Session Talkshow

Akira : Apa kabar minna. Di session talkshow ini saya menggantikan author yang lagi disate sama Kazusa.

Karin : Heh, memangnya author salah apa?

Akira : Nggak tahu, salahnya banyak sih. Jadinya nggak tahu karena saking banyaknya. (-_-")

Karin : Kita berdua saja nih Akira.

Akira : Iya, memangnya kamu maunya sama siapa. Sama Kazune.

Karin : (langsung nge-blush)

Akira : Nanti mereka ada kok waktu sesi balas review. Untuk pembukanya cukup kita berdua saja.

Karin : Ya sudah deh nurut saja.

Akira : Minna, berhubung chapter kemarin (menurut author) alurnya sedikit kecepatan. Maka chapter ini alurnya diperlambat dan akhirnya saking lambatnya chapter ini dibagi dua part. Dan ini part satunya.

Karin : Oh ya sebelum kalian baca chapter ini. Kita berdua dititipin sama author buat ngasih beberapa penjelasan.

Akira : Seharusnya penjelasannya ini sudah dikasih sejak awal chapter tapi berhubung author punya penyakit lupa. Jadinya ya baru dikasih sekarang karena mulai chapter ini sampai seterusnya bakal banyak hubungannya.

Karin : Oke, kita mulai (sambil menjetikkan jari)

Ctik

Tiba-tiba saja ruangan menjadi gelap gulita dan muncul layar lengkap dengan proyektornya.

Akira : Baiklah, kita mulai (sambil memencet remot)

Bella : Kazusa lepasin nggak, kau mau cari mati. Heh!

Kazusa : Sudah diem, cerewet banget sih. Himeka, lepasin serangganya!

Himeka : (langsung melepaskan kotak yang berisi banyak kecoa)

Kazune : Huwaa… serangga! (langsung kabur)

Bella : Kazune, jangan tinggalin Bella! Hiiyyy, aku benci serangga (sambil jerit-jerit nggak karuan)

Micchi : Benci atau takut sih.

Karin : Akira, kenapa yang muncul rekaman author yang disiksa -_-

Akira : Egh salah pencet. Oke yang benar ini (langsung memencet remot)


Vampir dibagi menjadi 4 ras atau tingkatan yaitu :

1. Black Rose atau biasa disebut vampir berdarah murni. Ras ini merupakan tingkatan paling tinggi dalam dunia vampir dan merupakan pimpinan bangsa vampir. Semua vampir dibawahnya wajib mengikuti semua perintahnya. Yang termasuk dalam ras ini adalah keluarga Kujyou antara lain Kazune, Kazusa, dan Himeka.

2. Vampir Bangsawan atau biasa disebut vampir kalangan atas. Vampir ini merupakan vampir yang dalam garis keturunannya sudah bercampur dengan darah manusia. Yang termasuk dalam ras ini adalah keluarganya Jin dan Micchi.

3. Vampir Berdarah Campuran atau bahasa inggrinya Half Blood Vampire. Ras ini merupakan golongan manusia yang sudah dihisap darahnya oleh ras Black Rose maupun Vampir Bangsawan hingga meninggalkan bekas kutukan karena terlalu banyak dihisap darahnya. Dalam jangka waktu tertentu, ras ini akan berubah menjadi oni jika tidak mendapat asupan (?) darah dari Black Rose maupun Vampir Bangsawan. Yang termasuk dalam ras ini adalah Akira.

4. Oni muncul jika manusia yang sudah berubah menjadi vampir tapi tidak mendapat asupan darah dari vampir. Dalam tingkatan ini, vampir sudah tidak memiliki kesadaran dan haus akan darah. Sehingga dikenal dengan sebutan monster atau oni.

Manusia membentuk sebuah organisasi untuk memberantas vampir yang dikenal dengan sebutan HUNTER. Tugas hunter adalah untuk memburu vampir lalu membunuhnya. Yang termasuk dalam hunter adalah keluarganya Karin, Miyon, Yuuki, dan Akira.


Akira : Yap, itulah penjelasan dari author. Semoga kalian bisa memahaminya.

Karin : Dan selamat membaca minna.


Title : Vampire Game

Chapter 10 : Full Moon part 1

Disclaimer : Kamichama Karin Chu © Koge Donbo

~Vampire Game~ © Bella-chan

Rated : T

Genre : Fantasy ; Mystery

Pairing : KazuRin

Warning : AU, OOC, typo, abal, gaje, alur kenceng, nggak nyambung, dll

Summary : "Entahlah aku tak tahu. Membiarkannya salah, mencegahnya juga salah. Rasanya semuanya serba salah." / "Iya sih, kurasa kau benar. Tapi akhir-akhir ini oni banyak bermunculan, dan banyak vampir yang mati." / "Jangan bilang kalau Akira pelakunya." / "Biasanya di malam full moon, vampir-vampir dan oni-oni berkeliaran untuk mencari mangsa."

.

.

Please Enjoy Reading

.

.

~Vampire Game~

Miyon POV

Aku hanya bisa menghela napas berat setelah melihat kepergian Akira. Sebenarnya aku tahu dan paham sekali mengapa Akira sampai berbuat sejauh ini. Tapi, tetap saja ini salah karena sejak awal ini semua memang sudah salah.

"Apa kau akan membiarkannya?" Tiba-tiba saja aku mendengar suara seseorang. Suara yang sudah amat aku kenali. Itu suara Yuuki.

Aku langsung mencari sosok Yuuki dan aku menemukannya sedang duduk di atas pintu yang menuju ke atap.

"Sejak kapan kau ada disana?" tanyaku sambil berkacak pinggang.

"Sejak kalian berdua berdebat tentang sesuatu yang tidak penting," jawabnya sambil melompat turun.

"Jadi kau menguping pembicaraan kami," ucapku sedikit kaget.

"Kurang lebih seperti itu. Tapi hei jawab pertanyaanku tadi, apa kau akan membiarkannya?" tanya Yuuki mengulangi pertanyaannya tadi.

Meski pertanyaan yang dilontarkan tidak terlalu jelas, tapi aku mengerti apa yang sedang ditanyakannya. "Entahlah aku tak tahu. Membiarkannya salah, mencegahnya juga salah. Rasanya semuanya serba salah," ucapku bingung.

Yuuki hanya terdiam mendengar perkataanku. Sepertinya ia mengerti apa yang kumaksud. Akhirnya ia membuka suaranya, "Kenapa seperti itu?"

"Karena yang dikatakan Akira tadi benar, kita sudah tidak bisa membohongi Karin terus menerus. Dia berhak tahu yang sebenarnya meskipun itu menyakitkan. Tapi di sisi lain, jika Karin mengetahuianya. Aku takut semua yang terjadi pada masa lalu akan terulang lagi," jelasku.

"Lalu bagaimana dengan kau sendiri, bukannya orang tuamu juga dibunuh oleh vampir," ujar Yuuki.

Aku terdiam mendengar perkataannya barusan. Ingatanku kembali melayang di saat orang tuaku menyuruhku dan kakakku untuk kabur dan saat aku berbalik. Mereka sudah tewas di tangan vampir. Aku langsung menggelengkan kepalaku, aku tak mau mengenang masa pahit itu lagi. Lagipula sekarang aku masih punya seorang kakak. Jadi setidaknya aku tidak terlalu kesepian. Berbeda dengan Akira yang kehilangan semuanya.

"Bagiku masa lalu adalah masa lalu. Apapun yang kita lakukan tidak akan bisa mengubah masa lalu. Makanya aku tidak ingin masa lalu itu akan terulang lagi," ujarku lirih.

"Jadi kau akan mencegahnya?" tanya Yuuki memastikan.

"Entahlah, menurutmu aku harus melakukan apa?" tanyaku balik.

"Hmmm." Tampak Yuuki sedang berpikir keras. "Menurutku sebaiknya biarkan Akira memberitahunya," sambungnya.

"Apa! Kau gila ya, kalau sampai Karin mengetahui segalanya dia akan-"

"Tunggu dulu, aku belum menyelesaikan omonganku," potong Yuuki.

"Baiklah, kalau begitu lanjutkan!" seruku berusaha untuk mencoba bersabar.

"Tidakkah kau berpikir kalau suatu saat akan tiba dimana Karin harus tahu kenyataannya dan Akira datang kembali untuk membalaskan dendamnya. Makanya semua kekacauan ini tidak akan berakhir sampai keduanya melakukan itu," terang Yuuki.

"Jadi kau berpikiran kalau itu jalan keluar yang terbaik. Menurutku kekacauan akan bertambah jika hal itu sampai terjadi. Aku tak mau perdamaian yang sudah tercipta ini rusak hanya karena seorang Akira!" protesku.

"Hal itu tidak akan terjadi kalau Akira mau berdamai dengan dewan siswa," ucap Yuuki.

"Dan kau pikir Akira akan mau melakukannya. Bukannya tadi kau sudah dengar sendiri, Akira itu keras kepala. Tekadnya sudah bulat untuk membalaskan dendamnya," ujarku dengan nada frustasi.

"Aku tahu, tapi membiarkannya sama saja tidak akan merubah apapun. Karin akan terus hidup di tengah kebohongan dan Akira akan terus hidup di tengah rasa dendamnya. Tidakkah itu buruk," jelas Yuuki.

"Setidaknya masa lalu tidak akan terulang kembali," ucapku singkat.

"Kalau kau berpikiran begitu, kau naïf sekali Miyon. Justru jika itu dibiarkan rasa dendam Akira semakin besar dan kau tahu kan ia tak akan pernah ragu untuk membunuh orang sekalipun itu Karin, sepupunya sendiri. Dan jika Karin sampai mati, aku yakin dewan siswa tidak akan tinggal diam. Pasti mereka akan membunuh Akira. Bukannya itu sama saja mengulang masa lalu," terang Yuuki.

"Aku tak pernah berpikiran sampai situ," ujarku lirih.

"Maka dari itu satu-satunya cara adalah Akira harus mau berdamai. Aku juga sama seperti kau, aku juga ingin kedamaian. Jujur saja menjadi keluarga hunter membuatku selalu merasa tak tenang. Aku takut suatu saat keluargaku juga akan dibunuh seperti keluargamu, Karin, dan juga Akira. Tapi untungnya Kazune mau melakukan perdamaian dengan pihak kita dengan berjanji untuk tidak menyakiti manusia lagi. Jadi kita tidak perlu bermusuhan lagi seperti yang terjadi pada masa lalu," ujar Yuuki panjang lebar.

"Iya sih, kurasa kau benar. Tapi akhir-akhir ini oni banyak bermunculan, dan banyak vampir yang mati," ujarku begitu mengingat kemarin malam di saat aku dan Yuuki kewalahan menghadapi segerombolan oni.

"Kau benar, mungkin masih ada beberapa vampir yang tidak terima dengan keputusan Kazune untuk berdamai. Sehingga mereka masih mencari mangsa manusia dan merubahnya menjadi oni," terang Yuuki.

"Lalu bagaimana dengan vampir yang kita temukan sudah mati kemarin. Kita mungkin masih berkewajiban untuk membunuh oni, tapi kita tidak diharuskan untuk membunuh vampir mengingat perjanjian untuk pihak hunter bahwa kita tidak akan membunuh vampir lagi?" tanyaku heran.

"Kasusnya sama seperti pihak vampir, masih ada hunter yang tidak terima keputusan untuk berdamai. Dan aku yakin kau tahu siapa orangnya," ujar Yuuki.

"Jangan bilang kalau Akira pelakunya," ucapku tak percaya.


~Vampire Game~


Karin POV

Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak tadi, tapi aku masih belum pulang ke rumah. Kini aku sedang berjalan bersama Kazusa ke ruang dewan siswa setelah tadi aku mendapatkan hukuman gara-gara tidak mengerjakan PR.

"Kazusa, maaf ya. Gara-gara aku, kamu jadi ikutan bantu bersihin gudang," ujarku merasa bersalah.

"Tak apa-apa kok, kita kan teman. Jadi sudah sewajarnya kita saling tolong menolong," ucap Kazusa santai.

"Iya, kalau begitu makasih ya. Kalau nggak ada kamu, mungkin aku masih bersihin gudang sekarang ini," ujarku.

"Iya, ya sudah ayo kita ke ruang dewan siswa. Aku yakin nanti kita pasti diomelin sama Kazune gara-gara dikira kabur dari tugas," ujar Kazusa sambil menarik tanganku untuk berjalan lebih cepat.

Bau anyir

Entah ini hanya perasaanku saja atau tidak, tapi aku mencium bau darah dan itu berasal dari ruang dewan siswa. Aku langsung menoleh ke arah Kazusa.

"Ugh jangan bilang mereka melakukannya lagi!" seru Kazusa kesal.

Kazusa langsung melepaskan genggamannya pada tanganku dan langsung membuka pintu ruang dewan siswa dengan keras.

Aku hanya bisa mengikutinya dari belakang tapi tidak berani untuk masuk. Bahkan untuk melihat ke dalam saja aku tidak berani. Alhasil aku hanya menunggu di luar sambil mendengarkan percakapan mereka.

"Aku pikir kalian mengerjakan tugas atau apalah. Tak tahunya malah pada begini, bukannya kemarin sudah kubilang ya. Jangan terlalu sering menghisap darah manusia!" bentak Kazusa.

"Hei, yang keseringan itu kembaranmu tuh. Lagipula yang mengajaknya tadi dia!" Kali ini gantian suara Jin yang terdengar.

"Kazune, sekarang beri aku penjelasan. Bukannya kau sendiri yang membuat perjanjian untuk tidak menyakiti manusia. Kalau sampai pihak hunter tahu, bisa-bisa masa lalu kembali terulang lagi!" seru Kazusa keras.

Egh

Perjanjian

Hunter

Aku tidak mengerti maksud mereka.

"Kita tidak menyakiti manusia kok. Kita hanya menghisap darahnya sedikit, tidak sampai merubahnya menjadi oni. Lagipula kita ini seorang vampir Kazusa, sesekali kita butuh darah manusia asli. Kau tahu itu kan?" Akhirnya suara Kazune terdengar juga.


Normal POV

"Aku tahu, tapi bisakah kalian tidak melakukannya di sekolah. Apalagi ada Karin sekarang!" seru Kazusa kesal.

"Egh ada Karin, dimana?" tanya Micchi kebingungan.

"Dia tidak berani masuk kesini gara-gara kalian. Ya sudah, aku mau mengantar Karin pulang dulu," ujar Kazusa seraya keluar dari ruang dewan siswa, tapi dalam hitungan lima detik. Ia kembali masuk ke dalam.

"Ada apa?" tanya Himeka bingung begitu melihat tingkah Kazusa.

"Karin nggak ada, jangan-jangan ia sudah pulang," ujar Kazusa. "Aduh gimana nih, gara-gara kalian sih. Ya sudah, aku akan mengerjarnya," lanjut Kazusa.

"Tunggu Kazusa, itu tidak perlu!" seru sebuah suara.

Sontak semua yang ada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah pintu dan mendapati sosok Miyon dan Yuuki yang sedang berdiri di sana.

"Sedang apa kalian disini?" tanya Jin tajam.

"Apa begini cara kalian menyambut tamu," sindir Miyon seraya melenggang masuk meski belum dipersilahkan. "Ya ampun, kalian habis berpesta ria ya!" seru Miyon kaget begitu melihat ada beberapa murid yang nampak tidak sadarkan diri di sofa.

"I-ini tidak seperti yang kalian pikir," ucap Micchi panik.

"Tenang saja, tak perlu merasa panik seperti itu. Selama kalian tidak merubahnya menjadi oni maupun membunuhnya, kita tidak akan ikut campur," ujar Yuuki yang akhirnya angkat bicara.

Tampak Micchi langsung bernapas lega.

"Jadi ada keperluan apa kalian datang kesini?" tanya Kazune pada kedua tamunya itu.

"Ini tentang Akira," ucap Miyon menyebutkan satu nama yang terdengar tabu di telinga para dewan siswa.

"Memangnya kenapa dengan Akira?" tanya Kazune yang masih belum mengetahui maksud Miyon.

"Kalian pasti sudah tahu kan tentang pembunuhan beberapa vampir akhir-akhir ini. Kami berani bersumpah kalau bukan kami yang melakukannya. Kami tak mungkin mengingkari janji kami," terang Miyon.

"Jadi kalian menuduh Akira yang melakukannya," ujar Kazusa sedikit kaget.

"Kami bukannya menuduh, tapi memang itulah kenyataannya," ujar Yuuki.

"Aku tak peduli jika ia membunuh vampir-vampir tolol itu. Justru mungkin aku harus berterima kasih padanya sudah membunuh vampir yang tidak mau mematuhi atasannya," terang Kazune dingin.

Miyon dan Yuuki langsung bergidik ngeri melihat betapa sadisnya Kazune. Tapi buru-buru segera ditutupinya perasaan takut itu.

"Jadi kalian tidak akan membunuh Akira?" tanya Miyon memastikan.

"Tidak, untuk apa kita membunuhnya. Bukannya kita ya yang mau dibunuhnya," ujar Himeka dengan wajah polosnya.

"Memang iya, tapi Akira dia mau-" Miyon tidak sanggup untuk melanjutkan perkataannya.

"Akira mau apa?" tanya Kazusa penasaran.

Miyon masih terdiam, tidak berani membicarakannya.

"Dia mau membongkar rahasia kalian pada Karin." Akhirnya Yuuki lah yang menyelesaikan kalimat menggantung Miyon tadi.

"Apa! Jadi dia berusaha untuk menghancurkan kami lewat Karin," ujar Jin tak percaya.

"Tak masalah." Hanya dua kata yang terlontar dari mulut sang ketua dewan siswa. Namun, berhasil mendapatkan perhatian dari seluruh orang yang ada disana.

"Apa maksudmu dengan tak masalah?" tanya Kazusa bingung begitu juga dengan yang lainnya.

"Tak masalah jika Akira mau membongkar rahasia kita pada Karin. Aku tidak peduli," jawab Kazune cuek.

"Kazune, kau sudah gila ya! Kalau sampai Karin membenci kita bagaimana, bisa-bisa ia bergabung dengan Akira dan memusuhi kita. Memangnya kau mau?" tanya Kazusa tak percaya. Ia benar-benar tak percaya dengan cara jalan berpikirnya kembarannya ini.

"Aku tak akan membiarkan itu terjadi," ucap Kazune seraya tersenyum tipis.

"Kelihatannya kau sudah punya rencana," ujar Micchi begitu melihat ekspresi salah satu sahabatnya ini.

Lagi-lagi Kazune hanya tersenyum tipis menanggapinya. Ia segera berbalik, menghadap jendela dan mulai memandangi rembulan yang mulai terlihat. Menandakan waktu sudah malam.

"Kalian tahu, bulan penuh selalu dikaitkan dengan manusia serigala. Tapi kenyataannya bukan hanya manusia serigala saja yang memiliki keterkaitan dengan bulan penuh. Bulan penuh atau full moon dalam dunia vampir selalu dikenal dengan malamnya bangsa vampir," terang Kazune tanpa mengalihkan perhatiannya pada bulan.

"Hah, memangnya malam ini bulannya penuh. Kenapa aku tidak menyadarinya," ujar Micchi bingung.

"Tunggu Kazune, bukannya itu malah jadi masalah besar ya kalau malam ini full moon!" seru Jin.

"Biasanya di malam full moon, vampir-vampir dan oni-oni berkeliaran untuk mencari mangsa," jelas Himeka.

"Kalau begitu, malam ini Akira mungkin juga berburu vampir," sahut Yuuki.

"Apa kalian lupa ya, satu orang yang mungkin juga diburu oleh Akira," ujar Kazusa.

"KARIN!" seru mereka (-Kazune dan Kazusa) serempak.

"Hei Kazune, sebenarnya apa yang sedang kau rencana kan sih. Kau mau Karin mati!?" bentak Miyon kesal.

"Tidak, aku tidak pernah menginginkan sad ending seperti itu. Malam ini, kita akan mengakhiri semua kekacauan ini dengan happy ending," ujar Kazune seraya masih terus mengamati terangnya cahaya full moon.

"HAH?!"

.

.

To Be Continued

.

.

Please Review


Session talkshow

Bella : Minna, Bella kembali lagi setelah bertarung melawan maut (?)

Kazusa : Author payah, masak sama kecoa takut.

Bella : Berarti kembaranmu juga payah dong.

Kazune : Apa kau bilang!

Akira : Heh kalian bisa diam tidak. BERISIK TAHU!

Jin : Kenapa OC author bisa nongol disini.

Akira : Kenapa! MASALAH BUAT ELO?!

Karin : Author, kenapa Akira bisa jadi ganas gini?

Bella : Mungkin ia sedang dalam mode evil-nya.

Micchi : Kenapa author bikin OC sifatnya aneh-aneh segala sih.

Akira : APA KAU BILANG! AKU ANEH?!

Bella : Ya ampun (langsung mukul kepala Akira makek kamus)

Akira : Egh ada apa nih?

All (-Akira) : (Langsung bernapas lega)

Bella : Sudah sudah sekarang kita bacain balasan review. Kali ini balasan review-nya gabungan chapter 8 dan 9.


Chapter 8

Akira : Untuk aputriabsari. Makasih sudah dibilang keren.

Karin : Selanjutnya untuk Mey-Mey Hinamori. Makasih untuk jempolnya.

Kazusa : Buat ryukutari. Makasih juga untul kedua jempol tangan dan kakinya. Maaf kalau chapter ini membuat ryu-chan tambah penasaran.

Kazune : Berikutnya buat Yuuko Kara. Author memang pengen aku mampusin juga (?)

Jin : Buat Vio – anime love. Makasih sudah dibilang seru dan makasih untuk semangatnya.

Himeka : Untuk Jamilah Zainab. Maaf ya kalau author selalu membuat chapter pendek-pendek.

Micchi : Selanjutnya untuk Shion. Hehehe, makasih sudah seantusias itu dengan fanfic ini.

Akira : Balik lagi ke aku. Buat Mikasa, oke diusahakan cepat selesai.

Karin : Untuk ichiro. Ini sudah lanjut kok, semoga ichiro-chan suka.

Kazusa : Selanjutnya buat TsukiRin Matsushima29. Fanfic author satu ini memang susah ditebak, ceritanya saja nggak jelas.

Kazune : Berikutnya untuk yu. Hah, beneran nih ditungguin sampai kiamat!

Jin : Buat syofalira. Oke, author tidak akan lupa belajar kok. Makasih ya sudah perhatian sama author.

Himeka : Untuk jg. Ini sudah lanjut kok.

Micchi : Buat jj. Hehehe, benarkah makin seru ceritanya.

Akira : Author, review selanjutnya digabung saja ya. Nanti kelamaan!

Bella : Terserah, yang penting semua review HARUS DIBALAS!

Akira : Iya ya. Oke, buat Karin, karin0kazune, kazune, jin, himeka, kazusa, akira bella chan, Eva Kaban, Guest, E-chan, dan safrina23c. Makasih atas dukungan kalian semua, tanpa kalian fanfic ini tidak akan berlanjut sampai chapter ini.


Chapter 9

Karin : Yang pertama untuk Mey-Mey Hinamori. Makasih banyak sudah dibilang keren. Siip deh keduanya dilanjut bersamaan kok.

Kazusa : Buat nafisyah-jauharah. Iya, waktu liburan author memang rajin buat ngelanjutin fanfic-nya. Coba saja kalau sudah masuk sekolah, langsung amnesia lagi deh sama fanfic-nya.

Kazune : Untuk Audrey Naylon. Tahu tuh, Miyon jadinya ke pihak siapa. Pihak anak baik-baik atau sama cewek aneh ini (sambil nunjuk Akira)

Akira : SIAPA YANG KAU BILANG CEWEK ANEH *Evil mode on*

Bella : (Langsung nimpuk Akira sama kamus) Bacain tuh balasan review-nya.

Akira : Iya, buat ryukutari. APA KAU BILANG NAMAKU MIRIP MERK TV! (langsung ditimpuk kamus)

Bella : IYA, AKIRA ITU NAMA YANG KEREN TAHU! (langsung ditimpuk pakek panci)

Bella : Heh, kenapa Akira cuma ditimpuk pakek buku sedangkan aku ditimpuk pakek panci.

Kazusa : Mau ditimpuk lagi nih! (sambil mengacungkan pancinya)

Bella : (Langsung mingkem)

Himeka : Hah oke deh selanjutnya buat Tsukirin Nyan. Iya, ini sudah update kok.

Jin : Buat yuiko. Benarkah, ceritanya makin menarik padahal belum masuk ke konfliknya lho.

Micchi : Untuk kazufika. Maaf ya kalau ini pendek lagi.

Kazusa : Berikutnya untuk Hanazono Hikari. Iya ya, santai saja neng, Terserah mau manggil author apa. Senpai oke, chan boleh, san juga, sama tak apa-apa. Yang penting bukan okaa-san ya.

Karin : Buat Viona-chan. Yee, ternyata ada yang ngefans sama fanfic buatan author ini. Makasih ya.

Himeka : Untuk Karikazu. Ini sudah lanjut kok.

Kazune : Buat Karin, iya mana lanjutannya author!

Akira : Selanjutnya untuk Xinon. Hah, kalau Karin digigit terus nanti bisa kena rabies tuh.

Kazune : KAU MAU CARI GARA-GARA YA SAMA AKU!?

Akira : SIAPA TAKUT! AYO MAJU?!

Bella : (Langsung nimpuk Akira pakek kamus)

Himeka : (Langsung ngelempar kecoa yang tadi dipakek buat ngerjain author)

Kazune : (Langsung pingsan di tempat)

Bella : (Langsung ngibrit keluar ruangan)

Karin : Akhirnya damai juga.

Micchi : Iya betul.

Akira : Ada apa sih? (dengan wajah polos)

Kazusa : Heh lanjutin nih balasan review-nya.

Jin : Oh ya, oke yang terakhir buat rezahz. Jawabannya sudah ada di atas.


Karin : Nah balasan review sudah dibacakan semua.

Micchi : Chapter depan bakal ada kejutan dari author.

Himeka : Dan konflik yang sebenarnya baru akan dimulai di chapter depan.

Bella : (Tiba-tiba nongol di depan pintu) Oh ya minna kalau ada waktu kunjungi juga profil Bella ya. Disitu ada profil OC-nya Bella.

Kazusa : (Langsung ngelempar kecoa ke arah author) Siapa yang tanya! Ya sudahlah, kita akhiri saja ini. Akhir kata, sampai jumpa minna!