.
Chapter 10 : Our Reunion After 10 years
.
Maria's Inner-Heart…
Aku kembali masuk ke ladang bunga tempat Eve berada.
"datang juga kau".
Saat aku melihat ke arahnya, Eve tengah memancarkan aura membunuh "wah, wah, garang sekali ekspresimu".
"kau pikir ekspresiku kaya gini gara-gara siapa, hah!".
Tentu saja, Eve memarahiku selama beberapa menit akibat tindakan nekadku tadi "kalau kau mati, kita tak bisa melindungi orang yang kita sayangi dan tak ada yang bisa kita lakukan lagi, kan? Pikirkan perasaan orang, dong! Dasar bodoh!", Eve meneteskan air matanya dan memelukku "syukurlah kau masih hidup".
Aku balas memeluknya "iya, maafkan aku, Eve. By the way, sebelum aku pingsan, Frau membisikkan sesuatu dan aku nggak salah dengar tadi, kan?".
"tidak, aku juga mendengarnya dengan jelas. Ia jelas-jelas mengatakan, jangan tinggalkan aku, Marygold".
"Marygold, hanya kedua kakakku yang mengetahui nama asliku itu. Tapi bisa saja ia mengetahui itu dengan cara membaca ingatanku, kan?".
"itu tidak mungkin, Maria. Karena kau reinkarnasiku, kekuatan para ghost tidak bisa menghapus ataupun mengunci ingatanmu, apalagi menyentuh. Lagipula, aku sudah menaruh perangkap bagi orang yang berani mengutak-atik ingatanmu" ujar Eve penuh keyakinan dengan senyum dan aura yang cukup membuat keder.
"uh, okay, I know you're so scary now… jadi, hanya kita yang bisa mengutak-atik ingatan kita, dan jika ada orang lain yang ingin melihat ingatan kita, itu pun harus ada ijin dari salah satu di antara kita?".
"tepat sekali, seluruh ingatanmu mulai dari lahir sampai kini, kaulah yang memegang kuncinya. Aku hanya bisa membantu membuka kuncinya. Begitu pula sebaliknya denganku".
Keesokan harinya...
Aku membuka mataku dan merasakan kehangatan di sisi kanan tubuhku. Aku melihat Lime yang tertidur dengan selimutnya. Aku mengelus kepala Lime dan ia terbangun "ah, maaf, aku membangunkanmu, ya…".
Tiba-tiba Lime menangis tanpa suara dan aku tak tahu harus berbuat apa "Lime, kamu kenapa?".
Lime tidak menjawab pertanyaanku dan memelukku sambil menangis dengan keras. Saking kerasnya, Wieda dan Hakuren sampai terbangun.
"akhirnya bangun juga" ujar Hakuren menghampiri kami.
Wieda menepuk-nepuk kepala Lime yang masih menangis "sudahlah, Lime. Yang penting, sekarang Maria-kun sudah sadar kan?".
Lime masih menangis sambil memelukku "hiks… habisnya… aku takut sekali… kupikir… akan seperti ibu…".
Hakuren duduk di sampingku dan menceritakan soal kejadian yang menimpa orang tua Wieda dan Lime. "setiap orang pasti memiliki luka, karena itulah, saat kau siap, ceritakan padaku" bisik Hakuren padaku dengan tatapannya yang lembut.
Aku memegang pipi Lime sambil menghapus air matanya "Lime, lihat aku. Aku baik-baik saja, kan? Walau terluka, aku masih hidup. Karena itu, tidak usah takut lagi. Terima kasih karena mencemaskanku. Sekarang, jangan nangis lagi, ya?".
Maria menatap lembut Lime sambil tersenyum. Bagi Wieda, Lime dan Hakuren, itu adalah senyum yang pertama kali mereka lihat dari Maria. Sambil memeluk Maria, Lime berusaha menghentikan tangisannya.
"Maria-kun. Terima kasih karena telah menyelamatkan adikku" Wieda tersenyum lebar sambil menjabat tanganku.
Aku agak kesulitan menata rambutku dengan sebelah mata saja sehingga Hakuren membantuku.
"…ng? bunga Lantana di tengkuk lehermu ini tattoo, ya?".
"bukan, ini tanda lahir".
Setelah kami berempat selesai sarapan, kami segera pergi ke perpustakaan. Saat aku hendak menaruh buku yang letaknya cukup tinggi, Hakuren mengambil buku itu dari tanganku dan meletakkannya sambil berdiri di belakangku "sini, biar aku saja, aku tidak mau kamu tumbang lagi gara-gara darah rendah", Hakuren mengambil buku-buku yang kupegang dan terus berada di sampingku.
Diperlakukan lembut seperti sekarang oleh Hakuren, mengingatkanku dengan perubahan perilaku Souichirou padaku setelah peristiwa 3 tahun lalu. Tiba-tiba, ada seorang uskup dengan mata dan rambut biru (Haruse yang menyusup) mendekati kami. Saat Castor menyapanya, uskup itu melemparkan sebuah pass uskup padaku dan menyampaikan perkataan uskup pemilik pass yang kupegang ini "seorang uskup menitipkan itu padamu dan berpesan, ingatlah aku, namaku Fair Kreuz. Satu lagi, Maria Klein, order tidak akan pernah memihakmu".
Saat uskup itu berusaha menyerangku, Hakuren spontan memelukku dan membuat shield. Castor menyerang uskup itu dengan benang-benang yang keluar dari tangan kirinya. Rupanya pria barusan cuma boneka. Setelah itu, Hakuren melepaskan shield yang mengelilingi kami dan melepaskan pelukannya dariku. Tanpa kusadari, Frau dan Labrador menghampiri kami demi memastikan kami bertiga baik-baik saja. Aku sangat mengenal uskup yang disebutkan tadi.
"uskup Fair Kreuz…" gumamku.
"oh, Fathermu, epp…" sahut Frau yang keceplosan dan spontan menutup mulutnya.
Tentu saja aku terkejut karena aku tidak pernah menceritakan soal Father pada siapapun kecuali soal janjiku pada Father "darimana anda tahu, Frau-san?".
Frau tak menjawab pertanyaanku dan malah memalingkan pandangannya dariku.
Hakuren menepuk bahuku "ada apa?".
Entah kenapa, darahku naik ke kepala dan aku menepis tangan Hakuren "mau sampai kapan kau menyembunyikan hal yang semestinya kau jelaskan hanya karena takut, dan saat didesak malah kabur. Pengecut juga ada batasnya, Frau!".
Aku bergegas keluar.
"Maria!", Hakuren mengejarku sambil terus memanggilku namun aku sama sekali tidak menghiraukannya dan tetap berlari.
Castor memukul Frau "Frau, kenapa malah diam? kejar dia! Kau takkan tahu kalau belum mencoba kan!".
"berisik, tanpa kau suruh pun, aku sudah tahu apa yang harus kulakukan, kok" Frau langsung mengejar Maria.
"dasar, jujur aja susah banget sih".
Labrador tersenyum "kau sengaja kan, Castor? Supaya Frau bisa jujur, kau memang teman yang baik".
"sudahlah Labrador, lebih baik kita susul mereka" sahut Castor dengan wajah tersipu karena malu.
Aku tahu, tidak seharusnya aku bicara seperti tadi, tapi tetap saja aku tidak suka karena dia tahu lukaku dan seenaknya masuk ke dalam hatiku, tanpa mengijinkanku menyentuh luka dalam hatinya. Kalau memikirkan itu, rasanya aku sangat kesal dan ingin menangis. Aku terus berlari hingga Hakuren berhasil menyusulku dan menggenggam lenganku. Aku membalikkan tubuhku menghadap ke arahnya dan ia langsung meminta maaf padaku karena ia memelukku saat hendak melindungiku dari pria barusan.
"kau tidak perlu minta maaf karena yang tadi kau lakukan saat hendak melindungiku, kan? Aku justru berterima kasih padamu".
Hakuren menghela napas lega "thanks, kukira kau marah karena aku memelukmu tadi".
"aku marah pada Frau kok, bukan padamu".
"kok kamu cuma manggil nama?".
Ketiga suster menyapa kami sehingga obrolan kami terputus. Setelah memberitahuku bahwa ada yang mencariku, ketiga suster itu pamit. Aku meminta Hakuren untuk menemaniku ke tempat yang kusukai.
Di Ruang Misa…
Saat sampai di ruang misa ini, tidak ada siapa-siapa disana karena sudah sore (biasanya sudah ditutup untuk umum). Hanya kami berdua disini.
Hakuren duduk di sampingku "apa yang membuatmu marah pada Frau-san?".
"bukan, aku cuma… tidak tahu harus bagaimana, dia minta aku percaya padanya dan jujur, sementara dia sendiri malah menyembunyikan sesuatu dariku".
"kau takut?".
Maria tak menjawab apapun sehingga Hakuren menepuk kepala Maria "baik, aku tak tahu apa yang terjadi, tapi aku berjanji akan selalu berpihak padamu, tidak peduli meski harus dimusuhi oleh seluruh orang di dunia sekalipun".
Aku terkejut karena ia mengatakan hal yang sama dengan Mikage dan dari pandangan matanya, aku tahu bahwa ia sungguh-sungguh "kamu ngomong apaan, sih?".
Awalnya Hakuren kesal karena ucapannya yang serius ditanggapi dengan dingin oleh Maria yang memalingkan wajahnya namun saat menyadari Maria berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah dari kuping Maria yang memerah, Hakuren tersenyum simpul "kenapa kau suka disini?".
Aku menceritakan alasanku bahwa saat berada disini aku selalu teringat pada Father yang menyayangiku dan tempat yang bisa membuatku tenang ini biasa kukunjungi jika aku merasa gundah seperti sekarang ini "uskup Fair Kreuz adalah Father yang mengasuhku dan bagiku yang ingatan masa kecilnya samar-samar, hanya kehangatan yang kurasakan di tempat inilah kenangan terkuatku akan Father yang sudah kuanggap seperti ayahku sendiri".
"…maaf, aku tidak tahu apa-apa, tapi aku malah seenaknya berpikir dan mengatakan hal yang tidak-tidak. Karena itu kumohon jangan lagi memasang wajah merana yang menahan tangis seperti tadi. Jujur, aku nggak tahan melihatmu seperti itu".
"untuk apa kau minta maaf? Yang tadi itu bukan salahmu. Seharusnya aku yang minta maaf karena tadi aku bersikap kekanakan".
"tidak, kok. Aku mengerti kalau kau kesal. Menunggu hal yang belum jelas sampai membuat dilema memang menyebalkan".
Kami berdua tertawa geli karena berpikiran yang sama.
Tiba-tiba, Frau masuk dan segera menyeret Maria dengan menggandeng tangan Maria menuju sebuah lorong menuju Jembatan cobaan.
"kau ingat tempat ini, kan?".
"untuk apa kau membawaku kembali kesini?".
"perhatikan dinding dan lantainya baik-baik".
Saat Maria memperhatikan dinding dan lantai di ruangan ini dengan seksama, ruangan ini penuh dengan tulisan yang ditorehkan seseorang dengan zaiphon.
"ini…".
Sambil menyentuh tulisan di lantai, Maria menyadari bahwa semua tulisan yang berisi kata-kata penyemangat dan ungkapan kasih sayang dari seseorang yang tidak lain adalah Mikage.
"hiduplah apapun yang terjadi".
"maafkan aku".
"aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu".
"I Love You, Maria".
"dia tak pernah menyalahkanmu atas apa yang terjadi. Yang ia pikirkan hanyalah apa yang bisa ia lakukan agar kau bisa tetap hidup" sahut Frau. Frau mendekati Maria yang terduduk lemas di lantai "Maria, kau itu anak yang cerdas. Sebenarnya tanpa kami beritahu pun, kau sudah dapat jawabannya, kan? Saat kami menanyakan apa yang akan kau lakukan selanjutnya, saat itu aku menyadarinya, bahwa kau sudah tahu jawaban atas semuanya. Tapi kau tidak menangis sampai sekarang dengan alasan janjimu padanya, bahkan kau menutup diri dari kami".
"tahu apa kau tentang kami?".
Hakuren merasa suasananya mulai aneh karena ia mendengar suara Maria barusan terasa bergetar.
"…yang aku tahu, saat ini kau sedih karena kehilangan orang yang berharga bagimu".
Maria menegadahkan pandangannya ke arah Frau dan Hakuren terkejut karena baru kali ini ia melihat ekspresi Maria berubah drastis, dimana ekspresi Maria saat ini terlihat sangat tersiksa dengan mata berkaca-kaca, seakan air matanya siap jatuh kapan saja. Saat Hakuren hendak menghampiri mereka berdua, Castor dan Labrador menahannya.
"…percuma saja, menangis pun, orang-orang yang kusayangi tak akan kembali lagi padaku, kan? jangan berkata seakan kau tahu segalanya, Frau! Pada kenyataannya, semua orang yang kucintai selalu pergi meninggalkanku…".
Sementara Hakuren, Castor dan Labrador yang bersembunyi di balik tembok melihat Maria yang hampir menangis, Frau tidak berkata apa-apa lagi dan memeluk erat Maria "…memang, tapi paling tidak, jangan lupa untuk bersandar pada orang di dekatmu pada saat kau merasa lelah dan tidak tahan lagi. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa ada di sampingmu, tapi paling tidak, selama aku masih ada disisimu, aku akan terus melindungimu dan kau bisa bersandar padaku. Semua ucapan dan tindak-tandukmu ini, karena kau takut kan? Kau sengaja karena kau takut kalau kejadian yang sama terulang kembali, juga agar kau tidak perlu bersedih jika kehilangan lagi, kan?".
Maria terduduk lemas sambil menahan air matanya yang mulai menetes "berisik! berhenti peduli padaku karena hal itu hanya akan menggangguku!".
"aku tak bisa melakukannya, meskipun kau yang memintaku".
"kenapa?".
Frau duduk bersimpuh di depan Maria dan mempererat genggaman tangannya "…karena kaulah adikku yang kucari selama ini …".
Maria terkejut mendengar ucapan Frau "apa bukti…".
"bukti? Control-type zaiphonmu itu dan tanda lahir berbentuk bunga Lantana, bunga yang paling disukai Ibu yang terletak di tengkuk lehermu, lalu…", Frau mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya, sebuah liontin berbentuk telur. Frau memberikan liontin berbentuk telur itu ke tangan Maria. Saat dibuka, terdengar lantunan musik yang indah dan di dalamnya terdapat malaikat kecil yang berputar. Rupanya liontin itu semacam kotak musik "liontin pemberian Ibu sebelum Ibu tidak bisa bergerak lagi. Saat itu, Ibu berpesan padaku agar aku memberikannya padamu saat kau sudah dewasa, dan aku juga berjanji pada Ibu untuk menjagamu, Maria".
Saat Maria hendak mengembalikan liontin itu, Frau mengalungkan liontin itu pada Maria "kini, giliranmu untuk memegangnya".
Saat melihat liontin ini, kepalaku terasa berdenyut sehingga aku refleks menggenggam kepalaku "…KH!...".
(flashback begin)
kakakku yang berambut putih berdiri di sampingku sambil mengelus kepalaku dan yang pirang berlutut di depanku.
Sambil mengelus kepalaku, ia berkata "aku berjanji atas nama dewa, saat aku sudah lebih kuat dari sekarang dan bisa melindungi kalian, aku pasti akan menemui kalian dan sampai saat itu tiba, teruslah hidup dan pertahankan cahaya yang ada di dalam diri kalian".
"janji ya kak", aku menghentikan tangisanku.
Kami bertiga melakukan 'janji genggaman tangan' bergantian dan menyentuhkan dahi kami bertiga satu sama lain. Pemandangan berganti, saat aku pertama kali mengeluarkan offensive-type zaiphon, sialnya zaiphonku menghantam pohon besar dekat situ dan jatuh ke arahku. Saat kukira aku akan tertimpa dan menutup mataku, anehnya aku tidak merasa sakit sama sekali. Saat kubuka mataku, ternyata kakak sulung melindungiku. Setelah pohon itu berhasil disingkirkan oleh Father dan 3 prajurit (Ak-kun, Ma-kun dan Ka-kun), aku menggenggam kepala kakak sulung yang berlumuran darah dan berhasil mengeluarkan healing-type zaiphon untuk pertama kalinya. Sayangnya, luka itu berbekas, berbentuk sambaran petir, letaknya di tepi rambut. Aku ingat dengan jelas wajah kakak sulungku itu.
(flashback end)
Untuk memastikan ingatanku benar atau tidak, aku menggenggam kepala Frau dan menemukan bekas luka berbentuk sambaran petir di tepi rambutnya "…bekas luka akibat tertimpa pohon ini… benar-benar kak Frau?".
Frau tersenyum lembut "Ini buktinya, yang tahu betul letak luka ini dan penyebabnya hanya adikku, lho".
"kalau begitu, kenapa nggak ngomong dari kemarin?".
"yah, itu… ada beberapa kendala dan aku takt ahu bagaimana reaksimu. Maafkan aku, selama 10 tahun ini, aku tak ada di sampingmu sementara kau benar-benar menderita. Sudah cukup, kan? sekarang, luapkan saja semua perasaanmu, apapun itu. kesedihan, kemarahan, semuanya".
Aku melingkarkan kedua lenganku di leher Frau dan memeluknya "…aku tahu, aku tidak boleh larut dalam kesedihan terus-menerus, tapi tetap saja, meski pikiranku menuntutku untuk terus hidup, hati kecilku terus berteriak bahwa gara-gara aku, Ayah, Father, bahkan Mikage… kenapa orang baik seperti mereka harus pergi?".
"…apa pernah kau menginginkan ini terjadi pada Mikage? Apakah kau pernah menginginkan hal ini menimpa kalian berdua?".
Aku menatap Frau "tidak! memikirkannya pun tidak pernah!".
Frau tersenyum dan mengelus kepalaku "tuh, kan? kalau begitu, jangan kau pikirkan. Jangan menyalahkan dirimu atas hal yang bukan tanggung jawabmu dan tidak kau kehendaki. kau itu memang anak yang kuat. Tapi sekuat apapun, kau tetap perempuan berusia 15 tahun. Sebrengsek apapun dunia ini, bertahanlah dan jangan kau hilangkan cahaya dalam dirimu. Kau bebas menjalani hidupmu dengan jujur kemanapun dan kapanpun kau mau. Kau boleh menangis, jangan berhenti berjalan dan teruslah jalani hidupmu".
Setelah mendengar ucapan Frau, Maria berusaha menghentikan air matanya saat air matanya mulai mengalir dari mata kirinya yang melihat Rosario milik Frau. Rosario yang agak berbeda dengan milik uskup lain karena warnanya yang hitam, Rosario pemberian Ayah mereka sebelum mereka pergi meninggalkan rumah "…maaf, kak. Rosarioku hilang, padahal itu petunjuk penting agar aku bisa menemukan kakak, juga peninggalan dari Ayah…".
Frau menurunkan Maria di atas balkon dan duduk di samping Maria sembari menyapu air mata Maria "…sudahlah, lebih baik ceritakan apa yang terjadi pada kalian berdua sampai kalian berdua terpisah?".
Aku menceritakan kejadian yang terjadi sejak kami bersembunyi di reruntuhan gereja "lalu, saat berlari di dalam hutan, pundakku terserempet peluru sehingga tubuhku terlempar ke jurang dan aku terpisah dengan kakak".
Setelah garuk-garuk kepala, Frau menghela napas dan mengelus kepala Maria "…lebih rumit dari yang kukira. Kalau begitu, nanti kita cari dia sama-sama. Lagipula, aku yakin anak keras kepala itu pasti tidak akan mati semudah itu".
Maria tertawa geli "sempat-sempatnya ngomong gitu".
Frau tertawa sambil melirik Maria "nah, gitu dong. anak perempuan itu bagusnya senyum dan tertawa, jangan pasang tampang murung terus".
Awalnya Maria tersipu karena ucapan Frau, tapi perasaan ini segera berganti karena ucapan Frau selanjutnya.
"Iya nggak, Hakuren?" sahut Frau dengan senyum usil.
"betul, epp…" jawab Hakuren refleks yang melirik ke sampingnya dan menemukan bahwa Castor dan Labrador yang sudah kabur duluan "pengkhianat!".
"hah?!", Maria langsung melihat ke balik tembok dan menemukan Hakuren yang menutup mulutnya dengan kedua tangannya sambil bersandar di tembok "kamu lihat yang tadi, ya?!".
Melihat Maria yang tersipu malu, Hakuren jadi ingin usil sedikit "yap, kenapa nggak sekalian nangis aja, sih? nggak usah gengsi di hadapan kakak sendiri".
"sejak kapan kamu…?".
"dari awal sampai akhir. Sisimu yang barusan manis juga" sahut Hakuren terkekeh.
Maria terkejut dengan wajah memerah "jangan mengejekku!?".
Saat Maria kabur dengan wajah memerah, Hakuren mengejarnya karena ingin melihat wajah Maria yang menurutnya 'manis' itu dan jadilah 'kejar-kejaran antara Maria dan Hakuren' (entah yang keberapa kali).
"…ya, ampun", Frau hanya geleng-geleng kepala, niat awalnya membongkar persembunyian Hakuren semata-mata untuk menggoda Maria (dasar guru-murid sama aja). Frau menoleh ke belakang dan melihat Castor dan Labrador yang nongol dari tikungan yang berlawanan arah dengan arah Maria dan Hakuren pergi "ye…ternyata sembunyi disitu?".
Castor menghampiri Frau "lalu, bagaimana hasilnya?".
"yah, aku nggak puas karena dia nangis sedikit, bahkan itu karena ia senang karena bertemu denganku. Melenceng dari tujuanku".
Castor memiting leher Frau "kamu tuh, biasanya kakak yang baik menjaga adiknya, bukannya malah bikin adiknya nangis!".
"give up, give up! Ini demi dia, tahu!".
Labrador menghampiri Frau dan Castor "Frau, kejar Maria, sekarang!".
Castor melepaskan Frau "ada apa tiba-tiba, Lab?".
"ramalanku mengatakan, sebentar lagi Maria akan bertemu dengan orang penting baginya yang kukatakan kemarin! dia…".
Mendengar siapa sebenarnya orang itu dari Labrador, Frau langsung ambil langkah seribu mengejar Maria disusul Castor dan Labrador yang penasaran dengan orang itu.
Taman Pusat Order…
Saat kejar-kejaran di lorong, Maria menabrak seseorang karena berjalan tanpa melihat sekeliling "ah, maafkan aku, permisi".
Laki-laki yang kutabrak (dari bajunya, sepertinya salah seorang peserta ujian) menarik tanganku "wajahnya diperban, kau gadis yang semalam ada sesuatu dengan Frau-san, kan?".
Aku tidak tahu bagaimana wajahku sekarang dan aku tak ingin orang lain melihatku saat ini "tolong lepaskan tanganku!".
Seseorang melepaskan genggaman laki-laki itu secara paksa saat aku menutup mata. Saat aku membuka mataku, di depanku ada sebuah punggung yang lebar berdiri melindungiku.
"apa yang kau lakukan dengan gadis yang sedang terluka ini?" ujar Hakuren dengan napas terengah-engah.
"well, aku hanya penasaran, dengan cara apa ia merayu Frau-san sehingga bisa dapat bascule Frau-san dan masuk ujian ini" ujar anak laki-laki itu.
"maaf ya, tapi aku tahu betul, gadis ini bukan anak seperti itu".
Maria menutupi wajahnya yang memerah dan berusaha tenang "Hakuren… terima kasih".
Hakuren menoleh ke arah Maria yang menggenggam erat lengan bajunya. Hakuren tersenyum lembut sambil mengelus kepalaku "aku sudah janji, kan?".
"hei, jangan cuekin kami dan masuk ke dunia kalian berdua, dong!" ujar anak laki-laki yang kutabrak tadi.
"ini tempat suci, aku tidak mau berkelahi. Yah, kalau kau memaksa, akan kuladeni. Tapi jangan libatkan gadis di belakangku ini, muka gagal" ujar Hakuren sambil pasang badan di depanku.
Wajahku terasa panas mendengar perkataan Hakuren.
Dari belakang, Wieda dan Lime muncul dan berusaha melerai mereka.
Tiba-tiba, dari depan tangga di samping mereka muncul seseorang tak terduga yang memanggil namaku "Maria!".
Aku tahu betul pemilik suara serak dan berat yang khas ini. Saat kami semua menoleh ke arah suara tadi, kami melihat seorang laki-laki berseragam militer bertubuh tinggi dengan rambut putih dan mata biru langit "Souichirou…".
Hakuren dan empat orang yang ada disitu spontan melirik ke arah Maria.
"kenalanmu?" ujar Hakuren.
Tanpa aba-aba, Souichirou menghampiri dan memelukku "hal pertama yang ingin kulakukan saat menemukanmu adalah memarahimu, tapi sekarang… aku hanya bisa bilang terima kasih karena telah bertahan hidup, Mary-chan".
Setelah mencium keningku, Souichirou memberikan Rosario milikku yang kukira hilang, dan aku lebih terkejut karena Souichirou mengenakan Rosario yang sama dengan milikku, tergantung di lehernya. Kepalaku nyeri dan ingatanku saat aku jatuh dari tebing kembali. Aku melihat dengan jelas wajah kakakku itu selain rambut putihnya. Warna mata biru langit dan suara serak yang memanggilku saat aku terjatuh ke tebing "Marygold!", juga saat aku bersama kedua kakakku bermain kejar-kejaran di tengah salju yang turun di kampung halaman kami.
Aku balas berbisik "…Kak Ichi?".
Souichirou tersenyum, sambil memeluk dan mengelus rambutku "maafkan aku, karena aku tidak ada disampingmu saat 'dia' meninggalkanmu, padahal kau ada disampingku di saat 'gadis itu' pergi meninggalkanku".
Aku melihat tatapan mata yang sama dengan 2 tahun yang lalu "yang kau maksud 'dia' itu siapa?".
"kau tak perlu menutupinya, aku sudah lihat nisan di kompleks pemakaman yang baru-baru ini ada disitu. Sudah cukup, jangan kau tahan lagi tangisanmu. Maafkan aku".
Aku menggelengkan kepalaku "kh… seharusnya aku… yang minta maaf".
Souichirou tersenyum sambil memelukku "maaf, aku membuatmu menunggu sendirian selama 9 tahun ini".
Aku menyembunyikan wajahku di dadanya "tidak apa-apa… kau masih hidup dan menemuiku, itu saja sudah cukup…. Syukurlah, kau masih hidup… kakak".
"KAKAK!?" teriak Hakuren, Wieda dan lime bersamaan.
Melihat pertemuan kami, Lime menangis karena terharu, sedangkan Hakuren bernapas lega "kakaknya, toh. Apa boleh buat… loh?" dan Wieda tersenyum sambil menatap lembut Maria.
"syukurlah kau sehat, Souichirou" ujar Frau yang berdiri di belakang Souichirou.
"kau…", setelah melepaskan pelukannya dariku, Souichirou menyerang Frau dengan zaiphonnya meski gagal.
"jangan lari, brengsek!", satu kepalan Souichirou sukses mendarat di wajah Frau.
Maria memeluk Souichirou dari belakang untuk menghentikannya "hentikan, kak! Apa-apaan kau? Kenapa tiba-tiba menyerang Frau-san?".
Souichirou yang geram menyuruh Maria untuk melepaskannya "Maria… apa kau tidak ingat? Orang ini adalah…".
"aku ingat, kak! Justru karena dia kakak kita, dia kakakku juga, sebagai adikmu aku harus menghentikanmu!".
Sambil menggaruk kepalanya, Souichirou menghela napas panjang "baiklah, maafkan aku, Maria. Aku lupa tujuan semula dan naik darah begitu bertemu orang ini. Padahal aku datang kemari untuk menemuimu, atas permintaan Mikage semalam".
"apa katamu tadi… Mikage yang…".
Souichirou mengambil anak Fyurung pemberian Kal yang muncul di kepalanya dan memberikannya pada Maria "iya, benar kok. Terserah kalau orang menganggapku gila atau semacam itu. Mikage yang membimbingku kemari, agar dia bisa bertemu lagi denganmu, nih".
Sambil menggenggam anak Fyurung itu, Maria memanggil anak Fyurung itu "…Mikage?".
"burupya!", Anak Fyurung itu tersenyum dan langsung akrab dengan Maria.
Maria tersenyum saat anak Fyurung itu menjilat-jilat pipinya "geli, ah… Souichirou, terima kasih".
Souichirou menatap tajam ke arah dua anak lelaki itu "ah, lalu… apa yang dilakukan dua anak lelaki paling belakang itu padamu?".
Sementara Maria meyakinkan tak terjadi apa-apa, kedua anak lelaki yang terlanjur ketakutan melihat Souichirou yang berseragam militer langsung ambil langkah seribu.
Maria's POV…
Yang jelas, aku bersyukur karena Souichirou mau berhenti menghajar kak Frau (juga tak menghajar dua anak lelaki tadi).
"jadi dia adikmu?" tanya Castor.
Setelah kak Frau mengiyakan pertanyaan Castor-san, kulihat Souichirou menatap tajam kak Frau "huh, masih disini?".
"kau dibenci, rupanya" sahut Castor-san sambil tersenyum sinis.
Kak Frau masang wajah setengah memelas "aku ngerti, kalau kau marah dan membenciku, silahkan. Tapi aku harus apa supaya kau mau memaafkanku?".
"berikan penjelasan yang bisa kuterima atas kesalahan yang kau buat 9 tahun yang lalu".
Kak Frau tidak langsung menjawab pernyataan Souichirou. Entah aku salah lihat atau tidak, tapi aku merasa ekspresi kak Frau yang sempat membeku barusan menyiratkan seolah ia menahan kepahitan "itu… maaf, aku tak bisa jelaskan kenapa. Yang bisa kukatakan saat ini, maafkan aku karena telah meninggalkan kalian berdua selama 10 tahun ini dan membuat kalian menderita".
Jawaban kak Frau barusan membuat Souichirou tak puas (tentu saja). Tiba-tiba, kak Frau melihat ke arah langit "…Hakuren, Souichirou, Maria, aku ada urusan sebentar. Oh iya, satu lagi, Hakuren. Tolong pinjamkan bajumu pada Souichirou. Tidak mungkin dia pakai baju seragam militer itu disini".
Setelah trio bishop itu meninggalkan kami, akhirnya kami bertiga ngobrol di depan kamar yang kami tempati saat ini. Sementara Hakuren dan Souichirou ngobrol, aku memikirkan apa sebenarnya yang terjadi 9 tahun lalu, sampai membuat Souichirou histeris begitu?
Maria's POV End…
