CHAPTER 10 DOOOOONG.
O-O
ga nyangka bisa sepanjang ini.
again with the thank you ... thanks yaa , you guys ..
ai lapp yu dah !!
X3
nope , I don't own Naruto,
nor the character.
WARNING
OOC,
OC,
dan kejelekan tiada tara.
CHAPTER INI SINETRON BANGEEEETTT.
Dx
ONWARD!!
"Aku tidak ingin melihat hasilnya.", Taira menyilangkan tangan, "Itu... Tidak perlu..."
"Hn. Diamlah.", Sasuke yang duduk di sebelahnya berkata singkat.
Taira made a face.
A room, filled with an avenged prince, a controversial mother, and a vurnerable pinky. Oh, how I love when the truth revealed...
"Ini hasil pemeriksaannya...", Sakura mengedepankan sebuah map.
Sasuke sudah memutuskan untuk mengadakan tes DNA. Ia tidaklah bodoh. Jelas tidak ada satupun bagian fisiknya yang terlihat pada bayi yang kini sudah menginjak usia satu bulan itu. And I bet you guys still remember that our avenged prince doesn't quite like the situation within...
Taira membuka map itu dengan emosi di matanya. Membaca setiap kata yang jelas menjelaskan semua...
Suddenly, she turned pale.
"Tidak!!", ia berteriak keras, membanting map itu ke meja seraya berdiri, "Ini semua BOHONG!!"
Sakura yang terkejut dengan reaksi itu hanya menatap dengan mulut yang sedikit terbuka. Ia segera berpaling pada Sasuke yang membaca map berisi kenyataan itu. Dan menjadi lebih terkejut setelah melihat reaksi Sasuke; he smirked...
"Kau!! Pasti kau yang membuat semua ini!! Dasar...-!", tangan Taira melayang, Sakura refleks menunduk. Sasuke terlihat heran. Di mana refleks kunoichi-nya...??
Sakura masih memejamkan mata, menanti tamparan tepat ke wajahnya. Tapi tamparan itu tidak pernah datang. Perlahan, ia membuka mata. Menatap ke arah Sasuke yang telah berdiri, menahan tangan Taira.
"Pergi.", Sasuke berkata dengan tatapan sharingan ke arah Taira.
And as we expected, Taira run exited the room...
Sasuke memejamkan mata, lalu beralih ke Sakura. Dahinya berkerut ketika menyadari di mana tangan Sakura berada.
Ia memegangi perutnya.
Sakura hanya terdiam sepanjang jalan. Di sebelahnya, Sasuke berjalan sama diamnya. Setelah 'insiden' kecil setelah pembacaan hasil tes DNA itu, Sasuke memutuskan untuk mengantar Sakura pulang sebagai 'tanda maaf'. Dan Sakura tidak punya alasan untuk tidak mengiyakan.
"Apa kau akan memberitahu ayah dari bayinya...?", Sakura memulai pembicaraan.
Sasuke tetap menatap lurus, "Tidak."
"Kenapa?"
"Itu bukan urusanku lagi.", Sasuke melihat Sakura, "Kau pucat..."
Sakura – yang sedang melihat ke arah Sasuke – segera memalingkan wajah, "Iya... Mungkin karena panas..."
Sasuke melihat ke atas, memang, cuaca sedang terik.
Tapi tentu saja Sakura tidak mengatakan alasan sebenarnya ia terlihat pucat. Cuaca terik mungkin memang satu alasannya, ditambah sweater besar yang ia pakai di atas maternity dress-nya, panas itu semakin menjadi. Dan ia sedang hamil. Kondisinya juga masih lelah setelah apa yang ia alami selama satu bulan terakhir – membantu Taira melahirkan, mewakili Tsunade dalam penyampaian hasil DNA, 'emosi' Taira..., dan Sasuke...
Sakura menghentikan langkah, melihat punggung Sasuke yang sudah berada agak jauh di depannya. Ia merasa pusing, sangat...
"Sakura!!"
-
-
"Iya... Dia hamil..."
Sakura menutupi matanya dari sinar yang menusuk, berusaha sadar sepenuhnya.
"Sudah 5 bulan..."
"Jadi gosip itu benar..."
"Siapa ayahnya??"
Sakura akhirnya berhasil menopang badannya dengan dua siku. Mengangkat badan sedikit. Membuat dua yang sedang bicara tadi menghentikan pembicaraan dan menghampirinya.
"Haruno-san, anda belum boleh bangun...", satu perawat membuatnya kembali ke posisi terbaring.
"Syukurlah anda sudah sadar. Tadi anda pingsan di jalan, Uchiha-san yang membawa anda ke sini.", perawat yang satu menjelaskan.
Sakura menghela nafas.
Habis sudah.
Semua pasti sudah tahu kenyataannya.
Begitu juga Sasuke...
Tiba-tiba pintu terbanting terbuka.
"Kalian berdua, keluar.", Tsunade memerintah tegas. Kedua perawat itu buru-buru meninggalkan ruangan. Lalu pintu ditutup oleh Shizune.
"Kau sebaiknya punya penjelasan yang bagus untuk semua ini, nona muda.", Tsunade menatap Sakura.
Sakura hanya menggeleng. Sudah cukup tekanan yang ia terima. Dan ia sudah tidak mau sembunyi.
Ia menangis.
Tsunade menyilangkan tangan, "Kenapa kau jadi begini, Sakura?? Siapa yang melakukan semua ini??"
"Tsunade-sama, anda harus tenang...", Shizune berusaha menenangkan sang Hokage.
"Diam!!", Tsunade meberi peringatan yang membuat Shizune mundur selangkah. Pandangan salah satu legenda sannin itu kembali pada sosok Sakura yang masih menangis.
"Tadinya aku tidak ingin ikut campur, tapi harus ada yang bertanggungjawab atas semua ini. Katakan, apa ini semua perbuatan Minami??", Tsunade menanyakan.
Sakura hanya menggeleng.
"Lalu siapa?? Demi Tuhan, Sakura! Kau hanya tinggal-"
"SASUKE! Uchiha Sasuke!! Puas?!", Sakura histeris.
Tsunade membiarkan mulutnya setengah terbuka. Terkejut dengan jawaban muridnya.
"Apa...?", satu suara membuat 3 wanita medic-nin itu berbalik ke arah pintu.
"Sasuke..?!"
Spotted at the Konoha Hospital ; seems like the avenged prince finally knows the truth... What will he do...? Well, I'm here to tell, just the way you love it...
"Siapa saja yang sudah tahu?", Sasuke bertanya dingin. Matanya tidak pernah lepas memandangi Sakura. Tsunade dan Shizune sudah meninggalkan mereka untuk bicara.
Sakura menggeleng dan tersenyum lirih, "Sekarang mungkin semua sudah tahu..."
Another silence...
"Berapa usia kandunganmu...?"
Sakura mendongak menatap Sasuke, "Lima... bulan... Itu yang perawat katakan..."
Sasuke menatapnya dalam, membuat Sakura menunduk lagi. Tidak..., bukan mata itu yang ingin ia tatap...
"Lima bulan, dan aku sama sekali tidak tahu...", Sasuke berkata dengan tawa sarkasme.
Sakura merasa harus menjelaskan, "Aku tidak pernah bermaksud melakukan ini, Sasuke. Dan bukan salahku kalau ada yang tiba-tiba muncul dan mengatakan ia tengah mengandung anakmu-"
Perkataan Sakura terpotong dengan tangan Sasuke yang menutupi mulutnya. Mereka saling melihat. Wajah mereka yang berdekatan membuat Sakura mulai merasa panas pada wajahnya yang dingin.
"Kau harus ingat itu juga karena tindakanmu, Sakura...", desis Sasuke, "Dan itu bukan anakku..."
Sakura mengangguk dengan tangan Sasuke masih menutupi mulutnya.
Sasuke melepas tangannya perlahan. Sedikit membungkuk di hadapan Sakura yang mulai menangis. Ia menggenggam tangan Sakura yang bergetar.
"Maaf, Sakura...", Sasuke menggumam di tangan mereka yang ia dekatkan ke mulutnya, "Maaf aku sudah membuatmu begitu menderita..."
Sakura menatap sosok Sasuke. Melihat mata Sasuke yang jelas menggambarkan rasa menyesal. Tidak bisa dipungkiri, ia agak kaget dengan reaksi Sasuke. Ia selalu mengira, Sasuke akan marah karena ia menyembunyikan semua ini. Dan ia akan berakhir sendiri.
Tapi tidak.
Di sanalah Sasuke, menggenggam tangannya. Meminta maaf.
Ia mulai mengatur nafasnya. Lalu menarik tangan Sasuke.
Meletakannya di perutnya yang berisi kehidupan.
Tersenyum.
"Kami sudah memaafkanmu, Sasuke-kun..."
And for the first time in his life, Sasuke smile a genuine smile...
"Aku suka akhir yang bahagia...", Yamanaka muda tersenyum, meletakkan cangkir yang ia sedang pegang sambil memandang Sakura yang setengah berbaring di sofa. Dengan selimut menghangatkan badannya.
Di distrik Uchiha.
Sakura mengangguk, tersenyum. Sudah dua hari ia tinggal bersama Sasuke. Dan selama itu pula – dua hari yang terasa dua bulan oleh Sakura – Sasuke merawat Sakura.
"SAKURA-KAA-CHAAAAAAAAAAAN!!", suara teriakan Naruto yang disusul dengan erangan sakit karena Sasuke memukul kepalanya keras terdengar dari pintu masuk.
"Hai, Naruto...", Sakura menjawab sapaan Naruto.
"Hai, ibu Sakura!!", Naruto menyembur masuk, "Kau harus memarahi ayah Sasuke...! Dia memukulku keras sekali!!", Naruto mengadu dan menunjuk kepalanya yang sakit.
Sakura tertawa pelan, melihat sebentar ke arah Sasuke yang memelototi Naruto. Tangannya meraih lengan Sasuke. "Sudahlah, Sasuke-kun...", katanya tersenyum.
Sasuke duduk di sampingnya. Memegang balik tangan Sakura.
"Ooooowh...", Ino cooed.
Naruto tersenyum lebar, "Kalian terlihat bahagia...!"
Sasuke melihat ke arah Naruto dan mengangkat ujung bibirnya, "Sepertinya kau kalah lagi, dobe."
Senyum Naruto menghilang, "APA KAU BILANG, TEMEEEE??"
"Kau kalah. Lagi.", Sasuke merapikan poni Sakura, lalu memegang perutnya, "Aku akan segera mempunyai keluarga. Kau...? Hn, memulai saja belum."
Sakura memukul Sasuke pelan, "Sasuke-kun...!"
Sasuke smirked.
"OH! Lihat saja!! Aku akan segera memulai!! Percayalah!!", Naruto menunjuk marah ke arah Sasuke.
"Hhh... Ribut seperti biasa...", Ino menutupi telinganya.
"Oh ya...? Dengan siapa...? Ramen?? Atau katak??", Sasuke tidak berhenti, malah semakin memanasi sambil merangkulkan tangannya pada Sakura.
"Kau-...! Aku akan memulai dengan...-", Naruto berhenti. Terlihat berpikir.
"Memulai dengan...??", Sasuke menaikkan alis, menanti kemenangannya. Karena mengetahui Naruto tidak akan bisa menyebutkan nama gadis sembarangan.
Ino dan Sakura bertuka pandang, mungkinkah...?
"Aku akan memulai dengan Hinata-chan!! YA!! HINATA-CHAN!!", jawaban Naruto membuat Ino dan Sakura tersenyum, ikut senang untuk salah satu teman wanita mereka.
Sasuke tersenyum arogan. Lalu tertawa.
Naruto mengerutkan dahi, "Apanya yang lucu, teme?!"
Sasuke menghentikan tawanya, "Tidak ada...", ia lalu mencondongkan badannya sedikit ke depan, "Kau boleh masuk, Hyuuga."
Naruto turns quickly.
And there she is... Blushing madly faint-willing Hyuuga heiress; Hinata...
"Hi-Hinata-chan??", Naruto stuttered.
And I know you love it... 'Till next, kiss and hug from me to all lovey-dovey...
tbc--
WHAT A CHEESY FIC.
SANGAT SI-NE-TRON,
TIDAK JELAS,
DAN ANEH.
entah kenapa,
aku ngerasa ini chapter terjelek dari semua chapter Lagu Sedih.
:S
maaf ya...
(putus asa)
aku cuma mikir...,
perasaan chapter sebelumnya menderita melulu...
jadi aku bikin deh, chap yang penuh dengan kegombalan.
and NOPE.
aku belum mau ngasih tau siapa ayah dari bayi Taira.
:p
tapi ada beberapa yang udah bisa nebak tuh...
still,
review, please...?
xo xo ,
Yvne F.S.Devolnueht
