Night School
Rated : T (teen)
Pairing : SasuSaku of course
Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei
Genre : Romance, Fantasy.
Warning : Bad diction, out of chara, please read summary first and if you don't like don't read!
.
Chapter 10 :
.
Bugh! Bugh! Plak!
"Apa yang kau lakukan?! Kau sebut ini latihan?"
Bugh! Bruuk!
"Fokus pada lawanmu, dasar lemah!"
Duk! Bugh! Bugh! Brruuk!
"U-ukh…" Sasuke memegang perutnya, pemuda itu mengerang kesakitan. Tak kuat menahan beban tubuhnya, ia akhirnya jatuh terduduk di tanah. Nyeri dirasakan pada wajahnya yang babak belur akibat dipukul oleh 'pelatih'-nya. Sasuke berusaha berdiri, namun ia sungguh lelah dan tidak kuat lagi, dan berakhir dengan jatuh ke tanah dengan posisi lutut dan telapak tangan yang menumpu badannya. Kepalanya menunduk menatap tanah yang ditanami rerumputan hijau di bawahnya, tanpa mendongakpun, Sasuke dapat merasakan orang yang melatihnya itu mendekatinya.
"Kau lemah," ucap orang itu. Sasuke mengepalkan tangannya di tanah seraya menggeretakkan giginya. Rahang pemuda itu mengeras kala mendengar setiap cacian yang dilontarkan oleh pemuda dingin bermata onyx padanya.
Itachi, pemuda yang melontarkan cacian tadi menghela nafas berat kemudian berkata, "Kita istirahat dulu." Sasuke mengangguk pelan, dirinya benar-benar lelah. Dan ia telah menyadari betapa lemahnya dia sekarang.
=…=
"Kumohon ayah … ini sangat penting! Ting! Ting!" Ino sudah berapa kali bolak-balik di depan Sakura dengan wajah memohon, walau dirinya tahu bahwa ayahnya yang berada di seberang tidak dapat melihat wajah memelas putri semata wayangnya.
'Sangat penting sampai kau meninggalkan ayahmu sendirian? Memangnya tugas apa itu?'
Sakura dapat mendengar ocehan kekhawatiran ayah Ino dari seberang, wajar saja ayah Ino khawatir. Anak gadis semata wayangnya 'menghilang' sejak tadi malam dan sampai sekarang belum pulang. Orang tua mana yang tidak khawatir jika keadaannya seperti itu?
"Ini tugas terberat yang tidak bisa diselesaikan hanya dalam sehari! Aku butuh beberapa minggu untuk tugas ini," tutur Ino lagi. "Hum! Maka dari itu aku harus bermalam di rumah Sakura!" Mata emerald Sakura membelalak lebar, kenapa Ino harus bawa-bawa namanya untuk mendapat izin dari ayahnya?!
"Ne? Benarkah? Kyaaa! Terimakasih ayah! Aku menyayangimu!" Ino menutup flip telpon genggamnya dengan wajah cerah, gadis itu memandang Sakura dengan senyum ceria. "Ayahku mengizinkanku!" pekik Ino girang, sedangkan Sakura menatapnya malas.
"Kenapa harus rumahku yang jadi sasaran kebohonganmu itu?" tanya Sakura seraya memutar bola matanya, Ino hanya cengengesan.
"Ayahku tahu kalau jarak rumahmu dari sekolah dekat. Aku beralasan ada tugas OSIS yang harus kukerjakan dan harus kembali ke sekolah jika ada rapat mendadak."
"Bagaimana jika ayahmu tahu kalau kau tak ada di sekolah?" tanya Sakura menaikkan alisnya.
"Ayahku akan pergi dinas keluar kota untuk tiga bulan! Jadi jangan khawatir!" Ino mengedipkan sebelah alisnya. Sakura memandang sahabatnya itu dengan takjub.
"Kau benar-benar pandai berbohong!" puji Sakura.
"Hei! Itu pujian atau hinaan?" tanya Ino tersinggung.
"Dua-duanya," jawab Sakura polos.
"Sudahlah, daripada itu…" Pandangan Ino beralih pada lapangan dekat danau tempat Sasuke beratih. "Kau tak kasihan pada pangeranmu itu? Dia dilatih habis-habisan oleh kakaknya." Sakura ikut memandang Sasuke yang terkapar lemah di tanah. Matanya memandang sendu wajah Sasuke yang tampak kelelahan dan kesakitan. Itachi memang melatih Sasuke tanpa belas kasihan dan tanpa pengampunan.
"I-Ino-chan … Sakura-chan…" Sakura dan Ino menoleh menatap Hinata yang membawa sebuah nampan yang berisi tiga gelas teh.
"Waahh … Terimakasih Hinata!" ucap Ino dan langsung menyeruput teh bagiannya. Sakura tak memedulikan itu, tatapannya masih tertuju pada Sasuke.
"Oh ya, Hinata…" Sakura menoleh pada Hinata. "Darimana kau mendapat teh ini?" tanyanya.
"Di dapur. Disana ada banyak minuman, memangnya kenapa?" Sakura tak menjawab pertanyaan Hinata dan langsung melenggang ke dapur. Hinata memasang wajah bertanya dan menatap Ino.
"Palingan untuk pangerannya," ucap Ino cuek dan masih asyik meminum tehnya. Hinata tersenyum mendengar jawabannya.
"I-Ino-chan … Sai dimana?" Gerakan Ino terhenti saat mendengar perkataan Hinata. Gadis itu tersenyum dan menoleh pada Hinata.
"Dia sedang dalam masa penyembuhan. Jadi dia tidak ikut berlatih," jawabnya tanpa menghilangkan senyum yang ia sunggingkan di wajah cantiknya.
"Souka…" Hinata mengangguk-angguk tanda mengerti.
"Kalau Naruto?" tanya Ino balik. Mendengar nama Naruto, tak luput membuat wajah Hinata memerah.
"Eng … Naruto-kun sedang dilatih oleh Pein-san," jawab Hinata gugup. Ino yang pada dasarnya senang menggoda orang lain namun tak suka digoda memasang wajah curiga dan tersenyum misterius.
"Hem, aku penasaran. Kenapa kau bisa pingsan tadi malam?" Wajah Hinata semakin memerah. Ino yang menangkap perubahan ekspresi Hinata tersenyum menggoda.
"Ti-tidak ada apa-apa."
"Hmmm?" Ino mendekatkan wajahnya pada Hinata.
"T-tidak ada apa-apa, percayalah!"
"Kau suka Naruto 'kan?" tebak Ino.
"Tidak!" Hinata menjawab dengan cepat.
"Akuilah…"
"T-tidaaak!"
"Hmm…?"
"TIDAAAAKK!"
.
.
.
"Sasukeeee!" Sasuke membuka matanya yang tadinya terpejam. Kepalanya ia miringkan ke samping, menatap Sakura yang berlari ke arahnya. Sampai di sampingnya, Sakura mendudukkan dirinya dan menatap Sasuke yang terbaring di rerumputan.
"Minumlah! Kau pasti lelah." Sakura menyodorkan sekaleng minuman pada Sasuke. Sasuke tersenyum tipis dan mengambil minuman kaleng tersebut seraya bangkit perlahan untuk duduk. Ia segera membukanya dan meneguknya dengan lancar. Sakura tersenyum maklum, pasti Sasuke sangat haus sekarang.
"Rasanya aneh, minuman apa ini?" komentar Sasuke dan melihat kalengnya.
"Entahlah, aku menemukannya di kulkas," jawab Sakura enteng. Sasuke melempar kaleng minumannya yang sudah kosong dan bangkit berdiri. Tangannya ia julurkan pada Sakura, membantu gadis itu untuk berdiri.
"Terimakasih." Lagi-lagi, Sasuke mengelus rambut Sakura. Namun kali ini dengan senyuman, bukan wajah datar seperti tadi malam. Sakura tertegun, kemudian tersenyum semanis mungkin. Setidaknya, Sasuke lebih 'hangat' padanya.
.
.
.
"Hiiyaaat!"
Pak!
"Percepat gerakanmu, Ino."
Pak! Dak!
Sai menatap Ino dan Konan yang berlatih bela diri dengan tatapan malas. Ia bosan duduk bersila seperti ini daritadi. Ia tak bisa kemana-mana karena Ino melarangnya bagaikan pengasuhnya. Ia juga tidak dapat latihan karena lukanya yang belum kering. Sungguh malang nasib pemuda tampan ini.
"Kita istirahat," ucap Konan seraya tersenyum pada Ino dan beranjak meninggalkannya. Ino menghampiri Sai yang memberinya handuk. Ino segera mengelap keringatnya yang bercucuran menggunakan handuk pemberian Sai.
"Hehehe … aku kuat 'kan?" ucap Ino bangga.
"Ya, kau benar-benar menyeramkan," ujar Sai polos. Ino menunduk dan menatap sendu ke lantai. "Ada apa?" tanya Sai heran.
"Sayangnya, aku tak sekuat itu…" lirih Ino. Sai mengernyitkan alisnya. "Kalau aku sekuat itu, kau pasti tak perlu terluka." Sai tersenyum pasrah saat mendengar lontaran Ino.
"Sudahlah, ini bukan salahmu." Ino memandang Sai dengan gugup.
"Kenapa … kau melindungiku?" tanya Ino sembari menatap Sai dalam. Sai tertegun, namun segera tersenyum palsu.
"Sudah kubilang, tubuhku begerak sendiri," jawab Sai membuang wajahnya. Namun Ino masih belum puas dengan jawaban Sai.
"Kenapa?" Sai tercenggang menatap Ino, tampaknya gadis itu benar-benar serius dalam pertanyaannya kali ini.
"Aku hanya ingin melindungi temanku." Tatapan Ino berubah sendu, namun ia tersenyum terpaksa pada Sai yang menatapnya heran. Gadis itu kembali menunduk kaku.
"Teman yah…" lirih Ino.
"Kenapa?" Ino memandang Sai dan tersenyum paksa sekali lagi.
"T-tidak ada apa-apa! Sungguh!" Sai menangkap kebohongan dalam ucapan Ino. Namun pemuda itu hanya menghela nafas dan memutuskan untuk tak bertanya lagi pada Ino yang bertingkah aneh di sampingnya.
.
.
.
"Hei Hidan! Kau mengambil minuman kaleng yang ada di kulkas?" Konan berkacak pinggang dan menatap Hidan dengan aura menyeramkan. Hidan menggeleng dengan cepat, membuat Konan mengernyitkan alisnya.
"Kalau kau Kakuzu?" Sebuah gelengan di dapatnya dari pria bercadar yang sedang bermain joker dengan beberapa anggota Akatsuki lainnya. Konan masih belum menyerah, ia harus mendapat pelaku yang meminum minuman kaleng tersebut.
"Kalau kau Sasori?"
"Tidak," jawab pemuda babyface yang sedang terfokus pada kartu di genggamannya.
"Cih, siapa yang meminumnya?" gumam Konan seraya berpikir.
"Memangnya minuman apa itu, Konan-senpai?" tanya Tobi yang mengecap lollipop-nya. Konan menatap Tobi penuh arti.
"Itu salah satu obat racikanku sendiri," ucap Konan mengehela nafas pasrah.
"Obat? Obat apa itu?" tanya Pein bingung. Konan menatapnya dengan kikuk, entah apa yang dipikirkan oleh gadis itu.
=…=
Sasuke meringis kesakitan saat Sakura memberi kompres dingin pada luka di wajahnya. Sakura memandang kasihan pada Sasuke yang kini terbaring di pahanya. Andai saja dirinya mampu mengendalikan kekuatan medisnya, pasti luka Sasuke akan lebih cepat sembuh.
"Ada apa?" tanya Sasuke heran saat melihat wajah Sakura yang seketika sedih. Sakura tersentak dan tersenyum paksa.
"T-tidak apa-apa!" jawab Sakura dengan muka yang dipaksakan sejujur mungkin. Namun Sasuke tak bodoh, ia yakin Sakura memikirkan sesuatu saat ini. Tapi Sasuke berpikir bahwa itu bukan urusannya dan memutuskan untuk berhenti bertanya.
"A-apa lukamu masih sakit?" tanya Sakura dan menempelkan kompres dingin dengan perlahan di luka Sasuke. Sasuke menggeleng pelan, membuat Sakura tersenyum. "Baguslah," ucap Sakura.
Sasuke memandang Sakura datar, namun pening seketika ia rasakan di kepalanya. Membuatnya meringis.
"Argh…!" Sasuke memegang kepalanya yang masih berada di atas paha Sakura. Sakura terlonjak kaget dan ikut memegang kepala Sasuke.
"A-ada apa? Sasuke?" Sasuke tak menghiraukan pertanyaan Sakura. Lelaki itu masih saja memegang kepalanya yang masih terasa sakit, bagaikan ada beban berat yang terjatuh ke kepalanya. Sakura seketika cemas dan khawatir dengan Sasuke. Ia melihat keluar jendela, hari ini bukan bulan purnama, berarti Sasuke tidak akan berubah. Namun … Sakura tersentak. Apakah Sasuke akan berubah karena rasa sakit yang dirasakannya?
"Arrgghh!" Rasa pening di kepala Sasuke semakin menjadi-jadi. Sakura ingin meminta bantuan keluar, namun ia tak tega meninggalkan Sasuke sendiri. Akhirnya ia sendiri dilanda perang batin.
"AARRGGH!" Sakura berdiri dengan cepat, ia seharusnya memanggil bantuan dengan cepat. Baru saja ia hendak membuka pintu, teriakan Sasuke sudah tidak ia dengar lagi. Sakura membalikkan dirinya menuju Sasuke dan memegang kepalanya.
"K-kau sudah tidak apa-apa?" tanya Sakura khawatir. Sasuke bangkit terduduk, masih diam tanpa kata. 'Ada yang aneh dengan Sasuke,' batin Sakura bingung. Sasuke mendongak menatap Sakura. Sakura dapat melihat mata onyx kelam Sasuke menjadi semakin gelap. Sasuke tiba-tiba mendorong Sakura menuju kasur yang berada di sampingnya dan menaiki tubuh Sakura, membuat Sakura terlonjak kaget dengan wajah memerah.
"S-Sasuke, apa yang kau … hhmmmpphh!" Sakura terbungkam oleh ciuman penuh hasrat dari Sasuke. Sasuke terus menciumnya dengan ganas. Sakura mencoba untuk mendorong Sasuke, namun tenaganya tak cukup kuat untuk itu. Ciuman Sasuke turun menuju tengkuknya, membuat Sakura terbelalak.
'Apakah Sasuke akan menggigitku?' batin Sakura terbelalak. Sakura menatap sendu Sasuke, namun gadis itu tersenyum. Jika Sasuke mengigitnya, mungkin itu tak apa-apa, karena dirinya juga merupakan seorang monster. Sakura menutup matanya, pasrah jika saat ini Sasuke menggigitnya, ia rela darahnya diminum Sasuke. Namun matanya kembali ia buka saat dia merasa tak terjadi apa-apa, Sasuke memang mengigitnya, namun bukan gigitan seorang vampire, melainkan hanya meninggalkan sebuah kissmark pada tengkuknya. Ciuman Sasuke turun ke area dadanya. Membuat Sakura terbelalak, apalagi ketika Sasuke menyibak kimono Sakura.
'E-eh?' Wajah Sakura merah padam. Apakah … Sasuke mau berhubungan dengannya?!
.
.
.
"OBAT PERANGSANG?!" Para anggota Akatsuki terlonjak kaget saat Konan menyebutkan nama obat racikannya. Konan mengangguk kikuk dengan wajah memerah.
"Aku sudah lama membuatnya, aku bereksprimen dengan berbagai tumbuhan, aku tidak menyangka bahwa yang kuhasilkan adalah obat perangsang," jelas Konan gugup. "Maka dari itu, aku menyimpannya dengan aman."
"Aman?! Kau taruh dikulkas dan kau bilang itu aman?" ucap Hidan dengan wajah cengo. Konan mengangguk.
"Bagaimana kalau salah satu dari anak-anak itu meminumnya?" tanya Deidara dengan wajah cemas. Konan mengangkat bahunya.
"Obat itu hanya bereaksi lima menit. Tidak akan cukup untuk melakukan suatu hubungan," jelas Konan berusaha tenang.
"Lain kali kau jangan meracik obat yang aneh-aneh, Konan." Akhirnya, sang ketua berdiri dari tempat duduknya dan menghela nafas berat.
"Itu tidak aneh!" sergah Konan.
"Sudahlah, apa boleh buat. Obat itu sudah menghilang," ujar Zetsu tenang. Para anggota Akatsuki mengangguk.
"Aku harap bukan Sasuke yang meminumnya," gumam Itachi dan menatap keluar jendela.
.
.
.
"S-Sasuke… hmmmpphh!" Sakura berusaha mendorong tubuh Sasuke. Ia yakin bahwa yang berada di depannya bukan 'jiwa' Sasuke yang asli. Ia tak mau seperti ini meski ia menyukai Sasuke!
Sasuke tiba-tiba tersentak dan menjauhkan dirinya dari Sakura. Pemuda itu memegang kepalanya yang terasa berat. Sakura yang melihatnya bernafas lega meski ada sedikit rasa kecewa dari dalam hatinya, sepertinya Sasuke sudah kembali semula.
"Sasuke?" panggil Sakura seraya mendekati Sasuke. Namun Sakura juga agak ragu mendekatinya. Bagaimana kalau Sasuke mengusirnya lagi seperti waktu itu? Sasuke memandang Sakura, onyx-nya menatap bagian dada Sakura yang agak terbuka. Sadar diperhatikan, Sakura segera menutup kimono bagian dadanya yang tersibak dengan wajah memerah.
"Ehm … a-ano … emmm…" Sakura bergumam kikuk, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Sasuke juga hanya menatapnya dengan tatapan datar seperti biasanya.
Sreeek!
"Sakura! Sasuke! Makan malam telah siap!" Ino terheran saat melihat pemandangan di depannya. Sakura yang memeluk dirinya sendiri dengan wajah memerah, dan Sasuke yang nampaknya membuang wajahnya. "Eh? Kalian kenapa?" Sakura menggeleng cepat demi menanggapi pertanyaan Ino. Sakura segera berdiri, diikuti Sasuke di belakangnya.
"Ayo makan!" Sakura mendorong Ino keluar, yang disambut tatapan bingung oleh gadis Yamanaka tersebut.
.
.
.
"Eh, Sasuke, Sakura, kalian melihat minuman kaleng yang berada di kulkas?" Konan menyambut kedatangan Sasuke dan Sakura di ruang makan dengan pertanyaan yang langsung membuat Sakura meneguk ludahnya dengan susah payah. Ia harusnya memang harus meminta izin pada Konan sebelum mengambil barang milik Akatsuki. Sakura melirik Sasuke melalui ekor matanya, Sasuke hanya diam dan melemparkan tatapannya ke arah lain.
"Emm… i-itu, memangnya kenapa?" tanya Sakura berpura-pura.
"Itu bukan minuman biasa, itu obat perangsang yang kuracik sendiri." Mata Sakura membelalak lebar.
"O-obat perangsang?" Konan mengangguk. Sakura sekali lagi menelan ludahnya, matanya melirik Sasuke yang juga tersentak kaget.
"Kalian melihatnya?" tanya Konan sekali lagi, Sakura menggeleng pelan, berdusta pada wanita rambut biru itu. "Begitu yah, ya sudah. Nikmati makan malam kalian!" Konan melenggang pergi meninggalkan Sakura yang masih cengo. Mata Sakura segera bergulir ke arah Sasuke yang menatapnya, meminta penjelasan dari dirinya.
"A-aku tidak tahu itu obat perangsang! Serius! Sumpah!" Sakura mengangkat jarinya berbentuk 'v'. Sasuke menghela nafas dan melangkah melewati Sakura.
"Sudahlah. Jangan beritahu siapapun mengenai ini." Sakura mengangguk dengan wajah memerah. Ia betul-betul tak menyangka kecerobohannya bisa berakibat seperti ini. Untung saja Sasuke menanggapinya dengan dingin seperti biasanya, sehingga ia mungkin akan mudah melupakan kejadian ini.
.
.
.
"Sakura, fokuskan seluruh pikiranmu untuk kesembuhan kelinci ini. Berkonsentrasilah." Sakura mengangguk dan meletakkan kedua tangannya di atas luka yang terdapat pada kaki kelinci di depannya. Keningnya berkerut, pertanda bahwa ia sangat berkonsentrasi sekarang. Semua teman-temannya yang melihatnya dilarang menganggunya, mereka semua hanya dapat melihat latihan Sakura dari jauh.
Entah kenapa, Sakura teringat kejadian semalam dengan Sasuke. Membuat wajahnya kembali memanas, ia segera menggelengkan kepalanya. Ia tak seharusnya mengingat itu di saat ia sedang serius seperti ini.
"Kau tidak akan bisa menyembuhkannya jika pikiranmu bercabang, Sakura." Sakura menatap Sasori yang menghela nafas pasrah melihatnya. Gadis itu sedikit tersentak, kenapa Sasori bisa mengetahui kalau pikirannya melayang-layang?
"Aku sudah bilang, fokuskan pikiranmu pada satu titik," ucap Sasori sambil tersenyum. Sakura mengangguk sekali lagi. Kali ini ia harus berhasil menyembuhkan luka pada kelinci malang yang dijadikan percobaan di depannya. Pikirannya sengaja ia kosongkan, emerald-nya terus-terusan menatap kelinci di depannya. Setelah beberapa saat, Sakura dapat melihat cahaya hijau muncul dari telapak tangannya. Gadis itu tersenyum sumringah, ia berhasil mengeluarkan kekuatan medisnya tanpa mengeluarkan air mata! Karena sibuk sumringah, membuat Sakura kehilangan konsentrasinya dan membuat cahaya hijau di tangannya menghilang dalam sekejab, membuat gadis itu mendesah kecewa.
"Kenapa hilaaanggg?!" amuk Sakura kesal. Padahal dia sudah mati-matian mengeluarkannya.
"Semangat Sakuraaaa! Hahahahahaha!" Sakura mendelik Ino yang pasti sedang menggodanya dengan tawa nistanya. Teman-temannya asyik memakan kue sedangakan dirinya harus latihan. Sungguh malang nasibnya. Sasori yang melihat itu tersenyum prihatin.
"Baiklah, kita istirahat dulu," ucap Sasori simpati. Sakura menatap Sasori dengan pandangan berterimakasih, bagaikan Sasori adalah sang pahlawan yang menyelamatkannya dari medan perang. Sakura segera berlari menghampiri teman-temannya yang sedang bersantai ria di teras markas Akatsuki.
"Huh! Menyebalkan!" keluh Sakura kesal. Yang lainnya hanya cekikikan melihatnya, kecuali Sasuke tentunya.
"Kau pasti bisa, Sakura-chan!" hibur Naruto dengan cengiran khasnya. Sakura mengangguk semangat.
"Ngomong-ngomong, sampai kapan kita berada di sini?" tanya Sai pada Sasuke yang sedari tadi diam.
"Sampai kita benar-benar kuat," jawab Sasuke cepat. Ino menyenggol lengan Sai.
"Kau bahkan belum latihan sama sekali," ucap gadis bermata aquamarine tersebut pada Sai yang menebarkan senyum palsunya. Sedangkan Naruto, Hinata, serta Sakura hanya cekikikan geli melihat Sai dan Ino.
.
.
.
Makan malam telah selesai, semua penghuni markas Akatsuki tersebut sedang bersantai di sebuah ruangan besar. Semuanya berkumpul di ruangan itu, dan masing-masing melakukan kegiatan yang menyibukkan diri mereka masing-masing. Namun tidak bagi pemuda dengan kumis kucing di wajahnya, ia menatap bosan sekelilingnya dari kursi tempatnya duduk.
"Huuhh … aku bosan!" gumam Naruto, namun masih dapat didengar oleh Hinata yang berada di sampingnya. Mata shappire pemuda itu melirik kesana-sini, mencari sesuatu yang dapat menghilangkan rasa bosannya. Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya, pemuda itu tersenyum sumringah dan menatap semua makhluk yang ada di ruangan tersebut.
"Ayo kita main Truth or Dare!" serunya kencang. Semuanya menghentikan aktifitas-nya masing-masing dan menatap pemuda rubah itu dengan pandangan bingung.
"Aku setuju!" seru Deidara tiba-tiba. Dilanjutkan oleh sorakan-sorakan lain yang mendukung permainan sederhana Naruto. Naruto kemudian mencari sebuah botol untuk dijadikan penunjuk. Sasuke, Sakura, Hinata, Sai, Ino, serta para anggota Akatsuki segera berkumpul dan membentuk sebuah lingkaran dan mengosongkan bagian tengah. Naruto menaruh botol tersebut di tengah-tengah mereka.
"Kalian siap?" Semuanya mengangguk mendengar perkataan Naruto. Pemuda itu segera memutar botol tersebut, sampai botol itu terhenti dan menunjuk ke arah Konan.
"Eh?" Konan terkejut saat botol itu mengarah padanya.
"Truth or Dare?" tanya Naruto dengan cengiran. Konan tampak berpikir, kemudian wanita itu menjawab. "Truth."
Naruto segera berpikir, pertanyaan apa yang cocok untuk wanita berambut biru tersebut. Kemudian dia tersenyum sumringah saat satu pertanyaan terlintas di kepalanya.
"Apa hubunganmu dengan Pein?" Konan tersentak, Pein juga ikut tersentak. Para anggota Akatsuki merapat demi mendengar jawaban Konan. Konan nampak gugup dengan wajah memerah, kemudian wanita origami tersebut menjawab. "Kami pacaran."
Semua anggota Akatsuki membelalak, terlonjak kaget atas jawaban yang dilontarkan wakil ketua Akatsuki tersebut. "Kapan kalian pacaran?!" tanya Hidan shock, sedangkan Pein hanya tersenyum miring.
"Tidak akan kujawab. Bukankah kita hanya diberi satu pertanyaan?" Konan membuang wajahnya, sedangkan Hidan menunduk kecewa. Seluruh anggota organisasi gelap tersebut masih tak dapat menghilangkan rasa kagetnya. Mereka tak menyangka bahwa ketua dan wakil mereka menjalin sebuah hubungan tanpa mereka ketahui. Naruto memutar botol tersebut sekali lagi, kali ini botol tersebut mengarah ke Ino.
"Truth or Dare?" tanya Naruto. Ino tampak berpikir, menimbang-nimbang jawaban yang harus ia pilih. "Dare!" jawab Ino yakin. Naruto kembali berpikir, kemudian ia menyeringai licik.
"Cium Sai!"
"Heeeh?!" Ino membelalak lebar. Me-mencium Sai?! Apakah Naruto sudah gila?! "Tidak! Aku tidak mau!" tolak Ino cepat dengan wajah memerah. Naruto menyipitkan matanya.
"Kau curang! Kau harus menuruti perintahku!" ucap Naruto. Ino menggelengkan kepalanya dengan keras dan cepat.
"Ogah!" seru Ino kencang. Naruto kembali menyipitkan matanya, disusul oleh anggota Akatsuki yang lain serta Sakura. "K-kenapa aku ditatap seperti itu?!" kata Ino gugup, gadis itu melirik Sai, Sai tampak tenang-tenang saja. Sadar diperhatikan, Sai melirik Ino dan tersenyum, pemuda itu menunjuk-nunjuk bibirnya, pertanda bahwa pemuda itu menyuruh Ino menciumnya.
"Haaahh … kau tidak asyik Ino!" desah Sakura kecewa. Perempatan siku-siku muncul di pelipis Ino. Apakah dia benar-benar harus mencium Sai?!
"B-baiklah…" Akhirnya Ino menyerah, gadis itu tampak gugup dan menutup matanya. Wajahnya ia majukan pada Sai yang ada di sampingnya dengan perlahan. Sai juga mendekatkan wajahnya, dan dengan cepat menempelkan pipinya pada bibir Ino. "Eh?" Ino membuka matanya saat bibirnya menyentuh pipi Sai. Sai segera menjauhkan wajahnya dan tersenyum menatap Ino.
"Mencium tak selamanya pada bibir kan?" ujar Sai. Wajah Ino memerah, ia merasa kecewa dari lubuk hatinya yang paling dalam, namun ia juga merasa lega. Ino melirik Sakura, Sakura menatap Ino dengan tatapan menggoda, membuat wajah Ino semakin memerah. 'Tunggu giliranmu, Jidat sialan!' batin Ino beteriak.
"Baiklah, kita lanjutkan!" Naruto kembali memutar botolnya. Botol tersebut berputar dengan cepat, namun lama-lama semakin pelan dan terhenti di depan Sasuke yang menatapnya dengan tatapan datar. "Truth or Dare?" tanya Naruto pada Sasuke, Sasuke membuang wajahnya.
"Apakah aku harus mengikuti permainan konyol ini?" Naruto menatap Sasuke dengan pandangan menuntut.
"Tentu saja Teme!" jawab Naruto keras. Sasuke menghela nafas dan kemudian berkata. "Truth."
"Oke! Pertanyaannya-"
"Siapa orang yang kau sukai?"
Deg!
Perkataan Naruto terpotong, semuanya menatap ke arah Itachi yang baru saja melemparkan pertanyaan pada adiknya dengan wajah kalem yang terkesan dingin. Sasuke juga ikut menatap Itachi dengan wajah datar. Sakura tertunduk, wajah gadis itu memerah. Siapa yang disukai Sasuke? Ia juga tidak tahu, dan akan segera mendengar jawabannya.
"Apakah aku harus menjawab?"
"Tentu saja Teme!" Naruto tampak kehabisan kesabaran. Sedangkan jantung Sakura berdegup kencang menunggu jawaban Sasuke. Saat-saat inilah yang paling menegangkan bagi Sakura, ia memang menyatakan cintanya pada Sasuke, namun Sasuke sama sekali tak meresponnya. Dan sekarang…
"Jadi, siapa orang yang kau sukai?"
.
.
.
To be Continued
Yo minna!#tampang innocent
Hahaha, telat update yah? Gomen deh.
Aku terlalu sibuk di RL, jadi mohon pengertiannya yah _-_
Oke, saatnya balas review unlogin! :
Guest :
Haiiii!
Haha! Gak papa kok, yang jelas kamu baca dan review :p
Review lagi yah, thanks reviewnyaaaaa! ^^
Dhe a Fey :
Yooo~~~
Ini Dela yah? Yang di fb kan? Wkwkwk… kamu benar-benar baca xD
Humor? Hwaaa! Aku gak berbakat humor Dx Tapi nanti bakal aku coba deh T.T
Nah! Yang di atas kayaknya gak ada humor deh, gomen yah! Hatiku lagi galau#ceilah
Wkwkwk… arigatou udah review :D review lagi yaaaahhh!
Selaladrews :
Hai jugaa!
Haha, typo? Aku memang selalu typo T.T padahal udah diedit loh, tapi masih berkeliaran dimana-mana *sigh*
Oke, thanks reviewnya yah :D review lagi ^^
Izawa Varinha :
Hai :D
Yoroshiku mo, Izawa-san ^^
Haha… seriusan nih?#terbang #trus jatuh
Oke, thanks reviewnya yah ^^ review lagiiii!
Always Sasusaku :
Haaaaiiii!
Haha, gak berhenti-berhenti? Kereta api dong?#plaak xD
E-eh? Beneran? / jadi maluuu xD
Makasih udah review yah, review lagiiiii!
Sasusaku uciha :
Haiii :D
Itachi udah aku hidupin, bentar lagi nikah ma aku xD
Thanks reviewnya yaaahh! Review lagii!
Dan tentang Itachi gak mau ngakuin Sasuke, entar ada penjelasannya kok! Tenang aja xD
Aquamarine 24 :
Hahaha! Gomen aku update lama :p
Jurus? Ehhmmm… banyak! Ada jurus lempar pisau (?), lempar gajah (?), lempar lemari (?), dan melempar-lempar lainnya! xD
Oh ya, thanks reviewwnnyaaaa! Review lagi yaaahh
Dee-chaan :
Haiiiii!
Sasusaku kaalaaah?!#shocked
Tapi masih romantis-an aku sama Itachi xD#peluk Ita-kun *plaak*
Oke, thanks reviewnya yaahh ^^ review lagi ;D
Mayuyu :
Action? Sakura? Boleh juga!
Males? Hahahaha! Tauuuu aja xD
Makasih reviewnya yah, review laaagii *blinkblink*
Sherlock holmes :
Yo! Yo! Yo!#ala DJ
Suka? Sankyyuuu
Makasih juga reviewnya, review lagi yaaahh
Udah! Maaf jika ada yang tidak tertulis, itu karena mata author yang rabun T.T
Oh ya, aku mau bertanya pada reader, mohon dijawab yah!
Kalian mau fic ini cepat-cepat ditamatin nggak? Kalo iya, aku bakal ngurangin adegan-adegan di markas Akatsuki. Karena menurutku, chapter ini kayaknya buat have fun doang, gak ada hubungannya dengan perang Orochimaru itu T.T
Kalo nggak, aku bakal buat lagi yang kayak ginian, karena jujur, otakku juga lama-lama koslet kalo adegannya kayak gak ada refreshing-nya T.T
Tapi terserah kalian deh! Mohon dijawab yah T.T
Oh ya, saya bingung. Ada yang minta adanya pihak ketiga, dan ada juga yang melarang =="
Jujur deh, saya dilanda perang batin. Antara mau adain pihak ketiga atau nggak. Ini juga pertanyaan bagi reader yah, tapi jangan lupa menjawab yang di atas juga. Nanti saya kumpulkan jawabannya, dan mana yang terbanyak, itu yang saya pilih. Tapi tergantung saya juga sih, hohohoho…#devillaugh
Sannnkkyyuuu minna
Review pleaseee!
Hany-chan DHA E3
