Long time no see minna~maafkan saia updatenya lama banget.

Oke, saia mau ngucapin makasih banyak buat Icha Yukina clyne, Undine-yaha, Natsuno Yurie uchiha, Aizhirou Aajni-chan, Hikari Kou Minami, Ai Kireina Maharanii, Iin cka you-nii, diangel, Enji86, Merai Alixya Kudo, Rizu Hatake-hime, `cumma08, Mittama134666, Visha IrM, levina-rukaruka, Chizuru SeenYuki Kakemi, dan AeonFlux15 udah qu bales lewat PM, terus buat yang gak login,

Sweetiramisu: gomen lama banget update-nya, yah sebenarnya aq juga pengennya orang tua Mamo tetap hidup, biar bisa godain HiruMamo terus…. Tapi kalo mereka hidup, ceritanya gak jalan,hehe…. Makasih ya,

Risha Ichigo: Gak pa-pa,hehehehe….. Arigatou gozaimasu…..

Fire Knight17: haduuuh maaf update-nya gak bisa cepet dan sepertinya yang ini belum sepanjang harapan kamu, Mamo dibikin cemburu? Hm….. boleh juga, tapi enggak di sini,hehe… Arigatou

DarkAngelYouichi: arigatou…hohoho… udah update ya~

michu: hahahaha…. Iya. Makasih koreksinya, update-nya gak bisa fast, gomen.

Reader: Salam kenal juga. Makasih banyak… iya ini udah update, meskipun lama,

Agnanta: Halo juga, salam kenal ya…. Makasih banyak, Mamo sekarat?kekekekeke… liat nanti lah. Oke, udah update! Terima kasih

Kenzou: Benarkah? Makasih banyak,Siap!


Dia tak pernah nampak.

Tidak ada yang pernah tahu siapa yang ada dibalik topeng itu.

Otak dari segala tindak keadilan demi memusnahkan

Kelompok mafia paling berbahaya yang disebut Dark Dragon

Dia menyutradarai segala misi untuk menggagalkan aksi Dark Dragon menguasai dunia.

Pria misterius yang diburu seluruh anggota Dark Dragon dengan

Bayaran melimpah.

Sekarang, dia akan menanggalkan topengnya demi melindungi

Sang malaikat.

Semua menyebutnya, "Agen No.1"

AGEN NO.1

Disclaimer: Riichiro Inagaki dan Yusuke Murata

Story: Mayuo Fietry

Pair: Hiruma & Mamori

Genre: romance, crime

Rated: T (agak berat dengan tembak-tembakan)

Warning:OC,OOC akut, typo, cerita beda jauh sama Eyeshield 21 yang asli,

Crime kurang greget, romance gak kerasa, abal, jelek, gaje,

Sebaiknya siapin mental sebelum baca.

Chapter 10

Break


Mamori menatap tajam pria di depannya, ia masih bingung dengan apa yang dikatakan pria itu tadi, "apa maksud paman?" tanyanya.

"Mamo-chan kau ingat, kakek dulu pernah mengajakmu ke loboratorium," kata Takeda. Pria itu tampak lebih renta dari biasanya hari ini. Keriput di wajahnya bertambah karena tegang.

"Lalu?" tanya Mamori yang memang masih belum mengerti.

"Di laboratorium itu ada sebuah bom sialan buatan kakek sialanmu yang bisa menghancurkan seluruh kota dengan sekali ledakan, dan kau tahu, yang bisa memasuki laboratorium itu cuma kau," Hiruma menerangkan, ia menatap manajernya. Tangannya masih berada dalam genggaman Mamori.

Gadis itu masih tampak bingung. Matanya yang biru berputar menatap Hiruma, "bagaimana mungkin cuma aku yang bisa masuk ke laboratorium itu?" tanyanya.

"Karena profesor sialan menggunakan retina mata dan sidik jarimu kuncinya," jawab Hiruma datar.

"Begitulah, Mamori. Jadi, kami minta kau mau bekerja sama dengan kami untuk menjaga bom itu supaya tidak jatuh ke tangan Dark Dragon," ungkap Yuuya.

"Dark Dragon? Apakah mereka yang menyerang stadion hari ini?" tanya Mamori, "dan, apa mereka yang membunuh orang tuaku? Kematian orang tuaku ada hubungannya dengan semua ini?" ia bertanya lagi. Tampak emosi memuncak dari matanya yang mulai berair.

Hiruma menepuk puncak kepala Mamori pelan saat menyadari perubahan pada diri malaikatnya itu. Ia kemudian mengusap bahu Mamori tanpa mengucapkan apapun.

"Apa yang harus kulakukan supaya bisa membantu?" Mamori kembali menatap Yuuya.

Pria itu tersenyum mendengar pertanyaan Mamori, "kau bisa-"

"Jangan pernah libatkan manajer sialan!" Hiruma memotong kalimat ayahnya dengan cepat, "tidak akan kuizinkan dia ikut campur lebih jauh," lanjutnya. Setan itu melirik Mamori sebentar, "yang harus kau lakukan cuma berada di sampingku, dan menuruti semua perintahku. Aku yang akan menjagamu," ungkapnya.

Tapi Mamori menggeleng cepat, "tidak" gumamnya dengan suara yang amat pelan, "itu artinya kau akan mengorbankan nyawamu kan?" biru sapphire itu menatap sang emerald lekat-lekat.

"Itu sudah tugasku," jawab Hiruma, "tidak mungkin aku membiarkan kau ikut campur. Tidak akan kubiarkan kau terluka," lanjutnya.

"Itu berarti kau akan membiarkan dirimu terluka kan?"

"Sudah kubilang itu sudah-"

"Aku tidak mau kau terluka!" Mamori memotong ucapan Hiruma. Ia masih menatap pria itu, air matanya mulai menetes perlahan, "kau tahu, kehilangan ayah dan ibu sudah cukup membuatku hampir gila. Aku tidak mau kalau sampai aku kehilanganmu!" Mamori hampir berteriak diakhir kalimatnya, "aku takut Youichi, aku takut kalau nanti kau bukan hanya lenganmu yang tertembak, aku takut-"

Tangan panjang Hiruma memeluk tubuh gadis itu dengan lembut, mencoba memberikan ketenangan, "tidak akan terjadi apapun padaku," ia berbisik tepat di telinga Mamori.

Sementara gadis itu terisak dalam pelukan sang setan. Perasaannya kacau. Tangannya yang mungil menggenggam seragam merah Devil Bats yang membalut tubuh Hiruma.

"Youichi" gumamnya.

"Aku akan baik-baik saja, percayalah," Hiruma kembali berbisik agar yang mendengar ucapannya hanya Mamori.

Gadis itu mengangguk kecil.

"Profesor sialan, aku ingin bicara denganmu," Hiruma melepaskan pelukannya dan menatap Takeda dengan pandangan serius.

"Ada apa?" tanya Takeda.

"Hiruma berjalan meninggalkan mereka dan memberi komando pada Takeda agar mengikutinya. Dua orang itu menuju ruangan sebelah.

"Chizue-chan, kita juga perlu bicara," kata Yuuya seraya menatap Chizue yang sejak tadi tertunduk di samping Daichi.

Gadis itu mengangkat kepalanya membalas tatapan Yuuya, "baiklah," jawabnya pelan.

Yuuya mengangguk kemudian meninggalkan ruangan itu. Chizue tersenyum datar dan siap menyusul langkah laki-laki itu kalau saja Daichi tidak menahan tangannya.

"Kalau kau mau, kau bisa cerita padaku soal perasaanmu," ucap pria itu pelan.

"Arigatou, Daichi-kun," Chizue memperlihatkan senyumannya kemudian melangkah meninggalkan pria itu bersama Mamori.

"Kau baik-baik saja, Anezaki-san?" tanya Daichi sambil menatap gadis itu setelah Chizue berlalu.

Mamori balik menatap Daichi sekilas sebelum menjawab, "ya," ucapnya pelan. Bola mata gadis itu berputar menatap sosok Daichi, "kau, yang waktu itu ke rumahku bersama Youichi kan?" tanyanya.

Daichi menaikan alis kemudian mengangguk.

"Namamu?"

"Daichi Fujitani," jawab Daichi singkat.

"Fujitani-san,"

"Panggil Daichi saja," potong detektif itu cepat. Ia menoleh kearah Mamori, "aku tidak terbiasa dipanggil dengan nama keluarga. Lagipula itu cuma membuatku ingat pada ayah," ia bergumam pelan. Tapi cukup untuk didengar Mamori.

Gadis itu terdiam sebentar. Daichi kemudian tersenyum melihat tingkah Mamori, "tidak apa-apa. Si bodoh itu tidak akan marah kalau kau memanggilku dengan nama kecil," katanya.

Mamori balas tersenyum, "kau, sepertinya sangat dekat dengan Youichi," ujarnya, "sejak kapan kalian berteman?"

"Sejak aku bergabung dengan Phoenix," jawab Daichi pelan, "Dark Dragon sialan itu membunuh ayahku. Meskipun belum ada bukti pasti."

"Ayahmu, dibunuh Dark Dragon?" pekik Mamori.

Daichi mengangguk, "ayahku pernah menyelidiki kasus pembunuhan berantai sebuah keluarga di Kyoto lima tahun lalu, ayah sudah tahu siapa pelakunya, tapi dia malah korban berikutnya. Ayah sempat bilang padaku pelakunya sebelum dia tewas, dan aku berjanji akan membunuh orang itu. Ayah bilang orang itu punya gambar naga di lengannya, tidak salah lagi, Dark Dragon," Daichi melirik Mamori yang mendengarkan ceritanya dengan serius.

"Setelah itu aku bergabung dengan Phoenix dan bertemu dengan Hiruma. Kami dekat, dia sudah seperti adikku sendiri. Kau tahu, dulu dia sering sekali cerita padaku tentang kau," Daichi menatap Mamori antusias.

Mamori sendiri tensenyum lucu membayangkan Hiruma menceritakan tentangnya pada orang lain, "Youichi, cerita padamu?"

"Setan itu bisa saja jenius. Tapi untuk urusan hati, dia sangat bodoh," ungkap Daichi terus terang yang membuat Mamori tertawa lucu.

"Apa yang sedang kalian tertawakan orang-orang sialan?" tanya Hiruma yang tiba-tiba saja muncul.

"Bukan apa-apa," jawab Mamori.

"Hanya membicarakan orang bodoh," kata Daichi cuek. Sang akuma mengabaikannya. Ia memilih duduk di samping kekasihnya tanpa banyak bicara.

"Malam ini kau menginap disini," kata Hiruma sambil menatap Mamori.

"Eh, kenapa?"

"Karena nanti malam aku mau pergi dengan si gendut sialan dan orang tua sialan. Kakek sialanmu juga di sini, kalau kau pulang, tidak ada yang mengawasimu," Hiruma menjawab. Kali ini ia tidak menatap Mamori. Gadis itu mengangguk paham.

#####

"Chizue-chan," panggil Yuuya pada gadis muda yang tengah sibuk di depan sebuah komputer itu. Yuuya mendekatinya dan menatap layar komputer, ingin tahu apa yang sedang dikerjakan gadis itu.

Sang gadis menoleh sebentar, "ada masalah, Yuuya-ojisan?" tanyanya.

Yuuya menggeleng kemudian duduk di samping Chizue, "kau tahu hubungan Youichi dengan Mamori?" ia bertanya.

Chizue tersenyum kecil kemudian kembali menatap layar komputer, tangannya dengan lincah menari di atas keyboard, "Mamori-san itu, manajer Youichi-kun," jawabnya.

"Kau pikir hanya sebatas itu?" Yuuya kembali bertanya. Ia memperhatikan oranye cerah di mata Chizue yang tampak sendu.

"Entahlah, Youichi-kun tidak pernah cerita padaku." Chizue kembali menoleh kearah Yuuya, "apa ojisan tidak suka dengan kedekatan mereka?"

"Aku hanya ingin yang terbaik untuk anak itu. Aku tidak suka juga dia tidak akan mendengarkan."

Chizue tersenyum, "ojisan masih saja merasa bersalah soal waktu itu. Tidak apa-apa, Youichi-kun sekarang bersamamu, itu artinya dia masih menganggap ojisan adalah ayahnya," ungkap Chizue. Gadis itu tersenyum kecil, ia mengusap punggung tangan Yuuya yang mulai nampak keriput.

"Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu," kata Yuuya kemudian seraya membalas senyuman Chizue. Ia mengacak pelan rambut Chizue sebelum membiarkan gadis itu kembali dengan pekarjaannya.

#####

Hiruma melangkahkan kakinya menuju sebuah kuil di tengah kota Deimon. Pria itu mengeratkan syal putih yang membalut lehernya seraya membuat gelembung dari permen karet dalam mulutnya. Mata hijaunya menatap lurus ke depan, namun telinganya terpasang sangat tajam, siap merekam sedikit saja suara.

"Gendut sialan," panggilnya saat ia tiba di kuil itu. Kakinya berhenti tepat di depan pintu masuk rumah salah satu sahabatnya itu.

"Kau terlambat Hiruma. Musashi sudah datang lho…," terdengar suara seseorang yang amat familiar dari arah dalam menyambutnya. Sang setan hanya diam di tempatnya, tak menggubris sedikitpun kata-kata temannya itu.

"Masuklah," kata Kurita setelah ia membukakan pintu, "Musashi sudah datang sejak tadi," lanjutnya.

Hiruma melangkah masuk diikuti Kurita, "bagaimana tadi siang, gendut sialan? Semuanya selamat?" tanya Hiruma sambil terus melangkah. Ia berhenti di sebuah ruangan, tampak Musashi tengah menonton tv disana.

"Iya, semuanya baik-baik saja. Tapi Yamada-kun sempat menghilang," jawab Kurita.

Hijau emerald milik Hiruma berputar menatap pria itu, raut wajahnya tampak tak biasa, "rambut merah sialan itu menghilang?" tanyanya.

"Ya," jawab Musashi seraya mematikan televisi. Ia menatap Hiruma yang mengambil tempat duduk di dekatnya.

"Kalian tahu kemana bocah sialan itu?" tanya Hiruma serius.

"Aku sempat menghubunginya dan dia bilang dia terpisah dengan kami saat akan naik bus, katanya dia terbawa penonton yang panik, tapi dia sudah kembali ke rumahnya," jawab Musashi.

Hiruma tampak menggeram pelan.

"Kau sendiri bagaimana, Hiruma?" tanya Kurita cemas. Ia menatap sahabatnya itu dengan pandangan lembut, "juga Anezaki, bagaimana keadaannya?"

"Aku tertembak," Hiruma melepas mantel hitam yang membungkus tubuhnya dan memperlihatkan lengannya yang dibalut perban, "jangan sampai ada yang tahu soal ini. Manajer sialan baik-baik saja tapi keselamatannya belum terjamin," ia melanjutkan.

"Ada apa sebenarnya dengan Anezaki?" tanya Musashi.

"Dia dalam masalah. Pokoknya mulai sekarang manajer sialan tidak bisa dibiarkan sendirian. Dia harus selalu diawasi," Hiruma menjawab.

"Kau bisa mengandalkan kami Hiruma," kata Kurita sambil melahap sebuah cream puff, "jadi kau bisa fokus pada tugasmu," lanjutnya.

Hiruma tersenyum kecut, "biar mati aku yang akan melindungi manajer bodoh itu," ia bergumam pelan, tapi cukup untuk didengar kedua sahabatnya, "aku tidak mau orang yang kusayangi hilang lagi," lanjutnya.

"Kami mengerti," Musashi menanggapi, "sudah seharusnya kau melindunginya."

"Lebih baik jangan libatkan diri kalian terlalu jauh," kata Hiruma seraya menatap keduanya, "amankan saja bocah-bocah sialan itu, sisanya biar orang-orangku yang mengurusnya," setan itu berujar pelan.

"Jangan terlalu memaksakan diri," ucap Kurita.

"Jangan kebanyakan makan, gendut!" Hiruma mengalihkan pembicaraan kemudian terkekeh tidak jelas.

"Hiruma," panggil Musashi berusaha mengambil kembali perhatian sahabatnya itu.

"Sudah kubilang jangan libatkan diri kalian terlalu jauh, kalian cukup tahu saja dan sisanya urusanku," jawab Hiruma akhirnya.

"Kau ini selalu saja," Musashi sedikit protes tapi kemudian tersenyum kecil. Ia sangat tahu watak sahabatnya. Ia tahu, Hiruma tidak akan membiarkan mereka dan anggota Devil Bats lainnya dalam bahaya.

Hiruma menatap kedua sahabatnya sekali lagi sebelum ia bangkit dari tempatnya, "aku sudah harus pulang," ungkapnya, "jangan lupa beri tahu bocah-bocah sialan kalau kita akan ke Ojou," lanjutnya.

"Baiklah," kata Musashi sambil menyerahkan AK-47 milik Hiruma.

"Jaga diri baik-baik, Hiruma," kata Kurita.

Hiruma tidak menjawab, ia hanya menerima AK-47 dari Musashi kemudian melangkah keluar dari rumah sahabatnya itu.

Sementara Kurita dan Musashi memandangi langkah setan itu yang makin menjauh. Meskipun keduanya tidak tahu permasalahan sebenarnya, tapi mereka tahu, Hiruma juga Mamori dalam bahaya besar.

"Apa Hiruma akan baik-baik saja?" tanya Kurita khawatir saat temannya yang satu itu menghilang dari pandangannya.

"Aku tidak tahu, tapi dia dan yang lainnya pasti punya jalan keluar untuk menghadapi masalah ini," jawab Musashi pelan, "si bodoh itu lagi-lagi tidak mau melibatkan kita, dia tidak tahu kalau kita mencemaskannya."

"tapi Musashi, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Anezaki bisa terlibat?" tanya Kurita menatap sahabatnya itu, berharap bisa mendapatkan jawaban yang tepat.

"Entahlah, tapi mungkin ada hubungannya dengan kematian orang tua Anezaki yang tidak wajar," Musashi kembali menjawab.

Kurita bisa merasakan bulu kuduknya meremang mendengar jawaban Musashi. Benar juga soal itu, kematian orang tua Mamori memang tidak wajar. Dugaan semula pelakunya adalah perampok sama sekali tidak masuk akal karena tidak ada barang berharga yang hilang saat kejadian itu.

Pelakunya hanya membunuh Mami dan Tateo, kemudian menghilang begitu saja. Tidak jelas apa yang mereka inginkan dari pasangan itu.

"Aku harap Hiruma dan Anezaki akan baik-baik saja," gumam Kurita pelan.

#####

Pintu kamar milik komandan dari neraka itu perlahan terbuka, sangat pelan, seolah tak ingin orang yang berada dalam kamar itu mengetahuinya. Sepasang mata berwarna hijau zamrud tampak dari celah pintu itu. Pandangannya menyapu seluruh ruangan bernuansa ghotic itu, kemudian tatapannya terhenti pada sosok gadis yang tengah tertidur dalam posisi duduk di meja belajar.

Mata hijau itu membulat menatapnya, sebuah laptop berwarna putih tampak menyala menampilkan sebuah video rekaman pertandingan amefuto, dan beberapa lembar kertas penuh coretan berserakan tak jauh dari sang gadis.

Sebuah gelembung tercipta dari permen karet dalam kunyahan si pemilik mata hijau itu, menyembunyikan sebuah senyuman tipis di bibirnya.

"Manajer jelek, aku menyuruhnya untuk mengedit video pertandingan Ojou, dia malah tertidur," pria itu bergumam pelan.

Tangan panjang pria itu membuka pintunya lebih lebar, hingga menampakan sosok jangkung dengan rambut spike pirang yang mencolok dan sebuah AK-47 dalam genggaman. Hiruma Youichi, pria itu meletakan senjatanya sembarangan kemudian melangkah mendekati malaikat kesayangannya.

Ia membelai lembut rambut merah kecoklatan milik Mamori. Hatinya berniat memindahkan gadis itu ke tempat yang lebih nyaman. Setan itu menyeringai lebar, dan sebeuah ide konyol melintas dalam otak jeniusnya.

Hiruma melepas mantelnya kemudian melemparkannya tepat kearah Mamori.

"Balista adalah strategi serangan Ojou yang-" gadis itu meracau tidak jelas saat ia merasa ada seseorang yang melempar bom kearahnya.

"Kekekekekekeke….." sang setan malah mentertawakan.

"Mou… Youichi kau mengganggu pekerjaanku!" gerutu Mamori sambil melotot kearah pria yang tengah tertawa heboh itu.

"Pekerjaan kau bilang? Kau jelas-jelas tidur, manajer bodoh!" jawab Hiruma kemudian kembali tertawa.

Mamori terdiam. Ia kesal juga karena Hiruma malah mengganggu tidurnya. Ia menatap pria itu dengan pandangan kesal kemudian beranjak meninggalakan Hiruma, tapi sebelum ia melangkah setan itu menahan tangannya.

Hiruma menatap Mamori dengan pandangan serius. Ia sudah membuang kekehan tak penting tadi.

"Aku tahu kau lelah," ucap Hiruma pelan, "lanjutkan tidurmu," ia melepas genggamannya di tangan Mamori. tanpa bicara apapun Hiruma beranjak ke meja belajarnya. Mengambil alih laptop tercintanya.

Pria itu mulai sibuk dengan kegiatannya, membuat rasa kesal Mamori mendadak hilang. Ia tahu, ada yang tidak beres.

"Ada apa, Youichi?" tanyanya.

"Hm… Bukan apa-apa, kau tidur saja. Jangan sampai aku menyeretmu besok pagi karena kau terlambat bangun," Hiruma menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.

Mamori masih memandangi pria itu, "aku tidak percaya, pasti ada sesuatu kan?" tanya Mamori lagi.

Hiruma menghentikan kegiatannya sebentar, "kau mau tidur sendiri atau aku harus menidurkanmu?" tanyanya tanpa menatap Mamori, mungkin berniat melucu. Tapi bagi Mamori itu sangat tidak lucu.

"Youchi!"

"Cerewet!" Hiruma akhirnya bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri Mamori. Tangannya yang panjang merangkul leher gadis itu dan menariknya hingga terjatuh di tempat tidur.

"Kya~ apa yang kau lakukan Youichi!" protes Mamori

Pria itu menjatuhkan dirinya di samping Mamori. Ia menyeringai lebar kemudian memejamkan matanya.

"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" Mamori sedikit meronta.

"Salahmu sendiri tidak mau tidur. Terpaksa aku harus menemanimu. Sekarang cepat pejamkan matamu!" jawab Hiruma yang masih terpejam seperti seorang ibu yang memaksa anaknya tidur.

"Lepaskan aku!"

"Tidak, kecuali kau mau tidur dan tidak mengganggu pekerjaanku!"

Mamori terdiam sambil memandangi wajah tampan milik setan itu, ia tersenyum kecil, "tidak bisakah aku membantu?" tanyanya.

"Kau bisa membantu untuk membuat strategi pertandingan," jawab Hiruma singkat, "tidurlah. Atau besok pagi aku akan benar-benar menyeretmu dari tempat tidur?"

"Baiklah, tapi lepaskan tanganmu, aku tidak bisa bernafas," kata Mamori.

Hiruma akhirnya melepaskan pelukannya dari tubuh Mamori. Ia beranjak dari tempat tidur setelah sebelumnya meninggalkan satu kecupan di kening gadis itu.

"Oyasumi, Youichi," ucap Mamori pelan.

"Hm," Hiruma menjawab singkat tanpa menoleh kearah sang pacar.

"Eh, kalau aku tidur disini, kau mau tidur dimana?"

"Tentu saja disampingmu, kau pikir dimana lagi?" Hiruma bertanya balik.

"TIDAAAAK….!"

"Kekekekeke….."

#####

"Daichi-kun,"

Pria itu menoleh saat telinganya mendengar panggilan itu. Matanya menangkap sosok gadis berambut pirang terang berjalan kearahnya.

"Nona," ucap pemuda itu pelan, " kau belum tidur?"

"Aku belum mengantuk. Kau sendiri, kenapa masih ada disini?" Chizue balik bertanya seraya berjalan kearah Daichi.

"Sama sepertimu," jawab Daichi memamerkan senyumnya.

Keduanya kini tengah berada di balkon laboratorium computer yang sepi. Jam dinding di belakang mereka menunjukan pukul setengah 12 malam, tapi baik Daichi maupun Chizue belum mau mengistirahatkan tubuh mereka setelah kejadian siang tadi.

"Bukankah besok kau harus sekolah, nona? Kenapa belum tidur?" Daichi memulai percakapan.

"Aku sudah menjawabnya kan, aku belum mengantuk, lagi pula, pemandangan seindah ini sayang untuk dilewatkan," mata oranye milik gadis itu berputar memandangi kota dengan hamparan lampu warna-warni yang indah. Ia tersenyum kecil.

Mata hazel Daichi membulat memandangi sosok si sebelahnya. Ia tersenyum seraya mengeratkan pegangannya pada tongkat yang menyangga tubuhnya.

"Manis," detektif itu berbisik pelan.

"Bagaimana lukamu, Daichi-kun?" tanya Chizue yang sukses membuyarkan khayalan Daichi.

Pria itu menoleh, memasang poker face yang ia pelajari dari Hiruma, "kalau kau mau membuatkan aku sarapan besok pagi, sepertinya akan langsung sembuh," jawabnya sambil menyeriangai jahil.

Chizue tertawa kecil mendengar jawaban Daichi yang sama sekali tidak nyambung. Tapi memang seperti itulah Daichi yang ia kenal, "baiklah," ucap Chizue kemudian.

Sang detektif tersenyum sebentar kemudian merubah tampangnya menjadi serius, "nona, ada yang ingin kutanyakan, soal Hiruma," ujarnya mengalihkan pembicaraan.

"Ada apa, Daichi-kun?"

"Apa kau, tidak mau membicarakan soal….," Daichi mengangkat tangannya, memberikan kode seperti tanda kutip dengan jarinya sambil menatap Chizue.

Gadis itu menggeleng, "entahlah, masalahnya aku sudah tahu kalau Youichi-kun tidak akan mendengarkanku," jawabnya.

"Tapi kau punya hak untuk bertanya,"

"Dan Youichi-kun pasti akan bilang dia punya hak untuk tidak menjawab, benar kan?" gadis itu menghela nafas pelan, "karna seperti itulah Youichi," lanjutnya. Ia memejamkan matanya sejenak saat angin malam yang tipis membelai kulitnya.

Daichi bisa melihatnya dengan jelas, sosok gadis yang begitu rapuh. Dengan perlahan ia melangkah mendekati Chizue, ia melepas jaket yang membalut tubuhnya dan menyempirkannya di bahu Chizue.

"Kau harusnya tahu, kau berhak bahagia," ucap pria itu.

Chizue mengangguk kecil, "ya, aku tahu. Arigatou Daichi-kun," jawabnya pelan seraya membetulkan letak jaket Daichi di bahunya.

"Hey," panggil Chizue setelah beberapa detik sempat hening, "apa kau sudah punya pacar?" tanyanya sambil menyikut Daichi. Wajahnya Nampak kembali memperlihatkan senyuman.

"Aku?" Daichi menunjuk dirinya sendiri.

Chizue mengangguk antusias.

"Apa kalau aku punya pacar kau akan cemburu?" Daichi balik bertanya dengan nada jahil.

"Yang benar saja!" jawab Chizue sok galak namun tampak menahan tawa.

"Untuk sekarang ini tidak, aku sedang dalam masa pencarian," Daichi tersenyum kecil seraya memandangi langit.

Chizue ikut tersenyum. Ia sudah tidak tahu harus mengatakan apa, dan matanya juga ikut mengadah memandangi angkasa. Dua orang itu kembali terdiam, kali ini untuk waktu yang cukup lama. Keduanya larut dalam fikiran masing-masing.

"Nona, kau fikir sampai kapan kita bisa melihat Tokyo seindah ini?" tanya Daichi yang memulai kembali pembicaraan.

"Entahlah," Chizue mengangkat bahu, "kalau Dark Dragon berhasil mendapatkan bom itu, kita tidak akan bisa melihat pemandangan indah ini lagi kan," ujarnya yang mengerti kemana arah pembicaraan Daichi.

"Sebelum itu terjadi kita akan menghancurkan mereka bukan?" Daichi menoleh kearah Chizue.

"Tentu saja, cukup keluarga kita saja yang nyawanya mereka renggut, orang-orang lainnya tidak perlu mengalami itu."

"Hm," Daichi bergumam pelan, "kita pasti menang," lanjutnya.

Chizue mengangguk setuju, "kita akan mengalahkan mereka," bisiknya.

Untuk selanjutnya mereka berdua kembali menikmati kedamaian kota Tokyo. Seolah tak ingin melewatkan satu detikpun pemandangan indah itu.

Saat kita menang, aku berharap aku masih bisa berdiri di sampingmu seperti malam ini, Daichi berharap dalam hati.

Chapter 10 end


Udah update-nya lama, ceritanya cuma kayak gini, huhuhuhu… Maafkan saia minna. Tapi chap depan crime dan romance-nya bakal muncul lagi. Tadinya mau saia jadiin satu sama chap ini, tapi ternyata kepanjangan, jadi ya sudahlah.

Fic ini kado special buat ultah saia dan Mitama134666 tanggal 15 kemaren-telat sehari taka pa yah, Happy Birthday Mitha-chan~*tiup lilin berdua*

Oh iya minna…. Bisakah saia minta tolong, buat epilog Wakareru? Kenurut readers semua anak Hiruma dan Mamori nanti cewek apa cowok? Dan kalau mau, kasih namanya juga boleh. Makasiiih banyak sudah menyempatkan mampir kesini. Mohon review-nya… dan sampai jumpa secepatnya~