Chapter 10: Crying Maiden

"Yuuma-san..."

Aku memanggilnya, namun ia tidak dapat mendengarku.

Ia tidak dapat menyadari diriku.

Ia tidak dapat merasakan hawa keberadaanku.

Yuuma... Sesungguhnya, apa yang terjadi?

*Tap*

Tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk bahuku. Begitu aku menoleh ke belakang, ternyata adalah Azazel yang menepuk bahuku, beserta juga Issei yang kondisinya saat ini babak belur habis dipukuli.

Namun anehnya...

Seingatku tadi Issei mengalami pendarahan, namun sekarang, ia nampak tidak terluka, hanya terlihat bengkak-bengkak seperti habis dipukuli. Bekas lukanya tidak ada.

"Sebaiknya kamu pulang, Naruto-kun. Ini sudah sangat larut."

"Tapi, sensei..."

"Kamu akan menemukan jawabannya besok."

"Baiklah..."

Akhirnya aku pulang, meninggalkan Yuuma yang masih kebingungan mencari diriku.

Sebenarnya, ada apa dengan Yuuma? Mengapa ia tiba-tiba begitu?


Keesokan harinya, aku seperti biasanya, berjalan menuju ke sekolah. Hari ini cukup dingin, dan aku kembali mengenakan trench coat bewarna dominan hitam dengan sedikit hiasan garis bewarna oranye. Sepertinya musim dingin sudah tiba, dan salju akan turun dalam waktu dekat ini.

Sesampainya di depan gerbang sekolah, seperti biasa, aku melihat Yuuma sedang menunggu disana.

"Yuuma-san..."

"Naruto-kun..."

Ia menoleh ke arahku.

Namun...

"Sepertinya ia tidak datang hari ini..."

Yuuma kemudian berbalik meninggalkan diriku di depan pintu gerbang sekolah ini.

Saat pelajaran pun juga.

Ia hanya duduk meringkuk di samping kursiku. Ia tidak menyadari diriku, bahkan mungkin ia tidak dapat melihatku...

"Naruto-kun..."

Kucoba untuk menyentuhnya, namun niat itu kuurungkan. Aku tidak mau kejadian kemarin malam terulang kembali, dan membuat Yuuma tersiksa...

"Naruto-kun, aku yakin kamu ada disini..."


"Pasti ini terjadi. Karena kamu mengetahui tentang masa lalu Yuuma. Jadinya ia tidak dapat melihatmu."

Aku akhirnya berkonsultasi dengan Sona tentang masalah ini. Saat ini kami sekarang di atap sekolah waktu jam istirahat.

"Yuuma menghilangkan ingatannya. Tepat sesaat sebelum ia meninggal dunia." Ia menambahkan.

"Ini benar-benar menyedihkan... Ini kesedihan yang terlalu banyak untuk satu orang..."

Aku yang kembali teringat dengan kenangan tersebut, sukses membuat jantungku terasa tertusuk.

"Melihat ingatan yang ingin dilupakannya berada di dalam dirimu..."

"Tapi itu..."

"Maka dari itu, Yuuma telah menutup sepenuhnya dirimu dari dirinya. Dengan kata lain, kamu telah menjadi seperti Raynare."

"Tidak..."

"Yuuma tidak dapat melihat Raynare, namun suatu saat, dengan kondisi tertentu ia dapat melihat Raynare. Akan tetapi, Yuuma akan langsung membuang itu dari pikirannya dan membuat Raynare tidak terlihat lagi olehnya. Kamu akan tidak dapat melihatnya lagi, aku takut itulah yang terjadi padamu."

Penjalasan Sona sukses membuatku tertusuk ribuan pedang.

Apakah aku tidak akan dapat melihat Yuuma kembali?

Aku tidak menginginkan hal itu.

Aku ingin, Yuuma dapat kembali menyadari keberadaan diriku...


Sekarang, aku melihat Rias begitu menikmati bekal makanan yang dibawanya. Ia terlihat begitu anggun dan elegan.

Dibelakangku, berdirilah Yuuma, yang sedang menunggu diriku, yang sebenarnya sudah berada di dekatnya.

"Kamu tidak makan, Naruto-kun? Hanya beli sekotak susu?"

Rias mengomentari diriku yang hanya meminum sekotak susu.

"Aku tidak nafsu makan, Rias-senpai. Jadinya aku hanya membeli susu."

"Apa kamu sakit?"

"Tidak, aku baik-baik saja. Hanya nafsu makanku berkurang akibat kemarin terlalu bnayak makan."

"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Tapi Naruto-kun, makan berlebih itu juga tidak baik lho."

Ia menasehatiku layaknya ibu yang sedang menasehati anaknya.

"Naruto-kun... Kamu dimana..."

Yuuma memanggilku dengan lirih.

"Aku disini, Yuuma-san."

"Ada apa, Naruto-kun?"

Rias yang mendengar suaraku terkejut. Karena aku tiba-tiba saja berbicara sendiri tanpa sebab.

"Eh- tidak apa-apa kok, Rias-senpai."

"Naruto-kun, ini benar-benar kamu kan?"

Suara lirih Yuuma kembali terdengar.

Aku kemudian langsung berdiri, dan berniat meninggalkan tempat ini.

"Mau pergi kemana, Naruto-kun?"

"Maaf Rias-senpai, aku ingat ada suatu urusan yang harus kuselesaikan. Aku duluan senpai."

"Hati-hati."

...

...

"Naruto-kun... Aku tahu itu."

Yuuma tersenyum.

"Rasanya... dia menjadi hantu..."

SFX no 1: Tetesan air

"HIIIYAAAAA"

Aku berteriak sekeras-kerasnya di dalam koridor sekolah...

Aku adalah hantu. Tidak ada yang menyadari keberadaanku.

Tidak ada...

Tidak ada...

Itu tidak benar, Yuuma.

Tidak ada yang melihatku.

Aku melihatmu.

Tidak ada yang mendengar suaraku.

Aku mendengarnya.

Tidak ada yang menyentuhku.

Aku lantas mencoba untuk meraih Yuuma, menyentuhnya...

Crap-

"TIDAK! Hiks...hiks...hiks..."

...


"Rasanya aku sudah kembali menjadi hantu."

"Oh begitu."

Sona menjawabnya dengan tempo cepat.

"Pada tingkatan ini, Yuuma bahkan mungkin melupakan diriku suatu hari nanti nanti."

Sona kemudian menyilangkan kedua tangannya.

"Bukannya manusia dan hantu harusnya seperti itu? Mungkin sudah waktunya dirinya untuk menghilang."

Aku terdiam.

"Ada apa? Tak ada reaksi?"

"Kamu mungkin benar."

"Ck-"

"Jika sentuhanku menyebabkan Yuuma-san menderita, Aku tidak harus pergi mendekatinya. Jika keberadaanku memaksanya untuk mengingat kembali kenangan yang mengerikan dan membuatnya sedih..."

"Apakah kau serius mempercayainya?"

"Eh-"

"Kau bohong jika kau mengatakan mundur dan menjauhi dirinya! Sebenarnya, kau hanya takut!"

"Tapi..."

"Apakah kamu benar-benar berpikir dia menginginkan itu?"

Sona tiba-tiba marah kepadaku, lantas kemudian ia mendekati diriku, dan kemudian memegangi bahuku dengan eratnya.

"Kau tahu apa yang membuatku kesal?! Harus menonton kalian berdua menjadi satu karena kau berpikir tidak ada yang bisa melihatnya!"

"Sona-senpai..."

"Tapi apa yang lebih buruk lagi? Tidak ada yang bisa kau lakukan sekarang!"

Wajahnya memerah karena terus menerus marah kepadaku.

"It-itu menggelikan."

"Ya, ini benar-benar menggelikan! Bulatkan tekadmu!"

Ia lantas mendorongku sampai ke dinding.

"Kau mencintainya, kan? Kau tidak ingin kehilangan dirinya, bukan? Jadinya, Janganlah kau berbohong pada dirimu sendiri!"

"Aku tidak pernah bermaksud..."

"Kalian berdua harus bertanggung jawab..."

Sona kemudian menangis.

"Kalian begitu kompak saat kegiatan klub...hiks...hiks..."

"Sona-senpai..."

"Aku tidak akan membiarkan kalian berdua berpisah karena sesuattu hal sekecil ini! Aku tidak ingin pembentukan klubmu bersamanya hancur hanya gara-gara ini!"

Lantas ia meninggalkan diriku, lari dalam tangisnya.

Ia begitu meluapkan perasaanya tadi. Dan itu membuatku menyadari sesuatu...

Aku tidak boleh lemah. Aku harus bisa menyelesaikannya!


Aku kemudian berjalan menuju ke ruang klub, dan berkeliling di dalamnya. Begitu banyak hal yang indah bersama dirinya di ruang klub ini. Dan pada akhirnya, aku mengambil buku jurnal kegiatan klub Investigasi Aktivitas Paranormal. Dan membaca isinya...

Yuuma: Aku merindukanmu... Naruto, jangan memaksakan dirimu terlalu keras.

Yuuma-san...

Naruto: Yuuma...aku juga...

Hari berganti menjadi malam, dan Yuuma akhirnya melihat pesan yang ditinggalkan oleh Naruto.

"Naruto-kun...'

Ia tersenyum.

Yuuma: Aku kesepian.

Naruto: Aku juga kesepian, Yuuma.

Yuuma: Aku ingin melihat wajahmu.

Naruto: Aku ingin melihat senyumanmu.

Yuuma: Aku ingin mendengar suaramu.

Naruto: Aku ingin berbicara denganmu.

Yuuma: Aku ingin kamu menyentuhku, Naruto.

Naruto: Aku juga... ingin menyentuhmu...

Yuuma: (menggambar telapak tangannya) Sentuh aku, Naruto...

Aku menyentuhnya. Menyentuh telapak tangan milik Yuuma, yang digambar olehnya...

Ini sangat hangat, Naruto... Sentuhanmu begitu hangat...

Suatu sore,

Di ruang klub,

Naruto...

Iya, Yuuma...

Terima kasih...

Aku juga merasa senang. Bahkan jika kamu tidak dapat melihatku, Aku bisa melihatmu. Aku bisa mendengar suaramu. Dan kita bahkan dapat bertukar perasaan seperti ini...

Tidak...

Eh-

Hiks...hiks...

Aku sangat kesepian...

Ini sangat sangat sakit...

Kupikir aku lupa selama ini...

Kupikir aku telah dapat menyingkirkan perasaan ini...

Yuuma...

Seseorang, Tolong aku...


"Selamat pagi, Naruto-kun!"

"Selamat pagi, Rias-senpai. Tumben..."

Tak biasanya Rias menyapaku di pagi hari, saat aku berjalan menuju ke sekolah. Kukira ia berangkat ke sekolah diantar oleh limusin mewah, namun ternyata, ia berangkat ke sekolah dengan jalan kaki.

"Aku tahu, aku ini berasal dari keluarga kaya. Namun, aku suka hidup mandiri, dan juga lebih suka berangkat ke sekolah berjalan kaki. Kemarin-kemarin aku tinggal di rumah dan berangkat menggunakan kereta. Namun, sekarang aku lebih memilih untuk tinggal di apartemen dekat sekolah."

"Wah, Rias-senpai sungguh hebat."

Aku memujinya.

"Biasa aja, kok. Ngomong-ngomong, ini hadiah untukmu. Aku belum balas budi terhadapmu saat ketika kamu menolongku waktu itu, jadi terimalah."

Aku lantas menerima pemberian dari Rias. Seketika itu juga aku teringat sesuatu...

"Ini..."

Aku tak asing dengan kaleng yang kupegang saat ini...

"Permen legenda dari keluarga Gremory. Dibuat lagi sejak 60 tahun yang lalu, dengan rasa yang sama."

"Permen..."

"Kami juga akan membuat produk lama lain yang terkenal di masa lampau. Coba cicipi, Naruto-kun."

Aku lantas mencicipi permen pemberian Rias.

...

"Memang benar..."

Begitu familier...

"Rasanya tidak berubah."

"Eh? Kamu sudah pernah mencobanya sebelumnya, Naruto-kun? Tapi ini baru dibuat lho, selama beberapa dekade..."

Rias kaget dengan perkataanku.

"Eh- Maksudku... Rasanya benar-benar begitu nostalgia. Kembali ke jaman lampau..."

Yuuma pernah memakan ini bersama Asa, seingatku...

Asa...

Asa?!

Aku kembali teringat kenangan Yuuma yang mengerikan.

"Maaf, Rias-senpai. Aku ingat ada urusan pagi ini, aku pergi dulu! Bye~"

"Ah, hati-hati, Naruto-kun."

"Oh ya, aku lupa. Terima kasih, Rias-senpai!"

"Ah..."

Rias terbengong-bengong melihat tingkah diriku.


"Maafkan aku, Sona-senpai. Memintamu melakukan hal ini..."

"Jangan dipikirkan. Ini bukan masalah besar."

Kami berencana untuk menemui nenek Sona, dan untuk itu, aku meminta bantuan Sona.

Dan aku dibawa Sona menuju ke depan ruangan yang nampaknya merupakan tempat dimana orang penting di Akademi Kuoh ini berada.

"Ini adalah..."

"Benar. Nenekku adalah ketua dewan Akademi Kuoh."

Tak kusangka-kusangka, tak terduga sama sekali olehku.

"Tolong jangan bilang ke siapa-siapa. Ini tidak baik bagi murid-murid. Dan para guru, sudah memperlakukanku secara berbeda selama 3 tahun ini. Itulah mengapa hal ini termasuk rahasia."

"B-baiklah."

Aku menuruti saja. Lagipula aku juga tak suka mengumbar rahasia orang lain.

"Sampai hari ini, aku tidak memberitahu nenekku bahwa aku dapat melihat Yuuma."

"Kenapa?"

"Karena itu hanya akan membuatnya sedih."

*TokTok*

"Silahkan masuk."

Lantas kami berdua memasuki ruangan ini.

"Maaf menganggu anda."

"Ini adalah nenekku, Yuuna Sitri. Sebelum menikah, namanya Amano Yuuna."

Jadi ini adiknya Yuuma. Di usia senjanya, ia masih begitu kuat untuk menjadi ketua dewan akademi. Yang menarik perhatianku adalah, senyumannya yang begitu hangat.

Dan sempat, beberapa saat, aku merasa tidak mampu melihatnya karena malu.

Malu akibat aku pernah melihat tubuh telanjangnya di usia remajanya.

"Kamu sudah sangat dewasa, Naruto-kun."

Eh-

Beliau mengenalku?

"Sona sudah bercerita padaku. Apa benar? Bahwa kamu juga dapat melihat Yuuma?"

"Juga? Berarti anda..."

Aku merasa aneh. Pertanyaannya memiliki konteks bahwa ia juga dapat melihatnya.

"Ya. Aku bisa melihat hantu kakakku itu selama ini. Aku melihatnya dalam bentuk yang mengerikan, diwarnai dengan kemarahan serta kebencian."

"..."

"Tampaknya orang-orang, siapaun yang mengorbankan kakakku, juga dapat melihatnya, dan juga ketakutannya. Dalam waktu lama, setiap pembicaraan hal tersebut dilarang. Dan mereka yang mengorbankan kakakku akhirnya menjadi gila, mati dalam ketakutan mereka akibat terus dihantui oleh kakakku."

"Oh, begitu..."

"Kemudian, di saat usiaku masih muda, aku ditugaskan untuk memimpin sekolah ini. Mengetahui bahwa tubuh kakakku dimakamkan di sayap banguan lama, aku tidak akan pernah menghancurkannya. Aku melestarikannya dan menjadikannya sebagai peringatan. Namun, roh kakakku tidak bisa beristirahat, dan itu terus mengahantui Akademi Kuoh ini. Tidak ada yang bisa kulakukan untuknya..."

Di akhir perkataanya, nada beliau terdengar begitu sedih...

"Itu tidak benar."

"Eh-"

"Yuuma akan baik-baik saja. Dia baik dan cantik... Dia mudah merasa terganggu... tapi dia selalu ceria."

"Apakah kamu benar-benar dapat melihatnya?"

"Iya."

Aku mengatakannya dengan senyuman yang lebar.

"Dia sama baiknya, cantiknya Onee-sama. Saat ia merawat Asa-chan pada waktu itu."

"Bagaimana kamu tahu tentang hal itu?"

Beliau terkejut tentang seberapa banyak yang kuketahui tentang Yuuma.

"Aku... aku ingin kembali berbicara dengan Yuuma lagi. Alasan saya untuk menemui anda hari ini, adalah karena saya ingin mengetahui lebih banyak tentang Asa-chan."

"Tentang dia?"

Beliau kemudian tertawa kecil.

"Kurasa perasaanya telah dialihkan kepadamu."

"Eh-"

Beliau lantas mengambil sebuah album besar yang tersimpan di rak buku ruangan ini.

"Baiklah, mari kutunjukkan."

Halaman pertama, foto beliau bersama Yuuma di depan Akademi Kuoh.

Halaman kedua, foto beliau bersama Asa.

"Asa-chan..."

Beliau tertawa kecil.

"Kamu belum melihatnya, kan? Foto ini..."

Lantas beliau membuka halaman selanjutnya, dan itu membuatku terkejut.


Kemudian, setelah menemui beliau, aku lantas berlari menuju ke temoat dimana aku dan Sona bertemu untuk pertama kalinya. Disana juga terdapat batu nisan Yuuma yang kami temukan saat dulu aktifitas klub berjalan lancar. Batu nisan yang mungkin menjadi penghormatan atas Yuuma...

Dan di bawahnya, terdapat lonceng milik Asa yang diberikan Yuuma kepadanya.


Sore harinya, aku menuju ke ruang klub. Kubulatkan tekatku, untuk membuat Yuuma kembali dapat melihatku dan menyelesaikan masalahnya terhadap masa lalunya dengan cara apapaun.

Iya, dengan cara apapun.

Di tanganku sekarang, terdapat sebuah baseball bat, yang siap kugunakan untuk menghancurkan setiap benda yang ada di ruang klub ini.

Yuuma sekarang, sedang melihat ke arah luar jendela, yang dimana di luar sana, sudah mulai turun salju.

"Apakah itu salju?"

Yuuma terus memandangi salju yang perlahan-lahan mulai turun.

Aku yang melihatnya menjadi tidak tega, namun, aku harus melakukan ini. Demi kebaikan Yuuma sendiri.

Kubulatkan tekatku, dan dengan sekuat tenaga aku mulai memukul semua benda-benda yang ada di ruang klub.

"Maafkan aku, Yuuma..."

SFX no 2: Benda-benda dihancurkan!

Mendengar kegaduhan di ruang ini., Yuuma tiba-tiba langsung depresi. Ketakutan yang ada di dalam dirinya langsung muncul ke permukaan.

"Ada apa ini... kenapa..."

Aku terus menerus berbuat vandalisme di ruang klub ini.

"Apa itu...Kenapa...Kenapa..."

Aksi vandalisme yang kulakukan semakin menggila! Setelah melihat respon dari Yuuma.

Maafkan aku, Yuuma...

"Tidak...tidak..."

Pada akhirnya, buku jurnal kegiatan klub yang berisi percakapan di antara kita, secara perlahan namun pasti, kurobek.

"Tidak...tidak...tidak..."

Mulai robek...

"Tidak...tidak..."

SFX no 3: Suara kertas terkoyak

"Tidak! HENTIKAN!"

Yuuma langsung berteriak sejadi-jadinya.

Ia begitu depresi ketika buku ini aku robek. Meskipun aku tidak benar-benar merobeknya sih, hanya sebagian saja yang kurobek.

"Naruto..."

Setelah ia berteriak, ia memanggil namaku dengan lirih. Sepertinya ia mampu melihatku kembali...

"Kamu bisa melihatku, Yuuma?"

Aku menatap tajam ke arahnya. Tak pernah aku seserius ini dalam menatap seorang wanita.

"Mengapa..."

"Kupikir, jika aku melakukan aksi ini semua, dapat membuatmu sadar. Dari kenanganmu, semua barang-barang yang penting bagimu."

"Naruto..."

Aku merasa, ada perubahan di dalam mataku, rasanya seperti saat aku mampu merasuki Raynare waktu itu. (Iris saphire-nya berubah menjadi lebih gelap, timbul serabut-serabut warna crimson)

"Aku berpikir, jika kamu dapat mengetahui keberadaanku saat ini, kamu mungkin juga dapat melihat Yuuma yang lainnya! Kamu bisa kan?"

Tiba-tiba saja, dibelakangnya terdapat Yuuma yang lain, alias Raynare.

"Kau salah, Naruto! Itu bukan diriku! Itu bukan aku!"

Yuuma...

Benar.

Semua kenangan yang ingin dilupakannya...

Semua perasaanmu yang tidak mau kau akui...

"Tolong, hentikan!"

Kau harus mengingatku. Mari kita menderita bersama-sama...

Tidak!

"Syukurlah, kamu datang juga. Aku ingin berbicara denganmu."

"Oh, jadi itukah yang membuatku terbebas dari pengaruhmu?"

Ia sepertinya merujuk kepada mataku ini, yang berubah warna ketika aku mengeluarkan kemampuan supernaturalku. Azazel memberitahu kekukatanku ini, kekuatan yang mampu merasuki apapaun, melihat isinya, serta mengendalikannya. Azazel menyebutnya, Eternal Link, akibat kemampuan spesialnya yang mampu menghadapi makhluk supernatural seganas apapun.

"Kita kesampingkan soal itu. Ketika aku menyentuhmu, kulihat kenanganmu yang begitu menyakitkan. Dan kemudian, aku tahu apa yang terjadi."

Meskipun dengan mata terkutukmu itu, kau tetap tidak tahu apa-apa. Kau tidak tahu kebenaran sejati... Itu bukan segalanya... Itu bukan akhir!

*Kliiing*

Ia kemudian berusaha mencekik leherku...

Jangan berpikir kau tahu apa yang terjadi hanya karena kau dapat melihatnya!

"..."

"Naruto!"

Kau tidak tahu penderitaanku... Kau tidak tahu kesedihanku...

Kau tidak tahu wajah-wajah gemetar dalam ketakutan, meskipun mereka pembunuh...

Ia merujuk pada para pelaku pengorbanan Yuuma, yang begitu ketakutan akibat wabah yang merajalela saat itu.

Tampilan yang mengerikan di mata adik perempuanku saat melihat diriku...

Ia mungkin merujuk pada Yuuna ketika ia melihatnya dalam wujud hantu...

Orang-orang yang membangkitkan semua emosi negatif, dan diriku sendiri yang memaksa berbagi penderitaan padaku!

Semua yang membenci, rasa sakit ini, kesedihan itu, bahkan penderitaan!

Raynare meluapkan semua perasaanya. Perasaan yang selama ini ia tanggung akibat Yuuma...

Aku tidak melakukan sesuatu yang salah, tapi aku harus menderita nasib itu.

Aku terpaksa harus menanggung, semua perasaan mengerikan ini!

Yuuma menangis...

Dan rasanya cekikannya semakin kuat...

Jadi, mengapa kau berpura-pura mengerti semua keadaanku?!

"Kamu benar, aku tak mengerti..."

Aku akhirnya membuka suaraku, setelah menjadi pendengar yang sangat baik sekali. Sebenarnya, leherku tidak tercekik olehnya. Aku mampu menahan tangannya yang berusaha mencekikku dengan tangan kananku.

"Tapi itu terasa menyakitkan, kau tahu!"

"Eh-"

Eh-

Aku mulai menitikkan air mata.

"Maksudku, ini begitu menyedihkan kau tahu! Ini cukup menyakitkan. Untuk hanya bisa membenci... Untuk hanya bisa mengutuk... Agar mampu merasakan apa-apa kecuali emosi-emosi selama ini... Ini begitu menyakitkan."

Aku lantas memeleku Raynare. Kali ini, tidak terjadi apa-apa.

"Jika kau mengatakan bahwa aku tidak mengerti apa-apa, itu tidak sepenuhnya salah. Namun jika yang kau maksudkan adalah rasa sakitnya, aku juga merasakannya, kau tahu! Ketika kau menunjukkan memori itu, hal itu menyakitiku juga... Aku juga sangat takut... sangat takut. Dan aku merasa begitu ngeri..."

Aku kembali mengingat tidak berdayanya Yuuma saat terjebak di ruang bawah tanah, akibat dari tindakan orang-orang yang sengaja mengorbankan dirinya.

"...karena tidak bisa melakukan apa-apa saat kau menderita... Aku malah hanya bisa melihatnya... dan tak bisa berbuat apa-apa..."

Kenapa...

Kenapa kau bisa menyentuhku? Setelah kau merasukiku...

"Karena kau juga Yuuma!"

...

"Karena kau juga Yuuma yang kucintai."

Aku terus menerus mengeluarkan air mataku, begitu juga dengan Yuuma yang melihatku memeluk Raynare, yang merupakan bagian dari dirinya.

"Itulah mengapa..."

Hentikan.

Ia melepaskan pelukanku. Dan ia juga terlihat menitikkan air mata.

Kamu harus berhenti menangis.

"Yuuma..."

"Itu benar, Naruto. Jika kamu menangis karena diriku..."

Jika kamu menangis karena diriku...

Jika kamu memelukku dengan eratnya...

Meskipun aku banyak menderita...

"Meskipun aku ingin membuangnya..."

"SEGALANYA AKAN MENGHILANG."

Aku sudah membuang emosi ini begitu lamanya...

"Dan aku telah membuang mereka keluar begitu lama..."

Tapi itu semua...

"MENJADI TIDAK RELEVAN."

"Yuuma..."

Aku akhirnya berhasil, berhasil membuat mereka berdua keluar dari kenangan kelam masa lalunya. Aku akhirnya mampu membuat Yuuma menerima Raynare sebagai bagian dari dirinya, begitu pula sebaliknya.

"Naruto, apa benar tidak apa-apa?"

Apa aku akan baik-baik saja?

"Ya. Setelah semua ini, kalian adalah Yuuma yang aku cintai."

Aku...

"Aku..."

Itu akan mengerikan, lho.

"Tak apa, aku sudah siap untuk menerimanya."

Jika Naruto setuju denganku,

"Sudah tidak ada penyesalan lagi."

"Selamat datang kembali, diriku."

-End-


Akhirnya, mereka bergabung menjadi satu... Dan pada akhirnya, mereka mampu menerima satu sama lain. Misteri tentang kisah hantu sekolah ini, dan juga misteri gelap yang tertanam di sekolah ini, telah terungkap, dan menghasilkan sebuah ending yang benar-benar manis.

Meskipun itu hanya untuk sementara...

"Tunggu dulu, Senpai. Aku mendengar bahwa ending manis itu hanya untuk sementara, apa maksudnya?"

Seorang siswi perempuan tahun kedua mempertanyakan akhir ceritaku.

"Benar, Senpai? Apa maksudnya?"

Siswi tahun kedua yang lain juga menimpali.

"Sebaiknya kamu ceritakan saja, Naruto."

Kazu, teman sekelasku yang dulunya banyak bolosnya karena ia mengikuti perlombaan balap formula junior, juga memaksaku.

Aku lantas melihat Issei (untuk meminta perlindungan), namun ia hanya tersenyum sambil mengangkat bahunya.

Akhirnya, aku menyerah, aku akan mengikuti kemauan mereka, untuk melanjutkan cerita ini.

Aku sempat menundukkan kepala, melihat lonceng yang kugenggam dalam tanganku...

Aku sempat menitikkan air mata...

Dan buru-buru menghapusnya. Agar tidak kelihatan oleh orang lain.

Akan kulanjutkan kembali cerita ini...

Pada akhirnya, setelah masalah Yuuma selesai, Aku meminta neneknya Sona untuk mengubur jasad Yuuma dengan layak. Tentu saja dengan persetujuan Yuuma.

Dan beliau pun juga setuju.

Aku lantas menghadiri acara pemakamannya, dan memberikan karangan bunga untuk menghormatinya.

Meskipun, yang kulakukan itu sih sedikit tidak ada artinya. Hanya sebagai penghormatan saja.

Karena...

Aku masih dapat bertemu dengan Yuuma di Akademi Kuoh.


Pada suatu hari, saat salju turun dengan perlahan-lahan, aku mengajak Yuuma ke tempat dimana batu yang berukirkan namanya berada. Aku beserta Yuuma, melakukan nostalgia saat-saat indah kita bersama. Dan juga, memberikan sebuah kejutan yang akan membuat Yuuma sangat terkesan.

"Ternyata, semua nama mereka yang diam-diam merencanakan pengorbanan manusia, telah terukir di batu kutukan itu."

"Oh, jadi begitu."

"Pada akhirnya, wabah adalah akar penyebab ini."

"Aku tidak peduli akan meninggalkan semua kenangan indah dan sedi milikku, dari sekarang..."

"Jadi begitu... Oh ya. Aku akan menunjukkanmu sesuatu."

Aku kemudian menujukkan kumpulan foto-foto Asa ke Yuuma.

"Ini...Asa-chan?"

Yuuma melihat-lihat foto Asa.

"Yuuna-san mengizinkanku mengambil fotonya. Nama asli Asa adalah Asagami, kan?"

"Iya. Aku jadi kangen dirinya..."

"Asagami sebenarnya nama nenekku."

"Eh-"

Yuuma terkejut.

"Maka hal itu... berarti..."

"Ya. Aku cucunya Asa-chan."

Kemudian, ia langsung memelukku.

"Tidak apa-apa."

"Eh-"

"Aku tidak menderita apa-apa... Asa-chan mampu bertahan hidup... dan aku bisa bertemu denganmu seperti ini! Aku tidak keberatan menjadi korban manusia berkali-kali, Jika itu berarti aku dapat bersatu denganmu!"

Ia terlihat sangat senang. Sangat senang.

Kemudian kami berajalan beriringan, dengan 2 bunyi lonceng yang kami kenakan berbunyi berirama dengan indah.

Namun...

*Kliiiing*

Lonceng Yuuma terjatuh.

Ia berusaha untuk mengambilnya, namun...

Ia tidak dapat. Karena lonceng tersebut menembus tangannya...

To be continued...