Blind Date
by RyeoTa Hasu
(Original Story by AliaZalea)
.
Cast :
Lee Sung Min (27-28 y.o)
Cho Kyu Hyun (35 y.o)
Lee Hyuk Jae aka Eunhyuk (25 y.o) as Sungmin's younger brother
Park Jung Soo aka Leeteuk (26 y.o) Sungmin's Blind Date Agent
Kim Jung Mo (32 y.o) as Sungmin ex. Boyfriend
.
Cameo :
Huang Zi Tao (32 y.o) as Kyuhyun's Friend
.
.
Disclaimer :
This original story is fromBlind Date Novel by AliaZalea
Hasu hanya me-remake-nya dengan Kyumin sebagaimain Castdengan beberapa perubahan dan penyesuaian
Kyumin dan Cast lainnya milik Tuhan YME, Orang tua dan Agensi
Hasu hanya meminjam namanya untuk kepentingan cerita
.
Rate :
T
.
Warning :
Boy's Love / YAOI, OOC, MPREG, hurt/comfort, Typo menjamur
.
.
DON'T LIKE? DON'T READ!
MAKE IT SIMPLE
HAPPY READING ^.^
.
.
Chapter 8
o.o.o.o.o.o.o.
.
.
(HASU POV)
.
.
Setelah makan malam, mereka langsung kembali ke rumah Kyuhyun.
Setelah mandi dan mengganti bajunya dengan piyama yang cukup tebal, Sungmin bersantai di ayunan yang ada di teras rumah Kyuhyun.
Kyuhyun sendiri tengah memeriksa sekeliling rumahnya untuk memastikan semua pintu dan jendela terkunci, meskipun menurutnya lingkungan rumahnya ini cukup aman.
Sungmin menikmati hembusan angin malam serta aroma khas dari laut yang terasa dingin sekaligus menyegarkan. Suasana yang memang sangat dibutuhkan oleh Sungmin yang saat ini tengah galau.
Dia merenungkan semua yang telah terjadi dalam satu hari ini.
Pertama, dia akhirnya mengetahui bahwa Kyuhyun adalah pria yang telah menyelamatkannya sekaligus telah memukul Jungmo sekitar 9 bulan yang lalu. Yang berarti, seperti penjelasan Kyuhyun, pertemuan pertama mereka adalah 9 bulan yang lalu. Dan yang disangka Sungmin sebagai pertemuan pertama mereka adalah pertemuan kedua yang disengaja oleh Kyuhyun, dengan tujuan untuk pendekatan. Itu berarti, Kyuhyun telah tertarik padanya sejak 9 bulan yang lalu, jauh sebelum Sungmin mengenal Kyuhyun secara resmi.
Kedua, tadi siang mereka hampir saja kelepasan dan Sungmin hampir saja melanggar prinsipnya sendiri. Jika saja Sungmin terlambat menyadarinya, mungkin...
Sungmin menggelengkan kepalanya untuk mengusir bayangan-bayangan rate 21+ yang ada dipikirannya.
Untung saja Kyuhyun adalah pria yang sangat pengertian, sehingga seharian ini dia tidak membahas apa yang telah terjadi itu.
Ketiga, hal yang menjadi highlight hari ini adalah... lamaran dari Kyuhyun yang amat sangat mendadak, suatu hal yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Sungmin selama ini. Dan jika dilihat dari bagaimana Kyuhyun telah mempersiapkan cincin berlian itu, itu berarti Kyuhyun memang telah merencanakan lamarannya hari ini.
Mengingat hal yang ketiga itu sukses membuat wajah Sungmin yang memerah karena angin malam menjadi semakin merah.
Well, harus diakui oleh Sungmin, dia memang tertarik pada Kyuhyun. Ehm, mungkin sudah meningkat menjadi rasa suka dan sayang.
Tapi... menikah? MENIKAH?
Sungmin menandai kata itu dengan huruf besar dalam memorinya.
Apakah dia sudah siap? Siap untuk berkomitmen? Dengan Kyuhyun? Seumur hidup mereka?
Sungmin tak menampik jika Kyuhyun adalah sosok pria yang sangat di inginkan oleh semua wanita dan juga kaumnya (baca : uke), dan tentu saja Kyuhyun termasuk pria ideal Sungmin, sangat pas dan sempurna.
Kyuhyun tampan, tubuhnya proporsional, kaya, mapan, baik, ramah, penyayang dan yang terpenting... bertanggung jawab.
Meskipun Sungmin belum lama mengenal Kyuhyun, bahkan perkenalan mereka belum sampai 1 tahun, tapi Sungmin menyadari bahwa Kyuhyun adalah pria yang bertanggung jawab.
Kyuhyun sangat totalitas dalam pekerjaannya. Dia bahkan rela menyerahkan hampir seluruh waktunya untuk memastikan pekerjaannya berjalan lancar.
Dia juga bertanggung jawab terhadap kewajibannya sebagai anak dalam keluarganya. Terlebih lagi, dia adalah anak laki-laki pertama dalam keluarganya yang akan meneruskan nama keluarga Cho ke anak-anaknya nanti, karena Ryeowook, hyung tertuanya, adalah seorang Male Pregnant. Dia juga sangat menyayangi keluarganya, terutama kedua orang tuanya.
Dan yang paling penting, dia bertanggung jawab terhadap janjinya pada Sungmin untuk tidak melakukan 'hubungan' sebelum menikah. Dia sungguh-sungguh sangat menghormati dan menghargai prinsip Sungmin itu.
Itulah yang menjadi poin penting dari sekian kriteria yang Sungmin inginkan dari pasangannya, yang akhirnya Sungmin dapatkan dari sosok Kyuhyun.
Intinya, tak ada alasan bagi Sungmin untuk menolak Kyuhyun.
Hanya saja...
Apakah Sungmin sudah siap untuk menikah? Apa dia siap untuk mengakhiri status 'single'-nya?
Jangankan memikirkan pernikahan, sesungguhnya dia saja masih shock dan bingung dengan lamaran Kyuhyun itu.
Dia tak berfikir jika Kyuhyun akan seyakin itu untuk langsung melamarnya. Padahal, mereka belum ada 1 tahun saling kenal. Bahkan baru sekitar 1 bulan Sungmin dan Kyuhyun benar-benar saling mengenal satu sama lain luar dan dalam (baca : perasaan).
Sungmin penasaran, apakah yang menjadi alasan utama Kyuhyun melamarnya?
Apa kata-kata Kyuhyun saat melamar dirinya di dermaga itu benar-benar tulus?
'Tapi... apa aku pantas untuknya? Untuk pria se-sempurna dia? Seorang Cho Kyuhyun?' batin Sungmin bertanya-tanya.
Dan yang terpenting lagi, Sungmin belum pernah menceritakan mengenai Kyuhyun kepada orangtuanya. Ya... karena Sungmin belum yakin akan serius dengan hubungan mereka. Dia takut hubungannya akan bernasib sama seperti hubungannya dengan Jungmo.
Sungmin tak ingin kembali mengecewakan kedua orangtuanya.
"Kau akan terkena flu jika terlalu lama diluar, sayang."
Kecupan di dahi serta lengan yang merangkulnya menyadarkan Sungmin dari lamunan panjangnya.
"Kyu," gumam Sungmin pada pria berstatus kekasih yang tiba-tiba sudah duduk disampingnya.
"Apa yang kau pikirkan, hm?" tanya Kyuhyun. Dieratkannya pelukannya dan menyandarkan tubuh Sungmin padanya. Dikecupnya pucuk kepala Sungmin, kemudian menghirup dalam-dalam aroma segar dari helaian rambut Sungmin. Dipejamkan matanya untuk meresapi aroma itu.
Sungmin memasrahkan dirinya dengan menyandarkan tubuhnya sepenuhnya pada Kyuhyun. Disandarkannya kepalanya ke dada Kyuhyun yang berbalut sweater abu-abu. Dihirupnya aroma tubuh Kyuhyun yang memabukkan serta telah membuatnya jatuh dalam pelukan dan pesona Kyuhyun.
"Kyu,"
"Hmm,"
"Apa kau yakin?" pertanyaan Sungmin yang tak jelas objeknya membuat Kyuhyun mengernyit bingung.
"Apanya yang aku yakin, Sungmin?"
Sungmin terdiam sejenak, berusaha mencari kata-kata yang pas.
Kemudian dia mengulurkan tangan kirinya, menunjukkan cincin berlian yang melingkar indah di jari manisnya.
Kyuhyun tersenyum mengerti pertanyaan tersirat Sungmin.
"Tentu saja, Lee Sungmin. Aku sangat yakin," jawab Kyuhyun mantap.
"Tapi... kenapa?" tanya Sungmin dengan nada penasaran yang tak disembunyikannya.
"Apanya yang kenapa?" tanya Kyuhyun balik.
"Alasanmu. Semua pasti ada alasannya, kan?"
Sungmin mendongak hingga bertatapan dengan mata tajam Kyuhyun.
"Sudah ku bilang jangan terlalu memikirkannya, kan? Aku tidak memaksamu untuk menjawabnya secepatnya, kok. Aku hanya ingin menunjukkan padamu bahwa aku serius dengan hubungan kita. Aku ingin bersama denganmu, seumur hidup kita," ujar Kyuhyun menjelaskan sembari menyunggingkan senyum menenangkan di wajah tampannya.
Sungmin tertegun mendengar penjelasan Kyuhyun.
"Meski tanpa cinta?"
Sumpah, yang ini Sungmin keceplosan.
Yah, sebenarnya itu hanya pertanyaan yang sejak tadi tertahan dibenaknya dan juga... penyebab kegalauannya sejak tadi.
Apakah Kyuhyun mencintainya?
Dan apakah Sungmin juga mencintai Kyuhyun?
Selama ini Kyuhyun hanya mengatakan bahwa pria itu tertarik pada Sungmin dan ingin menjalin hubungan yang serius dengannya. Kyuhyun selalu memberikan perhatian penuh pada Sungmin. Mencurahkan semua kebaikannya, kasih sayangnya, dan yang terpenting sangat mengerti Sungmin.
Tapi perasaan Kyuhyun sebenarnya, apakah hanya sekedar perasaan tertarik saja? Atau hanya perasaan sayang saja yang selama ini dirasakan Kyuhyun padanya?
Itulah pertanyaan yang sebenarnya selalu terlintas dalam pikiran Sungmin.
Kyuhyun belum pernah mengatakan bahwa dia mencintai Sungmin. Dan ya, Sungmin juga belum pernah mengatakan itu juga.
Karena Sungmin belum yakin dengan perasaannya.
Tertarik dengan Kyuhyun, itu sudah jelas.
Menyayangi Kyuhyun? Ya, Sungmin sangat menyayangi Kyuhyun.
Jika mereka tak bertemu selama Kyuhyun sibuk dengan tur kerjanya dan Sungmin juga sibuk dengan pekerjaannya, dia akan sering memikirkan Kyuhyun dan mengkhawatirkan pria itu.
Apakah Kyuhyun sudah makan? Apakah pria itu istirahat dengan baik? Apakah pria itu pernah sakit karena terlalu kelelahan?
Dan jika Kyuhyun tidak menghubunginya sekali dalam sehari saja, Sungmin begitu sangat khawatir hingga berhasil mengalahkan egonya dan memilih untuk menghubungi Kyuhyun terlebih dahulu.
Dan yang istimewanya lagi, hampir setiap malam Kyuhyun hadir dalam mimpinya, terutama setelah hari 'jadian' mereka.
Dan sebenarnya, Sungmin pernah beberapa kali bermimpi basah tentang Kyuhyun. Ehm, bagaimanapun juga Sungmin itu pria dewasa, jadi itu adalah hal yang wajar kan?
Dengan semua bukti dan fakta itu, tentu terbukti betapa besarnya perasaan sayang Sungmin pada Kyuhyun kan?
Tapi, cinta?
Apakah perasaannya sudah bisa diartikan sebagai rasa cinta?
Jika dibandingkan dengan pengalaman hubungannya dengan Jungmo dulu, hmm, Sungmin tak yakin apa dia mencintai Jungmo dulu. Dia memang menyayangi Jungmo dan saat mengetahui pengkhianatan yang dilakukan Jungmo, Sungmin merasa sangat sakit hati.
Tapi, ya... hanya itu saja.
Seiring berjalannya waktu, dia melupakan semua hal itu dan menjalani hidupnya dengan cukup baik. Terlebih setelah mengenal Kyuhyun.
Ehm ya, jika dibandingkan, perasaannya pada Kyuhyun memang terasa lebih tulus dan natural dibandingkan perasaannya pada Jungmo dulu. Jika diingat lagi, Sungmin lebih sering mengalah dan mengorbankan egonya saat berhubungan dengan Jungmo yang memang keras kepala dan egois. Dan saat mengingat itu semua, rasanya Sungmin begitu menyesali kebodohannya dulu.
Tetapi dengan Kyuhyun, mereka saling mengerti dan memahami satu sama lain. Dan sebenarnya, terkadang Kyuhyun-lah yang lebih sering mengalah.
Sungmin merasakan tubuhnya yang ditarik oleh Kyuhyun hingga kini dia berada di pangkuan Kyuhyun dengan tubuhnya yang menghadap Kyuhyun.
Sungmin mendongak untuk bertemu dengan pandangan tajam Kyuhyun yang sangat dalam dan... penuh hasrat.
"Apa katamu tadi? 'Meski tanpa cinta'? Kau bilang begitu tadi, Lee Sungmin?" tanya Kyuhyun dengan suara beratnya yang sangat mengintimidasi Sungmin.
Sungmin terdiam sembari berusaha menghindari pandangan Kyuhyun, namun salah satu tangan Kyuhyun menahan wajahnya yang ingin menunduk.
"Jawab aku, Lee Sungmin," desak Kyuhyun.
Sungmin mengangguk pelan.
"Apa kau tidak mencintaiku?" tanya Kyuhyun dengan suara tercekat.
Sungmin lekas menggeleng.
"Tidak?" Kyuhyun memastikan.
Sungmin kembali menggeleng.
"Bukan begitu maksudku, aku..."
"Apa?" desak Kyuhyun lagi.
"Aku... bukankah kau yang tidak mencintaiku?" Sungmin malah balik bertanya.
Akhirnya, dia mengungkapkan pertanyaan yang sejak tadi ditahannya.
"Apa? Kata siapa aku tidak mencintaimu, Sungmin-ah?!" seru Kyuhyun dengan nada suara yang sedikit tinggi.
"Tapi kau tak pernah mengatakan jika kau mencintaiku, Cho Kyuhyun!" seru Sungmin berbalik mendesak Kyuhyun.
"Tidak pernah bukan berarti tidak kan? Apa selama ini kau tak merasakannya?"
"Apa?" Sungmin mengernyit bingung.
"Semuanya. Sikapku, perhatianku, kata-kata manisku, tidakkah kau menyadarinya?" seru Kyuhyun tak percaya.
"Tapi kau tak pernah mengatakan 'aku mencintaimu' padaku. Kau hanya mengatakan 'aku tertarik padamu'. Itu yang selalu kau katakan," sergah Sungmin.
"Apakah penting?"
"TENTU SAJA ITU PENTING CHO KYUHYUN!"
"Tapi aku pernah mengatakannya, bahkan sering," elak Kyuhyun membela diri.
"Kapan?" tantang Sungmin.
"Setiap malam saat aku menginap di apartemenmu sebelum tidur."
Sungmin membelalakan matanya.
"Mana mungkin aku mendengarnya, CHO! Kau berbicara dengan orang yang sudah tidur."
Sungmin memandang Kyuhyun skeptis.
"Yah, salah sendiri kau begitu cepat tertidur. Padahal aku ingin berbincang-bincang denganmu sampai kita berdua tertidur. Tapi, kau selalu tertidur lebih dulu sesaat setelah kita berbaring di tempat tidur. Padahal aku begitu ingin mengatakan padamu perasaanku yang sebenarnya, aku ingin menceritakan banyak hal padamu. Aku ingin kita saling terbuka tentang diri kita masing-masing."
Sungmin memandang Kyuhyun dengan tatapan menyesal.
"Habisnya..." Sungmin tiba-tiba menunduk. Wajahnya memerah.
Kyuhyun memandang bingung pada Sungmin yang tiba-tiba kalem.
"Habisnya apa?" desak Kyuhyun.
"Ya... habisnya... begitu aku berbaring dalam dekapanmu..." ujar Sungmin dengan suara pelan dan ragu.
"Hmm..."
"Aroma tubuhmu itu menghipnotisku. Seketika aku merasa nyaman dan mengantuk. Dan tanpa sadar aku tertidur begitu saja. Aku tak tahu kenapa."
Sungmin meremas kedua tangannya yang berada di dada Kyuhyun, sejak tadi berusaha membuat jarak dengan Kyuhyun.
Tanpa Sungmin tahu, Kyuhyun sudah menyunggingkan smirknya lebar-lebar.
"Ah, akhirnya kasus terpecahkan. Jadi... karena aromaku hmm?" goda Kyuhyun sambil menundukkan wajahnya untuk mendesak Sungmin.
"Apa aroma tubuhku begitu seduktif?" goda Kyuhyun lagi.
Sungmin mendorong tangannya di dada Kyuhyun untuk menghentikan ulah Kyuhyun.
"Jangan menggodaku, Cho!" seru Sungmin dengan nada merajuk.
Seringai Kyuhyun semakin melebar menghiasi wajah tampannya.
"Ah, jadi kau tergoda? Kekasihku yang imut ini tergoda?"
"CHO KYUHYUN!" Sungmin mendorong dada Kyuhyun keras dan berusaha untuk beranjak dari pangkuan Kyuhyun.
Kyuhyun yang tak ingin melepaskan Sungmin begitu saja melingkarkan kedua lengannya kuat-kuat di pinggang Sungmin.
"Cho!" Sungmin masih berusaha berontak.
"Saranghae, Lee Sungmin."
Mendengar itu Sungmin menghentikan perlawanannya.
Sungmin mendongak dan bertemu tatap dengan Kyuhyun.
"Saranghae, jeongmal saranghae, Lee Sungmin yang manis dan imut," ulang Kyuhyun dengan nada serius namun lembut. Tatapannya menyiratkan keseriusan.
Kyuhyun memang mengatakan semuanya dengan sungguh-sungguh, langsung dari hatinya.
Sungmin mengerjapkan matanya karena mendapatkan serangan kata-kata yang sangat mendadak itu.
"Kau mendengarnya kan? Kau sedang tidak tidur sekarang. Aku sudah mengatakan, AKU MENCINTAIMU, SANGAT MENCINTAIMU! Dan ini sungguh-sungguh dari hatiku," ujar Kyuhyun lagi.
"Kyu,"
Sungmin kini justru bingung setelah akhirnya mendengar pernyataan cinta Kyuhyun.
Sungmin bingung karena... dia tak tahu bagaimana harus menjawab Kyuhyun.
Apakah dia bisa mengatakan 'nado saranghae' pada Kyuhyun?
Apakah saat ini perasaannya sudah sampai pada tahap itu?
Apakah dia layak menjawab pernyataan cinta Kyuhyun yang begitu tulus dari hati itu?
Kening Sungmin berkerut-kerut karena dia tengah berdebat dengan hatinya.
Kecupan manis di dahinya yang berkerut serta di bibirnya dari Kyuhyun menyadarkan dirinya bahwa dia telah membiarkan dirinya melamun dan mengabaikan Kyuhyun.
Ah, Kyuhyun pasti salah paham dan berfikir Sungmin tak menyambut perasaannya. Padahal bukan itu yang sebenarnya terjadi.
"Kyu,"
"WAE?" tanya Kyuhyun datar.
"Hmm, aku... aku..." Sungmin menggumam ragu. Dia bingung bagaimana harus menjawab Kyuhyun.
Kyuhyun mendekap Sungmin dalam pelukan eratnya. Dia menguburkan wajahnya di lekukan leher Sungmin.
"Jangan berfikir terlalu keras, Sungmin-ah. Seperti namanya, perasaan itu bukan untuk dipikirkan, tapi dirasakan. Tanyalah pada hatimu, apa yang hatimu rasakan. Aku mengatakan 'aku mencintaimu' karena aku memang ingin mengungkapkan perasaanku yang sesungguhnya padamu. Aku tak bermaksud untuk memaksakan perasaanku padamu. Seperti kataku tadi, aku tak memaksamu untuk menjawab sekarang. Resapi baik-baik apa yang kau rasakan. Jika kau sudah yakin, baru kau berikan aku jawabanmu, baik lamaranku maupun pernyataan cintaku," bisiknya lirih. Sungmin bergidik mendengar suara berat nan lirih Kyuhyun live di telinganya.
Kyuhyun menarik dirinya untuk bertemu pandang dengan Sungmin.
"Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku serius dan aku sangat mencintaimu. Meskipun kita belum lama saling mengenal, tapi aku yakin bahwa kau adalah satu-satunya yang aku inginkan untuk menjadi teman sehidup sematiku, Eomma bagi anak-anakku, partnerku dalam mendidik anak-anak kita nanti, dan juga... kekasih yang akan selalu menjaga hati, jiwa dan ragaku. Aku bisa meyakinkanmu bahwa aku akan menjadi suami yang terbaik untukmu, selalu mengerti dan menghargaimu, menyayangimu, dan... ugh... ini memang terdengar sangat cheesy dan seperti rayuan. Tapi aku sungguh-sungguh. Itu yang perlu kau ingat sayang. Aku takkan pernah memaksakan kehendakku padamu. Dan yakinlah, tidak akan pernah ada pengkhianatan dariku. Kau adalah cinta terakhirku. Selalu dan selamanya."
Dan untaian penjelasan dari Kyuhyun itu sukses membuat foxy eyes Sungmin berkaca-kaca dan menitikkan air mata.
"Oh, aku tak bermaksud," Kyuhyun menjadi panik karena melihat Sungmin menangis.
"Tidak Kyu, ini... aku terharu. Ugh... hormon sialan. Aku ini pria tapi aku sangat sensitif. Kata-katamu itu... tak pernah seorangpun mengatakan hal setulus dan sedalam itu padaku. Tidak juga Kim Jungmo. Aku... aku tak yakin apa aku layak menerima ketulusanmu Kyu. Aku... aku memiliki banyak kekurangan. Kau mungkin telah mengetahui banyak hal tentangku tapi... banyak juga kekurangan yang ku miliki. Itulah mengapa hubunganku yang dulu hancur. Aku egois, aku keras kepala, aku..."
"Aku juga memiliki banyak kekurangan sayang. Jujur saja aku memang belum memberitahumu semua hal tentangku. Keluargaku, latar belakangku, hobiku, rahasia pribadiku, dan hal-hal lainnya." Kyuhyun memotong kata-kata Sungmin.
"Itulah mengapa aku ingin kita serius. Bukan bermaksud untuk mengikatmu secara sepihak sayang. Tapi dengan lamaran ini, aku ingin menunjukkan keseriusanku. Dan aku ingin terbuka segala hal tentangku padamu. Bukankah aku sudah memberitahumu pekerjaanku, pacar pertamaku, memperkenalkan keluargaku, bahkan aku juga memberitahumu seks pertamaku dulu. Itu karena aku percaya dan yakin padamu. Jangan terlalu merasa terbebani sayang. Kita perlahan-lahan saja, oke? Lamaranku ini bukan berarti tuntutan. Aku kan programmer bukan seorang jaksa atau pengacara. Aku tak mungkin menarikmu langsung untuk menikah denganku detik ini juga. Kita butuh persiapan pasti. Aku juga belum mengenal kedua orangtuamu dan juga adikmu secara resmi. Maaf jika lamaranku ini menjadi beban pikiran untukmu sayang. Mungkin aku memang terlalu cepat, maafkan aku."
Sungmin kini tercekat mendengar permintaan maaf Kyuhyun.
Bukan salah Kyuhyun, dialah yang salah. Dia terlalu berlebihan dan membuat rumit hal ini.
Nasib menjadi Male Pregnant, hormon estrogennya yang lebih mendominasi dibandingkan testoteronnya membuat dia menjadi sangat sensitif. Belum lagi pengalaman-pengalaman pahitnya saat bersama Jungmo mau tak mau mempengaruhinya saat ini.
"Tidak Kyu. Kau tidak salah. Aku lah yang terlalu sensitif. Maaf, aku... aku menyayangimu Kyu. Sangat menyayangimu. Dan... aku tak yakin apa perasaan ini bisa disebut dengan cinta tapi... sejak perkenalan kita hingga hari ini, jika aku tak bertemu denganmu, aku pasti akan memikirkanmu. Aku juga jadi selalu teringat dirimu di setiap sudut apatemenku. Apa yang kau lakukan diruang tamu, diruang makan, di dapur, di kamar mandi, kamar tidurku, bahkan tempat parkir dimana mobilmu akan selalu mendapat tempat parkir khusus disamping mobilku. Jika melihat tempat parkir itu kosong, aku mengandaikan tiba-tiba saja mobilmu datang dan terparkir disana. Lalu kau akan keluar dari dalam mobil dengan smirk di wajah tampanmu, dengan pakaian yang membalut tubuh seksimu itu dengan sempurna. Ehm, intinya..." Sungmin terdiam akhirnya. Bingung akan berkata apa lagi.
Awalnya Sungmin hanya ingin memberikan bukti pada Kyuhyun bahwa perasaan pria itu tidak sepihak, bahwa Sungmin juga memiliki perasaan pada pria itu meski dia tak yakin apa setimpal dengan perasaan Kyuhyun.
Tapi entah mengapa kata-kata Sungmin justru seperti curahan hati yang sedikit banyak cukup memalukan untuknya.
Kyuhyun menyeringai lebar mendengar pengakuan Sungmin itu.
Dia telah mendapatkan bukti mengenai perasaan Sungmin padanya.
Sungmin juga mencintainya, ya, itu terlihat jelas dari pengakuan kekasihnya tadi.
Hanya saja, kekasihnya ini masih belum menyadari perasaannya sendiri itu.
Kekasih manisnya ini benar-benar polos dan lucu!
"Arraseo, sayang. Ugh... kau manis sekali!" seru Kyuhyun sembari memeluk Sungmin erat. Sungmin menguburkan wajahnya di dada Kyuhyun karena malu.
"Jangan malu begitu! Aku mengerti apa maksudmu, Sungminnie. Aku paham," ujar Kyuhyun dengan nada ceria yag kelewat ceria.
"Sudahlah. Ini sudah malam. Lebih baik kita tidur. Besok pagi, akan ku ajak kau berjalan-jalan kesekitar rumahku dan ku kenalkan dengan teman-temanku. Tahap pertama sebagai tunanganku, oke?"
Sungmin menatap Kyuhyun bingung.
"Teman-temanmu?"
"Ya. Kebetulan mereka ada dirumahnya semua minggu ini. Dan aku sudah memberitahu mereka bahwa aku akan memperkenalkan kekasihku yang aku banggakan ini pada mereka. Tenang saja, mereka baik dan ramah kok. Tao salah satunya."
"Ah! Pria yang tadi siang itu?" seru Sungmin.
"Iya. Mereka teman-temanku sesama pencinta game dan juga teman hangout. Kalian pasti akan cepat akrab. Tapi jangan terlalu akrab oke? Nanti aku cemburu," seloroh Kyuhyun, membuahkan cubitan manis dari Sungmin.
"Arraseo. Hoam, sekarang aku mengantuk," keluh Sungmin sembari menyenderkan kepalanya di bahu Kyuhyun.
Tanpa aba-aba Kyuhyun berdiri dari ayunan sembari membopong Sungmin ala koala yang bergelayut di tubuhnya, kemudian beranjak dari teras dan masuk ke dalam rumah untuk menuju ke kamar.
Sungmin mengeratkan rangkulannya pada leher Kyuhyun untuk menjaga posisi tubuhnya dan menyamankan tubuhnya dalam gendongan Kyuhyun.
Sesampainya di kamar, dengan perlahan Kyuhyun menurunkan tubuh Sungmin hingga berbaring di tempat tidur. Kyuhyun menyusul berbaring di sebelah Sungmin kemudian menarik Sungmin dalam pelukannya. Sungmin bergelung nyaman dalam pelukan Kyuhyun.
Dan yah, seperti kata Sungmin sebelumnya, hanya dengan berada dalam pelukan Kyuhyun serta aroma alami tubuh Kyuhyun sukses membuatnya tertidur dengan cepat dan lelap.
Kyuhyun terkekeh tanpa suara melihat kekasih imutnya yang langsung tertidur dalam pelukannya.
Tak lama Kyuhyun pun menyusul Sungmin ke alam mimpi.
Penutupan yang indah untuk hari yang penuh kejutan.
.
.
Blind Date
.
.
(Sungmin POV)
.
Hari minggu sore akhirnya aku kembali ke apartemenku. Aku langsung menghempaskan tubuh ke sofa. Aku sudah tidak memiliki energilagi untuk melakukan apa pun.
Aku berpikir untuk meminta izin sakit saja besok agarbisa mencerna semua yang terjadi padaku akhir minggu ini. Bibirku terasa agaksedikit bengkak karena habis dimakan Mr. Cho 'evil mesum' Kyuhyun. Tubuhku juga pegal karena kelelahan.
Mau tidak mau aku tertawa mengingat apa saja yang telah terjadi tadi pagi.
Ehm, jangan berpikiran buruk dulu, kami tidak melakukan apapun. Hanya beberapa aktivitas melelahkan yang disebabkan oleh pria bernama Cho Kyuhyun alias Mr. Troublesome.
.
(FLASHBACK)
Aku terbangun dari tidurku karena aroma sepiring telur dadar semi gagal, mungkin bisa disebut scramble egg ala Cho Kyuhyun, yang terletak di nakas samping tempat tidur. Aroma susu hangat pun juga menyambut pagiku, membuat perutku sukses menyuarakan nyanyian indahnya, karena semua godaan itu.
Sedangkan disamping tempat tidur, kekasih tampan, ani tunanganku yang gagah berdiri dengan postur kikuk serta cengiran ambigu di wajahnya yang hm... awful.
"Kyu? Apa yang terjadi padamu?" tanyaku bingung mendapati penampilannya yang SANGAT BUKAN Cho Kyuhyun.
Piyama tidurnya yang berwarna biru ternoda warna kuning pucat yang mengering, samar-samar tercium bau amis dari piyamanya. Rambutnya yang biasanya hanya ditata sedikit berantakan kini terlihat amat sangat berantakan seperti terkena jambakan dari kompetitor berburu barang-barang branded yang sale 90%. Rambutnya juga terkena warna putih yang seolah terkena hujan tepung.
Dan wajahnya, hm... sangat amat miris.
Untung saja aku masih mengenalinya sebagai kekasih, ehm tunanganku.
Wajah tampannya masih tetap tampan. Tapi, bubuk-bubuk putih yang lengket menghiasi pipi, kening dan bagian wajah lainnya, bahkan sampai ke lehernya.
Dia tak menjawab pertanyaanku melainkan hanya mempertahankan cengiran ambigunya yang terlihat sangat amat tidak polos.
"Cho Kyuhyun?" tegurku.
"Ehm, aku... membuatkan kita ehm sarapan pagi. Tadinya aku ingin membuat omelette, tapi... sepertinya scramble egg terlihat lebih oke. Jadi yah... begitu...," ujarnya dengan ragu dan masih mempertahankan cengiran tak berdosanya.
"Apanya yang begitu?" desakku. Dia hanya mengangkat bahu, enggan menjelaskan.
Aku melirik meja nakas.
"Ini sarapan kita?" tanyaku sambil mengambil sepiring olahan telur, yang menurut Kyuhyun scramble egg hasil improvisasinya.
Aku mencium aroma telur itu.
Hmm, agak sedikit janggal, matang sih tapi... ini mengingatkanku akan masakan pertamaku saat belajar memasak dulu.
"Cobalah, ehm, semoga kau suka sayang," ujar Kyuhyun.
Aku melirik curiga padanya. Namun untuk menghargai jerih payahnya aku memilih untuk mencobanya.
Sesendok telah masuk ke dalam mulutku.
Hem, rasa telor sih tapi...
"Kenapa manis ya Kyu? Apa kau tambahkan gula?" tanyaku sambil memicingkan mata padanya yang terlihat gugup.
"Ah, ya. Improvisasi dariku. Inovasi baru. Bagaimana?" tanyanya masih nyengir.
Pagi ini sepertinya dia hobi sekali menyengir, apa ada yang salah dengan dirinya?
"AH, begitu. Yah, agak aneh sih," komenku pelan, takut menyinggung dirinya. Dia pasti sudah berusaha keras untuk membuat ini.
"Tapi lumayanlah," tambahku agar dia tidak tersinggung.
Ku lihat Kyuhyun tersenyum senang mendengar komenku.
Yah, ku hargai kerja kerasnya.
Aku beralih meminum susuku. Namun belum sampai ku telan, ku muntahkan kembali susu yang telah ku teguk.
ASIN! S-A-N-G-A-T A-S-I-N!
Aku menghela napas berat.
"Oke, sepertinya aku tahu apa yang terjadi," mulaiku sembari menunduk untuk menyembunyikan tawa yang akan meledak dari mulutku.
Tunanganku ini sangat lucu!
"Telur olahan yang manis, semanis wajahku," aku melihat dia melebarkan cengirannya sembari menggaruk rambutnya hingga bubuk-bubuk tepung yang kuduga adalah bubuk susu itu berguguran dari rambutnya ke lantai kamar.
"Lalu susu yang sepertinya menggunakan air laut," aku memperhalus pernyataanku agar dia tidak terlalu tersinggung, "sepertinya kau lupa meletakkan gula dan garam di tempat yang semestinya hingga mereka tertukar fungsinya, Kyu."
"Hehe, ya... terakhir kali memang disitu tempatnya tapi sepertinya aku salah mengisinya dan aku langsung menambahkannya begitu saja ke telur serta susu jadi tertukar deh. Hehe... mian," ucapnya masih menggaruk rambutnya salah tingkah.
AIH! Tunanganku lucu sekali!
"Haha, gwaenchana Kyu. Ini pengalaman pertamamu, ne? Tidak apa. Aku sih tak masalah. Telur ini masih layak makan, tapi susunya... sepertinya harus dibuat yang baru," ujarku mencoba menenangkannya.
"Tunggu, aku akan membuatkannya lagi."
"Tidak usah!" Cegahku langsung. "Biar aku saja yang membuatnya."
"Tidak apa-apa. Lagipula aku ingin memanjakan tunanganku yang manis ini, jadi kau tetap di sini."
"Tidak!" Aku langsung beranjak dari tempat tidur dan mengejar Kyuhyun yang sudah berjalan lebih dulu ke dapur.
Sejenak aku terpaku menyaksikan kekacauan di hadapanku.
"Wow!"
Hanya itu yang mampu keluar dari mulutku.
Dapur indahnya yang minimalis, kini keadaannya sudah seperti kapal pecah. Padahal tadi malam saat aku lihat masih rapi dan bersih.
"Sungminnie, sudah ku bilang-" ucapannya terpotong saat akuberusaha merebut panci dari tangannya.
"Aku tak ingin merepotkanmu lagi. Ditambah lagi dengan semua ini..." aku melirik sekeliling kami yang seperti terkena bencana alam. Kompor impianku ugh... mengenaskan nasibnya. Belum lagi kulkas dan juga meja dapur.
Tapi Kyuhyun tidak mau mengalah dan berusaha merebut kembali panci itu dari tanganku. Dan terjadilah perebutan di antara kami berdua hingga aku tidak menduga akan menginjak sesuatu di bawah sana dan membuatku kehilangan keseimbangan.
"Awas!" Kyuhyun segera menarik tanganku untuk menolongku agar tidak terjatuh dan membentur lemari besar yang berdiri kokoh di belakangku.
"Arrghh!" teriak kami, lalu terdengar suara berdebum yang cukup keras.
Perlahan aku membuka mataku yang tadi terpejam saat kami terjatuh dan...
JENG JENG
Hal yang ku alami ini sukses membuatku shock.
Aku terbaring di atas lantai dengan Kyuhyun yang menimpa tubuhku yang minimalis namun berisi ini.
"A, ah. Kyu, kau tidak apa-apa?" Aku mencoba berdiri untuk segera terlepas dari posisi ambigu ini.
UGH! Tidak bisa!
Kyuhyun mengunci tubuhku.
Dia sepertinya sengaja menumpukan seluruh berat badannya agar bisa menahan tubuhku hingga tak dapat bangkit.
Dasar Cho Evil Yadong!
"Hei, pernahkah seseorang mengatakan padamu bahwa wajah terbaikmu itu adalah saat kau bangun tidur?" katanya dengan nada suara rendah dan... bergairah?
APA? Apa katanya? Dia bercanda! Wajah kusut begini?!
Sebelum aku sempat membalas ucapan asalnya itu, si mesum ini sudah lebih dulu mengunci bibirku dengan bibirnya yang lembut.
Ugh! Kenapa pria ini selalu saja mencurikesempatan seperti ini sih!?
Dan bodohnya lagi, dengan pasrahnya aku membiarkan si mesum inimelakukannya.
Awalnya, ciuman ini terasa ringan, sampai kemudian Kyuhyun mulai memperdalam ciuman ini dengan memagut bibirku intens.
Dan, yah... Kyuhyun adalah seorang goodkisser. Mau tak mau, aku pun larut dalam godaannya itu dan membalas memagut bibirnya bergantian.
Kyuhyun mulai mengeluarkan lidahnya dan menyapu bibir bawahku, pertanda dia ingin masuk. Dengan perlahan aku membuka mulutku dan membiarkan lidah itu menjelajahi dalam mulutku. Dengan senang hati dia mempertemukan lidah kami dandenagn senang hati pula aku menyambutnya. Dan aksi kait-mengkait lidah kami pun dimulai.
TING TONG
Suara bel pintu menyadarkanku kembali ke dunia nyata.
Dengan sekuat tenaga aku mendorong tubuh Kyuhyun hingga dia jatuh terguling disampingku.
"Arrggh! Sial! Sial!" umpat Kyuhyun sembari memukulkan kepalan tangannya kelantai.
Aku hanya terkekeh melihatnya.
"Hentikan tingkah kekanakan itu Kyu! Bersihkan kekacauan yang kau buat ini sementara aku akan melihat siapakah tamumu itu," seruku padanya.
"Jika tidak penting, akan ku reset otaknya agar tidak mengganggu quality timeku yang berharga!" dengusnya sambil berdiri.
Aku hanya menggelengkan kepalaku mendengar rutukan childishnya itu.
Aku menarik napas dalam agar napasku teratur kembali serta tak lupa membersihkan lelehan saliva yang berhamburan di sekeliling bibirku, entah milik siapa. Kemudian aku merapikan bajuku yang kusut.
Setelah yakin, aku membukakan pintu untuk tamu kami.
"Tao-ssi? Ada apa hingga kau datang sepagi ini?" tanyaku terkejut pada si tamu alias Huang Zi Tao, teman Kyuhyun yang kemarin dikenalkannya padaku. Lingkaran hitam dimatanya yang seperti mata panda membuatku lebih mudah mengingatnya.
"Ah, Sungmin-ssi. Maaf, apa aku mengganggu kalian?" tanyanya sambil tersenyum malu.
Ah, dia cukup tampan dan lucu!
"Tidak, tentu saja tidak!" ujarku langsung.
"Siapa Sayang!" seru Kyuhyun dari dalam. Ckck, sikap childish posesifnya masih belum hilang ternyata!
"WOI EVIL! HAPPY BIRTHDAY!" seru Tao keras agar terdengar Kyuhyun.
"Sialan kau Panda!" seru Kyuhyun dari dalam.
"Hahaha... masuklah Tao-ssi. Daripada kalian berteriak seperti tarzan lebih baik bicara baik-baik saja di dalam. Maaf, aku baru bangun tidur jadi sangat berantakan," ujarku menyunggingkan senyum canggung. Semoga tubuhku tidak menguarkan aroma tidak sedap.
Tentu saja aku malu.
Dibandingkan Tao-ssi yang berpenampilan rapi dan dari tubuhnya pun tercium aroma cologne yang harum, aku jadi seperti gelandangan nyasar.
"Tenang saja, Sungmin-ssi. Kau tetap terlihat manis dan imut," ujarnya yang langsung membuatku malu. Aih! Dia bisa saja!
"MASUK KAU PANDA! JANGAN GANGGU TUNANGANKU!" seru Kyuhyun lagi dari dapur.
Ckck! Membuatku malu saja!
Tao-ssi hanya tertawa kecil kemudian masuk ke dalam.
Setelah menutup pintu aku menyusulnya yang tengah menuju dapur.
"YAH EVIL! Apa yang sedang sedang kau lakukan di situ?" seru Tao-ssi saat mendapati Kyuhyun yang tengah mencoba mengambil barang-barang yang berhamburan di lantai dapur. Dia semakin bingung melihat kondisi dapur yang kacau-balau.
"Aku mengamuk," jawab Kyuhyun asal. "Kenapa kau datang?" tanyanya dengan nada pedas.
Tao-ssi mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan yang menurutnya bodoh itu.
"Bukankah kemarin kau sendiri yang memintaku untuk datang kemari dan berkenalan secara resmi dengan tunanganmu ini setelah kau resmi melamarnya?"
"Ah, ya memang. Tapi tidak sepagi ini juga kan!" seru Kyuhyun kesal.
"Pagi?" Tao-ssi melirik pada jam yang terpasang di dinding dekat dapur. Aku mengikuti arah pandangnya. Tertera jarum pendek di angka 9 dan jarum panjang diangka 6, sudah setengah sepuluh!?
"Kau sendiri yang kemari bilang untuk datang jam 10 pagi padaku dan memintaku untuk memberitahu teman-teman. Kyu? apa terjadi sesuatu pada kepalamu?" tanya Tao-ssi prihatin. Aku hanya terkekeh mendengar perkataan yang seperti ejekan itu.
"Otakku masih cemerlang, Panda! KAU JANGAN KHAWATIR!" seru Kyuhyun pedas.
Oh! Sebaiknya aku mengakhiri perdebatan tak penting ini. Lagipula tadi Tao-ssi bilang teman-teman Kyuhyun akan berkumpul jam 10 pagi.
Itu 30 menit lagi!
"Sudahlah Kyu. lebih baik kau ke kamar dan mandi. Bukankah kata Tao-ssi teman-temanmu akan datang jam 10 nanti. Waktu kita hanya tinggal 30 menit lagi loh!" ujarku menghentikan Kyuhyun yang akan memulai berdebat lagi.
"Sekarang kau mandilah sementara aku akan membereskan kekacauan ini serta menyiapkan hidangan cepat saji untuk teman-temanmu, arra?" lanjutku.
"Tapi sayang,"
"Cho Kyuhyun," potongku menghentikan semua argumen-argumennya.
Aku mendorong tubuhnya ke arah kamar.
Setelah memastikan dia masuk ke kamar, aku memulai sesi kerja rodiku.
Aih! Cho Kyuhyun yang ajaib! Niatnya mau memanjakanku, pada akhirnya malah merepotkanku. Dasar!
"AH, maaf Tao-ssi. Aku akan membereskan ini dulu. Kau sebaiknya tunggu saja sana sembari menonton tv atau apapun yang kau suka," ujarku pada Tao-ssi.
"Santai saja, Sungmin-ssi. Aku sudah terbiasa dirumah ini. Dan sudah hal wajar jika rumahnya berantakan. Seorang Cho Kyuhyun terlalu kreatif hingga gatal jika melihat rumahnya bersih dan rapi. Lagipula aku datang ke sini untuk bertemu denganmu juga. Jadi, lebih baik aku membantumu saja," jawabnya sambil tersenyum ramah.
Ah! Teman yang baik! Aku juga ingin memiliki teman se-pengertian dan se-imut si panda ini!
"Oh, baiklah. Kau bisa membantuku mengambil peralatan yang jatuh di lantai. Aku akan membereskan meja dan kompor kemudian membuat makanan yang layak untuk kalian," selorohku berbuah tawa darinya.
Mungkin kami juga bisa jadi teman baik dan akrab. Aku senang bisa mengenalnya.
Berkat bantuan Tao-ssi dapur bisa kembali seperti semula dalam waktu 10 menit. Aku masih memiliki waktu untuk memasak.
Semoga nanti mereka menyukai masakanku!
.
.
(Flashback end)
.
Sungguh akhir pekan yang mengejutkan namun sangat menyenangkan.
Aku memandangi berlian yang berada di cincin yang melingkar indah di jari manisku.
"Cho Sungmin," ucapku pelan. "Cho Sungmin-ssi. Mrs. Cho Sungmin," ucapku lagi.
Aku harus mengakui bahwa nama panggilan itu terdengar cocok untukku. Memang akulah yang akan dipanggil 'Mrs.' dalam hubungan kami karena posisiku sebagai istri yang akan melahirkan anak-anak Kyuhyun kelak.
Anak-anak.
Kutatap lagi cincin berlian itu.
Aku masih tidak percaya bahwa Reilley telah melamarku.
AH! EUNHYUKKIE! Dia harus tahu ini!
Aku bergegas mengambil ponselku dari tas kemudian menghubungi Eunhyukkie.
"Yeoboseyo, waeyo Hyung?" sapa Eunhyukkie dari seberang.
"KYUHYUN MELAMARKU SAENGI!" seruku keras.
"Jinjjayo!" seru Eunhyuk juga dari seberang.
"Jinjja? Jinjjayo? Kau tidak bohong Hyung?"
"Iya, Eunhyukkie! Dia melingkarkan cincin berlian di jari manisku dan memintaku untuk menikah dengannya," ujarku menjelaskan, berusaha menyembunyikan rasa senang yang ku rasakan.
Aku mendengar pekikan keras Eunhyukkie.
"WAW! Jadi? Tak lama lagi dia akan menjadi kakak iparku?! Chukae Hyung!" serunya.
Mendengar itu aku terdiam.
"Hyung? Minnie Hyung? Cho Sungmin?"
"Namaku masih Lee, Anchovy!" seruku mendengar caranya memanggilku.
"Tapi itu terdengar bagus Hyung. Ada apa?" terdengar nada khawatir dalam suaranya.
Oke, adikku calon psikolog. Aku tak mungkin membohonginya. Dia pasti akan tahu.
"Aku tidak yakin, Hyukkie." Aku akhirnya mengatakan apa yang ada dalam hatiku.
"Tidak yakin bagaimana Hyung?" tanyanya bingung.
Aku menghela napas berat. Ini akan jadi sesi curhat yang panjang.
Aku pun menceritakan percakapan kami semalam serta kegalauan yang ku rasakan.
"Waw! Hyungku yang lebih tua dan mengaku berpengalaman ini bodoh juga ya ternyata!" ujarnya setelah mendengar seluruh ceritaku.
"LEE HYUKJAE!" seruku marah.
"Itu jelas cinta HYUNG! CINTA! Masa Hyung tak bisa menyadari apa yang Hyung rasakan? Ku rasa Kyuhyun hyung itu juga sebenarnya sudah menyadari perasaan Hyung, makanya dia berani melamar Hyung meskipun kalian belum lama berkenalan. Itu karena dia yakin dengan pilihan dan perasaannya, juga perasaan Hyung. Aduh! Sadar lah Sungmin Hyung! Aku saja tahu jika sebenarnya Hyung itu mencintai Cho Kyuhyun itu. Hyung harus berani jujur dong!" omel Eunhyukkie.
Aku terdiam mendengar penjelasannya.
"Dan soal Kim Jungmo, ehm... untuk apa Hyung mengingat perkataan si brengsek yang kejantanannya diragukan? Dia itu Cuma asal bicara saja bisanya Hyung! percayalah padaku, Hyung! Kyuhyun-ssi itu jelas berbeda dengan si brengsek Kim itu. Nama keluarganya saja beda. Oke, fokus. Intinya, jangan terpengaruh apa yang telah lalu Hyung! jangan sampai Hyung menyesal nantinya."
"Ehm, kau menakutiku Hyukkie. Dan yah... aku tahu aku tak seharusnya membandingkan mereka. Dan soal aku mencintai Cho Kyuhyun, aku rasa... iya. Tapi, menikah? Aku tak yakin akan siap Hyukkie! Masih banyak mimpi yang ingin ku kejar dan lagi kau juga belum lulus kan?" elakku.
"Jangan jadikan aku penghalang Hyung! Aku sudah besar dan bisa mengurus diriku sendiri Hyung! Aku juga sudah memiliki pekerjaan sambilan kok. Setidaknya cukup untuk biaya hidupku. Lagipula, kuliahku kan sudah ditanggung oleh beasiswa. Jangan jadikan aku penghalang Hyung! Ini urusan masa depanmu," bantah Eunhyuk.
Ah, dia benar. Dia kan mendapat beasiswa penuh sejak S2-nya. Adikku itu memang pintar bahkan saat tingkat high school dia ikut program akselerasi sehingga di usia sekarang dia sudah menempuh S3.
Selama ini aku hanya membiayai untuk kebutuhan hidupnya saja. Tapi, jika dia memiliki kerja sambilan, berarti uang kirimanku di tabung olehnya.
Hem, adik yang memang pintar.
"Halo, Nona Akuntan,"
"Lee Hyukjae! Jangan mengubah genderku seenakmu ya!" omelku.
"Habis, Hyung diam saja!"
"Aku sedang berfikir."
"Jadi? Bagaimana Hyung?"
"Apanya?"
"Lamaran lah masa harga Dollar," ujar Eunhyuk gemas.
"Dollar mana punya harga?! Namanya kurs tukar Eunhyukkie," ralatku.
"Whatever lah Hyung. jadi?!" desaknya.
"Aku sudah meminta waktu untuk berfikir. Tidak akan lama kok Eunhyukkie. Yah, hanya ingin benar-benar memastikan aku tidak salah lagi kali ini."
"Jangan sampai kau menyesal ya Hyung!" Eunhyuk memperingatkanku.
"Jangan khawatir adikku yang manis!"
"Ah, sudahlah. Aku ada tugas. Good luck ne Hyung! BERIKAN AKU KABAR BAIK!" serunya sebelum memutus panggilan sepihak.
Cih! Bocah ini!
Ah! Aku harus menggunakan waktuku sebaik mungkin.
Yah! Semoga aku mendapatkan keputusan yang terbaik!
.
.
Blind Date
.
.
Sepuluh hari.
Ya, sudah sepuluh hari berlalu sejak Kyuhyun melamarku.
Dan kini aku telah yakin akan keputusanku.
Aku berencana untuk mengajak Kyuhyun bertemu hari sabtu nanti. Aku memang belum menghubunginya karena Kyuhyun masih berada di San Fransisco sejak hari sabtu lalu. Perusahaan yang menjadi kliennya disana mengalami sedikit masalah pada program yang digunakannya sehingga menuntut Kyuhyun untuk langsung mengeceknya kesana.
Jadi, aku berencana untuk menghubunginya nanti malam dan memberitahu agar kami bisa bertemu hari sabtu nanti.
Ah! Aku tak sabar menunggu hingga nanti malam.
Aku merindukannya!
Semakin hari aku semakin yakin, satu-satunya jawaban yang harus aku berikan kepadanya adalah "Yes, I do".
Selama sepuluh hari ini, setiap malam, di mana pun dia berada, dia akan meneleponku hanya untuk menanyakan apa yang aku lakukan hari itu. Aku pun bergantian menanyakan apa yang dilakukannya memintanya menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.
Dan untungnya, dia sama sekali tidak menyinggung satu patah kata pun tentang cincin yang sekarang melingkari jariku dan lamarannya.
Aku yakin dia sedang berusaha menepati janjinya dan memberikanku waktu untuk mempertimbangkan ini semua.
Itulah mengapa aku yakin akan menerimanya.
Ya! aku mau menikah dengan Cho Kyuhyun!
Oh! Aku begitu antusias dengan keputusanku ini!
Aku bahkan telah berkonsultasi dengan Leeteuk hyung, setelah aku memutuskan untuk keluar dari GBD kami sepakat untuk menanggalkan formalitas ditambah lagi ternyata dia adalah teman Kyuhhyun jadi dia temanku juga.
Aku telah memberitahukan padanya terlebih dulu terkait keputusanku dan Leeteuk hyung mengucapkan selamat kepadaku serta berharap agar aku mengirimkan undangan pernikahanku secepatnya.
Ah! Itu tergantung Kyuhyun nanti.
.
.
Malam akhirnya tiba, dengan semangat aku pun menghubungi Kyuhyun.
Aku berjalan bolak-balik di samping tempat tidur, menunggu hingga ada nada sambung. Setelah lima deringan aku mendengar suara Kyuhyun.
"You have reached Marcus Cho's cell number. I'm sorry that I'm unable to pick up your call right now. Please leave a message and I will get back to you as soon as I can."
Voice mail? Ada apa dengannya?
Apa dia masih sibuk? Di malam hari?
Aku kembali menghubunginya, dan kembali voice mail yang menjawab. Terakhir malah si 'veronica' yang langsung membuatku ingin membanting ponselku ke tempat tidur.
Sayang kalau ke lantai, ponsel mahal tahu!
Hah! Biar ku coba besok saja. Semoga saja besok bisa ku hubungi.
.
.
Hari ini aku berangkat ke kantor dengan sedikit tak bersemangat.
Tadi pagi sebelum berangkat aku mencoba menghubunginya, dan masih si' veronica' yang menjawab.
Ckckck! Memang sesibuk apa sih si Cho itu?!
Jam sembilan aku mencoba kembali menghubungi Kyuhyun, masih si 'veronica' sialan.
Jam sepuluh saat aku tengah mencoba serius bekerja tiba-tiba ponselku bergetar.
Jantungku langsung berhenti berdetak selama beberapa detik.
Ku beranikan diri melirik ke layar dan... aku pun menggeram.
"ANCOVY! Aku sedang coba menghubungi si tampan sialan tapi sampai sekarang belum juga terhubung. Nanti jika aku sudah bisa menghubunginya, aku akan langsung memberitahumu, arraseo," ujarku dengan menahan geram sebelum adikku itu sempat mengatakan apapun.
"Ne," balas Eunhyukkie sambil cekikikan kemudian menutup telepon.
Aku menimbang-nimbang ponselku sembari berfikir, lalu tanpa sadar aku mulai menuliskan pesan untuk Kyuhyun.
Tuan Cho yang tampan, aku sungguh ingin berbicara denganmu. Jebal, hubungi aku as soon as possible. Thank you :-*
Aku lalu mengirimkan pesan itu dan mencoba mengontrol napasku, yang tiba-tiba memburu.
.
.
Jam 12.00 siang.
Dan aku masih belum juga mendapat kabar apapun darinya.
Akan ku habisi si EVIL PERVERT itu jika dia menghubungiku nanti! Bisa-bisanya dia membuatku galau begini!
Aku sudah tidak mampu menunggu lagi.
Aku akhirnya memutuskan menelepon kantornya. Mungkin ada informasi yang bisa ku dapat dari sana.
Kukeluarkan kartu namanya dari dalam agendaku.
Kutekan nomor itu perlahan-lahan untuk memastikan aku tidak salah tekan atau salah lihat, lalu menghubungi nomor itu.
Tidak lama kemudian aku mendengar nada sambung dan seorang wanita yang menyebut dirinya sebagai Hyeri menyambutku dengan ramah.
"Could I be connected to Mr. Marcuss Cho or Mr. Kyuhyun Cho, please?" ucapku kemudian menahan napas.
"I'm sorry but Mr. Cho is not in today, but I can connect you to his assistant. Would that be okay?" balas Hyeri.
Asistennya? Ide yang bagus! Dia pasti bisa membantuku.
"Yes, that would be fine," jawabku.
"Hold on, please." Dia memintaku menunggu.
Beberapa detik kemudian, aku mendengar suara pria di ujung saluran telepon.
"Yes, I'm supposed to be connected to Mr. Marcuss Cho's assistant?"
"Yes. I am Mr. Marcuss Cho's assistant. I'm Jordan Kim, how could I help you?" suara asistennya aka Jordan Kim terdengar ramah.
"Yes, but... I'm sorry, are you Korean?" tanyaku memastikan.
"Yes, I am."
"Good. Jadi Jordan Kim-ssi, bisakah kau memberitahuku bagaimana saya dapat menghubungi Cho Kyuhyun-ssi? Saya sudah mencoba menghubungi ponselnya sejak kemarin tetapi tidak pernah diangkat," ujarku beralih menggunakan bahasa Korea. Karena cemas mendadak grammarku kacau jadi aku tak ingin mengambil resiko, untung Kyuhyun memilih asistennya orang Korea.
"Maafkan saya Tuan. Tapi, bagaimana itu bisa terjadi? Biasanya ponselnya akan tetap hidup sampai beliau naik ke dalam pesawat."
"Pesawat? Apa dia akan kembali dari San Fransisco?"
"Well, sebenarnya Mr. Cho telah kembali dari San Fransisco sejak kemarin sore. Dan hari ini beliau akan kembali pergi untuk berlibur. Tetapi beliau akan memastikan ponselnya tetap menyala untuk berjaga-jaga jika kami membutuhkan beliau."
Aku mengembuskan napas kesal. Tampaknya aku harus menunda bertemu dengan Kyuhyun hingga dia kembali dari cutinya.
"Apakah kau tahu kapan dia akan kembali?"
"Pesawatnya berangkat dari Raleigh pukul empat sore hari ini. Dan beliau baru akan kembali sekitar akhir bulan Maret."
"Akhir bulan Maret?!" teriakku terkejut.
"Ya, Mr. Cho mengambil hingga akhir Maret untuk pergi ke Nice mengunjungi keluarganya."
"Tunggu, kau tadi bilang Nice?"
Aku langsung teringat, Kyuhyun pernah mengatakan dia dan keluarganya selalu pergi ke Nice setiap musim panas.
Tapi, sekarang kan masih bulan Februari. Musim panas baru akan dimulai pada bulan Juni.
"Yes, Mr.," jawab Jordan Kim.
Aku langsung melirik jam tanganku, yang kini telah menunjukkan pukul setengah dua. Aku langsung panik.
"Apa kau tahu dia mengambil penerbangan apa?"
"Beliau akan terbang ke JFK Airport dengan Delta, lalu melanjutkan penerbangannya dengan Air France ke Paris lalu Nice."
"Apa nomor penerbangannya?" tanyaku panik.
Kudengar suara keyboard yang sedang ditekan, kemudian Jordan Kim memberikan nomor penerbangan itu.
Aku hanya sempat mengucapkan terima kasih sebelum menutup telepon.
Tanpa mematikan komputer, aku langsung pergi menemui bosku dan meminta izin keluar karena ada keadaan darurat.
Melihat wajah panikku, Mr. Josh tidak bertanya-tanya lagi dan langsung mengijinkanku pergi.
Aku berlari sekuat tenaga menuruni tangga menuju lantai dasar, lalu aku berlari lagi menuju mobil. Kuhidupkan mesin, dan tanpa menunggu lagi aku langsung tancap gas.
Aku hanya memiliki waktu dua jam lebih sedikit untuk mengejar penerbangan itu. Aku sudah kehabisan waktu.
"Tunggu, Cho Kyuhyun! Please tunggu sampai aku datang!" ucapku pelan.
.
.
Blind Date
.
.
Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan tinggi menuju Raleigh. Hal ini tentu saja sangat berbahaya mengingat kondisi jalan yang licin akibat hujan rintik-rintik yang jatuh selepas salju tadi malam. Aku tahu, ada kemungkinan aku akan terlambat dan dia sudah pergi.
Aku tidak akan bisa memaafkan diriku kalau itu terjadi.
Kupaksa Mobilku menembus angka 145 km per jam. Mesin mobil yang berusia hampir sepuluh tahun itu langsung protes atas perlakuan kejamku, tetapi untuk pertama kalinya aku tidak peduli.
Kulihat masih ada beberapa bongkahan es yang tersisa di pinggir jalan.
Musim dingin tahun ini benar-benar parah di North Carolina. Salju yang turun bahkan mencapai enam puluh senti. Belum lagi hujan es yang turun berkali-kali selama beberapa minggu belakangan ini membuat angin terasa menggigit jika bertiup dan mengenai bagian tubuh yang tidak tertutup baju dingin.
Kuikuti tanda lalu lintas, yang menyatakan Airport Raleigh-Durham masih 1,6 km lagi. Aku segera mengambil jalur kanan, keluar dari jalan interstate itu dengan tidak mempedulikan bunyi klakson mobil yang jalurnya aku potong dengan paksa. Roda mobil agak tergelincir sedikit ketika kubanting setir, tetapi aku tidak mengurangi kecepatan pada saat melewati tikungan.
Andai saja aku tidak lupa membawa ponselku!
Karena terlalu terburu-buru, benda itu tertinggal di kantor. Tapi seandainya pun aku membawa ponselku, rasanya tidak akan bisa membantuku.
Apa yang akan aku katakan?
I'm sorry for being so stupid, for thinking that you would leave me?
Atau,
I love you, please tell me that you love me too?
Kata-kata itu tidak bisa menggambarkan perasaanku yang sebenarnya.
Aku tidak bisa bernapas jika dia tidak ada.
Jika aku mencoba melihat masa depanku tanpanya, semuanya terlihat suram. Diriku tanpanya bagaikan satelit, yang planetnya telah hancur karena bencana alam besar, meninggalkanku melayang-layang tanpa arah.
Mengapa aku terlalu bersikeras bahwa dia tidak mencintaiku hanya karena terpengaruh kata-kata orang yang telah membuat hatiku remuk? Dia tidak akan meninggalkanku seperti yang aku takutkan selama ini.
Seharusnya aku mempercayainya!
Bunyi klakson membangunkanku dari lamunan, ternyata aku sudah memasuki area airport. Aku harus mengangkat kakiku dari pedal gas karena batas kecepatan di area ini hanya 48 km per jam. Aku tidak punya waktu jika harus ditilang hari ini.
Setelah memarkir mobil, aku langsung berlari menuju bangunan terminal. Aku harus sedikit menunduk dan memeluk tubuhku ketika berlari karena angin kencang sedang bertiup dan aku hanya mengenakan celana bahan dan sweater turleneck warna pink, yang terbuat dari cashmere.
Aku tidak sempat mengenakan jaket, topi ataupun sarung tangan.
Aku baru bisa bernapas lagi setelah tubuhku terasa hangat di dalam bangunan terminal.
Aku mengamati lokasi keberangkatan mencari counter check-in penerbangan Delta Airlines.
Kusempatkan melirik ke layar informasi keberangkatan pesawat. Pada layar terlihat status pesawat yang aku cari adalah LAST CALL. Panik karena tahu aku sudah terlambat, aku berlari menuju counter check-in Delta terdekat dan berbicara dengan ground crew-nya. Aku memotong beberapa orang yang sedang antre.
"Can you... contact your passenger... who is on the flight to JFK?" tanyaku terputus-putus di antara napasku yang masih terengah-engah.
Entah karena melihat wajahku yang panik atau karena tatapanku yang seperti orang gila, seorang penumpang yang sudah siap check-in mundur satu langkah dan memberikan aku ruang untuk berbicara lebih dekat dengan ground crew bernama Kate, yang menerima berondonganku dengan wajah pasrah.
"Thank you, Sir," ucapku, berterima kasih kepada seorang pria dewasa yang rela mundur dan memberikan aku ruang untuk melangkah lebih dekat dengan meja check-in.
Melihat bahwa penumpang yang sedang dilayaninya tidak marah walaupun antreannya aku potong, Kate pun segera menolongku.
Dia menanyakan nomor penerbangan dan nama penumpang yang aku cari. Aku menjawabnya tanpa berpikir lagi. Kudengar Kate berbicara dengan seseorang menggunakan walkie-talkie.
Dalam kepanikanku, aku hanya bisa menangkap kata-kata 'departure' dan 'gate' yang diulang-ulang.
Kate kemudian menatapku dan menggeleng. "I'm sorry, Madam, but the gate's closed. The plane is heading for the runway as we speak."
Daerah di sekujur tubuhku membeku. Aku bahkan tak memperdulikan panggilan 'madam' darinya.
Melihat wajahku memucat, Kate langsung berkata, "Mungkin Anda bisa menghubungi orang yang Anda cari setelah pesawatnya mendarat di JFK dalam beberapa jam."
Aku menggeleng.
"Tidak, tidak bisa. Dia sudah dalam perjalanan menuju Charles de Gaulle," gumamku. Tanpa sadar menggunakan bahasa Korea yang membuat Kate menatapku bingung.
Tanpa kata kutinggalkan counter itu dengan orang-orang yang menatapku bingung dan penasaran.
Jika saja penerbangannya hanya akan berhenti di JFK?!
Akan tetapi, aku tahu dia akan menyambung perjalanannya dengan Air France menuju Paris, lalu Nice.
Asistennya memang mengatakan dia akan kembali dua bulan lagi, tetapi aku tidak bisa menunggu selama itu. Aku harus berbicara dengannya sekarang.
Aku dapat merasakan hatiku yang sudah retak selama beberapa bulan belakangan ini kini hancur berkeping-keping. Mataku mulai terasa agak kabur, dan air mata mulai membasahi pipiku. Aku mencoba mengusapnya dengan lengan sweater, tetapi air mata itu tidak mau berhenti.
"Why is that lady crying, Mommy?" Kudengar seorang anak kecil, yang sedang menatapku, bertanya kepada ibunya.
"Jessica, tidak sopan menatap orang seperti itu. Look away," komentar ibunya, kemudian memalingkan wajah anak itu dengan paksa agar tidak lagi menatapku.
Lady? Apa penampilanku sehancur itu hingga disangka yeoja?!
Beberapa orang yang berpapasan denganku menatapku dengan bingung atau khawatir. Ada pula yang menatapku dengan penuh rasa kasihan. Aku bisa membaca pikiran mereka melalui tatapan itu.
'Oh look at that, she must be crying because she just say goodbye to her boyfriend.' pikir seorang ibu. Seakan-akan dia siap memelukku dan menepuk-nepuk punggungku sambil berkata, 'Sudah... sudah... jangan menangis. Dia akan kembali kok, sweetheart,' untuk menenangkanku.
'Sayang, dia terlalu cantik untuk menangis seorang diri. Mungkin sebaiknya aku membantu menenangkannya,' pikir seorang pria Amerika yang sebenarnya cukup tampan dan wajib didekati jika saja aku tidak sedang merasa sedih saat ini.
'! #$%^&*()?/,' pikir dua orang mahasiswa, yang aku yakin berasal dari Perancis. Karena aku tidak mengerti bahasa Perancis, maka aku juga tidak akan bisa memahami apa yang sedang mereka pikirkan.
Oke! Aku adalah pria malang yang gender-nya diragukan karena penampilanku. Dan aku tengah patah hati!
Perfect time!
Kupercepat langkah untuk menghindari mereka semua. Aku baru memperlambat langkah setelah berada di luar bangunan terminal dan perlahan-lahan berjalan menuju pelataran parkir.
Aku merasa terlalu limbung untuk merasakan dinginnya angin yang sedang bertiup kencang di sekelilingku.
Ketika aku sedang menyeberangi jalan, tiba-tiba kudengar seseorang meneriakkan namaku.
Suara itu?!
Suara yang aku kenal di mana pun aku berada dan seberapa jauh pun.
Semula aku mengacuhkan suara itu karena aku pikir itu hanya imajinasiku saja.
Kuangkat kedua tanganku untuk menutupi telinga.
Kemudian kudengar suara yang sama meneriakkan namaku dengan volume lebih keras dan berkali-kali.
Suara itu berasal dari belakangku.
Perlahan-lahan aku menoleh dan harus memutar seluruh tubuhku agar bisa menatapnya.
Aku langsung tersedak ketika melihatnya sedang berdiri di trotoar. Wajah tampannya dengan hidung, kening, mata, dan garis-garis rahang yang sempurna terlihat bingung dan tidak pasti. Perlahan-lahan kemudian wajahnya mulai dihiasi senyuman hangat.
Senyum itu semakin melebar sehingga aku bisa melihat gigi-giginya yang putih dan tertata rapi.
Ya Tuhan, aku benar-benar mencintai pria ini!
Aku mencoba mengontrol tangisku, akan tetapi bukannya berhenti, air mata malah semakin membanjiri wajahku. Kali ini air mataku adalah air mata kebahagiaan.
Aku mencoba tertawa di antara tangisku.
Detak jantungku sudah tidak keruan. Aku harus meletakkan tanganku di dada untuk mencegah agar jantungku tidak loncat keluar dari tempatnya.
Tanpa berpikir panjang lagi aku langsung melangkahkan kaki dan berlari menuju ke pelukannya.
Tiba-tiba kudengar dia berteriak, "Sungminnie, watch out!" sambil menolehkan kepalanya ke arah kananku, dan dengan menggunakan kedua tangannya mencoba menarik perhatianku. Wajahnya terlihat panik.
Awalnya aku hanya menatapnya bingung, tetapi ketika kutolehkan kepalaku ke arah yang ditunjuknya semua oksigen yang ada di sekitarku tiba-tiba menghilang dan aku tidak bisa bernapas.
Aku langsung panik.
Aku melihat sebuah mobil yang melaju ke arahku dengan kecepatan tinggi.
Semuanya bagaikan bergerak lambat.
Pandanganku beralih dari mobil itu ke wajah orang yang aku cintai, yang sedang menatapku dengan mata terbelalak karena panik.
Aku tidak bisa mati hari ini, apalagi karena ditabrak mobil.
Tidak peduli mobil itu sebuah mobil mewah sekalipun. Baru tiga puluh detik yang lalu aku bisa menemukan kebahagiaanku lagi.
Kuperintahkan kakiku agar berlari secepat mungkin menghindari mobil itu, tetapi tubuhku menolak mendengarkan perintah dari otakku. Aku hanya bisa berdiri kaku dan menutup mata, menunggu hingga sedan hitam itu menghantamku.
'Ya Tuhan, jangan sekarang! Tolong... jangan sekarang!' pintaku dalam hati.
Jika aku diberi kesempatan untuk tetap hidup, aku akan bertobat. Aku akan meluangkan waktu untuk membantu orang lain, meskipun aku sedang sibuk sekalipun.
Ketika aku menyadari bahwa aku sedang bernegosiasi dengan Tuhan, aku pun berhenti berlari.
Akhirnya, aku hanya menggumam.
"Berikanlah aku satu kesempatan lagi, Tuhan! Aku berjanji akan lebih berterima kasih atas segala sesuatu yang sudah aku terima dalam hidupku."
Kemudian kudengar bunyi rem mobil yang sedang bersusah payah untuk berhenti.
Ciiiiiittttttttttt...
BRAK...!
Lalu, semuanya gelap.
.
.
TBC
.
.
ENG ING EING!
Hasu is back! Maaf menunggu lama #BOW
Jadi gimana nih endingnya?
Mati ga ya? kayaknya sih ga?
Ato anemia eh selectia amnesia? Lupa ama hal yang bikin trauma gitu.
Silahkan menebak2. Yang pernah baca novelnya mungkin tau.
Tapi namanya Cuma remake... bisa aja berubah kan, hehe
.
Karen Kouzuki : jgn diterusinlah, entar si Kyu nagih, (loh?) secara masih tingting, hehe... thank you reviewnya ^.^
Anummutia : ini dikasih cukup panjang dan padat, semoga menikmati ne ^.^ Thank you reviewnya ^.^
Ikakyuminsss : silahkan cari jawaban pertanyaannya di chap ini (kalo ada), hehe.. keep reading ^.^
Anisa Jung : ya, hampir aja (maunya Kyu and Joyers pasti lanjut kan hehe). Mau dilamar? Silahkan tanya Kyu hehe
Kyumin : thanks for review, keep reading ^.^
Maiolibel : ni udah update, maaf lama #bow
PumpkinEvil137 : rate naik, hm... mungkin next2 chap...
Joyers : rate naik? Kayaknya iya, tp galau dikit dulu ya hehe
Pspnya Kyu : iya dinaikkin deh, jadi T+, bercanda. Next2 chap ya ^.^
Danactebh : salah satu alasannya mungkin iya, daripada hamil duluan kan? Tapi tenang, bentar lagi, naek kok rate nya. Siap2 aja ya.
Chjiecjie : maunya sih nerima kayaknya si Min tapi... Hasu jahat dikit ya... hehe
Orange girls : nikah? Galau dulu ya baru nikah #dihajarJoyers
Taniea458 : ni dah update, mian lama. Moga juga puas ^.^
Beauty : Iya, Hasu agak trauma ama triangle love (curcol), moga aja ttp suka ne ^.^
Za Kyumin : first night? Galau dulu ya, nanti baru... hm...
Dwi-yomi : nikah? Galau dulu ya hehe #kabur
Nanayukeroo : ya, Min emang polos (atau ga peka) hehe
imKM1004 : silahkan bergalau dikit disini, tp kalau udah baca prolog kyanya tau deh tar gimana ^.^
nurindaKyumin : aku juga suka Kyumin (loh?)
PRISNA CHO : Rate naik di next2 chap ne Prisna, galau sesaat dulu, hehe... ni dah panjang, masih kurang?
Nik4nik : happy reading ^.^
Thank you very much juga buat readers yang lain.
Yang nge-favorit, follower, silent reader (yg penting nambah viewers kkk)
Okelah,
Keep reading ^.^
Gomawo
Ryeota Hasu
