Disclaimer : All Characters Belong to Masashi Kishimoto.

A/N: Hey, thank you readers. Semoga masih betah membaca fic ini meski sekarang update nya agak lama karena jujur saja setelah menulis setengah perjalanan sulit sekali menemukan ide untuk mengembangkan cerita. Lebih mudah menulis cerita baru daripada menyelesaikannya. Salut deh sama penulis yang sanggup buat chapter banyak-banyak. Maafkan cuap-cuap saya. Please RnR.

The Glass Half Empty

Chapter 10.

Rising Star.

Ino sangat gugup, Ia melepaskan dirinya dari pelukan Sai seketika. Ino merasa malu dipergoki seperti itu oleh Itachi sendiri. Wanita itu merasa bersalah, Itachi mungkin kecewa padanya karena pria itu berpikir Adiknya tidak main-main dalam menjalin hubungan dengannya. Bahkan pria itu meminta Ino untuk menjaga Sasuke.

"Nona Yamanaka, Bisa jelaskan apa yang terjadi?". Mata pria itu menyipit menatap mereka berdua dengan curiga.

"Tidak ada yang harus dijelaskan Uchiha-San."

"Benarkah, Aku melihat kekasih adikku berciuman dengan pria lain. Apa aku harus pura-pura tak menjadikannya urusanku?" Ia tahu adiknya seorang playboy, tapi melihat Sasuke begitu lengket dengan Ino beberapa bulan terakhir ini membuatnya semakin yakin Sasuke punya perasaan pada wanita berambut pirang itu dan melihat apa yang terjadi tadi membuatnya marah. Itachi selalu bersikap protektif pada adiknya dan dia tak akan membiarkan Sasuke disakiti.

Sai melihat kegalauan di mata Ino, Ini kesalahannya. Bila saja ia bisa mengabaikan dorongan kuat untuk menyentuh wanita itu. Ino tak akan berada di posisi sulit, "Maafkan aku Itachi, tadi aku memaksa Ino untuk menciumku."

"Benarkah demikian Nona Yamanaka? Aku tak tahu kalian punya sejarah, tapi mengingat Sai memohon padaku untuk memberimu kesempatan audisi aku yakin dia sangat menyukaimu." Itachi mengarahkan pandangannya kembali pada wanita berambut pirang itu.

Ino menggigit bibirnya sejenak melirik Sai. Pria itu rela dipersalahkan agar dia bisa keluar dari situasi rumit ini, "Itachi aku mohon jangan ceritakan insiden ini pada Sasuke, Aku dan Sai tak memiliki hubungan apa-apa. Aku tak ingin Sasuke membuat masalahnya menjadi besar."

"Baiklah, tapi aku berharap kalian bisa menjaga sikap secara profesional. Aku sudah memutuskan untuk memberikanmu peran itu dan Sasuke akan jadi lawan mainmu. Kalian bertiga akan bekerja bersama jadi aku harap tidak muncul masalah dalam pembuatan film ini."

"Aku paham Itachi, Aku akan menjauhi Ino." Pria berkulit pucat itu mengangguk.

"Sebaiknya begitu Sai. Kau pastinya tak ingin berurusan dengan Sasuke karena mencoba merayu kekasihnya."

Mendengar kalimat Sai, perut wanita itu terasa terpilin. Bagaimana Sai terdengar begitu yakin untuk tak lagi berhubungan dengannya. Padahal Ino tahu mereka berdua akan merindu. Bukankah ciuman tadi cukup menjadi bukti mereka saling membutuhkan. Awalnya Ino berharap ia dan Sai bisa bertemu diam-diam di belakang Sasuke tapi dengan situasi seperti ini tampaknya itu mustahil.

"Ino, Ikut denganku. Ada yang ingin ku bicarakan."

"Baiklah." Ucap Ino lemah. Sebelum dia mengikuti langkah Itachi Uchiha Ino menolehkan kepalanya. Menatap Sai sekali lagi. Dia bisa melihat kesedihan di matanya. Hal tersebut membuat hati Ino sendiri remuk. Dia begitu mencintai Sai tapi keadaan membuat mereka tak bisa bersama.

Itachi mengikuti Ino ke dalam kantornya. Ia merasa putra sulung Uchiha itu akan menginterogasinya.

"Ino, jawab pertanyaan dariku dengan jujur. Apa kau mencintai Sasuke?"

Wanita itu menimbang untuk berbohong tapi ia berpikir ulang. Mungkin Itachi bisa paham situasinya dan menasihati Sasuke untuk melepaskannya. "Maaf Itachi apa kau berpikir hubungan kami berdasar rasa suka?"

"Aku tak tahu, tapi aku yakin Sasuke menyukaimu."

" Dia memperlakukanku seperti seorang budak, Begitukah cara seorang pria menunjukkan rasa cinta?"

"Kalau kau keberatan dengan sikapnya kenapa kau tak putus saja dengannya Ino?"

"Karena dia mengancam membeberkan rahasia kelamku ke media. Dia mengetahui kelemahanku dan membuatku harus tunduk padanya."

Itachi tercengang. Adiknya memang arogan, tak acuh dan kasar, tapi ia tak menyangka Sasuke bertindak kelewat batas seperti ini, "Ino aku tak membenarkan tindakan Sasuke yang mengancammu. Tapi aku mengenal adikku sejak kecil. Dia pastinya sangat menyukaimu sampai menghalalkan cara kotor untuk mendapatkanmu. Mungkin bila kau memintanya, Sasuke bisa mengubah sikap. Adikku menyembunyikan sisi lembut di balik topeng kurang ajarnya. Beri dia kesempatan Ino."

"Aku tak yakin Sasuke akan jadi lebih baik. Aku merasa dia hanya memaksakan kemauannya sendiri. Boleh aku pergi?"

"Kau belum menjawab pertanyaanku Ino. Apa kau punya perasaan untuk Sasuke?"

"Tidak. Aku hanya melakukan yang dia minta, berpura-pura mencintainya. Tanpa paksaan aku tak akan pernah bersamanya."

Itachi menarik nafas panjang. Dia memutuskan bersikap bijak, " Ino aku tak akan ikut campur masalah kalian. Yang aku minta hanya jangan membuat skandal yang berdampak negatif untuk film ini."

"Aku mengerti, Permisi Itachi dan terima kasih kau sudah memilihku untuk peran ini."

"Aku memilihmu karena bakat dan kerja kerasmu, maaf aku tak bisa menolongmu soal Sasuke. Bila ia menginginkan sesuatu dia bisa jadi sangat keras kepala."

"Aku tahu, Aku hanya bisa menanti dia bosan dengan permainan ini. Sampai jumpa."

.

Ino membawa dirinya mengunjungi Teater royal, Ia butuh berbicara dengan seseorang tapi opsi yang dia miliki sungguh sedikit semenjak Sakura berhenti bicara padanya ia nyaris tak punya teman yang bisa ia tuju mungkin hanya Naruto, Gaara atau Temari tapi berhubung Sasuke tak menyukai ia menghabiskan waktunya dengan laki-laki lain apa lagi sampai diliput media maka pilihan satu-satunya hanya Temari. Ia berharap wanita itu punya waktu untuk mendengarkan keluh kesahnya.

Ino memasuki gedung itu dan mendapati Temari sedang berlatih bersama anggota lainnya. Setelah sukses dengan pementasan Romeo dan Juliet serta Ophelia. Mereka semua bersemangat berlatih drama baru. Ino melangkah hingga ke pinggir panggung dan memanggil Temari. Wanita berkuncir empat itu pun menghentikan latihan sejenak untuk menghampirinya.

"Apa yang terjadi Ino? Kau tampak sedih."

"Apakah kau bisa meluangkan waktu untukku sebentar Temari?" Wanita berambut pirang itu memberi tatapan memohon.

"Baiklah, Aku memberitahu yang lainnya dulu."

Kedua wanita itu berjalan menuju kafe di dekat teater yang mereka sering kunjungi. Mereka duduk di pojok yang sepi sambil menyeruput kopi hangat.

"Apa yang terjadi Ino?" Tanya Temari bersimpati.

Ino menggenggam mug kopi hangat dengan kedua belah tangannya. Berharap kehangatan itu akan menjalar ke tubuhnya. Ia menarik nafas panjang sebelum memulai ceritanya.

"Aku mendapatkan peran dalam film Itachi."

"Lalu mengapa kau murung, Harusnya kau senang Ino. Mendapatkan debutmu di layar lebar."

"Aku tak menyukai harga yang harus aku bayar untuk ini. Aku kehilangan sahabatku Sakura dan juga kehilangan Sai. Dia tak ingin berurusan denganku lagi."

Manik aquamarine-nya mulai berkaca-kaca. Mengingat ciumannya dan Sai di koridor. Perjalanan musim panas mereka di Kyoto dan hal-hal kecil lainnya. Air matanya perlahan meleleh mengingat wajah marah dan terkhianati Sakura. Ia mendapatkan peran itu dan kini ia sendirian tentu ia punya Sasuke Uchiha di sampingnya tapi dari pada memberi dukungan pria itu malah menuntut dan menuntut. Ino lelah belum lagi kata-kata jahat yang dia terima di sosial media membuat suasana hatinya memburuk.

Temari bergeser dari tempat duduknya untuk memeluk Ino. "Kau harus kuat Ino. Dunia Entertainment bukan tempat yang indah, bila Sakura memang sahabat sejatimu dia akan kembali dan jangan lupa Ino. Kami anggota teater Royal juga adalah temanmu. Bila kau butuh seseorang telepon saja aku."

"Terima kasih Temari. Aku hanya tak tahan dengan rasa sakit hati ini. Sai menjauhiku padahal kami saling mencintai."

"Bukankah kau berpacaran dengan Sasuke Uchiha?"

"Karena terpaksa Temari, Aku tak ingin bersamanya tapi aku tak bisa lari darinya." Isak tangisnya mulai mereda. Ino memang perlu meluapkan emosinya agar merasa lega.

Merasa Ino sudah lebih tenang. Temari melepaskan pelukannya dan menatap Ino dengan serius. "Ino aku mengerti patah hati itu berat, Mungkin kau dan Sai belum berjodoh dan berusaha fokus pada Sasuke. Daripada kau kesal dengan hal-hal negatif, Mengapa kau tak mencoba melihat hal positif yang pria itu lakukan mungkin dengan begitu hubunganmu dengannya tak akan begitu terasa menjadi beban."

"Itachi juga berpesan seperti itu padaku. Bisakah percaya ada kebaikan pada Sikap Sasuke. Dia begitu mengesalkan, Dominan, Arogan dan meremehkanku."

"Coba pikir dengan baik Ino, Bila Sasuke meremehkanmu mengapa dia bersusah payah mendapatkanmu? Mengapa dia juga repot-repot mempromosikanmu di media. Aku rasa dia peduli padamu, meskipun caranya cukup aneh."

"Kau pikir Sasuke punya rasa untukku?"

"Mungkin, Orang tak akan susah payah berusaha mendapatkan sesuatu hanya untuk dibuang. Kau yang harus mencari tahu."

Bicara dengan Temari membuat rasa kalutnya berhenti. Ino sadar situasi tak akan berubah selama Sasuke bersikeras ingin memilikinya. Apa yang bisa Ino lakukan hanya berusaha menjalani perannya dengan baik hingga situasi berubah. Dia berharap sampai masa ini berlalu perasaan Sai padanya tak berubah karena bagi Ino. Semakin pria itu menjauh darinya semakin Ino memikirkan sang penulis eksentrik itu.

.

Sasuke duduk di ruang ganti, menegak botol air yang dia ambil dari tas duvelnya. Tubuh pria itu bersimbah keringat setelah melakukan latihan fisik yang menguras tenaga. Dia baru saja menyelesaikan sesi gym-nya, Dia harus menurunkan berat badan untuk menjalani peran di film berikutnya.

Pria itu mengecek ponselnya dan bertanya-tanya mengapa Ino belum menghubunginya padahal dia Ia telah meninggalkan pesan tadi siang dan ini sudah hampir malam tapi belum juga ada balasan. Wanita itu dengan lancang mengabaikannya.

Sasuke mulai merasa bosan mengingatkannya terus-menerus kalau dia adalah kekasihnya. Andai saja Ino menuruti kemauannya dia tak akan perlu bersikap kasar. Mengapa wanita itu tak melihat sebenarnya dia peduli padanya meski dia membatu Ino tidak dengan tulus. Manusiawi rasanya jika ia menarik balasan untuk semua yang telah ia lakukan pada wanita itu.

Sasuke teringat hari ini adalah hari audisi Ino. Apa wanita itu melakukannya dengan baik?, Sasuke bahkan meluangkan waktunya untuk membantu Ino berlatih. Dia berpesan pada Itachi kalau ia hanya akan terlibat dalam film ini bila Ino mendapatkan peran utama.

Ia mencari nomor ponsel kakaknya.

"Sasuke, Ada apa menghubungiku?"

"Bagaimana hasil audisinya?"

"Ino belum memberitahukannya padamu?"

"Tidak, Dia bahkan tak membalas pesanku."

Dari nada yang Sasuke gunakan. Itachi bisa merasakan kegusaran adiknya. Ino sepertinya memang tak memedulikan Sasuke dan itu membuat adiknya gila. Sekarang dia paham sifat dari hubungan mereka.

Sasuke selalu mendapatkan perhatian orang-orang dan Ino tak seperti wanita lain. Jadi adiknya berusaha agar wanita itu memedulikannya meski dengan cara yang dipertanyakan.

"Ino mendapatkan peran utama dengan begitu kau akan bergabung denganku."

"Baguslah. Aku senang kau juga mengakui dia wanita berbakat."

"Sasuke boleh aku bertanya satu hal?"

"Tanyalah. Aku tak pernah menyimpan rahasia darimu, Kak"

"Apa kau menyukai Ino atau sekedar mempermainkannya saja?"

Sasuke tercengang dengan pertanyaan itu. Tak biasanya Itachi mengurusi masalah pribadinya. "Mengapa tumben kau ingin tahu masalah pribadiku?" Sasuke balik bertanya.

"Bila kau tak serius dengannya lepaskan saja Ino. Aku tak ingin ketika hubungan kalian memburuk di tengah jalan akan mengganggu jalannya pembuatan film ini."

"Tenang Kak, Kami ini profesional. Aku tak akan membawa masalah pribadi dalam pekerjaan."

"Dan Dengar Nasihatku Sasuke. Perlakukan Ino dengan lebih baik. Aku merasa dia tak bahagia bersamamu."

"Mengapa kau tahu hal itu? Aku rasa dia bercerita satu atau dua hal padamu. Tak kuduga Ino tipe wanita yang suka mengadu."

"Aku punya mata Sasuke untuk melihat wajah bahagia atau pura-pura bahagia."

"Itachi, dengar!" ucap Sasuke dengan nada awas. "Yamanaka Ino bukan urusanmu."

"Memang bukan tapi kau adikku. Wajar bila aku peduli padamu. Aku tak ingin kau terluka." Itachi terdengar tulus dan khawatir.

Mendengar hal itu Sasuke malah terkekeh, Apa yang mungkin melukai dirinya?, Ino?. Itu mustahil. "Aku tahu apa yang sedang aku lakukan. Selamat malam Kak." Sasuke mengakhiri teleponnya.

Kali ini ia akan membiarkan Ino mengabaikannya. Tapi besok ia akan membuat wanita itu membayarnya. Tak hanya itu, Ino bahkan berani mengadu pada Itachi. Apa yang sebenarnya wanita itu rencanakan?.

.

Tidak biasanya pria itu keluar dari apartemen yang menjadi surganya dan tidak biasanya juga ia pergi untuk mencari pertemanan. Sejak kapan kebisuan dan kesunyian yang menjadi penghiburan berbalik menjadi musuh yang mencekik nafas yang mengalir di tenggorokannya. Ia merasa tak nyaman terkungkung dalam ruang yang dipenuhi potret seseorang. Setiap saat kenangan demi kenangan melintas di kepalanya. Tiap senyuman, tiap tawa. Bahkan dia mengingat binar mata hijau toska-nya. Yang kerap mengingatkannya pada keindahan samudra pasifik yang dangkal. She was his for a time, but not anymore. He lets her go.

Dengan hampa ia menatap gelas brandy yang dipenuhi cairan berwarna amber keemasan berharap dengan beberapa tegukan minuman ini bisa mengangkat kekosongan yang tiba-tiba saja singgah di hatinya. Dia telah celaka dengan ceroboh membiarkan seorang wanita menembus pertahanan dirinya. Membuat dirinya terbuai dan terbius dalam pesona feminin yang menyadarkannya akan kebutuhan emosi yang telah lama terabaikan. Kini wanita itu milik orang lain dan Sai tak pernah merasa sama lagi.

Dia minum perlahan, Setiap tetes cairan itu membakar kerongkongannya. Memberikan tubuhnya kehangatan dan kedamaian yang hanya bersifat sementara. Pria berambut gelap itu mendesah. Setiap kali ia menutup mata ia akan melihat kejadian tadi siang dan merasa how right it was. Tapi itu salah. Ia tak boleh mencium milik orang lain. Sai menyisir rambutnya dengan jari, frustrasi. Ia menyesal tak bisa menahan diri. Apa lagi hal itu sampai ketahuan orang lain. Dia begitu bodoh.

"Sai," Seseorang duduk di kursi sebelahnya. "Mengapa kau tampak kusut?"

"Ada yang mengganggu pikiranku. Terima kasih sudah datang kemari. Aku tak menyangka kau akan menemuiku."

"Kebetulan aku tidak ada acara, Apa yang membuatmu menghubungiku? Kau mau merevisi naskahnya lagi?."

"Ini bukan tentang pekerjaan." Sai meraih rokoknya dan menyelipkannya di bibir.

Kedua pria itu duduk bersisian tanpa saling pandang. Mereka menatap pada rak penuh minuman keras yang berdiri di belakang meja Bar. Sang bartender meletakan gelas berisi scoth untuk Itachi. Pria yang lebih tua itu menghela nafas. Ia tak menduga pria tertutup seperti Sai mau membicarakan masalah pribadinya, "Apa kau mau membicarakan insiden tadi siang?"

"Iya, Aku tak ingin kau salah paham dengan diriku dan Ino, apa dia sudah menjelaskan padamu apa yang terjadi?" Sai menghisap asap rokoknya dan menghembuskannya ke udara. Merokok membuat dirinya tetap sibuk ketika ia dalam keadaan diam menanti jawaban Itachi.

"Kurang lebih dia menjelaskan dinamika hubungannya dengan Sasuke. Dia menjelaskan secara tak langsung kalau dia tak punya perasaan untuk Sasuke. Apa kau dan Ino punya hubungan sebelumnya?. Aku melihat kalian bersama di acara penghargaan itu"

"Aku mencintainya, Dia mencintaiku tapi adikmu muncul di antara kami."

"Kalau memang begitu mengapa kau membiarkan Sasuke merebutnya darimu?"

"Karena aku ingin Ino bahagia. Aku tak punya kemampuan untuk membahagiakannya. Lagi pula Sasuke memegang rahasia Ino. Adikmu punya kekuatan untuk memengaruhi kariernya, Lebih bijaksana bila aku mengalah."

"Tapi kau dan Ino terlihat tak bahagia." Pria itu meneguk minumannya. Sai hanya kolega tapi Itachi menaruh simpati pada pria pendiam itu. Rasa rendah diri Sai membuatnya menarik diri dari persaingan dengan Sasuke.

"Jika kau bisa, Tolong nasihati Sasuke untuk memperlakukan Ino dengan baik."

"Aku telah melakukannya, tapi apa kau mengerti mengubah hati bukan perkara mudah."

"Aku paham, Aku tak akan muncul di saat pengambilan gambar dimulai. Tugasku selesai begitu naskah final aku serahkan padamu."

"Kau berniat menghindari mereka?"

"Itu jalan yang terbaik. Aku tak ingin membuat konflik."

Kedua pria itu menghabiskan minuman mereka dalam diam. Mereka sibuk menyelami pikiran masing-masing. Itachi tak ingin ikut campur urusan asmara orang lain tapi ia tak ingin Sasuke membuat kesalahan besar. Barangkali dia bisa bicara lagi pada adiknya dan anak keras kepala itu mau mendengarkannya. Keegoisan Sasuke telah membuat dua orang menderita.

.

.

Ino memasang anting di telinga kirinya, Menatap bayangannya di cermin dia mendesah. Beruntung make up nya berhasil menutupi matanya yang sembab akibat menangis semalam suntuk. Bukankah seharusnya dia gembira, Debut yang ia nanti-nantikan telah muncul di depan mata. Dia mendapatkan semua yang dia inginkan di genggaman tangannya, uang, kecantikan, kepopuleran, pacar yang tampan, but she feels empty inside.

Suara bel apartemennya membuat Ino berhenti menenggelamkan dirinya dalam kegiatan mengasihani diri sendiri. Ia begitu menyedihkan hingga membuat dirinya muak. Sejak kapan seorang Ino Yamanaka membiarkan emosi mendikte hidupnya. Dia punya ambisi, Dia punya tujuan tak seharusnya ia bimbang hanya karena masalah hati. Persetan dengan Sai yang tak memperjuangkannya. Persetan dengan Sasuke yang terus-menerus memaksanya. Ino tak butuh keduanya. Putus wanita berambut pirang itu.

Ino membuka pintu mempersilahkan Sasuke masuk. Pria itu membawa rangkaian bunga lili yang cantik dan menyerahkannya pada wanita itu. "Bunga yang cantik untuk wanita tercantik." Sasuke kemudian mengecup pipinya.

Ino berkedip merasa aneh dengan tingkah Sasuke. Dia mengharapkan pria itu datang dengan marah-marah dan bersikap sarkastis seperti biasa.

"Mengapa membawakan bunga? Tak seperti dirimu saja." Ino meletakan bunga itu di Vas.

"Bukankah kita punya sesuatu untuk di rayakan? Pekerjaan pertamamu sebagai artis dilayar lebar."

Mata Ino membelalak, "Bagaimana kau tahu?"

"Aku menelepon Itachi.", Sasuke menahan diri untuk tidak membuat komentar tentang Ino yang bahkan tak peduli untuk mengabarinya.

"Kakakmu bilang kau akan bermain dalam film itu juga. Apa benar?"

"Ya, Aku bilang pada Itachi kalau aku hanya akan ikut bila kau menjadi peran utamanya."

Ino melangkah mendekati Sasuke dengan heran. "Mengapa?"

Sasuke mengengam tangan wanita berambut pirang itu, " Karena aku ingin beradu akting denganmu. Telah lama aku perhatikan dirimu di kelas. Kau begitu berbakat dan aku tak mengerti kenapa tak satu pekerjaan pun jatuh padamu."

"Tunggu, Tunggu dulu Sasuke, Apa kau mau bilang kau telah memperhatikanku sejak lama?"

Oh sial, Sasuke tak bermaksud membuka kartunya kalau diam-diam dia memang memperhatikan Ino sejak awal kemunculan wanita itu disekolah aktingnya. "Jangan salah, aku hanya mengagumi aktingmu." Sedikit rona merah muda menjalari pipinya.

Ino tersenyum miring. Dia tahu bagaimana cara lepas dari Sasuke. Pria itu berpikir mengontrol Ino dengan ancaman yang dia buat, tapi bila ia benar-benar bisa membuat Sasuke tergila-gila padanya. Dia bisa memainkan pria itu seperti boneka.

Ino merapatkan tubuh mereka, dadanya menempel di dada pria itu. Dengan gerakan malas dia melingkarkan lengannya di leher Sasuke. "Jadi selama ini kau bertingkah brengsek hanya untuk mencari perhatianku, Strategi yang kekanak-kanakan dari seorang play boy ternama."

"Hati-hati, Jangan besar kepala Ino." Wanita itu menyentuhnya tanpa perlu diminta terasa begitu segar bagi Sasuke. Mungkin bila ia bersikap baik Ino akan melunak. Dia perlu mengubah pendekatannya.

Ino memandang Sasuke dari bawah bulu matanya yang lentik. Jari telunjuknya menyusuri pipi dan rahang pria itu dengan sentuhan yang nyaris tak berasa, "Kau berbohong Sasuke, aku bukan lagi sekedar mainan untukmu, Bukankah begitu?"

Sasuke diam, terhipnotis oleh kecantikan Ino. Sepertinya wanita itu mengalahkannya dalam permainan kecil mereka.

"Biar aku yang mengatakan apa yang mulutmu tak bisa katakan." Ino menyeringai layaknya kucing mendapat ikan. "Kau menyukaiku Sasuke."