Disclaimer : Sumpah…! Naruto bukan punya saya, tapi akang saya! **dipelototin Masashi**.

Summary : Sakura seorang cewek 18 tahun yang mencari kost-kostan. Tapi malangnya dia terpaksa mendapat kost-kostan khusus cowok. Tangan Sasuke terjulur ke belakang. Sakura merasa Sasuke tengah memeluknya dengan kedua tangannya.

Dan… R&R ya… XD

W A R N I N G : Karena saya belum kuliah, jadi apabila ada kesalahan yang berhubungan dengan kuliah, saya mohon maaf. Anggap saja ini universitas saya. Jadi saya yang nentuin peraturannya gimana..XP. **digebuk**


Gara-Gara Kost

Chap 9:

Sakura merasakan tubuhnya kaku. Keringat dingin turun melalui pelipisnya, menuju ke dagu, dan akhirnya jatuh.

Sakura menajamkan matanya.

"Haruno Sakura," suara itu kembali berbunyi. Kali ini sepertinya ada sedikit rasa geli tertahan di sana. Terdengar dari suaranya yang agak beda dari yang pertama, yang lebih besar dan berat.

Sakura semakin merasakan hawa tidak enak.

"Uh!"

"Kau berani juga ya….. Jidat?!" suara itu akhirnya terdengar lagi. Sakura menunduk.

Sakura memejamkan matanya kemudian menelan ludah. Bodoh! Bodoh! Wig! Dimana kau?! Bajuku? Dimana kau?

"Kau pemberani, Jidat lebar," akhirnya orang itu berbicara lagi. Siapa? Tentu saja siapa lagi yang memberikan panggilan nista itu kepada Sakura selain Sasuke?

Sakura masih terpaku pada tempatnya. Walaupun dia ingin sekali berlari, mengambil pentungan besar dan memukulkannya ke kepala Sasuke sampai mat- Ups. Kejam. Tapi… sekarang…

"Jidat, kenapa hanya diam?" Sasuke mulai bicara lagi. Dia kemudian mendekati Sakura dan Sakura segera menghindar, ia berbalik menuju ke tempat Sasuke tadi berdiri. Sasuke berbalik lagi. Dengan pandangan bosan ia berkata,"JIdat!"

Sakura harus berlari. Tapi…

"Haha, kau ini memang menyebalkan ya, Sakura? Dasar aneh, tak kusangka ternyata kau selama ini tinggal satu kost denganku, dengan cowok-cowok. Sebenarnya sih, aku sudah tahu dari dulu, ya! Saat sesudah aku membuat banmu bocor, aku memang sesudah itu hapal dengan motormu, nomor platnya juga. Kemudian kakimu tempo hari, semuanya. Dan yang terpenting, kau tak bisa menyembunyikan jidat itu dariku. Aku hanya butuh waktu untuk menangkap basah dirimu dan… Wah, berita hebat nih, harus diseb-"

"CUKUP!" Sakura menjerit kesal. Sasuke tertawa mengejek.

"Kau mau apa? Menantangku? Oke! Aku memegang rahasia terbesarmu kalau kau ini…"

"OKE!!! Aku akan… Uh… BUNTUT JELEK!" Sakura berteriak sampai suaranya serak. Sasuke tertawa mengejek.

"Oke… Ah, biasa aja jidat. Aku gak akan ngasih tau semuanya asal…" katanya sengaja menggantung kalimatnya. Sakura menatapnya kesal. Sial. Kenapa ini semua harus terjadi, Sakura terjebak oleh buntut.

"Apa?" katanya kesal. Tiba-tiba, sasuke mendekat dan menghimpitnya ke meja makan. Sakura terkejut. Tapi ternyata Sasuke sudah sampai dekat, sampai-sampai mereka bersentuhan. Dahi Sakura menyentuh dagu Sasuke dan langsung saja ia membuang wajah. Tangannya mendorong tubuh Sasuke menjauh. Tapi sia-sia.

"Uh? Apa yang kau lakukan, bodoh?!"

Sasuke tak peduli. Ia semakin mendekati Sakura yang harus menahan tubuh dengan salah satu tangannya dan menutupi wajahnya dengan tangan yang lain, bahkan Sakura mulai duduk di meja makan karena Sasuke terus saja mendekat. Tangan Sasuke terjulur ke belakang. Sakura merasa Sasuke tengah memeluknya dengan kedua tangannya.

"HEI! APA YANG KAU LAKUKAN BODOH?! INI TIDAK TERMASUK YANG KAU INGINKAN, BUKAN?! HEI AKU Kyaaaaa!!!" Sakura mulai berteriak. Karena wajah Sasuke mendekat ke wajahnya dengan cepat.

-

-

-

"Enak juga ya?"

-

-

Sakura mulai membuka kedua matanya. Ia merasakan tubuh Sasuke menghimpitnya mulai menjauh. tangan Sasuke yang satu ia masukkan ke dalam saku, dan tangan yang lain…. Digunakan untuk makan? Eh tunggu! Tunggu! Tomat? Eh. hei? Sakura menoleh ke belakang dan mendapati bungkusan plastic sayurannya terbuka, dan Sasuke mengambil tomatnya? Jadi… ternyata… Sasuke seperti tadi untuk mengambil tomat?

"Hei… kalau duduk jangan di meja!" kata Sasuke sambil mengunyah tomatnya. Sakura turun dengan sebal.

"Asem lu! Buntut jelek!!!" katanya sambil berbalik. Tapi tangan Sasuke menahannya.

"Hei… kau hutang padaku… kau harus menuruti semua perkataaanku!!!"

"APAAAAAA?!!!!"

***

Sakura menggeleng mantap. Dengan kesalnya ia melancarkan tonjokan pada Sasuke yang langsung menangisnya dan memelintir tangannya.

"Turuti atau mulutku akan mengatakan semua pada semua orang terutama…"

"Apa?"

"Terutama Gaara," kata Sasuke tersenyum sinis. Sakura terkejut. Gaara? Oh tidak?! Tidak boleh terjadi! Sepertinya Sasuke sudah tahu, Sakura ada rasa dengan Gaara.

"Jangan!!!!" teriak Sakura spontan. Sasuke tersenyum sinis.

"Makanya, turuti, bodoh!!!" Sasuke mulai memberikan penawaran. Sakura mulai menghela nafas.

"OKEEEEEE!!!" teriaknya frustasi. Sasuke mengangguk.

"Oke! Anak pintar!" katanya kemudian menepuk kepala Sakura perlahan yang langsung disambut death glare.

"Sekarang kamu masak buat aku! Lapar…"

"Masa bodoh!!!" jawab Sakura ketus. Sasuke mengangkat bahu.

"Okeee…. Aku akan kembali ke teman-teman dan mengatakan kalau…"

"Buntut!!!! Iya deh IYAAAAAA!!!!"

***

"Aku mau ganti baju dulu!" kata Sakura sambil berlalu. Sasuke mengikutinya.

"Buat apa? Kau pantes pakai baju ini kok!" katanya mengejek.

"Geblek. Nanti kalau semua tahu?!"

"Urusan!" kata Sasuke santai tak ada beban.

Sakura menghentakkan kakinya kemudian berbalik. Sasuke melangkah di belakangnya. Ketika hendak menutup pintu, dilihatnya Sasuke disana.

"Ngapain bodoh!" katanya kesal.

"Mau lihat!" kata Sasuke seenaknya. Sakura merasakan urat-urat muncul di kepalanya.

"BODOHHHH!!!"

-

Pintu dibanting di depan hidung Sasuke.

***

Sakura keluar mengenakan pakaian kebesaran (kebesaran, lebih besar dari tubuhnya) dan memakai wig kesaya- bukan, tapi wignya. Setelah melampiaskan kemarahannya pada bantal yang langsung brodol(?) karena dibantingnya. Dia keluar dengan wajah ditekuk, menemui Sasuke yang masih cengar-cengir gaje menatapnya.

"Ngapain liat-liat, BUNTUTTT!!!!!!!!" teriak Sakura. Hari ini sepertinya banyak dihabiskannya untuk menjerit. Nafasnya memburu.

"Galak! Kamu gak copot aja wignya. Jelek tau! Jidatnya kliatan lebar!!!" kata Sasuke sambil mengerutkan keningnya. Pertanda tidak mengejek tapi serius. Sakura melotot dan menggeleng.

"Minggir!!!" Sakura mendorong tubuh Sasuke dengan kasar. Sasuke menatapnya bosan kemudian menghela nafas.

"terus terang aja, aku gak bisa masak! Ntar dibagi 2, tolol!" entah mengapa kata-kata yang tak pantas diucapkannya setelah insiden tadi.

Dengan serius Sakura memikirkan bagaimana cara memasak telur mata sapi, pesenan buntut. Hmmm, ia mengangguk-ngangguk. Sasuke mengamatinya bosan, ia bersandar pada meja makan.

"Entar kalau udah selesai bawa ke sofa, ya!" katanya santai kemudian berlalu. Sakura menahan amarahnya.

"Akan kulaporkan kepada Komisi Perlindungan Hak Asasi Manusia karena kau sudah merampas kebebasanku untuk merdeka terhadap diri sendiri!!!" katanya ngasal sambil berteriak marah.

"Whatever!!!"

***

Sakura melonjak senang. Akhirnya setelah 3 telur sebelumnya gatot, akibat gosong, dan pecah, ia mendapatkan telur sempurna. Matanya bersinar senang. Ia tersenyum licik.

"Hha! Aku yakin, aku tak akan dapat memasak yang seperti ini selanjutnya. Jadi… daripada diambil buntut, mendingan ini aku makan sendiri saja!!!" katanya sambil memancarkan aura iblis. Ia mengendap-endap untuk mengambil piring. Diletakkannya telur itu ke dalam piring dan ditutupinya dengan sebuah tutup panci. Ia tersenyum senang.

***

"Nih!" Sakura menyodorkan piring berisi nasi dan telur mata kerbau. Hitam kelam karena gosong.

Sasuke mangap. "Bodoh! Makanan apa ini? Dasar geblek!!! Ganti masakan lain sana!!!" kata Sasuke sambil tangannya mengisyaratkan mengusir Sakura.

Sakura mendengus kesal kemudian berbalik setelah menendang kaki Sasuke kesal. Sasuke menghadiahinya sebuah dorongan di kepalanya.

Sakura melangkah dengan wajah marah ke dapur. Dengan kesal diletakkannya piring ke atas meja.

"Ya ampuuunnn… ngurusi sendiri saja belum, kenapa harus ngurusi dia. Mending makan duluan aja!" katanya sambil melangkah menuju ke tempat persembunyian telurnya. Dengan sigap diambilnya. Belum juga satu suapan,

"Oooo… Jadi gitu ya?! Bagusss….!!!!" Sasuke tiba-tiba muncul sambil bersandar di pintu yang tertutup. Sakura menoleh dan memincingkan matanya sinis.

"Nape? Hakku dong!!! Minggir sana!!!!" katanya sambil mempersiapkan kepalan tangannya. Sambil tangan yang lain membawa piring berisi makanan.

"Serahkan padaku yang itu!" kata Sasuke. Sakura menggeleng mantap. "Enak aja, kamu tu sape?"

"Aku? Aku pemegang rahasia terbesarmu, jidat!!!!"

Sakura mengerucutkan bibirnya. TIDAAAAKKK!!!!

"Sini…!!!"

"GAK!"

"SINI!!!"

"GAK!!!"

"Sini, atau… hei, kost ini lagi sepi. Jadi….! Kau… tau kan?" Tiba-tiba Sasuke melihatnya dengan tatapan mesum dan berlagak melonggarkan bajunya. Sakura mangap. Sasuke berjalan mendekatinya.

"Kyaaaaa!!! Iya… iya ini… kamu boleh ambil!!!!!" katanya sambil berjongkok dan mengulurkan tangannya ke atas. Sasuke mendekat dan mengambil piringnya. Tapi ternyata Sakura tidak mau melepaskannya.

"Asal kamu tahu, tadi telurnya udah aku gigit-gigit loh!" katanya dengan ekspresi innocent. Sasuke menatapnya dengan tatapan –ya ampun, bego banget ni orang-.

"Oh ya? Asal kamu tahu, piringnya udah aku jilatin!" kata Sasuke seenaknya. Meskipun Sakura tau itu bohong, tapi tetap saja membayangkan Sasuke menjilati piring membuatnya eneg.

"Oh ya? Sebelum kamu jilatin udah aku ludahin!!!" kata Sakura bangkit berdiri dan merebut piring itu menjauh. Sasuke menarik piring itu. Terjadilah tarik-menarik antara keduanya yang tak akan bisa ke arah yang sama.

Sakura mengerahkan semua tenaganya menarik piring itu sambil menendang kaki Sasuke. Kali ini kaki, bukan 'itu'. Sasuke tentu saja berkelit dengan menjauhkan kakinya kebelakang. Tapi itu malah membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh ke depan menimpa Sakura.

-

Sakura merasakan berat. Dengan susah payah, ia membuka matanya. Untung Sasuke dengan kedua tangannya melindungi kepala Sakura. Jadi seperti memeluk kepala Sakura, untungnya kepalanya tak menimpa kepala Sakura. Kalau iya, terjadilah insiden itu kembali. Kepala Sasuke di samping telinga kanan Sakura. Sedangkan piring? Sukses jatuh di sebelah bahu Sakura sebelah kiri. Dan isinya, telur kebanggaan diiringi nasi-nasi itu berhamburan di tubuh Sakura, terutama di leher, sakura merasakan tubuh Sasuke semakin berat saja.

"Minggirrr!" katanya sambil mendorong tubuh Sasuke menjauh. Sasuke terdorong mundur dan terduduk di depan Sakura, dan karena itulah kepala Sakura dengan sukses terjedot lantai.

"duduhhh!!!" katanya masih tetap bebaring memegangi kepala belakangnya. Kemudian dengan susah payah ia berdiri dan membersihkan nasi-nasi di lehernya. Sasuke menatapnya kesal.

"Aku gak jadi makan, kan?"

"Huuhh! Kan tadi udaaaahhh!" jawab Sakura marah.

"Aku kan pesennya telur mata sapi. Bukan Mata Kerbau!!!"

"whatever!!!" Sakura melangkah untuk mengambil sapu. Sasuke manatapnya kesal. Sasuke bersandar di meja makan sambil melihat Sakura menyapu nasi-nasi beserta telur sempurna yang sudah kotor, berkali-kali ia mendengar Sakura menggumamkan kata-kata 'Buntut jelek' atau 'buntut geblek'. Tapi Sasuke cuek dan sesekali menyela perkataan Sakura dengan ancaman.

Sakura berdiri di depan Sasuke dengan death glare dan berkacak pinggang. Sasuke masih bersandar di meja makan dengan kedua tangannya berada di saku. Mereka bertatapan marah. Tiba-tiba terdengarlah suara tak asing keluar dari perut mereka berdua. Suara ayam. Hampir mirip ayam. Mereka sama-sama menunduk menyembunyikan rona merah di pipinya.

"Laper!!!" kata Sakura kemudian mengelus perutnya. Sasuke menatapnya sebal.

"Masak sana!!!" perintahnya seenak udel.

"Heee! Kau kan tahu aku gak bisa masak!!!!" kata Sakura marah-marah. "Pesen makanan atau beli aja nape siih!!!"

"Ide yang bagus. Kenapa gak kau praktekkan, Jidat?" kata Sasuke seenaknya. Sakura melotot.

"Laki-laki yang harus melakukannya!!!" katanya tegas.

"Kau kan laki-laki?!"

"Bukan! Aku cewek tulen!!"

"Oh ya? Buktinya?" kata Sasuke sambil mengangkat bahu. Sakura mendengus kesal sambil menghentakkan kakinya.

"Kau harus menuruti semua perkataanku, beliin makanan sana. Atau…" Sasuke mulai mengeluarkan Hpnya dari saku celananya. Sakura menatapnya kesal, kemudian setelah mencoba meremas wajah Sasuke dengan tangannya, ia berbalik kesal. Dan seruan "BUNTUT JELEEEEEKKK" nyaring terdengar di kost itu.

***

"Hah? Nasi goreng? Yang bener aja?" kata Sasuke. Sakura menatapnya kesal. Mendingan ia membelikannya untuk Sasuke. Iya kan?

"Kau ini bodoh sekali sih! Seharusnya belikan makanan yang lebih enak daripada ini…" sambung Sasuke. Sakura merasakan wajahnya memerah karena menahan marah.

"DIAAAAMMM!!!" kata Sakura menjerit kesal. Sasuke menatapnya bosan.

***

"Cih, mau makan juga! Cerewet!!!" kata Sakura sambil mengunyah bagiannya. Sasuke meliriknya sebentar kemudian matanya beralih ke TV. sasuke mendengar nada dering Hpnya. Telepon… Sasuke mendengus kesal. Dilihatnya nomor nista itu di Hpnya lagi. Dengan segera dimatikannya.

Sakura mengamati Sasuke kemudian menaikkan bahunya. Dikunyahnya lagi nasi gorengnya. Beberapa detik setelah itu, ia merasakan seseorang memperhatikannya. Ia menoleh. Dilihatnya Sasuke menatapnya. Sakura mengangkat salah satu alisnya.

"Ngapain?" kata Sakura sinis.

"Aku ada permintaan lagi!!!" kata Sasuke sambil melihat Sakura.

"Uhuk!!" Sakura merasakan nasi goreng yang sudah hampir ditelannya keluar lagi ke mulut. Sasuke menatapnya aneh.

"Lagi???!!!!" kata Sakura kesal.

"Ya," Sasuke berkata dengan wajah tak bersalah. Ia kemudian mengeluarkan Hpnya dan menunjukkan nomor kakaknya. Sakura mengerucutkan bibirnya.

"Apa?" katanya kembali mengunyah nasi gorengnya.

"Pura-pura jadi pacarku?"

"uHUuuK!!! Hoeeekk!!!!' Sakura memuntahkan semua makanannya. Sasuke melihatnya jijik.

"Biasa aja….!!!!"

Sakura menoleh kesal ke Sasuke masih batuk-batuk, matanya berair.

***

"GAAAKKK MAUUUU!!!!" teriak Sakura setelah menguasai keadaan. Sasuke menutup telinganya.

"Pura-pura… Bukan pacar sebenarnya. Yeeee…. Ge-eR lu!!!!" kata Sasuke.

"Walaupun pura-pura aku tetep gak mau! Selamanya gak akan!!!!" Sakura kembali berteriak. Sasuke menatapnya sebal kemudian tersenyum sinis. Ia mengambil Hpnya.

"Ini nomor siapa?" katanya sambil menyodorkan Hpnya kepada Sakura.

"Mana aku tahu?!" katanya santai. Sasuke menatapnya sebal.

"Sini, pinjem Hapemu!!!" perintah Sasuke. Sakura menggeleng mantap. Sasuke kembali tersenyum sinis, mengeluarkan Hapenya dan mencari kontak kakaknya.

***

"Bodoh! Cerewet! Aku bosan, jadi aku pulang. He! Kau tahu SHiro?"

-

Sakura mangap.

-

"Ya, pemuda aneh itu. Kau tahu siapa sebenarnya dia?"

-

Sakura melotot, dengan segera ditutupnya mulut Sasuke dengan tangannya.

"HE! Aps… !" Sasuke mengalihkan wajahnya dari Sakura yang terus menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

"BUNTUUUT!!!!!!!" jerit Sakura tepat di sebelah telinga Sasuke.

-

Sebuah bantal melayang ke kepala Sakura. Sasuke menatapnya sebal sambil mengelus telinganya.

"Cewek BRANDAAAALL!" teriaknya marah. Sakura mengerucutkan mulutnya.

***

Kesunyian menyeruak.

***

Tiba-tiba, PEET!!!

Mati lampu!

***

"Kyaaaaaa!!!!" Sakura menjerit histeris. Dia memang takut kegelapan.

"BERISIK!!!" kata Sasuke. Kemudian Sakura mendengar suara derap langkah –sepertinya Sasuke- menjauh dari sofa. Sakura merinding seketika. Haah? Sasuke pergi? Berarti… berarti ia sendiri.

-

Terdengar pintu kamar –sepertinya milik Sasuke- tertutup agak keras. Sepertinya sedang marah. Sakura melebarkan matanya lagi, mencoba melihat lagi keadaan sekitar. Dia hanya bisa melihat pintu kamar Sasuke terlihat hitam setelah ia membantingnya tadi. Sakura meringis. Ia kemudian menajamkan matanya. Gawat! Tambah gelap. Aduh, bagaimana ini, Sakura takut gelap!

-

Bayangan putih melintas di depannya. Lewat begitu saja. Samar-samar di dengarnya dari belakang suara desah nafas berat. Tengkuk Sakura merinding. Bulu kuduknya meremang. Sakura merasakan tubuhnya berguncang hebat. Takut.

"UWAAAAAAA!!!!" jeritnya kemudian berlari ke pintu Sasuke dan menggedor-gedornya.

"Sasuke…. Buka pintunya!!!" teriaknya masih menggedor pintunya.

"Sasukeeeee!!!" teriaknya kembali. Tak ada jawaban. Sakura berbalik mengamati keadaan sekitar. Aman. Dia mulai bergeser menempel tembok ke kamarnya. Tapi…

-

Terdengar suara langkah terseok-seok dari arah kanannya, yaitu tempat ke mana ia akan menuju, kamarnya memang berada di sebelah kanan kamar Sasuke.

-

Sakura merasakan tubuhnya bergetar hebat.

"SASUKEEEE!!! Bukaa!!! BUka! Buka! Buka Sasuke! BUKAAA!!!! CEPAAAATTT!" teriaknya histeris sambil mengeluarkan air mata. Tak ada jawaban.

-

Tiba-tiba Sakura mendengar suara aneh-aneh lagi, sepertinya ia melihat bayangan melintas di depannya. Kembali ia berbalik dan menggedor pintu Sasuke.

"KYAAAAAAA!!!!!" Sakura terus menjerit histeris sambil menangis dan menggedor paksa pintu Sasuke.

"BUKAAAAA!!!" katanya lagi. Tubuhnya mulai lemas ketika mendengar suara-suara itu semakin mendekat. Ia menjerit kembali kemudian berbalik dan menggedor pintu Sasuke.

-

Ada yang aneh…

Pintu itu… keras, bukan?

Tapi ini…. Sepertinya tidak keras. Dan anehnya lagi… pintunya bisa berbicara, tepatnya…. Mengaduh? Sejak kapan?

-

"KYaaaaa!!!!" Sakura kembali berteriak. Kali ini teriakannya diselingi kata-kaa 'berisik'. Dan Sakura tersadar, apa yang barusan terjadi. Di depannya bukan pintu, bukan. Itu adalah…. Sasuke. Beberapa kali ia memukuli dada Sasuke. Oh, Sakura menaruh tangan di depan mulutnya.

"Kenapa kesini?"

"Eng… aku… minta maaf, aku… aku takut!!!!" kata Sakura. Entah mengapa, ada Sasuke di depannya membuatnya tenang.

Tanpa menjawab Sasuke mundur dan menutup pintunya. Sakura terkejut dan menahan pintunya.

"IYa… aku minta maaf. Aku minta maaf…. Oke… mulai besok aku akan pura-pura menjadi paca-"

"Tawaran sudah selesai!"

"TAPI---!"

-

Sasuke menutup pintunya, dan secepat itu pula Sakura menerobos masuk.

"Kenapa kau disini?"

"AKU TAKUT!!!"

"PERGI!!!"

"AKU MOHON… sekali ini saja! Aku bersedia duduk dipojokan sini!" kata Sakura. Sasuke menghela nafas.

"Keluar!!!"

"Tidak. UH, aku mohonnn!!!" katanya kemudian mulai terisak. Terdengar Sasuke menghela nafas marah..

"Cengeng! Duduk di pojok situ!" perintah Sasuke sambil mendorong tubuh Sakura ke pojok ruangan dekat pintu. Sakura terisak kemudian mulai duduk di sana. Sasuke berbalik dan menuju ke tempat tidur.

***

Sasuke kembali terbangun ketika mendengar suara isak tangis. Ia mengerutkan keningnya kemudian membuka matanya. Masih mati lampu. Ia mengambil Hp dan menyorotkan cahayanya ke penjuru ruangan. Terlihat Sakura sedang duduk meringkuk di pojokan sambil menangis. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Sasuke mengerutkan keningnya.

"Berisik! Diamlah, cengeng!" ia kemudian kembali tidur.

***

Kau jahat, ya?

Dia perempuan, kau laki-laki!

Laki-laki seharusnya melindungi perempuan.

Itu namanya laki-laki sejati!

-

"Ibu, kenapa ibu menangis?"

"Ah, tidak apa-apa. Ini hanya kemasukan debu!"

"Benarkah? Kalau begitu, boleh aku meniupnya ibu?"

"Terimakasih. Kau laki-laki yang baik ya! Memang seharusnya laki-laki itu melindungi seorang perempuan. Laki-laki tidak boleh membiarkan seorang perempuan menangis, apalagi yang membuatnya menangis,"

***

Sasuke bangkit dari tempat tidur dan menuju ke pojok tempat Sakura meringkuk dan menariknya paksa. terdengar Sakura menjerit kaget. Sasuke menariknya ke tempat tidur.

"Kau tidur di sini!"

"…"

"Biar aku tidur di… di… di bawah!" lanjut Sasuke sepertinya terpaksa. Sakura merasa tidak enak juga. Dia kan yang merepotkan Sasuke, masa iya harus merepotkan kembali.

"Tidak usah! Aku…."

"Tak apa!"

"Tidur di atas bersama? Maksudku… a… kau ini cowok baik-baik, kan?"

Terdengar Sasuke menghela nafas. "Aku tidak nafsu padamu!" katanya dengan suara yang terdengar bosan. Sakura mengangguk.

"Baiklah. Maaf, mengganggu. Bisa kau letakkkan guling ke tengah sebagai pembatas?"

***

Sakura membelakangi Sasuke dan berusaha menghapus sisa-sisa air matanya. Ia kemudian mulai memejamkan matanya. Ia menoleh sedikit ke belakang untuk melihat Sasuke. Sial, guling itu menghalanginya. Sekarang ia membelakangi Sasuke lagi, menghadap pinggiran tempat tidur. Masih saja gelap.

Tiba-tiba pikiran aneh-aneh muncul di kepalanya. Dasar takut gelap. Dia mulai membayangkan sesosok mahkluk muncul dari bawah tempat tidur dan mengagetkannya. Bagaimana kalau tiba-tiba juga mahkluk itu menariknya paksa? Bagaimana kalau mahkluk itu melihatnya dengan wajah hancurnya? Atau…

-

Sakura memejamkan matanya erat. Ia tidak berani membuka matanya. Bagaimana kalau apa yang baru saja dibayangkannya menjadi kenyataan?

-

Segera saja ia berbalik, mengambil guling yang digunakan sebagai pembatas dan melihat Sasuke tertidur membelakanginya. Ia menaruh guling di pinggir tempat tidur, supaya mahkluk yang ada dalam bayangannya jika muncul tak langsung mengagetkannya, minimal mahkluk itu kecewa karena ada guling di sana.

Ia menatap tengkuk Sasuke dan tertidur.

***

"Kyaaaaaaaaa!!!!" Sakura menjerit kaget.

***


UchiHaruno Sasusaku : Jiaaah, kenapa jadi seperti ini ya? Tapi… ah, ya udahlah. XP. Maaf saya memang tidak mahir dalam melukiskan keadaan sedetail mungkin sehingga readers sekalian bisa seperti ikut mengalami ceritanya. Nha… maaf updatenya lama, saya kadang merasa kurang PD untuk mengupdate ceritanya ini karena setelah saya membaca cerita dari para author semua dan senpai-senpai semua yang bisa melukiskan keadaan sehingga saya seperti ikut dalam ceritanya. X(. sedangkan saya?

Wa, yasud, review?

Maaf, para senpai-senpai sekalian dan semua yang sudah mereview, sepertinya untuk chap ini saya tidak bisa membalas review seperti biasa dikarenakan satu hal. Maaf, gomen, bukan maksud saya untuk mengabaikan, saya justru sangat sangat terimakasih pada reviewer sekalian. Sekali lagi gomen.

Makasih untuk para readers dan reviewer yang selalu membaca fict gaje saya bahkan menagih lewat fb. XD. Maaf baru bisa update. Makasiiihhhh.