Tak semua yang kita inginkan dapat kita dapatkan dengan mudah. Perlu kesabaran untuk bisa mencapai apa yang kita inginkan. Tapi ada kalanya kita harus melupakan keinginan kita untuk kebaikan kita sendiri.
.
.
.
.
.
That Should Be Me!
Pairing : NaruHina slight SasuHina slight GaaHina and other pair
Rated: T-Indonesia
Genre: Romance/ Friendship
Disclaimer: Karena Om Kishi masih pelit Bebhe minta salah satu tokohnya, jadi semua tokoh 'masih' punya Om Kishi -_-
Warning: Bahasa amburadul, alur nggak nyambung (BANGET), typo(s) bertebaran dimana-mana, kesalahan dalam penulisan, romance yang kurang berasa, tokoh full of OOC (khususnya Hinata), menggunakan EYD (Ejaan yang Disemawutkan), based of Real Story and song "That Should Be Me" by JB..
.
Happy Reading ^^
.
.
.
'Walau aku tak bisa memilikimu, memiliki fotomu saja itu sudah cukup bagiku… Because you…. Only mine… In My Dream…..'
"Hei Hinata! Apa yang kau lakukan?"
Hinata terkejut dan segera menutup buku catatannya dengan cepat. Hinata kemudian menoleh ke arah sumber suara.
"Aish! Sakura-chan, kau mengagetkanku," kata Hinata sambil mengerucutkan bibirnya. Sedangkan gadis di depannya hanya nyengir melihat temannya ngambek.
"Gomen Hinata. Habisnya, sedari tadi aku lihat kau melamun sendiri disini. Ngomong-ngomong, apa yang kau tulis tadi? Kenapa kau buru-buru menutupnya tadi? Atau jangan-jangan…" Sakura memasang tampang horror di depan Hinata. Senyum Sakura membuat Hinata susah menelan ludahnya. Dengan cepat Hinata memasukkan buku catatannya ke dalam tas.
"Bu-bukan apa-apa kok Sakura-chan. A-aku ti-tidak menulis a-apa-apa. A-aku ha-hanya menggambar tadi. Hehe.." kata Hinata sambil mengusap belakang kepalanya. Sakura menggeleng.
"Kelihatan sekali kalau kau bohong. Hayo ngaku deh Hinata. Itu tadi surat untuk pacarmu kan? Hayo ngaku Hinata…" Sakura semakin memojokkan Hinata. Dengan susah payah Hinata menelan ludahnya.
"Pa-pacar? A-aku tidak punya pa-pacar Sakura-chan. Eh lihat, ada Sasori-senpai," dengan cepat Sakura menoleh ke belakang mencoba mencari kekasihnya. Tetapi itu semua hanya tipuan Hinata. Dengan cepat Hinata lari menjauhi Sakura.
"Jaa Sakura-chan…" kata Hinata sambil melambaikan tangannya kepada Sakura.
Menyadari mangsanya lepas, Sakura mencak-mencak di tempat. Sementara Hinata terkikik geli melihat Sakura yang menggerutu sendiri.
"Yak! Dasar Hinata. Kenapa aku bisa tertipu sih? Aishh! Sudahlah." Sakura kemudian kembali ke tempat duduknya.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah memperhatikan mereka sejak tadi.
.
.
.
.
Hinata sedang berada di kantin sekolah sekarang. Tenggorokannya kering karena dia berlari terlalu cepat tadi. Hinata menyeruput jus jeruknya hingga tinggal setengah gelas.
"Hah~ Hampir saja aku kena interogasi Sakura-chan. Bisa-bisa semuanya kacau kalau sampai dia tau," gumam Hinata entah pada siapa.
"Tau apa?"
Hinata terkejut mendengar suara di belakangnya. Dengan cepat Hinata membalikkan badannya.
"Sasuke-kun?"
Hinata kembali membalikkan badannya membelakangi Sasuke. Hinata sedikit menundukkan kepalanya. Sasuke berjalan melewati Hinata, lalu mengambil tempat duduk untuk duduk di depan Hinata. Sekarang mereka berhadapan. Hinata sampai sekarang masih canggung berhadapan dengan Sasuke semenjak Sasuke mengungkapkan perasaannya dulu padanya. Meskipun itu sudah lama, tapi tetap saja Hinata malu untuk bicara dengan Sasuke. Hinata juga sedikit merasa bersalah kepada Sasuke.
"Kau sendiri?" Tanya Sasuke yang mengejutkan Hinata.
"I-iya," jawab Hinata masih sambil menunduk. Hinata meremas roknya, mencoba untuk menguatkan diri untuk mengangkat kepalanya dan berbicara dengan Sasuke seperti biasanya. Tetapi semua percuma, ego Hinata tetap tidak mau.
"Aku tadi melihatmu berlari dengan sangat cepat. Kau di kejar siapa?" Tanya Sasuke lagi.
"Ee.. Ti-tidak ada yang mengejarku kok," jawab Hinata seadanya.
Sasuke menghela nafas.
"Lalu kenapa kau berlari sampai seperti itu?" Sasuke terus saja bertanya. Benar-benar membuat Hinata salah tingkah. Hinata memilih untuk diam saja. Karena dia pikir jika dia menjawab pertanyaan Sasuke, nanti Sasuke akan bertanya lagi. Mungkin dengan diam Sasuke juga akan berhenti bertanya.
Menyadari tidak ada jawaban, Sasuke hanya menghela nafas. Sasuke menatap datar wajah Hinata yang sedikit tertutup oleh rambutnya.
"Hei, Hinata." panggil Sasuke dengan suara yang bisa di bilang 'lembut'.
"I-iya,"
"….."
"….."
"….."
"….."
"Ngomong-ngomong, siapa laki-laki yang menjemputmu kemarin?" pertanyaan Sasuke membuat Hinata membulatkan matanya. Hinata terkejut bercampur sedikit heran.
'Kenapa Sasuke-kun bisa tau? Kemarin kan aku pulang saat sekolah sudah sepi,' batin Hinata bertanya-tanya.
"Dia….. Pacarmu ya?"
"…."
"…."
"Bu-bukan. Di-dia teman kakakku," jawab Hinata seadanya. Sasuke terlihat sedikit lega mendengar jawaban Hinata.
"Lalu kenapa dia yang menjemputmu?" Hinata mulai kesal dengan Sasuke. Tidak biasanya dia menjadi kepo seperti ini. Biasanya apapun yang di lakukan Hinata, Sasuke hanya diam dan tidak menanggapi apa-apa. Tapi sekarang Sasuke malah seperti menginterogasinya. Bukannya tidak mau menjelaskan, hanya saja Hinata sedikit galau sekarang, jadi Hinata malas menceritakan semuanya. Baru saja Hinata selamat dari Sakura, sekarang malah gantian Sasuke.
'Kenapa mereka tidak jadi pasangan saja? Mereka cocok sekali.' Inner Hinata berteriak. Hinata sedikit mengangkat kepalanya.
"Dia hanya teman kakakku, dan aku cukup kenal baik dengannya. Dia di suruh Neji-nii untuk menjemputku. Apa ada masalah dengan itu? Kenapa kau terus-terusan bertanya?" kata Hinata dengan nada sedikit kesal. Sasuke menaikkan sebelah alisnya.
"Hei, kenapa kau malah marah padaku? Aku kan hanya ingin tau?" kata Sasuke dengan santainya. Hinata menyeruput jus jeruknya, mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Kau itu sangat aneh Sasuke-kun. Tidak biasanya kau itu mau tau tentang diriku. Dan sekarang kau malah menginterogasiku. Itu sedikit menganggu," kata Hinata dengan memelankan suaranya pada kalimat terakhir.
Sasuke menatap datar Hinata, lalu menghela nafas. Sasuke menyambar jus jerus milik Hinata lalu dengan tanpa izin meminumnya sampai habis. Hinata hanya diam tidak menanggapi, karena memang Sasuke sudah biasa seperti itu.
Hinata mengalihkan pandangan ke arah lapangan sekolahannya yang berada di depan kantin. Lehernya terasa pegal terus-terusan menunduk.
Hinata melebarkan matanya. Jantungnya berdegup lebih kencang, wajahnya sedikit merona. Sasuke melihat perubahan pada wajah Hinata. Sasuke kemudian mengikuti ke arah mata Hinata memandang. Dan benar saja, seorang yang selama ini menganggunya(menurut Sasuke saja) tengah berada di lapangan bermain bola bersama teman-temannya. Sasuke menghela nafas, lalu kembali menatap Hinata.
'Naruto-kun,'
Hinata kembali teringat kejadian kemarin saat pulang sekolah. Hinata menggigit bibir bawahnya lalu segera mengalihkan pandangannya ke vas bunga yang terletak di depannya. Sasuke hanya menatap Hinata dalam diam.
"Kau masih menyukainya?" Hinata terkejut mendengar pertanyaan Sasuke baru saja. Entah sadar atau tidak, Hinata mengangkat kepalanya dan menatap Sasuke.
"Ap-apa?" kata Hinata pelan. Sasuke memutar bola matanya bosan.
"Yaayayaa… Aku tau kau masih menyukainya." Sasuke menatap tajam Hinata. Sementara Hinata hanya diam. Bibirnya tertutup rapat, tidak tau apa yang harus di katakan.
"Ah! Aku benar kan? Tapi…. Mau sampai kapan Hinata?" Sasuke menatap Hinata datar, tetapi Hinata tau jika ada kekecewaan dalam mata Sasuke. Hinata segera menundukkan kepalanya kembali. Hinata lalu beranjak berdiri dari tempat duduknya.
"Maaf Sasuke-kun, aku ke kelas dulu," Hinata berjalan melewati Sasuke.
"Lupakan dia Hinata,"
Kata-kata Sasuke membuat Hinata menghentikan langkahnya.
"Aku tidak menyuruhmu ataupun memaksamu untuk menyukaiku. Aku hanya ingin kau bahagia Hinata. Aku tidak ingin melihatmu terus tersakiti karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Jadi, cobalah lupakan Naruto,"
Hinata meremas roknya kuat-kuat dan menggigit bibir bawahnya. Matanya terasa memanas. Seperti sebuah samurai yang tiba-tiba menancap di dadanya. Hati Hinata sangat sakit sekarang. Tanpa Sasuke katakan pun, Hinata tau semua itu. Sekarang ini Hinata juga sedang berusaha untuk melupakan Naruto. Tetapi semua itu butuh waktu.
"Maafkan aku telah mengatakan ini Hinata. Aku hanya ingin mengatakan apa yang ingin aku katakan. Dan jujur saja….." Sasuke menggantung kalimatnya. Sasuke lalu beranjak berdiri.
"…..aku berharap laki-laki yang bersamamu waktu itu, dapat membantumu melupakan perasaanmu pada Naruto."
Sasuke lalu pergi meninggalkan Hinata yang masih diam mematung di tempat.
Sebuah cairan bening meluncur di pipi mulus Hinata. Kini Hinata sudah tidak dapat menahannya lagi.
"Aku tau Sasuke-kun. Aku juga berharap sama sepertimu… Arigatou, Sasuke-kun."
.
.
===SKIP===
Naruto tengah berjalan sendirian menuju kelasnya. Matanya menatap datar lantai yang injaknya. Dia baru saja menemui Shion setelah bermain bola bersama teman-temannya di lapangan. Naruto mengingat kata-kata yang di ucapkan oleh Shion.
'Jika kita nanti sudah tidak satu sekolah lagi, aku harap kau tetap setia kepadaku Naruto-kun. Aku takut jika nanti kau bosan lalu pindah ke lain hati,'
Naruto menghela nafas.
"Itu juga yang aku takutkan," gumam Naruto entah pada siapa.
"Dobe?" Naruto menghentikan langkahnya, lalu mencari orang yang baru saja memanggilnya.
"Yo Teme!" Kata Naruto sambil menunjukkan cengiran rubah khas miliknya. Sasuke lalu berjalan mendekati Naruto.
"Darimana kau Teme?"
"Bukan urusanmu," jawab Sasuke singkat. Naruto mengerucutkan bibirnya, lalu berjalan menyusul Sasuke.
"Yak! Kau itu selalu seperti itu Teme," kata Naruto sambil merangkul Sasuke. Sasuke melirik Naruto sekilas.
"Mau sampai kapan kau terus-terusan seperti ini Dobe?" Tanya Sasuke. Naruto melepaskan tangannya dari pundak Sasuke.
"Apa maksudmu Teme?" bukannya menjawab pertanyaan Sasuke Naruto malah balik bertanya. Sasuke menghela nafas.
"Mau sampai kapan kau mempermainkan perasaan wanita?" kata-kata Sasuke baru saja membuat Naruto menghentikan langkahnya.
"Apa maksudmu menanyakan hal seperti ini Teme?" kata Naruto sedikit meninggikan suaranya. Sasuke menghentikan langkahnya.
"Aku tidak terima kau menyakiti Hinata lebih jauh. Dan aku juga tidak mau Hinata tersakiti karena sikapmu yang menyebalkan,"
Naruto mengernyitkan dahinya.
"Apa yang ingin kau katakan Teme?"
Sasuke membalikkan badannya.
"Aku menyukai Hinata, tetapi Hinata menyukaimu, dan kau adalah kekasih Shion. Tapi kau juga menyukai Hinata. Semua itu membuatku muak Dobe. Kau boleh menyakitiku, tapi kumohon jangan sakiti Hinata,"
Bibir Naruto tertutup rapat. Naruto tidak tau harus menjawab apa. Memang benar semua yang di katakan Sasuke. Semua ini salahnya. Naruto mengepalkan kedua tangannya kuat.
"Maafkan aku Sasuke," kata Naruto pelan.
"Jangan meminta maaf padaku. Minta maaflah pada Hinata. Dia adalah orang yang paling tersakiti disini," kata Sasuke lalu berjalan meninggalkan Naruto.
Naruto menggigit bibir bawahnya.
"Sial!" umpat Naruto pada dirinya sendiri.
.
.
===SKIP===
Hinata kini sedang berdiri di depan gerbang menunggu orang yang akan menjemputnya. Hari ini Neji menyuruh Gaara untuk menjemput Hinata lagi. Sebenarnya Hinata merasa tidak enak jika harus terus-terusan membuat Gaara yang menjemputnya. Tapi apa daya jika semua itu Neji yang menyuruh.
"Nii-san itu benar-benar menyebalkan," gerutu Hinata entah pada siapa. Tiba-tiba Hinata merasa ada seseorang yang berjalan mendekatinya. Hinata berharap itu bukan Naruto. Tapi nasib berkata lain, Hinata melihat Naruto tengah berjalan sendirian menuju ke arahnya. Jantung Hinata kembali berpacu dan wajahnya terasa memanas. Cepat-cepat Hinata mengalihkan pandangan pada jalan raya di depannya.
"A-ano… Hinata,"
Dengan susah payah Hinata mencoba untuk bersikap seperti biasanya.
"Hm?" tetapi hanya itu kata-kata yang dapat keluar dari mulut Hinata.
"Go-gomen," Hinata terkejut dengan apa yang di katakan Naruto.
'Kenapa Naruto-kun meminta maaf?'
Hinata hanya diam. Fikirannya masih berkelut dengan argument-argumen yang semakin memusingkan kepalanya.
"Aku minta maaf untuk selama ini. Aku…. Sudah terlalu banyak menyakitimu,"
Tiba-tiba hati Hinata kembali terasa sakit. Beribu-ribu jarum beracun kembali menusuk-nusuk dadanya, dan racun itu menyebar ke seluruh tubuh Hinata, membuat tubuh Hinata kaku tidak bisa bergerak.
"Maafkan aku karena sikapku yang berlebihan selama ini. Semua ini salahku,"
Hinata menggigit bibirnya. Tangannya mengepal kuat, mencoba untuk menahan tangisnya agar tidak keluar di depan Naruto. Pelan-pelan Hinata membalikkan badannya.
Hinata tersenyum.
"Apa yang kau katakan Naruto-kun? Kau tidak bersalah kok. Kau tidak punya salah apa-apa padaku, jadi tidak perlu meminta maaf," Hinata berusaha menjawab dengan sikap seperti biasa, namun tetap saja semua itu tidak bisa di sembunyikan. Naruto melihat jika senyum Hinata saat ini bukanlah senyuman Hinata. Hinata hanya mencoba kuat di depan Naruto.
Naruto menjadi semakin bersalah kepada Hinata. Naruto membenarkan perkataan Sasuke. Memang dirinya sudah terlalu banyak menyakiti perasaan Hinata. Naruto merutuki dirinya sendiri yang sudah mempermainkan perasaan Hinata, juga Shion. Andai Hinata datang di kehidupan Naruto lebih awal, andai Naruto tidak menjadi kekasih Shion, andai Naruto tidak menyukai Hinata, semua ini pasti tidak akan terjadi.
"Maafkan aku, Hinata." kata Naruto pelan. Tersirat rasa kecewa dalam kalimat Naruto. Hinata hanya diam. Sekarang ini dia sedang bersusah payah untuk menahan air matanya agar tidak keluar.
Tiba-tiba sebuah mobil sport berwarna merah berhenti di depan Naruto dan Hinata. Naruto menatap sendu Hinata dan mobil di depannya bergantian.
Seorang laki-laki berambut merah bata dengan tato "Ai" di dahinya berjalan mendekati Naruto dan Hinata. Naruto mengepalkan tangannya, mencoba menahan emosi dan ego yang bergejolak di hatinya.
"Maaf membuatmu lama menunggu. Ayo kita pulang," kata Gaara sambil menuntun Hinata. Hinata hanya diam, sementara Naruto menatap kedua orang di depannya dengan tatapan yang sulit di artikan dengan kata-kata.
"Tolong jaga Hinata, Gaara." Kata Naruto sedikit berteriak karena jarak mereka berdua cukup jauh. Gaara menghentikan langkahnya, lalu menolehkan kepalanya menatap Naruto.
"Tanpa kau minta pun akan aku lakukan, Uzumaki Naruto." setelah mengatakan itu Gaara kembali berjalan menuju mobilnya.
Hinata sedikit bertanya-tanya, kenapa Naruto dan Gaara saling kenal? Mereka kan baru pertama bertemu?
Gaara membukakan pintu untuk Hinata dan mendudukkan Hinata. Setelah memasangkan sabuk pengaman pada Hinata dan menutup pintu mobil, Gaara menoleh sekilas pada Naruto. Senyum tipis terukir di bibir tipisnya.
'Keputusan yang bagus, teman lamaku' kata Gaara dalam hati.
Naruto hanya diam menatap bayangan Hinata yang berada di dalam mobil milik Gaara.
"Aku mengandalkanmu, Gaara." Gumam Naruto.
Mobil Gaara lalu meninggalkan Naruto yang masih diam mematung di tempat.
"Maafkan aku Hinata. Semua ini demi kebaikan kita,"
.
.
.
.
.
.
END
.
.
.
Eh salah ketik, maksudnya…
To Be Continued…
Yare-yare….. ^o^/
Bebhe kembali nih bawa chapter selanjutnya. Selalu telat ya xD
Yah, hontou ni gomennasai… Bebhe kan juga punya kehidupan *modus xD
Bebhe buatnya malem nih, sambil setengah ngantuk gitu. Nelitinya juga Cuma sekali, jadi maaf kalau typosnya banyak ya :D
Terima kasih buat semua yang udah mau ripuw fic Bebhe ini. Bebhe seneng ternyata banyak yang suka ToT *terharu
Maaf Bebhe nggak bisa bales ripiuw satu-satu. Yang pasti terima kasih banyak buat yang udah setia nungguin kelanjutan fic Bebhe ^o^/
Oh ya, Marhaban ya Ramadhan ya. Sebentar lagi kan udah bulan puasa, Bebhe minta maaf kalau selama ini Bebhe ada salah selama ada di FFn ini.
Akhir kata, selamat berlibur untuk semuanyaaaaaaaaa… ^o^/
Have a nice holiday yak!
See you in the next chapter…..
Jangan lupa reviewnya ya..
Pay pay…. ^o^/
