TOGETHER WITH YOU
Cast: HunHan, Baekhyun, Chanyeol
Genre: Romance, Sad(maybe?), and other
Rated: T (kurang lebih?)
Catatan: ini ff request temen saya, jadi temen saya HunHan shipper, so oleh sebab itu saya buat deh ni ff!
Chapter 10. The Pregnant
Luhan berada di sebuah rumah sakit hari ini. Ia merasa ada yang aneh. Karena beberapa jam yang lalu, ia selalu saja mual dan ingin muntah. Luhan gelisah. Ia menggigit jarinya berulang kali. Hingga pemeriksaan selesai, seorang dokter duduk tersenyum di depannya. Luhan bingung. Ketika tiba tiba dokter itu berkata, bahwa ini adalah hal baik. Hal baik?
"Selamat nyonya. Anda tengah mengandung seorang bayi saat ini."
"Huh? Maksud anda?"
"Yap. Anda hamil nyonya. Saya ucapkan selamat ya."
"Hah?"
Luhan terdiam tak percaya. Tapi, entahlah, tiba-tiba hatinya terasa berdegup kencang. Ia sepertinya merasa sangat senang. Kemudian ia membuka hasil tes laboratorium yang diberikan oleh dokter tadi. Ya, memang benar. Luhan hamil. Luhan pun berjalan bahagia sambil membawa kertas tersebut. Ia melewati ruangan UGD. Kemudian Luhan menghentikan langkahnya. Ia melirik pada seorang pria yang nampaknya tak asing lagi. Luhan langsung mendekat pada pria tersebut. Terlihat pria itu sedang tertidur di samping wanita yang dirawat. Luhan tak percaya. Itu adalah Sehun. Dan wanita itu, adalah Baekhyun. Luhan menahan amarahnya. perlahan ia membangunkan Sehun dari tidur. Sehun kaget dan terbangun dari kursinya. Luhan menatap Sehun dengan air mata yang hampir menetes di pipinya. Sehun melirik pada sebuah kertas yang dibawa oleh Luhan.
"Oh Sehun, apa yang sedang kau lakukan?"
"Um, begini, tadi aku tak sengaja menabrak Baekhyun dan—"
"Menabraknya? Lalu kenapa kau menunggunya disini? Memangnya dia siapa mu? Kenapa tidak biarkan dia sendirian?"
"Kalau dia sendirian, dia akan bingung saat bangun nanti."
"Tapi kau kan bisa telepon Chanyeol."
"Masalahnya aku tak tahu nomornya."
"Kalau begitu gunakan handphone milik Baekhyun."
"Iya, tapi,"
"TAPI APA?!" Luhan membentak Sehun dengan sekian air mata yang membasahi pipinya.
"Luhan dengarkan lah dulu oke?"
"Dengarkan apa?! Kau pikir aku bodoh? Sehunie, di saat aku tengah mengandung anakmu seperti ini, kau malah mengkhianatiku?!"
"Apa? Mengandung anakku?"
Luhan terdiam. Ia keceplosan. Sehun menatap Luhan dengan bingung. Kemudian bertatapan dengan tatapan penuh tanya.
.
.
.
Sehun dan Luhan duduk terdiam dibangku taman. Kemudian Luhan pun menyandarkan kepalanya ke pundak Sehun. Sehun melirik pada Luhan.
"Baiklah, kalau kau tak mau tak apa. Aku tahu, kepalaku beratkan?"
Kemudian Luhan kembali ke posisi semulanya. Tapi Sehun menarik kepala Luhan dan menyandarkannya di bahunya. Sehun tersenyum.
"Teruslah seperti ini. Aku sangat merindukanmu."
"Ya, aku juga. Sudah sangat lama. Aku tak mendapatkan pelukan dan ciuman hangat darimu."
"Kau mau?"
"Hm, entahlah. Kau pasti sibuk."
"Sibuk? Yang benar saja. Setiap harinya sangat membosankan bagiku. Mari kita melakukannya malam ini."
"Eh?"
"Ya, sekarang juga tak apa."
Sehun menarik tangan Luhan dan mengajaknya memasuki apartemen. Sesampainya di apartemen, luhan menaruh barang-barangnya di kamar. Menata kembali semua pakaiannya. Luhan membalikkan badannya. Luhan kaget melihat Sehun tampak memakai sebuah piyama.
"Oh Sehun, ini sudah pagi. Kau mau tidur lagi?"
"Kau bilang kau merindukan pelukan dan ciumanku. Kalau begitu, mari kita lakukan."
"Oh Sehun, apa yang sedang kau bicarakan huh?"
Sehun melangkah mendekati Luhan.
"Jangan pura-pura bodoh."
Sehun meraih leher Luhan kemudian perlahan menempelkan bibirnya ke bibir Luhan. Luhan terdiam kaku. Sehun mencium Luhan sangat dalam. Kemudian Sehun melepaskan pegangannya di leher Luhan, dan memeluk Luhan sambil terus menciumnya. Kemudian Sehun menjatuhkan Luhan ke kasur. Perlahan Sehun membuka kancing bajunya.
"Hey, ayolah. Ini bahkan di pagi hari. Dan kau sudah mau melakukannya? Oh Sehun! Berhenti!"
Luhan mulai tak merasa nyaman. Luhan merasa kaget ketika Sehun sudah bermain ke tempat yang lebih dalam. Luhan bergejolat. Ia berusaha menghindar saat Sehun akan membuka kancing baju Luhan.
"Oh Sehun, hentikan! Hey! Jangan buka kancing bajuku!"
Sehun terdiam. Jarinya masih menyentuh kancing baju Luhan. Sehun kemudian menatap Luhan dengan serius.
"Baiklah bukannya aku tak mau. Tapi, ini pagi hari. Menjelang siang bahkan! Jadi jangan buka bajuku oke?"
"Memangnya apa masalahnya kalau ini siang hari?"
"Ah! Kau akan membuatku tak bisa bergerak nyaman."
Sehun tak mendengarkan kata-kata Luhan. Sehun pun membuka kancing baju Luhan. Luhan pun marah dan terus saja bergejolat. Tapi, Sehun terus saja melakukannya. Sehun menciumi badan Luhan. Sementara tanpa sepengetahuan mereka, ayah Luhan ternyata mendengarkan sebuah desahan dari apartemen Sehun. Yap, sudah dari tadi ayah Luhan berdiri di depan pintu.
"Ahh, emmhh, uhhh."
Suara desahan Luhan membuat ayah Luhan tampak bahagia tapi tampak sedikit jijih juga. Kemudian beberapa jam kemudian, ayah Luhan terus menunggu. Sampai 3 jam kemudian, desahan Luhan tak lagi terdengar. Ayah Luhan pun mencoba mendengarkan lebih detail. Tapi memang benar. Luhan sudah berhenti mendesah. Ayah Luhan pun pura-pura menelpon Sehun.
Drrttt.. drrttt..
"Ya, ayah mertua. Ada apa?" ucap Sehun sambil terengah-engah.
"Aku berada di depan pintu apartemenmu. Aku membawakan makanan kesukaan Luhan dan kau!"
"HAH?!" Sehun langsung terbangun dari kasurnya.
Ia langsung buru-buru memakai pakaiannya. Sementara Luhan tampak lelah dan ingin tidur.
"Hey Luhan, ayahmu diluar sana."
"Hah?! Siapa? Ayah? Sedang apa dia huh?"
"Entahlah. Dia hanya bilang membawakan makanan untuk kita."
"Aaa, tapi aku rasa ini masih sakit. Aku tak bisa bertemu dengannya."
"Tapi aku memasukimu perlahan."
"Perlahan apanya?! Kau itu asal masuk saja! Kau tak tahu yang ku rasakan ouch."
"Yayaya, baiklah. Tunggu disini. Aku akan bilang bahwa kau sedang sakit."
Sehun berjalan menuju pintu apartemennya. Ketika ia membuka pintu apartemennya, ayah Luhan tampak tersenyum bahagia. Entah kenapa. Bahkan Sehun sendiri pun bingung. Kemudian ayah Luhan duduk di sofa. Sehun ikut duduk. Ia melihat ayah Luhan membawakan banyak makanan.
"Baiklah, Sehun, tadi, kalian, apa yang baru kalian lakukan?"
"Hah? Memangnya apa sih?"
"Um, tadi aku mendengar desahan dari Luhan, kau baru saja,"
Sehun melotot pada ayah Luhan. Ia kaget. Kemudian memuntahkan sebuah makanan yang baru saja ia santap.
"Um, jeongmall jeoseonghamnida."
"Eh, tak apa. Kau tak apa kan?"
"Um, apakah ayah mertua memperhatikan gerak-gerik kami?"
"Tidak juga. Hanya kebetulan."
Sehun memundurkan tatapannya.
"Um, ya benar. Aku hanya berusaha berpikir tentang kata-kata ayah mertua. Bukankah aku dan Luhan harus memiliki anak? Oleh sebab itu aku, ya, mencobanya."
"Woah, kau luar biasa Oh Sehun."
"Eh?"
Sehun bingung ketika tiba-tiba ayah Luhan mengusap rambutnya seperti anak kecil. Kemudian tiba-tiba handphone Sehun berbunyi. Ternyata sebuah pesan dari Baekhyun. Sehun memutar bola matanya. Mau ngapain lagi sih?
'Bisa temui aku di kafe dekat apartemenmu?'
Sehun langsung mengambil jaketnya, kemudian pergi. Ayah Luhan pun memperhatikan dari belakang. Ia bingung. Akan kemana lagi Sehun sekarang? Sehun duduk sambil meminum secangkir kopi. Ia memutar-mutarkan handphonenya. Menunggu Baekhyun yang sangat lama. Sehun pun membeli semangkuk sereal. Kemudian menyantapnya. Ia tak sengaja menyenggol segelas kopi yang ia minum. Ia kaget kemudian berusaha mengambil gelas tersebut. Tiba-tiba tangan seseorang berada di atas tangannya. Sehun mengangkat kepalanya. Akhirnya datang juga. Ternyata orang itu adalah Baekhyun.
"Biarkan aku yang bereskan ya Sehun."
"Ya, kalau begitu bersihkan."
Sehun melanjutkan santapan serealnya. Kemudian Baekhyun duduk tepat di hadapannya.
"Sehun, aku harus bicara."
"Silahkan."
"Habiskan dulu serealmu."
"Sudah bicara saja."
"Habiskanlah. Aku tak ingin kau tersedak."
"Baiklah. Aku selesai. Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Sehun, ku mohon. Kembalilah padaku oke?"
"Hey, bukankah kau akan menikah dengan Chanyeol?"
"Tidak. Ini hanya perjodohan."
"Menikah saja dengan Chanyeol. Lagipula aku tak ada niat untuk memiliki istri dua."
"Ayolah. Kau lebih pilih aku atau Luhan?"
"Tentu saja Luhan."
"Mwo? Tapi dia gadis Cina. Dan aku gadis Korea!"
"Lebih baik gadis Cina dengan hati murni, dari pada gadis Korea hati buruk."
"Kau pikir hatiku buruk? Tidak Oh Sehun! Kau salah."
"Wanita hati baik, tidak akan merebut suami orang lain. Dengar baik-baik Byun Baekhyun. Aku sudah resmi menjadi suami dari Xi Luhan. Kau tak bisa merebutku darinya. Karena aku bukan mainan anak-anak yang diperebutkan. Mengerti? Sekarang pulanglah. Dan juga, jangan pakai pakaian pendek seperti ini. Karena kau tahukan? Ini musim dingin. Nanti kau kedinginan. Ini, pakai lap ini untuk menutupi bawahanmu."
Baekhyun terdiam saat Sehun mengikatkan sebuah lap di tubuh Baekhyun yang ramping.
"Pergilah. Nanti akan ada badai salju. Perkiraan cuaca yang mengatakan. Sana pulang."
Sehun pun berjalan keluar dari kafe tersebut. Ia menaiki mobilnya yang hendak ia parkirkan di lobby apartemen. Sehun sudah siap menjalankan mobilnya. Tapi tiba-tiba Baekhyun berdiri menghadang Sehun di depan. Sehun kaget. Ia menabrak Baekhyun sampai pingsan. Sehun pun dengan cepat langsung memanggil ambulan. Dan langsung membawanya ke rumah sakit. Sementara Luhan tampak bolak-balik dari kamar mandi. Ia terus saja ingin muntah. Karena merasa tak enak, ia pun pergi menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, ia memasuki ruang pemeriksaan. Luhan gelisah. Ia menggigit jarinya berulang kali. Hingga pemeriksaan selesai, seorang dokter duduk tersenyum di depannya. Luhan bingung. Ketika tiba tiba dokter itu berkata, bahwa ini adalah hal baik. Hal baik?
"Selamat nyonya. Anda tengah mengandung seorang bayi saat ini."
"Huh? Maksud anda?"
"Yap. Anda hamil nyonya. Saya ucapkan selamat ya."
"Hah?"
Luhan terdiam tak percaya. Tapi, entahlah, tiba-tiba hatinya terasa berdegup kencang. Ia sepertinya merasa sangat senang. Kemudian ia membuka hasil tes laboratorium yang diberikan oleh dokter tadi. Ya, memang benar. Luhan hamil. Luhan pun berjalan bahagia sambil membawa kertas tersebut. Ia melewati ruangan UGD. Kemudian Luhan menghentikan langkahnya. Ia melirik pada seorang pria yang nampaknya tak asing lagi. Luhan langsung mendekat pada pria tersebut. Terlihat pria itu sedang tertidur di samping wanita yang dirawat. Luhan tak percaya. Itu adalah Sehun. Dan wanita itu, adalah Baekhyun. Luhan menahan amarahnya. perlahan ia membangunkan Sehun dari tidur. Sehun kaget dan terbangun dari kursinya. Luhan menatap Sehun dengan air mata yang hampir menetes di pipinya. Sehun melirik pada sebuah kertas yang dibawa oleh Luhan.
"Oh Sehun, apa yang sedang kau lakukan?"
"Um, begini, tadi aku tak sengaja menabrak Baekhyun dan—"
"Menabraknya? Lalu kenapa kau menunggunya disini? Memangnya dia siapa mu? Kenapa tidak biarkan dia sendirian?"
"Kalau dia sendirian, dia akan bingung saat bangun nanti."
"Tapi kau kan bisa telepon Chanyeol."
"Masalahnya aku tak tahu nomornya."
"Kalau begitu gunakan handphone milik Baekhyun."
"Iya, tapi,"
"TAPI APA?!" Luhan membentak Sehun dengan sekian air mata yang membasahi pipinya.
"Luhan dengarkan lah dulu oke?"
"Dengarkan apa?! Kau pikir aku bodoh? Sehunie, di saat aku tengah mengandung anakmu seperti ini, kau malah mengkhianatiku?!"
"Apa? Mengandung anakku?"
Luhan terdiam. Ia keceplosan. Sehun menatap Luhan dengan bingung. Kemudian bertatapan dengan tatapan penuh tanya. Sehun pun mengambil sebuah kertas yang terdapat di genggaman Luhan. Sehun membacanya. Ia ternganga.
"Xi Luhan, kau?"
"Ya! Benar! Aku hamil! Memangnya kenapa?! Dan kau tetap bersama wanita ini?!"
"Tidak tidak. Aku tak mengerti."
"Kau tak tahu? Sudah berapa kali kita tidur seranjang? Sudah berapa kali kita melakukan hal itu? Kau tak menyadarinya?!"
"Um, aku,"
"Pergilah. Kembalilah pada Baekhyun! Aku tak membutuhkanmu! Aku akan membesarkan anak ini sendiri!"
"Tidak, aku ayahnya. Mari mengurus bersama. Luhan jangan seperti itu."
"Lalu kenapa kau masih peduli pada wanita ini?"
"Yap, sebenarnya aku mau menelpon Chanyeol, tapi aku tak tahu nomornya. Dan handphone Baekhyun di pola. Dan aku tak tahu. Jadi dengarkan aku dulu oke?"
"Lalu?"
"Ya, dan aku mungkin harus tanggung jawab. Karena aku menabraknya."
"Bahkan dia tak terluka. Dia hanya pura-pura tidur."
Luhan mengambil sebuah sampah dan menaruhnay ke hidung Baekhyun. Baekhyun pun terbangun. Baekhyun langsung menyingkirkan sampah itu dari wajahnya.
"Baekhyun-ah?" Sehun merasa tak percaya dengan Baekhyun.
"Um, Sehun, aku tidak bermaksud. Aku hanya,"
"Bahkan disaat aku sedang serius begini, kau malah berpura-pura?"
"Sehun dengarkan dulu oke, jadi,"
"Berhenti berbicara kau. Chagi, aku salah. Ayo pulang."
"Sehun! Tunggu sebentar! Bagaimana aku pulang huh? Sehun!"
Sehun menggandeng Luhan keluar dari rumah sakit. Di dalam mobil Sehun, Luhan terus saja menggandeng tangan Sehun. Saat lampu merah berhenti. Sehun melirik pada Luhan.
"Jaga anak itu baik-baik. Aku tak akan mengijinkanmu pergi minum alkohol lagi, berpesta dengan Chanyeol, ataupun berjalan sendiri di jalanan. Aku akan selalu menemanimu. Apapun yang aku butuhkan, cukup bilang padaku. Aku akan melakukan apapun."
"Benarkah? Kalau yang aku butuhkan adalah bibirmu?"
"Kalau begitu, dapatkanlah. Ini."
Sehun mendekatkan wajahnya dengan wajah Luhan. Sehun mulai menempelkan bibirnya di bibir Luhan. Sehun mematikan mesin kendaraanya. Ia berhenti di tengah jalan. Sehun terus melumat bibir Luhan. Beberapa kendaraan bahkan merasa marah karena Sehun. Tapi ia tak peduli. Ia masih terus mencium Luhan. Benar-benar lembut. Sehun meraih leher dan punggung Luhan. Sehun mencium Luhan sambil memeluknya. Benar-benar luar biasa.
Together With You-
