"Jika anda bisa memberi saya alasan mengapa anda mencarinya, tanpa memberikan saya jawaban "karena mencintainya" saya akan memberitahukan anda keberadaan beliau," kata Kurenai lembut.
Sasuke tersentak, alasan mencari Naruto? tidak pernah ia pikirkan alasan mencari Naruto selama ini. Ia menggali begitu dalam pada otak jeniusnya mencari alasan yang tepat mengapa ia mencari Naruto, namun tak satu pun jawaban yang mampu ia dapatkan. Lalu dengan jawaban pasti dan mantap ia menatap Kurenai "Aku mencarinya,
"Karena aku ingin bertemu dengannya! Meminta maaf untuk semua sikapku yang telah melukainya, lalu sekali lagi membahagiakannya!"
Naruto by Masashi Kishimoto
A Mysterious Blondie by Kyra De Riddick aka YumeYume-Chan
Chapter 8
Wishes
Kurenai menatap Sasuke yang masih berlutut di hadapannya, sejujurnya ia ingin sekali menolong pemuda di hadapannya itu. Namun perintah Naruto sudah sangat jelas, ia tidak ingin keberadaannya diketahui oleh siapapun. Baik itu oleh Sasuke.
"Maaf Uchiha-san, alasan anda tidak bisa saya terima. Saya harap anda berhenti mencarinya, sebab beliau sendiri yang tidak ingin keberadaannya diketahui," ujar Kurenai lembut. Namun ucapan lembut itu sama sekali tidak memberikan kenyamanan di hati Sasuke. Sebaliknya, ucapan lembut Kurenai justru semakin menyayat hatinya yang telah hampa.
"Kenapa?" pertanyaan ambigu itulah yang ia keluarkan. Sebab ia sendiri tidak tahu pertanyaan 'kenapa?' itu bermakna apa. Apakah pertanyaan 'kenapa?' itu bermaksud menanyakan alasan kenapa Naruto tidak ingin ia menemukannya, ataukah alasan mengapa jawabannya tidak bisa diterima oleh Kurenai. Yang ia tahu ia menginginkan jawaban, meski ia tetap tidak mengerti pertanyaan yang mana.
"Sebaiknya anda pulang Uchiha-san, seperti apapun anda bertanya pada saya, saya tidak bisa memberitahukan jawabannya. Karena jawabannya, hanya anda yang mengetahui," ujar Kurenai lagi.
Cukup lama Sasuke terdiam, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menyerah dan pulang.
Dia benar-benar buta arah kini. Ia tak tahu lagi harus bertanya pada siapa. Segala usaha dan kemungkinan yang ada telah ia coba, namun tak ada satu pun yang membuahkan hasil sesuai dengan yang ia harapkan.
'Apakah aku benar-benar harus menyerah Naruto?' batinnya bertanya pada langit jingga yang menampakkan lukisan dari sang maestro alam.
Jerman, kediaman Uzumaki….
Naruto tengah berdiri di pinggiran tebing yang menghadap ke laut. Sinar matahari senja yang akan segera mengistirahatkan diri dalam peraduannya membuat laut yang indah itu tampak semakin indah.
Namun fokus pikiran pewaris Namikaze-Uzumaki itu tidak terjatuh pada laut yang indah itu. Namun pada sesuatu yang lebih jauh. Lebih jauh dari batas pandangannya. Sebuah pulau yang terletak teramat sangat jauh dari tempatnya sekarang ini. Namun seolah-olah ia bisa melihatnya. Melihat tempat ia lahir dan dibesarkan. Meski pada kenyataannya, semua itu hanyalah kamuflase akan pikirannya yang sedang kacau.
Tangannya ia acungkan ke langit, seolah ingin menggenggam matahari sore. Matanya menatap nanar pada langit yang berwarna kemerahan, seolah ingin menemukan seraut wajah yang begitu ingin ia lihat. Hatinya terus memanggil satu nama yang tak pernah luput dari ingatannya.
"Naruto-sama sebaiknya anda segera kembali ke rumah, ini sudah hampir gelap," ucap Iruka memanggil kembali kesadaran Naruto yang ingin terbang kembali ke Negara tempat 'hati'nya tertinggal.
Iruka yang tidak mendapat jawaban dari tuan mudanya segera saja ikut memperhatikan ke arah pandangan Naruto. Dan yang ia dapati hanyalah pemandangan laut sore yang sudah biasa ia lihat. Dengan segera ia mafhum bahwa pemuda pirang itu tengah memikirkan sesuatu yang menyangkut perasaannya.
"Naruto-sama,-"
"Aku sudah lama terjebak dalam 'kegelapan' Iruka-san," sela pemuda blonde itu, "sudah terlalu lama, hingga aku tidak mampu lepas darinya."
"Naruto-sama~" hanya itu yang dapat diucapkan oleh Iruka, sebab ia tidak tahu lagi apa yang harus diucapkannya.
"Kita pulang, Iruka-san."
Wajah Naruto yang terlihat sendu benar-benar menyentak hati Iruka. Ia tahu, ia tahu dimana inti permasalahan pemuda pirang di hadapannya ini. Namun ia, sebagai orang dewasa yang telah banyak menikmati asam garam kehidupan, tidak ingin Naruto akan terluka oleh kebahagiaan sesaat itu. Terluka karena suatu perasaan yang lazim dirasakan oleh mahluk yang memiliki hati dan perasaan bernama manusia. Ia tidak ingin Naruto akan terluka karena cinta yang baru dirasakan oleh pemuda itu untuk pertama kalinya. Karena ia tidak yakin bila perasaan dua remaja yang masih mentah itu akan bisa bertahan lama.
Namun melihat tuan mudanya yang bagai boneka hidup, Iruka pun tak tega. Memantapkan hati untuk kesekian kalinya, ia memutuskan untuk berbicara dengan pemuda yang sudah ia anggap sebagai anaknya itu.
"Naruto-sama, bolehkah saya bicara pada anda bukan sebagai seorang asisten?" tanyanya yang menghentikan langkah Naruto yang sudah melewatinya.
"Silahkan Iruka-san."
"Andai Minato-sama masih hidup, saya yakin beliau juga akan mengatakan hal ini," ujar Iruka, "namun sebelumnya saya ingin menanyakan satu hal pada anda dan tolong anda jawab dengan jujur. Apakah anda mencintainya?"
Satu pertanyaan itu membuat Naruto ragu untuk menjawab. Selama ini tak ada seorang pun yang pernah menanyakan hal itu pada dirinya secara langsung. Ia sendiri tidak pernah mengatakannya secara gamblang, sebab ia tidak tahu -atau mungkin menolak untuk tahu- seperti apa perasaannya yang sebenarnya pada bungsu Uchiha yang ada di seberang sana.
"Bukankah saya pernah mengatakan pada anda untuk jujur pada perasaan anda sendiri Naruto-sama?" Tanya Iruka lagi.
"…."
"Naruto-sama-"
"Ya, aku mencintainya Iruka-san," ucap Naruto yang akhirnya memilih untuk jujur pada hatinya, "aku mencintainya. Lalu setelah itu apa? Aku telah jujur mengatakan bahwa aku mencintainya, lalu setelah itu apa?"
Iruka untuk sejenak hanya diam dan mendengarkan luapan isi hati Naruto yang telah dipendamnya begitu lama.
"Meskipun aku mengatakannya ribuan bahkan jutaan kali dia tidak akan pernah mendengarnya! Keadaan tidak akan berubah dan aku akan tetap berada di sini dalam sangkar emas dan hidup bagai boneka! Sebab bila aku pergi…." Kata-kata itu terputus sejenak, lalu dengan suara perlahan kalimat itu ia lanjutkan, "sebab bila aku pergi, aku akan membunuh haha untuk kedua kalinya."
"…."
"…."
Debur ombak yang menghantam bibir tebing menghiasi keheningan sesaat di antara mereka, hingga Naruto kembali membuka suara, "katakan sesuatu, 'ayah'."
"Aku tidak mengatakan ini agar kau ragu dengan perasaanmu, tetapi apa kau yakin perasaanmu tidak akan menghilang? Apa kau yakin dia kalian akan terus memiliki perasaan itu dalam jangka waktu yang lama? Terlebih kalian adalah 'sama'," ucap Iruka kemudian. Adab kesopanannya sebagai pelayan benar-benar ia buang setelah mendengar panggilan Naruto untuknya. Ia pun maju dan menepuk pundak Naruto, "biarkan waktu yang menjawab perasaanmu. Bila memang kau yakin dia untukmu, maka perjuangkanlah dia. Jangan biarkan orang lain menghalangi jalanmu."
Setelah mengucapkan hal itu Iruka pun segera menuju ke mobil dan membukakan pintu untuk tuan mudanya, "kita pulang, Naruto-sama."
Kata-kata Iruka sedikit demi sedikit mulai ia cerna. Setelah benar-benar memahami maksud Iruka ia pun menjawab, "ya, ayah."
"Kau sudah pulang otouto?"
Suara Itachi menyadarkan Sasuke dari lamunannya. Dengan wajah sendu ia menjawab pertanyaan sang kakak, "ya, aniki. Aku sudah pulang, tapi hanya ragaku. Jiwaku sudah hilang."
"Lupakan dia, otouto," Itachi berujar dingin, matanya berubah merah pertanda ia sangat marah, suatu hal yang amat sangat jarang terjadi. Karena Itachi adalah orang yang sangat pandai mengontrol emosinya. Namun melihat keadaan Sasuke yang tampak sangat menyedihkan di matanya membuat ia benar-benar kehilangan kesabaran.
"Aku mengizinkanmu menikah dengannya untuk melihatmu bahagia, bukan sebaliknya," ujar Itachi lagi.
Sasuke melangkah mendekati Itachi, lalu ia memeluk sosok sang kakak. "Aku tidak menderita karena dia aniki. Aku hanya bingung, mengapa aku ingin mencarinya tanpa menggunakan alasan 'karena aku mencintainya'."
Itachi memeluk erat tubuh adiknya yang tengah bergetar. Ia tahu, Sasuke tengah menangis dalam diamnya. Emosi yang tadinya menguasai sulung Uchiha itu perlahan surut. Ia pun mengusap lembut kepala sang adik dan berujar, "bukankah itu jawabannya otouto?"
"…." Sasuke diam, namun Itachi tahu adiknya mendengarkan.
"Kau mencarinya karena mencintainya. Tapi apakah perasaan itu akan bertahan untuk selamanya?"
"…."
"Tidak otouto. Perasaan itu tidak pasti akan ada untuk selamanya." Itachi menjawab sendiri pertanyaannya. "Saat perasaan itu menghilang, kalian akan lebih terluka lagi."
"Lupakan dia Otouto. Belajarlah untuk melupakannya. Suatu saat kau pasti akan menemukan orang lain yang memang untukmu."
"…."
"Lupakan dia, Otouto."
"Ya, aniki."
Delapan tahun kemudian…
"Guten morgen Herr Naruto," sapa Iruka yang membangunkan Naruto dari tidurnya.
"Morning, dad."
"Air mandimu sudah disiapkan, kau mau sarapan bersama Kushina-sama atau di kamar?" Tanya Iruka.
"Aku sarapan di meja saja ayah," jawab Naruto.
"Baiklah kalau begitu."
Delapan tahun telah berlalu. Itu berarti sudah sudah Sembilan tahun Naruto dan Sasuke berpisah. Begitu banyak perubahan telah terjadi pada diri Naruto. Ia bukan lagi seorang remaja yang mudah marah seperti delapan tahun yang lalu. Ia telah tumbuh menjadi seorang pengusaha muda sukses yang tampan dan dipuja banyak wanita. Disegani oleh rekan-rekan bisnisnya yang tergolong lebih berumur darinya. Ia benar-benar mewarisi bakat Minato dalam kehidupan sosial.
Ia juga telah menamatkan pendidikan doktoralnya (S3) di bidang Manajemen bisnis di usianya yang ke 25. Hebat bukan? Bukan karena jenius atau lompat kelas (dalam perkuliahan tidak ada lompat kelas), tetapi ia mengikuti ujian akslerasi yang menilai apakah dia layak untuk melanjutkan S3 tanpa melalui S2 atau tidak. Dan dengan usaha kerasnya ia pun dianggap layak dan sampai di sinilah ia.
Ia memang telah berjanji pada dirinya sendiri untuk berhenti bersikap egois dan mulai menata masa depannya. Perlu usaha yang tidak mudah bahkan sangat keras untuk bisa seperti sekarang ini. Sebab ia tidak hanya harus melanjutkan sekolahnya, namun ia juga harus menjalankan dua perusahaan berskala besar. Bukan hal mudah untuk dilakukan oleh seorang pemuda berusia 17 tahun seperti dirinya.
Terkadang ia tidak tidur dikarenakan usai mengurus rapat, ia masih harus mengerjakan tugas sekolahnya. Beruntung, ada Iruka yang setia mendampinginya melalui masa-masa sulit itu. Bahkan terkadang Iruka juga tidak tidur demi menemaninya begadang.
Naruto tersenyum mengingat semua itu. Perlahan ia menjejakkan kakinya di lantai kamar dan terus melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kurang lebih satu jam kemudian, Naruto sudah menuruni tangga rumahnya menuju meja makan untuk sarapan bersama ibu dan 'ayah'nya.
"Guten morgen Mutter, Vater," sapanya pada Kushina dan Iruka.
Kushina menyambut Naruto dengan senyum keibuan khas miliknya, "selamat pagi sayang." Satu kecupan di pipi kanan dan kirinya diberikan Naruto saat sampai di meja makan.
"Bagaimana tidurmu? Nyenyak?" Tanya Kushina lagi.
Naruto tersenyum pada Kushina sebelum menjawab, "Ja, Mutter."
"Ayah, apa saja jadwalku hari ini?" tanyanya pada Iruka yang duduk di seberang meja.
"Hei, Iruka sedang makan. Kenapa kau malah bertanya padanya?" protes Kushina.
"Maaf. Aku terlalu bersemangat," ucap Naruto, "makanlah dulu ayah."
Usai sarapan, mereka segera berangkat menuju ke kantor. "Aku pergi dulu haha."
"Hati-hati ya?" pesan Kushina sembari mengecup kening Naruto.
"Kami permisi nyonya," ucap Iruka sopan.
"Aku titip Naruto, Iruka."
Mobil mewah itu melaju meninggalkan pekarangan rumah keluarga Uzumaki. Melewati jalanan yang sedikit berliku dengan pemandangan bukit yang menghijau dihiasi bungan-bunga liar. Setelah melewati jalanan berbukit, mereka pun disambut dengan pemandangan laut yang biru. Dengan bibir-bibir pantai yang dihantam oleh riak-riak ombak kecil. Suaranya bagaikan melodi tersendiri bagi yang mendengar.
Iruka membuka sebuah buku kecil yang selalu dia bawa. Ia pun mulai membacakan jadwal Naruto hari itu. "Pagi ini jam sembilan kau ada rapat penentuan dengan perusahaan Jirocho corp. mereka akan memberitahu kepada siapa tender bulan lalu akan diberikan. Lalu pukul sebelas, rapat dengan pimpinan Zori Industries, lalu kau harus memeriksa pabrik. Setelah itu makan malam dengan nona Yukie."
"Hanya itu?" Tanya Naruto yang mendengar jadwalnya sedikit longgar.
Iruka menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Naruto, "jangan lupa berkas-berkas perusahaan harus kau periksa sebelum kau tanda tangani."
"Aku mengerti, dad," jawab Naruto lalu mengalihkan pandangannya pada samudera luas. Entah apa yang ada di pikirannya. Yang pasti ia tersenyum kecil karenanya.
Konoha…
"Ohayou otouto," sapa Itachi menyambut Sasuke yang baru masuk ke ruang makan.
"Hn, Ohayou mo aniki."
Itachi tersenyum mendengar jawaban Sasuke, "duduklah. Aku sudah memasakkan nasi goreng ekstra tomat untukmu."
"Aniki yang memasaknya?" Tanya Sasuke dengan kening mengerut.
"Tentu saja. Kau pikir siapa? Aku sudah belajar dari Yu-chan."
"Berdo'a saja agar aku tidak keracunan." Dan Itachi hanya tertawa mendengar komentar Sasuke.
Seperti halnya Naruto, telah terjadi banyak perubahan pula pada Sasuke. Ia tidak lagi searogan dulu. Cuek mungkin, namun tidak seperti dulu, ia tidak lagi menggunakan kekuasaannya untuk mendapatkan apa yang ia mau atau menyingkirkan yang tidak ia sukai. Sedikit banyak ia telah mulai belajar untuk bersosialisasi dengan orang lain. Terbukti dengan ia yang mulai membantu mengelola perusahaan sejak ia tak bisa menemukan Naruto.
Awalnya mungkin hanya sebagai pelampiasannya untuk bisa melupakan sosok yang sangat ia cintai itu, namun perlahan ia mulai menyukai dunia bisnis sama seperti kakaknya. Bersama dengan sang kakak, ia telah mengembangkan perusahaan itu jauh lebih besar dibandingkan dengan sewaktu Itachi masih sendiri mengurusi perusahaan. Dalam sebulan, Sasuke dipastikan akan ada di luar Negeri untuk mengikuti rapat penting guna memperluas jaringan perusahaannya.
Dengan demikian sudah bisa dipastikan kekayaan mereka pun semakin bertambah. Tak terhitung berapa banyak gadis yang mendekati Sasuke untuk bisa meraih hati pemuda untuk menjadikan mereka kekasih, baik itu tulus maupun hanya sekedar mengincar kekayaan Sasuke saja. Namun untuk urusan pribadi macam itu, Sasuke masihlah menutup hatinya.
Memang benar ia telah belajar untuk bersosialisasi dengan orang lain, benar pula bahwa mengelola perusahaan telah membuatnya tidak bisa memikirkan Naruto. Namun ia tetap belum menemukan pengganti Naruto untuk mengisi hatinya, sebab sosok Naruto masih setia mengisi hatinya. Tidak peduli pada rongrongan kakaknya yang memintanya untuk segera menikah karena ingin menimang keponakan.
Terkadang ia tak habis pikir, kenapa kakaknya selalu bersikap seperti kakek-kakek akhir-akhir ini? Apa mungkin karena dia sudah memiliki dua orang putra kembar yang menyebabkan keriput di wajahnya semakin jelas sehingga ia merasa akan segera mati? Ah, kasihan sekali kakak iparnya yang bernama Yugao itu.
"Kapan kau akan menikah Sasuke? Aku ingin sekali menggendong keponakanku," tanya Itachi. Pertanyaan yang sudah bosan didengar Sasuke.
Ia hanya melirik sekilas pada dua anak berusia tiga tahun yang terbaring di kereta di samping Itachi, lalu berkata, "memangnya Ichizuki dan Nizuki belum cukup untuk kau gendong?"
"Hei teman-temanmu sudah menikah semua. Neji dan pemuda Sabaku itu, lalu pemuda Naara yang menikahi kakak Gaara, lagi pula anak kan beda dengan keponakan," jawab Itachi beralasan.
"Lalu kenapa kau tidak menikah lagi saja?"
Itachi melotot mendengar pertanyaaan Sasuke yang sama sekali tidak nyambung dengan yang ia bahas. Baru saja ia akan menceramahi sang adik,
"Dia tidak akan berani Sasuke," seorang gadis berambut ungu panjang yang baru keluar dari dapur menjawab pertanyaan Sasuke.
"Ahahahahaha, Yugao."
"Sedikit saja dia memikirkan hal itu, bisa kupastikan 'adik' kecilnya akan hilang saat malam hari," ujar Yugao sambil tersenyum manis seolah kata-katanya tidak memiliki makna ganda.
"Hn, aku pergi dulu," ujar Sasuke yang malas melihat anikinya tiba-tiba saja menjadi anggota ISTISK (Ikatan Suami Takut Isteri Seluruh Konoha).
"Hati-hati, Sasuke," pesan Yugao yang dibalas dengan "Hn" oleh Sasuke.
-oOOOo-
Kyra De Riddick is YumeYume-Chan
-oOOOo-
Sasuke menghela napas untuk yang kesekian kalinya sejak ia tiba di kantor. Tumpukan berkas yang harus ia tanda tangani nampak menggunung di mejanya. Namun bukan itu yang mengganggu pikiran bungsu Uchiha itu. Melainkan kalimat sang kakak saat sarapan tadi.
"…Neji dan pemuda Sabaku itu, lalu pemuda Naara yang menikahi kakak Gaara…"
'Dan mereka menikah dengan pilihan mereka,' batinnya berkata miris.
Ia lalu memutar kursinya menghadap ke jendela kantornya yang menampakkan langit biru cerah tanpa awan yang menutupi. Mengingatkannya akan satu sosok yang tak pernah bisa ia lupakan, meski ia mencoba dan terus membohongi hatinya.
"Naruto," ia memanggil namanya yang entah berada di mana. Sosok yang telah menghilang dari pandangannya selama sembilan tahun.
Jerman, kediaman Uzumaki…..
"Selamat datang tuan muda," sambut pelayan yang membukakan pintu untuk Naruto dan Iruka. Sambutan mereka pun dibalas dengan senyum oleh Naruto. "Tolong siapkan air hangat untuk tuan muda," perintah Iruka.
"Baik tuan Iruka," jawab maid tersebut lalu memohon izin untuk pergi melaksanakan tugasnya.
Sedangkan Naruto langsung menuju kamarnya untuk mandi.
"Saya sudah menyiapkan air untuk anda mandi tuan muda," ucap maid yang diperintahkan oleh Iruka tadi.
"Hm, terima kasih Rin," ucap Naruto pada maid berambut coklat pendek itu.
"Sama-sama tuan muda."
Baru saja maidnya akan pergi, Naruto langsung memanggilnya kembali, "Rin."
"Ya, tuan muda?"
"Dimana Mutter?" Tanya Naruto.
"Beliau sedang beristirahat di kamarnya tuan," jawab Rin.
"Ach, so. Danke, Rin."
-oOOOo-
Kyra De Riddick is YumeYume-Chan
-oOOOo-
Suara ketukan kamar menyela kegiatan Iruka yang sedang membereskan jadwal Naruto untuk keesokan harinya. Tanpa menoleh ia mempersilahkan sang pengetuk untuk memasuki wilayah pribadinya tersebut. "Vater," suara Naruto yang memanggilnya langsung menghentikan kegiatan Iruka. Ia menatap heran pada sosok dewasa sang anak sebab selama sembilan tahun Naruto tinggal di rumah itu, ia tidak pernah mengunjungi Iruka di kamarnya. Bila ada yang penting, Irukalah yang akan ke kamarnya.
"Naruto? Ada apa kau kemari?" tanyanya.
Naruto memperpendek jaraknya dengan Iruka dan mengambil tempat di sebuah kursi di dekat jendela. "Apa yang sedang Vater lakukan?" ia bertanya untuk sekedar berbasa basi.
"Hanya membereskan jadwalmu untuk besok. Ada apa?" Tanya Iruka setelah menjawab pertanyaan anaknya.
"…."
"Naru-"
"Apa kau masih ingat percakapan kita delapan tahun yang lalu, Vater?" Tanya pemuda pirang itu menyela ayahnya.
Iruka langsung paham percakapan mana yang dimaksud oleh Naruto. "Ya, aku masih mengingatnya dengan jelas."
"Aku rasa saat yang kau sebut waktu itu sudah tiba, Vater," sahut Naruto tanpa mengalihkan pandangannya pada pemandangan yang ada di luar jendela.
Iruka hanya diam, tidak mengomentari pernyataan Naruto. Sebab ia tidak tahu harus mengomentari apa.
"Apa kau mendukungku Vater?" Tanya Naruto yang menyadari Iruka tidak merespon pernyataannya barusan.
"Apa kau benar-benar tidak bisa melupakannya Naruto?"
Naruto mengalihkan fokusnya pada Iruka mendengar pertanyaan tersebut. "Jangan berpura-pura tidak tahu ayah."
Selepas mengucapkan kalimat tersebut ia langsung keluar meninggalkan Iruka yang masih mematung di kamarnya. 'Maafkan aku Naruto, tapi aku masih belum mampu mengubah pendirian ibumu. Aku hanya tidak ingin kau terluka bila mengetahui fakta yang sebenarnya.'
"Haha, bolehkah aku bicara denganmu?" Tanya Naruto saat mendapati Kushina tengah duduk di ruang pribadinya. Kushina tersenyum menyambut Naruto, juga sebagai tanda bahwa ia mengizinkan Naruto untuk bicara dengannya. "Kebetulan, ibu juga ingin membahas sesuatu denganmu," ucap Kushina.
Naruto segera melangkah memasuki ruangan ibunya sekaligus memperpendek jarak yang ada di antara mereka. Ia berdiri menatap Kushina, lalu menekukkan kedua lututnya menyentuh lantai. Membuat Kushina terpana pada apa yang ia lakukan.
Untuk pertama kalinya selama delapan tahun hidupnya, pemuda pirang itu memberanikan diri untuk berlutut di hadapan ibundanya, memohon akan satu permintaan yang telah tersimpan begitu lama di hatinya.
Senyum Kushina memudar tatkala melihat Naruto berlutut di hadapannya. Firasat akan kehilangan permata hatinya pun menyeruak dalam pemikirannya. "Ada apa nak? Kenapa kau berlutut di depan haha?" tanyanya, mencoba untuk mempertahankan nada suaranya yang mulai bergetar.
"Haha, aku mohon izinkan aku mencintainya."
Serasa badai menerjang di hatinya saat mendengar permintaan anaknya. Tak ia sangka setelah sekian lama sang anak masih saja memikirkan masa lalunya. Namun ia tak mau menyerah. Ia tak ingin melepas anaknya begitu saja. Tak peduli bila ia harus menjadi yang paling egois di dunia ini. Asalkan anaknya, Naruto, tetap bersamanya.
"Namikaze-Uzumaki membutuhkan penerus. Kau tidak akan bisa memilikinya bila bersama dengannya." Ia mengucapkannya dengan nada sedatar mungkin agar anaknya sadar bahwa pilihannya salah.
Naruto merasa seperti tersetrum aliran listrik saat mendengar ucapan datar sang ibu. Ia tahu, ia sadar, bahwa yang diucapkan ibunya adalah benar. Ia tidak akan bisa memiliki penerus bila bersama dengannya. Namun, ia tak peduli dengan semua itu. Ia tak ingin lagi hidup dalam kepura-puraan demi sesuatu yang semu.
"Untuk apa memiliki keturunan bila pada akhirnya aku harus membuatnya merasakan apa yang aku rasakan haha? Kehampaan dalam gelimang harta. Tanpa ada cita-cita untuk bisa diraih sebab ia harus menjadi penerus keluarga dengan masa depan yang sudah ditentukan. Lalu yang terparah adalah menjadi pion dalam perang 'rahasia' dalam dunia gelap seperti yang pernah aku rasakan."
"Lantas kau ingin meninggalkan tanggung jawabmu dalam kehancuran? Semua yang kau rasakan saat ini adalah amanah dari haha dan chichiemu. Apa kau mau meninggalkannya demi orang yang pernah membunuh ayahmu, Namikaze-Uzumaki Naruto?" Tekan Kushina.
"Penerus bisa siapa saja haha. Aku hanya lelah menjadi robot bagi pemikiranku sendiri dengan mengorbankan perasaanku, sebagai akibat keegoisanku sembilan tahun yang lalu. Maka biarkan aku memperbaikinya untuk sisa hidupku. Aku mohon haha," ucapan itu ia dukung dengan kepala yang menunduk menyentuh lantai di hadapan sang ibu.
Ia bersujud di depan Kushina. Demi satu keinginan di hatinya. Keinginan akan cinta yang telah ia tinggalkan karena keegoisannya sembilan tahun yang lalu.
"Maafkan haha, Naruto. Tapi haha sudah menjodohkanmu dengan keluarga Fujikaze sejak lama. Yukie adalah tunanganmu, dan tidak mungkin kau meninggalkannya," ucap Kushina tegas. Tak terbantahkan.
"Apa kau sadar telah melakukan kesalahan yang sama dengan yang dilakukan Namikaze, haha?"
"…."
"Aku mencintainya haha."
"…."
"Selamanya, aku hanya mencintai Sasuke."
TBC
"Sasuke, kau pasti akan tertarik mendengar hal ini. Ada penumpang pesawat dari Jerman yang menggunakan nama Uchiha Naruto."
"Neji-nii, aku mencintai Kiba-kun."
"Sasuke akan segera menikah dengan Hinata, Naruto. Maaf, tapi Itachi telah menjodohkan mereka berdua."
"Aku hanya ingin meminta maaf padamu karena telah bersembunyi begitu lama. Dan juga aku ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu. Semua ini memang salahku karena telah lari darimu."
"Naruto?"
"Selamat atas pernikahanmu."
Wohoooooooooooooooo….
Kyra balik lagi….
Next chap is the last chap of this fic…
Yey yey yey….
Jangan lupa RnR ya!
maaf saya belum bisa balas reviewnya. tapi yang udah nagih, ini Kyra/Yume kasih...
Salam,
Kyra
Rabu, 23 February 2011
