Jihoon menghela nafasnya panjang. Ia tak nafsu makan beberapa hari ini dan itu semua akibat Woojin yang semakin hari mengabaikannya. Jihoon mendengus, ia tahu jika Woojin sudah memiliki kekasih dan Jihoon berusaha untuk menerimanya. Tapi, apa yang dilakukan Woojin padanya? Saudara kembarnya itu menjauhinya, mengabaikannya, bahkan saat mereka berada di rumah. Membuat Jihoon jadi sakit kepala.

Jihoon mengacak-acak makan siangnya. Hari ini ia makan sendiri. Daehwi sedang ada mengerjakan tugas di perpustakaan bersama teman-teman sekelompoknya, Jinyoung tidak masuk sekolah karena katanya sedang ada acara keluarga, dan Woojin, sudah pasti ia makan siang bersama kekasihnya, Ahn Hyungseob.

"Boleh aku bergabung di sini?"

Jihoon menoleh saat mendengar suara seseorang yang bicara kepadanya. Dan Jihoon menemukan Mark yang tengah tersenyum padanya dengan sebuah nampan di kedua tangannya.

Jihoon mengangguk, "Silahkan saja." Katanya dilengkapi senyum kecil.

Mark bergumam 'Terima kasih' dan duduk di samping teman sekelasnya itu. Mark memakan makan siangnya, dan matanya melirik Jihoon yang hanya menatap kosong ke depan tanpa menyentuh makanannya sama sekali.

"Kau sedang ada masalah?" Tanya Mark seraya menyenggol bahu Jihoon.

Jihoon tersadar dari lamunannya dan melihat Mark. Jihoon menggeleng samar, "Bukan masalah besar." Katanya dengan suara pelan.

"Jika bukan masalah besar, kenapa kau melamun begini?" Mark menyeruput ramyeon pedasnya, dan ekor matanya tak meninggalkan Jihoon sedikit pun.

Jihoon mendesah pelan, ia tak tahu harus mengatakan apa pada Mark. Karena, keduanya tak begitu dekat. Meskipun sudah dua tahun menjadi teman sekelas dan sering kali menjadi teman sekelompok, tetap saja Jihoon merasa jauh dengan Mark.

"Jika kau tak mau cerita, juga tidak apa-apa." Ujar Mark setelah menenggak minumnya.

"Maaf," Jihoon menunduk. Dan ia tak tahu kenapa ia melakukan hal seperti itu.

Mark tertawa geli, ia mencubit pipi Jihoon yang dibalas tatapan tajam oleh sang empunya pipi.

"Dengar, kau mirip sekali dengan seseorang yang sangat dekat denganku." Ucap Mark setelah menyelesaikan tawanya.

Jihoon mengerjap beberapa kali dan menatap Mark penuh tanya, "Maksudmu?"

"Aku tak bermaksud apa-apa, Jihoon-ah. Aku hanya, kau merasa mirip dengannya. Namun kau lebih jauh dari dia." Jelas Mark.

"Apa, dia kekasihmu?" Tanya Jihoon hati-hati.

Mark mengulum senyumnya sembari menggeleng, "Tidak. Atau mungkin, belum."

"Kau belum menyatakan perasaanmu?"

"Begitulah."

"Kenapa?"

"Karena dia adikku."

Mata Jihoon membulat menatap Mark. Sementara Mark mengalihkan pandangannya.

"Kau mungkin akan menganggapku aneh karena aku mencintai adik kandungku sendiri. Tapi Jihoon, perasaan itu tidak ada yang tahu 'kan akan berlabuh ke siapa? Sama seperti halnya aku. Kebersamaan kami selama inilah yang membuat perasaan itu tumbuh di hatiku. Konyol bukan?" Mark meremat tangannya sendiri. Ia melirik Jihoon yang menunduk mendengarkan perkatannya.

"Tidak Mark. Itu bukan hal konyol. Cinta adalah anugerah yang setiap orang miliki. Dan aku mengerti bagaimana perasaanmu, karena aku pun mengalaminya." Balas Jihoon seraya mendongakan kepalanya, mereka bertemu tatap dan saling melempar senyum sedih.

"Jadi, dugaanku selama ini tentang kalian benar ya?"

"Dugaan?"

Mark mengangguk, ia menarik sudut bibirnya untuk membentuk senyum lebar. Yang mana senyum itu lebih mirip seperti seringaian.

"Aku sudah menduganya sejak lama, jika kau dan Woojin mempunyai ikatan lain. Apalagi tatapan kalian berdua. Tapi ada satu hal yang ingin aku tanyakan." Mark menatap penuh penasaran pada Jihoon.

"Apa?" Bingung Jihoon.

"Apa kalian berdua saling mencintai?" Tanya Mark.

Jihoon mendesah, "Aku tak tahu. Dia tak pernah mau jujur tentang perasaannya padaku meskipun aku sudah jujur padanya." Katanya dengan lesu.

Mark tersenyum tipis, "Kalau begitu, coba kau tanyakan lagi saja Jihoon-ah. Aku yakin dia juga mencintaimu."

"Kau yakin?" Tanya Jihoon ragu.

"Hmm." Mark mengangguk yakin, ia lalu berdiri dari duduknya begitu mendengar suara bel berbunyi. "Ayo masuk, Guru Seo tak suka ada muridnya yang telat."

.

.

Flashback

"Chanyeol-hyung! Terima kasih sudah mau datang."

Sehun menyambut Chanyeol yang baru datang dengan senyuman lebar. Chanyeol membalas senyuman itu dengan tak kalah lebarnya. Kemudian keduanya duduk di sofa ruang tamu keluarga Oh, dengan keduanya yang duduk saling berhadapan.

"Kenapa kau memanggilku ke sini, Sehun? Apa ada hal yang penting?" Chanyeol bertanya dengan raut wajah penasaran begitu melihat wajah Sehun yang terlihat begitu tegang.

"Aku mau minta bantuanmu, Chanyeol-hyung. Hanya kau yang bisa membantuku." Sehun menatap penuh memohon pada Chanyeol.

"Katakan saja apa yang kau inginkan dariku Sehun, aku siap membantumu." Kata Chanyeol dengan wajah yang penuh kesungguhan.

Senyum mengembang di wajah Sehun. "Aku tahu, Baekhyun-hyung pasti merasa sangat kehilangan karena salah satu anak kembar kalian meninggal. Maka dari itu, aku akan memberikan salah satu dari anakku pada kalian." Jelas Sehun.

Mata Chanyeol membulat mendengar penuturan Sehun. Ini gila!

"Kau tidak perlu merasa kasihan pada kami Sehun. Saat ini, Jihoon saja sudah cukup untuk kami." Chanyeol tidak merasa terhina, tidak sama sekali. Hanya saja, ia perlu alasan kenapa Sehun mau melakukan hal ini.

"Aku akan bercerai dengan Jongin. Dan dia bilang, dia akan membawa Hyungseob. Sementara aku, aku belum siap untuk merawat Woojin sendirian. Jadi, aku rasa akan lebih baik jika Woojin tinggal bersama kalian, hyung." Sehun menghela nafas lelah. Ia tahu, ia seperti ayah yang tidak bertanggung jawab. Tapi bagaimana lagi? Dia tak mau anak kandungnya terlantar begitu saja nantinya.

"Kenapa kalian berniat bercerai, Sehun? Kalian saling mencintai bukan?" Chanyeol merasa aneh dengan lelaki yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri itu.

"Awalnya memang iya. Tapi semakin lama, rasa cinta itu semakin hilang, hyung. Belum lagi sifat keras kepala dan egois kami. Aku tidak mau anak-anakku tumbuh dengan tidak baik jika mereka hidup bersama kami." Balas Sehun seraya menatap langit-langit rumahnya yang berwarna putih.

Chanyeol menghela nafas, "Baiklah, aku akan membantumu. Tapi, perlukah kita memberitahu Baekhyun dan Jongin?"

Sehun menggeleng, "Aku rasa, untuk saat ini jangan dulu. Hingga waktunya tiba nanti, aku yang akan memberitahukan semuanya." Katanya dengan senyum kecil yang terpatri di wajahnya.

"Baiklah, jadi, dimana Park Woojin-ku?" Goda Chanyeol sambil terkekeh geli.

"Aku akan mengantarkannya besok, ke rumahmu, Chanyeol-hyung."

Flashback off

.

.

Woojin merasa aneh dengan Hyungseob yang sedari tadi terus melirik pada ponselnya yang mati. Saat ini keduanya tengah berada di ruang dance seperti biasa. Jihoon juga ada, tapi Jihoon memilih untuk mendekat pada Donghan saja daripada pada Woojin yang terus mengabaikannya semenjak minggu kemarin.

"Apa kau menunggu telfon dari seseorang?" Tanya Woojin seraya mendudukan dirinya di samping kekasihnya.

Hyungseob tersentak kaget. Ia menggeleng dengan cepat dan membentuk sebuah senyum canggung.

"Tidak. Aku hanya, -hanya menunggu pesan dari eomma yang katanya mau pesan beberapa bahan makanan yang habis. Jadi, eomma memintaku belanja sepulang sekolah nanti." Jelas Hyungseob dengan mata yang melirik kesana-kemari.

Woojin menautkan alisnya, ingin memperpanjang namun hanya mengangkat bahu saja. Merasa tak penting juga untuk tahu.

"Kau, mau menemaniku 'kan?" Tanya Hyungseob penuh harap.

Woojin melirik Jihoon yang masih asyik mengobrol dengan beberapa teman klub. Woojin menghela nafasnya, dan mengangguk mengiyakan.

"Baiklah."

.

Kini, Woojin dan Hyungseob sedang duduk di bangku taman setelah mereka selesai berbelanja. Hari sudah malam, namun Hyungseob belum ingin pulang meskipun banyak barang bawaan di tangannya maupun di tangan Woojin.

"Kau menjauhi Jihoon?" Tanya Hyungseob setelah sekian menit mereka duduk, hanya hembusan angin yang menemani keduanya.

Woojin diam beberapa saat sebelum menganggukkan kepalanya. "Ya, aku melakukannya. Tapi aku juga bingung, kenapa aku harus melakukannya? Padahal dia adikku sendiri."

Sinar mata Hyungseob meredup, ia menatap langit di atas sana yang tertutupi oleh awan gelap. Yang sepertinya akan menumpahkan banyak air di malam itu.

"Jika dia bukan adikmu, apa kau akan mencintai Jihoon?" Tanya Hyungseob lagi tanpa mengalihkan pandangannya.

Woojin mengikuti arah pandang Hyungseob. Ia menghela nafas panjang sebelum memejamkan matanya.

"Mungkin ya, mungkin juga tidak."

"Kenapa begitu?"

"Karena jika dia bukan adikku, apakah kita berdua bisa saling bertemu?"

Woojin membuka matanya, dan langsung menatap Hyungseob yang saat itu juga tepat sedang menatapnya. Hyungseob mengulum senyumnya dan kembali mengalihkan pandangannya.

"Dan jika aku tanya, apa kau mencintai Jihoon sekarang, apa jawabanmu?" Pertanyaan terus meluncur dari mulut Hyungseob.

"Aku tak tahu." Dan Woojin mencoba untuk tak terpancing akan pertanyaan Hyungseob. Dia tak mau menyakiti perasaan siapapun lagi, cukup dirinya dan Jihoon yang merasakannya.

"Jangan bohongi perasaanmu sendiri, bodoh!" Umpat Hyungseob yang diiringi oleh satu-persatu air hujan yang turun.

"Jika tahu aku bodoh, kenapa masih mau bersamaku?" Tanya Woojin dengan senyum lebar yang mengembang.

'Karena aku ingin lebih dekat dengan adikku. Aku ingin merasakan, kasih sayang yang Jihoon dapat darimu, Woojin-ie. Mungkin kau tak tahu jika aku adalah saudara kembarmu yang sebenarnya. Aku ingin mengatakannya, tapi aku takut melukai Sehun-ahjussi. Appa kandung kita.' Batin Hyungseob dengan air mata yang perlahan mulai turun dengan deras seperti air hujan malam itu.

"Sekarang pulang dan jangan ikuti aku." Kata Hyungseob seraya mengambil barang-barang belanjaannya dan berdiri dari duduknya. Kemudian, ia berlari meninggalkan Woojin yang masih berdiam diri di tempatnya.

Woojin bingung, apa yang sebenarnya terjadi pada Hyungseob? Apa ada yang salah dengan kata-katanya barusan?

Drrtt~ drrtt~

Suara getaran ponsel terdengar, dan Woojin segera mengetahui jika itu berasal dari tempat yang tadi diduduki Hyungseob. Ponsel Hyungseob tertinggal dan sekarang ada yang menelfon. Segera, Woojin melihat nama yang ada di layar ponsel itu.

'Oh Jinyoung is calling...'

Woojin dengan ragu mengangkat telfon dari kekasih adik kembarnya itu.

"Halo Hyungseob-hyung, cepat ke rumah sakit, appa kecelakaan."

Woojin membeku. Jadi, Jinyoung dan Hyungseob saudara?

Apa yang terjadi hari ini sebenarnya?

.

.

TBC

.

.

A/N :

1.) Plot twistnya adalah ternyata JinSeob yg saudara kembar. Aku nggak mikirin ini sebelumnya padahal. Cuma pas tadi ngetik, langsung aja kepikiran ke situ.

2.) Tinggal 2/3 chap lagi, maka say goodbye for this fic.

3.) Pengen banget buat MarkHoon tapi belum kesampean, jadi aku sempilin aja di sini.

Ps. Aku lagi ada rencana buat bikin ff series bot!Jinyoung, harap doanya ya!

Pss. Pengen bikin 2Park lagi, tapi belum ada ide. Ada saran?

Psss. Doain juga, buat yg baru pada UAS semoga lancar. Termasuk aku.

03 Desember 2017

Panda