THIS FANFIC IS YAOI!
IF YOU DONT LIKE IT GET OUT OF THIS FANFIC!
IM SERIOUSLY WARNING YOU!
HANA ..DUL...SET!
GET OUT!
...
Summary : Sebuah kenyataan yang sangat amat di benci kedua namja yang sangat amat bertentangan,bukan takdir yang menemukan mereka akan tetapi nasib buruk dan rasa ketidakpedulian dari keduanya
Genre : Hurt/Comfort, Drama, Romance, School life
Warning : Yaoi, OOC, Typo, Author Labil
Rated : T (maaf para yadongers)
_╩ Ξ ╩_
I Understand...I Just Don't Care
Chapter 10
Chanyeol mengganguk pelan dan mengangkat wajahnya untuk menatap Baekhyun. Menatap dengan penuh kesungguhan kepada satu satunya namja yang membuatnya menjadi orang yang selalu tersenyum menjadi seseorang yang tampak lusuh hanya karna kata penolakan yang diucapkan namja mungil tersebut
"ini masih disebut cinta Baekhyun-ah"
Deg!
Terlalu banyak pikiran untuk mengatakan tidak benar atas perkataan Chanyeol barusan. Baekhyun. Namja mungil tersebut menolak secara tegas atas semua perkataan Chanyeol yang mengatakan bahwa hal yang di rasakan namja tersebut adalah cinta.
Tapi sesuatu yang lain juga sedang berdetak tidak karuan dan dengan irama yang terbilang cukup cepat. Sesuatu didalam dadanya. Hatinya.
"aniyo. Neo saranghae molla (tidak. Kau tidak tau tentang cinta)"
"Hhh..."
Chanyeol menghela napas berat dan menggeleng pelan. Merapikan sedikit topi hitam yang ia kenakan kemudian diam. Memandang Baekhyun dengan penuh harap.
"jika kau berfikir bahwa aku tidak mengerti tentang cinta. Apa kau berfikir kau juga mengetahuinya?"
Deg!
Baekhyun melepaskan tangan Chanyeol yang sedari tadi menggengam tangan kanannya erat sebelum menjawab singkat "eumm..ne"
Chanyeol kembali mengganguk pelan dengan perasaan yang terbilang cukup buruk sekarang. Sebuah penolakan mungkin terbilang cukup menyakitkan. Akan tetapi hal yang jauh lebih buruk dirasakan nya sekarang adalah sebuah perasaan yang jauh lebih buruk dari pada sebelumnya. Perasaan buruk karna perasaannya di remehkan.
"keurae?"
Baekhyun mengangkat dagunya sedikit dan menatap Chanyeol angkuh. Mencoba mengatakan kepada namja dihadapannya dengan tegas,sebuah gambaran perasaan yang sebenarnya dirasakan seseorang ketika jatuh cinta.
"Ne. Aku pernah jatuh cinta Chanyeol-ah. Itu menyakitkan"
Baekhyun seketika menunduk dengan raut wajah lemah saat kata-katanya tersebut berhasil dicerna sepenuhnya oleh otaknya.
"...sia-sia..."
"..."
"...dan terlalu berlebihan untuk dirasakan"
Hening.
Saat kepala Baekhyun masih menunduk dan perlahan memutuskan untuk mendongak. Saat itu juga pandangannya bertemu dengan kedua manik mata milik Chanyeol.
Memandang namja tersebut yang tampak buruk dengan wajah lusuhnya.
Serta membiarkan waktu berjalan hingga setiap detiknya terasa cukup sepi akan tetapi dengan keheningan yang terbilang cukup nyaman. Membuat Baekhyun merasakan dunianya hilang hanya karna melihat wajah bodoh namja yang ada dihadapannya.
Keheningan tersebut terus berlanjut hingga pada akhirnya Chanyeol membuka bibirnya untuk memecah keheningan yang berlangsung cukup lama.
"apakah aku harus mengatakannya langsung agar kau mengerti isi hatiku?"
Deg!
Baekhyun melipat kedua tangannya didepan dada,saat perkataan Chanyeol kembali membuat jantungnya kembali pada detakan abnormal. Melipat kedua tangannya didepan dada sebagai bentuk menggambarkan perasaannya yang gelisah. Menunduk dan membeku dalam diam. Baekhyun seperti terjebak dalam labirin diantara ilusinya sendiri sekarang.
'Apakah namja ini tidak mendengar perkataan ku sebelumnya' – Baekhyun
Udara terasa begitu sesak sekarang,begitu sulit bagi keduanya untuk bernafas. Susah memang,akan tetapi tidak ada yang ingin melangkah pergi terlebih dahulu dari posisi masing masing. Kemana perginya keributan yang selalu mereka berdua ciptakan?
Enatahlah...keduanya hanya diam tanpa bersuara dengan perassaan yang tidak terkontrol dimasing masing jantung mereka.
"percaya padaku Chanyeol-ah. Aku tahu itu sangat mudah bagimu untuk pergi suatu saat nanti"
Baekhyun mendongak menatap wajah Chanyeol yang memperlihatkan wajah kebingungan atas perkataan yang diucapkannya barusan.
"maksudmu?"
"maksudku...kau pasti akan menemukan yang lebih baik Chanyeol-ah"
Namja mungil tersebut menepuk pelan bahu kanan Chanyeol. Menguatkan namja tinggi tersebut dan mengambil langkah mundur sambil mencengkram erat kedua tangannya yang bertautan.
"yak! Bisakah kau menejelaskannya sebelum kau pergi?"
Chanyeol berteriak keras sekarang. Meluapkan kekesalannya atas perkataan Baekhyun yang sama sekali menggantung tanpa sebuah penjelasan. Membiarkan dirinya dengan perasaan yang masih membuncah. Apakah Baekhyun bercanda?
"kau tau Shakespeare?"
Chanyeol kembali menggerutkan kedua alisnya serta menatap bingung pada namja mungil yang kini sudah membalikan tubuhnya untuk menatapanya.
"kau pikir aku bodoh sampai tidak mengetahui siapa itu Shakespeare?"
Baekhyun sedikit menyunggingkan senyum tipis sebelum menlanjutkan perkataannya
"Shakespeare pernah mengatakan 'aku selalu merasa senang dan bahagia' Chanyeol ah"
"..."
"kau tau mengapa? Karna dia tidak pernah mengharapkan apapun dari siapa pun. Sebuah harapan selalu membuat seseorang terluka"
"..."
"jangan membuatmu terluka Chanyeol-ah"
Baekhyun menelan ludahnya yang tercekat di tenggrokannya sendiri. Pengahrapan memang selalu menyakitkan. Beberapa orang termasuk dirinya terlalu bodoh untuk menyadari hal tersebut.
Baekhyun pernah jatuh cinta. Itu menyakitkan,sia-sia dan terlalu berlebihan untuk dirasakan oleh seseorang. Untuk ketiga hal tersebutlah yang membuat dirinya paham dengan apa yang yang dirasakan Chanyeol.
Namja tinggi tersebut tidak tau tentang cinta,karna hal yang justru terjadi hanyalah sebuah pengharapan. Pengharapan untuk memiliki seseorang. Sama seperti yang pernah Baekhyun rasakan.
"kau harus paham Baekhyun-ah"
Baekhyun kembali menatap Chanyeol yang secara tiba-tiba berkata tanpa perintah
"eh? Maksudmu?"
"kau harus paham Baekhyun-ah. Beberapa orang tidak memilki hati yang sama seperti yang pernah kau rasakan"
Deg!
Baekhyun kembali menunduk. Menggigit bibir bawahnya atas apa yang dilakukan jatungnya sekarang hanya karna perkataan Chanyeol barusan. Namja mungil tersebut kembali berbisik pelan
"I'm affraid of falling. (aku takut jatuh)"
Chanyeol hanya diam untuk beberapa saat setelah mendengarnya. Cahnyeol kini paham bahwa Baekhyun terlalu takut untuk jatuh. Jatuh kelubang yang sama seperti yang pernah namja mungil tersebut rasakan.
Namja tinggi tersebut perlahan mendekat kearah tubuh Baekhyun yang berada sekitar lima langkah dari posisinya.
Chanyeol tersenyum tipis dan berbisik pelan seperti yang dilakukan Baekhyun beberapa saat lalu. Chanyeol berbisik tepat ditelinga namja mungil tersebut,tanpa di sadari oleh Baekhyun sendiri.
Chanyeol berbisik "I'll catch you (aku akan menangkapmu)"
"eh?"
Cup~
*ai nutup mata* #PLAK
Tubuh Baekhyun seketika lemah saat bibir Chanyeol dengan lembutnya menyapa bibirnya. Mengecup pelan,sehingga membuat Baekhyun bergeser sedikit ke arah belakang. Tangan Chanyeol akhirnya ikut berperan,menahan tubuh mungil yang dirasakan akan segera jatuh jika dirinya tidak menahan namja tersebut.
Chanyeol tidak akan membiarkan Baekhyun jatuh. Namja tersebut akan menangkap dan menahan tubuh dan perasaan rapuh Baekhyun. Seperti yang dilakukan namja tersebut sekarang
Segala sesuatu dalam hidup seseorang adalah sebuah refleksi dari pilihan yang telah dibuat seseorang tersebut. Jika seseorang tersebut ingin mendapatkan hasil yang berbeda,maka buatlah pilihan yang berbeda pula.
Untuk itulah Baekhyun. Namja mungil tersebut menarik tengkuk Chanyeol secara pelan agar tidak melepaskan bibirnya. Ia telah membuat pilihan berbeda dari sebelumnya. Sebuah refleksi baru dari pilihan baru yang dibuatnya.
_╩ Ξ ╩_
"Apa hal yang terburuk yang dilakukan seseorang saat merasakan kesedihan?"
Kyungsoo mendongak menatap Lee songsaniem saat pertanyaan tersebut terucap secara spontan dari bibir guru sastra tersebut.
Kelasnya masih membahas tentang nasib malang serta kisah tragis Romeo dan Juliet. Dan pertanyaan dari guru tersebut sudah cukup mampu membuat seorang D.O Kyungsoo menangis hanya karna mendengarnya.
Lee songsaniem mengedarkan pandangannya dan berhenti saat melihat salah satu sisiwa nya yang tampak dalam keadaan buruk. Sepertinya niat untuk bertanya pada siswa nya yang memiliki mata bulat tersebut harus diurungkannya. Ia tidak mungkin menanyakan hal tersebut melihat keadaan Kyungsoo yang seperti orang sekarat sekarang.
Bibirnya secara spontan kembali mengucapkan satu nama "Kai-ssi?"
"ne?"
Lee songsaniem mengedarkan kembali pandangannya dan berhenti tepat kearah Kai. Sepertinya guru sastra tersebut harus mengalihkan pandangannya terlebih dahulu sebelum menyebut nama seseorang. Karna hal yang ia lihat sekarang merupakan kondisi yang sama buruk nya dengan Kyungsoo. Bahkan jauh lebih buruk.
Jika Kyungsoo tampak buruk dengan kantung mata yang hitam serta raut wajah yang tampak putus asa. Siswa nya yang memiliki kulit tan bernama Kai bahkan tampak seperti seseorang yang sebentar lagi kehilangan nyawa disertai tatapan kelelahan.
"Hhhh..." Lee songsaniem menghela nafas berat.
"ada apa dengan kalian berdua?"
Keduanya hanya diam tidak menjawab. Membuat Lee songsaniem harus menghela nafas berat kembali sebelum bertanya pada Kai
"Kai-ssi,Apa hal yang terburuk yang dilakukan seseorang saat merasakan kesedihan?"
Kai diam sejenak lalu bangkit dari tempat duduknya. Berjalan pelan kearah depan tanpa perintah. Membuat semua orang kebingungan dengan sikap yang dilakukan namja tan tersebut sekarang.
Ia lalu menuliskan beberapa kata di papan tulis
'the worst part about being sad is that you don't even know what makes you happy anymore'
Kai membalikan tubuhnya setelah menulis hal tersebut. Menatap Kyungsoo hingga membuat semua siswa juga mengalihkan pandangan mereka ke arah namja bermata bulat tersebut,termasuk Lee songsaniem.
"aku tidak tau hal terburuk nya"
Kai memilih diam setelahnya. Diam dan hanya berdiri di tempat tanpa mengalihkan pandangannya. Ia sungguh tidak tau hal terburuk yang dirasakan seseorang ketika merasakan kesedihan.
Ia hanya mengetahui bahwa betapa menyedihkannya dirinya yang tidak tau bagaimana dan apa yang membuat dirinya bahagia lagi setelah kejadian dimana Kyungsoo menolaknya. Mengatakan pada dirinya bahwa ia tidak memiliki usaha dalam bentuk apapun untuk namja bermata bulat tersebut.
Mengatakan kepada Kai bahwa namja sepertinya sudah menyerah terhadap perasaannya sendiri. Mengatakan kepada dirinya bahwa ia tidak mencari Kyungsoo saat dirinya sepenuhnya telah sembuh. Serta mengatakan pada dirinya bahwa ia juga menyerah dalam hal ini. Dalam segala aspek yang berhubungan antara hubungan mereka berdua.
Dan jawaban atas semua pertanyaan Kyungsoo,tentu saja jawabannya adalah tidak.
"aku tidak pernah melihat sesuatu yang begitu sempurna sebelumnya. Satu tahun yang lalu aku berfikir bahwa aku harus memiliki seseorang tersebut atau mungkin aku akan mati"
Pikiran Kai menerawang jauh. Membuat semua orang memajukan tubuh kedepan untuk mendengar secara lebih dekat dan seksama. Tertarik dengan hal apa yang membuat namja tersebut harus memiliki seseorang atau tidak ia akan memilih mati.
Dan Kyungsoo hanya dapat menutup mata nya secara spontan saat kalimat tersebut terucap dari bibir Kai. Kalimat yang baru saja diucapakan namja tersebut benar benar membuat hatinya merasakan sesuatu yaitu perasaan sakit saat mendengarnya. Ia lebih memilih mengalihkan pandangan serta pemikirannya dengan menutup erat kedua manik matanya.
Kai sedang membicarakannya. Menceritakan kepada semua siswa tentang dirinya tanpa keraguan sedikit pun di kedua bola mata namja tersebut. Walaupun tidak secara terang terangan. Akan tetaapi hal tersebut dapat membuat beberapa siswa kembali menatap Kyungsoo,secara bergantian dari arah depan lalu kearah dirinya. Begitupun seterusnya.
"pada akhirnya seseorang tersebut berbisik dan mengatakan padaku bahwa ia juga mencintaiku saat kami dalam perjalanan pulang"
Deg!
"Cukup!"
Kyungsoo berdiri dan menatap kearah Kai dengan tatapan tajam di penuhi rasa kebencian. Perlakuan namja tan tersebut sudah terlampau jauh. Ia sedang menyindir bahkan membuat dada Kyungsoo merasakan sakit sekarang. Ia harus dihentikan sebelum Kyungsoo benar benar terbawa emosi ketahap selanjutnya dan menangis dihadapan seluruh penghuni kelas.
"shireo"
Tidak dapat dipungkiri bahwa Kyungsoo sangat amat tertekan sekarang setelah mendengar jawaban singkat yang diucapkan Kai. Suasana yang terlalu membuat dirinya serta dada nya sesak,sungguh tidak dapat namja bermata bulat tersebut tangani dengan baik. Akan tetapi kalimat Kai selanjutnya lah yang dapat membuat seluruh aliran darahnya kembali terhenti.
"aku merasa begitu damai dan aman saat itu. Karena apa pun yang terjadi dimasa yang akan datang. Aku yakin tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Seburuk apapun itu..."
"..."
"...karna aku sudah memiliki nya"
Kai menggantungkan kalimatnya dan membiarkan kelopak matanya berkaca-kaca. Semenjak Kyungsoo pada akhirnya menerima pernyataan cinta namja tersebut,Kai tidak pernah merasakan hal buruk yang akan terjadi bahkan hal buruk yang menimpanya.
Perasaan senang serta membuncah yang dirasakannya semenjak Kyungsoo mengatakan bahwa namja tersebut juga mencintainya. Pada saat itu Kai selalu berfikir bahwa hal buruk tidak akan pernah terjadi,karena Kai memiliki Kyungsoo. Itu sudah lebih dari pengharapannya selama ini.
Mengesampingkan hal terrsebut yang dulu sangat amat terkendali dan berhasil membuatnya selalu merasa nyaman. Hal buruk yang justru terjadi adalah bahwa Kyungsoo harus dipisahkan darinya.
"aku tidak tau hal terburuknya Lee songsaniem. Karna aku tidak dapat merasakan apapun setelahnya"
Lee songsaniem melipat tangannya didepan dada "maksudmu?"
"aku tidak merasakan apapun lagi setelah seseorang tersebut kembali menolakku"
Deg!
Jantung Kyungsoo berhenti selama beberapa detik
Lee songsaniem tertawa setelahnya. Membuat Kai berusaha untuk menjaga sopan santunnya agar tidak melukai guru sastra tersebut. Mengubur emosi nya sedalam mungkin agar tidak melayangkan pukulan yang akan meninggalkan berbekas di pipi guru sastra tersebut. Apakah ada hal yang sangat lucu dari setiap perkataaan yang didiucapkan Kai barusan?
Baik Kai dan Kyungsoo serta seluruh siswa dikelas tersebut sungguh sangat amat tidak mengerti tentang situasi yang di ciptakan guru tersebut sekarang.
"bagaimana denganmu Kyungsoo-ssi?"
Kyungsoo menatap guru tersebut dengan alis yang berkerut kebingungan dengan pertanyaan yang tiba-tiba saja terucap.
Lee songsaniem. Bagaimana bisa guru tersebut dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa seseorang yang diceritakan Kai adalah seorang D.O Kyungsoo. Sedari tadi namja tan tersebut tidak pernah mengucapkan nama Kyungsoo. Sama sekali tidak pernah.
"aku memiliki dua pertanyaan Kyungsoo-ssi"
Kyungsoo mengangkat sebelah alisnya atas perkataan spontan yang selalu diucapkan guru tersebut. Kyungsoo kini menatap ragu guru tersebut dan seorang seperti Lee songsaniem yang terkesan sangat spontan dalam menyusun kata. Menggangap keraguan Kyungsoo sebagai anggukan setuju tentang pertanyaan yang akan dilontarkannya.
"pertama,apa kau berhasil melanjutkan hidupmu tanpa namja bodoh yang sedang berdiri di depan kelasku ini?"
"..."
"kedua,apa kau masih memperdulikan namja bodoh yang sedang berdiri di depan kelasku ini?"
Untuk kedua pertanyaan yang terlontar. Kyungsoo menjawabnya dengan cepat tanpa berfikir panjang tentang otaknya yang mengatakann padanya untuk tidak menjawab pertanyaan tersebut.
"apakah aku melanjutkan hidupku tanpa dirinya? Ya. Apakah aku masih peduli dengannya?"
Kyungsoo menggantungkan kalimatnya untuk mengalihkan pandangannya kearah wajah Kai. Memandang wajah tersebut lama.
"Apakah aku masih peduli dengannya?"
"..."
"...Always"
Deg!
Kai menatap Kyungsoo lembut dan sedetik kemudian tersenyum kecil. Senyum yang cukup membuat seorang D.O Kyungsoo tertegun sebelum membalas Kai dengan senyum lembut yang mengisyaratkan kepuasan. Kepuasaan atas jawabannya untuk Kai. Kepuasan terhadap dirinya sendiri yang mengatakan hal yang sebenarnya ingin dikatakannya.
Jika terdapat hari terfavorite di dunia,maka hari tersebut adalah hari ini menurut keduanya.
Lee songsaniem menggelengkan kepala melihat hal tersebut lalu menyuruh Kai segera duduk menggunakan isyarat mata,begitu pun juga Kyungsoo.
"Apa hal yang terburuk yang dilakukan seseorang saat merasakan kesedihan?"
Lee songsaniem menggulang kembali pertanyaannya
"selain kekosongan seperti yang dikatakan Kai-ssi. Ada satu hal yang terburuk yang dapat terjadi"
Semua siswa kembali mencondongkan tubuh mereka kearah depan. Kembali tertarik dengan topik yang dibicarakan oleh guru sastra tersebut. Mengabaikan bahwa beberapa saat lalu mereka baru menyadari jawaban atas kejanggalan kedua insan tersebut adalah sebuah fakta bahwa mereka berdua sepasang kekasih.
"ketidakpedulian. Hal terburuk yang terjadi saat seseorang merasakan kesedihan adalah jika seseorang tersebut tidak perduli lagi dengan seseorang yang dicintainya. Tidak peduli lagi dengan situasi yang terjadi disekitarnya. Tidak peduli lagi tentang dirinya sendiri. Membuat kebodohan ikut menjalar setelah ketidak pedulian tersebut menimpanya. Contohnya? Romeo and Juliet"
Semua siswa mengganguk membenarkan perkataan guru tersebut. Cukup masuk akal jika dipikirkan oleh setiap orang yang berada disana. Sebuah kebodohan terkadang datang saat seseorang tidak perduli lagi dengan berbagai hal yang ada disekitarnya. Dalam kasus Romeo dan Juliet,terkadang orang berfikir bahwa yang terjadi adalah kebodohan Romeo karna tidak mengetahui bahwa Juliet nya sebenarnya tidak mati.
Padahal jika difikirkan hal yang terjadi bukanlah seperti dan ketidakpedulian karna melihat kekasihnya mati. Kedua hal tersebutlah yang menimpa Romeo. Ketidakpedulian atas dirinya sendiri. Karena hal yang difikirkannya adalah kekosongan jika tidak hidup berdampingan dengan Juliet nya.
"Jika kau menyangkal bahwa kau tidak mencintainya. Maka kusarankan kalian bertanya terlebih dahulu. Apakah kau masih peduli dengannya?"
_╩ Ξ ╩_
Chen pada akhirnya kembali menyeret Xiumin dan mengurungkan niat namja baozi tersebut untuk mencari Luhan. Ia benar benar tidak tahan mendengar setiap rencana serta menu hidangan yang selalu diucapakan namja tersebut untuk Luhan. Setiap harinya.
Apakah Luhan merupakan pahlawan yang sangat berjasa di Korea Selatan,sehingga membuat Xiumin harus merencanakan sebuah jadwal makan siang dengan menu yang terbilang cukup mewah?
Chen merasakan sebuah uap kemarahan yang terbilang cukup panas menjalar disekitar otaknya sekarang. Ia selalu benci makan siang dalam keadaan sendirian. Dan tingkah laku Xiumin yang terbilang cukup berlebihan sudah sangat mengundang amarahnya untuk menyeret namja tersebut yang mengusahakan kaki nya untuk mencari Luhan.
"kita mau kemana Chen Chen?"
Xiumin menolehkan kepalanya kearah kanan dan kiri sambil mengajukan pertanyaan yang selalu dilontarkannya beberapa hari belakangan kepada namja bernama lengkap Kim Jongdae tersebut. Pertanyaan yang sama setiap kali Chen tiba tiba menyeretnya dengan alasan yang tidak terlalu dipahami oleh Xiumin sendiri.
Chen sungguh sangat aneh dan melakukan hal yang tidak pernah Xiumin bayangkan sebelumnya. Selama ini namja tersebut tidak pernah sekali pun berbicara padanya. Menegur dirinya saja dapat dihitung jumlahnya dalam satu bulan.
Akan tetapi belakangan hari ini semenjak Kris tanpa sengaja membuat dirinya menghabiskan waktu jam makan siang bersama Chen dan Suho. Namja yang memiliki suara merdu tersebut selalu menyeret nya kemana saja tanpa memandang tempat. Dan hal ini sering terjadi saat jam makan siang.
"jangan bertingkah polos dan kekanak kanakan"
"kekanak kanakan?"
Xiumin mungkin dapat menerima dengan baik kata 'polos' karna pada usia nya yang cukup lebih tua,ia akui bahwa dirinya termasuk dalam deretan orang yang masih berfikir polos. Xiumin dapat menerima kata 'polos' tapi tidak untuk kata yang kedua.
Xiumin mengembung kan kedua pipi nya. Mencoba untuk menyatakan pada namja tersebut bahwa ia sedang kesal atas perkataan Chen barusan. Sungguh percuma bahwa namja baozi tersebut melakukannya,karna pada akhirnya Chen tidak dapat melihat kekesalan namja tersebut. Chen hanya terus menarik Xiumin tanpa menoleh kebelakang dan kearah wajah baozi Xiumin.
Melihat bahwa ia sama sekali tidak di tanggapi oleh Chen. Xiumin menepiskan gengaman tangan Chen yang menggengam erat tangan nya. Membuat Chen pada akhirnya menoleh kearah belakang demi mendapatkan wajah Xiumin yang memerah karna kesal.
"kau kenapa?"
Xiumin memicingkan kedua matanya dan tersenyum remeh "aku kekanak kanakan?"
"Hhhhh.."
Chen menghela nafas panjang melihat bahwa namja dihadapannya sedang tersulut api kemarahan ternyata. Chen kembali mengganguk untuk memberikan jawaban. Mengiyakan bahwa memang pada kenyataan nya sikap Xiumin sangat amat kekanak kanakan pada satu satunya namja bernama Xi Luhan
"apa kau tidak menyadari bahwa kau yang bertingkah laku seperti anak kecil sekarang?"
Xiumin meninggikan volume suaranya. Amarahnya sudah berada dipuncak,hanya karna sikap Chen yang terbilang menyebalkan. Tidak sadarkah bahwa orang yang bersikap kekanak kanakan adalah Chen sendiri. Akan tetapi namja tersebut justru mengatainya dan memutar balikan fakta bahwa Xiumin lah yang bersikap layaknya anak kecil.
"membuat bekal dan mengajak orang yang sama setiap harinya untuk menemani dirimu makan siang,bukan kah itu sungguh terlihat seperti sikap anak kecil?"
"dia teman baru ku! Tentu saja aku bersikap seperti itu!"
Chen mengalihkan pandangannya sebentar dengan rahang yang mulai mengeras dan amarah yang mulai naik karna perkataan Xiumin barusan.
"aku tidak melihat bahwa kau menggangap Luhan hanya sekedar teman"
"dia temanku. Wajar jika aku bersikap seperti itu dan jangan berfikir yang tidak tidak. Lagipula kau siapa,huh? Kau bahkan jarang menegurku selama-"
Chen mengatakan dengan spontan "AKU ORANG YANG MENYUKAIMU!"
"ini jadi jangan berfikir yang tidak baik atas apa yang kulakukan karna pada dasarnya kau tidak memiliki hak untuk itu. Kau juga tau bahwa Luhan..." Xiumin tidak mendengarnya.
Xiumin terus merceloteh tanpa henti. Tidak sadar bahwa namja dihadapannya baru saja mengatakan sebuah perkataan yang terbilang cukup membuat degupan jantung Chen berdetak keras,hanya karna mengatakannya.
Sikap Xiumin yang masih berceloteh tanpa menghiraukan perkataan nya barusan,membuat Chen frustasi dan menatap namja tersebut tidak percaya.
"apa kau tidak mengerti apa yang barusan ku katakan? Aku baru saja mengatakan AKU MENYUKAIMU! Sangat menyukaimu!"
"..."
"..."
"..."
"eh? Kau bilang apa?"
Tatapan Chen beralih manatap lantai "aku menyukaimu"
Xiumin membulatkan matanya selebar mungkin selebar yang ia bisa "eh? Kau juga menyukaiku?"
Kini giliran Chen yang membulatkan matanya selebar mungkin bahkan melebihi yang dilakukan Xiumin sekarang. Menatap tidak percaya untuk kedua kalinya atas pernyataan Xiumin barusan. Apakah namja tersebut baru saja mengatakan bahwa ia juga menyukai dirinya?
Chen melangkah kedepan dan memegang kedua sisi bahu namja yang membuatnya kehilangan nafas setiap kali menggengam erat tangan nya
"apa maksudmu mengatakan 'kau juga menyukaiku"
"kau tau..eumm..bagaimana mengatakannya? Ah..aku...jadi...bagaimana jika..kau tau"
Chen mengerutkan kedua alisnya melihat dan mendengar tingkah laku Xiumin yang terbata bata dalam melafalkan perkataannya. Jelas sekali bahwa namja yang memiliki pipi bulat ini sedang gugup. Membuat Chen tidak dapat menyembunyikan senyum nya melihat tingkah laku tersebut.
"kau tertawa? Apa ada hal yang lucu?"
Chen tidak menjawab dan hanya berusaha menahan tawa nya yang sia-sia karena ia sama sekali tidak dapat menahannya. Membuat Xiumin berbalik untuk pergi meninggalkan namja tersebut.
"Saranghae"
Deg!
Langkah kaki Xiumin terhenti. Sedetik kemudian ia mendapati seseorang yang sekarang berdiri tepat di belakangnya. Menghembuskan nafas dan berbisik di telinganya.
"saranghae"
"sejak kapan?"
"pertama kali melihatmu yang duduk di kedai kopi"
Deg!
Chen mengeratkan pelukannya dan bertanya "bagaimana denganmu? Sejak kapan?"
"pertama kali mendengarmu bernyanyi di ruang musik" Xiumin tersenyum mengatakannya
"kau pernah mendengarku bernyanyi? di ruang musik?"
"eumm..ne. dibulan Agustus"
_╩ Ξ ╩_
Sehun mengepalkan tangan kanannya saat melihat sebuah pemandangan yang kembali menyakiti kedua matanya. Ia kembali dihadapkan pada sikap Luhan yang terlampau manis terhadap namja yang memiliki tinggi melewati batas kewajaran manusia bernama Kris.
"Annyeong chingu~"
Sehun menghembuskan nafas kasar dan rahangnya mengeras saat mendengar suara Luhan yang indah sekaligus memuakkan disaat yang bersamaan.
Sungguh ia tidak menyukai sikap Luhan yang menyapa Krsi begitu lembut tanpa ada tatapan membunuh yang sering namja rusa tersebut tujukkan pada dirinya. Sikapnya terlampau berbeda sehingga membuat Sehun harus menahan kekesalannya dengan sekuat tenaga terhadap Luhan.
"hm"
Kris hanya menjawab sapaan Luhan yang begitu energik dengan singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang ia baca.
Kris tentu saja paham bahwa Luhan sedang ingin mencairkan suasana yang sangat amat dingin antar keduanya.
"kau tau aku benci di abaikan"
Luhan kembali merasakan sakit saat Kris kembali menggangap dirinya seolah tidak ada. Kris kembali mengabaikannya dan Luhan membenci hal tersebut.
"kau juga mengabaikanku"
Luhan menunduk dengan tatapan menyesal atas perkataan nya. Seharusnya ia juga tidak mengabaikan Kris. Seharusnya ia memberi sebuah jawaban pasti untuk namja tersebut.
"kau tau aku tidak bisa menjawabnya"
Tangan Kris yang mencoba memindahkan kertas ke halaman selanjutnya terpaksa terhenti saat Luhan mengucapkan kalimat tersebut.
'apakah sangat sulit mengatakannya?' Kris tersenyum miris
"kau tau aku benci diabaikan dan tidak bisa menjawab pertanyaanmu Kris" Luhan memposisikan tubuhnya tepat disamping namja tersebut.
Menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Kris dan menatap buku yang digenggam namja tersebut,lalu membuangnya asal. Luhan kemudian tersenyum tipis melihat bahwa buku yang menjadi penghalangnya berhasil menghilang.
"aku benci diabaikan"
"aku tau. Kau tau bagian terbaik dari hari ini?"
Luhan kembali menempatkan dirinya diposisi semula. Memandang Kris yang secara tiba-tiba mengucapkan hal yang membuat dirinya bingung seketika.
"kau tau bagian terbaik dari hari ini?"
Luhan menggeleng pelan saat Kris kembali menanyakan hal tersebut.
"aku mendapat kesempatan untuk jatuh cinta lagi denganmu Lu"
Luhan membeku selama selang beberapa detik. Kris sungguh membuat dirinya bingung sekarang. Membuat dirinya kembali mempertanyakan mengapa Kris selalu memperlakukan dirinya istimewa. Membuat Luhan hanya memiliki dirinya di dunia.
Jelas semua pertanyaan tersebut sudah terjawab kemarin. Saat Kris dengan raut wajah serius mengatakan perasaan nya pada Luhan. Bukankah hal tersebut sudah jelas.
Luhan tersenyum kecil mendengarnya.
"nal ttalawa (ikut aku)"
_╩ Ξ ╩_
Luhan selalu berfikir bahwa tidur merupakan hal yang paling baik untuk dilakukan. Karena Luhan dapat melupakan segala sesuatu untuk sementara waktu. Meskipun hanya sementara. Karena keesokan harinya masalah tersebut akan muncul kembali.
Masalah seperti yang berada jelas dihadapannya sekarang. Oh Sehun. Namja yang secara tiba-tiba menariknya dari sisi Kris beberapa waktu yang lalu. Memandang dirinya dengan tatapan datarnya seperti biasa. Namun dengan maksud yang berbeda seperti yang biasanya di lihat Luhan. Luhan dapat melihatnya dengan jelas.
Pagi tadi saat Luhan terbangun dari tidurnya,dengan kamar yang berbeda seperti yang ia tiduri selama ini. Luhan menemukan Sehun berbaring disamping nya. Dalam keaadaan memeluk dirinya. Namja datar tersebut bersenandung kecil dalam tidurnya. Hal kecil yang dapat membuat Luhan terpaku selama beberapa saat dan diam untuk menatap Sehun lebih lama.
Melihat bahwa namja datar tersebut secara sepontan membuka mata,Luhan ikut membeku dalam diam saat itu juga. Sehun hanya tersenyum kecil mendapati dan melihat bahwa Luhan sedang memandang wajahnya. Tidak menghiraukan dan tidak peduli bahwa Luhan sedang mencoba melepaskan tangan Sehun dari pelukannya.
Namja datar tersebut justru bangkit secara cepat setelah puas memeluk Luhan. Mengambil segelas air yang selalu tersedia di nakas yang berada tepat disamping kasurnya. Memberikannya pada Luhan tanpa berbicara. Berjalan pergi menuju kamar mandi untuk menetralkan detak jantungnya setelahnya. Terakhir ia mendapati bahwa Luhan telah dengan suksesnya melarikan diri dan meninggalkan sebuah catatan kecil yang berisi sebuah kata formal 'gamsahabnida'
_╩ Ξ ╩_
Belum sempat Sehun menyampaikan maksud tujuannya menyeret Luhan. Namja rusa tersebut memotong dengan cepat sebelum Sehun mengatakan sepatah kata pun
"gamsahamida. Untuk semalam Sehun-ssi"
Luhan tidak dapat membantah bahwa ia merasa nyaman semalam. Saat Sehun mendekapnya dalam tidur. Membuat Luhan tidak merasakan apapun selain kenyamanan dan kehangatan saat tidur. Kenyamanan yang telah lama tidak dirasakan namja rusa tersebut. Tentu saja semenjak masa lalu Luhan terukir jelas dalam mental dan fisiknya.
Untuk itu Luhan berterima kasih. Mengungkapkan bahwa Sehun sudah cukup membantunya semalam. Mendengarkan dan membantu Luhan mengatasi serangan panik nya. Dan itu sudah lebih dari pengharapan Luhan terhadap namja datar tersebut.
Sehun mengusap wajah nya frustasi lalu menatap Luhan dengan tatapan intens dan menuntut "apa kau mencoba untuk membenciku lagi?"
"kau tau sejak awal kita tidak berteman Sehun-ssi. Aku sudah membayar kompensasiku kemarin. Seperti yang kukatakan sebelumnya,kau harus menjaga jarak sekarang" Luhan mengatakannya tanpa beban
Sehun tersenyum miris dengan kepala yang sedikit menunduk "apa karena kau malu dengan luka bakar yang kau tunjukkan padaku?"
Luhan secara reflek menggengam lengannya. Mencengkram luka bakar yang terpatri jelas di lengan kanan nya tersebut dengan kekuatan penuh. Meluapkan segala emosinya atas perkataan Sehun yang mengatakan pada dirinya,bahwa Luhan malu menunjukkan luka tersebut.
"aku tidak pernah malu karena bekas luka ini Sehun-ssi. Aku malu karena seluruh dunia tidak akan pernah memahaminya" Luhan menatap Sehun. Menunjukkan bahwa Sehun termasuk kedalam sederetan orang yang tidak memahami hal tersebut. Hal buruk yang menimpa Luhan.
Dalam hal ini perkataan Sehun jelas sangat berada diposisi yang salah. Sehun menyadari bahwa ia tidak perlu mengatakan hal tersebut. Luhan sudah menceritakan hal yang menyakitkan semalam. Namja datar sepertinya tidak harus melukai Luhan keesokan paginya. Seharusnya Sehun melakukan hal tersebut,tapi ia memilih mengajukan pertanyaan kembali.
"lalu kau membenciku karena hal konyol seperti apa?"
"kau tau kesalahanmu sendiri Sehun-ssi. Sejak awal kau bahkan tidak meminta maaf atau berterima kasih atas kompensasi yang baru saja kubayar kemarin"
Sehun akui bahwa ia telah menjadi sosok yang mungkin saja dapat dikatakan brengsek di mata Luhan. Hal ini terjadi karena pada dasarnya ia tidak pernah peduli dengan orang disekitarnya. Saat ia dihadapkan pada situasi dimana ia bertemu dengan seseorang yang bersikap sama dengannya akan tetapi bertentangan. Kenyataan indah yang bahkan ia harus terima adalah ia jatuh kedalam kenyataan yang sangat dibencinya.
Ia Oh Sehun. Mencintai Luhan,namja yang berdiri dihadapannya sekarang.
Sehun melangkahkan kaki kedepan. Mengabaikan Luhan yang membuang muka kearah samping. Mungkin namja rusa tersebut sudah cukup lelah dengan sikap Sehun.
"aku tidak bisa berterima kasih dengan baik karena aku takut kau meninggalkan ku setelah aku mengucapkan hal itu"
Luhan membulatkan matanya. Mengalihkan pandangannya kearah Sehun. melihat bahwa namja datar yang dihadapannya menatap dirinya dengan penuh keseriusan. Merasakan dingin yang menyapa nya seketika sehingga membuat tubuh Luhan bergetar tanpa sebab seperti kemarin. Membiarkan hatinya berdebar atas perkataan Sehun.
Layaknya penyair yang kehilangan kata katanya Luhan menanggapi perkataan Sehun dengan nada pelan "aku harus pergi"
Sehun menatap Luhan datar "eodi? (kemana?) kita belum selesai bicara. Kau ingin bertemu namja listrik itu?"
Luhan menatap Sehun tajam kali ini,karena perkataannya yang sekali lagi mengejek Kris. Menurut Luhan hal ini merupakan sebuah bentuk penghinaan yang diucapkan namja tersebut.
"berhenti mengatakan hal buruk tentangnya Sehun-ssi!"
"wae? Kau menyukainya?"
Luhan tidak menjawab. Membuat Sehun mengalihkan pandangannya dan tersenyum remeh setelahnya
"kau benar menyukainya?"
"itu bukan urusanmu Sehun-sii. Galkhae (aku pergi dulu)"
Luhan baru saja ingin melangkahkan kaki untuk pergi,akan tetapi tidak berhasil karena sedetik kemudian.,Sehun kembali menempatkannya di posisi semula.
"kau tau ini sangat berhubungan denganku! Apa kau sungguh tidak dapat melihatnya?"
Kebingungan atas pernyataan Sehun yang mengarah padanya. Luhan tidak dapat menggerakan tubuhnya saat pertanyaan dan terlebih sikap yang di tujukkan Sehun untuk dirinya sekarang.
"kau menyukaiku?" Luhan membuka suara secara tiba tiba
Menatap Sehun dengan tatapan tajam walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa jantungnya hampir terlepas dari tempatnya karena sikap yang Sehun tujukkan beberapa jari belakangan. Membuat Luhan harus menyimpulkannya sendiri. Menyimpulkan sikap janggal abnormal seorang Oh Sehun
"Sehun-ssi apa kau menyukaiku? Kau hanya tertarik padaku Sehun-ssi,itu bukan berarti kau menyukaiku"
Luhan mengingatkan perkataan Sehun kemarin,saat namja datar tersebut mengatakan kepada Luhan bahwa ia tertarik dengan namja rusa tersebut. mungkin jika Luhan adalah seorang yeoja maka ia akan meleleh saat itu juga.
Akan tetapi mengingat bahwa ia bukanlah seorang gadis,serta mengingat bahwa itu hanyalah sebuah ketertarikan. Maka Luhan tidak menanggapi hal tersebut.
Sehun menatap Luhan dengan pandangan yang sulit diartikan sekarang. Mencoba menyusun beberapa kata untuk menjelaskan perasaannya. Dan akhirnya sebuah kalimat berhasil lolos dari bibirnya tanpa sadar.
"jika aku cemburu...maka ya. Aku sangat menyukaimu. Sangat"
Deg!
Sehun menggengam tangan Luhan setelah mengatakannya. Menyampaikan pada Luhan bahwa tubuhnya bergetar hebat karena mengatakan kalimat tersebut. Membuat Luhan menggigit bibir bawahnya saat merasakan tangan Sehun yang bergetar.
Sehun tidak pernah berfikir bahwa Luhan adalah kepribadian yang sulit untuk mencintai seseorang. Mungkin namja rusa tersebut terlihat sangat sulit untuk didekati,dikarenakan sikap tidak peduli yang selalu terpatri baik dalam dirinya. Tapi Sehun dapat memahami dengan baik bahwa namja tersebut hanya tidak memiliki seorang pun yang memiliki kesabaran yang cukup besar untuk memahami setiap aspek dalam dirinya.
Sehun memahaminya.
Cinta akan menjadi jauh lebih sulit ketika ada cinta yang sangat diinginkan oleh seseorang.
"Saranghae"
"apa yang kau bicarakan Sehun-ssi? Kau bercanda,bukan?"
Kedua manik mata Sehun teralihkan sebentar dan memandang Luhan dengan penuh keseriusan setelahnya "bagaimana bisa kau menggangap aku sedang bercanda sekarang?"
Luhan menelan ludahnya dan meilhat Sehun yang tidak bergeming dari tempatnya. Melihat bahwa sekarang namja datar tersebut tengah menarik nafasnya dengan susah payah dan mengatakan hal yang benar benar membuat Luhan tidak dapat merasakan apapun setelahnya
"Michildesi saranghago sipeun danhan saram (satu-satunya orang yang ingin kucintai sampai gila)"
"..."
"neo (kamu)"
PENYAKIT YANG MENYERANG SISTEM PERNAFASAN – TBC
_╩ Ξ ╩_
Annyeong~ ai dateng bawa chap 10 *muter lagu The Winter's Tale*
Pertama kali ngeliat video D.O,Chen dan Baekhyun bawain lagu ini. reaksi pertama ai adalah betapa sangat susahnya lagu ini untuk dihafal! Mereka bertiga nyanyi gak ada putusnya dan bikin ai bengong sendiri ngeliatnya. Semuanya pasti akan berjalan lebih lancar jika ada Luhan dan mereka perform berempat kayak dulu T^T
Hhhh...apakah chap ini mengecewakan?
Apakah ai lama gak update nya? Ini gak sampai sebulan sih sebenarnya tapi lumayan lama dari jadwalnya
Hhhh...ai sangat bingung akhir akhir ini dan menderita WB untuk ff ini.
Beneran deh readernim,kenapa ai harus menderita WB pas udah menuju chap akhir? Padahal kemaren lancar lancar aja nulis ff I Understand I Just Dont Care ini! huft! Gak ngerti sama otak ai sendiri
Disaat liburan datang dan nilai ai pas ujian kemaren memuaskan kenapa tiba tiba ai harus menderita WB? KENAPA?! Ai gak ngerti T^T
Ai sebenarnya dapat pencerahan sedikit saat ngeliat update nya Luhan di weibo kemaren. Tapi...jadinya gini deh chap 10 nya,apakah mengecewakan?
Ai harap kalian gak kecewa sama chap ini. tapi...hey lihat deh... beberapa couple udah ai damaikan. Bwuahhahahhahha
Kalian suka cara damai versi yang mana? Kaisoo? Chanbaek? Atau Xiuchen? Just give me some review,okay?
Dan untuk sekedar info plus promosi dikit. Ai ikutan ambil peran di Hunhan Bubble Tea Couple yang diselengarakan sama author Liyya. Dan bagi yang minat baca ai sarankan untuk meninggalkan review setelahnya. Judul ff kedua ai di ffn adalah 'I'm Dying',dan ff ini cuman Oneshot. Kalau para reader berminta silahkan dibaca,okay?
Untuk chap ini ai gak bisa ngomong banyak. Ai menderita WB dan satu satunya jalan hanyalah saran kalian untuk ff ini. dan sepertinya prediksi ai untuk menamatkan ff ini dibulan Desember gak berjalan mulus karena WB yang menyerang T^T
So...Just give me some review,okay? Ai juga minta maaf karna gak bisa balas review kalian seperti yang ai janjikan di chap kemaren. Ai terlalu lelah dengan WB dan beberapa masalah yang datang disaat awal liburan ini.
Oh iya ada beberapa reader yang minta pin bbm ai. Well sebenernya bukan ai gak mau ngasih info soal line,twitter,ig,path,bbm,atau fb pribadi ai. Tapi...ai takut sama diri sendiri. Kenapa?
Ada satu fakta yang musti readernim semua tau. Ai ini susah banget dihubungin orangnya. Orang orang disekitar ai juga sering ngomong kayak gini. Tapi kalau emang kalian mau bisa PM ai aja lagi. Tapi ai gak janji bisa ngobrol bareng kalian apa nggak. Karna ai orangnya emang kayak gini T^T
Ribet -_-
oke ai rasa udah cukup dan tolong bagi silent reader ai kasih warning sekali lagi untuk cepet-cepet tobat. Arrasoe? Dan buat readers baru. Welcome to the dark side baby~ #apaansih?
.
.
.
.
.
Silahkan tinggalkan jejak kalian sebanyak
