IMPERFECT LOVE
Cast : Sehun, Jongin, Luhan, Kris, Suho, etc
Terima kasih untuk semua yang udah review, fav and follow nih ff, maaf ga bisa nyebutin nama kalian satu-satu.
Hanya tulislah karyamu sendiri, itu lebih baik dari pada kamu menghina karya orang lain.
No edit, yang ga suka dengan cerita yang gaje plus gaya penulisan yang absurd, silahkan klik close.
Kaihun Lovea
.
.
.
.
.
Kris meraih jaketnya dan menyambar kunci di atas meja dengan tergesa-gesa, ia baru saja mendapat informasi dari anak buahnya kalau mereka melihat istrinya berada di sebuah rumah sakit. Apa istrinya sakit? Kecemasan terlihat dengan jelas di wajah lelah Kris, beberapa hari ini ia hanya bisa tidur sebentar, itupun tidak nyenyak karena selalu saja ia akan terganggu dengan masalah-masalah yang ia hadapi beberapa hari ini.
Begitu tiba di rumah sakit yang di sebutkan anak buahnya tadi, Kris bergegas menemui anak buahnya yang telah berdiri menunggunya.
"Di mana istriku?"
Anak buahnya menyebutkan salah satu ruangan di rumah sakit itu dan tanpa membuang waktu lagi, Kris berlari menuju tempat itu, ia bahkan melupakan adanya lift di sana dan lebih memilih menaiki tangga menuju lantai tiga tempat di mana istrinya berada.
Brakkk
Semua yang ada di dalam ruangan terlihat menoleh saat pintu di buka Kris dengan kasar.
"Suho..." Kris dengan napas terengah-engah melangkah masuk, ia menatap satu-satu orang yang ada di dalam ruangan itu, ada istrinya yang tengah membereskan pakaian ke dalam tas besar di bantu oleh seorang wanita yang seusia istrinya, ada seorang pria berkulit putih dengan wajah tampan yang sedang mengupas apel di tangannya, dan putra bungsunya, Sehun juga berada di sana, sedang duduk di tepi kasur menemani seorang pria yang tengah berbaring dengan mata menatap lurus ke arahnya.
"Kris, apa yang kau lakukan di sini?" Suho melirik cemas ke arah Sehun yang tampak pucat.
"Suho aku..."
"Kita bicara di luar," Suho menarik tangan Kris dan membawanya keluar ruangan. Setibanya di luar, Suho segera menghempaskan tangan Kris dengan kasar. "Apa yang kau lakukan? kenapa menemuiku di sini?"
"Sayang..."
"Bukankah sudah ku bilang jangan temui aku lagi, lagi pula..." Suho memejamkan matanya sejenak, berusaha mencari kekuatan untuk mengatakan kata selanjutnya. "Kita akan bercerai..."
"Tidak Suho-ya, sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu."
"Kau egois."
"Kau tahu jelas tentang aku, Suho-ya. Aku masih sangat mencintaimu."
Suho membuang muka ke arah lain, berusaha untuk tidak terpengaruh dengan apa yang baru saja di ucapkan Kris padanya.
"Ku mohon pulanglah ke rumah Suho-ya."
"Hanya aku? Lalu bagaimana dengan Sehun? apa kau tetap tidak mengakuinya sebagai anakmu? pulanglah Kris, kau memang selalu mengecewakanku."
"Sehun... dia..." Kris berusaha keras menahan air mata yang ingin jatuh di pipinya. "Dia adalah anakku, anak kita, anak yang selama ini ku abaikan tapi ternyata dialah yang justru membanggakan." Setetes air mata jatuh di pipi Kris. "Kau tak tau Suho-ya, sebesar apa rasa penyesalanku untuk anak itu, bagaimana sakitnya aku saat aku menyadari betapa memalukannya aku sebagai orang tuanya." Kris berusaha memaksakan senyumnya. "Bahkan untuk melihat wajahnya saja aku merasa tak sanggup, aku ayah yang buruk untuknya."
"Aku akan membawa Sehun pergi."
"Suho-ya, ku mohon kembalilah ke rumah kita bersama Sehun, aku janji... aku akan berusaha keras untuk menebus kesalahanku pada kalian berdua." Kris tak malu lagi untuk berlutut di depan istrinya tanpa peduli orang-orang yang mulai memperhatikan mereka. "Aku hancur tanpa kehadiranmu."
"Kau masih punya Luhan," balas Suho.
Kris menggelengkan kepalanya. "Kau tak mengerti, aku tak hanya membutuhkan anak kita tapi juga dirimu."
"Kau yang tak mengerti Kris," Jari jemari Suho mengepal saat ia menatap lurus pada suaminya yang masih berlutut di hadapannya. "Semua sudah terlambat, aku tetap ingin bercerai denganmu. Aku akan pergi dan membawa Sehun bersamaku."
"Sayang ku mohon..." air mata kembali mengalir di pipi Kris. "Aku sangat mencintaimu."
"Keputusanku sudah bulat, kau pergilah, percuma kau berada di sini, aku tak akan mengubah pemikiranku bahkan meski kau berlutut di hadapanku." Suho memalingkan wajahnya ke arah lain. "Pergilah..."
"Aku akan tetap di sini sam..."
"Kalau begitu aku yang akan pergi," Sela Suho. "Kau masih punya Luhan dalam hidupmu Kris dan kurasa itu sudah cukup."
Raut wajah Kris mengeras mendengar ucapan Suho, perlahan ia bangkit dari berlututnya dan menatap Suho dengan sorot mata terluka. "Apa kau tak mengerti apa yang aku maksud sayang?"
Suho diam.
"Ini bukan hanya tentang aku, tapi juga tentang anak kita. Aku telah mengirim Luhan ke penjara."
"Apa?" mulut Suho terbuka lebar mendengar ucapan Kris.
"Aku tak tahu apa tindakan ku sudah benar atau salah, hanya saja jiwa Luhan terguncang karena ini, dan aku membutuhkanmu Suho-ya, Luhan membutuhkan perhatian kita berdua. Hanya kita, orang tuanya yang bisa mengembalikan dirinya seperti dulu lagi. Aku tak bisa melakukannya sendiri. Jadi ku mohon... jangan pergi."
Air mata Suho mengalir deras di pipinya, hatinya bimbang, di satu sisi ia tak mungkin bisa membiarkan Luhan menderita sendirian, tapi di sisi lain, ia juga tak ingin egois dengan meninggalkan Sehun kembali sendirian. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Tanpa keduanya sadari, Sehun yang berniat menyusul kedua orang tuanya, mendengarkan semua ucapan antara ayah dan ibunya itu. Tubuhnya merosot ke lantai tepat di depan pintu kamar dan dalam diam ia menangis, meratapi nasibnya yang mungkin sekali lagi akan ditinggalkan sendirian.
"Baby..."
Sehun mendongak, dan ia menemukan Jongin yang menatapnya khawatir dari atas ranjang. Dan tanpa sepatah katapun terucap dari bibirnya, Sehun bangkit dari duduknya dan berlari ke arah Jongin, memeluk tubuh yang lebih besar darinya itu dan menangis terisak di sana.
"Ssttt... tenanglah ada aku di sini..." Jongin mencium kening Sehun dengan penuh sayang.
"Hiks... eomma..."
Pelukan di tubuh Jongin makin erat dan pria berparas tampan itu bahkan tak peduli kalau bagian tubuhnya terasa sakit ketika di peluk erat oleh Sehun. yang ia pedulikan hanyalah rasa sakit di hati kekasihnya.
"Sayang... ku mohon jangan menangis lagi. Ada aku di sini untukmu."
"Hiks..."
Cklek
Pintu kamar terbuka dan Suho dengan raut wajah kusutnya melangkah masuk ke dalam ruangan. Wajah cantik itu tampak cemas saat melihat putra bungsunya menangis di pelukan Jongin. "Sayang, ada apa?" dengan langkah lebar Suho menghampiri anaknya.
Sehun melonggarkan pelukannya dan menatap ke arah ibunya. "Aku... aku pikir eomma..."
Senyum lelah tersungging di bibir Suho, "Eomma sudah berjanji padamu anakku, dan bukankah janji itu harus di tepati."
Sehun memperhatikan raut wajah ibunya dengan seksama, bahkan meski Suho tidak mengatakannya ia tahu, ada kegelisahan di sana dan itu pasti disebabkan oleh Luhan. "Eomma... aku tidak apa-apa. Ada Jongin disini yang akan menjagaku, kalau eomma tak ingin pergi, eomma bisa tetap tinggal di sini." Meski hatinya tak rela kalau harus berpisah dengan ibunya lagi, namun Sehun tak ingin egois, bagaimanapun juga Luhan juga butuh sosok seorang ibu di sampingnya.
"Dan melewatkan kesempatan eomma untuk berada lebih lama bersamamu? Tidak sayang, sudah cukup selama ini kau kekurangan perhatian dari eomma. Sekaranglah waktunya bagi eomma untuk menebusnya."
"Lalu bagaimana dengan Luhan dan appa."
Suho memejamkan matanya sejenak, dan saat ia membuka matanya, setetes air mata menuruni pipinya yang tirus. "Dia pasti bisa melewati semua ini. Eomma ingin memberi pelajaran padanya tentang makna kehidupan yang sebenarnya, bahwa tak semua hal yang ia inginkan dan ia butuhkan bisa ia gapai sepenuhnya."
"Dan appa?"
"Eomma tetap ingin bercerai dengannya. Sudah cukup ia membuat hidupmu menderita."
Bohong kalau Sehun tidak melihat ada sorot kepedihan di mata ibunya, tapi untuk sekali ini saja ia ingin bersikap egois. Ia menginginkan kasih sayang ibunya hanya untuk dirinya sendiri. "Eomma akan selalu di sampingku kan?"
"Tentu saja anakku..."
Sehun menjauhkan tubuhnya dari Jongin dan beralih memeluk tubuh ibunya dengan erat. "Aku tak ingin pergi jauh tanpa eomma."
"Eomma di sini nak..." Air mata kembali jatuh di pipi Suho. "Eomma akan selalu bersamamu." Pada akhirnya, inilah keputusan yang Suho ambil, ia tak tahu apakah ini sudah benar atau tidak yang ia tahu adalah bahwa ia harus menebus waktu-waktu yang telah ia lewati tanpa perhatian yang ia berikan untuk putra bungsunya.
.
.
.
.
.
.
.
"Jongin, pelan-pelan."
Sehun menggigit bibirnya saat melihat Jongin mencoba berdiri dari kursi rodanya dan berpegangan pada tiang horizontal yang ada di hadapannya.
Ini sudah enam bulan sejak mereka meninggalkan Seoul dan menetap di California, dan selama itu pula Jongin menjalani perawatan untuk memulihkan kondisi kakinya yang lumpuh. Awalnya memang terasa berat bagi mereka, apalagi kondisi Jongin sama sekali tidak mengalami perkembangan hingga membuat pria tampan itu nyaris menyerah. Hanya karena dukungan yang terus Sehun berikan untuknya lah yang membuat Jongin akhirnya terus bertahan dengan terapi yang ia jalani setiap harinya.
Dan berkat kerja keras dan juga semangatnya yang besar untuk bisa sembuh, sedikit demi sedikit ia mulai bisa menggerakkan kakinya.
"Aku bisa sendiri," Jongin menolak saat Sehun ingin meraih pinggangnya dan memegangnya.
Sehun melirik pada kaki Jongin yang mulai goyah dan gemetar, "Kau yakin...?"
"Ya," Jongin memegang tiang di depannya dengan erat dan mencoba untuk menggerakkan kakinya dengan pelan.
"Jongin kau yakin tak ingin aku bantu?" Sehun tampak cemas melihat ke arah kaki Jongin.
"Umm... ya, kau bisa membantuku."
"Benarkah?" Sehun kembali mendekat pada Jongin, namun sekali lagi pria itu menggelengkan kepalanya saat tangan Sehun ingin menyentuh pinggangnya.
"Bukan itu sayang, ku rasa kau bisa membantuku dengan cara menciumku, aku butuh asupan energi dari kekasihku."
Senyum Sehun melebar, dengan cepat ia mengecup bibir Jongin dan melumatnya dengan lembut. "Aku akan berikan lebih kalau kau bisa melangkah sampai ke ujung sana."
Jongin mengecup ujung hidung Sehun dengan lembut. "Aku pastikan kau akan memberikannya padaku malam ini." Dan setelah Jongin berkata seperti itu, Sehun kembali mundur dan membiarkan Jongin berlatih sendiri.
"Kemajuan Jongin akhir-akhir ini cukup pesat," gumaman dari arah belakangnya membuat Sehun tersentak kaget, ia hampir lupa kalau tak hanya ada dirinya dan Jongin di sini, tapi juga ada dokter yang merawat Jongin.
"Aku senang mendengarnya," ucap Sehun dengan nada tulus.
Tatapan Sehun kembali mengarah pada Jongin yang dengan keras kepalanya masih berusaha terus menggerakkan kakinya tanpa ingin di bantu siapapun. Sesaat Sehun tenggelam dalam lamunannya, ia teringat dengan pembicaraannya dengan Jongin kemarin malam.
Flashback
"Apa menurutmu aku terlalu egois ?" Sehun menyamankan posisinya yang berbaring meringkuk di samping Jongin, pria berparas manis itu memejamkan matanya, meresapi bagaimana nyamannya saat tangan Jongin mengelus surai lembut miliknya.
Gerakan tangan Jongin terhenti sesaat, namun hanya sepersekian detik sebelum ia kembali mengelus kepala Sehun dengan gerakan lembut. "Tidak, selama aku mengenalmu, kau tidak pernah bertindak egois."
"Mungkin kali ini kau salah Jongin..." Sehun menyembunyikan wajahnya di ketiak Jongin, "Ku rasa aku telah melakukan hal yang begitu egois," suara Sehun sedikit teredam, dan Jongin menyadari kalau Sehun berusaha keras untuk tidak menangis.
"Katakan padaku apa yang membuatmu berpikir seperti itu?"
"Eomma..."
Jongin menarik tubuh Sehun untuk makin merapat dengan tubuhnya hingga tak ada jarak sejengkalpun di antara keduanya. "Ada apa dengan eomma?"
"Selama ini aku berpura-pura untuk terlihat tidak peka dihadapan eomma, hanya agar eomma tetap di sini bersamaku. Tapi... akhir-akhir ini..." Sehun makin melesakkan wajahnya di ketiak Jongin. "Aku merasa eomma sudah tak sebahagia dulu lagi."
"Berpikirlah dengan positif, mungkin eomma merasa kecewa karena Kris ahjushi lagi-lagi menggagalkan rencananya untuk bercerai dengan pria itu."
"Tadinya aku juga berpikir begitu, tapi semalam aku memergoki eomma sedang menangis sambil menatap foto Luhan dan appa."
Jongin tahu, Suho memang masih mencintai Kris dan Luhan... Luhan juga merupakan anak kandungnya, hal yang wajah seorang ibu akan mencemaskan anaknya, apalagi dengan kondisi Luhan yang tidak stabil seperti itu.
"Aku takut..." Suara Sehun terdengar begitu. "Eomma akan meninggalkanku pergi."
Dengan sedikit paksaan dari Jongin, akhirnya ia berhasil membuat wajah Sehun berhadapan dengan wajahnya. "Dengar, mungkin ini akan terdengar sedikit kejam untukmu, tapi aku harus mengatakannya padamu. Ibumu juga merupakaan ibu dari Luhan, aku tidak bermaksud membelanya tapi ku harap kau akan mengerti, saat ini kondisi Luhan tidak sedang baik-baik saja, ia sedang depresi dan ia membutuhkan kehadiran orang tuanya untuk memberinya semangat dan memotivasi dirinya agar ia punya semangat hidup lagi."
Sehun terdiam, ia teringat dengan ayahnya yang berangkat menyusul ibunya dan dirinya ke sini, sebulan yang lalu. Saat itu ayahnya berlutut sambil menangis di hadapannya dan juga ibunya, memohon agar dirinya dan ibunya mau kembali ke Korea dan membantu penyembuhan Luhan. Air mata mengalir di pipi Sehun, ia ingat saat itu ia berteriak dan mengatakan kalau ia tidak akan mau menemui saudaranya itu. Sehun sengaja membekukan hatinya, ia tak peduli dengan ayahnya yang terus menangis memohon maaf padanya, ia juga tidak peduli pada berita yang disampaikan ayahnya kalau Luhan sudah berulang kali mencoba untuk bunuh diri. Tapi saat itu ada hal yang luput dari perhatian Sehun, ia lupa kalau ibunya sangat peduli pada hal itu. dan hal itulah yang menyebabkan ibunya sering menangis diam-diam akhir ini.
"Apakah aku harus membiarkan eomma kembali?"
"Menurutmu?" dengan lembut Jongin menghapus air mata yang mengalir di pipi Sehun.
"Apa aku sudah berubah menjadi orang jahat dengan menahan eomma di sini?"
"Kau bukan orang jahat, sayang. Kau adalah malaikat dikehidupanku." Jongin mengecup kening Sehun dengan lembut. "Apa yang kau lakukan tidak salah, kau membutuhkan kasih sayang dari ibumu yang selama ini jarang kau dapatkan. Itu hal yang wajar."
"Tapi aku tak berhasil membahagiakan eomma," bisik Sehun.
"Siapa bilang? Ku rasa ibumu sangat bahagia bisa memelukmu lagi, tapi situasi sekarang berbeda. Ibumu merasa kalau kau sudah jauh lebih dari saat pertama kali ia datang memelukmu di rumah sakit waktu itu, dan sekarang kondisi saudaramu yang tidak baik, karena itu ia gelisah. Di satu sisi ia ingin memberi pelajaran pada Luhan atas perbuatannya padamu, tapi di sisi lain ia juga memikirkan posisinya sebagai seorang ibu yang menyayangi anak-anaknya."
"Jadi apa itu artinya aku harus membiarkan eomma kembali dan meninggalkan aku sendiri."
"Kau salah," ucap Jongin tegas. "Kau tak akan sendiri, ada aku di sini."
"Jongin... kalau aku membiarkan eomma kembali ke sana dan aku tetap di sini bersamaku, apa kau mau bersumpah padaku kalau kau tidak akan meninggalkanku?"
Jongin meraih kedua tangan Sehun dan menangkupkannya di atas dadanya yang bidang, tepat di atas jantungnya yang berdetak dengan tenang. "Pegang janjiku Sehun, aku bersumpah akan selalu ada di sisimu dan aku juga akan berusaha keras untuk bisa berjalan kembali agar aku bisa melindungimu selamanya di sampingku."
Sehun menunduk, ia mengecup tangan Jongin yang menangkup kedua tangannya, "Aku percaya padamu Jongin."
Flashback End
Dan begitulah, Sehun membiarkan ibunya kembali untuk merawat Luhan hingga saudaranya itu sembuh, dan Jongin... pria tampan itu membuktikan kata-katanya untuk berusaha keras agar bisa berjalan kembali.
Puk
Sehun menoleh pada dokter Ferdinand yang menepuk bahunya dengan lembut.
"Mr. Oh, sepertinya kau harus menepati janjimu pada kekasihmu malam ini?" ada tersirat rasa geli dinada suara dokter yang ramah itu.
"Menepati janji?" tanya Sehun bingung.
Dengan kedua tangannya yang kekar, dokter tersebut memutar tubuh Sehun untuk menghadap ke arah Jongin berada. "Itu... lihatlah kekasihmu."
Untuk sesaat, Sehun merasa ia tak bisa bernapas, kerongkongannya tersumbat oleh perasaannya yang begitu membuncah, ia tak tahu harus mengatakan apa-apa, yang ia tahu hanyalah tubuhnya berlari sendiri menghampiri Jongin dan masuk ke dalam pelukan hangat kekasihnya tersebut.
"Hiks... Jongin..."
Sehun menangis sementara Jongin tertawa pelan seraya menciumi kepalanya dengan lembut. Jonginnya kembali, kekasihnya kembali bisa melangkahkan kakinya, walau masih terlihat goyah, tapi dokter meyakinkan dalam beberapa hari Jongin akan bisa kembali berjalan dengan normal.
"Aku mencintaimu," bisik Jongin seraya membalas pelukan Sehun dengan tak kalah erat, ia mencium pelipis kekasihnya dengan penuh sayang.
"Aku tahu, dan aku juga mencintaimu." Sehun mengecup kilat bibir Jongin sebelum kembali menenggelamkan wajahnya di leher Jongin yang berkeringat. Sehun tahu, kali ini meskipun ibunya pergi meninggalkannya, ia masih punya Jongin yang akan selalu ada di sisinya.
.
.
.
.
.
.
"Bagaimana keadaannya?"
Kris yang sedang duduk sambil menundukkan kepalanya di depan ruangan tempat Luhan di rawat langsung mendongak. "Suho... sayang..." Kris tampak begitu lega saat melihat kedatangan orang yang sangat dicintainya itu. ia bergegas berdiri dan berniat untuk memeluk tubuh yang sangat dirindukannya tersebut, namun Suho dengan sigap langsung mundur. Hingga Kris tak bisa memeluknya.
Kris tersenyum pahit, "Kau masih marah padaku?"
"Bagaimana keadaan Luhan?" Suho mengalihkan pertanyaan Kris dengan pertanyaan yang lain.
"Tidak begitu baik," Kris memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
Dan saat itulah Suho bisa melihat dengan jelas, betapa tidak terawatnya Kris, selain tubuhnya yang semakin kurus, kemeja dan celana yang di pakai Kris juga begitu kusut, dan wajahnya, Suho baru menyadarinya kalau Kris sepertinya tidak bercukur dalam minggu ini. "Kau terlihat kurusan dan tidak terawat."
"Itu karena kau tidak ada di sini merawatku. Tapi kini kau sudah kembali,"
Suho mendengus, "Jangan terlalu senang Kris, aku datang hanya demi anakku."
"Aku tahu, tapi aku masih boleh berharap kalau kau datang juga untukku bukan?"
Suho ingin menjerit dan mengatakan iya, tapi ia hanya diam saja dan mengalihkan pandangan ke arah ruang rawat anaknya.
"Kau ingin melihatnya?" tanya Kris.
"Apa boleh?"
"Tentu, sekarang adalah jam untuk tamu boleh berkunjung, ayo, aku akan menemanimu." Kris menggandeng istrinya dengan lembut dan kali ini Suho tidak berusaha menjauh.
Lutut Suho terasa goyah saat ia masuk ke dalam ruangan dan melihat kondisi putra sulungnya. Tubuh Luhan sekarang tinggal menyisakan tulang yang di balut oleh kulit, begitu kurus, pucat, matanya cekung dan badannya sungguh tidak terawat, kondisinya yang sekarang berbeda jauh dengan kondisi Luhan yang dulu. Suho bahkan hampir tak percaya kalau pria yang duduk bersandar di atas ranjang itu adalah putranya.
"Luhan..."
Panggilan lembut itu berhasil membuat pria yang tadinya hanya diam kini menggerakkan kepalanya untuk menoleh ke sumber suara.
Suho hampir menangis ketika melihat tatapan Luhan yang begitu suram. "Eo... eomma..." bibir yang kering dan pecah-pecah itu akhirnya berhasil mengucapkan satu kata.
Suho tak kuasa menahan butiran air mata yang jatuh begitu deras di pipinya. "Anakku..." dengan sedih ia memeluk tubuh ringkih Luhan. "Kenapa jadi begini, sayang?"
"Eomma..." Luhan tidak membalas pelukan ibunya, tapi ia ikut menangis.
"Apa, sayang?" tanya Suho dengan suara serak.
"...ngin..."
"Huh?" Suho mengernyitkan alis tak mengerti, ia menoleh pada Kris dengan tatapan penuh tanya, tapi Kris hanya bisa menggeleng, tanda ia juga tak mengerti.
"...ngin... Jongin..."
Deg
"Jongin?" Suho melonggarkan pelukannya di tubuh kurus Luhan. "Kau mau Jongin?"
Luhan mengangguk lemah, "Jongin... aku mau Jongin..."
Mungkin tak ada hal yang lebih mengejutkan bagi pasangan suami istri itu selain mendengar permintaan Luhan, Suho menggigit bibirnya dan sekali lagi tatapannya tertuju pada Kris yang tampak pucat. Kali ini haruskah keduanya mengorbankan perasaan Sehun lagi?
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Maaf atas keterlambatannya, aku akhir-akhir ini lebih sibuk dengan kehidupan di dunia real, jadi terlambat untuk ngetik ff ini. Maaf ya.
Salam damai KaiHun Hardshipper
KaiHun Lovea
