Disclaimer:
Vocaloid yang bukan punya saya
Tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya bukan punya saya
Ceritanya punya saya, selalu
Warning:
OOC, OOT, bahasa gak baku, alur kecepetan, gajelas, typo, ancur, de el el
Fic ini dibuat untuk memenuhi request Dere KuroHaru~
Selamat membaca! XD
Cinta di Akademi Voca
a KaitoxMiku, MikuoxKaiko, LenxRin, RintoxLenka, and PikoxMiki story
by reynyah
Chapter X – Cinta Rumah Makan
"Nikame-chan! Hai!" sapa Rinto sambil merangkul pundak Lenka seenaknya. "Pulang bareng lagi, yuk?"
Lenka tertawa kecil sambil melepaskan rangkulan Rinto. "Boleh, tapi aku mau ke beberapa tempat dulu sebelum pulang." jawab Lenka lugas. "Kamine-kun mau ikut atau pulang duluan?"
"Ikut, dong!" balas Rinto semangat. "Aku bawa motor lagi. Ayo, kita cabut!"
"Gak keberatan?"
"Nggak kalo sama kamu," jawab Rinto gombal. "Ayo!"
Lenka tergelak. "Iya, iya."
Lenka dan Rinto berjalan bersama menuju tempat Rinto memarkir motornya. Akibat terlambat pagi ini dan area parkir yang sudah kelewat penuh, Rinto terpaksa memarkirkan motornya di depan rumah makan langganannya. Sang empunya 'warung' sudah akrab dengan Rinto dan tentunya membiarkan cowok berambut kuning madu itu parkir sesuka hati di lahan bisnisnya. Syarat untuk Rinto hanya satu, sepulang sekolah nanti, anak itu harus makan siang di rumah makan tersebut. Syarat tambahannya, Rinto harus membeli minimal tiga porsi makanan dan minuman dari rumah makan tersebut. Cukup adil bagi Rinto.
"Oh ya, Nikame-chan," panggil Rinto ketika mereka telah tiba di depan rumah makan langganan Rinto. "Kamu mau makan di rumah makan ini dulu, gak? Aku janji, aku yang traktir."
Lenka memiringkan kepalanya. "Apa ini ajakan makan dengan maksud tertentu?"
"Ya, maksud tertentunya, aku harus berterima kasih sama empunya rumah makan ini soalnya udah ngasih lahan parkir buat aku," jelas Rinto sambil menggaruk bagian belakang kepalanya. "Tapi kalo maksud tertentu sama kamu... tunggu, maksud tertentu gimana dulu, nih?"
"Hmm... ada PR yang kamu mau aku kerjain, mungkin?"
Mata Rinto membelalak sebelum ia tertawa lebar. "Nikame-chan! Gak akan!" serunya geli. "Ya ampun, kamu mikir yang nggak-nggak aja. Aku gak akan minta hal kayak gitu ke kamu, janji. Aku cuma mau traktir kamu aja."
Lenka tersenyum senang. "Syukur deh, kupikir ada udang di balik batu."
"Oh ya." Rinto berhenti melangkah. "Kamu gak apa-apa aku ajak makan dulu? Kamu kan, mau ke tempat lain sebelum pulang? Ke mana? Toko buku? Toko kue? Pasar?"
Lenka tertawa kecil. "Aku mau ke toko buku, beli beberapa kamus dan novel," jawab Lenka. "Dari sana, aku mau ke toko benang, beli benang rajut. Terakhir, aku mau ke toko alat tulis, mau beli karton dan teman-temannya."
"Kamu punya toko langganan atau bebas mau toko mana aja?"
"Cuma toko benang yang aku punya toko langganannya," jawab Lenka lagi. "Sisanya, terserah Kamine-kun mau bawa aku ke toko mana juga."
"Siap, Tuan Putri!" ujar Rinto sambil menghormat pada Lenka. "Kalo gitu, sekarang kita makan dulu gak masalah, kan?"
Lenka mengangguk. "Ayo aja."
Kedua makhluk berambut kuning madu ini berjalan memasuki rumah makan langganan Rinto dan menemukan dua sosok yang familiar di mata mereka. Kenampakan dua sosok itu membuat Lenka buru-buru menarik Rinto untuk bersembunyi di balik dinding.
"Kenapa?" tanya Rinto heran. "Itu cuma Furukawa-senpai sama Utatane-senpai."
"Nah, mereka lagi acara tembak-menembak atau semacamnya, aku gak yakin," balas Lenka agak tidak nyambung. "Kita gak boleh terlihat atau yang ada, mereka bakal batal jadian."
"Hah? Masa, sih?"
Lenka menutup mulut Rinto dengan telunjuknya. "Kita nguping sebentar, boleh?"
Rinto mengangguk pelan.
"Kita gak usah pake pembukaan lagi karena aku udah beresin pembukaan aku di sekolah tadi, sebelum bel," gurau Piko, membuat Miki terkikik pelan. "Intinya, aku cuma mau nanya satu hal sederhana." Piko menarik napas sambil menarik tangan Miki. "Apa kamu mau jadi pacarku?"
Lenka menahan napas. Jawab iya, jawab iya, jawab iya...
"Eh, itu beneran ditembak ya, Nikame-chan?"
Lenka mengangguk cepat. "Harus diterimaaa... harus!"
"Emangnya kenapa?" balas Rinto heran.
"Mm..." Lenka diam sejenak. "Seneng aja kalo Miki-senpai punya pacar... soalnya aku suka liat orang bahagia."
Kini, giliran Rinto yang diam. "Kamu mau, ya?"
"Eh?" Lenka menatap Rinto heran. "Mau gimana maksudnya?"
"Antara mau punya pacar dan mau tau gimana rasanya ditembak."
Lenka tertawa pelan. "Aduh, mungkin perasaan begitu ada," ucapnya diiringi senyuman kecil dan pejaman mata. "Tapi... yah, gak banyak cowok yang suka sama aku. Aku ini... diem kan, terus aku juga gak begitu eksentrik. Kamu tau kan, maksudnya apa? Aku eksis juga karena pengaruh Miku-senpai, dan aku sama sekali gak bangga, walau yah, aku berterima kasih sama Miku-senpai." Hening sejenak. "Cuma aku... gak, aku gak akan bisa ngerasain apa yang cewek-cewek normal bisa rasain." Lenka tersenyum tipis lalu kembali memata-matai Piko dan Miki.
"Aku mau."
"Yes! Yes! Akhirnya Miki-senpai nerima Utatane-senpai!" Lenka terkekeh pelan lalu menatap Rinto yang berdiri di belakangnya. "Tadi Kamine-kun bilang apa?"
Rinto menelan ludahnya. "A-aku mau."
Lenka mengerutkan dahi. "Mau apa?"
"Mau..." Rinto kembali menelan ludahnya, faktor panik yang tiba-tiba melanda. "Mau nembak Lenka dan jadi pacar Lenka."
Lenka membelalakkan mata sipitnya. "L-Lenka? S-sejak kapan aku dipanggil Lenka sama Kamine-kun?"
"Rinto," ralat Rinto sambil menggeleng pelan. "Iya, aku suka Lenka sejak kita kenalan di kelas sepuluh. Nggak, aku bukan suka Lenka karena cantik, pintar, atau apapun kelebihan Lenka yang lain. Aku gak pernah peduli itu karena aku ngeliat Lenka sebagai pribadi yang... cocok sama aku."
"Mm... kamu yakin?"
Rinto tersenyum. "Maaf, mukaku yang rada garang mungkin gak meyakinkan." Rinto memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Tapi aku serius sama apa yang aku katakan dan... laki-laki sejati itu gak menarik ucapannya."
Lenka tertawa kecil. "Jadi kamu mau bilang kalo kamu itu laki-laki sejati?"
"Kalo aku bukan laki-laki sejati, emangnya kamu bakal suka sama aku?"
"Nggak," jawab Lenka tanpa berpikir lebih dulu. Kemudian ia terkekeh pelan. "Serius."
"Iya sih, emangnya ada yang suka sama banci?"
Lenka mengerutkan dahinya, tanda bahwa dia berpikir benar-benar serius. "Ada, tapi orangnya bukan aku."
Rinto terkekeh lalu mendecak. "Oke, serius sekarang," ujarnya sambil menahan tangan Lenka. "Aku suka Lenka, sukaaa banget. Apa Lenka mau jadi pacarku?" tanya Rinto sambil menatap langsung mata Lenka. "Aku gak maksa Lenka buat nerima aku, tapi aku gak akan berhenti suka sama Lenka walau Lenka nolak aku sekalipun. Buat aku, cuma Lenka yang bisa aku sayang."
Wajah Lenka memerah. Itu pertama kalinya ada laki-laki yang menyatakan perasaan padanya tepat di depan matanya. Lenka saat itu gak tahu kalau rasanya bakal semalu dan semenyenangkan itu. Lenka tersenyum. "Aku... harus bilang apa ya, Kam—"
"Panggil Rinto aja, Lenka-chan."
Sontak wajah Lenka tambah memerah. "I-iya, Rinto-kun..." Lenka menggaruk kepalanya dengan tangan kirinya yang bebas. "Aku harus bilang apa, nih...?"
"Pertama bilang dulu, kamu suka aku juga atau nggak?"
"Aku gak tau suka itu kayak gimana..."
"Kalo gitu, Lenka cari tau dulu," ucap Rinto sambil melepaskan tangan Lenka. "Aku gak nyuruh Lenka buru-buru dan jawab sekarang, itu bukan masalah. Aku gak mau Lenka terpaksa nerima aku, aku juga gak mau Lenka ngerasa gak enak sama aku. Aku gak akan kenapa-napa walau Lenka gak suka sama aku, percaya, deh." Rinto menatap sekeliling. "Ah, kayaknya kita harus duduk buat pesen makan. Aku gak mau kamu pulang telat."
Lenka mengangguk pelan lalu berdiri, masih dengan wajah merahnya. "Emangnya... kamu gak sakit hati kalo aku tolak?"
"Sakit hati, itu pasti," angguk Rinto. "Tapi, kalo aku tau kamu bohong sama perasaanmu sendiri terus malah jadian sama aku, aku bakal lebih sakit hati."
"Jadian itu ribet, ya?"
Rinto terkekeh. "Tergantung siapa yang jadiannya, Lenka."
"Kalo kamu?"
"Aku... nggak, aku gak mau ribet-ribet. Kita ini masih kecil, masih terlalu muda buat mikirin yang ribet-ribet."
"Kalo aku?"
"Aku nggak tau, kamu yang lebih kenal diri sendiri, Lenka."
"Iya, kalo itu sih, jelas iya," balas Lenka sambil lagi-lagi menggaruk kepalanya. Lenka sendiri baru tahu bahwa kebiasaan jeleknya saat salah tingkah adalah menggaruk kepala. "Maksudku, seandainya aku jadian sama kamu."
"Hmm..." Rinto kelihatan berpikir keras. "Kamu itu kan, agak perfeksionis, tapi aku suka sih, perfeksionisnya kamu. Kamu juga cenderung pasif, bukan orang yang aktif." Rinto menarik napas. "Tapi kalo sama aku yang rada seenaknya, mungkin hubungan kita nggak rumit."
"Atas dasar apa?"
Rinto tertawa. "Aku gak tau, Lenka. Semua hal tentang perasaan itu cuma pemikiran manusia yang gak ada penjelasan logisnya," senyum Rinto. "Soalnya kita pake perasaan."
"Maksudmu... aku gak berperasaan, gitu?"
Rinto menggeleng. "Kamu cuma belum tau harus gimana sama perasaanmu."
Lenka menghela napas. Aduh...
Terus... gimana nasib Rin?
"Kagamine-saaan!"
Len menoleh dan menemukan wajah cengangas-cengenges Rin yang tengah mengendarai sepeda. "Kenapa kamu bisa tau aku ada di sini?"
"Kenapa kamu pikir aku tau?" tanya Rin sambil menghentikan sepedanya. Ia turun, lalu menggiring sepedanya di samping Len yang tengah berjalan. "Aku kebetulan lewat sini, terus liat kamu di jalan."
"Rumahmu bukan ke arah sini, kan?"
Rin menggeleng. "Aku habis pergi ke supermarket, beli bahan buat praktik masak besok," jelas Rin tanpa ditanya sambil terus berjalan di samping Len. "Rumahmu dimana sih, Kagamine-san?"
"Di pinggir sungai."
"Oh ya?"
"Kamu percaya?"
"Antara iya dan nggak," jawab Rin sambil mengangkat bahunya. "Mind to show me?"
Kening Len mengerut sejenak sebelum akhirnya dia berkata, "Itu buat nguji aku atau kamu emang lagi sok-sokan ngomong bahasa Inggris aja?"
Rin mendengus. "Ngapain aku nguji kamu? Lenka bilang kamu pinter, kok," balas Rin kesal. "Aku cuma pingin, gak ada niat pamer atau sombong, kok. Udah deh, buruan tunjukin rumah kamu dimana. Pasti deket-deket sini, ya?"
"Dasar sok tau," ejek Len sambil menyunggingkan tawa liciknya.
"Woh, ternyata kamu jahat," ujar Rin sambil menepuk pelan pundak Len. "Yosh, kalo kamu gak nunjukin rumahmu ke aku, dijamin, kamu bakal ngeliat aku terus di belakangmu."
"Mau neror? Gak akan bisa."
"Liat aja nanti," balas Rin santai sambil terus menggiring sepedanya. "Ngomong-ngomong, kamu habis darimana, nih? Rumah Lenka, ya?"
"Lenka gak ada di rumah."
"Oh, berarti bener, habis dari rumah Lenka." Rin mengusap dagunya. "Hmm... aneh juga. Lenka cuma perlu pergi ke beberapa tempat deket sekolah buat beli barang, tapi kenapa sampai jam segini belum ada di rumah, ya?"
"Cowok yang suka bareng Lenka itu," tukas Len tiba-tiba. "Siapa?"
"Hah? Yang mana?"
"Yang mukanya mirip kamu."
Rin tergelak. "Ya ampun, ternyata itu maksudnya," tawa Rin nyaris tidak terkontrol. "Cowok itu Kamine Rinto, temen sekelas Lenka yang... gak tau juga ya, kayaknya lagi pedekate sama Lenka."
"Pedekate?"
Rin menatap Len bingung. "Kamu nanya artinya apa atau memastikan kata-kataku?"
"Nanya arti."
"Pedekate itu pendekatan, bahasa gaulnya, lah," jelas Rin. "Istilah buat cowok atau cewek yang lagi berusaha ngedeketin kecengannya. Biasanya kalo berhasil, akhirnya ditandai dengan pacaran. Kalo gagal... biasanya sih, kedua belah pihak musuhan."
"Kamu pernah?"
Rin tergelak lagi, dengan lebih manis tentunya. "Pernah, satu kali," jawab Rin. "Tapi udah nggak. Lagian, cowok itu juga udah punya kecengan baru. Aku bersyukur cewek itu temenku." Rin menghela napas. "Aku gak pernah suka sama cowok itu."
"Emangnya itu gak jahat?"
"Yang jahat itu kalo aku nerima dia jadi pacarku sedangkan akunya gak suka," jelas Rin lagi. "Mungkin emang jahat, nolak dia yang udah bertahun-tahun ngejar aku. Yap, aku akui itu jahat. Cuma... daripada dia sakit hati karena kubohongin, mending aku tolak terus."
"Nggak capek?"
"Capek... jelas," angguk Rin. "Tapi perjuangan orang harus kita hargai, walau perjuangannya buatku berakhir sia-sia."
"Sesakit itukah?"
"Kayaknya iya."
"Berarti... mungkin itu yang aku rasain."
Rin menatap Len. "Emangnya kenapa, Kagamine-san?"
"Sepertinya aku suka Lenka," jawab Len sambil menarik napas panjang. "Dan apa yang kamu bilang barusan, soal cowok yang lagi ngedeketin Lenka itu, jujur aja bikin aku sakit hati."
Dan itu bukan aku?
Bersambung...
Nah! Akhirnya chapter ini jadi juga~
Maaf kalo terkesan terburu-buru, Rey gak enak sama kalian, Rey lama banget apdetnya... ;;
Enjoy aja, ya! :3
