku ada disana tapi tak mendekat. Aku ada disana tapi tak membantu Yifan membawa Luhan ke rumah sakit. Aku ada disana dan hanya memandangi ketika Yifan membentak dan mendorongmu menjauh. Aku disana dan tak membelamu ketika Yifan menuduhmu. Aku, akulah yang harusnya disalahkan"

Kibum tak pernah membiarkan Kyuhyun jauh dari pandangannya sejak dulu. Dia selalu mengikuti Kyuhyun kemanapun Kyuhyun pergi untuk mengawasi adiknya yang ceroboh dan mudah sakit. Kibum tak mengganggu atau bergabung dengan Kyuhyun –kecuali jika Kyuhyun merengek padanya, tapi dia selalu disana, mengawasi Kyuhyun dalam diam.

"Mianhae" Kyuhyun balas menggenggam tangan Kibum yang mendingin. Mungkin selama ini Kibum-lah yang menderita. Dia tahu tapi tak bisa mengatakannya, dia menjaga tapi selalu Kyuhyun abaikan dan mendapat protes.

"Tapi, mari bertemu Yifan ge" dan kedua manik berbeda warna itu bertatapan. "Bagaimanapun aku harus meminta maaf. Saat itu kita pergi tanpa pamit padanya kan?" dan Kibum selalu terpesona dengan cara berpikir Kyuhyun yang terlalu sederhana.

.

TBC

.

Aku belajar satu hal hari ini, serapih apapun kita menutupinya. Hal yang seharusnya diketahui, akan tetap diketahui. –Kibum

Aku mengenangmu dari jutaan memori yang berputar seperti rol film dikepalaku. Teman, maaf karena baru mengingatmu sekarang. –Kyuhyun

.

.

Halo semuanya, long time no see yaa hehe

Aku balik nih bawa ff our. Aku usahain minggu depan missin' u update ^^

Makasih banyak buat yang nyempetin review di semua fanfic-ku, dan maaf gak bisa aku sebutin satu-satu disini. Tapi aku baca semua komen kalian kok

Semoga chapter ini gak ngebosenin.

Terakhir aku tunggu review-nya yaa ^^

Annyeong *bow*