~ Cross The Devil ~

Chapter 10 : It's Sasuke.

Naruto is always belongs to Masashi Kishimoto

A/N:

Maaf karena menelantarkan fic ini. Author sedang dalam proses menghadapi UN 2013. Gomennasai ^^

Untuk chapter ini. Mari kita semua melihat dari sisi sang Sakura Haruno. Mari melihat sisi lain cerita ini yang author sadar selama ini telah terpikirkan namun setelah author sadari belum pernah dimasukkan di chapter manapun.

Ah, author mulai merasa panik dan maaf, tapi author akan meng-skip banyak waktu di cerita ini agar langsung ke kejadian intinya.

Akhir kata. Arigatou Gozaimasu…


Hari-hari berlalu dan tanpa terasa 3 bulan telah berlalu semenjak kembalinya Sasuke ke Konoha. Tepat 2 minggu setelah kedatangan Mikoto-Sasuke, Mikoto memutuskan kembali ke Sunagakure guna menjalankan bisnis mereka. Mikoto memaksa Sasuke agar tetap tinggal untuk 'berlibur'.

~OO~

Terkadang, Sakura merasa hidupnya begitu lengkap. Memiliki orangtua yang menyayanginya, teman-teman yang selalu bersamanya dan seorang pacar. Sakura merasa tidak akan ada yang akan membuatnya tidak bahagia. Namun, tidak jarang pula seorang Sakura merasa rapuh serapuh daun-daun di musim gugur. Hal itu hanya terjadi saat ia berpikir bahwa ia bukanlah seorang pacar yang baik atau kurang mampu membahagiakan pacarnya karena ia sadar di dalam lubuk hati terdalamnya, ia masih belum bisa melupakan seseorang. –the one who stole her first kiss-

~OO~

"Besok adalah hari Tayuya akan keluar dari rumah sakit."

Sakura meletakkan sendoknya dan tersenyum pahit kepada Itachi, "Benarkah? Itu kabar bag…."

"Aku harus menjemputnya."

Sakura mengambil gelasnya dan meneguk air sebelum ia berkata, "Apakah akan merubah pikiranmu jika aku melarangnya?"

"Sakura, dia adalah tanggung jawabku."

Sakura kembali memegang sendoknya dan menggenggamnya erat, "Tapi aku adalah pacar senpai."

"Sakuraa…."

"Dia berusaha membunuhku. Dia ….. dia…." Sakura mempererat pegangannya di sendok silver itu.

"Kau seharusnya tahu bahwa dia itu labil. Orangtuanya bercerai dan ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa kami putus dan….."

"Itulah intinya!" Sakura berdiri dan menggebrak meja tanpa memperdulikan pandangan tajam orang-orang di sekelilingnya. Tanpa perduli bahwa mereka berada di sebuah restoran mewah dimana mereka seharusnya sedang dalam sebuah makan malam romantis. "…dia hanyalah masa lalumu. Kenapa masih saja senpai peduli dengannya?"

"Mengapa kau belum paham juga Sakura?! Sudah berapa kali pembicaraan ini terulang. Hari ini seharusnya kita merayakan hari jadi 6 bulan kita bukan malah memperdebatkan masalah yang sama terus menerus."

"Terserah." Sakura melangkahkan kakinya pergi dari restoran itu.

Itachi yang akhirnya sadar bahwa Sakura telah berjalan meninggalkannya mulai panik dan segera membereskan barang-barangnya. Setelah ia membayar pesanan mereka ia segera berlari keluar, mengejar Sakura.

"SAKURA!" Itachi meraih pergelangan tangan Sakura dan menariknya ke dalam pelukan.

Sakura hanya bisa terisak perlahan, berusaha mencari rasa aman di dalam dekapan Itachi yang tidak dapat ia rasakan.

"Tayuya hanyalah tanggung jawabku sedangkan kau.. kaulah pendamping hidupku Sakura."

"I..ta..chi… di..a… masa… lalumu..." Sakura terisak pelan.

"Ya benar dia masa laluku, tapi semua orang memiliki masa lalu Sakura. Bahkan kuyakin dirimu belum benar-benar melupakan Sasuke."

"Itachi!" Sakura melepaskan diri dari pelukan Itachi dan menatapnya dengan penuh emosi. "Jangan bawa-bawa Sasuke dalam masalah ini."

"Ayolah Sakura. Kau berharap aku akan terus diam menerima segala alasanmu bahwa Tayuya adalah masa laluku ketika kau sendiri tinggal seatap dengan masa lalumu?!"

"Itachi! Dia itu sepupumu! Bagaimana mungkin kau tega berpikiran seperti itu?!"

"Karena kau terus menerus membawa Tayuya dalam permasalahan ini!"

Sakura tercekat dan rasa sakit di dadanya terasa begitu menyengat.

"Senpai. Let's break up."

~OO~

*cklek*

Sakura melangkahkan kakinya, masuk ke dalam rumah. Matanya terfokus ke arah ruang tamu yang begitu gelap. *sepertinya semua sedang keluar* pikirnya. Sakura melepas high heels-nya dan melemparnya begitu saja di dekat rak sepatu. Ia lalu melemparkan tas gucci-nya begitu saja di atas sofa dan berjalan perlahan menuju dapur.

*Hmm… sepertinya semua sedang keluar*

Sakura berjalan melewati cermin dan dilihatnya sesosok gadis dengan wajah sendu, eye liner-nya meleleh oleh air mata sehingga membuat pipi merahnya berubah hitam. Sakura menarik napas panjang sebelum kembali berjalan ke arah dapur yang gelap. Ia lalu berhenti di depan kulkas dan membukanya sehingga cahaya berebut keluar, ingin menerangi dapur yang gelap itu. Sakura melihat 'seonggok' kue di hadapannya. Kue yang Itachi berikan kepadanya siang tadi sebagai bagian dari perayaan hari jadi mereka. Sakura menghela napas sebelum akhirnya menarik kue itu dari dalam kulkas, ragu untuk memakannya atau membuangnya.

"Sakura."

*PRAANG*

"SAKURA!"

Piring berisi kue itu terhempas ke lantai yang dingin. Pecah berkeping-keping. Hancur, terbelah, dan pecahannya terbang ke segala arah.

Hati Sakura dingin, terlalu nyeri karena sakit yang ditimbulkan Itachi sehingga ia bahkan tidak bisa merasakan hangatnya darah perlahan menyelimuti kakinya, rasa sakit menjalar menuju tubuhnya. Ia tidak merasakan semua itu, semua rasa itu tidak terbandingkan dengan rasa sakit hatinya.

Tanpa ada yang memerintahnya Sasuke langsung menggendong Sakura, bridal style. Sakura menggantungkan lengannya di leher Sasuke dan menyandarkan kepalanya di dada bidang sang Uchiha. Seketika ia merasakan perasaan itu, perasaan nyaman dan aman yang ia selalu cari jika ia bersama Itachi tetapi tidak pernah ia rasakan.

Sasuke berjalan hati-hati melewati pecahan-pecahan piring sebelum akhirnya meletakkan Sakura di sofa ruang keluarga, tepat di samping tas gucci yang sebelumnya terabaikan. Ia lalu perlahan bangkit berdiri sehingga Sakura mengerutkan keningnya, benci karena rasa nyaman itu mendadak hilang. Kemudian semuanya menjadi sunyi hingga terdengar bunyi laci ditarik sehingga terkuak aroma obat-obatan yang seketika juga hilang saat laci ditutup.

Sasuke kemudian kembali duduk di lantai menghadapi Sakura. Perlahan, ia menggosokkan kapas basah yang mengandung antiseptik di luka gadis itu. Sakura tidak berjengit sedikitpun saat Sasuke menggosokkan kapas itu. Bukan karena tidak sakit, tapi karena bahkan tidak punya energi lagi menghadapi rasa sakit itu. Sakura hanya diam di atas sofa, membiarkan Sasuke merawat luka fisiknya.

Sasuke dan Sakura lalu duduk bersama di atas sofa setelah kaki Sakura selesai diperban. Posisi badan Sakura setengah melingkar dengan kepala gadis itu bersandar di bahu Sasuke. Tangan Sasuke sedari tadi tidak diam melainkan terus menerus bergerak naik turun, mengelus pundak Sakura. Sasuke berusaha mengirimkan perasaan menenangkan kepada Sakura yang sesedikit masih terisak di bahunya.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi." Bukannya mengeluarkan pertanyaan, Sasuke malah mengeluarkan pernyataan dalam usahanya memecah keheningan di antara mereka berdua.

Sakura tetap diam, bukan karena ia tidak ingin memberi penjelasan atau komentar melainkan karena ia sebenarnya juga tidak mengerti. Semuanya terjadi terlalu mendadak untuk bisa dipahami.

"Bicaralah Sakura. Aku akan mendengar." Sasuke bergumam perlahan.

Sakura hanya mampu menggelengkan kepalanya. Ia merasa sakit dan ia tidak tahu cara menjelaskannya. Ia merasa seperti sebuah ranting yang terjatuh di tanah, terinjak di bawah kaki seseorang dan ditinggalkan begitu saja, patah dan hancur.

"Please, bicaralah. Biarkan aku menentramkan hatimu."

Sakura merasa ada sesuatu di dahinya, merasakan lengan-lengan yang mulai mendekapnya. Dan butuh semua itu untuk meyakini pilihannya, karena bukan Itachi yang pertama kali menciumnya, bukanlah Itachi yang mencium keningnya saat ini, dan bukan pula Itachi yang memegangnya saat ini. Melainkan ... Sasuke

.

.

.

.

"It's Sasuke."

To Be Continued

...Mohon Reviewnya…