Declaimer Always Mashasi Kishimoto

But, this story and some weird words always be mine.

WARNING : OOC, AU, Fantasy, ETC.

Genre : Advanture, Fantasy, Romance, Friendship, Humor, etc etc.

Rate : T+

Pair : SasuSaku

Book One : Destiny We Choose.

By Selenavella

CHAPITRE : X

.

Mereka berempat sudah menempuh perjalanan selama 5 jam, dan tinggal sebentar lagi mereka sampai di Lilth. Kota yang namanya di ambil dari kata cahaya itu, merupakan tempat dimana pakra kunci berada. Tempat pasukan Rhean dan Kleav dikumpulkan untuk di berikan misi.

Tinggal melewati perbatasan dan mereka semua akan sampai di Lilth.

Sakura tidak mengalihkan pandangannya dari kaca mobil Kakashi. Mata hijaunya terus memandangi jalanan di sisinya. Pandangannya terlihat kosong, semua orang di dalam mobil terlihat tidak mau mengganggu gadis itu. Mereka tahu, dibalik diamnya Sakura, gadis itu tengah berduka.

Jelas, siapa yang tidak berduka ketika mengetahui orang yang kau sayangi terluka parah dalam pertarungan?

Sebagai Kleav dan Rhean sebenarnya, sudah biasa jika ada sanak saudaramu yang terluka. Namun, bagi Sakura rasanya ini sangat menyakitkan. Apalagi, Tsunade merupakan orang yang ia sayangi, orang yang ia anggap sebagai Ibunya sendiri.

Tsunade yang rupanya malam itu masih berada di ruangannya, terkena ledakan. Diduga, ledakan pertama yang Sakura dengar itulah yang membuat Tsunade terluka.

Tangan Sakura mengepal erat. Ia menutup matanya erat-erat, rasanya begitu menyakitkan ketika kau tahu kau sanggup melindungi orang terkasihmu, namun kau tidak bisa melindunginya. Ia seharusnya tetap diam di Damasquile saja dan tidak pergi bersama Sasuke! Kenapa ia seegois itu, dan malah pergi dengan Sasuke juga Naruto!

Ia mati-matian menahan air matanya, ia tidak mau jika orang-orang melihatnya lemah seperti ini.

"Ra… Kura… Sakura!"

Suara teriakan Naruto menyadarkannya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, angin musim panas menerpa wajahnya. Dan Sakura tahu dimana kini ia berada.

Sebuah bangunan nyaris menyerupai kastil tengah terhampar di depannya. Ia mengenali bangungan didepannya ini. Sebuah jalan panjang masuk ke dalam kastil itu masih ia ingat. Nyaris 2 tahun yang lalu ia pernah kemari bersama Tsunade dan Sasori. Kenangan buruk kembali membuat tengkuk Sakura bergidik. Ia sangat benci tempat ini.

"Hn, para Kunci sudah menunggu."

.

.

.

"Dan, Hatakepun akan kukirim bersama kalian. "

Dan Sakura hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya saat mendengarkan penjelasan dari Sarutobi Hiruzen, Gubernur Konoha Field. Sakura mengerti jelas apa yang mereka ucapkan, dan ia paham tanpa perlu di ulang-ulangi begitu! Demi Tuhan! Ia hanya ingin melihat keadaan Tsunade saja!

"Uchiha Sasuke, Akasuna Sakura, Uzumaki Naruto, aku juga mengirimkan satu orang teman kalian dari Akademi Damasquile, bersama satu orang wakil dari bagian timur Aelarth. Dia tengah menuju kemari," jelas Hiruzen panjang lebar. "Kalian hanya butuh mencari kalung yuvnec, dan kalian harus menemukan cara untuk menemukan dan masuk ke Lost Island, kuharap kalian bisa menyelesaikan misi ini secepat mungkin. Mengerti?"

"Ya, kami mengerti!" ujar Naruto, Kakashi, Sakura, dan Sasuke bersamaan.

"Sisanya, Kakashi akan menerangkan pada kalian. Kalian boleh keluar sekarang," Hiruzen menutup map merahnya.

"Baik!" ke empat orang itu lalu berjalan keluar.

Namun, sebelum mereka mampu mencapai pintu, Hiruzen menahan langkah mereka. "Kecuali untukmu Sakura, kuharap kau tinggal dulu sebentar disini, sementara sisanya boleh keluar," ujar Hiruzen seraya terenyum tipis.

Dan dalam hitungan detik, di ruangan itu hanya tinggal bersisa Kakek tua itu bersama dengan Sakura. Gadis berambut merah jambu itu memandang Hiruzen dengan tatapan heran. Ia memang cukup dekat dengan Gubernur Konoha Field itu, tapi ia tidak pernah berbicara berdua dengannya.

"Tenanglah, aku tidak akan macam-macam Sakura," kekeh Hiruzen. Lelaki tua itu seolah mampu membaca pikiran Sakura. "Aku hanya ingin menanyakan bagaimana kabarmu, nak."

"Aku…" Sakura menggantung perkataannya. Ia menundukan kepalanya. "Buruk."

"Aku tahu, semua ini pasti terasa berat bagimu," Hiruzen menyangga kepalanya dengan kedua tangannya yang saling berkait. "Tapi, aku tahu Tsunade adalah wanita yang kuat. Ia pasti akan melewati masa kritisnya."

"Ya, Ibu memang kuat."

"Aku tidak ingin kau menjalankan misi dengan keadaan kacau seperti ini," lelaki tua itu membuka topinya. "Apa kau masih ingin melanjutkan misi ini? Kalau kau tidak sanggup, Kunci bisa menyuruh orang lain untuk meng–"

"Tidak, aku harus bisa melakukan misi ini," potong Sakura. Dan Sakura seolah menyadari bahwa ia tengah memotong perkataan dengan sangat tidak sopan. "Ah, maafkan aku telah memotong perkataan anda."

"Tidak apa-apa nak. Hanya, aku tahu kau pasti sedang banyak pikiran bukan? Tidakkah kau mau di sini saja? Merawat Ibumu?" tawar Hiruzen.

"Terima kasih, tapi tidak," Sakura menggelengkan kepalanya. "Ibu pasti lebih suka melihatku bisa menyelamatkan lebih banyak orang, lagipula aku tahu kemampuan medis di sini mungkin lebih baik di bandingkan kemampuanku."

"Baiklah jika itu maumu. Kalau begitu kau boleh pergi Sakura."

Sakurapun membungkuk dan memutar tubuhnya, ia bersiap-siap akan pergi. Namun, sebelum ia melangkahkan kaki jenjangnya, Hiruzen kembali memanggil gadis bersurai merah jambu itu.

"Aa, Sakura?"

"Ya?" Sakura memutar kembali tubuhnya ke arah Hiruzen, ia mengerutkan alisnya. "Ada apa?"

"Semoga beruntung dengan misimu."

"Ya," Sakura tersenyum tipis. "Terima kasih."

.

.

.

Gadis Akasuna itu terlihat termanggu di depan pintu berukiran khusus. Ia terlihat tengah berpikir keras. Perasaan bimbang antara masuk dan tidak mengganggu pikirannya. Ia tahu, yang ia takutkan adalah jika ia masuk, ia malah terganggu emosinya, dan ia tidak akan sanggup menjalankan misi esok hari.

"Masuklah Sakura, Nona Tsunade pasti menunggumu."

Sakura dengan cepat menoleh ke sisi kanannya. Di lorong panjang itu, terlihat Hatake Kakashi tengah memandanginya dengan senyumannya –terlihat dari matanya yang melengkung, yang menenangkan. Laki-laki paruh baya itu sepertinya memahami perasaan muridnya.

"Aku takut Sensei, bagaimana jika nanti emosiku justru tidak stabil keesokan harinya?" ujar Sakura pelan. Ia lalu berjalan menuju kursi di samping pintu masuk ruangan rawat Tsunade. "Aku takut."

"Jangan berkata seperti itu. Baik kau dan aku, kita sama-sama tahu bukan, kalau kau itu adalah gadis yang kuat. Kau pasti bisa menjalankan misi dengan baik, Sakura."

"Tetap saja," gumam Sakura. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. "Astaga, kenapa waktu itu aku tidak memilih mencari Ibu dulu. Kalau begitu, keadaan tidak akan seperti ini."

"Jangan berkata seperti itu, aku menemukan Tsunade sudah nyaris pingsan ketika terlempar ke halaman akibat ledakan waktu itu, dan ia sudah mengamanatkan padaku untuk menjagamu," terang Kakashi panjang lebar. "Maka dari itulah, mulai dari sekarang akulah yang akan menjagamu Sakura."

"Terima kasih Sensei, kau memang yang terbaik," Sakura tersenyum tipis.

"Jarang loh ada yang memujiku begitu," Kakashi berkata dengan kekehannya. "Tsunade pasti bangga padamu, aku tahu itu."

"Ya… Kuharap ia bangga," Sakura tersenyum tipis. "Bersama Sensei, Naruto, dan Sasuke, aku yakin aku pasti bisa menjalankan misi ini dengan baik."

"Ngomong-ngomong dengan Sasuke, kulihat kau mengacuhkannya ya? Kenapa? Bukankah kau menyukainya?" goda Kakashi.

"Kenapa Sensei jadi tukang gosip sih," gerutu Sakura. Tapi dalam hitungan detik matanya membelalak menyadari perkataan terakhir Kakashi. "Eh, tunggu! Kapan aku mengacuhkan Sasuke?"

"Kau itu, tidak peka ya?" Kakashi terkekeh pelan. "Dari tadi, ia memandangimu khawatir, dan jangan lupakan Sasuke itukan sangat menjungjung tinggi harga dirinya, kau harusnya menyadari bahwa diam-diam lelaki itu khawatir namun tidak mau mengakuinya. Sakura, Sakura… Hal begini masa kau tidak menyadarinya sih?"

"Tapi Sasuke itu manusia kutub utara, masa iya dia khawatir padaku sih," Sakura mengerucutkan bibirnya. "Sensei pasti menggodaku ya!"

"Ya sudah kalau tidak percaya," Kakashi menyenderkan punggungnya ke kursi empuk itu. "Jadi kau mau masuk atau tidak?"

.

.

.

Sakura menatap Ibunya yang tengah terbaring di atas ranjang dengan segala peralatan yang menempel di tubuhnya.

Wanita yang bahkan pada usia 45 tahunnya tetap terlihat cantik itu terlihat begitu kelelahan. Banyak perban yang membungkus tubuhnya. Sakura menduga kaki kanannya retak atau patah, karena kakinya itu digips. Memar-memar memenuhi tubuh, hingga wajahnya. Pasti semua itu terasa menyakitkan.

Gadis muda itu bergidik ngeri, ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Tsunade saat dirinya terlempar dari ruangannya ke halaman karena ledakan. Bayangan mengerikan itu muncul begitu saja tanpa bisa ia cegah. Ia memejamkan matanya erat-erat, lalu tangan kanannya menarik kursi agar ia bisa duduk.

Sakura memandangi Ibunya dengan tatapan lembut. Ia menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum berbicara.

"Bu, ini aku Sakura," ujar Akasuna Sakura dengan senyuman khasnya. "Aku datang mengunjungimu, apa kau baik-baik saja? Aku minta maaf, bahkan setelah aku sekuat ini, aku masih tidak bisa melindungimu."

Gadis itu meraih tangan kanan Tsunade yang terasa begitu dingin. Ia menggenggam tangan itu dan mendekatkannya pada pipinya sendiri. "Maaf, aku membiarkanmu jadi begini."

Bayangan masa lalunya berputar di otak Sakura.

Gadis itu jelas mengingat bagaimana Tsunade dengan kebaikannya merawatnya ketika ia mengalami kecelakaan dulu, dan ketika kedua orang tuanya meninggal Tsunade bersedia mengangkatnya dan Sasori sebagai anaknya tanpa banyak pikir. Wanita itu bahkan mau merawat Sakura dan membawanya ke Damasquile ketika Sasori ditugaskan oleh para Kunci dan tidak meminta imbalan apapun. Bahkan segala hal yang sekarang Sakura bisa lakukan, semua itu adalah ajaran wanita ini.

"Aku sangat tidak berguna ya? Aku tidak bisa melindungimu," gumam Sakura pelan. "Aku bodoh, bodoh, bodoh! Kenapa aku tidak memberi tahu dulu padamu, bahwa akan ada serangan? Aku malah menunggu, menunggu kepastian apa benar aka nada serangan atau tidak.…"

Ia mengisak pelan.

"Kumohon maafkan aku," air mata mulai menuruni pipi putihnya. "Tapi tenang… Anakmu yang tidak berguna ini pasti akan membuatmu bangga melihatku nanti. Aku akan membuat White Aerith itu jatuh, aku berjanji. Pokoknya Ibu bakal tersenyum bangga menatapku."

Sebuah senyuman terpatri di bibirnya. Ia ingin membuat Ibunya bangga kepada dirinya. Ia harus bisa membanggakan Ibunya!

"Kalau begitu, aku pamit ya? Aku berjanji aku pasti akan kembali lagi kemari, secepat yang aku bisa," Sakura lalu mengecup tangan Tsunade dengan sayang sebelum melepas tangan Ibu angkatnya itu. "Sampai jumpa, Bu…"

Dan ia bangkit dari kursi kemudian memutar tubuhnya membelakangi Tsunade. Ia memejamkan matanya erat-erat, ia tahu ia harus sanggup menjalani misi itu.

Dia bukan lagi gadis lemah yang bersembunyi di balik punggung Sasori atau Tsunade. Dia sudah menjadi Kleav kebanggaan Damasquile, tugas begini bukan masalah besar bukan?

Dan tanpa ia ketahui, ketika ia memutar tubuhnya dan berjalan menutupkan pintu. Tangan lentik Tsunade bergerak perlahan.

.

.

.

Uchiha Sasuke jelas tengah memandang seseorang di depannya dengan pandangan benci. Mata onyxnya memandangi Kakaknya dengan tatapan kesal.

"Ayolaaaaaah Otouto, aku tahu kau pasti naksirkan dengan Sakura?"

"Berisik."

"HAHAHAHA! YA TUHAN! AKHIRNYA ADIKKU YANG MANIS INI DEWASA JUGA! HAHAHA!" tawa Itachi membahana di teras beranda luas di kastil para Kunci. "Aku tidak menyangka akhirnya kau bisa menyukai seseorang juga!"

"Kak, berhenti tertawa," gerutu Sasuke. Ia mendelik kesal ke arah Kakaknya. "Aku tidak naksir, dia. Darimana datangnya pikiran bodoh itu?"

"Habisnya, Sasori baru bercerita soal itu kemarin-kemarin!" Itachi lalu menyeringai menggoda, ia kemudian menyikut rusuk Sasuke. "Jadi apa yang kau lakukan sampai-sampai membuat Sasori marah-marah, dan mengataimu bocah tengik?"

"…"

"Dan, jika kau ingin tahu kenapa aku bisa tahu Sasori memanggilmu dengan sebutan bocah tengik, Sasorilah yang bercerita mengenaimu dengan merubah namamu dengan kata 'bocah tengik'," tambah Itachi. "Jadi?"

"Bukan urusanmu, ka-kak."

"Apa karena adiknya ya?"

Sasukepun terdiam, ia memilih tidak menjawab pertanyaan Kakaknya. Matanya mendelik kesal ke arah Itachi. Dan, Kakaknyapun tahu bahwa ia telah tepat sasaran.

"KAU MENYUKAI ADIKNYA?!" seru Itachi. Matanya membulat kaget. "Wow, akhirnya kau normal juga Otouto!"

"BERISIK!" seru Sasuke jengkel. Ia lalu berdiri bangkit. "Aku ke bawah dulu."

"Hey! Tunggu dong!"

Sasuke memilih menutup mulutnya, dan kembali berjalan. Ia merutuki dalam hati, kenapa Kakaknya menuruni sifat Mikoto yang cerewet sekali. Ia memilih mengacuhkan Itachi, dan membiarkannya berbicara sendiri.

'Hn, nanti juga capek sendiri,' batin Sasuke.

Pemuda berambut raven itu lebih tertarik memikirkan tentang misinya.

Ini pertama kalinya ia menjalankan misi bersama dengan Sakura. Ia tahu gadis itu cerdas, tapi ia meragukan kemampuan fisiknya. Gadis itu tidak terlihat kuat –hal itu jelas terlihat, malah cenderung terlihat rapuh.

Terutama, setelah dirinya tahu mengenai keadaan Tsunade.

Seharusnya, orang yang sedang kacau pikirannya tidak boleh di ikutkan dalam misi. Membahayakan jiwanya dan jiwa rekan-rekannya, apabila orang itu tidak fokus dan menyebabkan lawan bisa mengambil keuntungan.

Cih, bukannya ia peduli pada Sakura.

Hanya saja, ia tidak mau Sakura mengacaukan misi pertama yang ia dapat langsung dari Kunci, bukan dari Damasquile.

"Hey! Kau mendengarkanku bukan!"

"Hn," gumam Sasuke.

"Yah sayangnya satu jam lagi aku pergi ke Lilith, nanti juga kau akan menyusul ke sanakan? Nanti akan kukenalkan dengan teman-temanku deh," tawar Itachi.

"Tidak berminat."

"Otouto kau itu –eh? Itu adiknya Sasori bukan?" Itachi menajamkan pandangannya."Kenapa ia berlari! Bahaya berlarian di tangga!"

Sasuke mengangkat sebelah alisnya. Ia berjalan melewati jendela besar lantai dua, menuju balkon. Sesampainya di balkon, mata onyxnya mengikuti gerakan Sakura. Mulai dari berlari dari tangga yang panjang di muka gedung, hingga akhirnya ia memeluk seorang lelaki dengan begitu erat.

"Loh? Cewek yang kau taksir kayaknya suka dengan orang lain loh Sasuke," ledek Itachi. "Masa kau diam saja?"

Uchiha muda itu memilih mengabaikan ledekan Itachi. Ia menatap tidak suka pada dua orang yang menjadi perhatiannya.

Seorang pemuda berambut merah yang baru keluar dari Slovoriesky berwarna merah darah, dengan seorang gadis yang tengah memeluknya seraya menangis dan jelas itu bukan tangis sedih. Namun, lebih ke tangis bahagia. Gadis yang hari ini bahkan tidak mengabaikannya yang berjalan di sampingnya, sekarang malah jatuh ke pelukan pemuda lain.

Ia tahu jelas siapa kedua orang itu.

Haruno Sakura…

Dan si pangeran timur Aelarth.

Sabaku Gaara.

.

.

.

Sakura berlari dan menabraki beberapa orang di sekitarnya. Ia bisa saja di bilang tidak sopan. Tapi, apa mau dikata? Ia terlanjur sangat ingin bertemu sobatnya. Sudah lama sekali sejak ia bertemu dengan pemuda berambut merah menyala itu. Ia menabraki beberapa orang, dan bahkan orang yang terakhir kali ia tabrak terjungkal ke belakang.

"HEI! JALAN DENGAN MATA!"

Gadis Haruno itu mengabaikan jeritan protes dari orang-orang itu. Ia benar-benar tidak peduli dengan apapun. Semenjak ia di beri tahu oleh Yamato saat berpapasan di koridor bahwa sahabat lamanya tengah berada di luar gerbang dan sebentar lagi sampai, ia langsung berlari keluar bersiap menyambut sahabat berambut merahnya itu.

Ia mendengar deru mobil seseorang, dan ia tahu orang itu adalah sahabatnya.

Haruno Sakura berhenti tepat di pintu keluar. Dan, mobil itu berhenti di ujung bawah tangga tinggi yang menuntun ke kastil para Kunci. Mobil berwarna merah darah itu membuka. Membuat Sakura nyaris memekik girang.

Alih-alih pekikan yang keluar, air matanyalah yang mendelesak keluar. Ia bahagia! Ia sudah lama sekali tidak bertemu Gaara, dan ia benar-benar ingin bercerita tentang semua bebannya pada lelaki bermata jade itu. Lelaki satu-satunya yang memahami jalan pikirannya tanpa perlu ia ucapkan.

Sakura menutup mulutnya dengan kedua tangannya, menahan isakan yang hendak keluar dari sana. Mata hijaunya membelalak, air mata mulai bercucuran dari kedua mata indahnya.

Pemuda yang baru saja keluar dari mobil itu mengerutkan keningnya, ia memiringkan kepalanya sedikit ke arah kanan. Lalu mulutnya terbuka.

"Ada apa denganmu," pemuda itu tersenyum tipis. "Ouka*?"

Dan, bersamaan dengan itu Sakura berlari menyusuri tangga itu dan mengalungkan tangannya ke leher pemuda itu. Ia menabrak Gaara dan membuat pemuda itu nyaris terjerembab ke belakang. Sakura menangis dan tertawa secara bersama'an.

"Aku kangen denganmu."

.

.

.

*Ouka : Nama lain bunga Sakura

.

.

.

Author Note's :

Bakakakakak, Gaara ayangku keluar jugaaaaaaaaah! XD Disini tapi perannya yah bukan sebagai orang ketiga sih, soalnya ini cerita aja udah ribet masa romancenya juga bakal ribet? Gaara disini kurang lebih jadi seperti sahabat Sakura yang ngerti banget dia, terus dia jadi seperti penyadar perasaan Sasuke gitu. Tapi Gaara nganggep Sakura sebagai orang yang harus dia lindungin ajah hehehe.

See you really soon!

.

.

.

THANK'S TO :

cheryxsasuke ; .3; Hikari Ciel ; Tsurugi De Lelouch ; hanazono yuri ; iya baka-san; Nyanmaru desu ; belladelayuelta ; Guest ; Nabiyl ; sasusaku ; kasih hazumi ; kazuran ; Sakura Uchiha ;