Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.
.
.
I want..
.
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
.
I want.. by author03
Uzumaki Naruto x Hyuuga Hinata.
Romance\Fantasy
.
.
.
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 10
.
.
.
"Dibawah kita ini adalah danau di Amazon! Jika kita tak mati kerena jatuh kita akan mati dimakan hewan buas. Saat ini aku hanyalah manusia biasa!" jawab Hinata mengingatkan yang membuat Naruto kembali panik.
"Kyaaahhh! Kau bodoh! Mengapa ke Amazon!"
"Aku hanya kepikiran.." jawab Hinata merasa bersalah.
"Aaaaaaaa! Kita akan mati!" teriak Naruto panik. Melamar di awan ada rencana yang paling buruk dari yang terburuk.
"Kyaaaaaahhh! Ayah! Ibu! Siapapun! Tolonggggg!"
Hinata dan Naruto yang semakin mempererat pelukan mereka ketika kaki mereka sudah hampir mengenai permukaan air.
"Kyaaaaahhhhhpp!"
"Aaaaaaaaaaaahapp!"
Plummpp.. Plumpp.. Merosot dengan sempurna.
Ceekkk!
...
"Aablupaaaplupplup!"
"Aaaablupaaaaaablup!" mereka yang kembali berteriak sambil saling menatap ketika mereka merasa sesuatu dibawah telapak kaki mereka menyentuh dasar danau.
Naruto dan Hinata yang langsung berenang ke permukaan air dan lari menjauhi danau dengan kecepatan dua kali lipat lebih cepat dari kecepatan manusia normal.
"Aaaaaaaaaaaa!"
"Kyaaaaaaahhh!" mereka yang terus berlari sambil terus menghindari pepohonan disekitar mereka.
.
.
.
.
.
"Haah~ haah~"
"Sudah haah~ berhenti!" ucap Hinata lelah sambil menghentikan langkahnya ketika ia merasa telah jauh dari danau yang langsung diikuti oleh Naruto.
"Gila! Kau dengar itu! Kita menindih buaya!" ucap Naruto panik dan tak percaya sambil menatap mata Hinata dengan kedua matanya yang melebar.
"Kau benar. Aku bahkan dengar suara 'cekkkk!'" jawab Hinata tak percaya dan kembali panik. Kakinya menginjak punggung buaya yang membuat buaya itu ikut merosot ke dasar danau.
"Punggungnya sampai bengkok!" ucap Naruto sambil mengangkat kedua tangannya keatas dan menariknya kebelakang. Mencontohkan bentuk tubuh buaya besar yang mereka tindih tadi.
"Gila! Gila Gila!" ucap Naruto panik sambil mengetuk kepalanya. Gila! Ia sungguh merasakan kakinya menginjak punggung kasar buaya itu dan buaya itu ikut merosot ke dasar laut!
"Kau bodoh! Mengapa kau kesini! Apakah tak ada tempat yang lebih bagus selain Amazon?" tanya Naruto panik. Bagaimana cara mereka keluar dari sini dengan selamat?!
"Ini karena kau! Aku hanya kepikiran kesini! Aku tak tahu, kau akan melakukan hal itu!" jawab Hinata tak terima disalahkan.
"Ka~!"
Ccczztt..czzt.. Semak-semak yang tiba-tiba berbunyi yang membuat Naruto menutup mulutnya dan menatap asal suara begitu juga dengan Hinata.
!
"Na-naruto.. Ja-ja-jangan bergerak." bisik Hinata takut ketika ia melihat seekor jaguar keluar dari semak-semak asal suara tadi.
Naruto yang melangkah secara perlahan, seinci demi seinci, mendekati Hinata.
"Kabur!" Naruto yang langsung mengengam pergelangan tangan Hinata dan berlari menjauh, Hinata yang tak punya pilihan pun ikut berlari sekuat tenaga.
"Rooaaarr!" jaguar yang muncul tadi langsung mengejar Hinata dan Naruto.
"Kyaaaaahhhh! Hikss! Naruto! Hiks! Aku bersumpah akan membunuhmu!" ucap Hinata takut dan panik sambil terus berlari. Ia bahkan tak punya waktu untuk menatap ke belakang.
"Hinata. Kau akan baik-baik saja. Percayalah padaku." jawab Naruto berusaha menyakinkan dirinya dan Hinata.
"Sialan! Hiks.!"
.
Mereka yang terus berlari hingga mereka tak sadar Jaguar tadi sudah tak mengejar mereka lagi bahkan sudah tak kelihatan.
"Kyaaaahhh!" Hinata yang langsung menepis tangan Naruto yang mengengam pergelangan tangannya dan melangkah mundur beberapa langkah.
"Na-naruto.. Jangan ber-bergerak. A-ada Tarantula besar di di pundakmu." Pinta Hinata takut dan pelan ketika seokor tarantula yang entah datang dari mana mendarat di pundak Naruto yang masih terlapisi kaos berwarna putih.
Naruto yang menyadari laba-laba besar dipundak kirinya pun mematung, ia bahkan menahan nafasnya. Sialan! Laba-laba ini mungkin beracun.
Hinata yang memunggut sebatang kayu ditanah didekatnya dan mengarahkannya ke tarantula yang masih sedikit bergerak-gerak dipundak Naruto.
"aaaaaaahhh!" Naruto yang langsung berteriak geli sambil menyobek kaosnya dan langsung membuangnya ke tanah. Untung saja ia memakai singlet, Jadi ia tak telanjang dada. Gila! Ia bahkan terlalu panik untuk dapat merasakan sakitnya pukulan yang mendarat di pundaknya.
"Hei! Mengapa kau membunuhnya! Harusnya kau usir saja!" marah Naruto panik. Ia sungguh mengira Hinata akan mengusir tarantula itu tapi Hinata malah memukul hingga mati tarantula itu dengan kayu yang ia ambil tadi. Menggelikan sekali.
"Aku takut dia terganggu dan menggigitmu." ucap Hinata takut setelah ia membuang kayu ditangannya.
"Ahhhhhh! Sekarang bagaimana kita keluar dari sini?!" teriak Naruto frustasi sambil menatap ke langit.
"Hiks.. Naruto.. Hiks.. Aku baru saja membunuh. Hiks.." Tangis Hinata frustasi sambil menatap ke dua telapak tangannya ketika ia sadar ia baru saja membunuh seekor mahkluk hidup.
"Sstt.. Jangan menangis. Itu bukan salahmu. Anggap saja ia sedang sial kerena bertemu dengan mu." jawab Naruto sambil memeluk Hinata dan terus mengamati sekitarnya.
"Roooaarr!" seekor jaguar hitam yang entah muncul dari mana langsung meloncat kearah Naruto dan Hinata tanpa aba-aba.
"Kuramaaa!"
"Aaaaarrrggghhh!" Jaguar tadi yang tiba-tiba terhempas jauh seolah di pukul oleh sebuah tangan besar?
"Kurama? Kurama! Hiks! Untung saja. Hiks.. Hiks.." ucap Hinata lega sambil memeluk jari telunjuk Kurama. Ternyata Kurama raksasa yang menepis Jaguar hitam tadi.
"Hiks.. Aku sangat berterima kasih padamu. Hiks.." ucap Hinata yang masih sibuk memeluk jari besar Kurama, menempelkan wajahnya pada bulu halus itu.
"Cih. Kalian berdua memang bodoh." ucap Kurama geram yang membuat Naruto mendonggakan kepalanya dan menatap wajah Kurama yang tertunduk atau lebih tepatnya menatap Hinata.
"Bagaimana kau tahu kami ada disini? Apakah kau mengikuti kami?" tanya Naruto curiga.
"Hei manusia bodoh. Berterima kasihlah padaku karena telah menyelamatkan nyawa bodohmu itu." jawab Kurama tak suka.
"Mengapa kau tak menyelamatkan kami dari awal?" tanya Naruto tak terima.
"Hei bocah. Aku hanya akan muncul ketika Hinata memanggilku." jawab Kurama yang membuat Hinata melepaskan pelukannya dan menatapnya.
"Iya. Kau benar. Mengapa aku tak memanggilmu tadi?" ucap Hinata teringat yang membuat Naruto menatapnya kesal.
"Kau memang bodoh." ucap Naruto tak percaya. Mereka hampir saja mati.
"Tapi tunggu. Jika kau baru datang. Siapa yang mengusir Jaguar tadi?" tanya Hinata aneh.
...?
"Iya. Kau benar. Sewaktu ada tarantula tadi jaguar tadi telah tak ada? Apa yang terjadi?" tanya Naruto aneh. Ia baru ingat mengapa jaguar yang mengejar meraka tiba-tiba tak ada?
... ?
"Ayah. Ibu. Itu pasti kerjaan kalian. Dimana kalian?" tebak Hinata sambil menatap kesana-kesini.
.
"Sudah kuduga." ucap Hinata dengan senyumnya ketika ia melihat sepasang manusia yang berdiri tak jauh dibelakang nya.
Mereka yang melangkah menghampiri Hinata.
"Putriku. Apakah kau baik-baik saja?" tanya wanita yang dipanggil ibu oleh Hinata sambil memeluknya.
"Aku baik-baik saja ibu. Terima kasih karena telah menyelamatkanku." jawab Hinata lega sambil melepaskan pelukannya.
"Sebaiknya sekarang kita pulang. Disini sangat berbahaya." ucap ayah Hinata yang dibalas anggukan oleh orang di sekitarnya.
Kurama yang menghilang ketika semua ekor menutupi badannya, Hinata yang menghilang ketika ayah dan ibunya menepuk pundaknya tapi tunggu?
...
?
"Hei! Bagaimana denganku!? Heii! Hinata!" teriak Naruto terkejut sambil menatap kesana-kemari. Apakah ia terlupakan? Atau memang sengaja dilupakan?
"Heeeeeeiiiiii!"
.
.
.
.
Satu minggu kemudian...
"Gaun itu indah sekali Hinata.." ucap seorang wanita pada Hinata yang baru saja kaluar dari ruang ganti dengan gaun putih panjang yang melekat di badannya.
Hinata yang memutarkan pelan dirinya di cermin besar yang tak jauh darinya.
"Aku juga suka dengan yang ini, ibu." jawab Hinata senang ketika ia berhenti berputar dan kembali menatap ibunya lewat cermin didepannya.
.
.
Sementara di ruang lelaki.
Naruto yang baru saja keluar dari ruang ganti dengan pakaian lengkap dengan jas melekat ditubuhnya.
"Cih." ia yang langsung membuang muka ketika ia menatap seorang lelaki yang terduduk dikursi tak jauh darinya.
"Jelek. Sangat memalukan. Kau sungguh tak pantas bersanding dengan putriku." ucap lelaki yang ternyata ayah Hinata yang membuat dahi Naruto berkerut. Mereka memang tak pernah akrab tapi itu tak berarti Hiashi melarang pernikahan ini dan Naruto pun tak keberatan jika orang ini menjadi ayah mertuanya. Ucapan ayah Hinata selalu saja tak enak didengar dan tingkahnya yang bak orang hebat di penjuru dunia sedangkan Naruto yang tak suka dengan ayah Hinata karena selalu berkomentar buruk dengannya, apalagi waktu ia sengaja meninggalkan Naruto di amazon seminggu lalu. Tapi tetap saja seberapa besar mereka saling tak menyukai. Mereka tetap bersama dan tak bergaduh, mungkin. mereka hanya tak begitu cocok, itu saja.
"Ayolah ayah mertua k~"
"Jangan berani memanggilku begitu." sela Hiashi yang membuat Naruto menatapnya kesal. Padahal ia sudah berusaha bersikap baik.
..
!
Naruto yang tersentak ketika Hiashi tiba-tiba muncul dibelakang nya dan menepuk pundaknya.
"Dengar bocah. Jika kau berani membuat putriku sengsara. Aku akan menyiksamu hingga kau memilih untuk mati." ucap Hiashi dingin dan kejam yang membuat Naruto menelan ludahnya, ayah mertuanya terkadang sangat mengerikan.
"I-iya."
.
.
.
.
.
.
Dua minggu kemudian...
18.32
Acara pernikahan yang baru saja berakhir dan bubar. Semua tamu yang juga sudah pulang dari gedung acara pernikahan berlangsung begitu juga dengan Naruto dan Hinata.
"Ayo Sasuke. Aku ingin ke rumah Hinata." ucap seorang gadis berambut pink dengan tubuhnya yang masih terbalut gaun pink panjang dan polos tanpa lengan. Ia baru saja keluar tak lama dari tempat yang sama dari Hinata dan Naruto.
"Hmm." jawab orang yang diajak singkat sambil mengekori Sakura. Badannya yang masih terbalut kemeja putih lengkap dengan jas hitam.
"Hai" sapa seorang lelaki ketika ia menghadang jalan Sakura.
"Iya? Ada apa?" tanya Sakura sopan. Siapa lelaki ini?
"Kau cantik sekali. Bisakah kau memberiku nomor teleponmu?" tanya lelaki tadi dengan senyum nya sambil menyodorkan ponselnya.
"A~" belum sempat Sakura menjawab Sasuke langsung mengambil ponsel yang tersodorkan itu dan melempar kannya ke lantai.
"Mari pergi." Sasuke yang langsung menarik pergelangan tangan Sakura dan menariknya pergi.
"Maafkan aku." ucap Sakura merasa bersalah yang kemudian menyeimbangkan langkahnya dengan Sasuke.
.
"Kau kasar sekali. Padahal dia lumayan tampan." Ucap Sakura dengan kepalanya yang tertunduk yang membuat Sasuke menghentikan langkahnya dan menatapnya.
"Apa?" Tanya Sakura aneh ketika ia menatap Sasuke yang terus menatapnya kesal?
"Aku akan membawamu kedokter untuk mengecek matamu." Ucap Sasuke tak suka, ia yang kembali menarik Sakura pergi, yang membuat Sakura kembali menundukkan kepalanya dan tersenyum lucu. Ayolah.. Sakura hanya bercanda. Ada lelaki tampan yang sangat ia cintai yang kini mengengam tangannya, untuk apa ia harus melirik ke arah lelaki lain?
.
.
.
.
.
Uzumaki House.
22.54
"Akhirnya semuanya sudah pergi." ucap Naruto lega sambil merobohkan dirinya ke ranjang king size dibelakangnya.
"Naruto, tolong aku lepaskan ini." pinta Hinata sambil menghampiri Naruto. Ia yang kesusahan dengan gaun putih nya.
Naruto yang langsung beranjak dari posisinya dan menghampiri punggung Hinata.
Kedua tangannya yang melepas beberapa ikatan di gaun belakang yang dikenakan Hinata dan akhirnya menarik resleting gaun itu ke bawah.
Blusshhh.. "Sudah."
"Terima kasih." ucap Hinata yang kembali melangkah pergi menuju kamar mandi yang terdapat didalam kamarnya, dengan satu tangannya yang menahan kain gaun didekat dadanya agar gaun yang dipakainya tak jatuh, tapi Naruto terlebih dulu menahan lengannya dan menarik nya mendekat dan langsung memeluknya.
"Aku lelah sekali." ucap Naruto dengan matanya yang tertutup dan dengan dagunya yang menempel di pundak Hinata. Ia bahkan belum menganti pakaian nya.
"Apakah kau tak mau membiarkan aku menganti pakaianku?" Tanya Hinata yang mulai risih dengan gaunnya, ia takut jika gaun ini tiba-tiba terlepas sempurna dari tubuhnya dan emmm.. Uhmm.. Itu. Kau tahulah.
"Aku bahagia sekali. Aku tak pernah mengira hari ini akan tiba. Aku tak pernah mengira aku akan menikah denganmu. Aku juga tak mengira aku akan menjadi semakin takut kehilanganmu. Aku sangat mencintaimu." ucap Naruto lembut, ia yang masih bertahan dengan posisinya. Rasanya nyaman sekali. Ia sungguh senang. Ia bahagia sekali saat ini meskipun ia sangat lelah.
"Aku juga sangat mencintai mu. Sekarang ganti pakaian mu dan istirahatlah. Kau harus istirahat. Kau pasti lelah bukan?" Ucap Hinata lembut. Ia sangat sangat sangat bahagia saat ini meskipun ia juga sangat lelah.
"Hmm.." jawab Naruto yang langsung melepaskan pelukannya.
"Aku akan menganti pakaianku dulu." Ucap Hinata yang kembali melangkah pergi menuju kamar mandi yang tak jauh darinya sedangkan Naruto yang langsung melangkah menghampiri lemari besar disebelahnya.
.
Beberapa menit kemudian.
Hinata yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan piyama yang menempel di badannya, wajahnya yang sudah bersih dari make up.
Hinata yang menatap suaminya yang tengah tertidur di ranjang bagian kiri.
Hinata yang perlahan melangkah dan mendudukan dirinya di ranjang bagian kanan dengan jarak beberapa cm dari Naruto.
...
"Ini tak canggung kerena aku sudah terbiasa tidur disebelahmu." ucap Hinata lucu sambil mengelus pelan pipi tampan suaminya itu. Lucunya ketika Hinata kembali mengingat Naruto yang selalu memanggilnya yang sedang tertidur diam-diam ke ranjangnya. Entahlah. Itu seperti kebiasaan untuk Naruto dan seharusnya kini ia tak usah melakukannya lagi kerena saat ini ranjang ini adalah ranjang Hinata juga.
"Selamat malam Naruto. Aku mencintaimu." ucap Hinata lembut sambil mengecup singkat bibir suaminya.
Hinata yang langsung membaringkan dirinya dengan selimut besar yang langsung ditarik perlahan untuk menyelimuti dirinya dan sedetik kemudian Naruto pun menghadapkan dirinya ke Hinata dan memeluknya erat.
Cupp.. Kecupan singkat yang mendarat di bibir Hinata yang membuat mata Hinata terbuka dan badannya yang seketika membeku.
"Kau sudah berani menciumku. Hmm?" ucap Naruto pelan yang membuat Hinata merona.
...
Hinata yang membalikkan badannya, menghadap ke Naruto dengan jarak wajah mereka yang hanya berjarak 3cm. Naruto masih menatapnya, menunggu jawaban.
"Aku sangat mencintaimu." ucap Hinata tanpa sadar dengan satu tangannya yang menempel di pipi Naruto dan jari jempolnya yang perlahan membelai bibir bawah Naruto.
...
Naruto yang mengengam punggung tangan Hinata yang menyentuh pipinya untuk menghentikan pergerakan jari Hinata yang terus membelai bibir nya.
Mata Naruto yang tak bisa lepas dari mata Hinata begitu juga dengan sebaliknya. Naruto masih ingat biasanya ia memanggil Hinata yang sudah tertidur ke kasurnya tapi kini Hinata masih bangun. Ia sangat senang. Ia tak perlu lagi diam-diam memanggil Hinata hanya untuk melihat wajah cantiknya yang sedang tertidur.
"Aku juga sangat mencintai mu." jawab Naruto lembut, ia yang kemudian kembali mengecup bibir Hinata.
"Aku berjanji akan selalu melindungimu, aku akan selalu menjagamu dan bersamamu." ucap Naruto yakin yang membuat Hinata tersenyum lembut.
"Aku juga berjanji akan selalu menemaimu dan aku akan selalu bersamamu apapun yang terjadi." jawab Hinata yang membuat Naruto tersenyum lembut.
"Aku sangat mencintai mu. Aku sungguh mencintaimu lebih dari apapun." ucap Naruto yang membuat Hinata tersenyum lucu.
"Kau sudah mengatakannya berkali-kali."
Naruto yang langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata dan mengulum bibirnya singkat.
"Aku hanya merasa kata-kata cinta tak cukup membuktikan seberapa besarnya cintaku padamu." ucap Naruto. Ia ingin Hinata tahu betapa besar cintanya.
"Aku tahu." jawab Hinata dengan senyum lembutnya sambil kembali mengelus lembut pipi Naruto.
.
.
.
.
Empat hari kemudian...
Boommm!
"Kyaaaahhh! Naruto! Kue ku meledak!" teriak seorang gadis bersurai indigo panik pada kuenya di sebuah kotak yang tiba-tiba meledak.
"Ada apa Hinata?" tanya Naruto panik ketika ia menghampiri Hinata dan menatap oven yang sudah hancur dan gosong begitu juga dengan benda dan dinding disekitar oven itu.
"Aku meletakan kue ku di kotak itu dan aku pergi. Ketika aku kembali dia langsung meledak." ucap Hinata panik. Mengapa kotak itu tiba-tiba meledak padahal ia hanya memasukan sepiring kue dan mencolok sebuah tali hitam ke kontak colokan disana.
"Hmm..?" Naruto yang terdiam sambil menatap Hinata yang terlihat bingung.
"Hinata, apakah kau tahu apa itu?" tanya Naruto memastikan.
"Kotak." jawab Hinata.
"Apakah kau tak pernah memasak sebelumnya?"
"Memasak? Untuk apa? Aku bisa membuat apapun dengan kekuatanku." jawab Hinata aneh.
"Oh.. Pantas saja selama empat hari ini kau terus mengajakku makan diluar dan tak heran kau meledakan oven itu." jawab Naruto mengerti. Hmm..
...
"Hinata, sebagai istri yang baik. Kau harus bisa memasak." jelas Naruto yang membuat Hinata menatapnya bingung.
"Untuk apa aku harus memasak, aku kan bisa memanggil makanan kesini." jawab Hinata sambil menyodorkan telapak tangannya.
...
?
"Mengapa makanannya tak muncul?" tanya Hinata aneh.
"Tentu saja karena kini kau bukan lagi peri." Naruto menjelaskan yang membuat Hinata menatapnya terkejut.
"Jadi saat ini aku harus belajar memasak?" tanya Hinata pasrah dan Naruto menggangukan kepalanya.
"Ah... Baiklah." jawab Hinata dengan senyum manisnya. Apakah memasak itu menyenangkan?
"Oh iya. Apakah kau sudah membereskan pakaianmu? Kita akan ke Bali besok bukan?" tanya Naruto teringat.
"Untuk apa? Aku kan bisa membuatnya dalam sekejap mata." jawab Hinata santai dan sedetik kemudian.
"Aaaaaaaaa! Tidak! Aku manusia sekarang." ucap Hinata teringat.
"Oh tidak.. Mengapa menjadi manusia begini tak berguna dan menyusahkan?!" ucap Hinata frustasi sambil menekan kepalanya dengan kedua telapak tangannya. Saat ini semuanya harus dilakukan secara perlahan, tak lagi dengan sekejap mata. Ini sangat merepotkan!
"Kau akan terbiasa." ucap Naruto mengejek yang membuat Hinata menatapnya frsutasi.
"Semangat belajar..." ucap Hinata pasrah.
.
.
.
.
.
dua bulan kemudian..
12.32
Brackk..bamm..
"Aarrrrgghhh! Aku akan memakanmu bocah!" marah Kurama dengan ukuran tubuhnya yang tiba-tiba membesar hingga menerobos lantai atas dan atap rumah.
"Kyaaahh.. Hentikan Kurama. Orang lain akan melihatmu." pinta Hinata panik yang membuat Kurama menahan amarahnya dan kembali mengecilkan tubuhnya.
Bamm.! Bamm! Semua barang dari atas yang ikut berjatuhan kebawah.
"Dasar rubah sialan! Sudah kalah! Tak mau terima! Dan kini kau menghancurkan rumahku! Kau sungguh tak berguna!" marah Naruto sambil melempar kartu-kartu ditangannya. Mereka sedang terduduk diruang tamu dan bermain kartu. Kurama memang selalu kalah tapi itu bukan alasan untuk menghancurkan rumah ini! Apa-apan ini!
"Rrrgghh! Aku tak pernah kalah." jawab Kurama tak terima yang membuat Naruto menatapnya kesal.
"Sekarang bagaimana caranya kau mengganti rumah ini!? Ha?!" tanya Naruto tak terima. Akan perlu banyak waktu untuk memperbaikinya.
"Naruto, kau tak boleh marah pada Kurama. Kau yang membuatnya kesal, itu sebabnya ini terjadi, jadi ini salahmu." ucap Hinata yang membuat Naruto menatapnya tak terima.
"Haah~ baiklah. Karena uangku tak akan habis tujuh turunan aku ak~" Naruto yang tiba-tiba terdiam.
?
"Mengapa kita tak menyuruh Sasuke yang memperbaiki nya saja?" sambung Naruto yang membuat Kurama dan Hinata menatapnya.
"Kau benar. Kurama. Panggil Sasuke." pinta Hinata semangat.
"Sasuke uchiha.
...
"Mengapa kau memanggilku?" tanya Sasuke yang tiba-tiba muncul dihadapan Kurama.
"Sasuke, tolong perbaiki rumah ini." pinta Hinata berharap, ia yang masih tak bergerak dari posisi duduknya begitu juga dengan Naruto dan Kurama.
. sedetik kemudian...
"Aku pergi dulu." pamit Sasuke yang kemudian menghilang.
Naruto yang langsung menatap sekitarnya yang kemudian tersenyum kagum. "Waahhh.. Keren.." ucapnya kagum ketika rumahnya yang hancur telah kembali seperti semula dan menjadi sangat kinclong dan baru.
"Rrggh.. Kalau begitu lanjutkan main kartunya." pinta Kurama tak terima yang membuat Naruto menatapnya sinis.
"Aku tak takut."
.
.
Satu jam kemudian..
"Aaarrrrgghh! Bocah sialan! Kau pasti curang lagi!"
Bamm.. Crakk.. Lantai atas dan atap rumah yang kembali berlubang untuk ketiga kalinya yang membuat Hinata menghela nafasnya sedangkan membuat Naruto menatap mengejek Kurama.
"Dasar rubah. Kau sudah tahu kehebatanku bukan? Tapi tak apa selama ada Sasuke, aku akan bermain lagi denganmu sampai kau bisa mengalahkanku." ucap Naruto sombong yang membuat Kurama semakin mengeram.
Badan Kurama yang kembali mengecil.
"Sasuke Uchiha."
... Sasuke yang kembali muncul dengan aura membunuhnya yang membuat Hinata, Naruto dan Kurama membeku.
"Aku akan membunuh kalian semua."
.
.
.
.
.
Satu tahun sembilan bulan kemudian.
Uzumaki house.
18.56
Terlihat kamar Hinata dan Naruto yang dipenuhi oleh mainan sana sini dan pakaian kecil sana sini.
"Dia lelaki Naruto!" jelas Hinata pada suaminya yang terus menerus ingin memakaikan gaun merah pada putra mereka yang kini berusia satu tahun. Putra mereka yang bernama Boruto yang kini terbaring di ranjang di kamar Hinata dan Naruto. Ia baru saja selesai di mandian, di handuki dan kini hendak dipakai pakaian.
"Aku ingin perempuan." ucap Naruto tak terima pada Hinata.
"Kau memang bodoh! Apa kau tak lihat *sensorsensor* sepanjang itu. Lihatlah! Kau membeli banyak sekali pakaian dan mainan anak perempuan. Kau membuang-buang uang." marah Hinata yang membuat Naruto menurunkan gaun merah ditangannya. Padahal ia ingin mendandani anaknya sayangnya anaknya ini lelaki. Haizz. Naruto bahkan sudah membeli banyak pakaian dan mainan untuk anak perempuan.
"Baiklah baiklah. Dia lelaki." ucap Naruto menyerah.
"Dasar bodoh. Sudah terlambat." jawab Hinata frustasi. Setiap kali Hinata memberikan Boruto untuk dijaga Naruto, hanya dalam dua menit Boruto di makeup seperti anak perempuan.. Huh!
.
.
.
Tujuh tahun kemudian..
Boruto yang kini berusia delapan tahun dan seorang anak perempuan imut bernama Himawari yang kini berusia enam tahun. Dia adalah anak perempuan Hinata dan Naruto.
Jam yang telah menunjuk pukul 20.01, waktunya tidur untuk Himawari dan Boruto.
"Himawari, Boruto. Sudah waktunya tidur." ucap Naruto pada kedua anaknya yang masih bermain di ruang tamu.
"Ha'i ayah." kedua anak itu yang langsung berlari kekamar mereka.
.
.
Naruto yang menyelimuti putrinya yang baru terbaring diranjang single sizenya sambil memeluk boneka beruangnya dan Boruto juga membaringkan dirinya ke ranjang single nya disebalah Himawari dengan jarak satu meter.
"Ayah? Dimana ibu?" tanya Himawari ketika ia tak melihat ibunya sama sekali.
"Ibumu keluar membeli barang sebentar, sebentar lagi ia akan pulang. Tidurlah." ucap Naruto sambil mengecup kening putrinya itu.
"Ayah... Biasanya ibu menceritakan sebuah cerita untuk kami sebelum tidur." ucap Himawari ingin yang membuat Naruto berpikir sejenak.
"Baiklah. Ayah akan menceritakan sebuah cerita tentang. Hmm seorang peri cantik dan seorang manusia biasa." ucap Naruto sambil memdudukan dirinya di pinggir ranjang Himawari.
"Peri itu tak ada, ayah..." Ucap Boruto sambil menatap ayahnya dari ranjangnya.
.
.
"Aku pulang." Hinata yang baru memasuki rumahnya dan melirik kesana-kesini. Kosong? Dimana keluarganya?
Ia yang meletakan kantong belanjaan nya ke lantai dan melangkah masuk. Apakah mereka dikamar?
Satu tangan Hinata yang mengangam gangang pintu dan hendak membukanya.
"Sejujurnya, peri itu ada. dia sangat cantik dan baik hati." suara Naruto yang membuat tangan Hinata berhenti bergerak.
"Lalu bagaimana lelaki itu bisa bertemu dengan peri?" tanya Himawari penasaran.
"Suatu hari didekat laut. Seorang lelaki yang tanpa sengaja melihat seorang gadis cantik tapi ia memiliki sepasang sayap yang indah. Hanya beberapa orang yang bisa melihat sayap itu. Dan kebetulan sekali lelaki ini bisa melihat sayap itu. Sang peri datang dan mengatakan 'aku akan mengabulkan apapun yang kau mau kerena kau bisa melihat sayapku' dan sang lelaki menjawab 'siapa kau bisa mengabulkan permintaanku? Peri?' lelaki itu terdiam saat sang peri menjawab 'iya. Aku adalah peri' awalnya lelaki itu tak percaya hingga peri itu membuktikannya. dan pada akhirnya lelaki itu pun percaya."
"Lalu apa yang terjadi pada mereka berdua?" tanya Boruto penasaran. Sungguhkah peri itu ada?
"Sang lelaki itu meminta sang peri untuk menjadi perinya selamanya, awalnya sang peri tak mau tapi ia tak punya pilihan selain mau. Dari situ sang lelaki itu selalu saja menyusahkan sang peri dengan meminta banyak hal dan sang peri selalu saja mengabulkannya. Dan kelamaan lelaki itu menjadi selalu membuat sang peri kecewa dan kesal tapi peri yang baik hati itu selalu saja kembali padanya dan menghiburnya hingga suatu hari lelaki itu mati."
"Mati? Jadi bagaimana dengan peri itu? Apakah dia menangis?" tanya Himawari merasa iba. Apakah ini cerita bad ending?
"Peri itu menyelamatkan nyawa lelaki itu yang menyebabkan dirinya dihukum didalam penjara seumur hidupnya, padahal sang peri tahu hal itu terlarang, tapi ia tetap saja melakukannya." jelas Naruto lembut.
"Itu sebabnya?" pikir Hinata lucu. Ini sebabnya mengapa ia dipenjara waktu itu?
"Lalu bagaimana dengan lelaki itu? Mengapa peri itu mau menyelamatkan lelaki itu jika tahu ia akan dihukum?" tanya Boruto penasaran. Apakah peri itu bodoh?
"Ia melakukannya karena ia mencintai lelaki itu tapi lelaki itu terlalu bodoh untuk menyadarinya. Suatu saat lelaki itu pergi ke tempat sang peri dan menyelamatkan perinya. Di sanalah ia sadar jika ia sangat mencintai peri itu. Lelaki itu semakin sadar jika ia mencintai sang peri saat sang peri membawanya kelabirin cinta. Sang peri memberinya sebuah kalung kristal biru dan sang lelaki memberi sang peri sebuah kalung berbentuk sayap sama seperti sayap sang peri. Kalung itu adalah pertanda cinta dari lelaki itu untuk sang peri." jelas Naruto yang tiba-tiba tersenyum.
"Apakah mereka akhirnya hidup bahagia?" tanya Himawari berharap.
"Tentu saja mereka bahagia meskipun hidup didunia ini dengan menjadi seorang manusia terlalu sulit untuk sang peri tapi ia sangat bahagia karena hidup dengan seorang yang sangat ia cintai. Sampai saat ini mereka hidup bahagia apalagi dengan hadirnya seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan tercinta mereka." jelas Naruto yang semakin tersenyum.
"Dimana peri itu sekarang ayah? Aku mau menemuinya." tanya Boruto tertarik. Ia ingin melihat peri yang diceritakan ayahnya.
"Kalian tak perlu tahu. Nah.. Sekarang tidurlah." ucap Naruto sambil mengelus kepala Himawari.
Clikk.. Pintu kamar yang tiba-tiba terbuka.
"Mengapa kalian belum tidur?" tanya Hinata dengan senyumnya pada kedua anaknya yang menatapnya.
"Ibu. Ibu. Tadi ayah bercerita tentang pemmhpp.." Naruto yang langsung menutup pelan mulut Hinawari dengan telapak tangannya.
"Sstt.. Jangan beritahu ibumu." bisik Naruto dan Himawari pun mengangukkan kepalanya.
"Tidurlah Himawari." ucap Hinata lembut sambil mengecup kening Himawari yang kemudian melangkah menghampiri Boruto.
"Selamat malam Boruto." ucap Hinata sambil mengecup kening Boruto tapi pandangan Boruto malah berfokus pada sebuah mainan kalung di leher ibunya?
"Selamat malam Boruto." ucap Naruto sambil mengelus kepala putranya dan lagi-lagi mata Boruto terpokus pada mainan kalung di leher ayahnya?
Hinata yang melangkah keluar dari kamar anaknya yang langsung diikuti oleh Naruto yang langsung menutup pintu kamar.
"Kristal biru dan sayap?" pikir Boruto aneh sambil mengingat kembali mainan kalung ayah dan ibunya. Mendengar cerita ini kalung itu jadi mencurigakan.
"Seorang anak lelaki dan anak perempuan?" pikir Boruto sambil menatap adiknya yang telah memejamkan matanya. Sejujurnya selama ini Boruto selalu mendengar ayah dan ibunya beragruramen soal hal yang sama dan juga aneh, seolah menceritakan dulu ibu adalah seorang yang bisa melakukan apapun dalam sekejap mata tapi kini ia tak bisa melakukan apapun?
Hal itu menjadi mencurigakan kini. Jika saja cerita yang barusan ia dengar adalah benar maka...
.
.
"Mungkinkah-
.
.
-Sang peri itu adalah ibu?"
.
.
.
"Hah?! Ibuku ada seorang peri?"
.
.
.
.
"Tak mungkin" pikir Boruto lucu sambil memperbaiki posisi baringnya dan memejamkan matanya.
.
.
"Ayah hanya mengarang cerita."
.
.
.
.
.
Tamat.
.
.
.
.
.
Yoo.. Udh tamat...
Hmm.. Yang udh kasih saran.. Makasih banyak..aku jadi tahu kesalahan aku. Next time aku perbaiki.. Sekali lagi makasih..
Buat yang mau ShionToneri.. Hmm.. Sabar ya.. Kalau udh siap langsung aku up kok.. Okok..
Dan buat semua makasih sudah baca dan suka ma fic ini.. Maaf jika kurang bagus atau ada kesalahan.. Makasih bangat supprotnya. Di tunggu ya next fic nya.. Aku udh kepikiran sih beberapa untuk next nya.. Hmm.. Jadi ditunggu saja.. Makasih sekali lagi..
Nah... Jika berminat.. Silahkan tinggalkan review karena ini adalah chapter terakhir.. Makasih sebelumnya..
.
Bye bye..
