New Legends The Sequel
.
Angin malam berhembus dengan lamat, membuat orang-orang lebih memilih untuk menghangatkan diri dengan segelas coklat hangat atau sekedar mengubur diri dalam selimut, lalu tidur dengan senyum manis yang mereka miliki.
Naruto, Sai dan Kakashi masih berdiri di sana dengan wajah datarnya. Mereka tak perlu repot-repot menakuti musuh dengan ekspresi serius, karena hanya dengan wajah datar penuh wibawa yang mereka miliki saja sedikitnya membuat klan pengendali darah tersebut gemetar. Beruntung tak ada Sasuke dan Sakura di sana.
Mata sebiru langit musim semi itu memandang punggung yang sekarang berdiri menjulang di hadapannya. "Syukurlah kalian mampir. Ada yang ingin kutanyakan,"
Shibi, sang ketua klan telah mengetahui pertanyaan yang akan dilemparkan oleh Naruto, berbalik badan dan membungkuk hormat. "Maafkan klan kami, hokage-sama. Kami tak pernah berniat menyembunyikan hal ini," ucapnya sungkan.
Naruto menghela nafas lelah. Sebelah tangannya memegang dahinya lalu Ia memejamkan matanya. Tak lama kemudian Ia mulai angkat bicara membalas kalimat sang kepala klan Aburame yang sebelumnya. "Ya aku mengerti, tak ada yang perlu dimaafkan." Tandasnya.
Ayah kandung dari Shino itu menganggukkan kepala dan menatap datar saudara jauh mereka. Ia merasa memang ini sudah waktunya bagi klannya untuk menceritakan hal yang sebenarnya. Membongkar sebuah rahasia turun-menurun yang hanya diketahui oleh klannya dan klan Kawaguchi atau mungkin orang-orang yang pernah terlibat.
"Kupikir kalian punah," kata Shibi pada Arata dan Sato.
"Punah bukan rencana kami saat ini." Kata Arata. "Klan mu yang akan punah lebih dulu,"
"Cobalah bertaruh, siapa yang akan lebih dulu punah," Shino menginterupsi.
Sato menaruh atensi pada Shino yang dimatanya nampak begitu nyentrik dengan kacamata hitam di malam hari ini. Dengan sekali lirik, Sato mencoba untuk mengendalikan Shino. Namun karena dirasa bukan saat yang cukup, Ia mengurungkan niat busuknya dan mencoba menyatu dengan percakapan tegang yang sedang berlangsung alot ini.
Naruto maju beberapa langkah ke arah Shino untuk mendapatkan informasi mengenai ikatan di masa lalu mereka. "Hey, Shino, ceritakan padaku apa yang terjadi dengan kalian di masa lalu."
Shino menoleh pada Naruto yang sudah ada di sebelahnya. "Aku tak tahu harus mulai menceritakannya darimana,"
"Kau tak punya masa lalu untuk diceritakan. Bahkan dirimu sendiri lahir bukan sebagai Klan Kawaguchi." Arata mencibir sengit.
"Aku tidak sedang berbicara padamu. Cobalah untuk diam sebentar," balas Naruto dengan nada mengintimidasi.
Arata berdecih penuh dendam begitu Naruto mengancamnya. Sial beribu sial, di saat Ia hendak menyerang mereka, Shibi dan anaknya datang mengacaukan segalanya. Dan Ia dipaksa untuk bungkam dengan kata-kata hokage muda yang masih ingusan itu. Padahal sebelumnya Naruto bersikukuh untuk mendengarkan ceritanya.
Perhatian Naruto kembali dialihkan pada Shibi dan Shino yang kini menatapnya datar dan bersiap untuk bercerita.
Sebelum Shibi mengeluarkan suaranya, Ia meminta suatu hal pada Naruto. "Hokage-sama, sebelumnya ini adalah rahasia desa sejak kami mengabdikan diri dan membangun identitas di Konoha. Jadi kami mohon, agar hokage-sama tetap menerima kami sebagai keluarga besar Konoha meskipun klan kami memliki sepak terjang yang kelam."
"Aku hanya ingin mendengar cerita kalian. Baik atau buruknya, Daimyo dan yang lainnya yang lebih berhak memutuskan." Kata Naruto. "Lagipula, bukankah para Daimyo terdahulu sudah mengetahui hal ini? Kurasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika mereka memang sudah tahu." lanjut Naruto dengan senyum andalannya.
"Wakatta," kata Shibi. "Akan kuceritakan."
.
Setelah beberapa tahun dari peristiwa perang antara Klan Ketsueki dengan Senjuu Tobirama dari Konoha, seorang gadis bernama Kawaguchi Ryuumei lahir di desa yang didirikan oleh para pengendali darah. Sebuah tanda berbentuk bulat seperti purnama berwarna merah terdapat di punggung tangan kanannya. Ia dilahirkan dalam satu keluarga pengendali darah terhebat saat itu. Namun karena orang tua mereka tak pernah menggunakan kekkei genkai tersebut demi kenyamanan dan keamanan, Kawaguchi lahir tanpa mewarisi kekkei genkai unik itu.
Ryuumei tumbuh sebagai gadis cantik yang banyak dilirik pemuda di desanya. Mulai dari anak-anak sampai dewasa tertarik untuk bisa dekat dengannya. Sifatnya ramah dan periang. Dia selalu menjadi pusat perhatian karena sifatnya yang membaur. Gadis yang saat itu akrab dipanggil Mei, memiliki mata merah ruby yang cantik dan bening bila tertimpa sinar matahari lalu disaat yang sama tampak seperti lautan darah yang dalam, seolah banyak tersimpan misteri di dalamnya. Selain itu, Mei adalah anak yang cerdas. Bukan hanya dalam bidang akademik, tapi juga nonakademik. Tentunya, kedua orang tuanya sangat bangga dengan keturunan mereka yang cantik ini.
Ia lahir tanpa memiliki kemampuan ninja. Namun Ia tetap berusaha mempelajarinya agar Ia bisa menjadi lebih kuat. Mei tidak mau hanya mengandalkan para penjaga desa yang melindunginya juga keluarganya. Ia juga ingin menjaga desa tempatnya tinggal ini dengan kemampuan yang Ia miliki.
Namun saat gadis periang nan cantik itu berusia dua belas tahun, sebuah kejadian mengenaskan menimpa desa dan keluarganya. Tanpa diketahuinya, sekawanan ninja illegal menyelinap masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil gulungan jutsu kekkei genkainya. Merasa Ia tak mengerti apa yang terjadi, Ia berusaha menemukan kedua orang tuanya. Tapi, matanya disuguhkan dengan pemandangan mengenaskan. Orang tuanya sudah dalam keadaan setengah hidup.
Air matanya jatuh dengan deras melihat ayahnya dengan luka parah di sekujur tubuhnya.
"Otou-sama!" teriak Ryuumei dengan linangan air mata dan segera menghampiri ayahnya.. "Sadarlah! Otou-sama!"
Sang ayah membuka matanya dan menatap Mei dengan senyum lemahnya. "Hi..hidup..lah.."
"Bertahanlah, jangan tinggalkan aku!" Ryuumei menangis sekencang-kencangnya dengan jeritan yang mengalahkan lolongan anjing di malam hari.
"Kau..bi..sa mela..kukannya. Kau.. adala..lah satu –uhuk– dari.. lima pengendali…darah yang ter –uhuk–pilih."
"Pengendali.. darah?" ulang Ryuumei di sela isakannya. "Aku.. aku tak perduli dengan semua itu! Yang kuperdulikan hanya kau, Otou-sama! Jangan tingggalkan aku!"
"Rebut kemba..li.. –uhuk– gu..lungan yang te..lah mereka cur..i."
Mei semakin menangis. "Aku berjanji akan merebutnya kembali. Tapi tetaplah di sini! Aku tak punya siapapun lagi."
"Balas..kan dendam –uhuk– ka…mi…"
Dengan berakhirnya kalimat tersebut, berakhir pula kehidupan sang ayah. Ryuumei berteriak sekencang mungkin.
Sekawanan ninja yang telah mendapatkan gulungan itu segera meninggalkan desa tersebut. Tapi tiba-tiba, entah apa penyebabnya, tubuh mereka terasa ngilu saat digerakkan bahkan kelamaan tubuh mereka bergerak sendiri. Lalu dengan gerakan cepat salah satu dari mereka melayang dan jatuh seketika dengan amat sangat keras lalu tewas seketika. Tanpa daya apapun, satu persatu kelompok ninja itu mati tanpa alasan logis.
Satu yang tersisa dari mereka melihat seorang gadis yang tengah berjalan menghampirinya. Entah kenapa, Ia merasa takut dengan aura hitam pekat dengan hawa mengintimidasi begitu kuat menguar dari tubuh gadis yang menurutnya masih anak-anak. Begitu Ia menyadari bahwa gadis itu yang membuat teman-temannya terbunuh, Ia semakin ketakutan dan memohon ampun agar tidak membunuhnya.
"Tolong! Jangan bunuh aku," kata sang ninja.
Mei, sang gadis yang dipenuhi dendam atas kematian ayahnya dan juga kerusakan desanya, semakin beringas begitu masih ada ninja yang tersisa. Dengan sekali gerakan, Ia mengacak-acak tulang dalam tubuh ninja itu tanpa ampun sampai tewas dengan bentuk yang tak lagi punya nama untuk dipanggil.
Warga desa yang melihat Mei dari dalam rumahnya begitu kejam pada ninja illegal itu terlihat sangat amat kaget. Mei yang mereka ketahui tak lahir sebagai pengendali elemen darah, kini memiliki kekuatan yang begitu besar. Dan selain yang mereka tahu, Mei adalah salah satu dari keluarga klan Ketsueki yang mereka anggap telah punah.
Sejak saat itu, Mei berubah menjadi gadis dingin yang tak lagi mau berbaur dengan warga desanya. Sebagai gadis yang memiliki kemampuan unik dan amat sangat langka, Mei, dengan nyawanya yang hanya satu berusaha melindungi desanya bersama empat orang lainnya yang memiliki kekkei genkei elemen darah. Dengan persetujuan dari ketua Klan Ketsueki yang dulu, klan ini resmi berganti nama dengan Kawaguchi, yang diambli dari nama depan Mei.
Setelah dewasa, pengendalian darah yang dimiliki Mei semakin tak terkendali. Ia berubah dari gadis dingin menjadi gadis yang otoriter dengan alasan untuk kebaikkan mereka bersama. Kekuatannya sulit untuk ditandingi dengan anggota lainnya. Anggota klan Kawaguchi saat itu sudah hampir lima puluh orang ditambah dengan pengendali yang dulu.
Di sisi lain, sebuah kelompok terbentuk untuk menolak tindakan dictator ini. Mereka geram karena tingkah Mei dan kawan-kawannya. Mulanya kelompok ini hanya terdiri dari tujuh orang, tapi kelamaan mulai banyak yang bergabung.
Perkembangan kelompok ini semakin pesat, terlebih dengan bergabungnya beberapa anggota klan Kawaguchi yang juga merasa bahwa tindakan klan yang dipimpin oleh Kawaguchi Ryuumei ini sudah diluar batas dan menyalahi visi misi yang telah ditetapkan dahulu.
Hal ini akhirnya sampai juga ke telinga Mei. Ia geram tentu saja. Ia merasa apa yang selama ini Ia lakukan adalah untuk melindungi mereka dari ninja-ninja jahat yang berusaha menghancurkan kembali desa dan juga klannya. Dengan rasa amarah, Mei menghampiri kelompok yang kebetulan saat itu sudah siap dengan kehadiran Mei dan anggotanya.
"Kalian merasa aku melakukan tindakan criminal?" Tanya Mei dengan mata menyipit tajam.
Salah satu dari mereka menjawab pertanyaan Mei. "Ya. Kau hanya terlalu takut dengan masa lalumu, karena itu kau bertindak seolah-seolah melindungi. Tapi pada kenyataannya, kau bertindak sangat otoriter."
Mei yang mendapat jawaban panjang nan mengena tepat ke intinya, semakin murka. "Apa yang kau tahu dariku?! Kau hanya anggota yang bahkan levelnya tak sepadan denganku."
"Apa kau yakin?" jawab mereka lagi. "Sudah kubilang kau hanya takut dengan masa lalumu."
"Aku tak pernah takut dengan masa laluku. Itu hanya kenangan yang tak pantas untuk diingat apalagi untuk ditakutkan. Apa kalian tidak mengerti setiap tindakan yang aku lakukan itu demi kebaikan kita bersama?"
"Kebaikkan bersama hanya untuk anggotamu, bukan bagi kami. Harus kami akui kau memang mempunyai visi misi yang bagus untuk membangun kembali klan ini, tapi didalamnya terlalu banyak kerugian yang orang lain dapatkan. Sejujurnya, kebaikan yang kalian anggap bersama itu, merugikan pihak lemah seperti para petani. Kalian menindas kaum lemah dengan pajak tinggi. Selain itu, kalian yang memliki kekuatan lebih besar dari kami, memberikan latihan neraka yang tidak ada hasilnya. Itukah kebaikkan bersama yang kalian maksud?"
"Itu bentuk strategi kemakmuran agar desa ini lepas dari krisis ekonomi dan membuat kalian lebih kuat!" sahut Mei dengan nada tinggi.
"Baiklah jika kau tetap bersikeras dengan pendirianmu yang salah…" kata ketua kelompok itu. "…kami akan memisahkan diri dan membangun klan baru."
Seketika Mei tertawa sarkatis yang ditanggapi dengan wajah datar kelompok di depannya. Ia seolah meremehkan kelompok ini yang akan memecahkan diri dan membangun klan baru. "Hoo, yakinkah kalian bisa bertahan? Kalian hanya anggota yang bahkan kemampuannya tak sebanding denganku." Katanya. "percaya diri sekali kalian bisa hidup tanpa bimbingan ketua klan."
Sang ketua mendesah lelah. "Tidakkah kau dengar kalau kami akan membangun klan baru? Itu berarti kami akan memiliki seorang ketua yang lebih baik darimu dan kami jamin.." gantungnya. "..klan kami akan menandingi klan ini."
"Percayalah dalam satu hari setelah kita pecah, kalian akan mengemis untuk kembali pada kami dan desa ini."
"Berani bertaruh? Jika memang hal itu terjadi, dengan harga diri kami yang tinggi, kami rela kalian jadikan budak." Tantangnya dengan dingin.
Sang ketua kelompok yang umurnya diperkirakan baru sekitar dua puluh tahun itu memandang Mei yang sekarang sedang menahan marah dengan wajah dinginnya. Ia tidak main-main dengan ucapannya barusan. Daripada Ia harus bertahan pada klan yang membuat keluarga dan teman-temannya menderita, Ia lebih memilih untuk melepaskan diri. Hal ini sudah disepakati oleh anggota kelompok ini sebelumnya.
Tegangan dalam percakapan ini berlangsung semakin pekat ketika kedua kubu ini diam dan saling menatap dengan sengit. Tak lama kemudian, Mei mengangkat dagu dengan senyum angkuhnya.
"Wakatta. Jika itu mau kalian, kita buat perjanjian dan pernyataan perpecahan klan." Katanya.
Proses perjanjian dan pernyataan ini berlangsung cukup lama. Masing-masing ketua kubu di haruskan meneteskan darah mereka pada sebuah segel lawan sebagai tanda bahwa mereka telah berpisah dan bukan lagi bagian dari klan tersebut. Setelah semuanya terlaksana, perpecahan dari Klan Kawaguchi ini pergi meninggalkan desa. Mereka mulai berkelana dengan sedikit kemampuan yang mereka miliki.
Selama dua hari perjalanan, mereka sangat heran karena banyak sekali hewan yang mengikuti mereka, terutama serangga. Tak jarang serangga-serangga itu mampir dan menjamahi tubuh mereka.
Lalu salah seorang dari mereka yang mempunyai kemampuan khusus untuk berkomunikasi dengan serangga berkata bahwa para serangga itu menyukai wangi darah mereka. Seperti minyak wangi yang abadi dan sangat memikat. Dia juga bilang para serangga ini bersedia menjadi senjata bagi mereka. Sebagai gantinya, tubuh mereka menjadi tempat tinggal para serangga.
Awalnya tak ada satupun yang bersedia. Menjadi sarang dari para serangga bukan hal yang menarik, bukan? Namun setelah berunding dan mempertimbangkan keuntungan yang mereka dapatkan dari bekerja sama dengan serangga ini, akhirnya keputusan pun dibuat.
Akhirnya mereka setuju dan lahirlah sebuah klan dengan kekkei genkai mengendalikan serangga bernama 'Aburame' yang berarti 'Minyak Wangi'. Penamaan itu karena sebagian besar anggotanya merupakan mantan pengendali darah yang pada dasarnya memiliki wangi yang berbeda dan juga para serangga mengatakan bahwa wangi darah mereka begitu memikat.
Klan ini tumbuh mejadi klan yang patut diperhitungkan. Dan saat itu datanglah Konoha yang menawarkan tempat bagi mereka bernaung dan membangun identitas sebagai bagian dari klan yang tinggal dalam desa termakmur itu.
"Meskipun pada akhirnya rahasia kami sebagai bagian dari Klan Kawaguchi terbongkar saat Kawaguchi Ryuumei membocorkannya pada desa," Shibi mengakhiri ceritanya. "Beruntung Daimyo tetap mempertahankan kami di desa ini. Kami sangat berterima kasih untuk itu."
Naruto, Sai dan Kakashi belum memberikan respon dari cerita yang baru saja diakhiri oleh Shibi. Mereka masih berusaha menyerap dan menganalisa ceritanya.
"Itu sangat…keren." Kata Naruto takjub. "sejarah klan kalian sangat menarik, aku penasaran bagaimana jika kalian mengendalikan darah."
"Itu tidak mungkin." Sahut Shino.
"Apanya yang tidak mungkin?" tanya Kakashi.
"Tentu saja itu hal yang mustahil." Sato menginterupsi.
"Maksudmu?"
"Mereka sudah membuang jauh-jauh kekkei genkai nya sebagai pengendali darah yang meskipun.." Sato memberi penekanan pada kata 'meskipun'. "..elemen-elemen itu masih mengalir dalam tubuh mereka. Tidak, tepatnya pada serangga yang telah memakan chakra mereka."
Sai yang awalnya sedikit kurang mengerti tentang penjelasan yang disampaikan Shibi mulai bertanya. "Jadi, apa selama ini kalian masih saling berkomunikasi meskipun hubungan kalian kurang baik?"
"Kami tak pernah melakukan kontak apapun. Tapi kami bisa saling mengetahui keberadaan masing-masing saat bulan purnama seperti malam ini. Angin membawa aroma tubuh kami yang hanya bisa diketahui oleh orang-orang tertentu dan juga klan Aburame." Jawab Arata.
Tiba-tiba, Shino dan Shibi mengeluarkan ribuan serangga yang mereka miliki dan langsung menyerang dua orang yang menjadi lawan mereka. Keduanya segera menghindar sebisa mungkin sebelum serangga-serangga itu sampai mendapatkan tubuh mereka. Lalu Arata menggerakkan kedua tangannya untuk mengendalikan Shibi, sedangkan Sato membentuk segel untuk menyerang Shino.
Pertarungan sengit ini berlangsung cukup lama. Sato dan Arata yang sebelumnya terjebak dalam genjutsu milik Sasuke masih kelelahan, terlebih chakra mereka sempat terhisap oleh ular buatan dari Sai. Sedangkan Shino dan Shibi masih dalam kondisi bugar meskipun baru kembali dari misi.
Kedua kubu saling beradu jutsu andalan mereka demi menjatuhkan lawan. Tak lama kemudian, datanglah Asami dan langsung bergabung dengan Arata dan Sato.
"Darimana saja kau?!" Tanya Arata emosi. "dua puluh menit tak pernah selama ini!"
"Ada apa ini? Kenapa mereka datang?" tanyanya balik lalu menatap hazel Arata dengan wajah tegang. "Luka Isao lebih buruk dari yang kubayangkan dan terpaksa harus kubawa kembali ke desa sebelum ke sini."
"Simpan pertanyaanmu untuk nanti dan cepat bantu kami untuk mengalahkan mereka."
Asami mengangguk dan segera membentuk segel yang berbeda dari sebelumnya. Sai maju untuk melawan Asami. Naruto sedang mengumpulkan chakranya agar bias masuk dalam mode sennin dan Kakashi sedia di sampingnya bertugas untuk melindungi Naruto selama beberapa menit.
Baru saja Sato mendapatkan celah untuk menyerang Shino, tubuhnya dan Arata digenggam oleh Susano'o yang sama seperti yang menyerang Isao tadi. Semakin lama semakin menjerat dan membuat tulang-tulangnya terasa remuk juga nafasnya semakin berat sebelum akhirnya menyemburkan darah segar dan pingsan.
Hal serupa terjadi pada Asami ketika Ia baru melancarkan beberapa serangan pada Sai yang mampu dibalas dengan baik oleh pemuda berkulit pucat pasi itu. Yang berbeda adalah bukan Susano'o yang menyerangnya, tapi sebuah kekuatan dahsyat nan luar biasa yang dikeluarkan oleh seseorang gadis. Salah satu dari penerus sannin terdahulu. Haruno Sakura.
"Maaf kami terlambat," ujar Sakura.
"Tak apa," kata Kakashi. "Kami baru saja mulai ketika kalian mengakhirinya."
Sakura tersenyum tak enak pada Kakashi. Emeraldnya bertumpu pada Shino dan Shibi yang nampaknya sedang kelelahan. Terbukti dengan nafas mereka yang terengah-engah. Dengan insting medisnya, Sakura menghampiri mereka berdua dan menawarkan bantuan setelah mengikat Asami yang pingsan lalu memberikannya pada salah satu bunshin Naruto.
"Terima kasih, Haruno-san. Kami hanya kelelahan," begitulah jawaban dari Shibi. "Setelah beristirahat yang cukup keadaan kami akan kembali seperti semula,"
Gadis dengan segel Byakugou di pusat dahinya itu membalas tolakan halus dari Shibi dan Shino dengan seulas senyum tipis dan mengangguk sekali. "Baiklah. Tapi jika terjadi sesuatu dengan kalian, aku selalu bertugas di rumah sakit,"
"Sekali lagi, terima kasih."
.
.
.
Naruto bergantian memandang Sasuke dan Sakura dengan tingkah yang sedikit aneh. "Err.. syukurlah kalian tepat waktu. Meskipun sedikit terlambat."
"Ya, kau meminta kami agar segera kembali," kata Sakura. "Padahal proses penyembuhan mata Sasuke belum belum selesai,"
"Lalu kenapa kau izinkan dia memakai Susano'o?" Tanya Kakashi.
Naruto terkekeh aneh mendengar pertanyaan Kakashi. "Sepertinya aku yang bersalah dalam hal ini,"
"Kau melakukan sesuatu pada Uchiha-san?" Tanya Sai.
"Bukan seperti itu juga sih..." sahut Naruto. "...sudahlah aku tidak mau membahasnya." lanjutnya sambil mengibaskan tangannya membuat Sai mengeluarkan ekspresi bingungnya yang polos.
Sasuke sendiri memandang Naruto dingin dari balik Susano'o mini miliknya sebelum mengalihkan pandangan pada musuh yang baru dibekuknya. Juga Sakura yang nampaknya sedikit kikuk pada Naruto.
Entah apa yang terjadi, yang Sai tahu ada sesuatu terjadi diantara mereka bertiga.
Kakashi juga sempat memperhatikan wajah Naruto yang berubah memerah begitu Sasuke dan Sakura datang beberapa saat lalu. Namun dengan reaksi yang baik nampaknya Ia bisa mengendalikannya. Entah apa yang disembunyikannya tapi Kakashi yakin, sesuatu yang tak terduga telah terjadi.
Naruto sendiri mengutuk kebodohan klonnya yang begitu ceroboh membangunkan singa lapar. Kenapa juga si klon bodoh itu harus mengacaukan semuanya dalam yang dalam waktu singkat membuatnya mendapatkan aura membunuh begitu kuat dari Sasuke. Sungguh, efeknya bahkan membuat Naruto yang biasanya cuek dengan sikap dingin Sasuke menjadi sedikit kikuk. Jujur saja, Ia juga tak mau mengganggu singa yang kelaparan.
Dan semua ini terjadi sekitar dua puluh menit yang lalu…
.
.
Sebelumnya di apato rahasia…
Ruangan yang cukup luas ini masih menjadi saksi atas kasih tak jelas yang sedang dirajut. Dua sejoli yang saling menautkan bibir dan melumatnya lamat-lamat meskipun pasokan udara memaksa untuk berhenti. Diiringi dengan kecapan-kecapan yang terdengar jelas ditelinga keduanya.
Sasuke masih terus menyalurkan hasratnya pada Sakura. Mereka menikmatinya. Ciuman yang dirasa lamat mulai terasa cepat tanpa mereka sadari. Dan dengan perlahan, telapak tangan besar milik Sasuke mengendurkan pegangannya pada pergelangan tangan Sakura. Meninggalkan bekas memar yang tampak kemerahan dan berpindah pada tengkuk gadis tersebut.
Dalam ciuman itu mengalir sebuah pesan yang tak pernah tersampaikan. Pesan singkat yang tak pernah dapat diartikan keduanya. Harusnya mereka cukup paham dengan hal ini, namun keduanya seolah menutup hati untuk merasakannya.
Pemuda keturunan terakhir Uchiha ini melepaskan ciumannya saat dirasa oksigennya benar-benar menipis. Bibir mereka masih sedikit menempel, tapi berhenti untuk saling melumat. Sambil mengatur deru nafas mereka yang tak stabil, mereka membuka mata dan saling menatap. Membiarkan hati mereka yang saling bicara.
Dalam jarak sedekat ini, Sakura tetap tak bisa membaca artian dari tatapan pemuda berrambut hitam kebiruan ini. Pemuda ini tetap memasang wajah datar, meski matanya masih tampak sayu. Entah karena melihat emerald miliknya, atau karena kondisi matanya yang belum sepenuhnya membaik.
Tubuh mereka tak bersinggungan, tapi entah kenapa hawa panas terasa diantara mereka berdua. Namun apapun alasannya, yang jelas Sakura benar-benar ingin Sasuke mengeluarkan suaranya untuk menjelaskan apa yang barusan saja Ia lakukan pada dirinya. Maksud dari sebuah ciuman yang baru beberapa detik mereka akhiri.
Tapi sudah beberapa menit terlewat, tak satupun dari mereka mau angkat bicara. Hanya saling bertatapan dalam jarak dekat. Tentunya dengan bibir mereka yang masih menempel diiringi dengan deru nafas yang saling bertabrakan di wajah masing-masing.
"Gaara-sama bilang, Ia mencintaiku." Kata Sakura memulai topic. "Beliau bilang akan menunggu sampai aku siap menjadi miliknya."
Sasuke menatapnya datar. Tak tampak sedikitpun perubahan emosi pada wajahnya yang datar. Ia akan membiarkan Sakura terus menggali kartu matinya sendiri sampai gadis itu puas.
"Dan aku mulai mempertimbangkan tawarannya yang istimewa itu," Sakura melanjutkan sambil menatap Sasuke.
Merasa pemuda di atasnya tak akan member respon, Sakura memutuskan untuk terus bicara."Kau tahu..." Sakura angkat bicara lagi. "...aku selalu ingin berada sedekat ini denganmu."
Bibir mereka yang masih menempel bergesekan saat Sakura bicara. Membuat sensasi tersendiri bagi keduanya. Karena hal itulah, Sasuke mulai sedikit menjauhkan wajahnya tanpa melepaskan pandangannya dan memindahkan kedua tangannya di sisi kepala Sakura.
Sedangkan Sakura sendiri masih menatap Sasuke dengan seulas senyum tipis. Matanya menyalang lurus dan tepat pada bola mata hitam milik Sasuke. Perlahan, Ia mengangkat sebelah tangannya dan mendaratkannya di pipi tirus Sasuke dan membelainya pelan dengan ibu jari mungilnya. Menghapus noda darah yang mulai mengering dan mengobati goresan luka Sasuke dengan sisa chakranya.
Sasuke melihat tangan Sakura yang terangkat dan mendarat tepat disalah satu sisi wajahnya. Diliriknya memar yang disebabkannya pada pergelangan tangan Sakura mulai membiru. Padahal gadis itu baru saja sembuh dari luka memar dan bengkak yang disebabkan oleh pengendali darah itu, tapi Ia malah menambahkan memar baru.
"Memandangmu dalam jarak sedekat ini, bagiku seperti mimpi. Setelah semua yang kau lakukan padaku dengan sikap dinginmu, baru kali ini aku bisa melihat matamu dengan jelas, bisa dekat denganmu, bahkan bisa berciuman denganmu,"
Chakra hijau milik Sakura menghilang setelah luka gores di wajah Sasuke tertutup. Namun ibu jarinya urung pergi dari sana dan tetap mengusap wajah pemuda yang berada diatasnya. Matanya pun mengikuti ke mana arah ibu jarinya berjalan.
"Ne, Sasuke-kun.." panggil Sakura bergetar. Air mata mulai mengalir dari kedua matanya dengan seulas senyum sendu. "..apa bisa kita memulainya dari awal?"
Sasuke tak menjawab. Dibiarkannya gadis berrambut pink ini mengutarakan isi hatinya. Memandangi paras ayu yang kini tampak berlinang air mata ditemani dengan guratan lelah di sana. Ia tahu kalau Sakura akan terus memaksanya untuk bicara. Dan Ia akan menjawabnya jika memang sudah waktunya berbicara.
"…itu pun kalau kau mau." sambung Sakura.
Usapan ibu jarinya berhenti dan Ia menurunkan tangannya. Kini kedua tangannya saling menggenggam dan berada di depan dadanya. Menanti Sasuke untuk angkat bicara.
"Jangan pertaruhkan hidupmu untukku," tukas Sasuke datar.
Gadis di bawahnya memejamkan matanya dan menghela nafas dengan bergetar seperti sedang menahan tangis.
"Aku lelah dengan semuanya," ucapnya dengan nada bicara lelah. "mengejarmu tanpa kau pernah melirikku barang sejenak. Berapa banyak pun aku mengeluarkan air mata ini, kau juga tak pernah tahu. Dan jika aku punya pilihan antara harus bertahan atau mundur, aku lebih memilih untuk mundur dan merelakanmu untuk pergi." Sakura kembali berkata dengan kalimat panjangnya yang bergetar. Ia bahkan menolak untuk bertatapan langsung dengan Sasuke.
"…"
"Terkadang aku berpikir, mungkin aku gadis terbodoh yang berpikir kau juga merasakan hal yang sama,"
Tawa hambar meluncur dari bibir Sakura. Sebuah tawa yang terdengar menyedihkan. Ia tertawa tapi hatinya menangis, dan Sasuke tahu itu. Karena Sakura bukanlah gadis yang pandai menyimpan perasaannya. Gadis itu akan selalu mengeluarkan reaksi alami yang dibawanya sejak lahir.
"Apapun yang kau lakukan padaku, entah itu yang membuatku sakit atau bahagia, aku selalu menganggapnya indah. Karena saat itu aku yakin, aku bisa membawa hatimu pulang padaku,"
Sakura memantapkan hatinya. Suaranya tak lagi bergetar dan kini mengalir sebuah keteguhan hati yang dia sendiri sudah siap dengan konsekuensi atas jawaban Sasuke nanti. Mungkin bagi sebagian orang di luar sana yang tak mengerti situasinya, Sasuke adalah manusia paling jahat yang membuat seorang gadis seperti Sakura menangis hanya dengan diamnya.
Tapi memang seperti itulah kenyataannya. Tanpa orang lain harus mengerti pun, Sasuke memanglah pemuda yang lebih dari sekedar jahat. Bukan hanya pada desanya yang sudah mengampuni semua perbuatannya karena hanya menganggapnya sebagai korban, tapi juga kepada seorang gadis yang sudah jelas-jelas menunggunya bahkan mau merawatnya selama ini.
Menyedihkan, 'kan? Karena masalah cinta pelik yang dianggap mereka sepihak sampai salah satu diantaranya harus selalu menangis. Sedang yang lain tak menanggapi tapi juga tak menolak. Diam bagaikan patung porselen yang dipajang di toko-toko.
Sakura pun demikian. Ini adalah pertahanan terakhir yang dimilikinya. Sekuat apapun Ia saat di medan perang, Ia akan kalah jika dihadapkan dengan urusan yang menyangkut hati. Jika Sasuke kali ini tetap tidak perduli, Ia bersumpah tidak akan pernah mengharapkan Sasuke lagi untuk menemani sisa hidupnya yang entah kapan akan berakhir.
Gadis pink ini lelah. Sangat lelah jika terus seperti ini. Berlari tanpa tahu apa yang Ia kejar. Dan ketika Ia sudah tahu dan kembali mengejar, Ia harus dihadapkan dengan harapan kosong yang membuatnya tak tahu lagi harus berlari ke arah mana.
Dan akhirnya, ketika Sakura memberanikan diri untuk menatap manik hitam milik adik Itachi ini, Ia mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Sasuke tersadar akan sesuatu.
"Inilah pilihanku, Sasuke-kun. Aku memilih untuk mundur dan membiarkanmu hidup dengan bebas.." menarik nafas sejenak, sebuah senyum tulus melengkung di bibir si cantik. Tanpa keraguan sama sekali. "..terima kasih untuk semuanya, untuk selalu menolongku, untuk—"
SRET…
Hening melanda.
Jangkrik tak berani berbunyi.
Detik demi detik berlalu dan keadaan masih tetap sama.
Kalimatnya berhenti tepat ketika Sasuke dengan lembut mendaratkan sebuah kecupan hangat di dahi lebarnya. Tepat pada segel Byakugou yang ada di pusat dahinya.
Hanya setelah semua yang dilakukan Sasuke untuknya, baru kali ini pria itu berlaku lembut padanya. Meskipun sama sekali gadis remaja ini tak pernah mengharapkan sedikit kelembutan dari pria diatasnya ini.
Sasuke tahu mungkin ini konyol. Sebagai seorang Uchiha, Ia sudah terlalu banyak menyakiti orang-orang yang sudah menyayanginya dengan tulus. Sebagai seorang Uchiha, Ia terlalu menuruti egonya yang selalu membuatnya terjebak dalam pilihannya sendiri. Sebagai seorang Uchiha, Ia sudah terlampau sering membiarkan dirinya masuk ke dalam lubang yang sama, yang bahkan keledai pun takkan mau melakukannya. Bahkan sebagai seorang Uchiha yang jenius, Ia lebih bodoh dari seekor keledai.
Tapi pernyataan Sakura membuatnya sadar akan hal yang selama ini Ia kubur dalam-dalam. Bahwa Ia selalu mencintai gadis ini, selalu ingin berada di sampingnya, meskipun harus bertaruh nyawa.
Alasan kenapa dirinya tak pernah mau untuk sekedar melirik pun sebenarnya bukanlah suatu hal yang pantas untuk diperdebatkan. Sasuke tidak mau jika Sakura menanggung dosa dan malu atas jalan hidupnya yang telah melanglang buana dalam dunia kriminal sebagai rank-S missing nin. Padahal Ia sendiri tahu, kalau Sakura tak pernah mempermasalahkan apapun tentang statusnya. Pun dengan dirinya yang sudah berlumur dosa dan sulit untuk diampuni.
Kelembutan bibir yang baru saja menjamah dahinya mulai menjauh. Berganti dengan tatapan sayu Sasuke yang menatapnya seperti biasa.
"Bukan aku yang membuat semuanya rumit," Sasuke mulai bicara. "Kau hanya tak mengerti semua tindakanku selama ini."
Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali. "Lalu apa arti semuanya? Setelah apa yang kau lakukan, tidakkah kau mengerti seberapa sabar aku menghadapimu yang tak pernah sedetikpun memalingkan wajah?"
Seketika Sasuke menatapnya tajam. "Lalu? Apa yang kau inginkan? Kau ingin aku mengucapkan kata cinta padamu? Mengucapkan kata-kata romantis seperti kebanyakan pria yang memberimu surat pada saat perang dunia kemarin?" tukas pemuda itu sarkatis.
"Bukan—"
"Kau tahu aku takkan pernah mengucapkannya." Sasuke menyela dengan nadanya yang datar membuat ribuan jarum menusuk hatinya dengan telak, namun diusahakannya untuk tetap diam dan mendengarkan. "kusarankan untuk menjauhkan hal itu dari benakmu."
"Kau tidak menger—"
"Untuk itulah aku meninggalkamu di desa ini. Meskipun beban yang kuterima harus kubayar dengan kematian Itachi."
Sakura memandangnya nanar. "Bisakah…bisakah—"
"Sampai saat ini, sejak kutinggalkan desa ini, kau adalah milikku." Sasuke menyela untuk yang ketiga kalinya yang tak sanggup untuk Sakura balas. Ia hanya bisa menatap Sasuke dengan bibir yang setengah terbuka akibat kalimat pria itu. "Hanya itu batas kemampuanku untuk mengutarakan semuanya." lanjutnya datar.
Sakura masih memandangnya takjub karena kalimat Sasuke tadi.
"Apa itu cukup?"
Ternganga untuk sekian lama, Sakura akhirnya kembali pada dunianya di mana Sasuke menatapnya datar dengan onyx nya yang terlihat lelah.
Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum mengangkat kedua tangannya dan memeluk lelaki itu perlahan. Ia tak ingin terburu-buru untuk merengkuh pria itu. Gadis pink ini ingin memastikan bahwa ini bukanlah mimpi yang sejak dulu diharapkannya. Semakin erat Ia memeluknya, semakin Ia yakin bahwa Sasuke lah yang dipeluknya saat ini. Bukan seorang pengkhianat desa dan juga seseorang yang hampir membunuhnya dulu.
Sasuke membalas pelukan Sakura dan menyelipkan kepalanya pada lekukan leher gadis tersebut. Dilingkarkan tangannya pada pinggang kecil Sakura. Hidungnya menyusuri helai-helai pink yang sejak dulu selalu ingin dihirupnya sedang bibirnya menciumi leher putih gadis kesayangannya.
"Aku sudah melakukan apa yang harus kulakukan," bisiknya. "Akan kulupakan kenanganmu dengan kazekage busuk itu,"
"Kau menjatuhkanku lebih sakit dari sebelumnya," Sakura balas berbisik diselingi dengan isakan kecilnya. "hubunganku dengan Gaara-sama tak seperti yang kau bayangkan. Kau bisa membunuhku sekarang juga jika aku berbohong,"
Dari balik helai pink gadisnya, Sasuke meliriknya. "Kau menguji kesabaranku."
Sakura kembali berbisik. "Egois,"
Pemuda tampan keturunan terakhir milik Uchiha ini tak berniat membalas kata terakhir Sakura. Ia hanya menginginkan Sakura. Gadis yang selalu membuatnya frustasi sejak Ia meninggalkan Konoha.
Bukan salah Sasuke, jika kini Ia menginginkan Sakura. Jika bibirnya mulai menjelajah dari leher gadis itu menuju rahang yang perlahan mendekati bibir pink lembab yang beberapa waktu tadi sempat dikecupnya. Bukan salahnya juga, jika Ia 'menandai' Sakura agar tak ada satupun yang merebutnya. Hakikat seorang Uchiha untuk memiliki apa yang seharusnya mereka miliki itu adalah mutlak. Dan prinsip itulah yang selalu Sasuke terapkan pada Sakura.
Tapi apapun yang mereka alami di masa lalu, saat ini tak ada yang melekat dibenak keduanya.
Ketika indra pengecap mereka kembali bertaut dengan mata perpejam, Sakura tahu Ia takkan pernah bisa dan takkan pernah mau melepaskan apa yang sudah dinantinya selama hampir separuh hidupnya. Ia hanya ingin menikmati buah yang telah lama Ia tanam. Bersama Sasuke yang telah memberikan tanaman itu banyak cobaan.
Tangan besar Sasuke melepaskan pinggang gadisnya, tautan bibir keduanya enggan Ia lepaskan. Perlahan namun pasti, Sasuke membuka resleting baju yang gadis itu kenakan dan mencoba menjelajah lebih jauh. Menandai gadis dibawahnya agar tak satupun orang merebut Sakura dari genggamannya.
Sakura sendiri membiarkan Sasuke melakukan apa yang Ia mau. Ia memberikan Sasuke akses menjelajahi bagian tubuhnya. Ketika Sasuke menggigit bibirnya dengan sedikit keras, reflek gadis itu membuka mulutnya. Lidah mereka saling bertaut, saling bertukar saliva dan ciuman itu berubah menjadi lebih panas, saat Sasuke mulai menggerakkan tangannya lalu meremas bagian dada Sakura. Membuat gadis itu mendesah tertahan dengan ciuman Sasuke.
Aktifitas mereka yang mulai panas bisa saja berlanjut jika saja—
"Sakura, apa masih—Err.. maaf mengganggu,"
—Kagebunshin milik Naruto tidak merusak suasana baik yang baru saja terjalin.
Pemuda keturunan Uchiha terakhir itu menjauhkan diri begitu Naruto membuka pintu tanpa mengetuknya lebih dulu dan langsung membuat moodnya jatuh seketika. Sakura sendiri berusaha mengatur nafas dan menurunkan tangannya dari leher Sasuke.
Bahkan Sasuke berjanji akan membunuh musuh yang membuat keadaan begitu genting disaat hangat yang baru saja Ia dapatkan bersama Sakura.
"Kurasa kalian mengerti dengan kondisi yang kita hadapi saat ini. Jadi..yah.. tubuh asliku sepertinya membutuhkan kalian berdua." Ucapnya tidak enak dengan mata yang berrotasi tak tentu arah dan tangannya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Lima menit," tukas Sasuke dingin dengan sharingan yang aktif ketika melirik bunshin Naruto dari tempatnya.
Bunshin Naruto mendesah lelah mendapatkan deathglare dari Sasuke. "Baiklah, aku pergi." Ucapnya malas dan— BOOF, Ia kembali pada tubuh aslinya.
Sakura bangkit setelah Sasuke menjauhkan tubuhnya. Mereka saling bertatapan untuk beberapa saat sebelum Sasuke kembali angkat bicara.
"Rapihkan baju dan rambutmu. Kita pergi."
Ketika menyadari kalau dibagian atas hanya payudaranya yang masih tertutup, dengan wajah memerah Sakura segera menaikkan resleting bajunya. Diliriknya pemuda yang baru saja membuat keadaannya porak poranda itu dan Ia mendapati Sasuke menatapnya datar.
"Bagaimana dengan matamu? Proses pemulihan masih sepuluh persen lagi," tukas Sakura. Matanya mengikuti Sasuke yang berdiri dan berjalan menjauhinya.
Sasuke menoleh sebentar. "Kau bisa melanjutkannya nanti," kata Sasuke. "Hokage bodoh itu harus dibunuh lebih dulu."
Sakura tahu Sasuke hanya bercanda saat bilang ingin membunuh Naruto maka ia hanya tersenyum tipis mendengarnya. "Wakatta,"
Akhirnya setelah memastikan semuanya beres, mereka meninggalkan tempat tersembunyi tersebut setelah Sakura kembali menyegelnya agar tak ada satupun orang yang tak dikehendaki Naruto bisa menjamah tempat itu.
.
.
—Naruto hanya bisa menggaruk tengkuknya saat kembali mendapat tatapan mematikan Sasuke. Memang siapa juga yang mau mengganggu dua singa yang sedang —hendak— bercinta? Salahkan saja bunshin Naruto yang dengan lancang masuk ke dalam ruang pengobatan tanpa permisi.
"Mana kutahu kalau kalian sedang—arrghh jangan memukul kepalaku!" teriak Naruto begitu Sakura mendaratkan pukulan keras pada kepala durennya.
"Tak perlu dijelaskan," desis Sakura dengan wajah memerah.
"Tapi tak perlu memukul kepalaku!" seru Naruto heboh.
Kakashi tersenyum dibalik maskernya. "Kalian sudah dewasa, ya."
"Sensei, ini bukan saatnya untuk membahas itu, 'kan?" ucap Sakura malas.
"Yah, gejolak masa muda memang tak bias ditahan," lanjut Kakashi lagi.
Sakura memutar bola matanya. "Terserah saja."
"Jadi.. apa yang akan kita lakukan dengan mereka?"
Naruto masih mengusap kepalanya ketika Sai bertanya. "Bawa ke penjara desa untuk sementara. Hukuman akan di tetapkan beberapa hari setelah pertemuan gokage," jelasnya. Lalu Ia menoleh pada Shibi dan Shino. "Kalian bisa kembali pulang. Terima kasih atas bantuannya,"
"Sudah menjadi kewajiban kami, hokage-sama." Kata Shibi. "Kalau begitu kami pergi,"
Naruto mengangguk dan akhirnya kedua orang itu pulang untuk beristirahat. Safir birunya menatap Sasuke masih dengan pandangan tidak enak. "Kau bisa melepaskan mereka berdua dan melanjutkan sesi pengobatan tadi,"
"Hn," respon Sasuke. Ia segera melemparkan kedua orang itu pada bunshin Naruto yang tersisa dan menonaktifkan sharingan nya sebelum berjalan meninggalkan tempat itu.
Sepertinya dia sangat marah. Batin pemuda rubah ini sweatdrop.
"Kau membangunkan singa tidur, Naruto." Bisik Sai.
"Aku tahu," Naruto balas merengut lalu menghela nafas. "Sakura, susul Sasuke dan segera obati matanya,"
Sakura mengangguk lalu menyusul Sasuke yang mulai jauh. "Baiklah kalau begitu. Aku pergi,"
"Sai dan Kakashi-sensei juga sebaiknya pulang dan istirahat. Aku memberikan kalian libur beberapa hari untuk memulihkan stamina,"
"Domo," balas Said an Kakashi hanya mengangguk sebagai jawaban.
Merasa semua masalah telah selesai, mereka bertiga memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut. Malam ini merupakan malam yang melelahkan bagi mereka. Mendapatkan fakta baru dari salah satu klan ternama di Konoha merupakan sesuatu yang menarik. Setidaknya, sejarah baru akan kembali masuk dalam ruang lingkup Konoha.
.
TBC
Astaga. Hampir setahun saya ninggalin fic ini. Jujur aja saya ngerasa bersalah banget dan kaya punya utang.
Maaf banget buat para reader dan reviewer yang selalu nagih fic ini. Waktu dan mood ngebatasin saya buat lanjutin ini /alasan. Saya juga ga bisa bales satu-satu. Makasih banget udah mau review. Yaampun saya terharu pas baca kotak review dan isinya bikin saya semangat buat lanjutin fic ini.
Seems agak vulgar di chapter ini. Lagi nyoba buat bikin fic lemon '-')/ *plak. Maaf saya ga pinter bikin adegan hot jadi cuma alakadarnya aja.
Timingnya pas atau ngga itu tergantung kalian yang baca gimana. Selain itu, di chap ini saya fokusin buat flashback klan Aburame sama kejadian selama sesi pengobatan SasuSaku.
Ah ya, sedihnya Naruto manganya udah tamat :'). Saya kepikiran dan bener-bener ngerasa kehilangan karna Naruto udah nemenin saya dari kecil.
HAAAAA AKHIRNYA MEREKA CANON. ANAKNYA CANTIK BANGET *dance*/no.
Sekali liat aja udah keliatan banget muka Sasukenya. padahal saya pengennya SasuSaku anaknya laki-laki biar dapet sifat dingin khas Uchiha.
Dan kenapa pula si pantat ayam nan mempesona, menggoda iman itu harus mirip Madara pas tua nya. Sedih saya.
Semenjak Naruto manganya tamat, saya jadi rajin nyari2 fanartnya lagi terutama Sasuke. Padahal udah hampir 2000 pic di pc.
Animenya katanya masih lanut kan tahun depan? tentang era baru setelah perang. yah dtunggu aja semoga bagus seperti shippuden.
NB: Setiap chapter udah saya rombak /kecuali chapter ini/, jika berkenan, pembaca yang sudah membaca dari awal bisa membaca dan mereview kembali. Terutama untuk chapter 5 yang saya ganti.
Segitu aja yang bisa saya tulis. Review dari kalian sangat amat saya tunggu.
Sign,
M.
