Yumi Murakami: NaruHina ada didikit di chp ini, tapi yang lebih banyak mungkin di chp 11

Algojo: Nih, chap baru. moga suka!

Zaoldyeck13: Deidara? wakakakaka.. mau kubiat SasoDei itu sebagai pelawak di cerita ini. Sosori yang narsis vs Deidara gay. Gaara taku dgn Hinata, itu sih keharusan soal y ini cerita dipusatkan pada Hinata, tentu saja ia harus jadi terkuat. uhuY! Ahahahha.. tenang aja, Hinata gx akan biarkan wajah yayang masa depannya bonyok. Sasori? hem.. mungkin ia akan lama mati, Azure belum bisa membiarkan dia mati dulu.

Guest: SakuHina teman sejak kecil, mereka berpisah karena Saku pindah. Hinata baru tahu Saku sekelas dan pindah sekolah di chp 9 karena ia kecelakaan n terus di RS. mAKASIH udah suka cerita iniii :)


Disclaimer: Jika Naruto milik saya, nama komiknya bukan lagi 'Naruto' tapi 'Sasuke'. waakakaka :)

Warning : OOC, lemon, penganiaan anak, pembunuhan dan adegan kekerasan lain

Genre : Hurt/conforn & angst

Pairing: NaruHinaMen(Naruto, Hinata dan Menma), GaaSakuSasu,NejiTen, InoSai

Rated : M


Chapter 10: Surprise!

Saat waktu pulang, Hinata berjalan kearah sahabatnya.

"Sa-sakura-chan"

Sakura melirik Hinata, Gaara berdiri disebelahnya. "Ada apa, Hinata-chan?"

"Um.. anu.." Hinata memainkan dua jari telunjuknya.

Gaara kesal oleh sikap sahabat Sakura yang membuang-buang waktu. "Cepatlah bicara! Jangan lelet begitu!"

Gaara membentak, Hinata terkejut, Sakura mendelik.

"Gaara"

Gaara membuang muka. "Maaf"

Sakura tersenyum pada Gaara, kemudian melirik Hinata. "Jadi, ada apa Hinata-chan?"

"Anuu.. hari ini ujian kenaikan tingkat. Maukah kau ke rumahku? Aku akan bersemangat jika Sakura-chan mendukungku" Hinata menunduk.

Wajah Sakura berbunga-bunga. "Tentu saja aku akan mendukungmu!" Sakura menggenggam tangan Hinata, tangan lain menggenggam Gaara. "Ayo pergi!" dengan semangat, gadis bermahkota bunga sakura itu menyeret dua orang disisi kanan-kiri.

Hinata hanya tertawa. 'inilah Sakura-chan'

Gaara mendesah pasrah melihat punggung pelayannya yang menyeret dirinya.

Sasori menunggu majikanya diluar mobil, matanya menemukan gadis indigo diseret oleh gadis berambut pink dengan seorang cowok berwarna rambut sama dengannya. Ia membelalak saat mengetahui siapa pria itu.

'Gaara? Dia sekolah disini juga?' ia langsung tahu begitu melihat seragam sekolah sang pemuda.

Tiga orang itu berdiri didepan mobil Hinata. Sasori membungkuk pada Hinata. "Halo, nona-nona. Nona Hinata, bagaimana sekolahnya?" Sasori menyapa para perempuan., hanya para perempuan.

"Ba-baik, Akasuna-san" jawab Hinata.

"Panggil saja saya Sasori, nona Hinata" supir itu tersenyum setelah mengangkat kepalanya.

"Baiklah, Sasori-san"

Gaara tersentak.

"Akasuna… Sasori.." ujar Gaara dengan suara kecil.

Sasori melirik Gaara. "Lama tidak jumpa, Gaara" ia memasang ekpresi datar, soalnya Gaara cowok.

"Hn" Gaara mencoba tidak mencari topic pembicaraan dengan pemuda didepannya.

"Kalian saling kenal?" Tanya Sakura.

"Kami sepupuan" Sasori menjawab pertanyaan Sakura sambil mengedipkan mata genit pada gadis itu. Sayang sekali tidak mempan, Sakura membalasnya dengan tersenyum sebagai sekedar ramah-tamah.

'Hem.. cowok ini lumayan, tapi masih kalah dengan panda-chan dan Sasuke-kyuuuun~' inner Sakura menilai Sasori sambil menjilat lolipop.

'Harus berapa ratus kali aku bilang? berhenti berfangirl mode!'

Inner Sakura menjulurkan lidahnya pada Sakura, kemudian ia kembali menjilat lolipop. Sakura mendesah lega melihat inner-nya kembali diam.

Sakura, Hinata dan Gaara pergi menuju kediaman Hyuga. Diperjalanan, Sasori terus saja merayu Sakura dan Hinata. Dua gadis itu menimpali dengan pura-pura tertarik, Sasori baru diam saat ia akhirnya menyadari death glare milik Gaara saat ia terus saja merayu pelayannya. Mobil itu akhirnya memasuki kediaman Hyuga. Setelah meninggalkan Sasori, mereka menuju ruang tamu. Para pelayan menatap tidak percaya pada dua orang berseragam dan terlihat seumuran dengan nona/tidak dianggap oleh mereka membawa teman kerumah. Biasanya Hinata tidak pernah, mereka tahu dia tidak punya teman.

Gaara dan Sakura duduk di ruang tamu, Hinata menyediakan teh dan beberapa cemilan untuk teman-temannya. Sebelum Hinata ijin untuk mengganti baju karate putih miliknya, Gaara memperingati Hinata.

"Hyuga"

"Ah, panggil aku Hinata saja" Hinata kaget, baru kali ini majikan sahabatnya (Sakura juga sudah bercerita tentang pekerjaan dan hubungannya dengan Gaara) berbicara padanya.

Gaara tidak menanggapi. "Lebih baik kau jauhi Sasori"

Sakura menengok kearah Gaara, membelakangi Hinata. "Gaara, kau tidak boleh begitu. Tadi Sasuke-kun, lalu Sasori-san" Sakura berpikir Gaara tidak suka Sasori karena ia menggodanya, majikannya selalu membenci semua lelaki yang menggerayanginya.

Gaara menatap serius pada Hinata, gadis indigo itu tahu, peringatan Gaara bukan karena rasa cemburu melainkan karena ada hal yang tidak beres akan pria berwarna rambut sama dengannya. Gaara melihat ekpresi sahabat milik pelayannya berubah, matanya kosong tanpa tanda-tanda kehidupan, tapi bibirnya… menyeringai sadis. Pemuda bertato 'cinta' memucat.

'Dia..'

'Jadi ini wajah aslinya, aku memang tidak salah lagi' Sukaku menimpali.

'Gadis ini… sebenarnya semengerikan apa?'

'Lebih baik kau tidak melanjutkan khayalanmu, itu bisa menjadi mimpi buruk' Sukaku berkeringat 'Ingat! Ini peringatan terakhir dariku, jangan pernah melawannya!'

Gaara meneguk ludah.

Hinata mengangguk kecil akan peringatan Gaara, kemudian ia merubah ekpresi menjadi biasa. Ia kembali pamit dan pergi meninggalkan dua orang diruang tamu.

Sakura melihat ekpresi pucat milik Gaara, ia melirik kearah Hinata pergi. Tidak ada siapa-siapa. Ia tahu bahwa ketakutan majikannya itu karena Hinata, sahabatnya. Ia tahu Hinata sejak dulu, sahabatnya yang pemalu, ragu-ragu, rendah hati dan ramah. Juga… kepribadian lain miliknya yang bahkan ditakuti Hinata. Perasaan takut, ngeri dan denial membuat sahabatnya berpikir ia kepribadian ganda, otaknya dipaksa tidak mengingat perbuatannya, tapi tubuhnya tidak bisa berbohong. Niat baik sahabatnya tidak bisa menghentikan perasaan haus darah yang menyelimuti hati gadis indigo itu. Sejak kecil… sahabatnya sudah menjadi mesin pembunuh.

Mata emerald Sakura melirik pada tangan kanan majikannya, ia mengeluarkan kotak putih dari dalam ransel dan membuka kotak P3K tadi. Ia menggenggam tangan kanan Gaara, Gaara melirik tangan Sakura.

"Maaf.." ujar Sakura saat melihat memar merah ditangan Gaara karena genggaman Hinata dikantin tadi. Gaara menatap Sakura bingung. "Aku tahu ini sejak dikantin itu, tapi jika saat itu aku bertindak.. Hinata-chan mungkin akan ditakuti oleh teman-teman" gadis bermata emerald ini membalut perban setelah merawat memar merah ditangan Gaara "Aku.. munafik, ya?"

Gaara terus menatap tangannya yang sedang diperban. "Kau.. benar-benar mengangap gadis itu berharga, ya?"

"Ya" Sakura menjawab dengan sendu. " Setelah ayah meninggal, aku tidak punya apa-apa lagi. Hanya Hinata-chan satu-satunya alasanku untuk bertahan hidup"

Gaara terkejut mendengar jawaban pelayannya. "Ke..napa?"

"Aku bisa saja mempunyai alasan lain, yaitu membalas dendam kematian ayahku. Tapi… seiring dengan waktu alasan itu tidak terlalu kuat, karena aku tahu itu tidak baik"

'Membalas dendam.. ayah Sakura? Ayahnya dibunuhkah?'

'Membunuh ayah cherry? Tidak akan kita maafkan!'

"Dulu… aku lemah dan sering dijahili karena jidat lebatku ini" Sakura menunjuk jidatnya sambil tertawa terpaksa "Bahkan kakak angkatku juga sering menjahiliku" Kemudian ekpresi sedih Sakura berubah saat membicarakan Hinata "tapi Hinata-chan menyelamatkanku, dia temanku yang pertama, sahabatku satu-satunya. Aku tidak punya apa-apa selain dia dan ayah yang menyayangiku, menerimaku apa adanya" Sakura tersenyum "Jika Hinata-chan tidak ada… aku mungkin sudah mati" Sakura menyelesaikan kalimatnya.

Gaara semakin terkejut, ia terpaku akan cerita Sakura. Hatinya merasa bersalah setelah mendengar kalimat terakhir pelayannya.

'Jika tidak ada Sakura… jika Hinata tidak menolong Sakura… mungkin aku tidak akan bertemu dengannya, mungkin aku akan terus mengurung diri dan terus membenci dunia, tidak mengenal… apa itu cinta yang sebenarnya'

Gaara terdiam, Sakura telah menyelesaikan pekerjaannya membalut memar Gaara tapi ia tidak berbicara lagi. Sakura menutup kotak P3K dan memasukannya keransel, dan menutup resleting.

"Maaf.." Gaara memecah keheningan. "Aku tidak akan egois lagi menentang hubunganmu dengan Hinata" pemuda bertato 'cinta' menyatakannya dengan ikhlas.

Sakura tersenyum riang mendengarnya, ia memeluk majikannya "Terima kasih! Terima kasih, Gaara!" Gaara tersenyum melihat pelayannya yang kembali ceria.

"Um.. Sakura-chan" terdengar suara kecil dibelakang mereka, Sakura melepaskan pelukannya dan menatap asal suara itu, Hinata berdiri didepan pintu mengenakan seragam putih karate. "A-apa aku mengganggu?"

"Oh, tidak! Tidak!" Sakura memerah saat mengetahui bahwa sahabatnya melihat ia memeluk sang majikan.

Hinata mendesah lega, kemudian pandanganya menatap kearah Sakura dan Gaara.

"Aku tidak tahu bahwa kau dan Gaara-sa"

"Panggil Gaara-kun saja, Hinata-chan! Ya kan, Gaara?"

Gaara mengangguk.

"Ga-gaara-kun.. um… kalian.. selain berstatus pelayan dan majikan ternyata juga berpacaran" Hinata berkesimpulan begitu saat melihat mereka berdua berpelukan.

Gaara dan Sakura sama-sama memerah mendengar simpulan Hinata "Ti-tidak! Itu tidak benar! Kami hanya berteman akrab! Ka-kami tidak berpacaran" Sakura membantah, mukanya masih merona.

Gaara mendelik kesal, ia membuang muka.

"Benarkah? Tapi kelihatannya Gaara-"

"Eh, Gaara?" Sakura menengok pada Gaara, majikannya masih membuang muka. "Eeeh, kenapa kau terlihat kesal, Gaara?" Tanya Sakura dengan lemotnya.

"Aku tidak marah!"

"Eeeh, tapiii" Sakura masih tidak mengerti.

"Aku bilang tidak, ya tidak!"

Hinata tertawa kecil melihat sahabatnya yang tidak menyadari alasan Gaara marah. 'Sakura-chan masih juga sedikit lemon, ternyata. Ihiihihi.'

"Hinata" suara berat terdengar memanggil namanya, Hinata membalik tubuh kebelakang. Hiashi Hyuga dengan pakaian karate menyilangkan kedua tangan. "Kau sudah siap?" Hinata tahu apa maksudnya, ia menganguk. Hiashi melihat dua orang berseragam SMA Konoha memandanginya "Pelayan bilang kau membawa teman-teman, ternyata benar"

Sakura berdiri memperkenalkan diri, diikuti juga oleh Gaara.

"Lama tidak bertemu, Hiashi-sama. Saya Sakura Haruno, senang bertemu anda lagi" Sakura memperkenalkan diri sambil membungkuk sopan.

"Sakura Haruno… sahabat Hinata sejak kecil? Bukankah kau pindah karena ikut ayahmu setelah orangtuamu bercerai" Tanya Hiashi.

"Ya, saya pindah kesini bersama keluarga tempat saya bekerja sebagai pelayan. Keluarga Sabaku" Sakura menatap Gaara.

"Saya Sabaku no Gaara, salam kenal Hiashi-sama" Gaara memperkenalkan diri, mulutnya reflek berbahasa sopan agar tidak mempermalukan nama Sabaku.

"Sabaku no Gaara, anak bungsu keluarga Sabaku yang mempunyai perusahaan elektronik paling terkenal di Suna, bukan? Senang bertemu anda tuan Sabaku" Hiashi menjabat jabatan tangan Gaara. "Tapi saya heran kenapa anda bisa diKonoha, melihat seragam yang sama dengan anak saya, sepertinya anda juga bersekolah di SMA Konoha"

"Ya, saya ikut Kankuro, kakak laki-laki saya. Bukannya di Suna tidak mempunyai sekolah terbaik seperti di Konoha, hanya saja saya ikut dengan kakak saya karena permintaan pelayan pribadi saya untuk bersama sahabatnya" Gaara menatap kearah Sakura dan Hinata.

"Wah, anda baik sekali"

"Tidak juga" Gaara bersikap layaknya kalangan atas, Sakura terpaku sambil menganga. Baru kali ini majikannya bersikap layaknya para wirausahaan, baru kali ini merasa Gaara benar-benar berkhasrisma.

Melihat kharisma yang kuat dari pemuda didepannya, ia tersenyum.

"Terimakasih telah datang ke-kediaman Hyuga, kami akan melakukan ujian tingkat untuk anak pertama kami. Saya rasa anda pasti sudah tahu" Gaara mengangguk. "Baiklah, mari kita ke dojo. Lewat sini" Hiashi menunjukan jalan, tiga orang dibelakang mengikutinya.

Setelah mereka sampai, para murid sedang duduk mengitari dojo karena menunggu acara utama mereka. Gaara dan Sakura juga duduk dilantai kayu dojo, Hinata berjalan ketengah-tengah ruangan. Sakura memberi semangat pada sahabatnya, Hinata balas tersenyum untuk cheer Sakura.

"Ingat, ini kesempatan terakhirmu jika kau masih ingin memiliki marga Hyuga" Hiashi memperingati anaknya sebelum pertandingan mulai. Raut wajah Hinata menjadi serius, ia melirik lawan pertamanya.

Tanpa diduga-duga, Hinata memejamkan mata. Sontak hal itu membuat semua yang menyaksikan terkejut.

'Ada apa dengan anak bodoh ini? Apa ia pasrah sebelum memulai?' Hiashi merutuki anaknya 'Jika itu benar, nama Hyuga benar-benar bisa tercoreng!' Pria itu tidak memperdulikan pengusiran anaknya, kepeduliannya hanya untuk harga diri marganya.

'Gadis itu sedang menenangkan diri, tapi untuk apa?' Gaara memperhatikan raut wajah Hinata yang masih tenang, tapi ia menyadari bahwa bibir mungil Hinata berkomat-kamit, ada ekpresi kesal terlihat jelas saat Gaara melihat gadis indigo itu menggigit bibirnya sesekali 'Kelihatannya ia sedang bertarung dengan sesuatu dibatinnya'

Sakura melihat sekeliling 'Terlalu banyak orang, gawat!' ia panic, kedua tangan menyatu seperti hendak berdoa. 'Kumohon, jangan sampai kau membunuh disini, Hinata-chan!'

Lawan Hinata merasa kesal, ia mengira Hinata meremehkannya. Ia membentak pada wasit agar memulai pertandingan, wasit meng-iyakan.

"Pertandingan…. Dimulai!" Sang wasit mundur setelah mengatakannya.

Lawan Hinata meluncurkan pukulan pertama. Hinata tetap menutup mata dan tidak bergeming sedikitpun. Hiashi mengepalkas tangan yang tidak digips dengan murka.

'Anak ini… memang tidak berguna!' Hiashi hendak berbalik memunggungi pertandingan. Lawan Hinata nyengir lebar saat tinjunya semakin mendekati wajah Hinata.

"Ahahaha… kau memang cacing tidak ber-" ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, tanganya sudah mengenai Hinata.

Tangan kiri Hinata.

Suara gaps terdengar dari semua yang menonton, tidak termasuk Sakura, Gaara dan Hiashi. Hiashi yang tidak mendengar suara pukulan mendadak bingung, iapun berbalik. Betapa terkejutya ia melihat anaknya menangkis pukulan dengan satu tangan, yaitu tangan kiri, apalagi Hinata masih memejamkan mata.

Lawan Hinata mengerang kesakitan dengan keras saat remasan Hinata pada tangannya terasa sangat kencang. Semua yang menatap memajukan badannya, takjub melihat anak Hiashi Hyuga yang selalu lemah mendadak.. berubah.

Gaara masih melihat bibir Hinata yang tetap bergerak-gerak, ia membaca kata 'tidak' berkali-kali muncul dari gerakan bibirnya.

'Bunuh..' suara lain memerintah.

Hinata diam sebentar, suara lain terkejut saat sigadis akhirnya bericara. Ia mengatakan kata 'tidak; tanpa penuh keraguan.

'Mereka tidak bersalah, aku tidak perlu membunuh!'

'Kubilang bunuh!' suara lain dikepala Hinata protes dengan tidak senang.

'Tidak!'

'Bunuh! Bunuh! Bu-' suara itu masih memerintah.

Hinata menyela. 'Pergi! Jangan ganggu aku!' gadis itu mengucapkannya dengan mantap, berhasil membuat suara lain tadi terdiam. Pikiran Hinata akhirnya kembali tenang.

Gaara melihat bibir Hinata terbuka kecil, terlihat seperti menghembuskan nafas lega.

'Sepertinya ia sudah tenang' batin pemuda itu.

Hinata melepaskan genggamannya, lawan Hinata mundur dengan cepat. Ia mengaduh dan kaget melihat tangannya tidak memar merah, melainkan membiru lebam. Hinata akhirnya membuka mata, disertai kuda-kuda khas Hyuga.

"Ayo mulai!" gadis itu berkata dengan lantang. Lawannya mundur ketakutan, Hinata melancarkan serangan pertama. Pertarungan yang sebenarnya… dimulai!

Pertarungan itu hanya menghabiskan waktu dari siang sampai sore, padahal lawan Hinata berjumlah lebih dari lima puluh orang walaupun dia belum melawan para murid terkuat Hyuga yang berjumlah lebih dari dua puluh. Pertandingan pertama Hinata selesai dengan sambutan yang luar biasa, para penonton yang sebagian besar pekerja ataupun pelayan dan murid-murid yang dihajar menganga tidak percaya. Aksi inipun sukses membuat Hiashi kembali tercengang seperti saat dirumah sakit. Hinata mendapat pelukan hangat dari Sakura sebagai selamat, Gaarapun ikut andil menyelamatinya, ia bahkan tersenyum padanya.

Setelah mengantar Sakura dan Gaara dipintu gerbang, ia melambaikan tangan pada mobil keluarga Sabaku yang menjemput mereka saat meninggalkan kediaman Hyuga. Hinata kembali kekamar untuk membersihkan diri dari keringat ditubuhnya.


Hari berikutnya, Hinata memasuki ronde dua, Sakura dan Gaara kembali diundangnya untuk mendukung. Pertandingan itu kembali membuat Hiashi dan semua tercengang karena waktunya lebih singkat dari kemarin, padahal lawannya adalah terkuat walaupun hanya dua puluh orang. Rekor ini baru pertama dikediaman Hyuga. Hiashipun tidak sadar akhirnya memuji Hinata, semua yang melihat itu menjadi merubah cara pandang terhadap nona muda mereka karena yakin akhirnya menemukan penerus kediaman Hyuga. Hinata akhirnya mendapat sabuk hitam.

Malamnya, gadis indigo itu terbuat tercengang dengan kehadiran ayahnya dan berbagai makanan favoritnya dimeja makan. Ia hanya berdiri memandangi pemandangan tidak biasa didepannya. Hiashi menatap anaknya yang hanya berdiri dan ia menyuruh Hinata duduk. Hinata menurut.

"Makanlah!" ujar Hiashi, suaranya terdengar memerintah seperti biasa. "Ini perayaan untuk keberhasilanmu dalam ujian kenaikan tingkat"

"Ba-baik, ayah" Hinata mengambil sumpit dan menyumpit nasi.

"Kerja kerasmu akhirnya telah terwujud, aku tahu kau anak yang pekerja keras. Ayah harap kau bisa menjadi lebih kuat, Hinata" ujar Hiashi sambil tersenyum.

Mata Hinata membelalak melihat senyuman ayahnya yang lama tidak ditunjukan setelah ibunya meninggal. Wajahnya merona kecil, ia mengagguk senang. Walaupun ibu dan adiknya tidak duduk disampingnya, ia merasa kembali kemasa-masa kecil, saat mereka bersuka ria di waktu makan.


Diwaktu lain, beberapa jam setelah Hinata dan Hiashi selesai makan dan telah tertidur nyenyak.

DOR!

DOR!

Suara tembak-menembak terdengar dijalanan sepi pada larut malam, dua mobil saling berbalapan dengan liar. Mobil itu sama-sama diisi oleh dua orang, ada yang menyetir dan ada yang bertugas saling menembak dari masing-masing jendela. Pemuda berambut kuning menembakkan peluru dari pistol emas miliknya pada penembak dimobil hitam sebelah mobil merah miliknya. Musuhnya sangat jitu, ia menghindar dengan mudah. Sang pemuda berdecih.

DOR!

Tembakan balasan meluncur mengarah padanya, iapun berhasil menghindar. Bahunya sedikit menyerempet, rasa perih terasa bersamaan dengan darah yang keluar. Pemuda berambut kuning tadi memegangi pundak kanannya dengan tangan kiri yang tidak memegang pistol, musuhnya terkekeh dari balik penutup hidungnya. Merasa tidak terima, pemuda itu melancarkan tembakan balik.

DOR!

Musuh bertopeng itu berusaha menghindar, tapi terlambat. Peluru perak bersarang didahinya, pria itu jatuh lemas pada jok dan mati seketika. Pemuda berambut kuning tertawa menang.

"Rasakah itu! weeek!" ia menjulurkan lidahnya pada mayat disebelah mobilnya.

Temannya, pria berambut putih yang menyetir berteriak 'Kakuzu', sepertinya itu nama temannya. Tangan kanan melepas stir mobil dan mengacungkan senapan kearah pembunuh temannya. Pemuda berambut kuning itu langsung menembakkan peluru yang tersisa pada musuh lainnya, sang penyetir, tanpa memberi kesempatan pada musuh.

DOR! DOR! DOR!

Peluru perak melesat membabi-buta, musuhnya kesusahan menghindar. Tiba-tiba pemuda yang menembak itu berdecih saat pistolnya tidak mengeluarkan peluru lagi.

"Siaaaaal! Pelurunya habis!" ia menggeram kesal. Kesenangannya terpaksa hilang "Tambah kecepatan, Menma! Kita berusaha agar musuh kehilangan jejak kita saja!"

"Aku sudah bilang agar kau membawa peluru cadangan, dasar bodoh!" maki pemuda berambut hitam yang sedang menyetir.

"Diam! Kau juga bodoh, kenapa tidak membawa pistolmu sendiri?" pemuda berambut kuning tidak mau kalah memaki.

"Aku kira kau tidak sebodoh itu karena akan menuruti kata-kataku untuk membawa peluru cadangan, ternyata kau memang bodoh, bodoh!"

"Aku juga mengira bahwa adik kembarku ini tidak bodoh karena pasti ia tidak akan lupa membawa pistolnya sendiri, ternyata kau bodoh! Dasar bodoh!"

Intinya adalah~mereka sama-sama bodoh~

"DIAM, AZURE!" Anak kembar itu berteriak berbarengan.

Azure mengarahkan bazooka pada mereka berdua. Menma dan Naruto mingkem.

Menma terpaksa menambahkan kecepatan mobilnya. Mobil musuh tidak bisa berkutik, ia kehilangan rekannya dan harus melancarkan strategi baru. Ia membiarkan mobil musuhnya hilang dari pandangan, merasa pasrah walaupun amarah menyelimutinya.

"Awas kau, kembar Uzumaki! Aku pasti akan membalaskan dendam Kakuzu!" sang musuh melantunkan sumpah dengan dendam yang berkobar-kobar.

Muka Naruto keluar dari jendela dan melihat kebelakang, ia yakin musuhnya telah kehilangan jejak. Iapun menyandarkan tubuhnya dijok depan tadi dengan kedua tangan dibelakang kepala.

"Aman, ayo pulang!" ia memberi isyarat.

"Lukamu tidak apa-apa?' Menma bertanya datar, ia menyembunyikan rasa khawatirnya, karena jika ketahuan… kakak kembarnya ini pasti akan menggodanya.

Naruto melihat pundaknya yang masih agak berdarah. "Cuma keserempet peluru, bukan hal besar" ia nyengir menatap adik kembarnya. "Khawatir~?"

Menma tahu nada bicara Naruto, ia menggodanya.

"Tidak!" ujar Menma tegas.

"Ayolah~ katakan saja Menma-kyuun~" Naruto memeluk adiknya tanpa aba-aba. "Kau memang adik kembar yang manis!"

Menma menggoyangkan stir mobil kekanan akibat kaget, mobil berbelok kencang hampir menabrak tiang listrik, Naruto kaget, ia berteriak.

"AAAAA!"

Dengan sigap, Menma memutar stir untuk menghindari tiang listrik. Setelah mereka berhasil menghindari bahaya, Menma menepikan mobil. Anak kembar itu sama-sama mengambil nafas dan memperbaiki detak jantungnya yang cepat. Menma mendelik pada Naruto.

"Uh oh" Naruto mengerti apa maksudnya. Bogem mentah mengarah pada wajahnya. Tapi pemuda itu tidak rela, ia kembali melontarkan tinju. Mobil biru dijalan diisi dengan dua kakak beradik saling berkelahi.

Tiba-tiba mereka berdua terasa silau dengan cahaya dibelakang, mereka berbalik dan melihat sebuah truk besar melaju kearah mobilnya dari kaca belakang mobil. Dua pintu truk terbuka, bayangan dua manusia melompat keluar dari truk yang masih melaju, truk itu dengan kencang melaju.. kearah… mobil mereka. Naruto sontak berteriak ketika mengerti apa yang terjadi, Menma kembali pada stir mobil. Beruntung ia tidak mematikan mobil sebelum mereka bertengkar, ia menginjak gas dan berusaha menjalankan mobil menghindari truk yang direncanakan untuk membunuh mereka beserta mobilnya.

Truk melaju kencang, mobil merah didepan menaikan kecepatan, langit malam semakin gelap, empat orang yang berada dijalanan sepi berkomat kamit semoga berhasil dengan perbuatannya. Antara berhasil membunuh Naruto dan Manma atau anak kembar itu yang berhasil menyelamatkan diri. Truk semakin mendekat, Menma membelokkan mobil dengan kencang, dan….

BRUUUUAAAAAAK!


Dua hari setelah pertandingan Hinata, Hiashi memanggil anaknya untuk menemuinya pada waktu siang. Hinata berlari cepat kearah ayahnya yang terlihat tergesa-gesa didepan mobil miliknya.

"A-ada apa ayah memanggil Hinata?"

"Kita akan menuju kediaman yakuza Uzumaki" Hiashi menjawab.

"U-uzumaki, untuk apa?" Hinata bingung melihat Hiashi yang trelihat sangat serius.

"Ada perintah dari mereka, kita harus berbegas!"

Hinata mengerti, jika ada perintah dari Uzumaki berarti meerka akan mendapat misi. Wajah Hinata serius. Sasori membuka pintu depan mobil untuk mempersilahkan Hiashi masuk, Hinata mendelik melihat pemuda berambut merah itu. Ia ingat akan peringatan Gaara untuk menjauhi Sasori. Sasori pria yang mencurigakan, instingnya merasa berbahaya jika pria ini diperbolehkan ikut ke kediaman Uzumaki.

"Um.. tapi kenapa ayah menggunakan mobilku? bukan mobil ayah?" Hinata mencoba agar ayahnya tidak menggunakan mobilnya, karena jika mereka memakai mobilnya, Sasori adalah supirnya. Sasori akan ikut ke-kediaman Uzumaki, hal ini tidak boleh.

"Kita sedang terburu-buru, tidak masalah dengan mobil apapun! Lagipula hanya mobil ini dan Sasori yang kebetulan siap pergi!" Hiashi yang tidak tahu apa-apa membentak Hinata "Apa kau tidak mau mobilmu mengantar ayah walau hanya sebentar?" pria itu malah beranggapan begitu.

Hinata menggeleng dengan cepat. Hiashi masuk ke mobil sambil menutup pintu, Hinata masuk di tempat duduk belakang seperti biasa. Sebelum menutup pintu mobil tempat Hinata duduk, Sasori melirik Hinata sebentar, ia merasa curiga akan kata-kata Hinata.

Kepalanya tergeleng kekanan-kiri, ia menutup pintu.

'Pasti hanya perasaan saja' batin Sasori.

Mobil perak Hinata melaju menuju kediaman yakuza Uzumaki.

Hinata dan Hiashi disambut oleh beberapa anak buah yakuza Uzumaki dihalaman. Halaman itu sangat luas, jaraknya cukup untuk membangun tiga rumah selebriti seperti ditv-tv, rumahnya megah dan mewah dengan gaya kastil tokugawa dijaman edo. Hinata yang tadi curiga langsung lupa setelah ia menginjakkan kaki di rumah ini, gadis itu rindu, terakhir kali ia kesini adalah waktu kecil. Tapi tidak ada waktu untuk mengagumi keindahan kediaman Uzumaki, Hinata harus mengikuti ayahnya yang berjalan cepat didepan.

Didalam sana Hinata berdiri menunggu ayahnya bercakap-cakap dengan dua bodyguard pribadi Minato Namikaze, ayah Naruto dan Menma. Mereka terlihat bercakap-cakap dengan serius. Bahkan Kakashi Hatake yang biasanya santaipun juga serius. Disaat mereka bercakap-cakap, Kushina Uzumaki dan suaminya mendatangi mereka. Hiashi membungkuk pada majikannya, Hinata mendekati ayahnya dan ikut membungkuk pada Minato dan Kushina.

"Oh, Hinata juga disini. Tumben sekali Hiashi membawamu, ada keperluan apa?" Tanya Kushina pada Hinata, Hinata yang juga tidak tahu kenapa alasan ayahnya membawanya kesini tidak bisa menjawab.

"Eh, anu.." ia bingung.

"Jadi kau memilih Hinata, Hiashi?" Tanya Minato. Kakashi, Genma dan Kushina yang tahu apa maksud Minato terkaget, satu-satunya pria berambut pirang itu menatap serius pada anak buahnya. "Aku sudah bilang bahwa ini sangat penting, kan?"

"Tentu saja saya tahu, tuan Minato" Hiashi menjawab. "Hinata telah lulus ujian kenaikan tingkat dan saya yakin ia lebih bisa diandalkan pada pekerjaan ini"

"Tapi bagaimanapun ju-"

"Saya tidak bermaksud menyela, tapi maafkan saya tuan Minato" Hiashi melirik anaknya yang kebingungan. "Bisa kita bicara ditempat tertutup?"

Minato terdiam, kemudian mengangguk. Empat orang dewasa berjalan menuju suatu ruangan pribadi, sementara Hinata sendiri dituntun salah satu pelayan keruang tamu untuk menunggu.

Hinata yang bosan melirik ruangan ini, ia benar-benar rindu. Disebelah ruang tamu adalah sebuah taman yang besar, ia bernostalgia pada masa kecil. Ia malu sekali pada dirinya yang dulu, ia pernah mendapat tugas untuk menjaga anak kembar Uzumaki tapi karena ceroboh dan kikuk, anak kembar itulah yang justru terlihat menjaganya. Raut wajah Hinata berubah merah kala mengingat itu.

"DOOOR!" Suara teriakan berasal dari belakang Hinata, sang gadis yang terkejut melompat dari bantal kursi.

"Aah!" Hinata berteriak.

"Ahahhaha! Aduh!" suara yang mengejutkan Hinata tadi tertawa kemudian mengaduh.

Hinata menengok kebelakang. Dibelakangnya, terlihat Naruto dan Menma yang berdiri.

"Aduuh sakit! Kau tidak lihat aku masih luka-luka begini!" Naruto mengelus-elus kepalanya. Kepalanya diperban, seluruh tubuhnya penuh luka lebam.

"Siapa suruh kau menakut-nakuti Hinata" Menma membentak Naruto sambil sedikit mengaduh, ia juga terluka sama parah dengan kakaknya.

Dari obrolan mereka, Hinata mengerti bahwa tadi Naruto yang mengejutkannya dan Menma mengjitak karena kakaknya telah mengejutkan Hinata.

Melihat kedua majikannya "A-ah , Menma-kun dan Naruto-kun! " Hinata ikut berdiri dan menunduk dengan hormat "Selamat pagi!"

"Ini sudah siang, Hinata-chaaaan" Naruto membenarkan sapaan anak buahnya.

"Be-benarkan? Kalau begitu se-selamat siang!"

Menma menjitak Naruto. "Ini sudah sore, bodoh!"

"Se-selamat sore!"

Naruto melihat kearah langit yang hampir gelap. Ia meninju Menma. "Sekarang sudah mau malam, bodoh!"

"Se-selamat ma-" Sebelum menyelesaikan sapaannya Hinata berpikir.

'Tadi Naruto bilang sekarang hampir malam, berarti bukan selamat malam tapi 'selamat hampir malam?', selamat hampir malam itu tidak adaaaa!' Hinata frustasi. Otaknya dipaksa bekerja, tiba-tiba ada lampu cerah dikepalanya, ia dapat ide.

"Se-selamat pagi, siang, sore, malam, Naruto-kun dan.. Men..ma-kun" Hinata mengatakannya dalam satu tarikan nafas, ia agak tersendat karena kehabisan oksigen. Well, jika dia mengatakan semuanya dengan membabi buta salah satu diantaranya pasti benar, kan?

Menma menganga akan salam panjang Hinata, Naruto jatuh kelantai.

Suara tawa keluar , "AHAHAHAHAHAHAHAAAAAA!" Naruto mengakak sambil guling-guling ditatami.

Hinata yang sedang membetulkan nafas menjadi bingung akan tingkah majikannya yang berguling-guling sambil tertawa dilantai.

"A-apa aku melakukan kesalahan?" Hinata bertanya pada Menma.

"Ti-tidak.. ahahaha… sa-salam yang bagus, Hinata. Ahahahhaa!" jawab Menma sambil tertawa.

Hinata memerah kala Menma juga ikutan tertawa, ia sangat yakin dirinya tadi melakukan kesalahan.

"Hahaahaha…Hi-hinataaaa-chaan.. kau lucu sekaali!" Naruto memuji dikala tawanya. Pemuda itu berusaha bangun. Hinata hanya bisa semakin memerah, wajahnya tambah merah kala Naruto merangkul pundaknya.

Tiba-tiba empat orang yang meninggalkan Hinata tadi memasuki ruang tamu. Minato melihat anaknya yang merangkul Hinata.

"Kelihatannya Hinata akrab dengan Naruto dan Menma, itu semakin bagus bukan? Kau mengizinkan, Kushina?" Minato meminta izin istrinya.

"Ya, baiklah" Kushina akhirnya memberi izin. Wanita berambut merah itu melirik kedua anaknya "Naruto! Menma!"

"Ya, bu?" dua anak yang sebut Kushina menjawab ibunya dengan serentak.

"Pihak Hyuga memilih Hinata, dia yang akan melakukan tugas ini. Keberatan?"

Menma dan Naruto terbelalak tidak percaya.

"Apa ibu yakin?" Menma ragu-ragu.

"Ya, kami sudah mendiskusinya. Hiashi sangat percaya diri bahwa putrinya bisa melakukan pekerjaan ini" terang Kushina.

Menma masih terlihat tidak yakin. "Tapi-"

"Yahooo! Berarti kita bisa berlama-lama bersama Hinata-chan! Jika Hinata-chan sih, aku tidak masalah!" Naruto bersorak, orang yang dibicarakan hanya terdiam heran.

Menma menjitak Naruto. "Bodoh, ini masalah nyawa!"

Naruto mengelus-elus bekas jitakan Menma "Aku tidak perduli, lagipula aku percaya diri akan kemampuanku. Aku yakin tanpa Hinata-chan atau orang lainpun aku bisa menjaga diri, kejadian dua hari lalu itu hanya karena aku lengah saja" Naruto mengejek Menma dengan menjulurkan lidahnya "Kejadian itu pasti tidak terulang lagi, lagipula memangnya kau takut? Pengecut~"

"Aku tidak takut! Hanya saja sekali-kali cobalah serius, bodoh!"

"Alah~ ngeles saja, sebenarnya kau memang takut, kan?"

"Tidak!"

"Iya!"

"Tidak!"

"Iya!"

Kakak kembar ini kembali dalam ritual pertengkarannya yang biasa, semua yang menyaksikan menjadi sweatdrop. Aksi mereka berhenti saat Kushina membenturkan kepala mereka masing-masing, dahi mereka menjadi korbannya. Semua semakin sweatdrop.

Sedangkan Hinata bingung, semakin bingung.

'Apa maksudnya? Izin? Nyawa? Sepertinya ini ada hubungannya denganku, tapi memangnya apa? Apa hubungannya antara keakrabanku dengan Naruto-kun dan Menma-kun? Apa maksud perkataan Menma-kun tentang nyawa dan Naruto-kun? Sesuatu tentang menjaga diri, memangnya mereka kenapa?'

"Kalau begitu saya pamit dulu" Tiba-tiba Hiashi izin pamit, pria itu membungkuk pada Minato dan Kushina. Melihat ayahnya ingin pergi, ia hendak melakukan hal yang sama.

"Ka-kalau begitu saya ju-"

"Hinata, kau tetap disini" Kushina menepuk pundak Hinata dengan lembut. Tampang heran Hinata terlihat kala ia mengangkat muka. Minato membalas pamitan Hiashi. Ayah Hinata berbisik sebelum ia pergi.

"Ingat-ingatlah, jangan pernah menjatuhkan nama 'Hyuga'. Jalankan misinya dengan baik!"

Hinata yang tidak tahu apa-apa hanya bisa mengangguk, sebagai reflek tubuhnya kala menerima perintah ayahnya.

"Anak-anak, lebih baik kau menunjukan kamar yang akan ditempati Hinata mulai dari sekarang" ujar Minato.

Menma dan Naruto mengangguk.

"Ayo, Hinata-chan!" Naruto menggandeng tangan Hinata, Hinata memerah seperti kepiting rebus.

"Ta-tapi" Hinata mencoba bicara.

"Jangan khawatir, Hinata-chan. Pakaianmu akan menyusul, Hiashi sudah menyuruh agar seseorang membawanya kesini" Kushina bicara.

"A-ah.. aku.."

"Kau khawatir akan barang-barangmu? Tenang saja, besok kau bisa membawanya kesini" Minato mencoba menebak perkataan Hinata.

Kebingungan Hinata semakin meningkat. "A-anu.. bukan, tapi.. se-sebenarnya ada apa?" Hinata akhirnya bisa mengutarakan kebingungannya.

Enam orang disekeliling Hinata menatapnya kaget.

"Kau benar-benar tidak tahu?" tanya Menma

Hinata mengagguk.

Menma dan Naruto saling memandang. Mereka menjelaskan ceritanya.

"Dua hari lalu kami diserang oleh empat orang dengan dua serangan diwaktu yang sama" ucap Naruto. Hinata panic. "Ini percobaan pembunuhan kedua setelah kejadian dirumah sakit, ayah dan ibu menuntut agar kami mempunyai bodyguard pribadi"

"Ya, dan anak tidak mau diatur ini terus menolak. Akhirnya mereka pasrah kala mereka hampir benar-benar mati saat serangan dua hari lalu dimalam jum'at!" Kushina menambahkan sembari menjitak anak-anaknya, mereka sedikit mengaduh. "Mereka memang bisa menghindari tembak-menembak, tapi karena kebodohannya mereka hampir celaka saat para musuh meluncurkan truk untuk menabrak mereka"

"Ce-celaka? Truk? Ja-jadi itu alasan Menma-kun dan Naruto-kun luka-luka begini?" ekpresi Hinata menjadi khawatir.

Semua melirik satu sama lain mendengar perkataan Hinata, Kushina bersuil-suil pura-pura tidak bersalah.

"Bukan, luka-luka ini perbuatan ibu yang menghajar kami!" anak kembar Uzumaki berkata berbarengan sambil menggoyangkan tangan kanan kekiri-kanan. Minato terkekeh kala mengingatnya, disertai Asuma dan Kakashi. Hinata menganga.

"Menma berhasil menghindari truk, kami pulang dengan selamat" ujar Naruto

"Ya, disaat kami mendesah lega… ternyata bahaya kami justru saat berada dirumah" tambah Menma "Ibu menghajar kami setelah kami menjelaskan kejadian malam itu diwaktu pulang"

"Itu karena kalian bodoh!" Kushina kembali menjitak anak-anaknya(anak yang malang), bisa-bisa berkelahi saat situasi sebahaya itu!"

"Habis, kami ki-" Kushina tidak membiarkan Naruto dan Menma menyelesaikan kalimatnya, kepala mereka kembali terkena jitakan.

"Jangan cari alasan!" wanita berambut merah itu membentak.

"Aww!" Menma dan Naruto mengaduh.

Orang yang menonton hanya bisa melihat, sesekali mereka terkekeh. Hinata sweatdrop mendengar cerita teman baru dan majikannya.

Kushina menatap Hinata "Jadi begitulah, mereka harus memiliki bodyguard. Kami membutuhkan seseorang yang harus selalu bersama mereka tanpa dicurigai, kami sudah membicarakan hal ini pada ayahmu. Hiashi yakin sekali menyerahkan tugas ini padamu, Hinata. Lagipula kau dan anak-anakku satu sekolah dan sekelas, ini bisa memudahkan pekerjaanmu"

Hinata… sedikit mengerti.

"Ja-jadi.."

"Mulai sekarang kau harus selalu bersama dengan Naruto dan Menma dalam waktu 24 jam penuh" Minato menimpali.

"Ha-harus.. selalu ber..sama?" Hinata memucat seperti orang kehabisan oksigen.

"Ya, kau bahkan akan tinggal dikediaman Uzumaki mulai sekarang!" sorak Kushina. "Sudah lama sekali aku ingin anak perempuan, lagipula Hinata sangat manis seperti boneka, benar-benar perempuaan!"

"Tinggal. Di. Kediaman. Uzumaki." Hinata menekankan semua kata-kata, matanya memandang tidak percaya.

"Ya," Kushina, Minato, Kakashi dan Asuma menganguk.

Naruto kembali menggenggam tangan Hinata, Menma menggenggam tangan Hinata yang tidak digenggam Naruto. Saudara kembar itu berada dikanan-kiri Hinata sambil menggandeng kedua tangannya, mereka menyambut anak buah sekaligus bodyguard baru mereka.

"Selamat datang ke-kediaman Uzumaki, Hinata-chan!" Naruto bersorak riang.

"Selamat datang, Hinata" Menma tersenyum.

Sedangkan Hinata..

Reaksi Hinata..

Gadis itu..

Dia…

…PINGSAN!

Semua yang ada disini melongo melihat reaksi tidak terduga dari gadis berambut indigo, dengan gerak reflek Menma dan Naruto menopang berat badan bodyguard mereka agar tidak menghantam tatami. Empat orang sisanya ber-sweatdrop.

'Semoga semua akan baik-baik saja' mereka berkomat-kamit didalam hati.

Sebelum Hinata benar-benar tidak sadarkan diri, suara yang terakhir ia dengar adalah suara panic Naruto dan Menma.

"Hinata-chaaaan! Kau kenapa?"

"Hinata, bangun!"

"Hinaaaaaaaaaaataaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"


TO BE CONTINUED

NaruHina versi lengkap akan datang di chapter mendatang beserta konflik-konflik lain :)