Ino terbangun dari tidurnya, namun dia tak dapat melihat apapun, pandangannya terasa gelap seolah tertutup sesuatu, belum lagi kedua tangannya terasa seperti terikat dengan kuat, gadis itu meronta, berusaha melepaskan diri, namun nihil, ikatan itu terlalu kuat mengekangnya, dan pada akhirnya dia hanya bisa menghela nafas pasrah akan keadaannya.

"Kenapa...di saat seperti ini mereka datang menangkapku? Padahal saat ini tidak mungkin akan ada yang menolongku." batin Ino yang kini menyandarkan tubuhnya pada tembok dingin di belakangnya.

Disclaimer: Naruto is Mine *diguyur tinta item* bo'ong deng, Naruto pan punyaknya Om Kishimoto =.=a

Chapter 10

=Gomen & Arigatou mo=

Gaara berjalan menuruni tangga dengan lesu, seolah tak ingin menjalani rutinitasnya hari ini, wajahnya terlihat kusut, belum lagi lingkaran hitam di sekitar matanya yang terlihat lebih tebal dari biasanya.

"Ohayo Gaara-kun!" Sebuah suara lembut menginterupsi lamunan Gaara, kedua mata emeraldnya bergulir ke arah meja makan yang terletak tidak jauh dari tangga, dan terlihatlah seorang wanita paruh baya yang baru saja menyapanya, dan kakak perempuannya yang tengah duduk di samping meja makan sambil menikmati roti bakarnya.

"Sarapan dulu Gaara-kun!" kata wanita itu sambil tersenyum lembut pada Gaara.

"Um..." gumam Gaara canggung sambil melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, dia masih ingat dengan jelas apa yang dia katakan kemarin malam pada wanita itu, dan hal itu rupanya cukup mengganggu pikirannya saat harus berhadapan dengan wanita itu sekarang.

Gaara menarik kursi di samping meja makan, kemudian duduk di sana dengan canggung sambil sesekali melirik wanita yang sedang mempersiapkan sarapan untuknya.

"Ano..." Gaara terdiam sejenak saat perhatian kedua wanita didekatnya tertuju pada dirinya yang membuka suara.

"Ehm...soal yang kemarin malam..." Gaara buru-buru menyambar roti bakarnya.

"Gomen...Kaa-san." kata Gaara yang langsung berbalik hendak meninggalkan meja makan.

"Ibu juga minta maaf Gaara-kun." sahut suara lembut wanita di belakang Gaara, pemuda itu pun menghentikan langkahnya sejenak, namun kemudian kembali melangkah dengan lebih mantab.

"Kau memang bukan Ibu kandungku, tapi kaulah wanita yang paling pantas untuk mendapatkan posisi itu setelah Ibu kandungku!" kata Gaara sambil lalu, senyum lega tersungging di bibir Manatsu, wanita yang menjadi Ibu dari anak-anak Karura setelah wanita itu meninggal.

"Adikku itu memang payah dalam hal meminta maaf." gumam Temari sambil menggigit roti bakarnya.

"Tapi jika dia sudah mengatakannya, itu artinya dia benar-benar tulus meminta maaf." Temari menoleh ke arah wanita di sampingnya dan tersenyum lembut.

"Aku setuju dengan ucapan Gaara," Temari bangkit dari posisi duduknya.

"Arigato Okaa-san!" kata Temari yang kemudian mencium pipi kiri Ibunya sekilas.

"Ittekimasu!" gumamnya sambil berlalu meninggalkan Ibunya yang masih terpana.

Manatsu tersenyum tulus saat menatap punggung Temari yang semakin jauh meninggalkannya.

"Kauberuntungmemilikianak-anaksebaikmerekaKarura,terimakasih,karenakautelahmemberikukesempatanuntukmerawatmereka."batin Manatsu, tak terasa sebutir air mata jatuh melewati pipinya.

=Show Me Love=

Hari itu Sakura terlihat lesu tanpa gairah hidup, lingkar matanya terlihat bengkak dan menghitam, sepertinya gadis itu tidak tidur semalaman, atau lebih tepatnya, waktu semalam itu dia habiskan untuk menangis.

Tenten dan Hinata tampak iba melihat temannya terlihat begitu lesu, belum lagi teman mereka yang satunya juga tidak menampakkan diri sejak tadi.

"Ino tidak masuk ya?" Tanya Sakura pada kedua temannya yang duduk di depannya, suara gadis itu terdengar serak saat membuka percakapan.

"Sepertinya begitu, kemarin paman Inoichi meneleponku, katanya Ino belum pulang, padahal sudah larut malam." kata Tenten.

"Benarkah? Kemarin aku juga ditelepon, dia menanyakan keberadaan Ino padaku." Sakura mengerutkan keningnya.

"Um...kemarin paman Inoichi juga meneleponku, menanyakan hal yang sama, tapi bukankah kemarin Ino-chan sudah pulang duluan?" tanya Hinata khawatir, Sakura dan Tenten saling beradu tatap, kemudian kembali menatap Hinata.

"Kau benar Hinata, padahal kemarin aku lihat dia keluar dari gerbang Kitsune High School, atau jangan-jangan...terjadi apa-apa pada Ino?" tanya Sakura dengan nada cemas.

"Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak Sakura!" sahut Tenten.

"Tapi...bukankah Ino-chan selalu menjadi target para preman sejak dia berhubungan dengan Gaara?" lirih Hinata, sedangkan kedua temannya terlihat semakin khawatir setelah mendengar ucapan Hinata barusan.

"Hei!" sebuah suara dingin menginterupsi percakapan ketiga gadis itu, ketiganya pun menoleh ke sumber suara, dan tampaklah sosok Sasuke berdiri di samping meja mereka.

"Apa Ino tidak masuk hari ini?" tanya Sasuke dengan nada datarnya.

"E...entahlah, kami juga tidak tahu, kemarin ayahnya juga menelepon kami, menanyakan keberadaan Ino, katanya dia belum pulang." Sasuke melebarkan matanya saat mendengar ucapan Hinata.

"Belum pulang?" tanya Sasuke ragu.

"Iya, kemarin paman Inoichi juga terdengar sangat khawatir saat menelepon kami." kata Tenten yang kini terlihat semakin khawatir.

"Sial!Ulahsiapaini?" batin Sasuke sambil berlalu meninggalkan ketiga gadis yang dia tanyai tadi, pemuda itu berjalan keluar kelas sambil merogoh ponselnya, kemudian menghubungi seseorang, di saat itu terlihat Matsuri yang diam-diam menatap kepergian Sasuke.

=oooooo=

"Bagaimana keadaan gadis itu? Apakah dia sudah sadar?" tanya seorang pemuda berambut perak pada pemuda lain yang berambut hitam kelam.

"Tadi kulihat dia belum bergerak sama sekali." jawab pemuda berambut hitam.

"Hei hei, kau tidak membunuhnya kan? Yaah sebenarnya dia matipun tidak masalah bagiku, tapi untuk saat ini, dia masih berguna." pemuda berambut silver itu berseringai tipis.

"Tenang saja, dia hanya pingsan!" jawab pemuda berambut hitam dengan nada datarnya.

"Baiklah kalau begitu, kau kuberi tugas untuk menjaga gadis itu, jangan sampai dia kabur, dan jangan sampai dia kenapa-kenapa sebelum tujuanku tercapai!" seringai pemuda berambut perak itu semakin lebar saat mengatakannya.

"Lakukan tugasmu dengan benar ya Sai! Khufufu..." Dan pemuda bernama Sai itu pun berlalu meninggalkan pemuda berambut perak yang kini tengah duduk di antara kedua gadis berambut merah.

"Bukankah lebih baik dia disiksa saja Kabuto? Dia itu kan hanya sandera!" gerutu seorang gadis di samping pemuda bernama Kabuto itu.

"Khufufu...kalian tidak perlu marah, dia hanya kumanfaatkan, tidak lebih dari itu." kata Kabuto dengan senyum misteriusnya.

Kitsune High School

Kiba dan Lee bergindik ngeri merasakan aura mencekam di sekitar mereka, kedua kawan segeng mereka, yang tidak lain adalah Gaara dan Naruto, kini sedang dalam keadaan Bad Mood stadium akhir, kedua pemuda berbeda warna rambut itu tampak BeTe sambil mengeluarkan aura mematikan, yang artinya mereka sedang tidak mau diganggu untuk saat ini.

Gaara seperti biasa, duduk di bingkai jendela sambil menatap ke arah luar, namun raut wajahnya terlihat lebih kaku saat ini, bahkan kaleng soft drink dalam genggamannya sudah hampir remuk karena tanpa sadar pemuda itu telah meremasnya terlalu keras.

Sedangkan Naruto kini terlihat sibuk dengan pikirannya, namun wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya, bahkan sejak tadi dia sama sekali tidak membuka suara, itu tampak lebih mengerikan dari pada macan ngamuk, masalahnya Naruto itu kan terkenal paling berisik, lalu sekarang tiba-tiba dia jadi pendiam? Oh mungkin gunung Fuji akan segera meletus.

"Sssst Lee...sebaiknya kita menjauh dari mereka sebelum mati konyol!" bisik Kiba pada Lee yang duduk di sebelahnya.

"Heeee? Bukankah sebaiknya kalau kita mencoba menghibur mereka dengan semangat masa muda?" seru Lee dengan suara yang tidak bisa dibilang pelan, Kiba pun langsung membungkam mulut bersisik(?) maksudnya, mulut berisik Lee, dan membawanya pergi keluar kelas, saat pandangan mematikan Gaara dan Naruto tertuju padanya.

Di tempat Ino.

Sai membuka pintu ruangan Ino disekap, pemuda berambut hitam itu berjalan mendekat ke arah sosok gadis yang kini sedang bersandar di tembok dalam keadaan terikat, dan mata yang tertutup kain hitam.

Ino bergeming saat mendengar suara langkah kaki mendekat, gadis itu gemetar saat merasakan keberadaan seseorang yang kini berada tepat di depannya.

"Kau sudah bangun?" tanya Sai.

"Kau kah yang membawaku kemari?" tanya Ino dengan nada dingin.

"Ya, aku lah yang menculikmu." jawab Sai datar.

"Kheh, kau tahu? Apapun rencana kalian dibalik penculikanku ini, semua itu tidak ada artinya, karena aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan Sabaku no Gaara!" kata Ino dengan nada sarkastik, Sai tertegun sejenak, namun kembali bersikap biasa.

"Sepertinya kau sudah terbiasa mengalami masalah seperti ini ya? Kau terlihat lebih tenang dari pada para korban kami yang lain." Sai tersenyum hambar, meskipun Ino tak dapat melihatnya.

"Aku tahu betul kalau Gaara mempunyai banyak musuh, dan mereka selalu menggunakan kelemahan Gaara untuk menjatuhkannya, tapi sayang sekali tuan, aku sudah bukan siapa-siapa bagi Gaara, jadi percuma saja kalian menangkapku, Gaara tidak akan datang kemari dan masuk dalam perangkap kalian!" kata Ino, bahkan sama sekali tak terdengar nada takut di dalamnya.

"Hm...aku tahu, kau sebenarnya mengharapkan kedatangannya kan?" tanya Sai dengan nada menantang dan membuat Ino terdiam cukup lama.

"Apakah aku benar nona?"

"Tidak!" jawab Ino langsung.

"Aku tidak mengharapkannya, karena dia memang tidak akan pernah datang, aku tidak mau berharap pada sesuatu yang mustahil!" kata Ino, masih mempertahankan sikap beraninya.

"Hmppp...khukhuku..."

"Apa yang kau tertawakan?" sentak Ino yang mendengar suara tawa yang tertahan.

"Di luar dugaan, ternyata kau menarik juga, khekhekhe..." Sai berkata masih dengan menahan tawanya.

"Oi oi, kau tidak jatuh cinta padaku kan?" tanya Ino dengan PD-nya, entah kenapa dia jadi lebih santai berbicara dengan Sai setelah mendengar suara tawa tertahan pemuda itu.

"Wah kau juga over PD nona." kata Sai lagi, Ino mengembungkan pipinya mendengar ejekan Sai.

"Huh! Jangan tertawa terus, sekarang waktunya melakukan tugasmu sebagai penculik!"

"Eh?" Sai menghentikan tawanya saat mendengar ucapan Ino.

"Aku lapar, mana makananku?" todong Ino tanpa takut sedikitpun, sedangkan Sai bertanya-tanya dalam hatinya.

"Diapikirinipiknikapa?Bisa-bisanyadiamemintamakanandengansantainya?" batin Sai tak habis pikir dengan sikap gadis di depannya.

"Kenapa diam saja? Apa kau tidak punya uang? Kalau begitu ambil saja uangku di saku rokku ini!" kata Ino lagi.

"Kau mau aku mengambilnya untukmu? Apa kau yakin?" tanya Sai dengan nada sedikit tidak enak didengar.

"Apa yang kau rencanakan?" tanya Ino waspada.

"Yaah kau sendiri yang memintaku untuk mengambil uang di saku rokmu, jadi bisa saja, tanpa sengaja aku menyentuh bagian dalamnya kan?" tanya Sai dengan santainya, sedangkan wajah Ino kini telah berwarna semerah rambut Gaara, gadis itu pun beringsut, mencoba menjauh dari jangkauan pemuda lawan bicaranya itu.

"J...jangan macam-macam!" sentak Ino yang wajahnya masih merah padam.

"Tenang saja, aku masih cukup waras untuk tidak melakukannya!" kini Sai bangkit berdiri.

"Aku akan segera kembali, jangan bikin ribut!" kata Sai yang kemudian berlalu meninggalkan Ino.

Blam!

Terdengar suara pintu yang tertutup, menggema di ruangan yang cukup luas itu.

Kitsune High School

DUAK!

"GYAAAAA...!"

"TOLOOOONG!"

"HIIIIIY..."

DASH! BRUSK!

"TOLONG SIAPA SAJA! HENTIKAN GAARA-SAMAAAA!"

*beberapa menit yang lalu*

Pelajaran olah raga dimulai, para siswa menuju ke lapangan sepak bola, setelah pemanasan usai, beberapa siswa mulai bertanding, hanya beberapa orang saja yang berada di bangku penonton termasuk Gaara yang moodnya belum juga membaik, dan saat itu dia mendengar percakapan dua orang siswa yang membuat moodnya semakin buruk.

"Hei, katanya kau kemarin dapat hadiah dari cewekmu ya?" tanya seorang pemuda berambut cepak pada temannya, telinga Gaara berkedut sekilas saat mendengar pertanyaan yang sebenarnya tidak tertuju padanya itu.

"Iya, dia memberiku ini." pemuda lain yang berambut jabrik memamerkan wirstband yang membalut pergelangan tangannya.

"Yaah bukan barang berharga sih, tapi ini benar-benar membuatku bahagia setengah mati, apa lagi dia memberikannya dengan wajah memerah yang imut..." pemuda itu terlihat senang saat membayangkan wajah ceweknya yang malu-malu saat memberikan hadiah itu padanya, sementara Gaara semakin panas saat mendengar cerita pemuda yang berdiri tak jauh darinya itu.

"Yeeh itu sih nggak ada apa-apanya, kemarin sehabis bunkasai aku sama pacarku udah...ehm...kamu pasti udah tahu maksudku kan? Khufufu..." si pemuda berambut cepak itu terlihat membanggakan diri sambil membusungkan dadanya.

"Heeee enak banget, padahal aku dengan pacarku belum pernah begituan!" gerutu pemuda yang satunya.

Gaara semerta-merta berdiri dari duduknya, kemudian menginjak bola yang kebetulan menggelinding ke bawah kakinya.

"Ano...Gaara-sama, tolong oper bolanya ke sini!" seru seorang siswa yang berada di tengah lapangan, namun Gaara sama sekali tak memperdulikan seruan siswa itu, tubuhnya kini diselimuti dengan aura negatif yang menguar kuat dan menyesakkan, sedangkan kedua mata emeraldnya tak lepas dari kedua pemuda yang tengah membicarakan pacarnya itu, kemudian dengan tiba-tiba, Gaara menendang bola yang berada di bawah kakinya ke arah kedua pemuda itu dan...

DUAK!

"GYAAAAA...!"

Terjadilah Insiden Gaara ngamuk di tengah lapangan bola.

"TOLONG SIAPA SAJA! HENTIKAN GAARA-SAMAAAA!" seru seorang siswa sambil lari pontang-panting menghindari serangan Gaara.

"MUSTAHIL! NGGAK AKAN ADA YANG BISA MENGHENTIKAN GAARA'S HELL SHOOT!" seru siswa lain.

"KIBA-SAMA! LEE-SAMA! NARUTO-SAMA! TOLOOOONG!" beberapa siswa serentak saat menyerukan nama-nama teman segeng Gaara, namun nama-nama yang mereka sebut telah memupuskan harapan mereka saat para korban menatap ke pinggir lapangan.

Kiba terlihat sedang bersembunyi di balik bangku penonton sambil merapalkan beberapa mantra penolak kesialan, Lee malah mengibarkan bendera merah putih(?) dan berteriak-teriak...

"Ayo maju Tim Nas, kobarkan semangat masa mudamu!" rupanya Lee adalah salah satu pendukung Tim Nas =.='

Lalu bagaimana dengan Naruto? Kita lihat!

"Bagus Gaara! Hajar saja mereka! Tendang lebih keras! Kirim mereka ke neraka!" seru Naruto yang juga terlihat emosi, karena dia juga mendengar percakapan kedua pemuda tadi.

Dan Gaara pun mengamuk sepuasnya di lapangan, tendangannya dia lancarkan secara acak, belum lagi kekuatan tendangannya yang nggak tanggung-tanggung, dan setelah pelajaran olah raga berakhir, lapangan sepak bola itu kini sudah berubah menjadi lahan bekas medan perang, di mana terdapat tubuh-tubuh yang bergelimpangan di tanah dengan beberapa memar memenuhi tubuh mereka, sedangkan Gaara langsung meninggalkan lapangan begitu saja seolah tak pernah melakukan dosa apapun.

Di tempat Ino

Ceklek!

Terdengar suara pintu yang terbuka, Ino menegakkan kembali tubuhnya yang sempat bersandar di tembok.

"Kau sudah kembali tuan penculik?" tanya Ino dengan tenangnya.

"Namaku bukan tuan penculik!" kata Sai datar.

"Lalu aku harus memanggilmu apa? Aku kan tidak tahu namamu!" gerutu Ino, sungguh gadis itu sama sekali tidak mengerti situasi, dimana saat ini dia itu berstatus sebagai sandera, dan pemuda lawan bicaranya itu adalah penculik.

Sai menghela nafas pelan, dia cukup heran dengan sikap gadis berambut pirang yang dia ketahui adalah kekasih Gaara.

"Kau ini benar-benar tidak tahu situasi ya?" tanya Sai yang kini berjongkok di depan Ino.

"Kenapa? Aku kan hanya menanyakan namamu?" tanya Ino balik, Sai kembali menghela nafas.

"Baiklah...namaku Sai." kata Sai yang kini menyamankan diri duduk bersila di depan Ino yang masih terikat.

"Sai? Cuma itu? Apakah itu initial? Nama asli? Atau nama samaran?" tanya Ino lagi.

"Kau tidak perlu tahu lebih jauh, karena kau bukan siapa-siapa!" jawab Sai ketus.

"Haaah...rupanya sifatmu nggak ada bedanya sama Gaara!" komentar Ino.

"Jangan samakan aku dengannya! Tentu saja kami berbeda!" kata Sai sambil mengaduk-aduk isi kantong plastik yang dia bawa.

"Suaramu juga terdengar lembut seperti dia," Ino kembali berkomentar tanpa memperdulikan protes dari Sai, sedangkan pemuda itu kini melirik tajam pada gadis di depannya, tapi tentu saja Ino tidak tahu, kedua matanya kan ditutup.

"Kurasa kau juga tampan." lanjut Ino setelah beberapa detik terdiam, dan itu sukses membuat Sai merona, walau hanya terlihat samar.

"Kau ini terlalu cerewet untuk ukuran seorang sandera!" kata Sai dengan nada datarnya.

"Biar saja!" Ino mengembungkan pipinya tanda kesal.

"O ya, mana makananku?" todong Ino, dan sukses membuat Sai kembali dibuat heran dan menggelengkan kepalanya pelan.

"Ada di depanmu!" jawab Sai.

"Suapi aku!" perintah Ino.

"Apa kau sedang memerintahku huh?" tanya Sai dengan nada horor.

"Memangnya di sini ada orang lain? Maaf saja aku tidak lihat!" jawab Ino santai, dalam hati Sai meruntuki sikap Ino yang sama sekali tidak mengerti situasi.

"Bisa-bisanyasiSabakuitupacarandengancewekmacamini!" batin Sai kesal.

"Hei kau dengar aku kan? Suapi aku! Aku sudah lapar sekali tahu?" gerutu Ino.

"Berani sekali kau memerintahku nona?" sentak Sai.

"Kau lihat sendiri kalau tanganku sedang diikat kan? Mana bisa aku makan dengan tanganku sendiri? Kecuali kalau kau mau melepaskan ikatan di tanganku!" balas Ino tak kalah sengit, dan membuat Sai terdiam.

"Kenapa? Aku benar kan?" tantang Ino yang kini memelankan nada suaranya.

"Kheh...baiklah!" Sai pun menyerah, kemudian meraih bungkusan burger di depannya.

"Buka mulutmu!" kata Sai sambil menyodorkan burger di depan mulut Ino.

"Buka dulu penutup mataku!" satu perempatan berkedut di dahi Sai.

"Kau ini banyak maunya ya?" dengus Sai yang terdengar seperti sedang menahan emosi.

"Kalau penutup mataku tidak dibuka, mana kutahu kau mengarahkan makanannya ke mana!" jawab Ino setengah menggerutu, lagi-lagi Sai menghela nafas pasrah.

"KenapaBosSabakuitubisatahanpacarandenganceweksepertiinisih?" batin Sai sambil membuka ikatan penutup mata Ino.

Setelah ikatan itu terlepas, Ino membuka matanya perlahan, dan langsung tertuju pada sosok Sai yang duduk di depannya, Sai tertegun melihat Ino yang menatap kedua onyxnya dengan sepasang mata aquamarine jernih milik gadis itu.

"Mungkinkah...karenainiGaarabegitumelindungigadisini?" batin Sai, tak terasa jantungnya berdegup kian cepat saat Ino mulai berbicara dan memamerkan senyum manisnya.

"Nah benar kan? Kau tampan seperti yang kubayangkan." kata Ino yang tanpa dia sadari membuat lawan bicaranya menyadari munculnya perasaan lain di dalam dirinya.

=oooooo=

Naruto duduk menyendiri di samping kolam ikan belakang sekolahnya, pemuda itu tengah hikmat memikirkan sesuatu, hingga tak menyadari kedatangan seseorang.

"Rupanya kau di sini Naruto-kun?" Naruto berjengit sekilas saat mendengar suara seseorang menginterupsi lamunannya, pemuda itu pun menoleh ke sumber suara.

"Shion?" lirihnya, Shion tersenyum lembut, kemudian mengambil duduk di samping Naruto.

"Aku sudah mengatakannya pada orang tuaku," Naruto memusatkan perhatiannya pada Shion.

"Kubilang aku sudah punya pilihan lain selain kau." kata Shion yang terlihat seperti memaksakan senyumnya.

"Gomen..." lirih Naruto yang kini menundukkan kepalanya menatap ke arah kolam.

"Iie...daijoubu Naruto-kun, aku juga tidak akan bisa memaksamu untuk mencintaiku, aku juga tidak akan bisa berhubungan dengan pria yang tidak mencintaiku." kata Shion terdengar lembut, Naruto tertegun mendengar penuturan Shion.

"Bagaimanabisaakusampaitidakdapatmencintaigadissebaikdia?" batin Naruto, teringat kembali percakapannya dengan Shion setelah Sakura meninggalkannya kemarin.

"Naruto...jangan pergi!" Shion mendekap tubuh Naruto dari belakang, mencegah pemuda itu untuk mengejar gadis berambut pink yang sempat menjadi temannya tadi.

Sedangkan Naruto sendiri tampak terpaku menatap kepergian kekasihnya, pemuda itu tampak galau saat menyadari dirinya tak sanggup mengejar gadis itu sekarang.

"Naruto-kun?" lirih Shion.

Naruto menundukkan wajahnya, seolah menyesali apa yang telah dia lakukan saat ini.

"Shion..." lirih Naruto, Shion mendongakkan wajahnya, meskipun belum bisa menatap wajah Naruto karena posisi pemuda itu yang membelakangi dirinya.

"Gomen...aku...harus jujur padamu kali ini." lanjut Naruto, pemuda itu melepaskan lengan Shion yang melingkar di pinggangnya, kemudian berbalik menghadap gadis itu.

"Shion...sebenarnya...sejak awal aku..."

"Aku tahu Naruto-kun." Shion memotong ucapan Naruto.

"Aku tahu, kau tak pernah mencintaiku, dan pertunangan kita...itu semua sudah diatur oleh orang tua kita, dan kau sebenarnya tidak menghendaki pertunangan ini kan?" Shion menundukkan wajahnya, tak berani menatap Naruto.

"Shion kau...?"

"Iya, aku tahu semuanya Naruto-kun, tapi aku mencoba bertahan karena aku mencintaimu," Naruto tertegun mendengar ucapan Shion.

"Aku berharap jika kita sudah menjalani pertunangan ini, maka dengan sendirinya kau akan bisa menerimaku dan mencintaiku, tapi ternyata...itu tidak semudah apa yang kubayangkan." lanjut Shion yang masih menundukkan wajahnya.

"Gomen..." hanya itulah yang bisa Naruto ucapkan sebagai bentuk penyesalan.

"Iie, daijoubu Naruto-kun, akulah yang bersalah karena keegoisanku." Kini Shion mendongakkan wajahnya menatap Naruto, dan tersenyum walau terlihat sangat dipaksakan.

"Jadi...kau benar-benar mencintai Sakura-chan?" tanya Shion, Naruto menunduk berusaha menyembunyikan semburat merah di kedua pipinya, kemudian mengangguk pelan sebagai jawaban pertanyaan Shion barusan.

"Jadi seperti ini ya? Ekspresimu saat sedang jatuh cinta?" Shion tersenyum penuh arti, Naruto mendongak, menatap ekspresi Shion yang kini sedang terkikik geli, tanpa sadar Naruto ikut tersenyum melihat Shion yang seperti itu.

"Apa kau baik-baik saja jika kita berakhir seperti ini?" tanya Naruto, Shion menghentikan tawa ringannya.

"Kalau kau memang sudah terlanjur mencintai gadis lain, apa boleh buat kan? Aku tidak bisa memaksamu Naruto-kun." Shion kembali menunjukkan senyumannya.

"Aku akan mengatakan pada ayahku kalau aku ingin memutuskan pertunangan kita, dengan begitu, kau sudah bisa bebas untuk berhubungan dengan Sakura-chan." kata Shion lagi.

"Naruto...?"

Hening...

"Na-Ru-To!" Naruto tersentak saat Shion memanggil namanya tepat di samping telinga.

"Eh hah? A...ada apa?" tanya Naruto yang belum pulih dari keterkejutannya.

"Kau melamun?" tanya Shion.

"Errrr...hehehe maaf!" kata Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya yang memang gatal sejak tadi.

"Naruto-kun!" lirih Shion, Naruto menghentikan tawa kakunya dan memberi perhatian penuh pada gadis di sampingnya.

"Bolehkah aku meminta sesuatu padamu? Setidaknya...ini yang pertama dan terakhir." kata Shion yang kini tatapannya terlihat meredup, gadis itu mengalihkan pandanganya pada kolam ikan di depannya.

"Katakan saja!" kata Naruto dengan nada melembut.

"Naruto-kun...bolehkah aku..." Shion menggantungkan ucapannya.

"Apa?" Naruto tampak penasaran.

Hening cukup lama saat Shion terlihat sedang mengalami perang batin, apakah dia akan mengatakan hasratnya atau tidak.

"Katakan saja Shion, apapun akan kupenuhi!" pinta Naruto yang sudah mulai tidak sabar.

"Errrr..." Shion tampak ragu.

"Hn?" Naruto makin penasaran.

"Bolehkah aku menamparmu?"

Hening sejenak.

"Err...apa tadi?" tanya Naruto yang kurang yakin dengan pendengarannya.

"Aku ingin menamparmu Naruto-kun." jawab Shion sambil tersenyum manis sekali, sangat bertolak belakang dengan apa yang dia ucapkan, Naruto menelan ludah dengan susah payah saat melihat ekspresi Shion saat ini.

"Bagaimana Naruto-kun?" tanya Shion.

"Errr...yah...lakukan saja, aku memang pantas mendapatkannya, kau boleh menamparku sesukamu." kata Naruto yang kini sudah bisa lebih tenang, dan bersiap dengan tamparan yang akan dia dapatkan.

"Baiklah!" Shion kembali tersenyum manis.

Dan detik berikutnya, Naruto telah terkapar dengan wajah lebam bekas tamparan Shion, sedangkan Shion sendiri terlihat puas dengan hasil kerjanya.

"Akan kutunjukkan padamu Naruto! Betapa kau akan menyesal karena telah menolakku! Khufufu..." kata Shion dengan seringai lebar di bibirnya, sungguh sangat berbeda dengan image Shion yang sudah melekat di dalam pikiran Naruto.

"Akubersyukurtelahmenolaknya!" batin Naruto sambil meratapi wajahnya yang tampan(?) itu kini dipenuhi lebam.

"Naruto-kun," Shion menghirup nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya.

"Terima kasih karena sudah mencoba bertahan denganku selama ini." kata Shion yang kemudian berlalu meninggalkan Naruto yang tertegun.

=oooooo=

Saat pulang sekolah, Sakura, Tenten dan Hinata memutuskan untuk datang ke rumah Ino, mereka ingin tahu, apakah Ino sudah kembali atau belum, tapi saat mereka sampai di rumah teman pirang mereka, rumah itu tampak sepi, rupanya Inoichi ayah Ino sendiri juga belum pulang, mungkin pria itu kini sedang kebingungan mencari putri semata wayangnya yang belum kembali sejak kemarin.

"Tidak ada yang bisa diharapkan di sini." kata Tenten memecah keheningan.

"Sepertinya paman Inoichi juga belum kembali." Hinata menimpali.

"Lalu kita harus kemana sekarang? Satu-satunya tempat untuk minta tolong saat ini hanyalah Gaara dan teman-temannya, tapi jam segini pasti dia sudah tidak ada di sekolah kan?" Tanya Tenten yang sepertinya mulai gusar.

"Aku tahu mereka biasa berkumpul di mana setelah pulang sekolah." Sakura mulai membuka suara, kedua temannya pun menoleh ke arahnya, meskipun wajah Sakura masih tampak sayu, namun terlihat keseriusan di kedua matanya, yang dia inginkan saat ini adalah mencari tahu keberadaan Ino yang menghilang sejak kemarin.

"Kau tahu dari mana?" tanya Tenten.

"Naruto...pernah mengajakku ke sana." kata Sakura yang terdengar sedikit kaku saat menyebutkan nama Naruto.

"Akan kutunjukkan tempatnya, aku yakin saat ini mereka sedang berada di sana!" kata Sakura mantab, gadis itu pun berjalan mendahului kedua temannya tanpa ada keraguan sedikitpun.

=Show Me Love=

"Hai guys!" sapa Naruto lemas pada ketiga temannya yang sedang berkumpul di basecamp mereka, yang tak lain adalah rumah pribadi Gaara.

"Busedah, kenapa tuh muka? Tapi kok ekspresinya beda sama keadaan mukanya yang ancur ya?" tanya Kiba shock campur penasaran.

"Oh ini hasil dari peyelesaian masalah kok hehehehe..." Naruto cengar cengir sambil melangkah terseok mendekati teman-temannya yang shock melihat keadaannya (minus Gaara)

"Ditabok Shion?" tanya Lee saat Naruto sudah mengambil duduk di dekatnya.

"He'em!" Naruto mengangguk pelan sambil memegangi pipinya yang bengkak.

"Shion ternyata ganas juga ya?" tanya Kiba yang terlihat miris melihat keadaan Naruto yang wajahnya penuh lebam, karena Shion memang menamparnya tidak hanya sekali.

"Wajahmu tidak enak dipandang Naruto!" kata Gaara datar, Naruto melirik Gaara dengan death glarenya, tapi tentu saja tidak mempan, mana ada Gaara takut dengan death glare orang lain, itu sangat tidak Gaara sekali.

"Sebaiknya kompres dulu wajahmu yang lebam itu! Jadi nggak tega liatnya nih." saran Lee.

"Ugh okay, minta es batunya ya Gaara, jangan pelit-pelit!" kata Naruto sambil ngeloyor pergi ke dapur, sedangkan Gaara sama sekali tidak menanggapi ocehannya itu, dan hanya menyibukkan diri dengan game di ponselnya.

Ting tong...

Terdengar bunyi bel rumah Gaara, namun tak ada yang berinisiatif untuk membuka pintu.

Ting tong...

Bel kembali berbunyi, ada lagi-lagi tidak ada yang memperdulikan suara bel itu.

Ting tong ting tong ting tong...

Rupanya si pemencet bel sudah mulai murka karena tidak ada yang membukakan pintu.

Ting...

"BERISIK!" akhirnya nampaklah wajah BeTe Kiba yang membuka pintu, ditambah benjolan dua tingkat di kepalanya.

"Kiba-kun?" sebut gadis di depan pintu itu dengan wajah bingung.

"Hi...Hinata?" Kiba tampak terkejut melihat Hinata, Sakura dan Tenten di depan pintu.

"Ada apa kalian kemari?" tanya Kiba dengan lebih lembut.

"Apa Gaara ada di dalam? Ada yang perlu kami beritahukan." Tenten menyela Kiba.

"Oh Gaara? Dia ada di dalam, masuklah!" Kiba menggeser posisinya untuk memberi akses pada ketiga gadis itu untuk masuk ke dalam.

Gaara yang sedang main game terlihat mengerutkan keningnya saat melihat ketiga orang teman Ino berdiri di depannya, pemuda itu langsung mematikan game yang sedang dia mainkan tadi, kemudian menatap tajam ke arah ketiga gadis yang baru saja datang itu.

"Ada apa kalian kemari?" tanya Gaara dingin.

"Gaara, esnya tinggal sedikit, kuambil..." Naruto menggantungkan kalimatnya saat melihat Sakura dan yang lainnya di ruang tengah, Sakura terlihat sedikit tersentak saat melihat Naruto, tapi kemudian menundukkan wajahnya, menghindari kontak mata dengan pemuda pirang itu.

"Diakenapa?Apabarusajaberkelahi?Kenapawajahnyamemar?"batin Sakura yang sepertinya khawatir dengan memar di wajah Naruto.

"Abaikan dia dan jawab pertanyaanku!" perintah Gaara dengan nada dingin.

"Ino belum pulang sejak kemarin, dan dia tidak masuk sekolah hari ini." Tenten membuka suara, Gaara terlihat melebarkan matanya sekilas, namun kemudian kembali serius.

"Kenapa kalian mencarinya di sini? Dia tidak ada di sini, cari saja di tempat Uchiha Sasuke!" kata Gaara dengan penekanan di kata terakhirnya.

"Sasuke sendiri menanyakan keberadaannya pada kami!" sahut Tenten, Gaara semakin menajamkan tatapannya.

"Jadi kalian menuduh aku yang membawanya pergi?" tanya Gaara.

"Bu...bukan begitu Gaara-kun, ka...kami hanya ingin memberitahumu, karena kami tidak tahu lagi harus meminta tolong pada siapa." kata Hinata yang terlihat takut dengan tatapan Gaara yang menusuk.

"Kheh, bukankah sudah ada si Uchiha itu?" dengus Gaara terlihat meremehkan.

"Sepertinya kami salah menemui orang, maaf kami pergi saja, permisi!" keta Sakura ketus, Tenten dan Hinata pun melangkah mengikuti Sakura.

"Kupikir kau benar-benar mencintai Ino, rupanya aku salah, apa geng Sabaku semuanya tukang selingkuh?" desis Sakura saat melihat Matsuri yang berdiri di ambang pintu masuk.

Seketika Gaara berdiri dari duduknya.

"Jaga bicaramu!" sentak Gaara, namun dia tercekat saat melihat Matsuri di depan pintu, karena awalnya keberadaan gadis itu terhalang oleh Sakura.

"Kheh, jangan sangkut pautkan masalah pribadimu dengan masalahku!" Gaara melirik Naruto dari ekor matanya, pemuda itu tampak menundukkan wajahnya yang sayu sambil mengompres pipinya yang lebam.

"Nyatanya kau sama sekali tidak merasa khawatir, padahal Ino mungkin sedang dalam bahaya, dan kulihat kau ada janji dengan seseorang." Sakura menatap Matsuri dengan pandangan tak suka.

"Sayang sekali yang kau tuduhkan itu tidak ada yang benar!" Gaara menyangkal tuduhan Sakura.

"Matsuri! Katakan alasanmu kemari!" kata Gaara yang kini melipat kedua tangannya di depan dada, menunggu jawaban Matsuri.

"Ano..."

"Masuklah!" perintah Gaara.

Matsuri pun masuk ke dalam rumah megah itu, dan berjalan melewati Sakura, Tenten dan Hinata yang menatapnya tak suka.

"Kemarin...aku melihat Ino-san dibawa pergi oleh seorang pria tak dikenal." lirih Matsuri, Gaara melebarkan matanya saat mendengar ucapan Matsuri.

"Di mana?" sentak Gaara, Tenten, Sakura dan Hinata bersamaan.

"Ke...kemarin...di taman kota." kata Matsuri gagap.

"KENAPA KAU BARU BILANG SEKARANG?" Gaara mengguncang bahu Matsuri dengan kasar, seolah melampiaskan emosinya pada gadis yang kebetulan berada di depannya itu.

"Tidak ada gunanya kau marah pada perempuan itu! Lebih baik kita cari tahu di mana Ino sekarang!" semua orang yang berada di ruangan itu mengalihkan pandangannya pada Sasuke yang entah sejak kapan sudah berdiri di ambang pintu.

"Uchiha?" desis Gaara.

=oooooo=

"Sepertinya kau menikmati pekerjaanmu ya Sai?" Kabuto memergoki Sai yang sedang berbicara akrab dengan Ino, pemuda itu langsung bersikap siaga di depan Ino.

"Wah wah...apa yang sudah kulewatkan selama kau menjaganya?" tanya Kabuto dengan nada santai namun terdengar mencurigakan.

"Ku rasa memang tidak ada gunanya kita mengurung dia di sini Kabuto, sebaiknya kita lepaskan dia, karena dia sudah tidak punya hubungan apapun dengan Sabaku!" kata Sai yang kini mulai beranjak berdiri.

"Kheh, jangan mengada-ada!" Kabuto menyangkal ucapan Sai.

"Oya oya, aku tahu, jadi kau mulai tertarik dengan gadis ini hn? Sai?" Kabuto menatap Sai dengan tatapan curiga, namun seringainya tetap tidak lepas dari bibirnya, Sai tampak waspada dengan sikap Kabuto itu, pemuda itu menajamkan tatapannya pada pemuda berambut silver di depannya.

"Sai awas!" seru Ino.

JLEB!

Sai melebarkan matanya saat merasakan nyeri di perutnya yang tertusuk pisau.

"Ohok!" darah segar keluar dari mulut Sai saat pisau itu dicabut paksa oleh Kabuto yang menusuknya.

"Selamat tinggal Sai!" Kabuto berseringai lebar saat melihat tubuh Sai yang limbung di depannya.

"SAAAAAAAI!" Seru Ino dengan air mata yang berderai melewati pipinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC again minna^^V

Yaah karena di poling pada mintak nih fic duluan yang apdet, jadi saya apdet fic ini lebih dulu.

Oya sebagai informasi, chapter depan adalah chapter terakhir dari seri Show Me Love ini, dan akan digantikan dengan fic baru yang mungkin akan lebih gaje dari ini, maafkan author abal abalan ini yang cuma bisa menciptakan fic gaje bin abal, menuh-menuhin perfanfikan aja, nggak mutu dan sebagainya.

Tapi dengan PeDe nya, saya masih tetap mengharapkan review dari saudara saudariku se bangsa setanah air(lebaynya kumat)

Okay saya nggak ahli dalam bidang menulis kata penutup.

Saa minna, Review please!

*Salam Cute*