Rated: M
Disclaimer: Still, Mashasi Kishimoto, just gimme the copyright! #Plak
Warning!: Bahasa sok puitis, typos, gajelas, crack pairing, OOC tingkat dewa dan segala sesuatu yang gaenak!-_-
GASUKA? SILAHKAN TEKAN TOMBOL BACK PADA LAYAR KOMPUTER ANDA! NO FLAME
HANYA MENGHARAPKAN KRITIK "MEMBANGUN"
Couple words from author:
WUHAAATT?! AUTHOR BIKIN FIC RATED: M LAGI?! Kayaknya aku ga kapok ya atas fic M aku yang gatot banget itu, tapi di fic ini aku udah mempelajari bagaimana cara membuat fic rated M yang ga se aneh yang dulu hehe. tapi kalo seandainya menurut readers adegannya ga jelas ya maaf-maaf sajaaa aku masih belajar kok hehe, terus juga disini lemonnya masih soft banget kok, tapi karena author sangat lebay dan alim makanya heboh #diarak masa. wkwk, oh iya di chappie ini hampir isinya semuanya GaaTen, jadi buat yang sudah menunggu GaaTen momen, ini dia saatnya hehe. oh iya aku mau bales reviews dulu yaw :3
Moku-chan: Huwaa, iya Moku-chan maaf ya kalo momen mereka berdua kurang, soalnya aku kurang mengetahui sifat Gaara, takutnya jadi OOC (emang udah OOC sih) hehe, tapi di fic ini hampir isinya semuanya momen GaaTen kok, semoga Moku-chan puas ya, tetap ikuti fic aku ya Moku-Chan, dan arigatou ne atas reviewsnyaa hehe.
Fumiyo Nakayama: Sedih banget ya, menurut aku mereka berdua itu the best couple in Naruto loh! yaampun iya bener banget Fumiyo, masih sedih nih dengan kematian Neji, engga kuat engga kuaatt :'( plis om kishi bikin Neji idup lagi #digampar pake buku sama om kishi wkwk, iyaa aku juga berharap ada scene NejiTen di animenya hihi, makasih ya atas reviews nya Fumiyoo.
Yak! reviews udah dibalas semua, jujur sampe detik ini aku masih ga rela atas kematian Neji, huu udah ah gamau galo lagi. daripada dengerin curhatan galau author, mending kita langsung aja ke chappie sembilan. chap 9 here we goes!
Chapter 9
"Ini mau ditaruh dimana, Tenten-nee-chan?"
"Eh? Taruh saja di depan lemari, arigatou ne Hinata-chan." Hinata mengangguk lalu meletakan sebuah koper berwarna biru donker di depan sebuah lemari kecil. "Arigatougozaimasu, Hinata-chan. Gomen kalau merepotkanmu." Ucapku, Hinata tersenyum simpul.
"Tidak masalah, Tenten-nee-chan." Aku membalas senyuman Hinata dengan anggukan. "Silahkan duduk dulu, aku akan membuatkan minuman."
"Ti-tidak usah repot-repot, Tenten-nee-chan." Aku tersenyum geli lalu menidurkan seorang bayi laki-laki di dalam keranjang bayi yang terbuat dari rotan lalu berjalan menuju dapur. Setelah sekitar seminggu aku dirawat dirumah sakit, akhirnya Sakura mengizinkanku untuk pulang kerumah, untungnya Hinata menjengukku hari itu, adik iparku itu akhirnya membantuku membawa koper besarku. Aku sungguh merasa beruntung karena kehadiran perempuan berambut indigo itu, Hinata sudah sangat banyak membantuku.
"Ini silahkan, maaf ya setiap kesini aku hanya bisa menyuguhkanmu coklat panas." Ujarku sambil meletakan sebuah mug di meja dihadapan Hinata.
"A-ah t-tidak apa-apa, a-aku suka coklat kok." Balas Hinata yang langsung menyeruput coklat yang kusuguhkan.
"Aku... aku benar-benar berterima kasih padamu, Hinata-chan. Kamu sudah banyak menolongku, arigatougozaimasu." Ucapku sambil sedikit menunduk. "A-aduh, Tenten-nee-chan. Ja-jangan menunduk seperti itu, a-akukan sudah bilang a-akan m-membantumu seb-sebisaku, la-lagipula kamu kan ma-masih kakak iparku." Ucap Hinata sambil tertawa renyah.
"Jadi anak T-Tenten-nee-chan na-namanya Daichi?" Aku mengangguk kecil. "Namanya terlalu sederhana ya?"
"A-ah tidak kok, me-menurutku na-namanya bagus." Aku tersenyum getir.
"Aku bingung, Hinata."
"Bi-bingung kenapa, Tenten-nee-chan?" Tanya Hinata sambil menoleh kearahku. "Aku bingung, apa harus menggunakan nama Hyuuga untuk anakku atau tidak." Jawabku lemah. Hinata tersenyum kecil lalu menepuk pundakku.
"Aku hanya.. aku hanya tidak ingin Daichi-chan diolok-olok oleh teman-temannya nanti, karena tidak mempunyai nama keluarga, sama seperti aku." Lanjutku, ya aku sangat takut kalau hal itu terjadi.
"Te-tentu saja Da-Daichi-chan akan me-menjadi anggota klan Hyuuga, Da-Daichi-chan kan memiliki ma-mata itu." ucap Hinata lembut. Betul juga.
"Tenten-nee-chan, sebetulnya a-aku ingin menyampaikan s-sesuatu."
"Menyampaikan apa, Hinata?" Tanyaku sambil menoleh ke adik iparku, terlihat ekpresinya berubah seketika.
"Pa-para tetua ingin Tenten-nee-chan d-dan Daichi-chan da-datang ke mansion." Aku sedikit tercengang ketika mendengar kata-kata Hinata.
"Apa? datang? Ke mansion Hyuuga?" Hinata mengangguk kecil lalu menundukan kepalanya. "Aku.. a-aku tidak tahu a-apa yang mereka rencanakan." Aku mendengus kesal.
"Akan kupikirkan nanti." Hinata mengagguk. Aku tidak tahu apa yang kakek-kakek tua bangka itu rencanakan, tapi jika mereka berencana memisahkanku dengan Daichi, jangan pernah harap rencana itu akan berhasil.
XXX
Aku menatap lurus kedepan, angin musim panas menerpa tubuhku, membuat rambut auburnku melambai-lambai. Gelak tawa anak kecil memenuhi telingaku, aku tersenyum samar lalu menatap ke langit yang cerah tanpa awan.
'Sudah genap dua tahun.' batinku lirih. Aku memejamkan mataku, berusaha menjernihkan otakku. 'Tak terasa ya, sudah dua tahun kita tidak bertemu.' Ya, sudah dua tahun kematian Neji, aku meringis kecil.
Banyak sekali cobaan yang menggandrungi kehidupanku. Tentu saja, mengurus Daichi adalah salah satunya. Daichi memang tidak merepotkan, sama sekali tidak, selama ia masih bayi ia jarang sekali menangis meraung-raung dan saat ia mulai bisa berjalan, ia juga tidak bertingkah aneh-aneh. Yang membuatku kesulitan adalah, ekonomi. Ya, membesarkan seorang anak sendirian dengan gaji pas-pasan memang tidaklah mudah. Banyak sekali keperluan sehari-hari Daichi yang harus kupenuhi dengan gaji minimku.
Tak jarang aku tidak makan satu hari demi mencukupi kebutuhan Daichi, tak apalah aku tak makan, yang penting Daichi sehat, itu prinsipku. Selain masalah Daichi, aku juga memiliki masalah dengan para tua bangka itu. berkali-kali mereka memaksa Hinata untuk membujukku untuk datang ke mansion Hyuuga. Tentu saja aku menolak, aku tidak ingin bertemu dengan mereka lagi, apalagi membawa Daichi kesana. Tapi lama kelamaan aku jadi kasihan dengan Hinata yang dipaksa untuk membawaku ke mansion Hyuuga.
Walaupun Hinata adalah pimpinan keluarga Hyuuga, tetap saja para tetua itu memiliki kuasa untuk memerintah Hinata. Aku menghela nafas panjang.
'Pasti tidak akan se repot ini kalau ada kamu, Neji.' Batinku lagi. Angin musim panas kembali bertiup. Entah bagaimana aku bisa mencium aroma pinus yang terbawa oleh angin. Aku mengernyitkan hidungku. Aroma ini? aku seperti pernah menghirupnya. Aku memejamkan mataku, berusaha mengingat-ingat dimana aku mencium aroma pinus itu. ding! Ya, tentu saja ini kan bau tubuhnya Gaara. sudah setahun ini aku tidak bertemu dengan kazekage berambut merah itu, apa dia benar-benar sibuk sampai tidak bisa berkunjung? Aku menggelengkan kepalaku.
'Memangnya kenapa? Toh bukan masalah bagiku kalau si rambut merah itu tidak kesini? Dia memang jarang ke konoha bukan?' Aku mendengus kesal. walaupun batinku berkata seperti itu, tetap saja aku merasa kehilangan. Eh? Apa kehilangan? Untuk apa aku merasa seperti itu?
"Tenten?" Aku langsung membuka mataku, dan betapa kagetnya aku ketika melihat sosok laki-laki berbaju merah berdiri menjulang dihadapanku, aku menengadahkan kepalaku untuk melihat wajah laki-laki itu.
"Gaara?" Laki-laki itu tidak bergeming, ia hanya menatapku lalu duduk disampingku. Kenapa dia bisa datang saat aku memikirkannya?
"Hn, kenapa kamu bisa berada disini?" Aku memberi tatapan lihat-saja-disana. Gaara mengikuti pandanganku.
"Jadi dia sudah tumbuh besar begitu?" Aku tertawa renyah.
"Namanya, Daichi." Ucapku, Gaara mengangguk lalu kembali menatap seorang anak laki-laki berambut coklat auburn yang tengah sibuk memanjat tangga perosotan. "Daichi saja?" Aku melirik laki-laki berkepala merah itu.
"Mungkin untuk sekarang iya." Jawabku lirih, sepertinya aku harus menceritakan ini pada Gaara, mungkin saja dia bisa membantu?
"Para tetua Hyuuga memintaku untuk datang ke mansion."
"Lalu?"
"Mereka memintaku untuk datang bersama Daichi."
"Kenapa kamu tidak datang?"
"Aku punya firasat tidak enak, lagipula aku malas bertemu mereka." Jawabku sambil mengerucutkan bibirku, Gaara tersenyum kecil lalu menepuk kepalaku. "Kamu ini, udah jadi ibu-ibu masih aja kekanak-kanakan."
"Habis, aku masih kesal dengan ulah mereka." Dengusku. Gaara terkekeh lalu mengacak-acak rambutku. Aku menoleh ke kazekage itu, menatapnya heran. Sungguh aku tidak pernah melihatnya seperti ini.
"Kaa-san?" Aku segera menolehkan kepalaku ke sumber suara. Kulihat sosok anak laki-laki berdiri dihadapanku, mata lavendernya menatap tajam kearahku. "Eh, Daichi. Kamu sudah selesai bermain?" Tanyaku lembut.
"Siapa dia?" Tanya Daichi tanpa melirik kearah orang yang ia tuju.
"Ini? ah ini Gaara, teman kaa-san. Nah Gaara, ini Daichi-chan."
"Hn." Gumam Gaara, sementara Daichi membuang mukanya. Aku hanya bisa tertawa kecil untuk mencairkan suasana, sifat Daichi yang suka membuang muka ini, sangat mirip dengan Neji.
"Kaa-san, bisa kita pulang sekarang?"
"Err, baiklah kalau begitu. Kami permisi dulu ya Gaara-san." Ucapku sambil menoleh kearah Gaara. Laki-laki itu hanya mengangguk. sebelum aku bisa melambaikan tangan ke sang kazekage, Daichi sudah keburu menarik tanganku.
XXX
Kutatap deretan buku yang berada di hadapanku. Aku menggigit bibir bawahku, berusaha mengingat-ingat buku apa yang sempat dipandangi oleh Daichi beberapa hari yang lalu. Ya beberapa hari yang lalu saat aku sedang mengunjungi toko buku untuk membeli buku kumpulan resep memasak, secara tak sengaja aku melihat Daichi tengah memandangi sebuah buku bersampul coklat. Dari tatapannya, aku bisa melihat kalau ia menaruh minat pada buku itu. aku sendiri kaget, usianya baru saja dua tahun, tapi sudah menyukai buku.
'Benar-benar seperti Neji.' Aku tertawa sendiri, lalu kembali meneliti deretan buku itu. semua buku yang ada di rak itu adalah buku tentang anatomi tubuh. Seingatku rak ini yang dipandangi oleh Daichi, tapi apa mungkin seorang anak berumur dua tahun merasa tertarik dengan buku anatomi tubuh manusia? Rasanya sedikit aneh bukan?
"Tumben sekali kamu mencari buku, Tenten?" Aku menoleh kesumber suara, seorang laki-laki berkepala merah berdiri disampingku.
"Eh? Gaara? Sedang apa kamu disini? Aku kira Suna sedang sangat sibuk?" Tanyaku. "Seperti biasa, aku sedang mengawasi kakakku dengan di pemalas itu." aku tertawa kecil. "Dasar, brother complex."
"Hn." Aku kembali memusatkan pandanganku pada buku-buku itu.
"Sejak kapan kamu tertarik dengan anatomi tubuh? Kamu kan bukan ninja medis?"
"Bukan aku yang tertarik, tapi Daichi." Ujarku enteng, Gaara diam sebentar sebelum akhirnya berkomentar. "Daichi-chan? Anakmu yang sangat jutek untuk ukuran anak-anak itu." aku mendengus kesal lalu menyikut rusuk Gaara.
"Iya, beberapa hari yang lalu aku melihat dia berdiri mematung memperhatikan buku-buku yang berada di rak ini. sepertinya ia ingin membeli buku itu, tapi tidak berani bilang padaku." Ucapku panjang lebar.
"Menarik juga, seorang anak berumur dua tahun yang mungkin belum bisa membaca sudah tertarik dengan buku anatomi."
"Daichi sudah mulai bisa membaca huruf hiragana sederhana, Gaara." Dengusku. Itu benar, Daichi sepertinya di berkahi bakat otak jenius milik mendiang ayahnya. Buktinya diumur satu tahun ia sudah mulai bisa membaca huruf hiragana? Dan diumur dua tahun sudah tertarik dengan buku anatomi?
"Dia... benar-benar seperti Neji." Aku menoleh kearah Gaara yang menatap lurus kederetan buku itu. "Eh?"
"Iya, beruntung sekali kamu memiliki suami seperti Neji, jadi keturunanmu bisa ketolong." Aku segera meninju lengan Gaara lalu mendengus kesal. sementara Gaara malah terkekeh disampingku.
"Aku bingung buku mana yang diinginkan Daichi, menurutmu yang mana?" Tanyaku tanpa menoleh ke Gaara. Gaara diam sejenak sebelum meraih buku bersampul coklat yang lumayan tebal, membacanya sekilas lalu menyodorkan buku itu kearahku. "Eh? Buku ini?"
"Hn, asumsiku. Daichi pasti memiliki bakat seorang Hyuuga seperti ayahnya, dan itu berarti mereka akan lebih fokus ke titik chakra bukan?" Benar juga! Neji bukanlah ninja medis, dia tidak tertarik dengan anatomi tubuh seperti Sakura-san. Dan aku yakin Daichi pun begitu.
"Kau benar! Uwa! Arigatou ne, Gaara-san." Gaara mengangguk kecil.
"Sebenarnya kenapa kamu membelikan buku itu sekarang? Kalau kamu tahu anakmu menginginkan buku itu sudah beberapa hari yang lalu?"
"Hari ini ulang tahunnya, lagipula aku tidak bisa seenaknya menghamburkan uang begitu saja." Aku segera menepuk jidatku.
'Kami-sama! Ulangtahun? Kenapa baru terpikir sekarang?!' Melihat ekspresi kagetku, Gaara segera menyentuh tanganku dan bertanya.
"Ada apa?" Aku menatap kearah laki-laki berambut merah yang berdiri disampingku. "Hari ini ulangtahun Daichi, dan aku lupa tentang kue-"
"Kalau begitu ayo kita beli." Ucap Gaara ringan, aku mendengus kesal. "Aku tidak bisa menghamburkan uang lagi."
"Aku yang belikan."
"Tidak! Aku tidak mau merepotkanmu, tidak usah." Ujarku, Gaara terdiam sebentar lalu meninggalkanku, aku yang bingung dengan tindak lakunya memutuskan untuk mengikuti kazekage itu. kami pun sampai di rak yang penuh dengan buku resep-resep. Gaara meraih sebuah buku berwarna putih lalu menyodorkannya dihadapanku. "Bagaimana kalau kita buat sendiri kuenya."
XXX
"Baiklah, kita bagi tugas. Kamu yang membuat adonan dan aku krim nya."
"Siap coach!" Ucapku sambil membusungkan dada, Gaara menggeram kesal lalu mulai mengambil beberapa bahan untuk membuat krim coklat. Sementara aku juga sibuk mencari bahan untuk membuat adonan kue. Akhirnya aku terpaksa meladeni ide gila Gaara untuk membuat kue sendiri, padahal aku sama sekali tidak pernah dan tidak bisa masak, selama ini aku hanya membeli makanan cepat saji, atau makanan instant.
"Ikuti resepnya ya, Tenten." Ujar Gaara, aku mengangguk kecil lalu bersiap membuat adonan. Ya keuanganku memang bisa dikatakan tengah sangat kritis. Sudah beberapa hari ini aku membolos kerja karena masalah yang datang bertubi-tubi. Aku menghela nafas panjang, lalu kembali melanjutkan aktivitasku. Aku harus menyelesaikan kue ini, karena ini adalah satu-satunya cara agar bisa menghibur Daichi. Deg! Hatiku kembali hancur ketika mengingat kejadian itu. seketika gambaran Daichi yang tengah menangis dipelukanku kembali berkelebat di benakku. "Hei! Harusnya bahan itu dimasukan setelah adonan tercampur!" Aku segera menghentikan aktivitasku dan menatap Gaara.
"Gomen ne, a-aku tadi-"
"Ada apa? ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu?" Ya! Tepat sasaran, sepertinya Gaara sudah langsung mengetahui bahwa ada sesuatu yang salah.
"Daichi sudah mengetahui tentang kematian Neji."
"Bagaimana bisa?" Aku menghela nafas panjang dan memejamkan mataku, menyiapkan batinku untuk menceritakan kembali kejadian kemarin.
Jantungku bergedup dengan kencang, bulir keringat kembali bercucuran di pelipisku. Kugunakan punggung tangan kiriku untuk menghapus keringat yang kembali menghiasi wajahku sementara tangan kananku menggenggam erat tangan mungil yang terasa agak dingin didalam genggamanku.
"Kaa-san? Apa kaa-san baik-baik saja? Kaa-san terlihat pucat." Aku menolehkan kepalaku, mata hazelku langsung mendapati raut wajah seorang anak laki-laki berambut auburn yang terlihat sangat khawatir, aku tersenyum kecil. "Ah, Kaa-san tidak apa-apa Daichi-chan." Ucapku lirih lalu kembali memandang lurus kedepan. Keadaan desa sangat ramai hari itu, beberapa orang menyapaku dan Daichi dan aku balas dengan senyuman ceria seperti biasa, seolah tidak ada yang terjadi. Langkah kakiku terasa semakin berat ketika mata hazelku menangkap sebuah mansion yang terlihat sangat sederhana dan berkesan klasik itu. aku segera menghentikan langkahku ketika sampai di depan pintu kayu jati yang dipenuhi ukiran rumit itu.
Setelah beberapa kali mengetuk pintu akhirnya beberapa orang bermata lavender membukakan pintu untukku dan Daichi. "Silahkan,Tenten-sama." Cih, jadi sekarang mereka memanggilku Tenten? Aku hanya membalas sapaan mereka dengan senyum seadanya lalu bergegas masuk. Aku dan Daichi berjalan menyusuri koridor panjang, di sebelah kiri terdapat taman belakang kediaman Hyuuga, tempat yang dulu sering aku datangi.
"Kaa-san? Apa yang kita lakukan disini?" Aku kembali menolehkan kepalaku untuk menatap wajah anakku lalu tersenyum lemah.
"Kita akan mengunjungi... kakek." Daichi mengangguk kecil lalu mata lavendernya sibuk memandangi pemandangan taman. Ya, hari ini aku dan Daichi memutuskan untuk datang ke kediaman Hyuuga. Setelah beberapa hari yang lalu Hinata datang ke apartemenku dan menangis membujukku untuk datang bersama Daichi ke Hyuuga Mansion. Karena kasihan dengana adik sepupuku itu, akhirnya dengan berat hati aku datang kesini. Akhirnya aku sampai diruangan itu, ruangan yang paling kubenci di mansion ini.
Beberapa meter dihadapanku duduk lima orang tetua Hyuuga. Salah satu dari kakek-kakek itu membentangkan tangannya kearahku, mempersilahkanku untuk duduk di bantal duduk yang sudah disediakan. Aku dan Daichi akhirnya duduk disana. "Selamat datang kembali, Tenten." Aku hanya mengangguk singkat, berusaha mengendalikan gejolak emosiku.
"Baiklah, tujuanku memintamu datang adalah untuk melihat Neji junior-"
"Daichi, namanya Daichi." Ucapku datar. "Ah, Daichi? Baiklah, tujuanku dan para tetua yang lain hanya untuk melihat Daichi-chan."
"Bisa kau kemari, Daichi-chan?" Timpal seorang kakek yang membentangkan tangannya, menunggu tangan mungil Daichi untuk menyambut tangan keriputnya, tanganku langsung terulur untuk menghalangi tubuh Daichi.
"Apa yang akan kau lakukan padanya?"
"Oh, kami hanya mau melihat Daichi-chan lebih dekat."
"Hanya itu?" Tanyaku yang menatap tajam kearah mereka berlima. "Hanya itu." akhirnya dengan berat hati aku menarik tanganku dari tubuh Daichi, membiarkannya pergi menghampiri kelima kakek itu.
"Ternyata benar, ia mewarisinya."
"Matanya sangat, sangat mirip dengan Neji-san."
"Aku berani taruhan ia mewarisi bakat yang sama dengan Neji."
"Bagaimana kalau kita mulai saja sesuai dengan rencana." Deg! Aku langsung menatap nanar kearah mereka berlima.
"Apa yang akan kau lakukan padanya?" Tanyaku setengah memekik. "Oh tenang saja Tenten, kami hanya menambahkan ukiran kecil di dahi anakmu ini." adrenalin membanjiri tubuhku, membuatku langsung berdiri dan mendekap tubuh mungil Daichi, menjauhkan malaikatku dari mereka berlima.
"Tidak! Tidak akan kubiarkan kalian memasangkan segel terkutuk itu di dahi anakku!"
"Ini sudah ketentuan, Tenten! Sesuai dengan ajaran nenek moyang Hyuuga, anak dari seorang bunke harus dipasangkan segel, ini takdir."
"Aku tidak akan pernah membiarkan kalian dengan seenaknya memasangkan segel itu pada Daichi!"
"Ini sudah menjadi takdir Tenten! Setelah meninggalnya Neji, kami harus memasangkan segel itu pada anaknya!" Deg! Bisa kurasakan tubuh mungil Daichi menegang didalam pelukanku. Apa, apakah Daichi mengetahuinya sekarang? "PERSETAN KALIAN SEMUA!" Teriakku dan langsung membawa Daichi meninggalkan ruangan itu. aku mempercepat langkahku untuk keluar dari mansion itu dan mendekap Daichi dengan erat. Aku segera berhenti ketika merasakan tubuh Daichi yang berguncang didalam pelukanku, aku menurunkan Daichi dari gendonganku dan berjongkok dihadapannya.
"Hei, kamu kenapa, Daichi-chan? Kenapa menangis?"
"A-aku... ja-jadi tou-san sudah-"
"Iya, Daichi. Maafkan Kaa-san ya yang tidak memberitahukanmu, Kaa-san hanya tidak ingin melihatmu menangis." Ujarku sambil menhapus air mata Daichi. Aku memang belum memberitahukan Daichi tentang kematian Neji, menurutku masih terlalu dini bagi Daichi untuk mengetahui kematian ayahnya. But, thanks to para tetua sialan itu, berkat mereka anakku sudah mengetahui semuanya. "Kaa-san?"
"Ya, ada apa, sayang?" Daichi menatap wajahku, air mata masih menghiasi mata lavendernya. "K-karena Tou-san ku sudah tidak ada... berjanjilah u-untuktidak ikut meninggalkanku." Aku segera memeluk tubuh mungil Daichi dan berbisik. "Tentu saja, Daichi. Kaa-san tidak akan meninggalkanmu."
Aku menghela nafas panjang, pikiranku kembali tertuju pada Daichi. Aku menyesal, karena tidak memberitahu Daichi sebelumnya. Daichi bukanlah anak yang bodoh, dia memiliki kepintaran diatas anak-anak sebayanya, aku yakin cepat atau lambat ia akan mengetahui semua ini. "Aku akan berbicara dengan Naruto tentang para tua bangka itu, dan untuk Daichi... biarkanlah ia tahu kalau ayahnya sudah meninggal, menyembunyikan hal itu darinya malah akan melukainya." Aku mengangguk kecil. Aku merasakan jari Gaara yang penuh dengan krim mencolek pipiku. "Sudah jangan bersedih seperti itu, panda." Aku tersenyum kecil lalu membalas perbuatan Gaara dengan mengoleskan krim coklat kewajah sang kazekage. "Kau sudah menyulut perang, panda-sama!" Geram Gaara. Aku tertawa kecil. "Apakah itu sebuah tantangan?"
Dalam hitungan detik, acara masak memasak kami berubah menjadi perang kue. Aku dan Gaara berlarian di apartemen kecilku. Untung saja aku sudah menitipkan Daichi kerumah Sakura, kalau tidak pasti dia sudah marah-marah dan mengusir Gaara, mengingat ia tidak menyukai kazekage itu sejak awal. Gelak tawa terdengar di apartemen mungil itu. bisa kulihat wajah Gaara yang tersenyum dan tertawa seperti anak kecil. Sungguh, pemandangan yang ganjil untukku, mengingat Gaara yang kukenal lebih sering mengatupkan bibirnya daripada tersenyum. Begitupun diriku. Hatiku yang tadi diserbu oleh rasa bersalah dan kesedihan kini terasa lebih ringan, seolah semua itu diserap oleh Gaara.
Aku merapatkan tubuhku ke meja konter yang dipenuhi dengan bahan kue beserta adonan kue dan krim yang baru setengah jadi. "Kau tidak bisa kemana-mana lagi, Panda." Dengan gerakan cepat Gaara langsung mengunci tubuhku dengan tubuhnya, membuat jarak diantara kami semakin dekat. Kedua tangannya berada diantara pinggangku, mencengram erat meja konter. Senyumanku dan senyumannya langsung luntur ketika menyadari jarak kami yang sangat dekat. Samar-samar bisa kurasakan detak jantung Gaara yang terdengar bergerumuh. Sementara mata hazelku seolah tidak bisa berpaling dari mata jade yang indah itu. kami terdiam cukup lama, saling bertatapan seolah mata kami tengah berbincang sekarang. Tidak perlu kata-kata untuk mengungkapkan, hanya tatapan mata.
Perasaan aneh kembali mendera tubuhku, perasaan yang kerap kali kurasakan ketika aku berada didekat Gaara. Berlama-lama menatap mata jade itu entah mengapa membuatku nyaman, seolah mata itu menyalurkan kehangatan yang luar biasa ketubuhku. Gaara mendekatkan wajahnya, membuat dahi kami saling bersentuhan. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menggerakan lidahku untuk berbicara. Tapi tidak bisa.
"Akhirnya kau tersenyum juga, sudah kubilang bukan? Aku akan datang disaat kau lelah menjadi kuat." deg! Mataku mulai tergenang air mata. Aku tidak tahu siapa yang memulai tapi bibirku mulai menyentuh sesuatu yang lembut dan hangat, bibir Gaara. Air mataku mulai berjatuhan membasahi pipiku. Batinku meronta-ronta untuk melepaskan ciuman Gaara tapi tubuhku? Tubuhku malah menerima ciuman lembut kazekage itu, bahkan mulai membalasnya, tanpa kehendakku kedua tanganku sudah merangkul tengkuk laki-laki itu, membawa ciuman kami semakin dalam. Beribu perasaan berkecamuk didalam hatiku. Ciuman itu menorehkan senyuman dan air mata secara bersamaan diwajahku. Senyuman, karena aku merasa sangat nyaman ketika bibir hangat itu mencium lembut bibirku, seolah semua beban yang tadi bergelayutan di tubuhku langsung musnah begitu saja. Air mata? Karena aku merasa bersalah terhadap Neji, merasa mengkhianati laki-laki yang selalu mengisi hatiku, laki-laki yang memiliki cintaku.
Aku memejamkan mataku, menikmati setiap detik saat bibirku dan bibirnya bersentuhan, berbagai macam emosi bergejolak dihatiku, membuatku kehabisan nafas dan akhirnya membuat Gaara melepaskan pagutannya.
"I-ini salah, Gaara ini benar-benar salah." Ujarku berbisik.
"Salah? Apa yang salah, tidak ada yang salah." Ujar Gaara, dahi kami masih bersentuhan, membuatku kembali mendengar gemuruh jantungnya.
"Aku... aku seharusnya tidak melakukan hal ini denganmu."
"Kenapa memangnya? kau membalas ciumanku, kau bahagia lantas apa yang salah?" Aku mendorong tubuh Gaara menjauh membuat laki-laki itu menatap tajam kearahku.
"Aku... aku tidak bisa mengkhianati Neji! Aku ini istrinya!" Ujarku setengah memekik. "Sampai kapan? Sampai kapan kamu seperti ini, Tenten? Terjebak dalam masa lalu? Menyiksa dirimu seperti ini?" Mataku terbelalak hingga membulat sempurna, air mata kembali mengalir lebih deras.
"Aku... tidak bisa mengkhianati Neji, apa kau tidak mengerti?" Hatiku masih milik Neji, aku masih mencintai laki-laki itu, sangat. Tapi aku juga menyayangi laki-laki dihadapanku ini, laki-laki yang selalu datang ketika aku tengah kesulitan, selalu berada disana ketika aku butuh seseorang. Dengan gerakan cepat, Gaara menarikku kedalam pelukannya, membuat kepalaku menyentuh dadanya yang bidang dan hangat. "Ku mohon, jangan siksa dirimu lebih dari ini."
"Aku tahu, kamu sangat mencintai Neji. Sampai kapanpun. Tapi cobalah untuk... merelakannya pergi."
"Karena aku akan menunggu sampai saat itu tiba, sampai kau merelakannya pergi, itu semua karena aku mencintaimu." Aku terhenyak. 'Kami-sama! Katakan bahwa ini hanya mimpi, segera bangunkan aku, Kami-sama!' Tidak, ini bukan mimpi, pasti bukan dan aku tahu ini memang bukan mimpi. Gaara mencintaiku? "Aku mencintaimu, sejak kau membentakku di ichiraku beberapa tahun yang lalu, apa kau ingat? Harusnya aku marah karena kau membentakku, tapi aku malah merasakan yang sebaliknya, aneh bukan?"
'Kami-sama! Gaara, dia sudah mencintaiku cukup lama? Sangat lama, dan aku sama sekali tidak menyadarinya?'
"Ma-maafkan aku, Gaara. Aku hanya bisa menyakitimu, aku-"
"Sudahlah, tak usah pikirkan aku. Hanya satu yang kuminta, tetaplah tersenyum seperti Tenten yang kukenal dulu, Tenten yang selalu membagi senyumannya pada semua orang, Tenten yang sangat peduli terhadap orang disekitarnya." Tanpa kehendakku, tanganku terulur memeluk erat pinggang laki-laki berambut merah itu. "Gaara."
"Hn?"
"Terimakasih, atas semuanya." Bisikku lirih, bisa kurasakan tangan Gaara menyentuh belakang kepalaku, membuat kepalaku semakin terbenam didalam dadanya. Kembali, aku menangis lagi. Sungguh ini sangatlah rumit. Disatu sisi aku sangat mencintai Neji, dan tidak ingin membagi hatiku dengan siapapun (baca: kecuali Daichi), disatu sisi yang lain aku menyayangi Gaara, aku membutuhkannya, sangat.
"Sudahlah, lebih baik kita melanjutkan acara memasaknya, aku tidak ingin diusir oleh anakmu yang galak itu." aku tertawa kecil lalu menjauhkan tubuhku dari pelukannya. Kami pun kembali memasak, dan dua jam kemudian cake coklat sederhana berhasil (?) kami buat. Berkali-kali Gaara memarahiku karena salah membaca resep, salah menakar gula, dan menumpahkan sebagian adonan di tangannya. Rasanya aneh bukan? Ketika melihat seorang shinobi terkuat di suna memasak kue di dapur, dengan tangan yang dipenuhi adonan, baju yang ikut dinodai adonan krim kocok? Aku yakin Sabaku bersaudara akan tertawa terpingkal-pingkal ketika melihat pemandangan itu.
Aku berkacak pinggang, memperhatikan hasil kerja kerasku yang tergeletak diatas meja konter. "Baiklah kuenya sudah siap!"
"Aku harap Daichi tidak keracunan ketika memakan itu." aku langsung menyikut rusuk Gaara, membuatnya meringis.
"Tentu saja tidak!" Gaara hanya mendengus kesal. "Baiklah lebih baik aku pergi." Ujar Gaara yang langsung ngeloyor keluar apartemenku. Aku segera menangkap tangannya sebelum ia berhasil keluar.
"Kau harus datang nanti sore, saat Daichi meniup lilin dikuenya." Gaara terdiam sejenak lalu mengangguk dan bergegas pergi.
Yosh! chappie sembilan selesai! hehei, bagaimana GaaTen nya? ancur? maaf sekali yaa *nangisnangis, aku pengen bikin suasana romantis antara Gaara dan Tenten, tapi kalo terkesan aneh dan ga kerasa sama sekali romantisnya maaf ya minna-san huuu *nangis dipojokan. terus juga di chappie ini kayaknya Gaara nya OOC banget ya, huduh maaf yaa maaf banget beribu maaf kuucapkan untuk para readers yang gapuas dengan chap ini huaaaa *nangis guling-guling. yaudah deh segini aja bacotan dari author, semoga para readers masih setia membaca fic ini. oh iya terakhir, reviews yaa ;)
