Orpheus and Eurydice
Story by C.C
.
Naruto © Masashi Kishimoto
I don't take any profit from this fict!
.
AU!Highschool, Some OC & A lil' bit OOC.
Drama, Hurt/Comfort & Friendship
.
.
Chapitre Dix
(Un)forgotten Memories
.
Gaara memandang sejenak pintu coklat bernomor yang ada di hadapannya. Sebelah tangannya sudah memutar setengah kenop pintu. Bau antiseptik yang begitu dikenalnya tiba-tiba menciutkan niat Gaara untuk masuk ke dalam ruangan itu. Bayangan wajah seseorang yang terbaring tak berdaya di atas ranjang perawatan muncul sekelebat di benaknya. Gaara mengeratkan genggamannya. Bunyi jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya terdengar jelas sekali. Ia menghela napas sejenak, berusaha menormalkan kembali kerja jantung dan pernapasannya yang sempat terasa sesak. Dengan sekali putaran, Gaara berhasil membuka pintu dan melangkah masuk.
Satu langkah. Dua langkah. Begitu membelokkan langkah ke tiganya, kedua jade Gaara langsung menangkap bayangan seorang gadis berambut coklat yang tengah terbaring di ranjang perawatannya. Berbagai peralatan medis yang Gaara ketahui nama dan fungsinya, berada di sekeliling gadis itu. Alat-alat itu tersambung dengan selang-selang yang terpasang di tubuh ringkihnya.
Matsuri, gadis yang setahun lebih muda dari Gaara itu memandang Gaara yang berdiri mematung di tempatnya, tak langsung mendekat ke ranjang perawatannya. "Senpai … hisashiburi ne!" ucapnya lemah. Kedua matanya menyipit karena tersenyum. Uap karbon dioksida tampak mengepul di dalam masker nebulizer-nya setiap kali ia mengembuskan napas perlahan.
Gaara bergeming. Kedua matanya masih menatap Matsuri tanpa berkedip. Sebulir keringat mengalir dari pelipisnya. Dengan hanya melihat reaksi pemuda itu saja, Matsuri bisa menduga apa yang dirasakan Gaara saat ini. Hal itulah yang membuatnya tak mengizinkan Gaara untuk mengunjunginya saat kondisinya semakin memburuk.
Sebelah tangan Matsuri yang tak terpasang selang infus bergerak perlahan. Melambai pelan di udara, membujuk Gaara untuk mendekat ke arahnya. "Kemarilah, Senpai," pintanya kemudian.
Mendengar suara lemah Matsuri yang memanggilnya, Gaara pun mengerahkan sisa-sisa tenaganya untuk mendekat. Ia lalu mendudukkan dirinya di bangku yang ada di samping ranjang perawatan Matsuri.
"Hisashiburi…," Gaara bergumam pelan. Matanya tak sanggup menatap langsung ke manik hitam Matsuri.
"Kenapa diam saja?" Matsuri menatap Gaara yang masih enggan memandangnya langsung. Ia menggerakkan tangannya perlahan untuk menyentuh pundak Gaara. "Apa sekarang aku terlihat seperti Bibi Karura sehingga Senpai tidak mau menatapku, hmm?" tanyanya lagi.
Gaara spontan menatap lurus ke dalam mata Matsuri yang memandangnya lembut. Meski maskernya tertutup uap putih, ia bisa melihat senyum hangat Matsuri di balik masker itu. "Tidak, bukan begitu…," Gaara menggeleng cepat, "kau tidak sama dengan ibuku. Kau tidak akan seperti dia…." Mata hijau Gaara memancarkan ketidaksetujuannya atas ucapan Matsuri tadi.
"Sekarang Senpai mengerti 'kan, kenapa selama ini aku tidak mengizinkanmu mengunjungiku? Bukan karena aku malu Senpai akan melihatku dengan kondisi ini, tapi aku tak ingin membuatmu kembali teringat dengan kenangan buruk ketika Senpai menemani Bibi Karura dulu," kata Matsuri lagi. Tangannya meremas pundak Gaara.
Tak ada sahutan dari Gaara. Kedua manik hijaunya menatap selimut yang menutupi tubuh Matsuri dalam diam. Matsuri lalu menarik tangannya dari pundak Gaara, namun segera ditahan oleh pemuda itu. "Bagaimana kabarmu, Senpai? Bagaimana kabar teman-teman di Konoha?" Matsuri berusaha mengalihkan pembicaraan, mencairkan suasana sendu yang tercipta di ruangan itu sejak kedatangan Gaara.
Senyum hangat Gaara langsung menjawab pertanyaan Matsuri. Tangannya menggenggam lembut tangan Matsuri yang tadi memegang pundaknya. "Aku baik-baik saja. Teman-teman juga baik-baik saja. Bagaimana … denganmu?" Pertanyaan bodoh sebenarnya, tapi Gaara tak dapat memikirkan pertanyaan lain untuk sekadar basa-basi.
Matsuri tertawa pelan, "Aku baik-baik saja, Senpai. Seperti yang kaulihat," katanya dengan nada yang dibuat seceria mungkin, meski tetap terdengar lemah.
Lengkungan di bibir Gaara luruh tak berjejak. Sebelah tangannya yang bebas meremas jeans hitam yang dipakainya. Ada yang terasa sakit di balik dada kirinya ketika mendengar ucapan Matsuri yang menyimpan ironi itu.
"Aku tidak apa-apa, Senpai. Sungguh!" ulang Matsuri begitu kembali melihat Gaara terdiam. Ia membalas genggaman Gaara dan mengangguk pelan ketika pemuda itu menatapnya lagi. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kondisiku. Aku berada di tangan dokter bedah toraks yang paling andal di dunia. Aku juga punya orang-orang terdekat yang selalu mendukung dan mendampingiku. Jika aku menemukan donor yang tepat, semuanya akan kembali seperti semula." Ucapan Matsuri terdengar meyakinkan.
Gaara seketika merasa kecil di hadapan Matsuri. Bagaimana gadis itu bisa bersikap tegar seperti sekarang, sementara ia terlihat menyedihkan karena terlalu mengkhawatirkan keadaannya yang semakin hari semakin memburuk. "Hmm … Kau akan segera menemukan donor yang tepat," gumam Gaara yang kembali memaksakan seulas senyum tipis.
Matsuri menarik tangannya dari genggaman Gaara dan menepuk pelan puncak kepala merahnya. "Bagaimana dengan sekolah? Ceritakan padaku apa saja yang kaualami di tahun ajaran baru ini," pintanya sembari membenarkan posisi berbaringnya agar bisa mendengar cerita Gaara dengan nyaman. "Ah, ya! Kudengar dari Shion, operasi terakhir Sasuke-senpai berhasil, ya? Senpai sudah berbaikan dengannya?" Matsuri melancarkan pertanyaan beruntunnya, tak peduli dengan napasnya yang satu-satu karena terlalu banyak berbicara.
Gaara hanya bisa menghela napas pasrah begitu melihat ekspresi antusias Matsuri. Ia lalu menarik kursinya agar lebih dekat dengan ranjang Matsuri, "Hmm. Kata Ino, operasinya berhasil, tapi aku juga belum tahu pasti bagaimana keadaannya sekarang. Dan masalah hubungan kami … masih sama seperti dulu," katanya sambil tersenyum kecut.
Matsuri langsung memberengut kesal dari balik maskernya. "Kalian seperti anak-anak saja! Sampai kapan kalian bertengkar terus, Senpai?"
"Kami tidak bertengkar, Matsuri. Kami hanya berbeda pendapat saja," sahut Gaara tenang.
Dan setelahnya, ruangan itu dipenuhi oleh ocehan Matsuri yang tiba-tiba saja merasa sehat karena kedatangan Gaara, sementara pemuda itu lebih banyak diam mendengarkannya. Sesekali ia menimpalinya dengan menjahili gadis itu, membuat Matsuri memberengut sebentar lalu tertawa pelan.
Gaara tak pernah membayangkan barang sedetik saja kalau Matsuri yang dulu terlihat sangat sehat dan lincah, yang sama sekali tak pernah terlihat sakit, ternyata adalah penderita dilated cardiomyopathy atau yang biasa disebut DCMP, suatu kondisi di mana jantungnya menjadi lemah dan membesar hingga tak bisa memompa darah dengan efisien. Matsuri tumbang pertama kali ketika dia sedang tampil di festival perayaan ulang tahun KAA di tahun kedua sekolah menengah pertamanya. Setelah hari itu, Matsuri tak pernah lagi tampil di atas panggung karena penyakitnya.
.
.
.
Kedua manik hijau Terumi Mei bergantian melirik ke arah Sasuke dan Sakura yang duduk mengelilingi meja makan. Kedua muda-mudi itu terlihat santai melahap sarapan paginya. Mei yang sedari tadi belum menyentuh sarapannya, ber-hmm panjang, mencoba menarik perhatian Sasuke dan Sakura yang jelas sekali menghindari tatapannya. "Apa kalian tidak ingin berbagi kebahagiaan denganku? Tadi malam kalian terlihat seperti sedang bertengkar, lalu pagi ini aku mendapati kalian kembali ke vila dengan wajah senang."
Ucapan Mei sukses membuat Sakura memperlambat kunyahannya, sedangkan Sasuke tetap melanjutkan kegiatan makannya dengan santai, tak memedulikan tatapan menyelidik dan ingin tahu sang bibi yang terus menghantuinya sedari tadi.
"Sasuke-kun, kau baru saja menyatakan perasaanmu pada Sakura-chan, ya?" Pertanyaan polos Mei kali ini berhasil membuat Sasuke dan Sakura tersedak bersamaan. Keduanya tampak menggapai gelas air mineral yang ada di samping mereka dengan cepat. Sayangnya, masing-masing dari mereka mengincar gelas yang sama.
"Gelasmu yang di sana," ucap Sasuke dengan suara tersendat dan muka memerah karena tersedak. Matanya melirik gelas yang ada di sisi lain Sakura. Ia bisa melihat Sakura mengambil gelas minumnya yang benar dengan canggung, lalu menenggaknya dalam sekali teguk.
Mei yang duduk di dekat Sakura hanya terkekeh pelan. Dua remaja itu terlihat begitu lucu di matanya. Ah, ia jadi rindu masa mudanya.
"Aku hanya bercanda~ Kenapa kalian menanggapinya serius begitu, sih?" Mei berkata setelah menyantap irisan pertama omelette rice buatannya. Tatapan tajam Sasuke langsung mengarah padanya. "Baiklah, baiklah … Lupakan candaanku tadi," Mei mengibas-ngibaskan tangannya sambil tersenyum geli, "ah, ya! Kizashi-san tadi meneleponku. Katanya besok pagi dia akan kembali ke Ame," lanjutnya begitu menatap wajah malu Sakura.
"Iya, Bi. Tadi malam Ayah sudah memberitahuku," Sakura berdeham sebentar karena suaranya terdengar serak. "Ibuku juga akan tiba di Ame besok pagi," tambahnya sambil tersenyum senang. Membahas kepulangan kedua orang tuanya membuat Sakura melupakan candaan Mei tadi.
Sasuke tampak menghentikan kegiatan makannya sejenak, dan Mei berhasil menangkap momen itu. Senyumnya semakin terkulum dalam. "Ah, sayang sekali … padahal besok aku akan ke Suna sebentar, jadi kau dan Sasuke bisa menghabiskan waktu berdua saja selama aku pergi," tukasnya jenaka.
Kali ini Sasuke benar-benar menyudahi kegiatan sarapannya. Ia tak ingin berlama-lama mendengar godaan bibinya yang semakin menjengkelkan. "Terima kasih atas makanannya," gumamnya sebelum bangkit.
"Ara? Cepat sekali kau menghabiskan sarapanmu, Sasuke-kun!" seru Mei pada Sasuke yang sudah berada di ambang pintu ruang makan. Ia tertawa lagi, puas karena berhasil membuat keponakannya itu kesal. "Kau juga harus ke Konoha besok siang, Sasuke-kun. Kakekmu akan berangkat ke Canada untuk perjalanan bisnisnya selama beberapa bulan," sambung Mei.
Sasuke mendengar ucapan bibinya itu, tapi ia tak ingin ambil pusing dan tetap melanjutkan langkahnya meninggalkan ruang makan.
"Dia benar-benar kesal," kata Mei yang masih terkikik geli. "Ah, maaf, Sakura-chan. Tadi itu aku benar-benar hanya bercanda. Jangan dimasukkan ke hati, ya. Mengusili Sasuke-kun adalah kegiatan yang menyenangkan, apalagi kalau berhasil membuatnya kesal."
Sakura hanya bisa mengulum senyumnya begitu mendengar perkataan Mei. Ternyata wanita cantik itu punya hobi yang sangat aneh, meskipun Sakura tak terlalu keberatan dengan hal itu. "Jadi, Sasuke-kun akan kembali ke Konoha besok siang, Bi?" Sakura bertanya setelah menelan suapan terakhir sarapan paginya.
"Seharusnya begitu," sahut Mei ringan, "tapi sepertinya dia tidak akan mengikuti kata-kataku," tambahnya lagi
"Kenapa begitu?"
Mei meneguk teh hijaunya, lalu menatap Sakura sejenak, "Hubungan Sasuke dengan kakeknya menjadi sedikit buruk setelah dia pulang dengan kekalahan sehabis mengikuti violin concours di Vienna empat tahun lalu. Kakeknya memang sedikit keras pada Sasuke-kun. Dia tak pernah menerima kekalahan, apalagi kudengar Sasuke-kun saat itu kalah dari seorang violinist yang katanya baru memulai debut di concours itu. Bagi kakeknya, kekalahan Sasuke-kun saat itu menunjukkan bahwa dia tak berbakat dalam bermusik," jelasnya panjang lebar. Tanpa melihat ekspresi tegang di wajah Sakura, Mei kembali melanjutkan kata-katanya.
"Apalagi tak lama setelah itu, Sasuke-kun mengalami insiden yang membuat tangannya cidera parah. Hal itu semakin menambah alasan kakeknya untuk menghentikan karir Sasuke-kun di dunia musik," kata Mei yang kembali menyantap sisa sarapannya. "Kudengar dia akan langsung terbang ke Amerika jika operasi terakhirnya tidak berhasil. Tapi syukurlah operasinya berhasil, meski Sasuke-kun belum berani mencoba memainkan kembali piano ataupun biolanya," tambahnya lagi.
"Sasuke-kun … sudah bisa kembali bermain biola," ucap Sakura tanpa sadar. Nada bicaranya terdengar mengambang. Rasa bersalah kembali terbersit di benaknya setelah mendengar perkataan Mei tadi.
Kedua manik hijau Mei melebar, "Benarkah? Sasuke-kun sudah bisa kembali bermain biola?" Mei bertanya dengan nada senang. Ia tak peduli lagi dengan sisa sarapan paginya yang masih tersisa setengah.
Sakura mengangguk sebagai jawabannya. "Tadi pagi aku memergokinya ketika dia sedang bermain biola di tengah hutan, dan permainan biolanya terdengar sangat indah," tambah Sakura sambil tersenyum tipis.
Binar bahagia langsung terpancar dari wajah cantik Mei. Matanya tampak berkaca-kaca. "Kalau begitu aku harus menyelamatinya!" Mei buru-buru menghabiskan sarapannya dengan kecepatan penuh, lalu membereskan piring-piring di atas meja makan.
"Biar aku saja yang mencuci piringnya, Bi," kata Sakura yang sudah lebih dulu berdiri di depan wastafel tempat cuci piring.
"Eh, tidak usah, Sakura-chan. Pagi ini giliranku untuk mencuci piring," tolak Mei halus, namun Sakura bersikeras melakukannya. Mei pun menyerah dan beranjak ke kamar Sasuke untuk memberi selamat pada keponakannya itu.
Sakura bersyukur Mei meninggalkannya sendirian di dapur. Kata-kata Mei tadi kembali menyadarkannya bahwa ia belum sempat meminta maaf pada Sasuke secara benar. Sakura tampak melamun di tengah kegiatan mencuci piringnya hingga ia tak sengaja menjatuhkan mangkuk yang sedang dibilasnya. Buru-buru Sakura mengejar mangkuk bundar yang menggelinding di lantai. Ia terpaksa meninggalkan pekerjaannya sejenak untuk mengejar mangkuk yang menggelinding dan masuk ke sebuah ruangan di samping dapur. Pintu ruangan yang biasanya tertutup itu, pagi ini tampak setengah terbuka.
Gelap adalah pemandangan pertama yang ditangkap Sakura begitu ia sampai di depan pintu ruangan itu. Hanya ada seberkas sinar matahari yang berhasil menyusup dari ventilasi kecil di atas jendela yang tertutup. Sakura ragu apakah tidak apa-apa jika dirinya masuk ke dalam ruangan yang selalu tertutup itu. "Aku hanya masuk sebentar untuk mencari mangkuk itu," gumamnya yang sudah melangkah masuk. Tapi langkah Sakura langsung terhenti begitu matanya menangkap bayangan meja altar yang ada di sudut ruangan. Mangkuk yang dicarinya tadi ternyata berhenti di kaki meja.
Sakura mendekat ke meja altar di mana ada beberapa persembahan di sana. Ia menghidupkan layar ponselnya untuk memberikan sedikit pencahayaan. Sakura bisa melihat tiga pigura foto yang diletakkan berjejer di meja altar. Sepertinya foto-foto itu adalah potret kerabat Sasuke dan Mei yang sudah meninggal. Cepat-cepat Sakura mengambil mangkuk yang dicarinya tadi, namun lagi-lagi langkahnya terhenti begitu cahaya ponselnya tak sengaja menerangi tiga pigura tadi.
Beralasankan rasa ingin tahunya, Sakura pun kembali mendekat ke meja altar. Ia menelusuri sosok-sosok yang ada di pigura-pigura itu. Di pigura paling kanan, tampak potret seorang pria muda tampan yang mengenakan jas putih khas seorang dokter. Sakura tak bisa menduga siapa sosok pria muda itu. Ia lalu beralih pada pigura yang berada di tengah. Ada potret sepasang suami istri di sana, dan Sakura langsung menduga bahwa sepasang suami istri itu adalah orang tua Sasuke karena terlihat mirip dengan pemuda itu.
"Ini pasti ayah dan ibu Sasuke-kun," gumamnya sambil membelai pelan permukaan pigura itu. Tatapan Sakura lalu beralih pada pigura terakhir yang berada paling kiri, potret seorang anak laki-laki. Cahaya ponselnya meredup ketika diarahkan ke pigura itu, menyebabkan Sakura tak bisa melihat potret anak laki-laki itu dengan jelas. "Kenapa baterainya habis di saat seperti ini?" gerutu Sakura begitu mendapati ponselnya mati karena kehabisan baterai. "Sepertinya foto ini adalah foto kakak Sasuke-kun yang meninggal tujuh tahun lalu bersama orang tuanya," Sakura berusaha menebak. Ia lalu mendekat ke arah pigura itu untuk melihat sosok yang diduganya sebagai kakak Sasuke dengan jelas.
Sreeek!
Bunyi pintu yang bergeser terbuka mengejutkan Sakura. Ruangan itu langsung disinari cahaya lampu dapur yang menyusup lewat pintu yang terbuka lebar. Sakura bisa melihat sosok Sasuke yang berdiri di ambang pintu sambil menatapnya curiga.
"Apa yang kaulakukan di ruangan ini?" Sasuke bertanya dengan nada dingin.
"A-ano … Jangan salah paham, Sasuke-kun. Aku tidak bermaksud lancang. Hanya saja tadi mangkuk yang kucuci jatuh dan masuk ke ruangan ini. Lalu aku…." Sakura terlihat panik hingga tak bisa melanjutkan kata-katanya
"Mangkuknya sudah ketemu?" Suara Sasuke terdengar lagi, tapi kali ini terdengar datar seperti biasanya. Ia tahu Sakura tidak berbohong karena melihat tangan Sakura yang memegang sebuah mangkuk.
Sakura mengangguk canggung.
"Kalau begitu kau bisa melanjutkan kembali pekerjaanmu yang belum selesai," kata Sasuke lagi.
Sakura menatap Sasuke sebentar sebelum ia beranjak keluar dari ruang altar itu. Pintunya langsung tertutup begitu Sakura berada di dapur, meninggalkan Sasuke yang sepertinya sedang berdoa di dalam ruangan itu. Manik hijau Sakura masih menatap pintu ruang altar dengan tatapan bingung. Otaknya masih mencerna apa yang tadi ditangkap oleh matanya sesaat setelah Sasuke memergokinya.
"Kenapa aku merasa familiar dengan foto kakak Sasuke-kun itu, ya? Dia terlihat mirip … Ah, apa yang kupikirkan!" Sakura menggeleng cepat dan menepuk keras kedua pipinya hingga memerah. "Berhenti berpikir yang tidak-tidak, Sakura!" Ia lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda sembari berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran tak masuk akal yang berseliweran di pikirannya.
-oo-
Terik matahari Konoha langsung menusuk kulit Yamanaka Ino yang baru saja turun dari mobilnya. Sebelah tangannya menggenggam sebuket bunga daisy dan lily putih yang selalu dibawanya jika mengunjungi tempat ini, kompleks pemakaman di pinggir kota Konoha. Ino berjalan dengan langkah pasti, mendekat ke arah deretan makam yang terletak tak jauh dari sebuah pohon beringin besar di tengah kompleks pemakaman.
"Aku datang, Paman, Bibi," gumam Ino ketika langkahnya terhenti di depan makam berpualam putih. Ada dua batu nisan di makam itu, tertulis "Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto" di sana. Ino menangkupkan tangannya sebentar dan menggumamkan doanya dalam hati. Setelah selesai berdoa, ia lalu menatap satu makam lagi yang berada tepat di samping dua makam tadi. Buket bunga daisy yang dibawanya ia letakkan di atas makam itu.
"Maaf, aku baru bisa datang sekarang," Ino yang sudah berjongkok di depan batu nisan itu, membelai ukiran nama seseorang yang terukir di sana. Tangannya menelusuri setiap senti ukiran nama itu dengan perlahan. "Kau tidak kesepian selama aku tak mengunjungimu, 'kan?" Ino berkata lagi. Nada bicaranya terdengar getir. Ia menelan ludahnya dengan susah payah, berharap sesak yang tiba-tiba terasa menghimpit dadanya bisa menghilang.
"Hari ini aku membawa kabar gembira untukmu…." Sudut-sudut bibir ranum Ino terangkat ke atas, "Tangan Sasuke sudah sembuh. Dia akan kembali memainkan musiknya," tambahnya pelan. Ino tak berkata lagi. Sebelah tangannya menahan rambut panjangnya yang terbang ke sembarang arah karena angin yang tiba-tiba saja berembus kencang.
Manik aquamarine-nya lalu tak sengaja melihat sekumpulan bunga clover yang berada di dekat pohon beringin. Ino bangkit dan mendekat ke arah kumpulan bunga-bunga clover itu. Hanya dengan sekali lihat, Ino bisa langsung menemukan four leaf clover yang jarang sekali ditemukan dengan mudah. Ia lalu memetik bunga clover berdaun empat itu dan kembali mendekat ke makam tadi.
"Lihat! Aku menemukan four leaf clover," gumamnya sambil tersenyum puas. Ino menatap bunga clover itu lama. "Kenapa sekarang begitu mudah menemukannya? Kenapa dulu saat kau—" Ino tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Sebulir air matanya jatuh menuruni pipi. "Aku merindukanmu ... Sai-kun."
Tangis Ino pecah begitu menyebut nama seseorang yang selama ini menempati hatinya. Ia tergugu di bawah teriknya matahari musim panas Konoha. Ino tak pernah berhasil menahan air matanya jika ia mengunjungi makam seseorang yang dipanggilnya 'Sai-kun' itu. Tangannya yang menggenggam erat bunga clover yang dipetiknya tadi, ia bawa ke depan dada. Tampak sebuah gelang sederhana yang terbuat dari manik-manik perak melingkari pergelangan tangan kirinya. Ada bandul berbentuk four leaf clover di ujung gelang itu. Benda terakhir yang sempat diberikan Sai padanya sebelum pemuda itu benar-benar pergi untuk selamanya.
.
.
.
Hari ini memang bukan pertama kalinya Sakura berjalan bersama Sasuke. Tapi entah kenapa, hari ini ia merasa begitu gugup hanya dengan berjalan di samping pemuda itu. Hampir setiap langkahnya ia sempatkan untuk melirik Sasuke sekilas. Mulutnya juga tampak membuka dan menutup setiap kali memandang Sasuke.
"Kenapa memandangku terus? Ada yang salah dengan wajahku?" Sasuke yang jengah terus menjadi objek curi pandang Sakura, akhirnya mengutarakan kejengkelannya.
Sakura sudah menduga Sasuke menyadari tatapannya, dan ia memang menunggu pemuda itu bertanya padanya karena bingung memilih kalimat pertama untuk diucapkannya pada Sasuke. "Err~ aku ingin minta maaf…," Sakura menggantung kalimatnya. Kedua jari telunjuknya saling memutar, kebiasaan yang dilakukannya setiap kali ia sedang gugup. "Aku minta maaf atas perkataanku kemarin, juga perkataanku saat aku menemuimu di depan asrama. Aku juga ingin minta maaf karena melanggar janjiku tujuh tahun lalu. Dan yang paling penting … aku minta maaf karena tiba-tiba muncul di violin concours empat tahun lalu," Sakura mengucapkan permintaan maafnya dengan lancar. Kepalanya menunduk, tak berani melihat ekspresi Sasuke saat ini.
Sasuke melirik Sakura yang menundukkan wajahnya. "Sudah kubilang kau tidak perlu meminta maaf," katanya datar.
"Tapi aku—"
"Dan jangan pernah berpikir bahwa kau adalah penyebab segala hal yang terjadi padaku selama ini hanya karena kau muncul pada violin concours empat tahun lalu," potong Sasuke cepat. Ia bisa menebak Sakura sudah mengetahui apa yang terjadi padanya setelah mengikuti violin concours itu. "Aku memang sempat membencimu," perkataannya sukses membuat langkah Sakura terhenti, "tapi sekarang aku tak punya alasan lagi untuk tetap membenci seseorang yang tak menyerah dengan impiannya," lanjutnya tenang.
Kalimat terakhir Sasuke terasa seperti kesejukan oasis di tengah padang pasir yang tandus. Sakura benar-benar lega setelah mendengar ucapannya. "Terima kasih, Sasuke-kun," kata Sakura dengan senyum merekah, membuat Sasuke memalingkan wajahnya.
Langkah Sakura terasa ringan sekarang. Ingin sekali ia berjalan sambil melompat kecil untuk memperlihatkan kelegaan hatinya itu, tapi Sakura berhasil menahan diri agar tidak melakukannya. Sakura lalu teringat dengan insiden kemarin pagi ketika secara tak sengaja ia masuk ke ruang altar yang ada di vila Sasuke. Ia ingin menanyakan sesuatu pada pemuda itu, tapi Sasuke lebih dulu memotongnya.
"Vila keluargamu sudah dekat," tukas Sasuke tiba-tiba begitu menatap bangunan vila keluarga Haruno yang hanya berjarak beberapa meter di depan mereka.
Sakura mengurungkan niatnya bertanya pada Sasuke. Ia berjalan mendahului Sasuke, tak sabar untuk sampai di vilanya lebih dulu. Langkahnya berhenti begitu mereka tiba di halaman vilanya. "Err~ kau mau mampir dulu, Sasuke-kun?" tanyanya pada Sasuke, sekadar basa-basi meskipun ia yakin Sasuke tak akan mengiyakan tawarannya itu.
"Aku langsung pulang saja," tukas Sasuke datar. "Masuklah," perintahnya pada Sakura.
"Mm-hmm. Sampai bertemu di sekolah," Sakura berkata sebelum Sasuke membalikkan badannya dan mulai berjalan menjauh. Ia pun segera berjalan mendekati pintu depan vilanya dengan senang.
"Kau meninggalkan Sakura sendirian di Ame, lalu menitipkannya di tempat temanmu?"
Ah, itu suara ibunya! Senyum Sakura semakin merekah sempurna karena ibunya benar-benar kembali dari London hari ini.
"Aku sudah membujuknya agar ikut denganku ke Konoha, tapi malam itu Sakura begitu ingin mengunjungi festival tanabata yang diadakan di sini."
Kali ini suara ayahnya yang terdengar. Senyumnya semakin merekah. Tangan Sakura sudah memegang kenop pintu saat ia kembali mendengar suara ibunya yang terdengar sedikit meninggi.
"Tapi bukan berarti kau bisa meninggalkannya begitu saja di tempat orang lain yang sama sekali tak dikenalnya, Kizashi!"
Deg!
Tiba-tiba Sakura merasa sulit bernapas. Sebelah tangannya spontan memegang kening atasnya yang terasa berdenyut. Genggamannya di kenop pintu pun mengendur.
"Terumi Mei bukan orang lain, Mebuki. Aku yakin Sakura akan merasa nyaman jika kutitipkan padanya," suara Haruno Kizashi terdengar lagi.
"Tapi tetap saja—"
"Ibu!"
Seruan Sakura mengejutkan Kizashi dan Mebuki yang berdiri berhadapan di ruang tamu. Mereka bisa melihat sosok Sakura baru saja masuk ke dalam vila dengan wajah berbinar dan langsung memeluk Mebuki erat.
"Sakura…." Mebuki masih terkejut dengan kedatangan Sakura yang tiba-tiba. Wajahnya terlihat khawatir begitu ia menatap mata hijau Kizashi, tapi kemudian ia membalas pelukan Sakura dan mencium kedua pipi putrinya itu. "Ibu sangat merindukanmu, Sayang," ucapnya kemudian.
"Aku juga sangat merindukan Ibu!" Sakura melepas pelukannya dan beralih memeluk ayahnya erat.
"Kau pulang sendiri?" Kizashi bertanya dengan nada khawatir.
Sakura menggeleng pelan, "Tidak. Aku diantar keponakannya Bibi Mei, tapi dia sudah pulang," sahutnya ringan. Sakura kemudian menggandeng lengan ayah dan ibunya bersamaan. "Karena hari ini akhirnya kita berkumpul lagi, aku ingin menghabiskan sisa liburanku bersama kalian," katanya lagi. Sakura menatap ayah dan ibunya bergantian dengan semangat. Ia bukannya tak menangkap ekspresi canggung di wajah kedua orang tuanya itu, tapi Sakura berusaha menepisnya. Sakura hanya tak ingin waktu berharganya dirusak oleh pikiran-pikiran negatif yang memenuhi kepalanya saat ini.
-oo-
Gaara baru saja keluar dari ruangan dokter yang menangani Matsuri dengan langkah gontai. Ia baru saja mendengar penjelasan sang dokter tentang kondisi Matsuri saat ini. Tadi malam, kondisi Matsuri kembali memburuk hingga dia harus dimasukkan ke dalam ruang sterilisasi. Sekarang Matsuri tak bisa lagi dikunjungi oleh sembarang orang. Tak ada lagi yang bisa dilakukan Gaara untuk gadis itu. Ia hanya bisa berdoa agar Matsuri segera mendapatkan donor jantung yang cocok dengannya. Gaara tak tahu sudah berapa lama ia mengelilingi koridor rumah sakit tanpa arah. Langkahnya berhenti di deretan bangku yang berada di depan apotek rumah sakit. Gaara mendudukkan dirinya di sana. Lalu lalang orang di sekelilingnya sama sekali tak mengganggu lamunannya. Ia masih tak menyangka kalau Matsuri yang kemarin masih bisa bercengkrama dengannya, hari ini terbaring tak berdaya di ruang sterilisasi.
"Tuan William Bäcker!"
Suara apoteker yang memanggil nama seseorang mengusik perhatian Gaara yang sedari tadi begitu betah memandangi ubin rumah sakit. Matanya lalu menatap seorang pemuda berambut hitam yang tadi duduk di sampingnya, bangkit dan berjalan menuju apoteker yang tadi memanggil namanya. Gaara yang tadi memang tidak memerhatikan keadaan sekelilingnya tak tahu bahwa sedari tadi ada seseorang yang duduk di sampingnya, terlebih lagi orang itu adalah pemuda yang tempo hari menabraknya di depan pintu masuk rumah sakit.
Tak sempat berpikir panjang, Gaara segera mengejar pemuda yang sudah berjalan meninggalkan apotek dengan membawa sekantong kecil obat-obatan itu. Ia mempercepat langkahnya dan berusaha memanggil pemuda itu. "Tunggu!" Tanpa sadar Gaara mencengkeram lengan kanan pemuda itu hingga membuatnya berhenti mendadak. Gaara merasa oksigen di sekelilingnya tiba-tiba saja menipis hingga membuatnya menahan napas ketika pemuda itu membalikkan tubuh dan menatapnya heran.
"Maaf? Ada sesuatu yang bisa kubantu?" Pemuda itu bertanya dalam bahasa Prancis yang fasih. Sebelah alisnya terangkat heran menatap Gaara yang masih bergeming di hadapannya dengan sebelah tangan yang mencengkeram lengannya. "Tuan?" Pemuda itu berusaha memanggil kesadaran Gaara.
Tubuh Gaara tersentak. Matanya mengerjap beberapa kali. Ia segera melepaskan cengkeramannya pada lengan pemuda itu. "Maaf," katanya cepat. Ekspresi terkejut masih setia menghiasi wajah pucat Gaara.
"Tidak apa-apa," ucap pemuda itu sambil melemparkan senyum tipisnya. "Sepertinya … aku pernah melihatmu," kata pemuda itu lagi. Ia tampak berpikir, berusaha menggali ingatannya untuk mengingat sosok pemuda berambut merah di hadapannya yang terasa familiar.
Deg!
Manik hijau Gaara sedikit melebar begitu mendengar ucapan pemuda itu. Mungkinkah pemuda itu benar-benar mengenalnya?
"Ah! Kau orang yang kutabrak beberapa hari lalu saat aku sedang terburu-buru memasuki rumah sakit, 'kan? Aku mengingat rambut merahmu," tukas pemuda itu senang setelah berhasil menggali ingatannya. Wajahnya terlihat puas karena berhasil mengingat sosok Gaara yang pernah ditabraknya beberapa hari lalu. "Aku minta maaf karena langsung pergi begitu saja saat itu. Maafkan aku," ucapnya lagi sambil membungkuk sekilas.
Gaara tak menjawab, melainkan hanya menatap pemuda itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau … tidak mengenal—"
"Gaara!"
Seruan seseorang di belakang Gaara membuat perhatiannya teralihkan. Ia bisa melihat sosok Shion yang berlari ke arahnya dengan wajah khawatir. "Shion?"
"Gaara, apa yang terjadi pada Matsuri? Aku langsung ke sini begitu mendapat telepon dari Bibi Sara," Shion berkata di sela napasnya yang terengah. Peluh mengalir deras di keningnya. Ia tampak terkejut begitu sadar bahwa ada sosok lain di hadapan mereka. "Eh? William?" Shion langsung mengenali sosok pemuda berambut hitam di hadapannya.
"Âllo! Senang bertemu lagi denganmu, Shion," tukas William ramah. "Kalian saling mengenal?" tanyanya pada Shion, merujuk pada Gaara yang masih diam di tempatnya.
Shion mengangguk sambil tersenyum tipis. "Ya, dia temanku. Ah, Gaara, kenalkan … dia William Bäcker, anak Dr. Bäcker yang menangani Matsuri. Aku pernah menceritakannya padamu beberapa hari yang lalu, 'kan?"
Gaara tak menyahut. Lagi-lagi ia hanya menatap William dalam diam.
"Aku William Bäcker. Senang berkenalan denganmu ... Gaara." Sebelah tangan William langsung terulur di hadapan Gaara, menunggu sambutan dari pemuda merah itu.
Lama Gaara memandangi tangan William tanpa berniat membalas jabat tangannya, hingga Shion menyikut tulang rusuknya.
"Gaara! Kau tidak sopan!" Shion berbisik geram.
Gaara yang sadar dengan sikapnya yang kurang sopan, dengan cepat menyambut uluran tangan William. "Gaara. Rei Gaara," katanya dengan menekan setiap kata yang diucapkannya. Kedua matanya tak pernah lepas dari sepasang manik hitam milik William.
"Kau baru saja mengunjungi Matsuri?" Shion bertanya pada William, berusaha mencairkan suasana canggung yang tercipta karena keanehan sikap Gaara.
"Ya. Aku menyempatkan diri untuk mengunjunginya sebelum kembali ke Jerman," sahut William. Ia lalu melirik sekilas pada Gaara yang masih diam menatapnya.
"Kau akan kembali ke Jerman?"
Anggukan William menjawab pertanyaan Shion. "Kuharap Matsuri-chan segera mendapat donor jantung yang cocok dengannya," William berkata sambil menepuk pundak Shion pelan, menyalurkan dukungan dan simpatinya pada gadis itu.
"Umm. Kuharap juga begitu," Shion menundukkan wajahnya sebentar, "omong-omong, terima kasih untuk soupe a l'oignon yang kaubawa beberapa hari lalu. Matsuri sangat menyukainya," kata Shion lagi. Senyum manisnya ia hadiahkan pada William.
"Tidak masalah. Temanku dengan senang hati memasaknya untuk Matsuri-chan," sahut William ramah. Ia lalu merogoh kantong celananya begitu merasakan getaran berulang dari ponselnya. "Ah, sepertinya aku harus pergi sekarang. Temanku sedang menunggu di parkiran. Sampai jumpa lagi, Shion dan … Gaara," ucapnya sebelum berbalik dan berjalan meninggalkan sosok Shion dan Gaara yang masih berdiri di belakangnya.
Setelah bayangan William menghilang di ujung koridor, Shion berbalik menghadap Gaara yang masih menatap lurus ke depan. "Gaara, kenapa kau bersikap tidak sopan seperti itu—"
"Kau mengenalnya?"
Alis Shion terangkat begitu mendengar pertanyaan Gaara. "Mengenalnya? Siapa?" tanyanya heran.
"William Bäcker," gumam Gaara pelan.
"William? Tentu saja! Aku yang mengenalkannya padamu tadi, 'kan?" Shion semakin menatap heran pada Gaara yang tampak begitu aneh hari ini. "Memangnya kenapa?" tanya Shion lagi.
Untuk pertama kalinya, Gaara mengalihkan pandangannya pada Shion setelah kepergian William. "Sejak kapan kau mengenalnya?"
Shion memiringkan kepalanya, "Beberapa hari lalu, saat aku menyuruhmu pulang. Dia membawakan makan siang untuk Matsuri," jawab Shion ringan. Sebersit dugaan muncul di kepalanya. "Ah, aku tahu kenapa kau bersikap tegang seperti tadi. Kau tidak perlu khawatir. Hubungan Matsuri dan William tak seperti yang kaubayangkan, Gaara," Shion menyenggol lengan Gaara yang menatapnya dalam diam.
Salah. Apa yang dipikirkan Shion tidak benar. Gaara bukan cemburu pada William. Sama sekali tidak. Ada hal lain yang mengganggu pikirannya begitu bertatap muka langsung dengan pemuda itu.
'Tuhan, katakan kalau apa yang kupikirkan ini tidaklah benar,' ucap Gaara dalam hati. Wajah Ino dan Sasuke langsung melintas di benaknya.
-oo-
Suasana sepi dan sunyi di Amegakure ketika malam menjelang adalah waktu yang tepat untuk Sasuke berjalan-jalan mengelilingi desa. Mei baru saja meneleponnya, memberitahu bahwa dia tak bisa pulang malam ini. Karena itulah Sasuke berusaha menyelamatkan perutnya yang mulai berbunyi dengan mencari tempat makan yang cocok untuk menyantap makan malamnya, dan restoran seafood yang ada di tengah desa menjadi pilihannya.
Sasuke sudah sampai di dekat taman kecil yang ada di samping kuil, tempatnya melihat hanabi bersama Sakura saat festival tanabata beberapa hari lalu. Ia menghela napas sejenak mengingat hari di mana mereka akhirnya kembali berbicara seperti biasa lagi. Sasuke menatap bangku panjang di mana Sakura pernah duduk di sana. Matanya bisa melihat bayangan Sakura yang sedang menundukkan wajahnya sambil memegang sesuatu yang meleleh di tangannya. Tunggu. Bayangan? Sasuke mengerjapkan matanya beberapa kali, tapi bayangan Sakura yang ia kira hanya sekadar halusinasinya saja ternyata tak menghilang seiring dengan kerjapan matanya.
"Sedang apa dia malam-malam begini?" Sasuke bergumam pelan begitu menyadari bahwa yang dilihatnya itu benar-benar sosok Sakura. Tanpa perlu meminta respon dari otaknya, Sasuke sudah berjalan mendekat ke arah Sakura yang masih menundukkan wajahnya. Lagi-lagi gadis itu tampak melamun hingga tak menyadari kehadirannya.
Setelah jarak antara dirinya dan Sakura hanya terpaut beberapa langkah, Sasuke bisa melihat dengan jelas apa yang dipegang gadis itu. Sebelah tangan Sakura sedang memegang es krim batangan yang dibiarkannya meleleh tanpa ada niat untuk menghabiskannya, sedangkan tangannya yang lain memegang kening atasnya. Ekspresi itu. Sudah dua kali Sasuke mendapati ekspresi tertegun Sakura dalam satu hari ini.
Tadi siang, saat ia mengantarkan Sakura ke vilanya, Sasuke tak langsung pulang begitu ia berjalan meninggalkan halaman vila gadis itu. Ia sempat berbalik, hanya untuk memastikan bahwa Sakura sudah masuk ke dalam vilanya. Tapi yang didapati Sasuke adalah Sakura yang tertegun di ambang pintu sambil memegang keningnya. Tadinya Sasuke mengira Sakura sedang merasa tidak enak badan, namun tak lama setelah itu ia bisa melihat Sakura masuk ke dalam vila dan terdengar suara nyaringnya yang menyapa kedua orang tuanya. Dan malam ini, Sasuke kembali mendapati Sakura bertingkah aneh seperti itu.
Sasuke mendekatkan dirinya selangkah pada Sakura yang masih belum menyadari kehadirannya. Saat itulah ia bisa melihat sesuatu yang ditutupi tangan Sakura di kening atasnya, sebuah bekas luka memanjang yang selama ini tak disadarinya karena tertutup poni. Sasuke mengernyitkan kening, berusaha menduga bagaimana Sakura bisa mendapatkan bekas luka itu. Tapi sepertinya, menyadarkan gadis itu dari lamunan panjangnya adalah hal yang harus dilakukannya lebih dulu.
"Es krimmu meleleh," Sasuke berkata tiba-tiba, berusaha memanggil kesadaran Sakura.
"Eh?" Sakura tersentak karena tiba-tiba mendengar suara seseorang. Ia langsung mengangkat wajahnya dan menatap Sasuke yang berdiri di hadapannya. "Sasuke-kun?" Pupil Sakura melebar begitu mengetahui bahwa pemilik suara yang didengarnya tadi adalah Sasuke. "Sedang apa kau di si— ah, es krimnya meleleh!" Sakura menggerutu pelan begitu mendapati es krimnya yang sudah raib sepenuhnya sebelum sempat ia cicipi.
Sasuke mendengus, "Baka onna!" gumamnya begitu melihat tingkah konyol Sakura yang terlihat sedih begitu menyadari es krimnya sudah meleleh seutuhnya.
"Apa kaubilang? Coba ulangi lagi!" Sakura berseru kesal pada Sasuke yang sudah berjalan meninggalkannya.
"Ba-ka!" Sasuke mengulang ucapannya dengan tenang.
"Ugh! Dasar menyebalkan!" Meskipun kesal dengan ucapan Sasuke itu, tapi Sakura memilih mengikuti langkahnya.
"Kenapa kau mengikutiku?" Sasuke melirik Sakura yang berjalan sambil menggerutu di sampingnya.
"Siapa bilang aku mengikutimu?" Sakura menatap Sasuke tajam, tak ingin mengakui bahwa sebenarnya ia memang mengikuti pemuda itu, walaupun mungkin saja suasana hatinya bisa menjadi lebih buruk. "Baiklah, baiklah … Aku memang mengikutimu!" Sakura akhirnya menyerah begitu Sasuke membalas tatapannya dengan tatapan mengejek.
"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi," Sakura kembali berkata setelah terdiam selama beberapa saat.
"Kau bahkan belum menyelesaikan pertanyaanmu," balas Sasuke ringan.
Sakura mengeraskan rahangnya mendengar ucapan Sasuke yang terdengar menyebalkan. Ia sendiri tidak tahu kenapa tetap mengikuti langkah pemuda itu meski sepanjang jalan selalu sukses dibuat kesal. "Kenapa kau bisa ada di taman malam-malam begini? Kau tidak jadi kembali ke Konoha tadi siang?" tanya Sakura akhirnya.
"Yang pasti bukan untuk menemuimu," jawab Sasuke cepat, "dan masalah kepulanganku ke Konoha, itu bukan urusanmu," tambahnya lagi. Sasuke menghela napas panjang, "Seharusnya aku tidak menghampirinya tadi," bisiknya pelan. Tapi sayang, Sakura mendengar ucapannya tadi dengan sangat jelas.
"Aku tidak memintamu menghampiriku," balas Sakura sewot.
Sasuke berdecak kesal mendengar ucapan Sakura, tapi ia memilih menutup mulutnya. Tak ada gunanya mendebat gadis itu, dan Sakura pun sepertinya melakukan hal yang sama. Mereka sudah berada di alun-alun desa saat Sakura menghentikan langkahnya. Gadis itu tampak memandangi bangunan aula desa yang begitu artistik. Sakura ingat, dulu ia dan Sasuke sering mengunjungi gedung aula itu karena Sasuke sangat suka memainkan piano tua yang ada di gedung itu. Kata Sasuke kecil, suara piano tua itu terdengar berbeda dari piano-piano pada umumnya, begitu bening dan menghanyutkan.
Sakura membelokkan langkahnya menuju gedung aula itu, tak menghiraukan Sasuke yang memandangnya heran. Ia membuka pintu gedung yang tak pernah terkunci sampai jam sepuluh malam itu. Manik hijau Sakura langsung melihat sebuah grand piano tua yang berdiri di ujung aula. Sakura menghampiri piano itu dan duduk di depannya. Ia terdiam sebentar, menggali kenangan masa kecilnya dulu. Sakura lalu menaruh kedua tangannya di atas tuts piano, bersiap memainkan beberapa not yang dihapalnya.
"Twinkle, twinkle, little star … How I wonder what you are…."Sakura mulai bernyanyi merdu, berbanding terbalik dengan permainan pianonya yang benar-benar payah. "Up above the world so high … Like a diamond in the sky. Twinkle, twinkle, little star … How I wonder what you—" Sakura berhenti bernyanyi ketika tangan Sasuke menghentikan permainan pianonya. Ia tak sadar bahwa pemuda itu mengikutinya masuk ke dalam aula.
Sasuke tampak menghela napas panjang. Ia pernah melihat Sakura seperti ini bertahun-tahun lalu. Sasuke lalu menyuruh Sakura menggeser duduknya. "Sudah kubilang jangan pernah mendekati piano, apalagi berusaha memainkannya. Kau sama sekali tidak berbakat bermain piano," tukas Sasuke yang sudah duduk di samping Sakura. Ia melirik Sakura sebentar. Gadis itu tak memberikan respon apapun, hanya menatap tuts-tuts piano dalam diam. Sasuke lalu memosisikan tangannya di atas tuts-tuts piano. Tak lama kemudian, terdengar alunan lagu Twinkle Twinkle Little Star miliknya yang memenuhi setiap sudut gedung aula itu. Tentu saja permainan piano Sasuke tak bisa dibandingkan dengan permainan Sakura tadi.
"Twinkle, twinkle, little star … How I wonder what you are. Up above the world so high … Like a diamond in the sky…." Sakura kembali bernyanyi mengikuti iringan piano Sasuke. Tapi suaranya terdengar berbanding terbalik dengan keceriaan yang dihasilkan lagu itu. "Twinkle, twinkle, little star … How I wonder … what … you … are—" suara Sakura tersendat. Ia segera menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu menunduk dalam.
Sasuke sadar ada yang salah dengan gadis di sampingnya itu, tapi ia tak tahu apa penyebabnya dan sebaiknya tak berusaha mencari tahu dengan menanyakannya. Ia bisa merasakan tubuh Sakura yang bergetar pelan ketika pundaknya tak sengaja menyentuh pundak gadis itu. Tak terdengar isakan sama sekali, tapi ia tahu bahwa Sakura sedang menangis. Sasuke tak berniat menghentikan permainan pianonya. Ia mengerti kalau gadis itu tengah berusaha menyembunyikan tangisannya, karena itulah Sasuke tetap memainkan lagu itu hingga selesai. Biarlah malam ini saja Sasuke berpura-pura tidak tahu bahwa Sakura kembali tergugu di sampingnya, seperti yang pernah terjadi dulu.
.
.
"Sasuke-kun, kalau aku sedang bersedih, apa aku boleh memintamu memainkan piano atau biolamu lagi?"
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin kau mendengar tangisanku lagi."
"…"
"Sasuke-kun?"
"Aku tidak akan melakukannya."
"Kenapa?"
"Karena aku tak akan membiarkanmu menangis seperti itu lagi."
.
.
-TBC-
Authors note:
Yo, chapter sepuluh update /o/
Semoga kalian suka~
Makasih banyak buat reader, reviewer dan follower (yg ga bisa disebut satu-satu) yang masih setia mengikuti fict ini :3
Feedback dari kalian selalu bikin aku semangat buat lanjutin fict ini :D
Akhir kata,
Mind to give some concrit? I'll very appreciate it ^-^
.
.
Sign,
C.C
18022015
