WARRIOR FROM THE HEAVEN

Chapter#10

BERJANJILAH!

Rate: T

Genre: Fantasy, Adventure, Action, Romance, Drama, Martial Art

Warning: Typo, gaje mungkin, masih jauh dari kata sempurna, OOC

Don't Like Don't Read

Terinspirasi dari manhua manhua(komik china) kesukaanku

Jangan lupa review, favorite follow!

Summary:

Kehilangan kedua orang tuanya menyebabkan dampak besar bagi kemampuan Naruto. Dia kini dirawat oleh salah 1 dan 4 klan sihir terbesar di Kerajaan Konoha, klan Hyuuga dan demi membalas kebaikan klan, mampukah ia membawa klan Hyuuga menjadi klan terkuat?

.

.

.

.

.

.

Di ruangan Tsunade

Ia bersama dengan Shizune tampak sedang melihat ke jendela tepatnya sedang memandangi lingkaran sihir raksasa yang sekarang tengah mengejutkan seluruh Akademi. Bahkan meskipun gedung gedung utama serta asramanya terpisah dengan jarak yang cukup jauh pun mereka masih dapat melihat lingkaran sihir itu.

"Bagaimana dengan Kakashi?" tanya Tsunade.

"Kakashi sudah pergi ke tempat kejadian, Tsunade-sama.." jawab Shizune.

"Bagus kalau begitu.."

.

.

.

.

.

.

Dan di tempat kejadian, Naruto mengenggam pundak Lee kuat agar ia tak bisa pergi kemana pun.

"Apa yang mau kau lakukan!?" tanya Lee panik sambil mencoba melepaskan diri.

Naruto sudah dikuasi akan dosa amarahnya sehingga ia tak bisa menggunakan akal sehatnya saat ini.

"Akan kubunuh!"

Lee tak bisa bergerak dan tak bisa meloloskan diri dari Naruto sekarang. Ekspresi wajah Naruto sekarang penuh akan kemarahan. Dan ketika ia sudah siap melepas segel sihir tersebut…

"25% Heaven Palm!"

Sedetik kemudian cahaya muncul dari lingkaran sihir itu… Dan orang orang di Akademi di tempat yang berbeda beda bisa melihat cahaya tersebut.

BLAAARRRR

SYYUUUUTTTT…

Orang orang di seluruh tempat yang berada di wilayah Akademi terkejut ketika cahaya tersebut tiba tiba menghilang

Bukannya meledakkan area sebesar 100 meter itu, sihir tersebut justru lenyap begitu saja entah ditelan apa tapi yang jelas sihir tersebut terhisap ke dalam sebuah dimensi lain.

Naruto dan Lee terjatuh karena kelelahan. Tampaknya keduanya pingsan setelah menerima sedikit cahaya dari sihir itu. Dan masih di tempat kejadian yang sama…

"Hosh… hosh… hosh… Untung saja sempat.." kata seorang pria berambut abu abu memakai masker di wajahnya. Dia berlutut karena kelelahan dan tak dapat berdiri lagi.

Di mata kanannya terpasang semacam Sharingan seperti milik Sasuke namun bentuknya lebih unik lagi. Yap, dia adalah Kakashi. Dengan sihir miliknya, ia menghentikan sihir Naruto barusan. Dan tampaknya ia sudah kehabisan tenaga hingga ia tergeletak pingsan disana.

"Setidaknya.. aku sudah menghentikannya…"

.

.

.

.

.

.

.

NARUTO POV

Aku tidak begitu ingat kejadian terakhir kali. Aku bangun di sebuah ruangan perawatan dan menurutku ini masih di dalam Akademi. Terakhir kali kuingat, aku dan Neji diserang oleh murid dari Martial Magic. Kalau tidak salah namanya adalah Rock Lee.

Benar juga, dimana Neji? Dan kenapa aku pingsan? Sudah berapa hari terlewat sejak malam itu?

Aku menengok ke samping kananku. Meskipun tertutupi oleh tirai, aku masih bisa menerawang kalau ada yang tidur di samping kananku. Kubuka tirai itu dan hasilnya aku menemukan Neji yang tengah terbaring pingsan di tempat tidur. Aku bangkit dari tempat tidur lalu membuka jendela ruangan tersebut. Dan saat itu sudah malam. Apa artinya sudah terlewat satu hari sejak kejadian pada malam hari itu?

Aku baru sadar jika ada bunga beserta vas nya yang diletakkan di meja yang ada di sebelah tempat tidurku. Dan bunga itu baru saja diganti jika kulihat keadaannya. Itu artinya barusan ada yang kemari.

'Kau sudah bangun?' tanya Kurama.

Benar juga. Aku bisa bertanya pada Kurama mengenai kejadian pada malam hari itu.

'Oh.. Kurama! Benar! Ada hal yang ingin kutanyakan padamu!'

'Sudah 2 hari terlewat sejak kejadian malam itu..' jawabnya sebelum aku bertanya.

Jadi, sudah dua hari sejak kejadian itu ya? Dan jika aku tidak salah, artinya 2 hari setelah kejadian pada malam itu dan aku tertidur disini.

'Sebenarnya apa yang terjadi pada malam hari itu setelah Neji pingsan? Lalu kenapa pula aku ikut pingsan?' tanya Naruto.

'Seharusnya kau memang tak usah gunakan sihir semacam itu.. Seharusnya dengan memilikiku sudah lebih dari cukup untukmu,' jawab Kurama melenceng dari pertanyaan yang kuajukan barusan.

'Sihir apa?' tanyaku bingung.

Coba kuingat ingat lagi pada malam itu. Yang kurasakan terakhir kali adalah perasaan marah yang sangat besar menguasai diriku karena Neji terluka dan setelah mencoba mengingat ingat lagi kejadian setelahnya, kepalaku justru jadi sakit dan yang keluar di ingatanku adalah bayangan kegelapan yang aneh.

"Ughh…" rintihku sambil memegangi kepalaku yang sakit.

Aku hampir saja kehilangan keseimbangan akibat pusing kepala yang tiba tiba kurasakan ketika mengingat kejadian malam itu.

'Jangan paksakan dirimu untuk mengingatnya, Naruto!'

'Apa yang terjadi? Kenapa jika kupaksakan untuk mengingatnya, kepalaku malah terasa sakit..?'

'Lupakan saja hal itu, maka sakit kepalamu akan hilang!' perintahnya.

Semakin dipaksa melupakannya justru aku semakin ingin tahu apa yang terjadi pada malam hari itu.

'Lupakan, Naruto!' kata Kurama memerintahku.

"Akan kuingat!"

Dan setelah berusaha mengingat ingat kembali kejadian malam itu, sedikit terlintas ingatan mengenai kejadian malam itu. Aku melihat wajah Lee yang ketakutan dan cahaya terang di langit pada malam itu.

'Apa ini, Kurama!?' tanyaku.

'Sudah kubilang padamu! Tak perlu mengingat ingat lagi kejadian malam hari itu!'

Aku kembali mengingat ingat kejadian malam hari itu. Aku ingin tahu darimana asal cahaya terang pada malam itu. Asalnya dari langit dan itu keluar dari sebuah lingkaran sihir yang kutebak berdiameter sekitar 100 meter.

'Dan bukankah lingkaran sihir ini…'

Aku dapat mengingat dengan jelas lingkaran sihir di angkasa pada malam itu. Polanya, bentuknya serta jika dilihat dari warna elemennya yang merah, jelas elemen api. Dan sihir itu adalah Flame Lotus, 5% Heaven Palm.

"Sihir milikku!? Apa malam itu aku mengeluarkan 5% Heaven Palm? Tidak! 5% Heaven Palm hanya berdiameter 20 meter sedangkan ini mencapai 100 meter. Untuk kekuatanku sekarang, tidak mungkin aku membuat yang lebih kuat dan lebih besar dari itu. Apa mungkin ada pengguna Blaze Commandement lainnya selain diriku?

'Kenapa ada orang lain yang bisa menggunakan Blaze Commandement, Kurama!?' tanyaku terkejut.

Kurama diam saja ketika aku menanyakannya.

'Jadi, itu kesimpulanmu?'

'Apa maksudmu..?' tanyaku bingung.

'Kau menyimpulkan kalau Heaven Palm yang muncul pada malam itu berasal dari orang lain, kan?' tebak Kurama.

'Tentu saja! Mana mungkin berasal dariku!'

Kurama diam saja. Dan pikiran aneh mulai masuk ke kepalaku. Aku mulai menebak nebak lagi karena sikap Kurama membuatku ragu dengan kesimpulanku.

'Jangan katakan kalau itu berasal dariku, Kurama!'

Dan hasilnya dia masih diam saja. Mataku terbuka lebar ketika perlahan namun pasti ingatanku mengenai malam itu kembali. Ya, benar.. akulah yang menggunakan Heaven Palm pada malam hari itu.

"Aura hitam itu juga…! Aku…!"

'Benar.. Yang kau gunakan pada malam itu adalah Legendary Dark Magic: Seven Deadly Sins, Wrath Form… meski belum sepenuhnya,' jawab Kurama.

Sekarang aku benar benar mengingat kejadian pada malam hari itu. Tentang Dark Magic tentang Heaven Palm. Aku benar benar takut sekarang namun di sisi lain, tubuhku pada malam itu benar benar merasakan sensasi yang luar biasa. Rasanya seperti kekuatan yang luar biasa mengaliri seluruh tubuhku.

'Sudah kuperingatkan, Naruto.. Dark Magic yang kau bawa itu memiliki kekuatan yang luar biasa besar sekaligus luar biasa berbahayanya. Kau harus bisa mengendalikan kegelapannya atau kau akan jatuh tenggelam ke dalamnya.'

'Lalu apa yang harus kulakukan?' tanyaku sambil terduduk di pojok ruangan sambil memegangi kepalaku ketakutan.

'Tak ada gunanya membuang scroll/gulungan itu sekarang karena semua energy sihirnya sudah berpindah ke tubuhmu meski masih ada 3 dosa lagi yang belum muncul.. tapi paling tidak kita bisa menyegelnya di tubuhmu menggunakan Seal Magic milikmu..' kata Kurama menjelaskan.

Dan aku teringat kembali kalau sihir ini merupakan sihir peninggalan klan Uzumaki. Aku ingin menyempurnakan sihir ini dengan kekuatanku sekarang, namun bahkan bila kekuatanku sudah jauh lebih kuat dari sekarang pun, Kurama tidak akan mengijinkanku lagi menggunakannya.

'Sihir ini bukan satu satunya sihir yang memiliki kegelapan besar yang harus bisa kau kuasai, Naruto..' ucap Kurama mencoba mengingatkanku dengan suatu hal.

'Apa maksudmu?'

'Jangan lupa.. kalau kau masih harus menahan dan mengendalikan Demon Flame milikku yang juga memiliki sisi gelap yang besar..'

Dia mencoba mengingatkanku dengan pertarunganku melawan Neji. Tepatnya saat kami berdua sama sama menggunakan serangan terakhir. Pada saat itu, aku tidak sengaja mengaktifkan lingkaran sihir Blaze Commandement: Demon Flame, Ashuura Fist yang membuatku menang melawan Neji.

'Kau sudah mengingatnya?'

'Sebenarnya aku juga penasaran kenapa kau bisa tercipta dari dua komponen yang saling berlawanan.. tapi bukan waktunya untuk menanyakan hal itu sekarang,' jawabku.

Benar. Ini bukan waktunya untuk ketakutan seperti ini. Aku sudah menjadi murid di Akademi ini dan menjadi yang terbaik saat ujian masuk. Aku tidak seharusnya menyia nyiakan waktuku di sini seperti sekarang ini.

'Apa yang mau kau lakukan?'

'Aku harus melihat situasi di Akademi sekarang..'

'Tenang saja, tak terjadi begitu banyak kepanikan.. hanya saja kejadian malam itu masih menjadi perbincangan di Akademi..'

Ketika mendengarnya, jujur aku sedikit tidak percaya karena bagaimana bisa murid murid tidak panik ketika sihir raksasa berdiameter 100 meter itu menghancurkan areal sekitar asrama Holy Knight dan mereka tidak panik?

'Bagaimana bisa?'

'Jika kau tanya aku.. Sebaiknya kau berterima kasih pada sensei abu abu itu, karena dia lah yang menghentikan Heaven Palm milikmu pada malam hari itu..' jawab Kurama.

'Kakashi-sensei?'

Sedikit mengejutkanku.. Jika kulihat diameternya, Heaven Palm itu sudah sampai tahap 25%. Dan Kakashi-sensei bisa menghentikannya? Aku tidak tahu bahkan kalau sihir itu bisa dihentikan.

'Bagaimana bisa Heaven Palm dihentikan? Meski bisa ditahan dengan sihir pelindung kelas A atau S.. Seharusnya tidak mungkin sampai tidak meninggalkan sedikit bekas jika mengingat Heaven Palm ini berbeda dari yang sebelumnya..'

'Aku sendiri juga tidak tahu, ada sihir semacam itu.. Yang jelas pada waktu itu, dia menghentikan Heaven Palm dengan menghisap atau memindahkannya ke dimensi lain..'

Jika yang dikatakan Kurama itu benar, berarti mungkin saja kalau Heaven Palm bisa dihentikan. Tidak bisa dikatakan menghentikan karena sebenarnya dia hanya mengirimnya ke dimensi lain. Tapi jika benar ada sihir semacam itu, seharusnya sihir itu masuk ke dalam sihir kelas A atau S.

Dan ketika aku dan Kurama masih sibuk membahas mengenai sihir yang digunakan Kakashi-sensei, tiba tiba saja aku merasakan ada seseorang yang datang.

'Kurama.. Seseorang datang, kita lanjutkan nanti pembicaraannya!'

'Baiklah…'

Dan suara Kurama menghilang setelah itu. Lalu tak berselang lama, pintu ruangan ini terbuka menampakkan seorang gadis bersurai indigo. Wajahnya tampak sangat khawatir, dan kurasa ia masih belum menyadariku yang sudah sadar dan duduk di sudut ruangan.

'Hinata!'

Cukup lama ia berdiam diri disana memandang ke bawah dengan wajahnya yang kelihatan cemas. Lalu ia tak sengaja menoleh ke arahku. Pandangannya ke arahku berubah menjadi datar, sedangkan aku menatapnya sambil tersenyum.

Tiba tiba saja matanya terbuka lebar lebar, perlahan di berjalan menghampiriku. Lalu ketika ia sampai di depanku…

PLAAAAAKKK

Yapp.. Aku mendapat sebuah tamparan. Betapa terkejutnya diriku ketika mendapat tamparan sekeras ini padahal aku baru saja bangun dari tidurku.

"Ughh.. Sakit…" rintihku pelan.

"Menyebalkan…" ujarnya.

Aku menatap ke arahnya. Wajahnya tertutupi oleh rambutnya, jadi aku tak bisa melihat wajahnya sekarang tapi yang kutahu sekarang kalau dia gemetaran. Dan setelah kulihat air mata jatuh dari matanya, aku sadar kalau ia menangis.

"H-Hinata.. K-Kenapa kau menangis?" tanyaku memegang pundak Hinata.

Dia memperlihatkan wajahnya. Dan astaga, dia benar benar menangis. Aku benar benar terkejut melihatnya menangis seperti ini.

"Niisan bodoh!" teriaknya bersiap memberi tamparan.

Dengan terpaksa aku langsung menyerahkan wajahku pasrah. Aku sudah siap diberi tamparan lagi kali ini.

Namun bukan tamparan yang kudapat kali ini, melainkan sebuah pelukan erat dari Hinata. Dia benar benar memelukku erat seakan dia tidak memperbolehkanku untuk pergi.

"Niisan bodoh! Hiks.. hiks..!"

Dia masih mengucapkan kata yang sama diiringi dengan isakan tangis. Dan aku masih terdiam ketika ia memelukku erat.

"Apa yang niisan dan niisama lakukan!?" tanya Hinata.

"K-K-Kami hanya-

"Hanya apa!? Melakukan hal hal berbahaya!? Dan tak memberitahuku keadaannya!? Kalian egois!" kata Hinata memotong perkataanku dengan sedikit berteriak.

Aku tak terkejut kalau dia sudah mengetahuinya.

"Bagaimana kalau kalian sampai kenapa kenapa!? Apa yang akan terjadi denganku!? Siapa yang akan melindungiku!? Apa tidak bisa kalian paling tidak memberitahuku!?

Aku hanya bisa terdiam mendengar kata kata Hinata. Dia benar, seharusnya kami memberitahunya dan tak membuatnya khawatir. Disini, aku dan Neji lah yang salah karena membuatnya khawatir, namun jika kuingat lagi apabila Lee tidak datang pada malam itu, semua ini takkan terjadi.

"Apa yang harus kulakukan…?" tanya Hinata pelan.

Aku mendorongnya pelan memaksanya untuk melepaskan pelukannya. Dan kutatap wajahnya. Matanya bengkak karena menangis barusan.

"Maaf, Hinata.. tapi aku dan Neji tidak ingin membuatmu khawatir," jawabku pelan.

"Tidak ingin membuatku khawatir? Tapi bagaimana dengan kenyataannya sekarang?" tanyanya balik kepadaku.

Aku kembali terdiam.

"Apa aku tidak berarti di mata niisan!?" tanyanya membuatku terkejut.

Aku terkejut oleh pertanyaannya barusan. Dan secara otomatis aku berusaha menghentikan ucapannya dengan menciumnya. Benar.. Aku menciumnya. Bisa kulihat saat ini ekspresi wajahnya yang terkejut ketika aku menciumnya. Rasanya benar benar hangat. Lebih hangat dari yang kubayangkan. Pada saat itu, aku tidak sadar dengan apa yang kuperbuat. Dan aku juga tidak memikirkan dampak ke depannya bagi hubungan kami berdua pada saat itu. Aku kehilangan akal sehatku… Yang jelas saat itu aku sangat ingin menciumnya dan menghentikan kesedihannya.

Tiba tiba saja angin malam berhembus masuk ke dalam ruangan itu membuat suhu di dalam menjadi lebih dingin tapi dinginnya malam itu seperti tak kurasakan di tubuhku. Aku benar benar tenggelam dalam perasaanku pada waktu itu. Entah apa yang Hinata rasakan namun saat ini aku ingin bersamanya lebih lama.. lebih lama lagi.

Aku berharap waktu berhenti agar semuanya tak berakhir dengan cepat seperti seharusnya waktu berjalan. Sudah cukup lama aku menciumnya sedangkan Hinata masih terkejut dengan apa yang ku perbuat padanya. Tampak dari wajahnya. Matanya terbuka lebar saking terkejutnya.

Aku menikmatinya hingga tiba tiba…

PLAAAKKKK

Lagi lagi aku benar benar terkejut dibuatnya. Aku mendapat sebuah tamparan lagi. Aku sangat terkejut sampai tak bisa melihat wajahnya. Aku sedikit melirik ke arahnya. Wajah terkejutnya hilang berganti ekspresi yang tak bisa kuungkapkan dengan kata kata.

Kusentuh wajahku yang barusan ditampar olehnya dengan tangan kiriku. Sedangkan ia terdiam lalu memegang tangan kanannya yang digunakannya untuk menamparku dengan tangan kirinya.

Akan tetapi, tamparannya membuatku sadar dengan apa yang kulakukan barusan…

"Apa maksud dari perbuatan niisan barusan?" tanya Hinata pelan.

Aku tak bisa menjawab pertanyaan barusan. Seakan lidahku mati rasa. Aku juga tak bisa melihat ke arah matanya bukan karena aku takut atau semacamnya tapi karena kedua matanya tertupi oleh bayangan poni nya. Yang jelas saat ini dia bersikap dingin kepadaku.

"A-A-Aku…" jawabku terputus putus.

Aku tak tahu harus berkata apa.

"Apa yang niisan lakukan?" tanya Hinata dingin.

Aku tersentak. Lalu tatapanku berubah jadi sendu. Setelahnya aku bingung harus mengatakan apa jadi kuputuskan untuk mengatakannya…

"Aku mencintaimu, Hinata…"

Bisa kulihat kalau dia terkejut mendengar pernyataanku barusan. Aku sedikit takut mendengar responnya setelah ini atau berikut berikutnya.

"M-M-Maksudnya mencintaiku sebagai adikmu, kan niisan?" tanya Hinata sedikit gemetar.

Pertanyaannya di satu sisi sedikit memaksa. Aku mengerti maksudnya dan paham apa tujuan dari pertanyaannya. Dia ingin aku menjawabnya dengan jawaban 'Ya'. Karena itu satu satunya cara meredakan kecanggungan kita setelah ini akibat pernyataanku tentang aku mencintainya. Sedangkan jika kujawab 'Tidak', itu artinya aku mengatakan kalau aku mencintainya bukan sebagai adik tapi menganggapnya sebagai perempuan atau wanita yang dicintainya.

Sudah jelas kalau dia ingin aku mengatakan 'Ya' bukan hanya untuk meredakan kecanggungan tapi juga untuk meredakan kesalah pahaman di antara kita, tapi itu menurutnya. Bagiku ini bukan kesalah pahaman. Bahkan jika ia tidak salah paham dan tahu kalau aku benar benar mencintainya, dia pasti akan memintaku untuk menjawab 'Ya' karena sudah jelas dari arah pembicaraannya kalau dia akan menolakku tapi dia tidak ingin segalanya berubah setelah dia menolakku. Maksudnya tentang bagaimana aku bersikap padanya setelah ia menolakku. Tapi sudah kuputuskan untuk…

"Tidak… Aku mencintaimu sebagaimana pria dewasa mencintai seorang wanita.."

… Mengatakannya.

Seperti yang kubayangkan. Hasil dari jawabanku membuatnya bingung harus bersikap seperti apa.

"T-T-Tapi bukankah kita ini saudara!?" tanya Hinata.

Dia mencoba menolakku secara halus ya? Dengan cara mengatakan kalau kita berdua ini bersaudara? Sudah jelas bahwa kita bukanlah saudara. Aku bukanlah seorang Hyuuga dan aku bukan anak dari pemimpin klan Hyuuga.

"Tidak… Kau jelas tahu kalau kita bukan saudara, lantas kenapa kau menganggapku begitu?"

"Aku tak peduli apa yang niisan katakan… tapi yang jelas… aku hanya menganggapmu sebagai niisan-ku yang selalu melindungiku… tak lebih dari itu…" jawab Hinata terputus.

Aku memejamkan mataku paham. Pada akhirnya dia tetap menolakku dengan alasan yang mudah ditebak seperti itu. Lalu aku mencoba membuka mataku lagi sambil mencoba tersenyum.

"…Naruto-niisan!" sambung Hinata menunjukkan senyumannya.

Dia menggenggam erat kedua tanganku sambil menatap mataku.

"Berjanjilah satu hal, niisan…" kata Hinata terputus.

Aku tahu apa yang akan diucapkannya setelah ini. Aku hanya mencoba memberikan senyuman padanya namun aku tahu kalau bukan senyuman bahagia yang terlihat di wajahku namun senyuman kesedihan.

"Berjanjilah padaku kalau tidak ada yang berubah di antara kita setelah kejadian ini! Oke!?"

Dia tak menjelaskan apa apa sebenarnya. Satu hal yang ingin kukatakan padanya sekarang adalah tak selamanya aku bisa melindungimu dan menjagamu. Dan saat itu, entah kenapa aku masih bisa tenang dan tersenyum menghadapi keegoisannya sekarang yang tak ingin ada perubahan setelah kejadian ini. Tapi… aku benar benar tak bisa berjanji padanya…

"Maaf, Hinata… tapi kurasa aku tidak bisa berjanji padamu seperti itu…" jawabku sambil melepas genggaman tangan Hinata lalu bangkit dan berjalan menuju pintu keluar dengan mencoba tersenyum.

Tapi tangannya mencoba menahan tanganku ketika aku sudah berjalan melewatinya.

"Berjanjilah…!" ucapnya dengan nada sedih.

Ucapannya barusan tak kubalas… kulepas tangannya dari tanganku lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Hinata yang terduduk disana. Dan setelahnya ada dua hal yang aku sadari ketika sudah berjalan meninggalkan ruangan perawatan. Pertama, aku tak me-reset apa yang sudah terjadi dan yang kedua… Untuk sekarang dan setelahnya…

'Kurasa akan benar benar sakit saat berada di dekatnya... bahkan sampai aku tak bisa membendung air mataku… Dan meskipun aku sudah mengetahui kalau aku akan ditolak.. rasanya benar benar… benar benar sakit..'

END NARUTO POV

.

.

.

.

.

.

.

Di ruang perawatan

Sudah belasan menit terlewat sejak kejadian Naruto dengan Hinata barusan. Dan Hinata masih terduduk diam di tempat yang sama.

"Yang ingin kukatakan adalah… Kau terlalu memaksakan keadaan, Hinata.." kata Neji tiba tiba.

Sebenarnya sejak tadi, dia sudah bangun namun karena dia terbangun saat Naruto mengatakan kalau ia mencintai Hinata, dia memutuskan untuk terus berpura pura dalam keadaan tidur.

"Apa niisama sudah bangun sejak tadi..?" tanya Hinata datar.

"Paling tidak.. aku bangun saat dia mengatakan garis besarnya," jawab Neji.

Hinata sejak tadi masih terisak rupanya. Dia bingung harus berbuat apa.

"Apa yang harus kulakukan, niisama? Hiks.. hiks.. hiks.." tanya Hinata terisak.

Neji menatap ke langit langit sambil mengingat ulang kejadian yang barusan dia dengar. Tak ada yang salah sebenarnya. Hinata hanya ingin keadaannya tetap seperti biasanya setelah kejadian ini sedangkan mereka tidak bisa menyalahkan Naruto juga.

"Jujur… Apabila aku di posisi yang sama dengan Naruto pun, kurasa aku juga akan melakukan hal yang sama," jawab Neji.

Tak ada jawaban dari sang gadis Hyuuga. Dia sibuk menangisi kejadian barusan. Dia memang tidak bisa menerima atau dengan kata lain menolak Naruto tapi dia tidak ingin ada yang berubah di antara mereka berdua.

"Janjimu… Janjimu terlalu sulit atau bahkan terlalu menyakitkan baginya dan mungkin untuk setelah ini, sikapnya akan sedikit berbeda kepadamu atau yang lebih parah… mungkin dia akan mulai sedikit menjauhimu…" kata Neji memberitahu.

Hinata terkejut mendengarnya.

"Katakan padaku, niisama…" kata Hinata terputus.

Neji melihat ke arah Hinata yang masih terduduk diam disana.

"Apa aku egois?" tanya Hinata.

Neji memalingkan pandangannya lagi ke langit langit lalu memejamkan matanya sambil menghela nafas pasrah.

"Ya… Kau benar benar egois."

.

.

.

.

.

.

.

Naruto berjalan pelan menuju pintu keluar gedung itu. Suasananya begitu sepi karena memang pada saat itu sudah malam dan kebanyakan murid Akademi sudah tidur. Dia tidak melihat siapapun sepanjang ia berjalan dari ruang perawatan. Matanya sudah membengkak akibat tak bisa menahan air matanya.

Lalu setelah ia melihat ke pintu keluar, ia sadar bahwa sudah ada seseorang yang menunggu disana. Seorang pria tua berambut putih panjang.

"Maaf.. jiisan siapa? Tampaknya ada seseorang yang jiisan tunggu disini.." kata Naruto ketika sampai di depan pintu keluar.

"Aku menunggumu, Naruto…" jawabnya.

Naruto tak menunjukkan banyak ekspresi terkejut karena masih tertutup akan kesedihannya.

"Untuk apa jiisan menungguku..?" tanya Naruto mulai curiga.

"Tak usah curiga padaku, namaku Jiraiya.. Dan kau pasti mengenal nama itu, bukan?"

Naruto mencoba mengingat lagi dimana ia pernah mendengar nama itu sebelumnya. Dan seketika itu juga teringat kalau nama 'Jiraiya' merupakan nama yang sama dengan salah satu 3 Penyihir Sannin Legendaris Konoha.

"Jiisan..!? Sama seperti Tsunade-sama!" kata Naruto menebak nebak.

Orang yang di ajaknya bicara malah sudah berjalan mendahului Naruto. Naruto menoleh memperhatikan langkahnya. Dalam pikirannya, ia bingung mau kemana Jiraiya sekarang.

"Cepat ikuti langkahku atau kau mau tertinggal?"

Entah kemana Jiraiya akan mengajak Naruto pada malam itu. Tapi yang pasti Naruto tahu kalau dia tak bisa melarikan diri dari Jiraiya.

.

.

.

.

.

.

Sedangkan di dalam asrama Holy Knight

Yahiko, Konan dan Nagato masih sibuk mempersiapkan pertarungan untuk minggu depan. Mereka sejauh ini masih memilih Naruto dan Neji sebagai perwakilan namun akibat peristiwa yang menimpa mereka berdua, Yahiko serta rekan rekannya harus mengatur ulang dan mungkin mengganti posisi Naruto dan Neji dengan murid lainnya.

"Apa ini sudah semua data murid tahun pertama yang kita miliki?" tanya Yahiko kepada rekannya.

"Itu sudah semuanya.."

Nagato berjalan ke arah Yahiko lalu meminjam data yang dibawa Yahiko. Ia melihat satu per satu data murid tahun pertama saat ini.

"Tak ada yang sebaik Naruto dan Neji di tahun pertama.. tapi jika diharuskan memilih, aku akan memilih dua nama.." kata Nagato terputus.

"Dan siapa dua nama yang kau pilih itu?"

"Aku akan memilih Aburame Shino dan Inuzuka Kiba.."

Konan baru saja datang membawa kertas kertas baru yang isinya adalah data data penting mengenai asrama Holy Knight, tapi ia sempat mendengar percakapan Yahiko dan Nagato barusan.

"Kurasa Nagato benar.. Mereka berdua tampaknya memiliki kerja sama yang baik. Meskipun secara individu mereka kalah dengan Naruto dan Neji tapi bisa saja secara tim mereka lebih kuat dari Naruto dan Neji," kata Konan setuju dengan pendapat Nagato.

Yahiko menerima pendapat kedua rekannya itu lalu memikirkan ulang mengenai pemilihan wakil tahun pertama.

"…Tinggal 4 hari lagi dan kita dan kita hanya memiliki 2 hari libur mulai dari lusa. Aku tidak yakin mereka siap menghadapi pertempuran ini.. pada awalnya Shino dan Kiba ingin kujadikan tim cadangan akan tetapi jika mereka berdua masuk jadi tim utama.. siapa yang akan jadi cadangan?"

"Aku khawatir apabila peringkat kita tahun ini akan jatuh dan kalah dari asrama lainnya," tambah Nagato.

"Aku sendiri sampai sekarang masih tidak percaya kalau Naruto dan Neji babak belur karena diserang oleh satu orang dari asrama Martial Magic," lanjut Konan.

Selama ini, asrama Martial Magic selalu menjadi yang terbelakang bahkan di angkatan Yahiko, Konan dan Nagato tak satupun yang mampu menyaingi mereka. Namun sekarang keadaan sedikit berubah, bahkan Martial Magic kini memiliki murid yang dapat mendesak 2 orang murid yang dijuluki Talent's From Heaven.

.

.

.

.

.

.

Asrama Pegasus Wing

Shion dan pengikut pengikutnya beradda di sebuah ruang santai asrama Pegasus Wing tahun pertama. Tampaknya mereka menunggu seseorang yang akan datang kesana.

Sudah cukup lama mereka menunggu hingga akhirnya, delapan orang dengan satu orang pemimpin di depannya masuk ke dalam ruangan tersebut. Mereka adalah Shikamaru dan pasukannya yang termasuk Ino dan Choji.

"Akhirnya kau datang juga, pemalas…" kata Temujin.

Satu orang dari pasukan Shikamaru sudah ada yang mau maju menghajar Temujin tapi dihentikan oleh Shikamaru dengan isyarat.

"Jadi, apa yang mau kalian bicarakan denganku?"

"Kalian masih ingat tentang lingkaran sihir raksasa yang muncul dari langit waktu itu bukan?" tanya Taruho.

Shikamaru mengangguk malas.

"Apa hubungannya ini dengan kejadian pada malam itu?" tanya Shikamaru.

"Bisakah kau dengarkan apa yang akan kami katakan hingga selesai?" tanya Taruho mencoba bersikap ramah.

Shikamaru mengiyakannya dengan anggukan.

"Kejadian malam itu melibatkan Naruto dan Neji serta satu orang lagi bernama Lee dari Martial Magic.." kata Taruho.

Ino dan Choji terkejut mendengarnya begitu pula dengan seisi ruangan kecuali Shion dan Temujin. Shikamaru sendiri tak begitu menunjukkan keterkejutannya atas ucapan Taruho barusan.

"Kenapa kau mengatakan informasi rahasia semacam ini di depan seluruh tahun pertama asrama Pegasus Wing?" tanya Shikamaru mengernyitkan alisnya.

Shikamaru dapat menyimpulkan bahwa ini adalah informasi rahasia karena jika tidak seharusnya Akademi memberitahu seluruh murid penyebab kejadian ini. Dan bahkan tak ada yang tahu kalau Neji dan Naruto sedang terluka akibat pertempuran ini.

"Tenang saja.. Semua dapat kami kendalikan karena bahkan jika ada orang di antara kita yang membocorkannya ke asrama lain, dapat dipastikan mereka akan mati keesokan harinya.."

Mereka semua terkejut dengan pernyataan Shion barusan. Shikamaru bahkan cukup terkejut dengan pernyataan sembrona Shion.

"Bagaimana bisa seorang murid Martial Magic sendirian membuat babak belur 2 Talent's From Heaven?" tanya Shikamaru pada Shion.

"Aku juga tidak tahu.. tapi yang jelas mereka sudah membuat malu nama Talent's From Heaven.. Mereka tidak pantas menyandang nama itu lagi," jawab Shion.

"Jadi, kau pikir semua asrama Martial Magic selemah yang dibicarakan?"

"Ya.. Dan kenyataannya Martial Magic hanya sekumpulan sampah, itu artinya jika kedua Hyuuga itu bisa kalah dari seorang yang berasal dari Martial Magic… Mereka berdua lebih rendah dari sampah!" kata Shion tajam.

BRAAAKKK

Shikamaru langsung menggebrak meja keras. Para pengikut Shion sudah menyiapkan kuda kuda untuk bertarung begitupula dengan teman teman Shikamaru yang hanya berjumlah 8 orang itu.

"Aku tidak takut apabila harus bertarung denganmu menggantikan Shion-sama.. tapi sayangnya ruangan ini terlalu sempit untuk dijadikan arena pertarungan," kata Temujin.

"Katakan saja! Apa yang terjadi malam itu!?" tanya Shikamaru sudah sedikit tenang.

Temujin dan Taruho saling menoleh lalu memberi anggukan ke satu sama lain.

"Baiklah… Asal lingkaran sihir raksasa itu berasal dari Naruto!" kata Taruho.

"Naruto!? Sihir sekuat itu!?" Shikamaru bahkan tidak percaya dengan yang di dengarnya.

"Dia pernah menggunakan sihir yang sama saat melawan Neji dulu di acara klan Hyuuga menurut informasi yang kudapat dari pihak kami.."

Shikamaru menaruh kecurigaan pada Shion dan dua pengikutnya sekarang. Sangat aneh, informasi informasi yang mereka dapatkan harusnya rahasia tapi mereka bisa mendapat info itu darimana asalnya?

"Siapa yang memberitahumu tentang kejadian malam itu?" tanya Shikamaru.

"Yang jelas dia adalah orang yang kuhormati sekaligus kulayani.. dia juga adalah Ketua Asrama Pegasus Wing.." jawab Shion.

"Dan kenapa bisa dia mengetahuinya?"

"Tsunade-sama… atau kepala sekolah, memutuskan untuk memberitahu semua sensei mengenai penyebab kejadian ini serta memberitahu semua ketua asrama ditambah dengan gadis Hyuuga yang selalu bersama mereka,"

Shikamaru paham situasinya tapi tetap saja dia berpikir, terlalu gegabah untuk seorang ketua asrama membocorkan rahasia sepenting ini kepada Shion atau bahkan orang kepercayaannya sekalipun.

"Baiklah.. Jadi kita sudah sampai ke topik utamanya bukan?"

"Ya.. Kau benar," jawab Taruho.

"Aku ingin kau menjadi anggota tim utama Pegasus Wing dalam event pertarungan murid tahun ajaran baru yang diadakan 4 hari lagi," kata Shion.

Shikamaru sedikit terkejut dengan pernyataan Shion yang memintanya untuk jadi bagian dalam event ini.

"Bukannya kau dan pengikutmu yang akan maju?" tanya Shikamaru.

Shion menghela nafas malas. Dia menyerahkan sisa penjelasannya kepada Temujin.

"Dikarenakan mungkin Naruto dan Neji tidak akan ikut serta dalam pertarungan itu, Shion-sama memintaku dan kau yang menjadi perwakilan Pegasus Wing.."

Shikamaru memalingkan pandangannya ke arah Shion lagi.

"Apa kau tidak terlalu meremehkan asrama lainnya jika kau beranggapan aku dan Temujin cukup?" tanya Shikamaru datar.

"Itu benar.. Apa kalian lupa jika di dalam asrama DragonCry juga ada salah satu Talent's From Heaven?" tanya Ino tiba tiba.

"Benar! Lagipula masih ada lagi satu perwakilan Martial Magic yang mungkin memiliki kekuatan yang sama dengan orang yang sudah mengalahkan Neji dan Naruto!" tambah Choji.

Temujin paham betul apa yang dikatakan dua rekan Shikamaru tapi dia belum menyelesaikan ucapannya..

"Kami tahu hal itu.. tapi asal kalian tahu, kekuatanku setara dengan kalian para Talent's From Heaven meski tak bisa menyaingi Shion-sama dan pemuda pirang dari Holy Knight itu."

Shikamaru menatap tajam ke arah Temujin dan begitu pula sebaliknya. Shikamaru memutuskan untuk berhenti menatapnya sebelum terjadi hal yang tak diinginkan.

"Lalu bagaimana dengan kemungkinan kalau Naruto dan Neji akan kembali dalam skuad utama Holy Knight?"

"Oleh karena itu, Shion-sama akan menjadi anggota cadangan seandainya mereka berdua kembali.."

"Jadi, bagaimana?"

Ino dan Choji memegang pundak Shikamaru. Terserah padanya sekarang apa dia akan bekerja sama dengan kelompok Shion atau menolaknya.

"Baiklah.. tapi ini demi kemenangan Pegasus Wing, bukan karena aku ingin bekerja sama dengan kalian.."

Shikamaru bangkit dari tempat duduknya lalu bersama dengan kelompoknya ia berjalan menuju pintu keluar.

"Kau mengatakan kalau Naruto dan Neji lebih rendah dari sampah… tapi menurut apa yang kau lakukan, kau akan turun tangan apabila mereka berdua ikut serta bukan? Bukankah itu artinya kau takut dengan sesuatu yang lebih rendah dari sampah?" kata Shikamaru tanpa membalikkan badannya menghadap Shion.

"Kau…!" kata Shion geram.

"Shion-sama!"

Pengikut Shion yang kebanyakan adalah perempuan dan memang kebanyakan murid asrama Pegasus Wing sudah bersiap untuk menyerang sesuai perintah Shion.

"Akan kukatakan saja karena aku dan kau adalah saingan…" kata Shikamaru terputus.

Shion kembali duduk di tempat duduknya dengan tenang.

"…Tak selamanya kau bisa duduk santai di singgasana itu!" kata Shikamaru sedikit menoleh ke belakang ke arah Shion dengan tatapan mengancam.

Lalu mereka pergi dari ruangan itu meninggalkan Shion yang kesal bersama dengan para pengikutnya.

.

.

.

.

.

.

.

Di gerbang masuk hutan Magical Beast yang ada di wilayah Akademi.

"Kenapa jiisan membawaku kemari!?" tanya Naruto ketika ia dan Jiraiya sampai di depan gerbang masuk hutan Magical Beast.

Disana sudah ada lima penjaga yang siap melepas Seal Magic yang dipasang pada gerbang tersebut untuk membuka gerbang masuknya.

"Kau akan tahu kalau kita sudah masuk ke dalam hutan ini.." kata Jiraiya.

Naruto bingung sendiri, kenapa orang ini membawanya kemari tepat setelah ia sadar setelah malam itu.

"Eh!?" Naruto terkejut ketika tiba tiba Jiraiya melemparkan sebuah scroll kepadanya.

Dan betapa terkejutnya dia ketika melihat scroll itu adalah scroll miliknya yang dalam satu scroll berisikan dua sihir. Dan isinya adalah sihir yang ia rencanakan akan ia pelajari sendiri.

"Bukankah ini scroll milikku!?" tanya Naruto.

Isi dari scroll tersebut mengandung sihir milik ayahnya. Yang pertama adalah Namikaze Teleport Magic: Thunder God Wings. Dan yang kedua adalah Wind Style: Rasengan.

"Berarti memang tidak salah aku membawamu kemari.." kata Jiraiya tanpa membalikkan tubuh ke arah Naruto.

Naruto terkejut mendengarnya. Dia sebenarnya bermaksud mengatakan kalau dia mengetahui dua sihir yang ada dalam scroll ini.

'Bagaimana dengan Seven Deadly Sins!? Jika dia dapat menemukan ini.. Seharusnya dia juga menemukan scroll itu! Gawat jika dia sampai tahu mengenai sihir itu!' Batin Naruto panik.

"Bagaimana dengan scroll satunya yang ada di sebelah scroll ini!?" tanya Naruto panik.

"Yang kutemukan hanya scroll kosong dan tak ada isinya," jawab Jiraiya kelihatannya jujur.

Naruto menghela nafas lega. Dalam hatinya ia bersyukur mendengarnya. Itu artinya seluruh sihir yang ada disana sudah benar benar berpindah ke dalam tubuhnya dan tersimpan dalam tubuhnya meski belum bersatu dengan sihir yang ada di dalam tubuhnya.

.

.

.

.

.

Mereka masuk ke dalam hutan Magical Beast dan berjalan lebih jauh ke dalamnya. Naruto melihat ke kiri dan kanan tampak gelap pada malam hari. Karena perhatiannya teralihkan ke Jiraiya dan tujuannya, dia sudah hampir melupakan kesedihannya.

Mereka sudah sangat jauh berjalan dari gerbang masuk. Lalu tiba tiba mereka berhenti di wilayah padang rumput yang luas dan disekelilingnya hanya berisi pepohonan.

"Dan sekarang bisa jelaskan maksud dan tujuan jiisan membawaku kemari?" tanya Naruto curiga.

Jiraiya membalikkan tubuhnya menghadap Naruto. Ketika ia melihat Naruto, sekilas wajah seseorang yang muncul dalam kepalanya. Naruto mengingatkan Jiraiya pada seseorang.

"Mungkin kau belum tahu… tapi aku adalah guru dari ayahmu, Naruto."

Naruto terkejut mendengarnya, matanya terbuka lebar lebar.

"K-K-Kau adalah sensei nya ayah!?" tanya Naruto tidak percaya sambil memberi beberapa langkah mundur dan menunjuk Jiraiya.

"Ya… Minato adalah muridku ketika dulu aku bertemu dengannya saat kami berdua sama sama sedang berpetualang,"

"Apa!?"

"Kau akan lebih terkejut lagi ketika mendengar kalau Kakashi adalah murid dari ayahmu,"

"Apa!? Bagaimana bisa si abu abu itu jadi muridnya ayah!?"

"Saat Minato dulu menjadi ksatria sihir, dia tertarik dengan bakat yang ditunjukkan Kakashi.. Oleh karena itu dia melatihnya,"

Naruto tergeletak tak berdaya saking terkejutnya mendengar cerita Jiraiya tentang ayahnya dulu. Lalu teringat akan ucapan Jiraiya barusan, ayahnya dulu adalah salah satu ksatria sihir Kerajaan.

"Ksatria Sihir!? Ayah dulu adalah ksatria sihir?"

"Ya.. Tepatnya dia dulu adalah salah satu Panglima Besar yang bersembunyi di balik bayangan. Maka dari itu, namanya tak begitu dikenal oleh kebanyakan orang,"

Naruto masih tidak bisa percaya dengan apa yang di dengarnya. Ia teringat lagi dengan kejadian itu, ketika ayah dan ibunya serta kedua klan tiba tiba saja menghilang entah kemana.

"Ugh.." Naruto menahan air mata jika mengingat lagi kejadian itu.

"Maafkan aku karena tidak bisa menyelamatkan muridku sendiri saat itu.."

"Sebenarnya apa yang terjadi pada saat itu?"

Jiraiya hanya diam membalikkan badan membelakangi Naruto lalu melihat ke langit malam.

"Pada saat itu muncul energy luar biasa besar di tempat kejadian itu.. Dan energy itu memusnahkan seisi klan serta kedua orang tuamu, dan aku tak tahu energy apa sebenarnya itu tapi yang jelas manusia tidak mungkin memiliki energy sebesar itu.."

Naruto mengangguk paham dengan apa yang dikatakan Jiraiya barusan. Hanya dia satu satunya yang selamat entah bagaimana caranya tapi yang jelas hanya dirinya yang tidak musnah pada saat itu.

Kejadian itu memberi rasa sakit jika dia mencoba mengingatnya lagi. Tapi sekeras apapun ia mencoba untuk mengingatnya, ia tak pernah berhasil.

"Jadi, apa tujuan jiisan membawaku kemari?" tanya Naruto langsung.

Jiraiya membalikkan tubuhnya menghadap Naruto.

"Kau akan berlatih disini untuk 4 hari ke depan sampai pertarungan murid tahun ajaran baru dimulai!"

"Eh!?"

"Aku sudah memutuskan untuk melatihmu agar menjadi yang terkuat disini dan menjadi yang terkuat di Konoha!"

Naruto merasakan kekuatan yang besar saat Jiraiya tiba tiba mengeluarkan sedikit aura sihirnya. Benar benar kuat. Bahkan lebih kuat dari milik Kakashi dan dialah orang terkuat yang pernah diketahui Naruto sampai saat ini.

"Aku telah mencapai tingkatan Emperor level 10! Dan di Konoha aku adalah salah satu dari 3 orang terkuat yang semuanya diisi oleh 3 Penyihir Sannin Legendaris.." kata Jiraiya mengeluarkan kekuatannya. Kedua tangannya ia sembunyikan di belakang dengan posisi tangan kiri mengenggam tangan kanan.

'Inikah kekuatan seorang Emperor level 10!? Luar biasa ada orang yang bisa mencapai tingakatan ini!' kata Naruto dalam hati terkejut.

Tanah di sekitarnya sedikit berguncang karena kekuatannya. Naruto terkagum kagum sekaligus takut akan kekuatan besar itu.

"Aku… Aku… tak bisa menang melawannya!"

TBC

.

.

.

.

Sorry klo chapter yang ini lebih pendek. Cuma sekitar 5500 word dan lebih sedikit dari chapter sebelumnya. Dan maaf buat typo yang kemarin! Benar benar minta maaf! Terima kasih buat yg udah kasih tahu, aku bahkan sempet gak perhatiin karena ngecek kurang teliti..

Di chapter ini mungkin lebih kebanyakan romance-nya. Aku juga gak tahu feel nya dapet apa enggak tapi setidaknya aku sudah berusaha.

Jangan lupa tinggalkan review!