Disclaimer : Naruto Milik Masashi Kishimoto
Suara hujan yang sangat deras menutupi suara tangisan Sakura yang begitu pilu, kini Sakura sedang menangis ditengah hujan yang sangat deras, juga dipelukan Sasuke yang berusaha menenangkannya, Sakura terus-menerus menangis, dia genggam kemeja Sasuke dengan tangannya yang gemetar itu. Sasuke yang merasakan tangan Sakura gemetar langsung menggenggam tangan gadis berambut soft pink itu dengan lembut.
Sasuke POV
Apa yang harus kulakukan melihatmu begitu menderita seperti ini? Aku harus bagaimana agar kau berhenti menangisi pria itu? Ingin sekali aku mengejar dan menghajar Gaara saat ini, tapi sekarang kamu lebih penting dari apapun. Sakit rasanya mendengar hisakanmu yang begitu dalam, bagaimana caranya agar kau berhenti menangis? Sakura… katakan padaku, apa yang bisa kulakukan untukmu.
Aku peluk tubuhnya yang sangat rapuh itu, kini aku baru sadar, betapa rapuhnya tubuh yang sedang berada di pelukanku saat ini, saat dia menggenggam kemejaku dengan tangannya yang gemetar, aku sadar, dia membutuhkan pertolongan. Sakit? Ya… hatinya kini pasti sangat sakit, sampai-sampai aku seperti bisa merasakan sakitnya yang dia rasakan.
"Kita pulang yah?" tanyaku padanya dengan lembut, dia tidak menjawab, dia hanya menguburkan kepalanya di dadaku.
Aku sangat bingung, akhirnya aku menggendongnya dengan hati-hati seakan tubuh itu akan hancur kalau terkena guncangan, kubawa tubuh Sakura yang basah itu kerumahnya, untung jaraknya dekat, jadi Sakura tidak terlalu lama diluar kedinginan. Begitu aku masuk, tidak ada siapa-siapa dirumahnya, ibunya belum pulang, kutaruh tubuhnya di sofa.
"Aku ambilkan handuk yah…" tawarku yang berlutut di hadapannya, tapi tatapannya kosong, dia tidak lagi menangis terhisak-hisak, namun air matanya tetap mengalir dengan pandangan yang kosong.
Ya Tuhan, aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana, tapi aku akan melakukan segala cara agar bisa menenangkannya.
Normal POV
Sasuke mencari handuk ke kamar Sakura, dia benar-benar tidak menyangka Gaara akan meninggalkan Sakura dengan cara seperti ini, begitu Sasuke menemukan handuk di lemari Sakura, dia kembali kebawah untuk mengeringkan Sakura, Sasuke bahkan tidak peduli dengan dirinya yang juga basah itu. Ketika Sasuke sampai di bawah.
"Sakura?" Sasuke terkejut karena Sakura tidak berada di tempatnya. "SAKURA!" panggil Sasuke yang khawatir.
Sasuke berlari kearah pintu, tapi dia tidak menemukan Sakura diluar, dia berlari kearah dapur, dan dia melihat Sakura berdiri wash tuffle, Sasuke melihat Sakura yang sedang memegang pisau yang diarahkan kelehernya, Sasuke bergegas berlari dan mencengkram tangan Sakura lalu melempar pisau itu sejauh-jauhnya, Sasuke melihat Sakura yang tidak juga menatapnya, akhirnya
PLAAAAK
"CUKUP!" bentak Sasuke yang menampar Sakura, sebenarnya dia sangat tidak ingin menampar Sakura yang sedang terpuruk itu, tapi perbuatan Sakura tadi benar-benar membuat Sasuke takut. Begitu terkena tamparan Sasuke, akhirnya Sakura menatap Sasuke sambil memegang pipinya.
"Jangan lakukan hal bodoh seperti tadi…" ucap Sasuke sambil memeluk Sakura dengan erat. "Tolong pikirkanlah sekelilingmu."
"Sudah pergi." Ucap Sakura dengan suara yang gemetar. "Gaara sudah pergi meninggalkanku… apa yang harus kulakulan…~, dia sudah tidak mencintaiku lagi…~"
"Sakura… masih banyak yang mencintaimu, pikirkanlah ibumu, Ino, Naruto, Sai, Hinata…" Sasuke menghentikan kalimatnya sejenak, lalu menyambungnya kembali, "Dan aku…"
Sakura merasakan tubuh Sasuke yang juga gemetar, mungkin karena dingin, tapi yang Sakura rasakan saat ini adalah, hangat… mungkin kehangatan itu berasal dari tubuh Sasuke, atau ucapan Sasuke?
"Apa yang harus kulakukan tanpa Gaara?" Tanya Sakura dengan suara sedih.
"Kamu bisa menjalani hari-hari seperti biasa tanpa dia, aku bisa menghiburmu setiap hari kalau kau mau, aku bisa berada di sisimu setiap saat kau butuh…" ucap Sasuke sambil memegang pundak Sakura. "Asal kau mengijinkanku melakukan semua itu, pasti akan kulakukan."
Sakura memandang Sasuke dengan tatapan yang mulai akan menangis lagi, dan Sakura langsung memeluk Sasuke, memang ini tidak adil, Sakura bergantung pada Sasuke hanya pada saat seperti ini, tapi Sasuke tidak memperdulikan itu, yang dia pedulikan adalah ketenangan bagi Sakura.
Setelah menemani Sakura tidur, Sasuke keluar dari kamar Sakura, dan ketika berjalan kebawah, Sasuke terkejut melihat ibu Sakura yang sudah berada diruang tamu sambil berdiri membawa 2 teh.
"Kita ngobrol sebentar." Ucap ibu Sakura.
Sasuke menceritakan semua kejadian dari awal hingga Sakura tertidur, Ibu Sakura hanya terdiam tidak bisa berkata apa-apa.
"Maafkan kelancangan saya karena masuk rumah anda sembarangan." Ucap Sasuke dengan sopan.
"Tidak, Sasuke… justru aku harus berterima kasih padamu, karena kalau tidak ada kamu, mungkin Sakura akan sangat frustasi…hhhh, aku tidak menyangka Gaara akan melakukan ini padanya." Kata sang Ibu yang menghela nafas.
"Sudah malam, aku harus pulang, kalau Sakura mencariku, anda bisa menghubungiku." Kata Sasuke.
"iya, terima kasih banyak yah Sasuke." Ucap Sang ibu dengan nada lembut.
Sasuke mengangguk pelan dan pergi meninggalkan rumah Sakura, sedangkan Ibu Sakura yang sudah menutup pintu pergi kekamar Sakura, dan begitu dia masuk, sang Ibu melihat putri kesayangannya itu tertidur dengan nyenyak, dielus rambut soft pinknya itu dengan pelan, lalu sang Ibu meneteskan air mata.
'Sakura, Ibu harap kamu bisa tabah.' Ucap sang Ibu dalam hati.
Keesokan paginya, Sasuke datang kesekolah sedikit telat, karena dia tidak bisa tidur semalaman memikirkan keadaan Sakura, ketika dia masuk ke kelas, dia tidak menemukan sosok Sakura disana. Sasuke menoleh ke kanan dan kiri.
"Kau mencari Sakura?" Tanya siswa di kelas, Sasuke menoleh kearahnya dan tidak menjawab, tapi laki-laki itu meneruskan perkataannya. "Dia tidak masuk hari ini, katanya tidak enak badan."
"Oh." Ucap Sasuke singkat, seperti biasa, tidak ada basa basi terima kasihnya.
Bel istirahat pun tiba, Sasuke yang sedang berkumpul bersama teman-temannya di atap membicarakan tentang kejadian kemarin pada Ino dan yang lain.
"GAARA BRENGSEK, padahal aku percaya padanya kalau dia pria baik!" sewot Ino.
"Tunggu, mungkin dia mempunyai alasan melakukan semua ini." Ucap Sai.
"Hei hei, apapun alasannya tidak seharusnya dia membuat Sakura seperti itu kan?" kata Naruto.
"Benar, tapi aku merasa ada yang menjanggal." Ucap Sasuke.
"Apanya? Sudahlah jangan pikirkan tentang Gaara, ini kesempatanmu untuk mengambil hati Sakura." Ucap Ino dengan nada sewot.
"Ino, kami para kaum lelaki tidak mengambil kesempatan seperti ini untuk merebut hati para wanita, sebisa mungkin kami mendapatkan hati wanita yang kami cintai disaat hati wanita itu sedang normal." Jelas Sai pada kekasihnya.
"Benarkah? Oh iya… dulu kau menembakku saat aku sedang normal." Pikir Ino.
"Memangnya sejak kapan kau normal?" gumam Naruto.
BUUG!
"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya Ino pada Sasuke ketika sudah menjitak Naruto.
"Mungkin aku akan menemuinya." Jawab Sasuke.
"APA?" ucap mereka bertiga.
"Yah, aku akan menemui Gaara, aku harus pastikan alasannya meninggalkan Sakura." Kata Sasuke.
"Apa kau yakin?" Tanya Sai.
"Sangat, aku melakukan ini bukan demi diriku, tapi demi Sakura." Jawab Sasuke.
"Aku akan menemanimu." Timpal Naruto sambil merangkul bahu Sasuke.
"Sasuke, aku memang akan menemanimu, tapi tidak siang ini jugaaaa." Sewot Naruto.
"Ssssttt, diam!"
Sasuke dan Naruto berdiri di depan gerbang Suna, sosok mereka membuat para siswi Suna terpanah, semua melihat kearah Sasuke dan Naruto. Beberapa menit kemudian, Sasuke melihat sosok Gaara yang sedang berjalan menuju gerbang, Gaara pun lama-lama menyadari sosok Sasuke, hingga Gaara berdekatan dengan mereka, Gaara menghentikan langkahnya.
"Kita cari tempat lain." Ucap Gaara yang sepertinya sudah tahu tujuan Sasuke datang.
Akhirnya mereka memutuskan untuk berbicara di rumah Gaara yang tidak ada siapa-siapa itu.
"Silahkan du…"
BUUUKKK
Belum sempat Gaara menyelesaikan kalimatnya, Sasuke sudah memukul wajah Gaara terlebih dahulu.
"woi woi, Sasuke… ini diluar rencana kan.." ucap Naruto.
"Tidak, ini sudah dalam rencanaku, pukulan itu untuk Sakura, yang dia rasakan sekarang bahkan lebih sakit dari itu." Jawab Sasuke sambil memandang Gaara yang terjatuh.
"Akh..~ yah… aku memang pantas mendapatkan ini." Ucap Gaara sambil mengelap darah yang keluar dari mulutnya.
"Kenapa kau kejam melakukan itu pada Sakura?" Tanya Naruto tanpa basa-basi.
"kalian tidak perlu tahu, aku minta kalian temani Sakura, berilah dia semangat…"
"Kau pikir Sakura bisa melupakanmu dengan mudah! Apa kau sadar apa yang kau lakukan ini semua telah membuat dia ingin mengakhiri hidupnya sendiri!" potong Sasuke sambil mencengkram kemeja Gaara.
"Sakura?" ucap Garaa tidak percaya.
"IYA!, apa kamu puas? Dia ingin menusuk lehernya sendiri memakai pisau! Apa kamu masih tetap ingin meninggalkan Sakura? Demi wanita itu!" bentak Sasuke.
Gaara menatap wajah Sasuke yang kini… menangis…
"Kau gila! Membuat Sakura menangis seperti itu! BAJINGAN!"
BUUG!
"Oi..oi… Sasuke…." Cegah Naruto yang menahan Sasuke memukul Gaara lebih kencang.
"Tolong…~~~" ucap Sasuke dengan suaranya yang bergetar dan tangannya yang juga gemetar karena menahan amarah. "jangan tinggalkan Sakura seperti ini, hanya kamu yang bisa membuat dia tersenyum lepas, hanya kau yang bisa membuatnya menjadi dirinya sendiri."
"Sasuke…" panggil Gaara yang sangat tidak percaya seorang Uchiha Sasuke memohon padanya sambil menangis. "Kau sangat mencintainya yah…"
"Ini bukan masalah perasaanku… tidak apa dia tidak memilihku, tidak bersamaku, asalkan dia bahagia…" ucap Sasuke yang mulai tenang.
Gaara yang melihat ketulusan Sasuke menjadi tersentuh, tapi dia tetap membulatkan tekadnya yang tidak akan kembali pada Sakura.
"kau tahu… wanita itu terkena HIV sudah 3 tahun, dia memaksakan diri kesini… karena tahu dirinya akan mati… dia ingin bertemu denganku untuk yang terakhir kali… terakhir dia memintaku… sambil tersenyum, namun mengeluarkan air mata…" jelas Gaara.
FLASHBACK
"Gaara, aku ingin minta satu hal padamu." Pinta Chidori.
"Apa itu?" tanya Gaara.
"Aku ingin… kamu berada disisiku sampai aku mati…" ucap Chidori sambil malu-malu.
"…" Gaara terdiam mendengar permintaan Chidori.
"Ahaha… maaf, aku hanya ngawur, tentu saja tidak bisa… kamu kan sudah menjadi milik Sakura… hehehehe…maaf yah… lupakan saja ucapanku tadi…"
END OF FLASHBACK
"Apa yang kau lakukan kalau kau berada di posisiku." Tanya Gaara pada Sasuke.
"Aku akan menolaknya." Jawab Sasuke tegas.
Jawaban Sasuke membuat Gaara terkejut.
"Aku mengenal Sakura sebelum wanita itu, untuk apa aku mengorbankan hubunganku yang begitu berharga hanya demi wanita yang baru saja aku temui, sakit dan akan mati pula." Sambung Sasuke.
"Hei Sasuke, tidak perlu sekasar itu ucapanmu." Tegur Naruto.
"Aku tidak bercanda." Tegas Sasuke.
"Masalahnya… aku melupakan dia… dulu aku sering bermain bersamanya, tapi kenangannya terdingkirkan oleh keberadaan Sakura." Ucap Gaara.
"Baiklah kalau begitu… mulai sekarang, jangan pernah kau temui Sakura lagi, kalau sampai kau menemuinya, saat itu aku akan benar-benar membunuhmu." Ancam Sasuke yang melepaskan Gaara dan pergi meninggalkan rumahnya.
Naruto mengikuti Sasuke dari belakang, sedangkan Gaara hanya duduk terdiam.
"Sasuke, apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya Naruto.
"Aku akan mengambil tindakan mulai dari sekarang, aku akan berada di sisinya, suka ataupun tidak suka." Jawab Sasuke dengan yakin.
Naruto tersenyum pada sahabatnya itu, lalu merangkul dan memberi semangat.
"Yooosh! Itu baru Sasuke!" ucap Naruto.
Sementara itu, Sakura yang sedang berbaring di tempat tidurnya, dia memegang fotonya bersama Gaara sewaktu mereka kecil, air matanya mengalir lagi dengan deras, diusapnya perlahan, lalu meletakkan foto itu diatas meja. Sakura mencoba mengingat dengan jelas apa yang terjadi malam-malam saat dia terpuruk itu.
"Sasuke…" panggil Sakura dengan lembut.
Sakura memejamkan matanya dan merasakan kembali kehangatan yang Sasuke berikan padanya, tapi dia berfikir, ini tidak adil bagi Sasuke, dia tidak mau menjalin hubungan dengan Sasuke karena dia merasa terpuruk pada Gaara. Sakura mengingat kembali saat Sasuke memeluknya di dapur, dan mengucapkan kalau Sasuke adalah salah satu orang yang mencintainya.
Kemudian bayangan Gaara kembali melintas di pikiran Sakura, dan itu membuat dada Sakura nyeri, sehingga Sakura lagi-lagi mengeluarkan air mata, sungguh sangat susah untuk melupakan seorang yang sangat kita cintai.
Dirumah Sakit, Gaara membuka pintu kamar yang di dalamnya terdengar suara berisik dari para wanit, ketika Gaara membuka pintu kamar itu.
"Ah… maaf." Ucap Gaara yang melihat teman-teman Chidori.
"Tidak apa… tidak apa… oh iya, selamat yaaah, akhirnya kalian jadian juga." Ucap salah satu temannya.
"Yu…Yumiii… sudah kubilang Gaara belum member jawabannya." Teriak Chidori yang wajahnya memerah.
"Kalau begitu jawab saja sekarang." Ledek temannya yang lain.
"Hei, mungkin mereka ingin ngobrol berdua, ayo kita keluar." Ucap temannya yang lain.
Begitu mereka semua sudah keluar, Gaara mendekati Chidori.
"Gaara maaf yah, mereka memang usil." Ucap Chidori.
"Hn.." jawab Gaara singkat.
"Ada apa? Kamu seperti tidak sehat." Tanya Chidori dengan lembut.
'Aku tidak tahu keputusanku ini tepat atau tidak, ya Tuhan….' Pikir Gaara
"Gaara?" panggil Chidori.
"Aku sudah putus dengan Sakura." Ucap Gaara.
"Hah?"
"Mulai sekarang, aku akan berada di sisimu." Ucap Gaara.
Chidori yang terkejut tidak berkomentar apa-apa, sementara itu, Sasuke yang sedang menuju rumah Sakura menemukan Sakura yang sedang duduk di pojokan dengan keadaan kamar yang sangat berantakan dan juga sosok Sakura yang sangat kacau.
"SAKURAA!"
A/N : waaaah, maaf yaaah aku telat bangeeet updatenyaaa.. maaf maaf maaaff... aku sibuk bangeeet, sebenernya g penting sih sibuknya, temen ngajakin jalan muluuu... T.T
dari kemaren banyak saudara dateng jadi ngga konsen bikin ceritanya, akhirnya aku memutuskan untuk nulis ceritanya jam 2 pagi... aku merasa ngutang cerita sama kalian... maaf yaaaah...
semoga kalian suka chapter ini...
makasih yah udah mau nunggu...
