Ino menatap dirinya di cermin ruang ganti. Pikirannya bercabang, banyak hal yang diingatnya. Termasuk perkataan Sasuke bahwa ia tidak ada waktu untuk jatuh cinta dan ingin memfokuskan dirinya pada bidang ini. Namun Ino merasa Sasuke dan Sakura saling menyukai satu sama lain. Mereka saling respect dan saling menyemangati. Terkadang mereka seakan saling berkompetisi namun tidak seserius itu, keduanya menanggapi dengan gurauan sementara Ino adalah orang lain di antara mereka. Iya, baik Sasuke dan Sakura memiliki talent serta aura yang bersinar. Bagi Ino mereka dapat melakukan hal yang tidak dapat orang kebanyakan lakukan, dan sekali lagi Ino hanyalah seorang reporter.

"Aku.. tidak dapat masuk ke dunia mereka." Ino menghela napas dan membasuh wajah jelitanya dengan air mengalir dari washtafel. Berharap itu dapat menghilangkan perasaan sukanya pada Sasuke yang kini terlanjur berkembang.

.

Sweet Scandal 10 – Don't Know

Disclaimer: Masashi Kishimoto

.

Gadis pirang itu meraih kaos dan celana training yang diberikan Sasuke padanya, memakainya lalu mematut dirinya lagi di depan cermin. Kaos itu nampak kebesaran untunglah celana training itu pas padanya. Aroma tubuh khas musim panas Sasuke melekat di pakaian tersebut. Ino menghela napasnya, memeluk kedua lengan rampingnya lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut kembali ke kamarnya.

Untunglah buku catatan dan kameranya tidak ikut tercebur saat Sasuke menariknya ke laut. Saat ia akan memeriksa foto-foto yang dikumpulkannya selama liputan berlangsung, baterai kameranya mendadak habis dan dia tidak membawa baterai cadangan ataupun alat isi ulang baterai. Di saat bersamaan Kiba memberikan pesan singkat di ponselnya, mengabarkan bahwa dia sedang mengadakan liputan di wilayah sekitar tempat Ino bertugas dan memberitahu Ino untuk tidak sungkan meminta bantuannya jika diperlukan.

"Pas sekali! Aku akan mengontaknya, untuk meminjamkan beberapa baterai cadangan atau alat isi ulang baterai." Jemari lentik Ino dengan sigap menginput dan membuat sambungan ke nomor terkait hingga terdengar baritone milik Kiba di seberang telepon.

'Ino? Ada apa?' Sahut Kiba tidak lama Ino membuat sambungan telepon.

"Kiba maaf aku jika aku mengganggu. Apakah kau sedang sibuk?"

'Tentu saja tidak, ada apa Ino?'

Ino pun memberitahu permasalahannya dan Kiba setuju untuk menghampiri Ino di tempatnya bertugas. Beruntung Kiba saat itu membawa baterai cadangan dan alat isi ulang baterai lebih sehingga ia dapat meminjamkannya pada Ino. Berhubung jarak lokasi tempatnya bertugas tidak jauh dari tempat Ino, Kiba dapat tiba dengan cepat.

"Syukurlah Kiba, kau benar-benar menyelamatkan hidupku!" Ino sumringah kala Kiba menghampirinya di lokasi.

Kiba tertawa, "kau berlebihan." Ia menyerahkan beberapa baterai cadangan berikut alat isi ulang baterai. "Pakailah. Omong-omong.."

"Hm?"

"Aku baru pertama kali melihatmu memakai setelan seperti itu." Ujar Kiba meneliti Ino dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Ino membeo, "ini pinjaman karena bajuku basah dan tidak membawa lebih. Ya begitulah." Kiba mengrenyit.

"Pinjaman dari si—"

Baru saja Kiba akan menyelesaikan kalimat tanyanya, seseorang menimpali.

"Aku yang meminjamkan setelan itu untuk Ino." Sasuke dengan cueknya merangkul bahu Ino yang refleks terkejut karena kehadirannya yang tiba-tiba.

Kiba sama sekali tidak berkomentar mengenai pernyataan yang Sasuke berikan dan sebaliknya, Sasuke menatap Kiba tajam. Suasana saat itu mendadak tidak membuat Ino nyaman.

"Aku mencarimu kemana-mana dan ternyata kau ada di sini. Kau tidak ingat malam ini kita akan ada liputan lagi?" Netra kelam Sasuke menatap Ino, membuat gadis itu merasa terintimidasi.

Ino berusaha melepaskan rangkulan Sasuke karena merasa tidak nyaman namun pemuda itu sepertinya sama sekali tidak tertarik untuk menyingkirkan tangannya pada bahu Ino, "maaf aku tidak lupa soal itu, tapi baterai kameraku habis dan aku tidak punya baterai cadangan. Karena itu aku minta tolong kolegaku ini untuk meminjamkan miliknya." Terang Ino pasrah dalam rangkulan Sasuke.

"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?" Tanya Sasuke. "Aku bisa saja mencarikan baterai cadangan untukmu." Ino tidak mampu menjawab Sasuke dan hanya terdiam di tempat.

Melihat kondisi Ino di hadapannya, Kiba menarik lengan Ino dan menjauhkannya dari Sasuke.

"Kau tidak lihat, dia tidak nyaman kau perlakukan seperti itu?" Ujar Kiba sinis.

Sasuke mendecih, Ino berdeham.

"Oh lihat! Sudah waktunya aku melakukan liputan." Ino memeriksa arloji di pergelangan tangan kirinya, "terimakasih banyak Kiba atas baterai dan alat isi ulangnya, dan Sasuke ayo kita mulai liputannya."

"Aku akan ikut kau liputan malam ini Ino!" Seru Kiba.

Ino dan Sasuke saling berpadangan, "bagaimana dengan pekerjaanmu, Kiba?" Ino khawatir suasana akan semakin buruk jika Kiba ikut serta, ia was-was dan berharap tawaran yang dilontarkan koleganya itu tidak membuat suasana semakin buruk.

"Tenang saja aku akan membantumu. Jika kau memerlukan bantuan, aku akan menolongmu dengan segera."

Perkataan Kiba tersebut sukses membuat Sasuke makin sebal dengan pemuda yang Ino sebut sebagai koleganya itu.

"Aku rasa tidak Kiba, terimakasih banyak. Aku bisa melakukan pekerjaan ini sendiri." Tolak Ino halus.

"Ino, aku dapat membantumu mendokumentasikan liputan. Kau tahu sendiri kan, aku ahli dalam memotret dan mengoperasikan kamera?" Kiba terus berusaha menawarkan bantuannya tapi Ino sama sekali tidak tertarik.

"Kau tidak lihat dia tidak memerlukan bantuanmu? Kenapa kau tidak pergi saja dari sini. Bantuanmu meminjamkan baterai itu sudah cukup. Aku dan dia akan ada liputan lagi." Seru Sasuke pada Kiba.

Ino memijat pelipisnya yang mulai berdenyut.

"Hey kalian sedang apa?" Suara ceria terdengar dari belakang Sasuke dan Ino, memecahkan ketegangan di antara mereka. Nyatanya Sakura tegah berjalan ke arah mereka.

"Ah, aku baru melihatmu di sini!" Sakura menunjuk Kiba. Pemuda tampan itu menjulurkan tangannya.

"Perkenalkan saya Kiba Inuzuka, kolega dari Ino Yamanaka di QUEEN Magazine." Juluran tangan Kiba disambut hangat oleh Sakura.

"Tidak usah begitu formal denganku! Aku Sakura Haruno, salah satu pembalap di sini."

Saat itu Ino bersyukur Sakura hadir di antara mereka. Sakura tersenyum pada Ino dan membisikan sesuatu di telinganya, "hey, kolegamu itu tampan juga ya!" Lalu kembali menatap Kiba yang ada di hadapannya. "Ino, apa kau dan Kiba sedang meliput kegiatan Sasuke malam ini?" Tanya Sakura.

"Ah, tidak. Aku meliput sendiri kok, lagipula liputannya belum mulai." Jawab Ino. Sementara Sasuke dan Kiba masih saja saling berpandangan, sengit. Baru saja Ino mengatakan hal tersebut, telepon genggam Kiba berdering tanda pemuda itu diharapkan segera kembali ke tempatnya bertugas.

"Sayang sekali, sepertinya aku harus segera kembali ke lokasi." Ujar Kiba seusai menerima telepon dari atasannya, "Ino hubungi aku jika kau memerlukan bantuan. Aku akan dengan senang hati datang dan membantumu."

Ino tersenyum simpul, "terimakasih banyak, Kiba. Aku akan melakukan yang terbaik selama aku dapat mengerjakannya sendiri." Gadis itu selalu teguh dalam pendiriannya.

Kiba menghela napas, "mau bagaimana lagi, kau sangat persisten. Tapi ingat untuk tidak sungkan meminta bantuanku."

"Yah padahal aku masih ingin mengobrol denganmu!" Ujar Sakura seraya berkacak pinggang, tidak sudi Kiba pergi begitu cepat.

Kiba terkekeh, "aku juga begitu Sakura tapi permisi, aku harus segera kembali bertugas. Semoga kita dapat bertemu lagi nanti."

"Aku akan menunggumu, loh! Kau menyenangkan dan asyik diajak mengobrol!" Sakura tersenyum.

"Terimakasih, Sakura! Aku senang mendengarnya. Kalau begitu aku pamit dulu, sampai jumpa semuanya." Kiba ber-ojigi lalu dibalas oleh Sakura dan Ino sementara Sasuke sama sekali tidak tertarik melakukan itu untuk Kiba.

Setelah berpamitan dengan Ino, Sakura, dan Sasuke, ia bergegas kembali ke lokasi. Sasuke masih menatap Kiba yang berjalan menjauh dari sana lekat-lekat, emosinya masih meluap. Ia merasa benar-benar kesal dengan Kiba tanpa sebab yang jelas.

"Sasuke?" Sapa Sakura yang heran mengapa rekannya yang satu itu tidak juga bersuara selama Kiba masih bersama mereka tadi.

Pemuda itu mengalihkan pandangan sesaat pada sobat pinknya itu. Lalu pergi begitu saja meninggalkan dua gadis yang saling bertukar pandang di sana. Tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi antara Sasuke dan Kiba. Merasa ada sesuatu yang salah, Ino berencana mengejar Sasuke.

"Sakura, sepertinya ada sesuatu yang harus kulakukan. Aku permisi dulu." Setelah pamit dengan Sakura, Ino segera mengejar Sasuke.

"Sasuke! Tunggu Sasuke!" Ia berlari menuju Sasuke yang sudah berjalan cukup jauh darinya. Meskipun Ino berteriak memanggil namanya, Sasuke sama sekali tidak menyahut ataupun menghentikan langkahnya.

Sementara itu Sakura memerhatikan Ino dan Sasuke dari kejauhan seraya tersenyum, "mereka lucu astaga!" Lalu beranjak pergi dari sana.

Ino benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada narasumbernya itu, yang pasti saat ini liputan mengenai kegiatan Sasuke malam itu harus tetap berlangsung. Meskipun Sasuke tidak juga menghiraukannya, Ino tetap mengejar dan memanggil namanya.

"Sasuke kumohon berhenti!" Ino berjalan cepat, berusaha menyamakan langkahnya dengan Sasuke.

"Sasu—" Ino terjatuh dan meimbulkan suara cukup keras. Sasuke berbalik, menemukan Ino yang berusaha bangkit dari posisi gagal anggunnya itu.

Ino merasa lututnya perih, ada luka terbuka akibat bergesek dengan tanah kasar di sana. Ia meraih luka itu dengan jemarinya. Untunglah tidak terjadi perdarahan, hanya lecet meski cukup luas permukaan kulit lututnya yang terkena. Pemuda dengan rambut melawan gravitasi serupa pantat ayam itu memerhatikan gadis yang tersungkur tidak jauh dari hadapannya, tanpa ada niat menolong.

"Kau perempuan menyusahkan." Ucapan dingin itu meluncur begitu saja dari mulut Sasuke. Ino tercengang mendengarnya, netra akua nya menatap Sasuke bingung sementara pemuda itu malah berlalu meninggalkannya sendiri di sana seraya berusaha berdiri menahan pedih di lutut sebelah kanan akibat terjatuh tadi.

Ino menghela napas, kepalanya pening.

"Apa yang sudah kuperbuat? Kenapa Sasuke jadi seperti ini?" Ingin sekali ia menangis tapi tidak bisa. Ia kesal, tidak paham dengan apa yang dipikirkan Sasuke. Saat itu Ino harus segera mempersiapkan bahan liputannya, namun kondisi tengah dihadapinya membuatnya ragu dan membuat hatinya sakit dalam satu waktu.

TBC