"Maaf kalau berantakan." Mereka memasuki kamar asrama itu, Sungmin melirik keadaan sekitar yang tampak sepi.

"Zhoumi hyung bilang akan menginap di tempat Henry, dan Yesung sunbae masih sibuk dengan urusan festival, jadilah kamar ini sepi," terang Kyuhyun pada Sungmin. Ia melanjutkan, "tapi kunci kamar mereka masing-masing tidak ditinggal, jadi Hyung tidur di kamarku saja ya. Sebentar, aku ganti baju dulu." Ia berjalan menuju kamar mandi dan meninggalkan Sungmin di kamarnya.

Sungmin duduk di kasur Kyuhyun yang empuk itu. Sebentar saja Kyuhyun sudah kembali dengan pakaian yang sudah kering. Dilihatnya pemuda itu mengambil tisu yang terletak di atas meja, lalu menggunakannya untuk mengusap hidungnya perlahan. Sungmin terkejut melihat darah mengalir dari hidung sang junior, lebih terkejut lagi melihat wajahnya yang sudah sedemikian pucat seperti orang sakit itu.

"Kau..." suaranya terdengar parau melihat keadaan Kyuhyun.

Kyuhyun menoleh dan tampak salah tingkah. "Ah, ini tidak apa-apa. Hanya sedikit kelelahan." Kyuhyun ikut duduk di sisi kasurnya yang lain. Ia sedikit tergesa-gesa mengelap hidungnya yang masih mimisan, tapi darah tidak berhenti juga. Sungguh, kepalanya sudah sangat pening sekarang. Tapi ia tidak boleh pingsan di depan Sungmin. Sungmin pasti akan merasa tidak nyaman melihatnya seperti itu. Kyuhyun harus kuat.

Sungmin melirik hoobae-nya itu samar-samar. Perasaan aneh berdesir di hatinya. Tentang rasa bersalah, menyesal, marah, kasihan, dan perasaan lain yang tidak ia mengerti. Dihelanya nafas dalam-dalam, lalu menghampiri Kyuhyun. Matanya tampak kesal.

Kyuhyun terkejut melihat Sungmin yang mendekatinya dengan tatapan tidak suka.

"Hyung maaf aku—"

Tapi Sungmin malah duduk di sampingnya. Diambilnya tisu lain di genggaman Kyuhyun. Dengan telaten Sungmin membantu Kyuhyun mengelap darah yang keluar dari hidungnya.

*Chapter 10: The Same Melody*

Kyuhyun terhenyak. Matanya tidak berkedip memandang kelakuan Sungmin yang sangat di luar kebiasaan itu. Pada raut mukanya yang tak bisa ditebak, pada jemari halusnya yang masih sibuk membersihkan darah Kyuhyun yang terus saja mengalir.

"Mendongaklah," perintah Sungmin pelan. Kyuhyun tak bergeming.

"Mendongaklah atau kau akan mati kehabisan darah, Cho Kyuhyun." Sungmin mendesis dingin. Kyuhyun cepat-cepat menurut.

Sungmin mengganti tisu yang sudah berwarna merah gelap karena darah dengan tisu lain yang berada di genggaman Kyuhyun. Tangan keduanya bersentuhan. Tanpa diduga Kyuhyun mencengkram tangan Sungmin erat-erat.

"Lepaskan." Sungmin mendesis lirih. Bola matanya menyipit marah.

Tapi Kyuhyun tidak merespon. Matanya menatap nyalang, berbalik pada bola mata obsidian pianist itu. Menantang.

"Lepaskan atau-"

Kyuhyun segera melepaskan tangan Sungmin sebelum pemuda itu mengeluarkan kemarahannya lebih jauh. Tapi matanya tak berhenti menatap Sungmin dengan intens. Suaranya seperti tercekat hanya untuk merangkai kata.

"Kau peduli." Itu bukan pertanyaan. Tapi Kyuhyun tetap menunggu jawaban Sungmin.

"Kau peduli padaku. Kau tidak mengacuhkanku." Lagi. Berdengung-dengung menyerang pertahanan Sungmin yang masih terdiam kaku. Sungmin merasa terpojok.

"Itu bukan apa-apa." Lirih, suara Sungmin tampak seperti berasal dari tempat lain bagi pendengaran Kyuhyun.

"Kau bisa saja mengacuhkanku di jalan tadi seperti sebelum-sebelumnya. Kau bisa saja tidak datang dan membantuku—"

Sungmin memotong sebelum Kyuhyun sempat mengeluarkan argumennya.

"Apa kau berfikir aku akan membiarkanmu mati di depanku? Aku tidak sekejam itu, Cho Kyuhyun." Ditatapnya hoobae itu dengan pandangan merendahkan.

"Seburuk apapun pandanganmu terhadapku, aku tetap saja manusia." Sungmin berkata final. Ia berdiri menjauhi Kyuhyun ke tepi tempat tidur lain sebelum menambahkan,

"Aku tetap punya hati dan perasaan."

Sungmin mematikan saklar lampu kamar dan berbaring perlahan. Meninggalkan Kyuhyun yang masih terdiam membeku.

-X-

Hujan sudah berhenti ketika Seoul memasuki tengah malam yang dingin. Seorang pemuda terduduk diam di depan perapiannya yang hangat. Suasana rumah itu tampak elegan, dengan karpet-karpet beledu dan lukisan klasik yang terpajang di setiap dinding dengan proporsi yang tepat. Guci-guci antik menghiasi setiap sudut kamar berwarna dominan gold itu.

Pemuda itu masih tak bergeming ketika jendela kacanya sedikit bergetar karena bunyi gemuruh yang terdengar dari jauh. Jemarinya masih membuka-buka halaman buku kecil yang dibacanya, dan berhenti pada halaman terakhir yang berisi potret seorang calon maestro piano yang dikenalnya sebagai pemilik asli dari buku yang sekarang berada pada genggamannya. Potret lusuh seorang pemuda berseragam SMA yang amat manis. Kepalanya disandarkan pada bahu pemuda lain yang tampak tampan dalam balutan seragam, keduanya tampak serasi dalam pelukan satu sama lain. Ia menghela napas pelan ketika menutup buku diary yang sampulnya tertuliskan 'milik Lee Sungmin' itu.

Leeteuk menerawang jauh. Ingatannya berkelebat pada kejadian lima tahun lalu, ketika ia pertama kali 'menemukan' Sungmin.

Ia menemukannya dalam keadaan yang menyedihkan. Di bawah hujan deras dan hampir mati karena menggigil kedinginan. Leeteuk membopongnya ke rumah sakit dengan penuh ketakutan bahwa bocah itu akan mati, tapi takdir mengatakan hal lain. Sungmin selamat. Bahkan dokter di rumah sakit tak percaya seseorang selemah Sungmin dapat bertahan dalam cuaca seburuk itu. Leeteuk tak percaya ketika dokter memperkirakan Sungmin mungkin sudah bertahan di luar rumah dalam keadaan seperti itu selama hampir lima hari. Ia tidak percaya bagaimana bocah lemah itu dapat bertahan hidup dan tidak makan selama itu. Yang lebih membuatnya trenyuh, dokter mengatakan Sungmin sudah lama menderita penyakit organ dalam. Ginjal dan paru-parunya sudah lama berpenyakit, adalah keajaiban bocah itu mampu bertahan sampai sekarang tanpa penanganan.

Pemuda 22 tahun itu hampir menangis ketika memperhatikan sosok Sungmin yang sedang tertidur dalam balutan selang infus dan alat-alat penunjang kehidupan lain. Tubuhnya tampak rapuh, wajahnya pucat dan kulitnya terasa dingin. Leeteuk menyelimuti remaja yang baru ditemuinya malam itu dengan hangat. Bertanya-tanya dimana keluarga dari bocah malang itu dan bagaimana ia bisa sampai seperti ini. Tapi ketika Sungmin bangun, Leeteuk tidak mengajukan pertanyaan sedikitpun. Ia berusaha merawatnya dengan baik, menyayanginya seperti adiknya sendiri, dan berusaha membuatnya bahagia. Tapi Sungmin bahkan tidak tersenyum sedikitpun. Kedua bola mata pemuda itu selalu tampak kosong, seperti ada sesuatu yang direnggut paksa dari hidupnya dan membuatnya sangat merana seperti sekarang. Airmata Leeteuk selalu jatuh melihat Sungmin yang tanpa kehidupan seperti itu selama berbulan-bulan.

Tapi Leeteuk berusaha. Lahir dalam keluarga yang mampu dan dibesarkan sebagai anak tunggal membuat Leeteuk selalu mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari semua keluarga besarnya. Dan kali ini, ia merasa ia harus memberikan kasih sayang dan perhatian itu kepada Sungmin, seorang baru yang bahkan tidak ia ketahui identitasnya. Leeteuk merasa ada sesuatu yang mengikat mereka, sesuatu yang membuatnya merasa harus menjaga Sungmin, memastikan pemuda itu mendapat kasih sayang yang berlimpah dan tentu saja, dapat tersenyum kembali seperti sedia kala. Tapi itu bukan hal yang mudah. Sungmin tidak pernah bercerita tentang masa lalunya. Ia hanya tahu bahwa kedua orangtua pemuda itu sudah bercerai, kedua hyung dan noona-nya meninggal dalam kecelakaan, dan kehidupannya hancur begitu saja. Masa lalu yang traumatis sudah cukup membuatnya menjadi seorang introvert. Butuh waktu satu tahun bagi Leeteuk agar Sungmin dapat percaya padanya. Dan ketika itulah Sungmin memberikan Leeteuk seluruh hal yang masih tersisa dalam masa lalunya. Barang-barang peninggalan dalam masa lalu yang ingin dilupakan Sungmin sebelum ia memulai hidup baru. Diary yang sedang dipegangnya sekarang.

Semenjak saat itu, Sungmin berubah. Setelah operasi ginjal yang dilakukannya berjalan baik, Sungmin bertransformasi menjadi pribadi yang lain. Pribadi yang sama sekali jauh dari ingatan Leeteuk. Pribadi yang luar biasa dingin, angkuh, dan kuat. Jauh dari masa lalunya yang tampak lemah tak berdaya. Tapi Leeteuk tidak memprotesnya. Ia selalu mendukung Sungmin, karena ia tahu, itu lah yang terbaik untuk Sungmin. Leeteuk adalah salah satu yang percaya, bahwa kenangan buruk adalah hal baik yang dapat mengubah manusia menjadi seseorang yang lebih berarti. Bahwa dibalik seseorang yang hebat pasti ada pengalaman buruk yang sudah menempanya menjadi seperti itu. Dan hal itu lah yang ia ajarkan pada Sungmin. Dengan seluruh kemampuan yang tersisa, Leeteuk menyokong kehidupan Sungmin dan memasukkannya ke dalam Akademi Musik SM dimana ia masih semester empat saat itu. Sungmin-dengan mengejutkan-berhasil lolos audisi. Dan prestasi gemilang pun terus ditorehkannya selama menginjakkan kaki di akademi tersebut. Mungkin benar, Sungmin berusaha amat keras. Sangat keras agar dapat melupakan masa lalunya, memulai hidup barunya dengan keberhasilan tanpa celanya sekarang.

Leeteuk lah yang paling berjasa dalam kehidupan Sungmin. Leeteuk yang mengenalkan Sungmin pada musik agar dapat menyibukkan diri, pada Ryeowook agar luka di hatinya dapat terobati, dan selalu mendukung apapun yang pemuda itu lakukan. Leeteuk lah, mungkin untuk saat ini, satu-satunya orang yang mengenal Sungmin luar-dalam.

Hingga akhirnya saat seperti ini tiba.

Pemuda lain dalam foto buram itu, pemuda yang dipeluk Sungmin dengan mesra dalam foto lima tahun lalu itu akhirnya datang kembali. Masa lalu yang menyeramkan itu menampakkan eksistensinya lagi di hadapannya. Cho Kyuhyun, pemuda yang sudah menyiksa batin Sungmin hingga seperti sekarang.

Leeteuk tahu masa-masa seperti ini akan tiba. Dan dia sudah mempersiapkan diri untuk itu. Itulah kenapa ia menghadirkan Ryeowook dalam kehidupan Sungmin yang gelap gulita, membuat kedua orang itu terperangkap dalam cinta mereka yang buta, dan akhirnya membuat Sungmin tidak dapat melihat lagi ke masa lalu. Ia yang membentuk Sungmin menjadi calon maestro piano seperti sekarang, bersikap arogan dan dingin pada semua orang, dengan harapan ketika Kyuhyun kembali, Sungmin tidak akan melihatnya lebih dari sebuah sampah yang mengganggu pandangan matanya.

Apakah Leeteuk yang jahat ketika ia berusaha membentuk Sungmin menjadi seperti sekarang hanya agar Kyuhyun tidak dapat mendekatinya?

Entahlah. Yang ia tahu adalah, ia hanya ingin melindungi pemuda itu dari rasa sakit yang hampir membunuhnya lima tahun lalu. Apapun caranya, Leeteuk akan berusaha membuat Sungmin tidak lemah lagi seperti dulu. Apapun caranya.

XxX

Kyuhyun melirik pada sosok yang sedang berbaring memunggunginya kini. Dalam kegelapan ia bisa merasakan nafas Sungmin yang masih teratur, pertanda pemuda itu belum sepenuhnya tidur. Itu sudah dini hari dan keduanya belum juga memejamkan mata. Entah apa yang sedang berada dalam pikiran Sungmin, Kyuhyun tidak bisa menebaknya.

"Hyung..." Dipanggilnya pemuda yang lebih tua itu.

"Apa hyung sudah tertidur?" tanyanya lagi. Didengarnya suara gemerisik dari orang disampingnya, tapi Sungmin tidak menyahut. "Aku mau cerita..."

"Aku mau tidur," potong Sungmin pendek.

Kyuhyun berhenti sebentar. Tapi diacuhkannya kalimat Sungmin tadi. Ia meneruskan, "Jadi kemarin aku bertemu seorang conductor—"

"Bagian dari 'aku mau tidur' mana yang belum kau pahami?" Kesal, Sungmin sedikit meninggikan suaranya, berharap hoobae itu akan membungkam mulutnya sekarang juga. Tapi bukan Kyuhyun namanya jika tidak keras kepala.

"Jadi kemarin aku bertemu seorang conductor bernama Leeteuk hyung..."

Pikirannya berkelebat pada kejadian kemarin ketika ia menemui Leeteuk yang menawarinya solo piano di malam natal...

flashback~

"Jadi seperti katamu tadi, kau lolos dalam audisi menyanyi yang diselenggarakan oleh SMEnt?" Leeteuk ikut duduk di sampingnya. Tangannya membuka dua kaleng soft drink dan memberikannya satu pada Kyuhyun.

"Terima kasih," Kyuhyun menerima minuman tersebut, lalu meminumnya pelan.

"Sulit dipercaya Soo Man mau memanjakanmu dengan menuruti permintaanmu untuk masuk ke Akademi ini hanya berbekal tiket masuk agency. Aku pasti tidak akan percaya jika belum mendengar suaramu tadi. Kau memang berpotensi, Kyuhyun-sshi."

Kyuhyun tersenyum pelan. Tidak sia-sia ia memperlihatkan bakat menyanyinya pada Leeteuk tadi.

"Lalu kenapa kau masuk Divisi Piano, Kyuhyun? Apa yang kau kejar?" tanya Leeteuk penasaran.

Pemuda yang lebih muda itu berhenti tersenyum. Ruangan latihan itu sepi, hari masih pagi hingga belum banyak murid yang berseliweran di sepanjang koridor lantai dua dari Divisi Orchestra itu. Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada langit-langit, menerawang.

"Seseorang..." gumamnya sangat pelan, hampir tidak bisa didengar Leeteuk. Leeteuk mengernyit tak mengerti.

"Seseorang disana," ucap Kyuhyun lagi. Ia menunduk. "Tapi kurasa sekarang sudah tak ada gunanya."

"Kenapa begitu?"

Kyuhyun menoleh pada Leeteuk yang masih menatapnya penasaran. Ia menghela napas lelah.

"Seperti nada-nada jenius Mozart bagi seorang pemula yang sama sekali tak mengerti musik klasik... Ia terlalu sulit untuk kuraih."

"Sepertinya dia orang yang sangat hebat di Divisi Piano," gumam Leeteuk. Kyuhyun mengangguk mengiyakan.

"Tapi bagaimanapun," kata Kyuhyun pada akhirnya, "aku tetap harus mengakhiri apa yang sudah ku mulai, 'kan?" Ia berdiri. Tampak sangat percaya diri hoobae itu berucap tegas, "seperti Sonata Dua Piano yang tetap ceria dalam hidupnya yang melankolis, aku tidak akan berhenti untuk belajar. Karena dalam hidup pun, memang tidak ada yang pasti kan? Tapi selama kita memiliki keyakinan, dan percaya takdir itu ada, tidak ada yang berhak mematahkan semangat kita."

Leeteuk ikut tersenyum merasakan semangat Kyuhyun yang menular lewat pori-pori udara.

"Baiklah, Tuan Optimis. Jadi kau menerima tawaran ini? Siap bermain solo piano di malam natal?" Ia ikut berdiri lalu menepuk bahu Kyuhyun pelan.

Kyuhyun tertawa kecil. "Bukankah aku tidak punya pilihan untuk menolak, Sunbae?"

flashback end~

Pada akhirnya, Kyuhyun menerima tawaran solo piano itu. Sekarang pekerjaannya bertambah lagi. Selain harus berlatih mati-matian untuk ujian duet piano nanti, ia juga harus mempersiapkan pertunjukan di gereja saat malam natal nanti. Tapi entah kenapa untuk sekarang Kyuhyun tidak mengeluh. Keadaan seperti ini sudah cukup baik baginya, ia sudah cukup bersyukur dapat berada di samping Sungmin meskipun pemuda itu selalu memarahinya. Ia bersyukur bertemu dengan Leeteuk, yang ternyata berkepribadian hangat dan sangat profesional-seperti bentuk lain Sungmin dalam wujud malaikat hangat. Ia bersyukur bertemu dengan orang-orang seperti Zhoumi, Yesung, Henry, dan teman-teman baru lain. Orang-orang yang mengajarkannya tentang perjuangan dalam meraih mimpinya masing-masing. Zhoumi yang harus berjuang mati-matian untuk masuk ke akademi karena keadaan ekonominya yang sangat memprihatinkan, mengajarkan Kyuhyun untuk terus bersyukur atas apa saja yang diberikan oleh hidup padanya, tentang mimpi-mimpi dan kerja keras untuk terus berjuang yang tidak pernah padam. Yesung yang tidak pernah sadar atas bakat yang dimilikinya sendiri sehingga butuh bantuan orang lain untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda, tipe orang yang keras namun ternyata lemah dalam keyakinannya sendiri, mengajarkannya untuk sejenak berhenti dan menatap ke bawah, untuk melihat dunia dari sisi yang lain. Henry yang memang dilahirkan berbakat namun harus berjuang mempelajari bahasa yang sama sekali asing bagi lidah dan telinganya, hanya demi bertemu guru demi cintanya pada biola. Dan orang disampingnya, Sungmin, mengajarkannya banyak hal. Tentang kehidupan yang terus berproses, bagaimana manusia harus bisa menerima perubahan dengan lapang dada alih-alih memaksakan diri untuk terus menatap masa lalu, dan ikut berubah bersama.

Ia tidak menyesal karena ia telah banyak belajar. Memahami tentang arti hidup, tentang perjuangan manusia agar tetap bertahan di dunia yang keras ini, tentang sifat-sifat tiap individu yang khas satu sama lain, yang ternyata merupakan jalinan dari pengalaman masa lalu yang membentuk mereka seperti sekarang. Benang merah yang menyatukan mereka semua, kekuatan besar yang selama ini sangat dipercayai Kyuhyun: takdir. Adalah takdir yang mempertemukan dirinya dengan tokoh-tokoh dalam hidupnya, yang menyatukan garis hitam dan putih dalam perjalanan hidup, memberi warna di dalamnya dengan sebuah hal yang kita sebut peristiwa.

Jadi, tidak ada sesal.

"Hyung, aku akan bermain solo piano di gereja malam natal nanti."

Kyuhyun melirik pada pemuda di sampingnya yang ternyata sudah sepenuhnya tertidur. Dengan sangat pelan ia bergeser mendekati Sungmin. Menatap wajah manisnya dalam keremangan kamar. Begitu damai wajah itu ketika pemiliknya tertidur. Begitu seperti malaikat. Kyuhyun tersenyum kecil. Dengan hati-hati ia mengangkat tangannya. Dalam gelap, jemarinya mengelus rambut hitam Sungmin penuh sayang.

XxX

Itu adalah malam ketiga acara Festival Musik yang masih diselenggarakan di Akademi SM, setelah sebelumnya ditunda karena badai yang terjadi kemarin malam. Cuaca masih cukup dingin malam itu, tapi tak menghalangi ribuan penonton yang berbondong-bondong ingin menyaksikan pertunjukan inti dari salah satu event musik paling bergengsi di Korea Selatan itu.

Ryeowook melangkah bersisian dengan kekasihnya yang tampak larut dalam pikirannya sendiri. Ada sesuatu yang mengusik hatinya kala itu. Suatu perasaan aneh dan tak nyaman melihat gelagat Sungmin yang mulai berubah sekarang. Terlebih kehadiran orang baru yang ia yakini menyita waktunya dengan Sungmin, si murid baru yang baru saja datang dan langsung menceramahi tentang konsep takdir dan lain-lain yang membuatnya tidak menyukainya, hal itu benar-benar membuatnya tidak dapat mengontrol emosinya akhir-akhir ini.

Ya, Ryeowook sangat tidak menyukainya. Terlepas dari perangainya yang menurut Ryeowook sangat sok tahu dan membuatnya tak nyaman, ada hal lain yang lebih mengusik ketenangan Ryeowook. Sikap Kyuhyun yang tampak dekat dengan Sungmin, bagaimana hoobae itu berusaha menyisihkan jarak diantara mereka berdua yang jelas-jelas terlihat, bagaimana usaha bocah itu untuk dapat membuat Sungmin melihat pada kemampuannya. Persetan dengan bakat, bocah itu tidak tampak berbakat sama sekali. Lalu kenapa? Kenapa bocah tak berbakat seperti itu disandingkan dengan Sungminnya yang sudah pro? Apa lagi-lagi karena takdir? Takdir yang jelas-jelas tak ia percayai?

"Kau banyak diam," tegur Sungmin pelan.

Ryeowook menoleh pada Sungmin.

"Apa kau sakit? Kita bisa pulang sekarang kalau kau mau," kata Sungmin lagi. Ia menatap kekasihnya itu dengan cemas.

Ryeowook menggeleng pelan. "Aku tidak apa-apa..."

Sungmin menatapnya tidak percaya.

"Sungguh, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit kelelahan." Ryeowook mengeratkan tautan jemarinya dengan milik Sungmin. Berusaha mengalihan topik pembicaraan ia berkata,

"Kemarin aku berlatih biola dengan Hankyung hyung..."

Sungmin mengerutkan keningnya. Mereka telah sampai pada salah satu stand makanan Eropa yang tampak elegan. Sungmin membimbing masuk kekasihnya ke bawah kanopi-kanopi yang disediakan oleh stand tersebut. Ditariknya kursi untuk Ryeowook, lalu duduk di sampingnya.

"Kenapa?" tanya Ryeowook memperhatikan wajah Sungmin yang tampak kesal.

"Aku tidak suka mendengarmu memanggil orang yang baru kau kenal itu dengan panggilan 'Hyung'," desisnya pelan. Seorang pelayan mendekati mereka untuk mencatat pesanan.

"Aku pesan segelas coffe latte dan lasagna, untuk pacarku juga," kata Sungmin. Pelayan itu mengangguk lalu pergi menunaikan tugasnya. Sementara Sungmin masih menatap Ryeowook dengan pandangan menuntut jawaban.

Ryeowook menoleh gerah. "Kau tidak pernah protes ketika aku memanggil Yesung hyung dengan sebutan itu."

Sungmin memilih untuk diam. Keheningan menyekap keduanya. Bukan jenis keheningan yang kaku, karena keduanya memang lebih suka menghabiskan waktu berdua hanya untuk berdiam diri. Saling menatap satu sama lain tanpa kata-kata, membiarkan diri mereka tenggelam dalam ekspektasi masing-masing.

Hubungan Sungmin dan Ryeowook memang tak seperti hubungan orang lain pada umumnya. Karena keduanya lebih suka saling mendiamkan, terikat dalam cinta keduanya hingga tak bisa keluar. Cinta yang tak bisa tanpa kehadiran yang lain. Cinta yang memberi kekuatan pada keduanya untuk bertahan sampai sekarang. Terlalu besar, hingga membuat mereka tak mampu menatap dunia luar, dan terperangkap pada hubungan ini. Seperti seorang buta yang terbiasa pada kegelapan, dan ketika sebuah cahaya maha dahsyat menghantam retinanya, ia tak terbiasa pada kegelapan lagi. Terlanjur mencintai. Terlanjur membutuhkan. Terlanjur hanya terfokus pada diri mereka sendiri, tanpa melihat dunia luar.

"Sungmin-ah..."

"Ya?" Sungmin menatap pada kekasihnya yang tampak gelisah.

Ryeowook menyusun kalimatnya dengan hati-hati.

"Kau cemburu melihatku bersama pemuda lain. Tapi tidak untuk Yesung hyung."

Pesanan mereka datang. Sungmin menggumamkan terima kasih kecil pada pelayan tadi. Baru setelah pelayan itu pergi Ryeowook kembali membuka suara.

"Aku tahu alasannya. Aku sangat tahu, karena aku benar-benar mengenal dirimu. Itu karena kau percaya bahwa Yesung hyung tidak akan berani mendekatiku lebih dari ini, iya kan?"

"Yesung tidak menaruh hati padamu, untuk apa aku peduli." Sungmin menggumam pelan. Ia menyesap coffe latte-nya dalam-dalam.

"Hankyung hyung juga tidak. Jangan membohongi dirimu sendiri. Kau tidak bodoh, Sungmin-ah. Kita berdua tahu benar apa yang terjadi." Ryeowook menatapnya tajam.

"Baguslah kalau kau tahu. Itu berarti aku tidak perlu mencemaskan kalian karena kau sama sekali tidak menaruh hati padanya." Sungmin menjawab santai. Hening lagi.

"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Sungmin lagi. Ia mendekat. Diulurkannya tangannya pada pipi Ryeowook, mengusap wajah manis itu. Mata keduanya bertatapan.

Ryeowook menyusun kalimatnya dengan sangat takut. "Sungmin-ah... Kau tidak menyukai Hankyung hyung karena ia dekat denganku, atau karena Kyuhyun?"

Bola mata obsidian itu tercengang mendengar kalimat yang keluar dari bibir manis kekasihnya sendiri. Ryeowook menoleh ke arah lain, pada stand kecil yang menjual aksesoris sulap sederhana. Pada dua pemuda yang sedang bercanda dengan riangnya disana. Hankyung dan Kyuhyun.

Sungmin menaikkan alisnya. "Jangan berpikir yang tidak-tidak."

"Aku tidak berpikir. Aku bertanya."

Ada gurat kemarahan di wajah Ryeowook. Sungmin mengalihkan pandangannya ke arah lain. Pada sekumpulan murid yang sedang memainkan musik tradisional di salah satu tenda.

"Aku tidak menyukainya," desis Ryeowook pelan.

Sungmin meliriknya, lalu melemparkan pandangan melecehkan pada Kyuhyun yang sekarang sedang tertawa-tawa dengan Hankyung.

"Aku juga."

Lalu kenapa kau menerimanya? Kenapa kau mau berduet dengannya?" Pertanyaan Ryeowook memberondong, mengintimidasinya dengan penuh curiga.

"Itu karena aku tidak punya pilihan." Sungmin menjawab tenang, tampak tidak peka dengan apa yang dirasakan Ryeowook sekarang.

Ryeowook menunduk. Makanannya tidak disentuh sedikitpun. Ia menggigit bibir bawahnya pelan.

"Kau bersikap aneh..." Ia mendesis lirih. Mau tak mau Sungmin pun menoleh.

Ryeowook meneruskan, "Membiarkan hal yang tak kau sukai berada di dekatmu," ia mendongakkan wajahnya, "kau tidak pernah bersikap seperti itu sebelumnya..."

Ada getar kemarahan dalam suaranya. Kemarahan yang bahkan tak bisa dipahami oleh dirinya sendiri. Kenapa dia marah? Untuk siapa? Untuk membela Hankyung dari tuduhan Sungmin, atau untuk dirinya sendiri? Pada siapa ia berang? Pada Kyuhyun yang jelas-jelas tidak ia sukai, atau pada Sungmin yang kini tampak membela Kyuhyun?

Sungmin terperangah tak percaya. "Kau cemburu?"

Ryeowook tak menjawab. Ia mengaduk-aduk coffe latte-nya pelan, lebih memilih diam ketimbang menjawab pertanyaan itu. Cemburu? Benarkah ia cemburu? Sudah bertahun-tahun mereka bersama tapi Ryeowook bahkan tidak pernah peduli dengan fans-fans Sungmin yang selalu berusaha mendapatkan hati kekasihnya. Tapi sekarang?

Sungmin menghela napasnya pelan. "Ia hanya seorang junior."

"Kau tidak pernah memperbolehkan juniormu memanggilmu 'hyung'." Lagi. Kenapa?

"Ada apa denganmu?" desis Sungmin jengah.

"Kau yang ada apa. Kenapa kau menerimanya? Kenapa dia bersamamu? Kenapa harus dia!"

Ryeowook bahkan terkejut mendengar dirinya sendiri berteriak kecil. Ia sudah kehilangan kendali. Ia memang yang bersikap lain kali ini. Ada sesuatu yang menguasai hatinya. Sesuatu yang jahat, yang tak bisa ia kendalikan dan membuatnya seperti ini. Ada yang berbeda dalam kemarahan ini. Ketakutan akan kehilangan.

"Maaf..." Ia menunduk. Membiarkan poni menutupi wajahnya yang tampak kalut.

Tanpa ragu Sungmin memeluknya pelan.

"Aku... Aku hanya takut kau berubah..." Ryeowook menggigit bibirnya mengucapkan kalimat yang menyakitkan baginya itu.

"Aku takut kau menoleh pada orang lain, dan meninggalkanku..."

Sungmin mengusap lembut rambut Ryeowook yang berada dalam pelukannya.

"Aku tidak akan berubah, Wookie-ah..." katanya tegas.

"Apapun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkanmu." Ia menatap iris kekasihnya itu dalam-dalam, berusaha meyakinkannya.

"Karena aku juga tidak akan bersanding dengan mereka yang tak sebanding denganku."

XxX

Kerlip indah lampion langsung menyambut begitu mereka masuk ke dalam ruang pertunjukan utama itu. Ruang itu temaram, tapi masih bisa membuat penonton berduyun-duyun menuju tempat duduk masing-masing. Keramaian bergema di ruangan berbentuk bundar itu. Ruang kebanggaan Akademi. Ruang utama yang akan digunakan sebagai tempat pertunjukkan Star Orchestra bentukan maestro Leeteuk dari akademi itu sendiri.

"Kudengar mereka menambah beberapa pemain baru."

Sungmin mendengar bisikan penonton di belakang kursinya itu. Ia tersenyum kecil, menanti gebrakan macam apa lagi yang akan dilakukan oleh Leeteuk. Sungmin memang mendengar rumor bahwa Star Orchestra mengadakan audisi untuk menemukan pemain flute yang baru. Ah, musik selalu membuatnya bergairah. Ia tak sabar pertunjukan apa yang akan dibawakan oleh mereka.

Sungmin melirik pada Ryeowook yang duduk terdiam di sampingnya. Semenjak tadi Ryeowook jadi semakin sering berdiam diri. Ia menghela nafas lelah mengingat 'insiden kecil' yang baru terjadi beberapa menit tadi.

"Kau tidak tampak baik-baik saja. Ayo kita pulang."

Ryeowook menggeleng. "Aku tidak apa-apa."

"Jangan memaksakan diri. Mood yang buruk akan berpengaruh pada interpretasimu akan pertunjukan musik."

"Aku ingin menonton." Ryeowook masih membantah.

"Kau bisa menonton lain hari," kali ini Sungmin mendesis kesal, tidak mengerti kenapa sikap Ryeowook aneh sekali kali ini.

Tanpa diduga Ryeowook menoleh dan tersenyum kecil. Manis.

"Kalau besok sudah tidak akan sama lagi." Lalu mengalihkan pandangannya pada tirai di atas panggung yang masih tertutup. Seluruh penonton sudah masuk dalam ruangan. Lighting panggung semakin diredupkan. Sebentar lagi pertunjukkan akan dimulai.

Sungmin menyerah. Ia ikut menatap ke depan, pada tirai merah di atas panggung yang menyembunyikan beragam instrument orchestra dibaliknya.

Ryeowook mendesis lirih melihat Sungmin yang tak lagi menatapnya.

"Besok memang tidak akan sama lagi..."

.

Variasi gesekan biola yang amat pelan membuka lagu pertama di pertunjukkan itu. Disusul dengan bunyi flute, saxophone dan alat musik tiup lain dalam tempo andante yang memberi kesan sendiri dan sepi. Iramanya yang naik turun mengingatkan Ryeowook pada keluh kesah dunia dan bayangan anak kecil yang merengek. Paduan suara yang membawakan lagu dari komposisi paling menyeramkan di dunia-yang ternyata tak pernah terselesaikan karena composer aslinya sudah terlanjur meninggal-membuat suasana di malam pertunjukkan itu tampak semakin kelam dan gelap.

Lacrymosa dari Mozart itu dibawakan Star Orchestra dengan sangat baik dan penuh perasaan. Ryeowook merinding ketika komposisi itu mulai berakhir dan meninggalkan sejenis ketakutan tak berdasar dalam hatinya. Ketakutan dan kegelisahan yang selalu datang ketika ia mendengarkan lagu itu. Jiwa yang terperangkap dalam alunan musik yang terdengar amat menyedihkan, karena pada awalnya lagu itu memang diciptakan sebagai lagu pengiring kematian.

Ryeowook menoleh pada Sungmin yang duduk di sampingnya, menatap sungguh-sungguh pada mereka yang sedang berada di atas panggung. Gemuruh tepuk tangan terdengar ketika lagu itu berakhir.

"Leeteuk hyung memulai pertunjukkan dengan berani," celetuk Ryeowook pelan. Sungmin menangguk, menatap pada sosok Leeteuk yang malam ini tampak berwibawa dengan jas hitam maestro itu. Membuka sebuah pertunjukkan orchestra dengan lagu pengiring kematian, hyung-nya yang satu itu memang selalu membuat tindakan tak terduga.

Leeteuk memberi hormat pada seluruh penonton yang datang malam itu. Keheningan tercipta begitu lama menanti sang maestro kembali berbalik pada orchestra yang dipimpinnya. Tapi bukannya kembali mengangkat tangan untuk memulai lagu kedua, ia malah mendekati grand piano hitam yang terletak di sampingnya. Beberapa penonton menahan nafas melihat Leeteuk duduk di depan piano, menyiapkan jemarinya di atas tuts-tuts hitam putih itu.

Irama string kembali menjadi pembuka dari lagu kedua. Lembut sentuhan jemari Leeteuk menari di atas tuts piano. Lincah. Dengan luar biasa dipimpinnya orchestra tersebut tidak hanya sebagai seorang maestro tapi juga pianist. Sungmin mengenal nada indah ini. Musik musim semi yang menenangkan hatinya. Ceria musim panas yang membuatnya bersemangat dan menghentak-hentak gembira. Lembut musim salju yang tampak bercahaya dari butiran kristal putih yang turun dari langit sore.

Tchaikovsky, Waltz of the Flowers.

Sungmin bersumpah ini permainan terindah yang pernah ia lihat langsung dari seorang Leeteuk.

Ryeowook meraih tangan Sungmin yang berada di sampingnya. Dalam alunan Waltz of the Flowers yang ceria keduanya bertatapan.

"Aku menyukai lagu ini," celetuk Ryeowook pelan. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyum kecil. Senyum yang sangat Sungmin suka.

"Aku juga." Sungmin ikut tersenyum melihat kekasihnya bahagia. Sepertinya mood Ryeowook mulai membaik karena lagu ini.

Ryeowook melepaskan genggaman tangannya, lalu kembali menatap ke arah panggung yang megah.

Pikirannya melayang pada sosok Sungmin dan Kyuhyun yang dibayangkannya. Pada sifat Sungmin yang amat dingin kepada orang-orang di sekitarnya, yang begitu berbeda dengan Kyuhyun yang tampak menjalani hidup dengan ceria. Sosok Sungmin yang terdiam dalam kegelapan yang diciptakannya sendiri, dan Kyuhyun yang datang bagaikan seorang biasa tanpa potensi, namun cukup untuk membuat Sungmin melihatnya dengan cara yang berbeda. Mengajaknya keluar dari kegelapan yang dingin dan ikut tertawa bersama.

Suaranya terdengar lirih diantara denting ceria piano yang dibawakan Leeteuk.

"Kau tahu, kenapa Tchaikovsky menciptakan lagu sesulit ini? Diluar keahlian dan tekniknya, kenapa orang-orang lebih menyukai nada-nada berbeda dan meloncat-loncat namun tetap membaur dalam harmoni yang indah?"

Sungmin mengernyit mendengar pertanyaan kekasihnya. Lagu itu selesai, gemuruh dan sorak sorai penonton terdengar ramai, membuatnya untuk sejenak lupa pada pertanyaan Ryeowook dan ikut bertepuk tangan bersama.

Ryeowook terdiam dalam keramaian. Menatap sosok Sungmin yang tersenyum padanya dan mengajaknya ikut bersenang-senang. Sosok Sungminnya yang ia sadari memang sudah berubah. Sungmin yang dulunya dingin, acuh tak acuh dan arogan. Sungmin yang seperti dirinya.

"Ah, itu tadi hebat sekali." Sungmin menoleh pada Ryeowook, lalu meneruskan percakapan mereka tadi, "Aku tidak tahu jawabannya. Memangnya kenapa?"

Ryeowook tersenyum. Menatap ke arah Leeteuk yang akan memulai lagu baru lagi.

Ingatannya melayang pada sosoknya dan Sungmin yang begitu mirip, hingga orang-orang mengatakan mereka memang tercipta satu sama lain. Sosok dua manusia yang hanya peduli pada diri mereka sendiri, sosok yang mengunci hati dan perhatiannya dari dunia, sosok dua manusia yang sama dan monoton. Perlahan, kesadaran itu datang.

"Jawabannya adalah, karena melodi yang sama dan monoton hanya akan membuatmu bosan..."

Sungmin terdiam mendengar jawaban kekasihnya. Dalam keramaian, hati Ryeowook menangis.

TBC