Warning : T rate, OOC, gaje, Typo (s), slight incest, aneh dan banyak kekurangan lainnya dah.

Genres : Romance/Fantasy/Crime/School-life.

Disclaimer : I do not own the characters (semua punya Kishi-sensei).

Pair : SasoSaku/SasuSaku.

This story is mine! Hope you'll like it.

.

PAPA DAISUKI : Throne Of Princess

Chapter nine

.

.

Sakura menjadi tak habis pikir dengan sikap Mikoto. Lama-kelamaan dia seperti merasa hidupnya diatur oleh wanita itu. Banyak sekali hal-hal yang harus dia jalani meskipun dia tidak menginginkannya.

"Sigh… " Sakura mendesah pelan. Dia merasa sedang memikul beban yang amat berat dalam hidupnya. Dia sudah berusaha mencoba untuk menerima semuanya tapi tetap saja hatinya menolak.

"Sa-Sakura? Ka-kau tidak apa-apa? A-apa Sakura sedang sakit? Ingin kuantar ke ruang ke-kesehatan?" Hinata yang memang sengaja menemani Sakura di kelas saat itu sangat mencemaskan Sakura. Gadis itu memang beberapa hari ini absen ditambah keadaannya hari ini terlihat kurang baik.

"Hinata… kalau suatu saat nanti kau dipaksa untuk menikah dengan orang yang tidak kau cintai… Apa reaksimu dan sikapmu?" tanya Sakura tiba-tiba kepada Hinata.

"A-a-aku akan langsung menolaknya." Tanpa berpikir dua kali lagi, Hinata segera menjawab pertanyaan dari Sakura.

Sakura terkesikap menatap Hinata. Dia tidak menyangka kalau gadis pemalu dan tampak rapuh seperti Hinata bisa memberikan jawaban yang setegas itu.

"Hinata… Kau hebat!" celetuknya sambil menatap Hinata dengan rasa takjub. "Terima kasih! Kau memberikanku inspirasi dan keberanian!" katanya dengan senyum mengembang. Entah mengapa setelah mendengar jawaban dari Hinata, dirinya jadi seperti mendapatkan kekuatan untuk menentukan pilihan yang terbaik untuknya.

Setelah itu Sakura segera berlari keluar kelas meninggalkan Hinata yang sekarang sedang memiringkan kepalanya karena merasa bingung.

'Aku harus menemui Sasuke dan mengatakan bagaimana perasaanku padanya!' kata Sakura dalam hati sambil berlari menuju kelas Sasuke.

.

.

Sakura yang sudah tiba di depan kelas Sasuke segera melongok ke dalam mencari-cari sosok pemuda itu. Namun tampaknya Sasuke tidak ada di dalam kelasnya. Sakura sedikit mendesah kecewa.

"Sedang apa kau disini, Sakura?" tanya Tenten yang entah sejak kapan sudah berdiri di sebelahnya bersama dengan Ino.

"Tenten, Ino… " Sakura tersentak kaget dan segera menoleh ke arah Tenten dan Ino. Ada suatu perasaan sedih saat mata emerald-nya beradu tatap dengan mata baby blue milik Ino yang menatapnya dingin.

"Ino… Apa kabar?" tanyanya kepada Ino berharap pertanyaannya akan mencairkan dinding es dalam hati Ino. Berharap agar pertanyaannya dapat menjadi sebuah awal untuk membuka hubungan pertemanan mereka kembali.

"Tenten, aku masuk duluan." Sayangnya cara itu tidak berhasil. Dengan cuek Ino melenggang menuju ke dalam kelas dan tidak menjawab pertanyaan dari Sakura.

"Ino, tunggu! Kumohon… Ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu." Sakura secara spontan menarik tangan Ino. Mencegah agar gadis itu tidak pergi.

Ino memalingkan wajahnya menatap Sakura yang sedang memberikan tatapan memohon kepadanya. Ada suatu perasaan bersalah terselip di dalam lubuk hati Ino melihat Sakura seperti itu. Biar bagaimanapun juga Sakura tidak bisa disalahkan tapi salahkah dia membenci Sakura yang telah merebut perhatian Sasuke? Sakura hampir memiliki segalanya dan Ino merasa tersisih dengan segala kelebihan yang ada pada Sakura. Tapi Ino dengan cepat menepis pikiran-pikirannya itu dulu. Sekarang dia harus fokus, apa yang sebenarnya ingin Sakura katakan padanya.

"Mau bicara apa?" tanyanya dengan datar.

"Mengenai Sasuke… Ada yang ingin kupastikan… " jawab Sakura sambil melepaskan tarikan tangannya dari lengan Ino.

"Kita bicara di tempat lain," balas Ino yang segera berjalan duluan meninggalkan kelasnya. Sakura membuntuti Ino dari belakang.

.

.

Mereka berjalan cukup jauh dari kelas. Keduanya turun ke bawah dan mereka berhenti di sebuah lorong kosong dimana ruang-ruang kelas yang ada disana sudah tidak siapa-siapa lagi.

"Sekarang bicaralah." Ino menyuruh Sakura untuk segera memulai pembicaraan.

"Aku rasa kau sudah mengetahui hubunganku dengan Sasuke… Apa kau bisa menceritakan bagaimana hubunganku dengannya saat itu? Apa kami saling mencintai?" Sakura yakin kalau Ino pasti mengetahuinya. Tanpa ragu Sakura menanyakan hal yang begitu penting pada Ino. Dia yakin kalau Ino tidak akan bicara bohong padanya.

"Apa yang kau rasakan padanya?" Ino tidak menjawab. Dia malah melontarkan sebuah pertanyaan balik pada Sakura mengenai perasaannya pada Sasuke.

"Aku… Jujur aku tidak merasakan kalau aku mencintai Sasuke… Tapi aku bingung, apa itu karena aku melupakan semuanya termasuk perasaanku pada Sasuke, atau karena memang tidak pernah ada cinta dihatiku untuknya… " jawab Sakura berusaha untuk mengutarakan semua beban perasaannya. Dia bingung, putus asa dan kehilangan kepercayaan. Masa lalunya seperti mengkhianati perasaannya sendiri.

"Sebagai seorang pemimpin kau diwajibkan untuk memiliki pendamping dan Sasuke merupakan calon suamimu selain Neji dan Gaara. Tapi pada akhirnya keputusan jatuh pada Sasuke. Maka dengan resmi kalian bertunangan. Saat itu kau tampak menerima kehadiran Sasuke tapi kau tidak pernah mencintainya." Ino menceritakan mengenai hubungan Sasuke dan Sakura yang bisa terjalin karena suatu keharusan. Dan dari cerita Ino kini Sakura mengerti kenapa saat itu Sai tidak bilang apa-apa selain menjelaskan betapa Sasuke mencintainya.

Sakura terdiam mencoba untuk mengingat-ingat masa lalunya dan menyerap semua cerita dari Ino dan dari yang lain untuk dijadikan satu.

"Kau tau Sakura… Kau boleh melupakan semua masa lalumu dan semua orang yang pernah mengisi kehidupanmu, tapi hatimu… Hatimu tidak akan pernah bisa berbohong. Hatimu akan mencari dan menemukan kembali apa yang hilang." Untuk pertama kalinya Ino dapat mengatakan hal yang begitu bijak. Ino yang sekarang terlihat begitu mengagumkan di mata Sakura. " Ikutilah kata hatimu karena dia akan mencari jalannya sendiri," katanya lagi sambil membalikkan tubuhnya dari Sakura dan berjalan pergi.

"Ikuti kata hatiku… Aku mengerti… Terima kasih, Ino… " Sakura mematri kalimat-kalimat yang dikatakan Ino di dalam hatinya. Sekarang dia benar-benar tau harus mengambil sikap seperti apa dan dia tidak merasa ragu lagi.

o0o

Begitu bel pulang sekolah berbunyi, Sakura segera bergegas keluar kelas. Gadis itu memang sedang terburu-buru karena ada suatu hal yang amat penting yang harus dia lakukan. Sakura sudah mengambil keputusan untuk mengikuti apa yang dia inginkan bukan yang orang lain harapkan. Dia akan mengatakan semuanya pada Mikoto, meskipun hal itu akan mengecewakan wanita tersebut tapi Sakura harus bisa mengambil sikap. Dia tidak ingin terjebak dalam kepura-puraan.

Saat dia tengah berlari menuju luar gedung sekolah, Sakura berpapasan dengan Sasori yang tepat berada di depannya. Secara reflek Sakura berhenti dan menatap sosok yang berada di depan dirinya sambil menatap ke arahnya. Sakura ingin sekali berbicra pada Sasori dan mengatakan semua perasaannya tapi dia tidak bisa melakukannya untuk saat ini. Sebelum Sasori sempat berbicara, Sakura sudah keburu pergi meninggalkannya. Sakura akhirnya pergi meninggalkan Sasori tanpa bicara apa-apa.

Di depan gerbang sekolah ternyata Sakura menemukan Sasuke yang sedang berdiri disana. Pemuda itu terlihat seperti sedang menunggu seseorang. Dengan perlahan Sakura menghampirinya.

"Sasuke? Apa yang kau lakukan disitu? Kau sedang menunggu seseorang?" tanya Sakura dengan sedikit rasa penasaran. Pemuda itu tampak agak terkejut saat mendapati Sakura sudah berada dekat dengannya.

"Aku sedang menunggumu," balas Sasuke yang langsung merubah wajah terkejutnya dengan senyuman tipis yang begitu tulus untuknya.

"Oh, ya? Kebetulan sekali, aku juga sedang mencarimu!" kata Sakura yang sedikit merasa lega karena mungkin dia bisa memulainya dari Sasuke. Dia harus mengatakan apa yang dia rasakan. Dia tidak ingin terjadi salah paham.

"Sasuke, ada yang ingin kukatakan. Aku rasa ibumu sudah berlebihan… Maksudku dia terlalu mengharapkanku." Sakura mulai berbicara sambil berpikir kalimat mana yang seharusnya dia gunakan. Saking fokusnya berpikir, Sakura tidak menyadari kalau Sasuke semakin mendekat ke arahnya. "Kau tau, aku… Aku tidak mencintaimu… Aku tau aku tidak mengingat apa-apa tentang kita tapi… Hati kecilku mengatakan tidak ada pernah cinta diantara kita, jadi… Sa-Sasuke? Apa yang kau lakukan?" Sakura akhirnya menyadari kalau Sasuke kini sudah berjarak begitu dekat dengannya. Bahkan Sakura dapat merasakan deru nafas pemuda itu. Hal yang membuatnya terkejut adalah ketika pemuda itu merengkuh kedua lengannya.

"Kalau begitu berikan aku tempat di hatimu, aku bisa mencintaimu melebihi dirinya," kata Sasuke sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura. Sakura merasa tidak berdaya, dia ingin meronta tapi Sasuke terlalu kuat.

"Sasuke kau dipanggil oleh Tsunade." Sebuah suara yang berasal dari arah belakang mengejutkan mereka berdua.

Di belakang mereka sudah berdiri Sasori. Dia tampak mengamati Sasuke dengan tajam dan tatapannya seolah berkata 'jangan sentuh Sakura'. Dapat terlihat kalau dia tidak suka kalau Sasuke berada di dekat Sakura. Sikap Sasori seolah memberikan Sakura sebuah harapan kalau bisa jadi Sasori memiliki perasaan yang sama seperti dirinya.

"Hn. Baiklah," balas Sasuke dengan cuek. Dia menyeringai sesaat saat bertatapan dengan Sasori. "Sakura, tunggu aku di rumah," katanya sambil menepuk pelan kepala Sakura. Setelah itu Sasuke berjalan menghampiri Sasori dan keduanya pergi meninggalkan Sakura yang masih berdiri bingung di depan gerbang.

"Ah, apa yang kupikirkan! Kenapa aku malah bengong disini? Aku harus cepat menemui nyonya Mikoto dan menjelaskan padanya!" Sakura yang sempat melamun beberapa saat akhirnya tersadar. Dengan cepat dia bergegas pergi dari sana.

o0o

Sementara itu Sasori dan Sasuke berjalan menuju ruangan Tsunade sambil menjaga jarak. Meski sekilas mereka tampak baik-baik saja tapi atmosfer ketegangan dari keduanya dapat terasa begitu jelas.

"Aku tidak akan mau kehilangan Sakura lagi," bisik Sasuke dengan pelan saat berada di depan pintu ruangan milik Tsunade. Tapi kata-kata itu dapat terdengar jelas oleh Sasori. Kelihatannya Sasuke bertekad untuk mempertahankan Sakura dan tidak akan membiarkan gadis itu pergi lagi seperti yang terjadi beberapa ratus tahun lalu.

"Sejak awal kau tidak pernah memilikinya Sasuke," balas Sasori yang menanggapi perkataan Sasuke dengan enteng. Kemudian dia berjalan duluan memasuki ke dalam ruangan. Sasuke tampak menggeram kesal dengan perkataan Sasori tapi dia tidak bisa melampiaskannya sekarang.

Sasuke kembali mengatur sikapnya dan menahan emosi yang hampir saja tampak ke permukaan. Dia berjalan dengan tenang memasuk ruangan. Di dalam sana sudah ada Tsunade dan Jiraiya yang menunggu mereka, serta beberapa orang lainnya seperti Ino, Hinata, Neji, Gaara, Shikamaru, Sai, Naruto dan Kiba. Sasuke yakin pasti ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh Tsunade sampai mengumpulkan mereka semua.

Sasuke duduk dengan tenang diantara Neji dan Gaara, sementara Sasori duduk tepat menghadap arah depannya. Ada aliran ketegangan saat kedua pemuda itu melakukan kontak mata dan hal itu dapat dirasakan oleh yang lainnya.

"Baiklah, kalian pasti sudah tau kalau aku mengumpulkan kalian seperti ini pasti karena ada hal yang penting." Tsunade yang menyadari situasi antara Sasori dan Sasuke segera memulai pembicaraan.

"Kami juga sudah tau, pasti ada hal yang penting! Tapi masalah pentingnya itu apa? sudah, langsung saja dikatakan!" sambar Naruto dengan gayanya yang sudah biasa. Bukannya tidak menghormati Tsunade tapi Naruto memang tidak menyukai hal yang berbelit-belit.

"Aku mendapatkan ini dari Mikoto." Tsunade mengeluarkan beberapa buah amplop putih dan langsung membagi-bagikan ke yang lainnya.

"Apa ini?" tanya Naruto sambil membolak-balikkan amplop putih tersebut.

"Dibuka saja!" sambar Tsunade cepat yang sedikit kesal karena Naruto terlalu banyak bertanya.

"Ini… Undangan pernikahan?" tanya Sasori dengan wajah yang shock saat membuka isi amplop tersebut.

"Ja-jadi Sakura a-akan menikah dengan Sa-Sasuke?" tanya Hinata setelah melihat isi amplop yang ternyata merupakan sebuah kartu undangan dan pada undangan tersebut ada foto Sakura sedang berpelukan dengan Sasuke.

"Begitulah. Sakura dan Sasuke akan segera menikah." Tsunade mengiyakan kabar pernikahan Sakura dan Sasuke yang akan segera dilaksanakan.

"Tapi… Apa ingatan Sakura sudah pulih?" tanya Ino yang terlihat kecewa dengan kabar yang dia dapat. Ino seperti berusaha mencari cara untuk mengulur pernikahan Sakura dan Sasuke dengan menggunakan ingatan Sakura sebagai alasan.

"Untuk masalah itu bisa diurus nanti," sela Sasuke yang mengambil alih pembicaraan. Sasori langsung memicingkan matanya dengan tajam ke arah Sasuke. Dia yakin kalau Sasuke merencanakan sesuatu.

"Apa maksudmu?" tanya Sasori dengan perasaan tidak enak.

"Sekarang Sakura harus fokus untuk kembali menaiki tahtanya sebagai ratu di elf kingdom. Sakura harus kembali kesana dan menikah denganku, karena dengan demikian posisinya sebagai ratu tidak akan bisa digoyahkan." Jawab Sasuke yang ternyata tetap ingin menjalankan pernikahan dengan Sakura dan kesempatan ini tentu akan dia gunakan dengan baik.

"Tidak adakah cara selain cara itu?" tanya Sasori yang sepertinya tidak setuju dengan rencana Sasuke.

"Kita tidak punya waktu untuk memikirkan cara lain. Sementara kita berpikir, Pein terus mengumpulkan pasukan dark elf untuk mengambil alih tahta. Kalau sampai pada masa bulan purnama Sakura masih belum dan menikah maka tahta akan jatuh ke tangan Pein." Sasuke mencoba untuk mengingatkan yang lainnya mengenai situasi genting yang sedang mereka hadapi. Dia mencoba mendesak yang lainnya agar setuju dengan rencananya.

"Sudahlah, masalah ini jangan didebatkan lagi! Aku setuju dengan Sasuke. Kita sudah tidak ada waktu lagi dan Sasori, aku harap kau tidak melakukan hal yang dapat menghambat pernikahan mereka nanti." Akhirnya Tsunade mengambil keputusan yang sesuai dengan rencana Sasuke dan dia sempat memperingatkan Sasori agar tidak melakukan hal yang bisa merusak pernikahan Sakura dan Sasuke.

"Aku… Mengerti… " Dengan berat hati akhirnya Sasori mengiyakan. Setelah itu dia pergi meninggalkan ruangan tersebut. Tsunade merasa kasihan dengan pemuda itu karena dia tau kalau Sasori saat ini pasti sangat hancur.

o0o

Sementara itu di kediaman Uchiha…

.

Sakura yang akhirnya tiba di kediaman Uchiha segera dikejutkan dengan sambutan dari Mikoto. Begitu melihat Sakura, wanita itu bergegas berlari dan memeluknya dengan senang membuat Sakura jadi bingung oleh sikap Mikoto.

"Sakura, ada kabar gembira untukmu!" seru wanita itu dengan wajah berseri, "kau dan Sasuke akan segera melaksanakan pernikahan pada hari minggu nanti!" katanya lagi sambil setengah berteriak.

"A-apa?" Sakura benar-benar shock mendengar kabar tersebut. Dia benar-benar tidak percaya kalau Mikoto akan segera menikahkannya pada Sasuke pada minggu besok yang hanya tinggal menghitung hari saja.

Apa yang akan dilakukan oleh Sakura? Disaat dia ingin bersikap jujur dengan mengatakan semua keinginannya ternyata muncul kejadian yang tidak terduga. Lalu bagaimana dengan Sasori? Apa dia benar-benar merelakan Sakura begitu saja?

TBC...


A/N :

Oke, gw langsung publish ini tanpa edit jadi mohon maaf kalau banyak typo bertebaran. Sebenernya sih gw berusaha untuk edit tapi gak tau kenapa tulisan gw pasti balik lagi acak-acakan tiap disave. Jadi ya udah gw biarin apa adanya gini (pegel juga bolak-balik benerin tapi balik lagi tulisannya).

Disini kayaknya alurnya rada ngebut bruuummmm ckiiiit! Tapi gw usahain chapter depan alurnya gw perbaiki. Disini Saso sama Sasu resmi perang dingin walaupun keliatannya Sasuke di atas angin.

Untuk hubungan Sakura dan Sasori kayaknya mereka udah resmi 'ketauan' bukan ayah dan anak dan Sakura mencoba lepas dari ikatan itu. Oke, thanks buat semua masukannya.

.

.

"Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang muslim dan selamat membaca".