Jung Sooman beserta istri dan putra semata wayangnya pulang ke Korea keesokan harinya, seperti halnya Yunho, Soo man juga punya urusan yang tak kalah penting di Korea. Sementara Ara untuk sementara calon menantu keluarga Jung itu tidak berkenan hadir berkaitan dengan keputusan mendadak keluarga Jung yang membuat Ara bahkan tidak kuasa untuk mengikut melainkan menunggu waktu yang tepat untuk menyusul.

Begitu tiba di Korea, Jung Yunho lansung melesat ke markasnya bersama kawanannya tanpa menghiraukan rasa lelah setelah perjalanan panjangnya. Jung Sooman langsung menghubungi asistennya Kangta memerintahkannya untuk menjemput Jaejoong, dan disinilah Kangta asisten Jung Sooman sedang menunggu Kim Jaejoong di depan gerbang sekolah, ia tidak membawa bodyguard yang lain, karena takut menimbulkan kesalah fahaman dengan bodyguard Jaejoong. Setengah jam berlalu saat Kangta melihat sosok Jaejoong yang tatkala itu sedang bersiap-siap ingin masuk ke mobilnya.

"Kim Jaejoong-shii,"Panggil Kangta, Jaejoong tidak jadi masuk ia hanya menoleh ke arah Kangta yang sekarang mendekatinya, tapi mengingat pakaiannya yang formal dan sedikit mencurigakan seketika boyguard Jaejoong waspada dan mencoba menghalangi Kangta untuk lebih dekat selangkah lagi. Kangta akhirnya menyerah dan memutuskan untuk bicara dengan Jaejoong dari jarak 1 setengah meter ini.

"Kim Jaejoong-shii saya adalah asisten Tuan Jung Sooman, ini kartu nama saya,"Kangta menyerahkan kartu namanya, Eunhyuk salah satu bodyguard Jaejoong mengambil kartu nama itu dan menyerahkannya pada Jaejoong.

"Ada apa kau mencariku?"Tanya Jaejoong kemudian setelah ia melihat kartu nama itu.

"Tuan Jung ingin bicara empat mata dengan anda, beliau sedang menunggu anda, apa anda punya waktu?," Tanya Kangta to the point, Kim Jaejoong menatap Kangta cukup lama, sebelum mengambil keputusan.

"Baiklah,"Jaejoong menerima ajakan itu, bahkan tanpa perlu menjawab apa ia punya waktu atau tidak, kini dengan dua mobil berbeda mereka menuju tempat yang sama salah satu restoran mewah yang terletak di pusat Seoul. Kangta memimpin rombongan mereka menuju tempat dimana Jung sooman menunggu Jaejoong. Tak jauh dari tempatnya sekarang Jaejoong sudah bisa melihat sosok lelaki paruh baya yang sebagian besar bentuk wajahnya seperti milik Yunho itu, untuk seketika kekalutan menyelimuti relung hatinya ada rasa takut akan pernyataan yang mungkin ingin disampaikan oleh appa dari kekasihnya itu, dan sepertinya ia sudah bisa menebaknya, lalu apa yang akan ia katakan nanti?

"Silahkan Kim Jaejoong-shii,"Jung Soo man masih dengan gaya wibawanya mempersilahkan Jaejoong untuk duduk di depannya, Jaejoong hanya menurut, mereka sudah duduk cantik, terdiam sebentar, memesan minuman sebelum memulai pembicaraan.

"Apa kau bisa menebak apa yang ingin kubicarakan denganmu?"Tanya Jung Soo man sopan namun masih terdengar nada tegas di dalamnya

"Yunho,"Jawab Jaejoong yakin, nada suaranya sedikit lebih bergetar, Jung Soo man mengangguk pelan kemudian membuka kaca matanya

"Ini pembicaraan antara pria bukan, jadi kuharap kau bisa lebih menjaga rahasia,"Ucap Jung Soo man lagi

"Anda tidak perlu khawatir saya akan merahasiakan ini dari Yunho,"Jawab Jaejoong tahu maksud Jung Soo man

"Aku tahu... Jaejoong-shii kali ini aku merasa benar-benar harus bicara langsung denganmu ,kau harus tahu bahwa aku tidak bisa membiarkan hubungan terlarang kalian ini terus berlanjut,"Ujar Jung Sooman langsung ke pokok permasalahan, Jaejoong hanya terdiam, tidak tahu harus menjawab apa

"Kau mungkin belum tahu ini, tapi beberapa bulan lagi putraku akan menikah dengan Ara, begitu kalian lulus SMA," Jung Sooman menatap Jaejoong tajam tidak sedang berusaha mengintimidasi tapi memang begitulah caranya menatap hampir mirip kebiasaan Yunho. Jaejoong tentu saja sangat terkejut, bagaimana tidak, masalah ini jelas belum sampai ke telinganya, Yunho pasti belum sempat memberitahukannya mengingat sejak kepulangannya ke Korea, Yunho bahkan belum menghubunginya, well itu sudah biasa sebetulnya. Jaejoong manarik nafas berat mencoba untuk tetap tenang, meski jantungnya kini berdetak lebih cepat.

"Yunho tidak bisa terus bersamamu Kim Jaejoong, dia punya tanggung jawab besar, dan kau harus tahu itu, hubungan kalian ini akan membawa pengaruh buruk bagi nama baik keluarga Jung,"Jelas Jung Sooman lagi, sementara Jaejoong masih terdiam

"Aku tidak menyalahkanmu dalam hal ini, juga tak menyalahkan Yunho, hanya saja aku tidak bisa mentolerirnya begitu saja, seperti halnya keluargamu, keluarga kami juga keluarga terhormat, karena itu aku berharap jika kau memang mencintai putraku, lepaskan dia, dia harus hidup lebih baik dari ini,"Kata-kata terakhir Jung Sooman sangat menusuk hati Jaejoong, dalam hati ia membatin apakah selama ini hidup Yunho tak lebih baik saat bersamanya dan apakah memang benar jika ia mencintai Yunho dia harus melapaskan Yunhonya. Jaejoong masih terdiam berusaha untuk tidak terlihat sangat frustasi.

"Saya tahu,"Jaejoong mulai membuka mulut

"Tuan Jung saya hanya akan mengatakannya sekali, saya sangat mencintai putra anda, bagaimanapun cara kami menjalaninya, tapi jika anda tidak bisa merestui hubungan ini saya sendiri tidak bisa membantu anda. Putra anda adalah orang paling keras kepala yang pernah saya kenal, dan dia adalah orang yang mengatur hubungan kami. Percayalah, saya sama sekali tak punya kuasa merubah keputusannya."Jawab Jaejoong jujur dan sebenarnya sangat tulus

"Maksudmu kau tidak ingin melepaskannya? Kim Jaejoong,"Nada bicara Jung Sooman naik satu oktaf

"Saya tidak berani,"Jawab Jaejoong, mendengar itu Jung Sooman hanya bisa terdiam, dagunya mengeras dan tangannya mencengkeram erat lengan kursi tempat ia duduk, ia menatap Jaejoong tajam, namun Jaejoong hanya balas menatapnya tenang.

"Apa bagimu hanya dengan kalian saling mencintai semua akan baik-baik saja?Hah? Kim Jaejoong-shii? jika kau masih punya hati maka kau harus lebih berani menghadapi putraku, kalau kau tidak ingin masa depannya hancur lepaskan dia, aku dan seluruh keluarga Jung pasti akan sangat berterima kasih,"Kini ada raut wajah kecewa, marah, sedih semua terlukis di wajah seorang appa itu

"Aku harus kembali ke kantor, semoga kau mau berubah pikiran," Jung Sooman menatap Jaejoong sebentar membayar tagihan minum mereka sebelum pergi dari tempat itu menuju kantornya, meninggalkan Jaejoong yang masih terdiam kalut dengan pikirannya sendiri, ia tak tahu harus berbuat apa, keberanian yang selalu diberikan Yunho untuk menyemangatinya luntur seketika, dan rasa bersalahnya kian mendalam pada keluarga Jung.

Jaejoong mengambil ponselnya, menekan tombol tertentu mencoba menghubungi Yunho, Jaejoong menuggu beberapa menit, namum telponnya tidak diangkat, ia terus mencoba beberapa kali dan hasilnya masih seperti itu, merasa kesal ia akhirnya memutuskan untuk berganjak dari tempat duduknya menghampiri bodyguardnya yang setia menjaganya.

"Shindong, apa kau tahu dimana markas Yunho dan anak buahnya?"tanya Jaejoong pada Shindong

"Em kalau tidak salah di salah satu gedung kosong tak jauh dari sekolah Tuan muda,"Jawab Shindong

"Antarkan aku kesana,"Perintah Jaejoong dan langsung mendahului para bodyguardnya yang terus mengiringnya keluar restoran itu dan mengantarnya ke tempat Yunho.

15 menit kemudian mereka sudah tiba di markas Yunho, gedung tua yang pembangunannya terbengkalai memang tak jauh dari sekolah mereka. Jaejoong memarkirkan mobilnya tak jauh dari bangunan itu.

"Kalian tunggu disini saja,"Titahnya pada para bodyguardnya

"Tapi tuan muda apa tidak bahaya?"Tanya Shindong khawatir

"Disana hanya ada Yunho dan kawanannya, tentu saja aku akan baik-baik saja,"Jawab Jaejoong yakin, tanpa menunggu jawaban Shindong lagi, Jaejoong akhirnya melangkahkan kakinya mendekati tempat itu. Jaejoong sudah bisa melihat kawanan Yunho yang entah saat itu sedang melakukan apa, tapi sepertinya sedang menyoraki sesuatu, dan ditengah-tengah mereka dua orang sedang saling baku hantam, Jaejoong tanpa rasa gentar sedikitpun mendatangi mereka. Ada beberapa dari mereka yang tidak mengenali Jaejoong segera menoleh dan menatap Jaejoong dari ujung rambut sampai ujung kaki, sementara yang lain yang mengenalinya sangat terkejut dan hanya bisa menelan ludah takut, mengingat saat ini sosok yang yang sedang baku hantam yang mereka soraki sedari tadi adalah seorang Jung Yunho dengan seseorang dari kawanan musuh mereka.

"Hah mati kau Jung Yunho,"Ucap Minho,sementara yang lain hanya menatap Jaejoong pasrah, Jaejoong terus mendekat, Minho dan temannya yang lain terang saja mencoba memberi kode pada Yunho namun karena keasyikan Yunho bahkan tak mendengar. Sementara itu Jaejoong terus mendekat, beberapa kawanan Yunho segera menyingkir memberikan Jaejoong jalan, Jaejoong menarik nafas dalam saat melihat Yunho kini masih tak menyadari keberadaannya, wajahnya juga babak belur meski tak separah musuhnya.

"Jung Yunho,"Panggil Jaejoong, namun Yunho tak juga merespon, Jaejoong akhirnya menyentuh pundak Yunho, dan secepat kilat Yunho menoleh, tapi bukan hanya sekadar menoleh ia bahkan hampir melancarkan pukulan telak di wajah Jaejoong jika saja ia tak langsung bisa mengontrol diri, seketika itu juga Yunho akhirnya tersadar, nafasnya masih terengah-engah orang didepannya adalah Kim Jaejoong seseorang yang sama sekali tidak boleh menerima kekerasan darinya. Jaejoong hanya balas menatap Yunho tajam.

"Hah, Jaejoongie,"Ucapnya dengan sisa nafas yang ada kemudian segera memeluk Jaejoongnya erat, teman-teman disekelilingnya hanya menatap mereka canggung.

"Maaf, maaf jangan marah,"Yunho segera meminta maaf sebelum Jaejoong yang memarahinya, Jaejoong mendorong tubuh Yunho

"Aku menelponmu, dan kau tidak mengangkatnya,"Nada bicara Jaejoong sangat dingin, dan mata Yunho langsung membelalak kaget

"Benarkah? Aku benar-benar tidak mendengarnya,"Kilah Yunho, Jaejoong mempoutkan bibirnya sebal, Yunho tersenyum melihat keimutan Jaejoongnya namun ia langsung tersadar dan segera menoleh ke teman-temannya yang lain yang saat ini memandang Jaejoong dengan tatapan lapar, dan seketika itu juga emosi Yunho kembali memuncak, ia memberikan deathglare pada anak buahnya yang lain, dan seketika itu juga mereka segera mengalihkan tatapan mereka pada hal lain yang tidak penting.

"Ayo bicara ditempat lain,"Yunho menarik tangan Jaejoong mengajaknya bicara ditempat yang lebih sepi.

"Orang ini, kumohon bawa dia kerumah sakit dulu,"Jaejoong menunjuk musuh yang habis dihajar Yunho tadi, meski tidak pingsan tapi sang musuh lumayan terkapar.

"Kau! bawa dia ke rumah sakit,"Titah Yunho pada salah satu newbie di kelompoknya itu, dengan segera ia menuruti perintah Yunho dan meminta bantuan teman lainnya untuk membopong musuh mereka itu ke dalam mobilnya. Kini teman-teman Yunho yang lain masih berada di tempat itu sibuk dengan tingkah konyol mereka. Sementara Jung dan Kim muda juga sibuk dengan urusan mereka.

"Aku akan mengambil kotak obat dulu,"Jaejoong berganjak menuju tempat parkir mobilnya untuk mengambil kotak obat yang selalu tersedia di mobil itu, dan asal kalian tahu saja meski Jaejoong adalah namja namun ia memiliki mental ahjumma-ahjumma dimana selalu memikirkan hal buruk terlebih dahulu sementara hal lain menyusul, sehingga perlengkapan yang sifatnya jaga-jaga ini akan selalu ia bawa kemana-mana.

Tak sampai 3 menit Jaejoong sudah kembali, dan mulai membersihkan luka memar diwajah Yunho, sementara Yunho hanya diam, ia benar-benar penurut sekarang.

"Terakhir kali kau merawat lukaku, itu 5 bulan yang lalu kan,"Ucap Yunho tiba-tiba

"Itu karena kau tidak berkelahi lagi akhir-akhir ini,"Jawah Jaejoong masih fokus pada wajah Yunho

"Dan aku harap kau tidak berkelahi lagi selamanya,"Sambung Jaejoong menyelesaikan pekerjaannya dan kini menyimpan semua peralatan medis kedalam kotak obatnya. Yunho terdiam kini satu tangannya memegang wajah Jaejoong mengelusnya lembut

"Kau tahu sifatmu ini sangat dingin, hah Jung Jaejoong,"Ucap Yunho sambil membelai wajah Jaejoong lembut, Jaejoong merona diperlakukan semesra ini, Kemudian Yunho memukul pelan puncak kepala Jaejoong sambil tersenyum manis.

"Kau kenapa menelponku?"tanya Yunho kemudian, seketika itu Jaejoong terdiam, ia tak menjawab kemudian segera mengatur nafasnya diam-diam, Yunho masih menunggu jawaban, Jaejoong membenarkan posisi duduknya kemudian mulai bicara.

"Aku ingin bertanya sesuatu?"Jaejoong kemudian malah balik tanya, Yunho tak menyahut melainkan hanya memberi respon dengan mengangkat dagunya untuk mengiyakan permintaan Jaejoong

"Yunho-shii apa kau mempunyai rencana?"Tanya Jaejoong agak pelan, Yunho hanya mengerutkan dahi tak mengerti

"Hubungan kita ini... menurutku kita tidak bisa hanya seperti ini, kau sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah, jika kau ingin mepertahankanku lalu apa yang akan kau lakukan?'Tanya Jaejoong mencoba untuk lebih berani, Yunho terdiam beberapa saat, sebelum menjawab

"Terima kasih sudah mengingatkan, aku pikir aku akan menunggu saat romantis untuk ini tapi kurasa tidak perlu lagi,"Yunho mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, sebuah kotak persegi berwana merah darah yang dilapisi kain beludru yang lembut. Ia kemudian membuka kotak kecil itu memperlihatkan 2 buah cincin emas putih bertahta berlian kecil elegan dan terkesan mahal.

"Cartier"Komen Jaejoong santai, dari modelnya Jaejoong yang super sophaholic ini langsung bisa menebak mereknya, sementara Yunho hanya tersenyum kecil.

"Lupakan brandnya Jung Jaejoong,"Yunho memutar bola matanya malas, kini Kim Jaejoong hanya menatapnya bingung.

"Menikahlah denganku,tidak sekarang mungkin setelah lulus SMA...mungkin saat itu kita akan lebih banyak masalah, tapi cukup hanya ada kau dan aku, kita pasti akan baik-baik saja,"Kata-kata itu adalah sebuah lamaran, Yunho akhirnya melamar Jaejoong, Jaejoong menatap mata Yunho tak percaya, laki-laki ini ternyata tidak hanya egois dan keras kepala tapi juga sangat nekat.

"Yunho-shii ini... apa ini tidak terlalu..."

"Berhenti memanggilku Yunho-shii tidak adakah panggilan yang lebih mesra untuk suamimu ini huh?"Protes Yunho sebelum melanjutkan lagi

"Aku tahu kau mungkin belum siap, tapi hanya ini satu-satunya cara meyakinkan mereka bahwa aku serius, aku tidak mau menikah dengan gadis manapun, aku hanya menginginkanmu Jung Jaejoong,"Yunho terlihat sangat serius, sorot matanya seperti memancarkan cahaya terang menyilaukan yang tanpa sadar membuai Jaejoong kembali terhanyut dalam kisah cinta menyakitkan ini.

"Yunho-sh... Yunho,...lalu bagaimana dengan perusahaanmu? bagaimana dengan nama baik keluargamu?Bagaimana dengan perasaan mereka?"Jaejoong masih ragu dengan keputusan tiba-tiba ini.

"Aku ini pengusaha bukan selebriti, aku tidak selalu butuh nama baik untuk berbisnis, lagipula yang kulakukan tidak salah aku hanya mencintai namja, dan siapapun itu aku hanya mencintai seseorang, dan keluargaku mereka pasti akan mengerti suatu saat nanti,"Jelas Yunho yakin

"Tapi tidakkah aku terlalu egois, memonopoli kamu dan membuat jarak diantara keluargamu, kita adalah aset di keluarga kita Yunho, terlahir sebagai anak tunggal dari keluarga yang akan mewariskan kita nama baik dan kehormatan,"Jaejoong masih mencoba memberi pengertian, tidak, ia tidak sedang menolak Yunho, ia hanya ingin tahu sejauh mana Yunho mengerti tentang hubungan ini, dan sesiap apa Yunho dengan semua rencananya.

"Ini tidak main-main Jaejongie, aku bukan namja berpikiran pendek yang hanya tahu bersenang-senang sesaat, dengarkan aku, lupakan keraguanmu itu, lupakan rasa bersalahmu, dan tetaplah menatapku, keluarga kita akan kecewa, dan mereka akan sangat sedih itu sudah pasti, tapi mereka akan lebih sedih lagi jika mereka kehilangan putra mereka, aku bertanya apa kau sanggup hidup tanpaku Huh? Jaejoongie? Karena aku tidak akan sanggup, sama sekali tidak sanggup, ini batasan yang tidak bisa kulewati dalam hidupku dan itu adalah kau,"Yunho masih terus memberi penjelasan pada Jaejoong, mencoba meyakinkan Jaejoong dengan semua rencananya.

"Tapi bagaimana kita menikah tanpa restu mereka?"Tanya Jaejoong frustasi

"Kita akan mendapat restu orang tuamu kan, dan kita juga akan mendapatkan restu orang tuaku cepat atau lambat, malam besok ikutlah denganku, kita akan kerumahku bicara dengan orang tuaku dan apapun yang akan mereka katakan nanti tetaplah bersamaku, dan jika kau takut pegang tanganku dan jangan pernah lepaskan,"Yunho membungkuk sedikit memegang kedua bahu Jaejoong dan mensejajarkan mata mereka, berbicara dengan nada tegas dan yakin, Jaejoong merasa keberaniannya semakin tersulut, Yunho memang orang yang penuh Passion, meski keras kepala dan egois tapi ia akan memperjuangkan apa yang diinginkannya sampai akhir, dan itu pasti. Menjawab dalam kebisuan, Jaejoong mengangguk sambil tersenyum lembut, berada di sisi Yunho ia memang selalu merasa terlindungi hingga tak perlu takut apa-apa lagi.

"Sekarang kemarikan tanganmu,"Yunhu memegang tangan Jaejoong lembut memasangkannya cincin couple nan indah itu, tapi bukannya senang Jaejoong kemudian malah memasang raut wajah sebal.

"Kenapa? Kau tidak suka? Ini sangat mahal dan dipesan khusus tau,"Yunho tidak terima

"Lalu kenapa kau memesankan cincin wanita untukku?"tanya Jaejoong dingin, mendengar itu yunho Cuma cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Kau menyebalkan tuan Jung,"Jaejoong meninju lengan kekar Yunho pelan, kemudian memposisikan duduknya menghadap ke depan lagi, wajahnya bersemu merah dan hampir tertunduk malu saat ia menatap cincin yang kini tersemat di jari manisnya dan tahukah kalian, ia sangat bahagia hari ini.

"Oh iya, Yunho, apa aku boleh meminta izin?"Tanya Jaejoong seakan baru ingat sesuatu

"Apa?"Tanya Yunho tidak tertarik

"Apa aku boleh bermain drama, sebagai pangeran, kasihan Park songsaengnim belum berhasil mendapatkan peran itu, lagipula..."Jaejoong terlihat ingin nyerocos lebih banyak lagi untuk mendapatkan simpati Yunho

"Tidak! Itu kesempatan mereka untuk menciummu, coba saja kalau berani akan aku hancurkan panggung itu saat itu juga, kalau perlu kubakar saja"Potong Yunho berapi-api dan dia masih tidak berhenti marah-marah sampai disitu saja, sementara Jaejoong hanya memutar bola matanya malas.

"Sudah kuduga,"Batinnya pasrah

Semalaman ini Jaejoong sama sekali tidak bisa tidur, jantungnya terus berdetak lebih cepat, ia sangat gugup dan takut untuk menyambut hari besok. Terang saja Yunho tak berada disampingnya saat ini, appa Jaejoong Siwon sudah kembali ke Korea ia membawa banyak oleh-oleh untuk semua anak buahnya dan berakhir kelelahan bukan karena perjalanan tapi karena membagikan oleh-oleh yang tak kian habis untuk semua anak buahnya tanpa ketinggalan satupun. Kini siwon tergeletak pasrah di ranjang king sizenya menyalurkan rasa lelahnya dengan tertidur pulas, sementara putranya sekarang seperti bertarung antara hidup dan mati mencoba untuk tidak terlalu panik tapi malah membuatnya semakin gila, kemana sifat tenangnya yang dulu, semua ketenangannya seakan terkikis oleh sifat nekat Yunho yang selalu memacu andrenalinnya.

Keesokan harinya Jaejoong terbangun dengan wajah kusut, ia baru bisa terlelap pukul 4 subuh dan terbangun pukul 6 pagi, seluruh sendi dan lututnya benar-benar terasa sakit, dan jika saja hari ini ia tidak ada ulangan penting mungkin ia akan membolos, sedikit mencontek kebiasaan Yunho tentunya.

"Kyaaa Oppa , kau kenapa?"Seketika para fans fanatiknya terpekik kaget melihat raut wajah Jaejoong yang tak biasa, Jaejoong tak menyahut masih dengan sifat aslinya tidak mau ambil pusing, ia melangkah gontai menuju ke kelasnya di teriaki banyak fansnya karena ketidak siapan wajahnya hari ini, dan ia bahkan kini bertubrukan dengan Yunho, yang melaju pesat dari arah berlawanan, karena bertubuh lemah dan lebih kecil dari Yunho, Jaejoong terpelanting beberapa meter.

"Auch, aaaahhh,"Rintihnya kesakitan

"Yaaa! Tidak punya mata ya!?'Bentak Yunho padanya, Jaejoong langsung memasang deathglare kesal

"Hah, iya maaf maaf, kemari,"Kebiasaannya membentak tidak bisa begitu saja hilang bahkan pada Jaejoongnya sendiri, ia menarik Jaejoong untuk kembali berdiri tegak.

"Nanti malam kujemput pukul tujuh,"Ujar Yunho kemudian

"Ya,"Jawab Jaejoong sebelum mereka sama-sama berpisah ke kelas masing-masing, dan seharian itu Jaejoong mendapatkan banyak Kopi dalam gelas plastik kecil yang tertata tidak rapi di mejanya ini pemberian fansnya, mereka pikir oppanya pasti membutuhkan kopi karena kurang tidur, dan terlihat mengantuk.

Malamnya Yunho jenuh, kesal dan sebal bagaimana tidak sudah setengah jam ia menunggu Jaejoong di ruang tamu namun Jaejoong tak kunjung turun juga, bagaimana tidak kesal, oh ayolah Jaejoong adalah namja yang akan ia kenakan bukanlah sesuatu yang merepotkan dan dia tidak perlu menabur bedak, atau pewarna wajah entah apapun itu, dan dia tidak juga perlu menyanggul rambutnya, dan Jaejoong masih bertahan dikamar dengan semua ketidakrepotan itu selama setengah jam, entah berapa lama yang akan ia butuhkan untuk berdandang jika ia seorang yeoja.

"Ku katakan satu hal nak Yunho, kau akan menangis jika kau menunggu Jaejoong berdandan, cobalah untuk menelponnya dulu dan katakan kalau kau sudah berangkat, dan kau harus berangkat satu jam kemudian, itu juga jika kau beruntung kau akan menemukannya sudah rapi,"Nasehat Kim Siwon setengah bercanda

"Hmmm Saya akan ingat itu paman,"Yunho langsung menyetujui itu dan mereka berdua tergelak sesaat.

"Maaf membuatmu menunggu lama, ayo berangkat, tanganku gatal ingin mengganti kaos lagi,"Ujar Jaejoong dingin, kemudian berjalan mendahului Yunho, Yunho dengan tergesa-gesa berpamitan pada Siwon kemudian terbirit mengikuti Jaejoong

"Appa aku pergi dulu,"Pamit Jaejoong pada Appa, Appanya hanya melambaikan tangan ke pelipis.

Di dalam perjalanan tidak ada satupun diantara mereka yang bersuara masing-masing diantara mereka hanya terdiam membisu, sibuk dengan pikiran masing-masing dan keduanya juga tidak dalam waktu yang tepat untuk bicara.

Beberapa menit kemudian mereka sudah tiba di rumah megah milik keluarga Jung, ada debaran aneh dalam dada Jaejoong mengingat permohonan appa Yunho kemarin dan sepertinya dia menyesali jika memang tak bisa melepaskan Yunho, tapi akan lebih menyesal lagi jika ia tak melangkah seberani ini bersama Yunho. Yunho memang tak bicara apa-apa sejak berangkat tadi tapi ia tak pernah melepas genggaman tangannya sejak ia turun dari mobil tadi.

Mereka masuk tanpa basa-basi menghampiri kedua orang tua Yunho di ruang keluarga, Appa Yunho menatap mereka bengis mungkin sudah mempunyai firasat buruk, sementara Umma Yunho hanya menatap mereka sendu.

"Jadi ini yang kau maksud ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?"Tanya Appa Yunho tanpa menoleh ke arah mereka ia memindahkan channel tv di depannya dengan remote control.

"Appa , Umma aku akan menikahi Jaejoong,...tidak sekarang tapi mungkin setelah lulus SMA,"Yunho tanpa pemanasan langsung ke pokok permasalahan

"Anak muda yang tidak berpikir seperti kalian tahu apa arti menikah? Hah? Cinta menjijikkan seperti ini diumbar, memalukan sekali... aku sampai matipun tidak akan merestui hubungan kalian, kau mengerti Yunho,"Soo Man masih sangat keras, memaki dengan kata pedasnya dan membentak dengan ketegasan suaranya.

"Appa, aku mohon jangan begini,"Yunho mencoba lembut, lebih memohon pada Appanya

"Pergi dari rumahku, dan kau Yunho jika kau masih ingin bersamanya, kau juga jangan menginjakkan kaki ke rumah ini lagi,"Marah Jung Soo man, matanya memerah dan ia sudah sangat kalap, emosinya tak terkontrol

"Tiidak... Yeobo apa yang kau katakan,"Yoorin terpekik pilu, kaget bercampur sedih mendengar penuturan suaminya, Jaejoong terperangah kaget, dan Yunho menggenggam tangan Jaejoong semakin kuat seakan mencoba untuk tidak terbawa emosi. Dan malam itu dengan semua kebisuan malam yang mencekam, Yunho menarik Jaejoong keluar, bersamanya semuanya akan baik-baik saja. Yoorin menangis pilu di sudut kamar, menahan rasa bersalah yang besar karena tak bisa mendamaikan dua pria yang disayanginya ini, Jung Soo man mencoba untuk tidak kalut dengan nuansa ini, ia menahan air mata yang tertahan di sudut matanya.

Yunho bersama Jaejoong melaju dengan kecepatan penuh, setelah negosiasi kali ini gagal ia tak tahu lagi bagaimana cara melunakkan hati appanya. Jaejoong terdiam terpaku mencoba untuk tidak menangis, tapi hatinya sangat sakit, ia tidak menikmati amukan Yunho yang membabi buta dengan mobilnya ini, tapi ia juga tak kuasa menghalanginya. Kecepatan penuh Audy yang dikendarai membuat mobilnya hilang kendali menghantam besi pemisah jalan, mendesak kap mobil penyok tak berbentuk, membalik mobilnya dua kali, sebelum berakhir terbalik di tengah keramaian lalu lintas, dan seketika itu Yunho bisa melihat Jaejoong sudah tak sadarkan diri sementara dirinya sendiri rapuh mencoba menggapai namun tak sanggup sebelum berakhir di kegelapan.

TBC

Jangan panik tapi saya tidak akan membuat kisah mereka rumit, mian ceritanya apa semakin membosankan? Mian juga karena saya selalu update lama, karena benar-benar sangat sibuk. Terima kasih banyak reviewnya itu sangat membantu, membuat saya tambah semangat dan ini menyenangkan.

Silent reader yang sudah mereviews, terima kasih banyak saya sangat menghargai itu