THIS IS OUR STORY

Chapter : 10

Cast: Kim Jongin, Oh Sehun, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, and many more.

Pairing: Hunkai!main, Chanbaek!minor

Rated: T

Warning: Boyslove/Mpreg

Disclaimer: Semua cast milik Tuhan dan diri mereka sendiri.


Enjoy!


Jongin memperhatikan sang putra yang terlelap. Dia tersenyum kecil, kemudian menjulurkan tangan mengelus kepala Haowen pelan. Bocah itu perlahan bangun. Dia membuka matanya pelan, kemudian tersenyum lebar mandapati sang ibunda di sampingnya. "Eomma…" ucapnya dengan suara serak. Jongin mendekatkan diri dengan sang putra kemudian mengecup pelan keningnya. "Haowen, ayo bangun trus mandi, paman Baekhyun sudah menyiapkan sarapan untuk kita." Haowen mengangguk, kemudian beranjak dari tempat tidurnya.

"Haowen…" Haowen membalikkan badan.

"Ada yang eomma ingin bicarakan denganmu."


Jongin menatap ke arah sang putra dengan was-was. Begitu pula dengan Baekhyun. Kedua lelaki dewasa itu ketar-ketir menunggu reaksi bocah itu. Haowen hanya terdiam. Dia menyilang kedua tangannya didada. Dia juga bingung harus berkata apa. "Kenapa eomma dan paman membohongiku selama ini?" Jongin menelan salivanya kasar. Dia meraih segelas air putih di hadapannya kemudian menenggaknya. Lelaki itu melirik ke arah Baekhyun yang menatapnya dengan resah. Haowen memperhatikan gerak-gerik dua orang yang paling Ia hormati itu dengan seksama. Dia tidak marah, sungguh. Hanya saja, dia… kecewa. Ibunya selalu bilang bahwa orang tuanya sudah meninggal. Dia tidak punya kakek dan nenek lagi. Hanya Haowen dan Baekhyun saja yang Ia miliki. Haowen selalu bersimpati tentang itu. Dia merasa terenyuh ketika mendengarnya. Lalu sekarang? Lelaki itu bilang dia kabur dari rumahnya dulu karena suatu masalah. Haowen tidak mengerti. Masalah apa? Sebegitu rumitnya kah hingga harus kabur segala?

Lalu Baekhyun… Lelaki itu adalah seseorang yang Ia hormati selain ibunya. Dia tidak percaya paman kesayangannya itu sampai hati membohonginya juga. Haowen hanya… kecewa dengan mereka.

Jongin menghela nafas. Dia menatap lembut Haowen. "Kami tidak bermaksud membohongimu." Jongin membasahi bibirnya yang kering. "Ada beberapa hal tentang masa lalu eomma yang tidak bisa eomma ceritakan. Kamu harus mengerti, belum saatnya."

"Ada apa dengan masa lalu eomma? Aku bisa mengerti. Eomma tahu aku seperti apa." Haowen memandang sang ibunda menuntut. "Kenapa eomma membohongiku tentang keluarga eomma? Ada apa sebenarnya?" Haowen berkata frustasi.

"Haowen…" itu suara Baekhyun. Lelaki itu memajukan duduknya. Menaruh kedua tangannya diatas meja. "Jangan seperti ini, dia ibumu." Haowen mengalihkan pandangannya ke arah sang ibunda. Lelaki itu susah payah menahan air mata yang berkumpul di pelupuk matanya. "Jong, pergi ke kamarmu." Jongin menatap Baekhyun dengan tatapan bingung. Lelaki itu hanya mengangguk samar, mengisyaratkan sahabatnya itu untuk menuruti perkataannya. Jongin mengangguk, dia bangkit duduknya, berjalan menuju kamarnya. Baekhyun mengalihkan pandangannya ke arah Haowen yang masih menatapnya heran. Dia memegang kedua tangan bocah itu. "Haowen, paman ingin kamu berjanji, bahwa kamu akan selalu berada di samping ibumu apapun yang terjadi." Haowen mengerutkan keningnya tidak mengerti. "Ibumu… dia memiliki masa lalu yang rumit. Paman tidak bisa menjelaskannya padamu, hanya ibumu yang berhak dan belum saatnya kamu tahu."

"Lalu kapan? Paman, aku mohon, sebenarnya ada apa? Apa lagi yang kalian sembunyikan dariku?" Bocah itu menitikan air matanya. Dia hanya bingung, dia hanya… tidak harus seperti apa. Baekhyun menjulurkan tangannya, menghapus air mata yang mengalir di pipi gembul itu. "Haowen, apa kamu sayang dengan ibumu?" Haowen mengangguk. "Beri dia waktu. Dia akan menjelaskan semuanya denganmu nanti. Yang perlu kamu lakukan hanya percaya dengannya. Dia hanya berusaha melindungimu, dia tidak mau kehilanganmu. Dia menyayangimu, apapun yang terjadi." Haowen menarik tangannya dari genggaman Baekhyun. Bocah itu turun dari kursinya dan berjalan lemas menuju kamarnya. Baekhyun hanya menghela nafas kasar. Dia menenggelamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya. Dia kasihan dengan Haowen. Baekhyun rasa, dirinya dan Jongin sudah terlalu banyak membohongi bocah itu.

Disatu sisi dia juga tidak tega dengan Jongin. Dia tidak bisa membiarkan Jongin menyalahkan diri atas keadaan Haowen. Jongin tahu keinginan terbesar Haowen adalah memiliki seorang ayah. Dan itu bisa saja terwujud, kalau saja Jongin mengaku pada Sehun dulu. Semuanya tidak akan jadi serumit ini. Dan Baekhyun tahu, Jongin melimpahkan semua kesalahan pada dirinya sendiri. Baekhyun tidak tega. Baekhyun tidak kuat kalau sampai Haowen tahu dan menyalahkan semua pada lelaki itu.

"Paman…" Haowen terhenti di depan pintu kamar. Dia berbalik menatap Baekhyun. "Apa masalah eomma… ada kaitannya dengan ayahku?" Baekhyun tersentak.

"Apa aku anak di luar nikah? Apa eomma kabur dari rumah karena aku?" Baekhyun membulatkan matanya. Untuk kali ini, dia merutuki kepintaran Haowen. Seharusnya dia tahu bahwa pola pikir anak itu berbeda dari anak seusianya. Haowen… dia pintar menyimpulkan sesuatu. "Benarkan paman? Aku… anak haram?" Bocah itu menangis. Baekhyun beranjak dari duduknya. Dia memeluk anak itu erat. Air matanya mengalir tanpa dia sadari.

"Tidak… kamu jangan berkata seperti itu."

"Appaku tidak pernah kecelakaankan? Cerita kalian itu… kalau kalian mau tahu, sangat konyol." Haowen tertawa getir. Baekhyun menatap Haowen, dia menangkup kedua pipinya. "Haowen… bukan begitu. Kami han–"

"Aku mengerti paman." Haowen tersenyum tipis. "Aku mengerti kalian hanya berusaha untuk melindungiku. Aku… mengerti." Baekhyun terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia tidak menyangkal, karena apa yang Haowen katakan itu benar. Haowen menghapus kasar air mata di pipinya. Dia memeluk Baekhyun erat. Baekhyun balas memeluknya dengan hangat. Beberapa detik kemudian Haowen melepaskan tautan. Dia menatap Baekhyun dengan senyum di wajah. Dia menghapus air mata lelaki itu. "Paman, terima kasih."

"Jangan beritahu eomma kalau aku tahu tentang ini. Aku… tidak akan bertanya lagi. Aku tidak akan memaksa eomma lagi, aku tahu ini berat baginya." Haowen tersenyum hampa. Baekhyun terisak melihat anak itu. Haowen, bocah itu… Baekhyun tidak tahu harus bagaimana mendeskripsikan putra semata wayang Jongin itu. Dia begitu lugu, naïf, dan jujur. "Aku tidur dulu paman. Besok aku akan bicara pada eomma. Aku setuju kalau kami pindah ke Seoul." Haowen memasuki kamarnya. Baekhyun beranjak, dia berjalan menuju kamarnya di lantai dua.

"Hyung…" Lelaki itu menghentikan langkah. Baekhyun menghapus kasar air matanya. Dia tersenyum kemudian berbalik. Mendapati Jongin yang berjalan cepat ke arahnya dengan wajah was-was. "Bagaimana?"

"Haowen setuju untuk pindah ke Seoul." Jongin mengerutkan kening.

"Apa yang hyung katakan padanya?" Baekhyun masih memasang senyum. Tangannya terangkat mengelus sebelah bahu Jongin. "Tidak perlu khawatir. Aku hanya bilang padanya untuk selalu berada disisimu apapun yang terjadi."


Bocah itu mati-matian meredam tangis dengan bantal yang Ia miliki. Dia sakit, dadanya sesak. Dia tidak menyangka kalau benar seperti ini adanya. Haowen hanya menerka-nerka dulu. Tentang teori ayahnya meninggal itu sangat tidak masuk akal menurutnya. Pernah selintas terpikir kalau dia anak di luar nikah. Ternyata memang benar. Dia tidak marah dengan ibunya. Dia juga tidak marah dengan siapapun lelaki yang membawanya ke dunia ini. Dia hanya kecewa... Dia tidak pernah meminta untuk berada dalam situasi ini. Dia tidak pernah meminta Tuhan untuk membawanya ke dunia ini dengan cara seperti ini. Dia hanya ingin kehidupan yang normal. Dengan ibu dan ayahnya. Hanya itu saja. Dia tidak minta di lahirkan di dunia ini karena kesalahan. Sungguh…

Haowen berjalan terisak menuju wastafel kamar mandi miliknya. Dia menatap bayangannya di cermin. Tangannya mengusap air matanya kasar. Dia tidak boleh seperti ini. Dia tidak boleh berpikiran begini. Dia punya ibunya. Lelaki itu sudah mengorbankan keluarganya sendiri hanya untuknya. Haowen hanya memilikinya. Dia tidak boleh mengecewakannya.


Baekhyun memeluk Jongin dengan erat. Sungguh, dia tidak mau berpisah dengan Jongin. Ia mengerucutkan bibirnya, menghela nafas keras. "Jong, kamu benar-benar harus pindah kesana?" Jongin menjauhkan dirinya, dia menatap Baekhyun kemudian mengangguk.

"Tapi kan, kamu punya pekerjaan disini. Haowen juga sekolahnya gimana?"

"Aku sudah bilang pada direktur utama untuk memindahkanku ke kantor pusat di Seoul. Beliau mengizinkan. Untuk sekolah Haowen, aku mulai cari besok." Baekhyun mendengus. "Jongin gak asik! Siapa yang nemenin aku nanti?" Jongin terkikik kecil.

"Hyung, jangan begini… Ada Chanyeol hyung kan?"

"Beda!" Jongin tertawa. Baekhyun kembali melancarkan rayuan-rayuan mautnya agar Jongin tetap tinggal bersamanya. Sungguh, Baekhyun tidak bisa jauh dari Jongin. Dia sudah biasa hidup dengan lelaki itu sebelas tahun terakhir. Ada perasaan tidak rela kalau Jongin meninggalkannya.

Haowen hanya memperhatikan dari jauh melihat paman kesayangannya itu merengek dengan sang ibunda. Dia tersenyum kecil. Haowen tahu seberapa tergantungnya Baekhyun dengan ibunya itu. Mental lelaki itu berubah sama menjadi seperti anak sd kalau sudah menyangkut Jongin. Dia kembali memainkan psp di tangannya. Menunggu keretanya datang.

"Haowen…" Haowen mengangkat wajah. Mendapati Baekhyun yang sudah sampai di hadapannya. Lelaki itu menatapnya sayu kemudian memeluknya erat. "Kamu baik-baik ya disana. Paman sayang kamu." Baekhyun semakin merengkuhnya, Haowen membalas. "Aku juga sayang paman." Mereka berdua melepas pelukan.

"Penumpang jurusan Busan-Seoul di harap memasuki gerb–" Jongin berseru memanggil Haowen. Haowen berjalan cepat menghampiri sang ibunda diikuti Baekhyun yang menatap anak itu dalam diam. Dia kagum dengan bocah itu. Bagaimana bisa Haowen bersikap biasa saja setelah apa yang terjadi tadi malam?

Baekhyun tersenyum pada Jongin yang menatapnya lewat jendela. Dia mengangkat tangan. Melambai untuk terakhir kali seiring berjalannya kereta.


"Wow! Seoul! Yeay!" Haowen berteriak riang saat mereka baru saja turun dari kereta. Waktu setempat menujukkan pukul setengah delapan malam. Jongin tersenyum. Mengikuti putranya yang sudah mendahuluinya berlari kecil. Sepertinya anakya itu senang sekali. Jongin kembali menghela nafas. Dia tidak tahu apa yang Baekhyun katakan pada putranya itu tadi malam. Seharusnya dia senang Haowen bisa menerima itu begitu saja. Harusnya dia lega karena Haowen tidak menuntut penjelasan lagi darinya. Harusnya… tapi tidak. Dia tidak merasa lega. Sebaliknya, ada yang mengganggu di hatinya. Dia yakin pembicaraan Baekhyun dan anak itu semalam menyangkut hal lain. Tapi… dia tidak tahu apa itu.

"Eomma!" Haowen berteriak tepat disamping telinganya. Jongin tersentak. Dia rasa setelah ini dia harus benar-benar ke dokter THT.

"Kenapa sayang? Kamu mau bikin eomma tuli ya?" Haowen cemberut.

"Taksinya udah berhenti. Ayo naik."


"Haowen, nanti kamu yang sopan ya sama nenek. Bicaranya yang lembut, jangan kasar, hati-hati jangan teriak-teriak." Haowen mengangguk. Dia tidak sabar bertemu dengan neneknya. Mereka baru sampai di depan kediaman keluarga Oh. Baru saja menurunkan barang-barang. Rencananya mereka akan tinggal disini dua atau tiga malam. Besok Jongin akan cari apartemen untuk mereka tinggali. Tentu saja dengan ibu dan kakaknya. Jongin menggandeng Haowen menuju pintu utama. Di belakangnya ada satpam yang dulu sangat Ia kenal. Paman Jung. Dengan senang hati membawakan barang mereka. Ah, pria tua itu masih saja ramah seperti dulu.

Jongin menelan salivanya kasar. Berulang kali menarik nafas. Tangannya terjulur mengetuk pintu. Pintu terbuka, nyonya Oh menyambut kedatangan mereka dengan senyum di wajah. Wanita paruh baya itu langsung memeluk Jongin. Dia mengalihkan pandangan pada Haowen yang berdiri di samping lelaki itu. Ia berjongkok, mensejajarkan diri.

"Haowen?" Haowen mengangguk. Nyonya Oh tersenyum.

"Haowen, ini nenek Oh. Ayo beri salam." Jongin memerintah putranya itu. Haowen tersenyum kecil, kemudian membungkuk. "Halo nek, aku Kim Haowen." Wanita paruh baya itu mengelus rambut Haowen gemas. Jongin tersenyum. Andai saja Nyonya Oh tahu bahwa Haowen ini cucu kandungnya, darah daging Sehun. Wanita paru baya itu berdiri. "Yuk Jong, masuk. Yang lain sudah menunggu."

Jongin hanya memandangi putranya dalam diam. Mereka sedang makan malam. Sedari tadi, Haowen terus saja di ajak berbicara oleh para orang tua yang ada disitu. Di luar dugaan, Haowen tidak takut sama sekali. Jongin cukup takut awalnya. Takut Haowen tidak dapat beradaptasi.

"Aku pulang!" suara itu. Jongin tau pasti. Tidak tahu kenapa Ia jadi takut sendiri. Hatinya tiba-tiba berdegup kencang. Bagaimana reaksi lelaki itu nanti?

Mereka bertemu pandang. Sehun tersenyum. Laki-laki itu berjalan ke arah mereka. Mencium pipi sang ibunda tercinta, kemudian ikut bergabung bersama mereka. Mendudukan diri tepat disampingya. Baru menyadari bahwa di depan mereka ada anggota baru. Jagoan kecil yang sangat manis. Tanpa sadar Sehun memandanginya.

"Ehem!" Sehun tersadar dari lamunannya.

"Hun, kenalin ini Haowen. Putranya Jongin." Ibunya memperkenalkan. "Haowen. Ini paman Sehun, putra nenek."

"Halo paman. Aku Kim Haowen." bocah itu memperkenalkan diri. Tersenyum manis kemudian membungkuk. Sehun merasakan jatungnya akan melontar keluar sekarang. Air matanya susah payah Ia tahan. Kim Haowen? Sehun tersenyum pahit. Ingin segera mengganti marga Haowen kalau bisa. Dia ingin Haowen tahu bahwa dia ini ayah kandungnya. Dia ingin Haowen mengakuinya. Sehun mengalihkan pandangan ke arah Jongin. Lelaki itu menunduk. Merasa tidak nyaman. Mengangkat wajahnya saat sadar Sehun memandanginya. Sehun seperti meminta kepastian. Seolah mengerti, Jongin mengangguk. Sehun mengalihkan pandangannya lagi ke putra kecilnya. Dia tersenyum tipis. Haowen terdiam. Bingung dengan reaksi pria dihadapannya. Yang lain sudah asik kembali dengan obrolan mereka sendiri. Tidak menyadari ada kecanggungan diantara Sehun dan Jongin.

Sehun menjulurkan tangannya, mengelus pelan kepala sang putra. Haowen masih menatapnya dengan bingung. Ia putuskan untuk melanjutkan kembali memakan makanannya. Sehun hanya diam memandangi wajah bocah itu. Benar-benar duplikatnya. Dia tersenyum getir. Ia tidak tahu seberapa berat Jongin membesarkan Haowen. Tapi satu yang Ia tahu, Jongin berhasil. Berhasil mempertahankan Haowen dan membesarkan hingga menjadi seperti ini. Berhasil membuatnya kagum akan betapa kuatnya Jongin menjalani hari-hari berat karena ulah dirinya. Tadi Haowen memanggilnya apa? Paman? Hey! Sehun ingin putranya itu memanggilnya appa. Hatinya sakit bukan main. Dia ayah kandungnya! Tidak bisakah Haowen memanggilnya appa? Sekali saja. Sehun ingin menangis rasanya.

"Paman, kenapa merhatiin aku terus?" Sehun tersentak. Putranya berbicara dengannya.

"Ah… maaf. Paman kagum aja. Kamu kok manis banget. Mirip sama eomma kamu." Jongin tersedak minumannya. "Aku ganteng paman!" Haowen protes. Enak saja dibilang manis. Dia itu tampan, lelaki sejati itu harusnya tampan. Sehun mengusak rambutnya gemas kemudian tertawa. "Iya deh kamu ganteng." Sehun mengalah. Haowen tersenyum kecil.

"Paman kenal baik dengan eomma?" Bocah itu tiba-tiba bertanya. Sehun tersenyum, kemudian mengangguk.

"Paman teman eomma kamu waktu SMA." Haowen membulatkan bibirnya. "Paman, eomma dulu waktu SMA gimana?" Haowen mulai antusias. Jongin terlihat tidak nafsu makan sekarang.

"Eomma kamu sama paman Sehun dulu tuh suka banget berantem." Bibi Kim menimpali. Haowen melihat kearah neneknya kemudian kembali ke Sehun. "Benar paman? Kenapa? " Jongin mulai merubah posisi duduknya gelisah. Kenapa malah membahas ini sih? Membahas masa lalunya bersama Sehun. Haowen juga. Kenapa antusias begitu sih?

"Eomma kamu dulu iri banget sama paman." Sehun melirik ke arah Jongin dengan jahil. "Soalnya paman selalu membayang-bayangi dia untuk jadi juara umum." Jongin balas menatap Sehun galak. Enak saja! Bukannya Sehun yang iri padanya.

"Hah? Maksudnya?" Haowen semakin penasaran.

"Iya. Jadi, eomma kamu tuh selalu pengen juara umum setiap tahun. Yah.. karena paman adalah teman yang baik, paman ngalah deh. Jadinya eomma kamu juara satu, paman jadinya kedua." Mata Sehun menerawang. "Dia kuat disegala mata pelajaran. Tapi dia paling gak bisa pelajaran seni rupa. Gambar awan aja masih salah." Haowen terbahak kali ini. Yang lain juga. Ibunya yang selama ini Ia anggap seseorang paling sempurna ternyata memiliki kelemahan juga. Wajah Jongin memerah. Malu. Awas saja nanti Sehun. Ia akan balas dendam.

"Pinter banget ya bohong sama anak kecil. Bukannya yang iri tuh kamu?" Jongin menimbrung. Membela diri. Tidak mau dipermalukan didepan putranya.

"Ih, eomma ngelesnya bisa. Udahlah, Haowen jadi tahu kenapa eomma gak mau bantuin Haowen bikin pr gambar, karena omma gak bisa gambar? Iya kan paman ? Hahaha" Bocah itu tertawa girang. Jongin melirik kerah Sehun yang tersenyum menang ke arahnya. Jongin mendengus kesal.

"Udah ah ketawanya. Sekarang makan dulu, nanti lanjut lagi." Tuan Oh menengahi. Jongin menghela nafas.

To Be Continued...


a/n: Huaaaa! Aku agak gimana sama chapter ini. Gimana? Maaf ya kalo gak dapet feel-nya. Aku kadang suka bingung ngerangkai katanya gimana, makanya jatohnya jadi gak baku dan awkward gitu. Ya gak sih?

Anyway, sekali lagi aku ucapkan terima kasih buat yang sudah review, meskipun gak bisa aku bales satu-satu hehehe

Em... buat yang pengen Jongin sama Sehun bersatu, aku rasa gak akan terjadi di beberapa chapter kedepan. Aku mau buat Sehun sengsara dulu boleh ya? wkwkwk. Gak tau kenapa aku pengen banget buat hubungan Hunkai sedrama mungkin wkwk

Oh, iya hint buat chapter depan, bakal ada orang ke tiga di antara Sehun dan Jongin hehehe...

Last words, see you next chapter guys!

Reiew lagi boleh? hehe