My Wishes

Ooc, Gs, Typo, tidak sesuai EYD dll.

Main Cast : Luhan, Sehun, JongIn and Kyungsoo

Rated : T

Chapter : 10/21?

"Katakan sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Kai yang tidak sabaran.

"Kami tidak bisa menyelamatkan baby dan…" Dokter itu menatap Kai iba. "…sang ibu." Perkataan Dokter barusan bagaikan sebuah badai yang menghantam diri Kai. Semua orang yang ada disana tercekat kaget mendengar penuturan itu.

"Hahaha… anda pasti bercanda kan?" Tanya Kai sambil tertawa miris.

"Tidak. Maaf kami tidak bisa menyelamatkan Dyo-sii dan juga baby yang dikandungnya, pendarahan yang dialami Dyo-sii cukup berat." Jelas sang dokter.

"BAGAIMANA BISA? BUKANYA ANDA SEORANG DOKTER?" Teriak Kai sambil mencengkram kerah sang dokter.

"Kai… Kai… Hey…" Minho, Onew dan Sehun mencoba menarik Kai menjauhi sang dokter.

"Mianhae. Saya dokter tapu saya bukan tuhan. kami sudah berusaha. Jika kalian ingin melihatnya silahkan masuk." Ucap sang Dokter sesaat sebelum meninggalkan kerumunan orang itu.

"Lepaskan!" Kai menghentakan tangannya yang di pegangi oleh Sehun dan Minho. Kai langsung berjalan masuk kedalam UGD. Salah seorang suster tengah membersihkan peralatan kedokteran yang penuh dengan darah segar.

Kai terus berjalan dan akhirnya matanya menangkap sesosok wanita yang tengah berbaring dikasur dengan beberapa peralatan kedokteran masih menempel ditubuhnya. Suster yang ada disana menatap Kai iba, mereka membiarkan Kai mendapatkan privasi untuk dirinya sendiri.

Kai melangkah gontai mendekati tubuh Dyo yang terlihat sangat pucat. Tangannya masih ditancapi infus dan selang untuk mendonorkan darah yang sepertinya sekarang tak berguna lagi, disampingnya terdapat layar pendeteksi detak jantung yang menampilkan beberapa garis lurus menandakan kalau jantung Dyo memang sudah tak berdetak lagi.

Kai merengkuh tangan kecil Dyo yang terkulai lemas. Betapa teririsnya hati Kai saat dia merasakan tangan Dyo yang mulai mendingin. Kai menundukan tubuhnya dan memeluk Dyo yang terbalut baju rumah sakit.

"Chagi… kenapa kau meninggalkanku? Kenapa kau membiarkanku sendiri? Kau tau aku tak bisa hidup tanpamu." Bisik Kai. Mungkin saat ini Kai terlihat seperti pria lemah yang tengah menyesali perbuatannya yang berakhibat sangat fatal, sangat fatal sampai – sampai dia membuat dua yang dicintainya pergi. Kai merutuki kebodohannya itu, jika tuhan mengijinkan dia ingin menukar nyawanya sendiri asalkan Dyo dan Babynya kembali.

Perasaan Kai kali ini tak karuan, dia ingin marah meluap – luapkan emosinya… tapi pada Siapa? Dia tak bisa menyalahkan tuhan yang sudah mencabut nyawa kedua orang yang paling dia cintai. Karena disini, saat ini, yang patut untuk disalahkan adalah dirinya.

Kai memejamkan matanya berusaha menahan air mata yang sedari tadi terus mendesak untuk keluar. Tapi tak bisa, dia tidak bisa menahan kesedihan dan penyesalah yang kian membuncah dalam hatinya. Kai membaringkan dirinya di sebelah Dyo dan memeluk wanita itu dengan erat.

"Chagi~ maafkan aku telah membuatmu terluka. Maafkan aku yang tak bisa menjagamu dan baby kita, bahkan aku harus kehilangan dia sebelum dia benar – benar lahir." Kai menghela nafas panjang seakan – akan udara disekitarnya menjadi sangat berat. Kai bangkit dan menatap Dyo dengan pandangan sendu.

Kai mulai mendekatkan wajahnya mencium setiap jengkal wajah Dyo, dai mulai kening, mata, hidung, pipi dan ciumannya berakhir pada bibir yang terlihat sangat pucat. Kai menciumanya dengan segenap perasaan, mungkin ini terakhir kalinya Kai bisa mencium Dyo. Pria itu melepaskan bibirnya dan memeluk Dyo dengan erat seakan – akan tak mau meninggalkan wanita yang ada dalam rengkuhannya itu.

"Hisk… aku mohon Dyo… bangunlah… aku tak bisa hidup tanpamu. Aku mohon…" Bisik Kai disela – sela isakannya. Kai terus memeluk Dyo dengan air mata yang terus jatuh dipipinya.

Tak ada suara lain disana hanya suara berisik monitor pendeteksi jantung yang terus mengeluarkan suara "TITTT" yang membuat Kai semakin teriris.

Kai masih memeluk tubuh Dyo, sampai tak sengaja matanya menangkaap sesuatu yang membuat Kai melepaskan pelukannya…

Sedangkan diluar ruangan terlihat beberapa wanita yang sedang menangis tersedu dibahu pasangan mereka. Apalagi Luhan dan Key, saat mereka mengetahui kalau Dyo sudah tidak ada mereka langsung menjerit dan meraung – raung (?) Tentu saja mereka belum siap untuk kehilangan Dyo.

"Chagi~ sudahlah… mungkin ini sudah menjadi kehendak tuhan." Ucap Sehun mencoba menenangkan sang wanita.

"Tapi… kenapa harus sekarang? Kenapa tuhan mengambil Dyo secepat ini? Dyo bahkan belum meraih cita – citanya."

"Shhh… mungkin tuhan mempunyai maksud lain dibalik kejadian ini…"

Semua orang yang ada disana tengah menangisi kepergian Dyo yang begitu mendadak dan tidak pernah terpikirkan sebelumny amereka akan kehingan Dyo secepat ini.

Tiba – tiba saja pintu UGD dibuka dengan kasar menampakan Kai yang berjalan keluar dari ruangan.

"DOKTER! DOKTER!" Teriak Kai membuat semua yang ada disana mendongak kearah Kai. Tak lama kemudian dokterpun berlari kearahnya.

"Wae yo?" Tanya sang dokter.

"Jantung Dyo kembali berdetak dok." Ucap Kai. Sang dokter terbelalak kaget, bagaimana bisa? Dokter itu yakin sekali kalau tadi Dyo memang sudah menghebuskan nafas terakhirnya.

"jangan mengada – ngada." Ucap Dokter masuk diikuti oleh Kai. Keterkejutan sang dokterpun memang tidak berhenti sampai disana, dia melihat monitor detak jantung itu kembali bergerak, menendakan adanya detak jantung walaupun sangat lemah.

"That's impossible." Gumam sang dokter. Tak lama kemudian beberapa suster yang tadi menangani Dyo kembali masuk ke UGD itu. Mereka membelakan mata, tak percaya dengan apa yang sedang terjadi.

"Maaf tuan, silahkan anda tunggu diluar."

"Tapi saya ingin melihat dia."

"Maaf tuan, silahkan tunggu diluar." Mau tidak mau Kaipun keluar dari ruang UGD, karena jika dia diam disana dan terus memaksa itu hanya akan menghambat pekerjaan dokter.

"Kai… apa yang kau katakan benar?" tanya Key saat melihat Kai yang baru keluar.

"Ne, ahjumma. Jantung Dyo kembali berdetak walaupun sangat lemah, aku tidak tau apa yang terjadi pada Dyo karena suster itu menyuruhku keluar…." Kai menghela nafas dan kembali menatap ke kaca kecil yang ada disana. "… aku hanya berharap Dyo masih tetap bisa bersama kita." Lanjutnya.

Semua orang yang ada disana menatap Kai sambil menghela nafas, dalam hati mereka berdoa agar Dyo bisa diselamatkan. Walau kecil kemungkinannya, tapi mereka terus berharap agar tuhan mendengar apa yang mereka doakan. Kai sama sekali tidak bisa tenang, dia masih terus memikirkan keadaan Dyo didalam sana, menit – menit berlalu dengan sangat lambat, seperti mengejek Kai yang terus saja terduduk resah, karena dokter tak kunjung membuka pintu itu. Oh god… aku mohon kali ini saja, kabulkan doaku, aku masih ingin melihatnya tersenyum, aku masih ingin melihat tatapan mata indahnya. Aku mohon dengan segala kerendahan diri, aku memohon padamu untuk menyelamatkan Dyo. Untuk kali ini saja tuhan… tolong dengarkan permintaanku. Kai menautkan kedua tangannya dan terus berdoa pada sang pencipta, meminta agar Dyo diselamatkan.

KLEK

Suara pintu dibuka terdengar membuat Kai mendongak dengan cepat. Kai bangkit dan menghampiri dokter yang baru saja berjalan keluar ruangan.

"Bagaimana keadaan Dyo?" Tanya Kai. Sang dokter membuka kaca matanya dan menatap Kai.

"Aku tidak bisa menjelaskan ini secara medis, karena tentu saja secara medis ini tidak mungkin terjadi. Kami sudah menyatakan kalau saudari Dyo telah meninggal sekitar 7 menit yang lalu…" sang dokter menatap jam tangannya sekilas dan kembali memandang Kai. "Tapi sepertinya kami harus menarik kembali pernyataan itu karena saudari Dyo selamat, jantungnya kembali berdetak…" Ucap sang Dokter membuat semua orang yang ada disana mendesah nafas lega. "… tapi maaf, kami tidak bisa memprediksi kapan dia akan sadar." Lanjut sang dokter.

"Apa maksud anda dok?" Tanya Onew. Sang dokter menatao Onew sekilas dan menatap Kai.

"Mungkin Dyo akan mengalami koma dan kami tidak bisa memastikan kapan dia akan sadar." Jawab sang dokter.

"Bisa saya melihatnya dok?" Tanya Kai tak sabar. Dokter hanya tersenyum dan menyentuh pundak Kai.
"Tentu saja tapi nanti saat dia sudah dipindahkan ke ruang inap." Kaipun mau tidak mau mengangguk dan menerima perkataan dokter.

"kalau begitu saya permisi dulu." Ucap sang dokter. Semua orang yang ada disana mengangguk dan menatap sang dokter yang mulai berjalan meninggalkan mereka.

Tak lama kemudian ruang UGD kembali terbuka dan terlihat seorang suster berjalan mundur dengan menarik sebuah kasur. Kai menatap kearah pintu, dia menatap seorang wanita yang terkulai lemas dengan banyak peralatan medis menancap di tubuhnya. Dua orang suster itu membawa Dyo menelusuri lorong. Kai dan semua orang yang ada disana mengikutinya. Tak lama kemudian mereka masuk ke ruang inap VIP dirumash sakit ini. Sang suster kembali sibuk menempatkan peralatan medis disekitar Dyo, infus, tabung oksigen, pendeteksi jantung dan semua hal yang tidak ingin Kai ungkapkan.

Setelah selesai dengan urusannya suster itupun pamit dan meninggalkan ruangan.

"Kai, kau pulanglah dulu, lihatlah betapa berantakannya dirimu." Ucap Taemin. Kai mendongak dan sesata kemudian menggeleng pelan.

"Tidak umma, aku ingin menemani Dyo. Aku ingin menjaganya." Ucap Kai.

"Tenang saja, umma dan Key akan menjaganya. Sekarang kau pulang dulu ne?" Bujuk Taemin.

"Iya, istirahatlah dulu, besok kau bisa kembali kesini." Timpal Key. Kai mendesah pelan dan mendekati Dyo sesaat. Dia mengecup kening Dyo dan berbisik pelan.

"Chagi~ besok aku akan kembali lagi." Dan tanpa mengatakan sepatah kata apapun Kai meninggalkan ruang inap. Sehun dan Luhan saling memandang dan mengangguk pelan.

"Ahjumma… ahjussi… saya dan Sehun juga akan pulang." Ucap Luhan.

"Ne." Luhan dan Sehunpun berpamitan dan menyusul Kai meninggalkan ruang inap.

"Aku tidak percaya dengan semua ini. Tadi dokter mengatakan kalau Dyo sudah meninggal dan saat Kai masuk Dyo kembali. Bukankah itu aneh?" Tanya Luhan saat mereka berjalan menuju tempat parkir.

"Itu tidak aneh sayang, tapi itu sebuah keajaiban. Kau tau? Cinta antara mereka yang membawa Dyo kembali."

"Tapi… bukankah mereka baru saja bertengkar dan Kai bilang kalau dia mencium wanita lain didepan Dyo. Bukankah itu bisa dikatakan sebuah pengkhianatan?" Tanya Luhan.

"Benar sekali. Tapi cinta antara mengubur semua pengkhianatan yang dilakukan Kai. Kau tau? Bahkan tuhanpun mengijinkan Dyo untuk bisa terus bersama Kai dan kita semua disini, jika Tuhan merasa kalau mereka tidak akan bisa bersatu pasti Tuhan tidak akan membawa Dyo kembali pada kita." Jelas Sehun. Luhan menganguk, mungkin apa yang dikatakan Sehun memang benar. Tapi entah kenapa otak dan hati Luhan tidak bisa menerima apapun alasan yang akan diberikan Kai atas kelakukannya itu. Dia sudah menyakiti temannya dan membuat Dyo kehilangan bayi bahkan hampir kehilangan nyawanya sendiri. Luhan menggeleng pelan, jika saja Kai yang tadi membuat Dyo kembali, dia bersumpah akan membunuh Kai dan menjadikannya makanan hiu.

"Hey… lihatlah bukankah itu mobil Kai?" Tanya Sehun membuyarkan lamunan Luhan. Sang wanita mengikuti arah pandangan Sehun dan menemukan mobil Kai.

"Apa sebaiknya kita menghampiri dia? Kau tau? Kai terlihat sangat kacau, mungkin dia merasa bersalah." Ucap Sehun. Luhan menganguk dan merekapun berjalan mendekati mobil Kai. Luhan mengetik pintu kaca mobil Kai.

Kai yang ada didalam mendongak dan memandang keluar. Dia menemukan Sehun dan Luhan berada disana. Kaipun membuka pintu kaca mobilnya.

"Wae?" Tanya Kai dengan suara serak.

"Apa kau baik – baik saja?" Tanya Luhan melihat Kai yang begitu berantakan.

"Sepertinya tidak." Jawab Kai pelan dan langsung mengalihkan pembicaraan. "Ada apa datang menghampiriku? Apa kau berniat untuk membunuhku?" Tanya Kai datar tanpa ekspresi. Luhan mendesah nafas panjang, dia tidak tau harus marah atau prihatin dengan keadaan Kai sekarang ini.

"Tidak, mungkin tidak sekarang, aku yakin nanti saat Dyo bangun dia membutuhkan penjelasan darimu." Jawab Luhan.

"Kai. Kau terlihat sangat kacau, apa kau yakin bisa menyetir sendiri?" Tanya Sehun.

"Benarkah? Yeah.. aku juga merasakan kalau aku sangat kacau tapi tenang saja aku masih bisa menyetir." Jawab Kai sambil menebar pandangan ke seluruh tubuhnya kemudian menatap Sehun dan Luhan lagi.

"Aku sangat meragukan ucapanmu Kai, sudahlah biar kami mengantarkanmu." Sela Luhan. Kai menggeleng pelan dan tersenyum tipis.

"Gwenchana, aku masih bisa menyetir. Kalau begitu aku duluan." Tanpa menunggu jawaban dari Sehun dan Luhan, Kai menancap gas dan melesat meninggalkan mereka.

"Aish… seharusnya tadi aku benar – benar membunuh pria itu." Gerutu Luhan. Sehun hanya terkekeh mendengar Luhan terus menggerutu tentang Kai. Sehun merangkul pundak Luhan membuat sang wanita mendongak.

"Kita pulang sekarang?" Tanya Sehun. Luhan mengangguk dan merekapun menuju motor Sehun yang berada tak jauh dari sana. Sehun segera melesat pegi meninggalkan rumah sakit dan mengantarkan Luhan kembali ke rumahnya.

Hari ini Kai bangun lebih pagi, dia langsung mandi dan bersiap – siap. Bukan untuk pergi kesekolah tapi pergi ke rumah sakit, dia tidak sabar ingin bertemu dengan Dyo. Kai segera keluar dari rumahnya dan pergi mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Kai sempat membeli seikat bunga lily favorite Dyo. Kai menelusuri rumah sakit sampai akhirnya dia sampai di kamar inap Dyo. Kai mengetuk pintunya pelan.

Saut – saut terdengar suara menyuruhnya masuk. Kaipun membuka pintu dan menyembulkan kepalanya. Ternyata disana masih ada Key ahjumma.

"Annyeong ahjumma." Sapa Kai sambil masuk kedalam.

"Annyeong Kai. Kau tidak masuk sekolah?" tanya Key yang sedang merapikan tempat tidur.

"Tidak ahjumma, aku sudah ijin pada dosen untuk menemani Dyo." Jawab Kai. Key mengangguk dan menarik selimut Dyo menutupi tubuh wanita itu sebatas dada.

"Ahjumma pulanglah, biar aku yang menjaga Dyo. Aku tau ahjumma pasti kelelahan." Key mengangguk dan mengambil tasnya.

"Kalau begitu ahjumma titip Dyo ne? kalau ada apa – apa cepat hubungi ahjumma."

"Ne. ahjumma aku pasti akan menghubungi ahjumma." Keypun meninggalkan Kai dan Dyo di ruang inap.

"Chagiya~ annyeong." Sapa Kai pada Dyo yang masih diam tak berkutik ditempat tidurnya. Kai berjalan mendekati ranjang Dyo dan menaruh bunga itu dimeja. Kai duduk di kursi yang ada disamping ranjang dan menggenggam tangan Dyo. Saat tangan mereka bersentuhan Kai merasakan tangan Dyo yang tadinya hangat menjadi lebih dingin dan lemas. Setitik perasaan bersalah itu kembali terasa dalam hati Kai membuat dirinya merasakan tidak ada nuansa kebahagiaan sama sekali.

"Mianhae." Entah sudah berapa kali Kai mengucapkan kata itu pada Dyo, semuanya karena dia merasa sangat dan sangat bersalah pada sang wanita. Kai benar – benar terperangkap dalam rasa bersalah yang kini kian membuncah. Kai menatap Dyo yang tertidur dengan damainya, wajah sang wanita yang biasanya bersemu merah kini menjadi sangat pucat. Hidung dan mulutnya tertutup oleh oksigen, tangannya ditancapi oleh beberapa jarum yang mengalirkan cairan kedalam tubuhnya.

"Dyo-ah cepatlah bangun. Aku ingin menjelaskan semuanya padamu, aku mohon." Bisik Kai. Sang pria bangkit dan memperpendek jarak anara mereka. Kai mencium kedua kelopak mata Dyo dengan lembut dan penuh kasih sayang.

"Kumohon bangunlah." Bisik Kai sambil memeluk Dyo. "Aku seperti mayat hidup jika tanpamu." Lanjutnya.

Kai duduk disamping Dyo dan terus menatap sang wanita tanpa merasa bosan, seolah – olah Dyo adalah sebuah permata yang tak akan pernah bosan untuk dilihat. Tapi sayang Dyo tidak menampakan tanda – tanda kalau dia akan bangun dan membalas tatapan Kai.

Sudah lima hari berlalu dan sudah lima hari juga Kai tidak masuk sekolah, karena dia lebih memilih menghabiskan waktunya untuk menunggu Dyo. Dia ingin saat Dyo bangun Kailah yang pertama kali dilihatnya walaupun Kai sudah memikirkan beberapa reaksi Dyo saat dia bangun. Dan dugaan terburuk adalah Dyo membenci Kai. Membenci Kai. Mungkin dua kata itu harus digaris bawahi karena kata – kata itu terus saja menghantui Kai setiap dia berpikir. Sungguh, Kai tidak bisa memikirkan bagaimana nasib dirinya jika Dyo memang benar – benar membencinya.

"Chagiya… kumohon bangunlah, jangan membuatku seperti ini." Ucap Kai sambil mengelus tangan Dyo dan sesekali mengecupnya sayang.

Suara pintu dibuka mengagetkan Kai membuat pria itu mendongak. Dia menemukan seorang wanita yang tak ingin dia lihat sekarang malah berdiri dihadapannya. Krystal. Dia sedang berada di ambang pintu menatap marah kearah tangan Kai yang sedang menggenggam tangan Dyo.

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Kai. Krystal berjalan masuk dan berdiri dihadapan Kai.

"Aku akan membawamu, tentu saja. Kau tau dosen selalu menanyakanmu karena beberapa hari ini kau tidak masuk." Kai hanya tersenyum mengejek.

"Apa urusanmu hah?"

"Tentu saja karena aku mencintaimu." Sergah Krystal.

"Tapi maaf aku sama sekali tak mencintaimu." Tapi saat Krystal menanggapinya dengan senyuman meremeshkan.

"jika tidak kenapa kau membalas ciumanku tempo lalu hah?" Tubuh Kai menegang, pikirkannya kembali pergi ke beberapa hari yang lalu.

"Jangan membahas hal itu lagi?" desis Kai. Krstal semakin memperlihatkan senyuman kemanangannya dan melipat kedua tangannya didada.

"Kenapa? Merasa bersalah padanya? Kalau begitu tinggalkan saja dia toh masih ada aku yang lebih baik, bukan?" Kai mendengus kesal.

"Tentu saja aku merasa sangat bersalah karena itu aku akan terus bersamanya. Aku bahkan rela menjadi pelayan seumur hidup untuk menghapus semua dosaku."

"Sia – sia saja, dia aku menjadi dia, aku yakin akan meninggalkanmu. Kau tau? Seorang wanita tidak akan bisa memaafkan pasangannya dengan mudah." Tanya Krystal dengan genitnya.

"Cih… Dyo bukan wanita sepertimu dan aku ingatkan kau satu hal aku tak akan pernah melakukan hal menjijikan itu lagi. Sekarang pergi." Ucap Kai sambil menunjuk pintu keluar. Krystal membelalakan matanya mendengar Kai mengusirnya.

"Kau? Mengusirku?" Tanya Krystal.

"menurutmu? Aku yakin kau itu pintar jadi kau tau dimana pintunya." Krystal merasa marah saat Kai mengusirnya. Dan –sialnya- mata tajam Krystal menangkap sebuah pergerakan kecil dari Dyo yang sama sekali tak disadari oleh Kai.

Mungkin karena otak Krystal yang pintar dia langsung mendatapkan sebuah ide cemerlang. Menurutnya. Krystal menarik Kai agar menabark dirinya kemudian dengan cepat dia menempelkan bibirnya ke bibir tebal Kai.

Tanpa mereka sadri Dyo baru saja membuka matanya dan betapa sakitnya Dyo saat pertama kali dia kembali membuka matanya, dia disuguhkan dengan pelandengan yang membuat hatinya bagaikan diiris oleh sebilah pisau berkarat. Sakit. Tidak tapi jauh lebih dari itu.

"Lepaskan aku!" Tiba – tiba saja Kai mendorong Krystal membuat wanita itu melepaskan cengkramannya.

"Wuuhhh… setidaknya dia melihat semua ini untuk kedua kalinya." Ucap Krystal menatap Kai tapi sedetik kemudian matanya tertuju pada Dyo. Kai mengikuti arah pandangan Krystal dan menemukan Dyo tengah menatapnya dengan mata yang berkaca – kaca.

"Dyo-ah kau sudah sadar?" tanya Kai sambil menghampiri Dyo. Sang wanita terus menatap Kai tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Kai berniat menyentuh tangan Dyo. Tapi dengan lemas Dyo menepisnya. Entah kekuatan dari mana Dyo membuka oksigen yang membantu pernapasannya.

"Pegilah dari sini… aku tak membutuhkanmu." Bisik Dyo dengan suara lemah.

"Lihatkan? Sudah kubilan juga apa. Dia tidak membutuhkanmu. Sudah Kai… ayo kita pergi." Serga Krystal membuat Kai dan Dyo menatapnya. Tapi Krystal tak mengubrisnya, dia malah menarik tangan Kai.

Tapi dengan cekatan Kai menepis tangan Krystal.

"Kau! Pergilah dari hadapanku!" Ucap Kai dengan nada marah yang tak bisa ditutupi dari suaranya.

"Baiklah tapi aku yakin kau akan jatuh padaku." Ucap Krystal. Dan dengan itu wanita cantik nan tinggi satu itupun pergi. Kai menggeleng pelan dan kembali menatap Dyo.

"Chagi-ah, bagaimana keadaanmu? Apa ada yang sakit? Haruskan aku panggilkan dokter?" Rentetan pertanyaan itu keluar dair mulut Kai sedangkan Dyo masih menatapnya dengan mata yang berkaca – kaca.

"Apa yang terjadi? Apakah dia masih ada disini?" Tanya Dyo dengan suara bergetar dan mengusap perutnya. Kai terlojak kaget, bagaiman cara dia menjelaskan pada Dyo kalau Babynya sudah tak ada disana. Dia sudah kembali ke sisi tuhan? Oh… Jujur saja Kai belum bisa menjelaskan ini.

"Jawab aku Kai…" Ucap Dyo masih dengan suara lemah. Kai menatap Dyo dengan perasaan bersalah.

"Maafkan aku, tapi… baby kita tak bisa diselamatkan." Ucap Kai. "Dia sudah kembali ke surga." Dyo terdiam seribu bahasa, dia tidak mengatakan sepatah katapun. Dyo menatap hanya menatap mata Kai, menatapnya dengan pandangan kecewa yang sangat besar. Sedetik kemudian Dyo membuang pandangannya dan berkata pelan.

"Baby maafkan umma karena tak bisa menjagamu." Bisik Dyo sangat pelan.

"Pergilah, aku tak ingin melihatmu. Pergilah dengan Krystal-sii jika itu yang membuatmu senang. Aku berjanji aku tak akan melarang dan ikut campur masalah kalian."

"Dyo… tapi aku dan Krystal tidak…"

"Sttt" Potong Dyo.

"Tunggu, biarkan aku jelaskan semuanya." Sela Kai.

"Kau masih ingin menjelaskannya setelah dua kali aku melihatmu bercumbu denganya?" Tanya Dyo mulai menaikan suaranya. Dyo melepas oksigen yang menurutnya menganggu dan mulai melanjutkan pekataannya. "Tidakkah kau tau betapa sakitanya hati ini? Pernahkah kau merasakan sakit yang sedang aku rasakan saat ini." Dyo mulai terisak pelan. "Pernahkah kau merasakan bagaimana orang yang kau cintai mengkhianatimu? dan disaat yang bersamaan kau kehilangan bayi yang masih dikandung olehmu? Bisakah kau bayangkan bagaimana perasaanku saat ini?"

Kai bungkam, dia sadar. Dia sudah terlalu banyak menyakiti Dyo. Dia sudah terlanjur membuat wanita itu merasakan bagaimana sakitnya kehilangan dan pengkhianatan.

"Mianhae, jeongmal mianhaeyo. Tapi aku dan Krystal…"

"Sttt… aku mohon. Jangan membahas dan menyebut wanita itu."

"Tapi aku harus jelaskan semuanya."

"Tidak ada yang perlu dijekaskan Kai, kau tau aku sudah melihat semuanya. Keluarlah, aku tak ingin diganggu." Ucap Dyo dan membalikan badannya yang sebanarnya masih sangat lemah dan kembali memakai oksigen karena nafasnya mulai tersedat - sendat. Kai mendesah, dia tau kalau keadaan Dyo belum benar – benar pulih.

"Baiklah aku akan keluar." Ucap Kai sambil melangkahkan kakinya menjauhi Dyo. "tapi aku tak akan meninggalkanmu." Tanpa Kai sadari Dyo menteskan air matanya. Sebenarnya Dyo tidak mau Kai pergi hanya saja… sakit dihatinya mengubur semua perasaan itu.

Dilain pihak Kai memanggil dokter untuk memastikan keadan Dyo karena tadi sang wanita masih terlihat sangat lemas. Setelah memastikan kalau Dokter dan suster masuk ke ruangan itu, Kai langsung menelphone Luhan. Dia menyuruh wanita itu datang ke rumah sakit, Kai juga mengabarkan kalau Dyo sudah sadar. Kai hanya bisa duduk didepan sesekali menatap keadaan Dyo dari celah pintu yang terbuka. Dokter dan suster masih sibuk memeriksan keadaan Dyo. Terlihat kalau sekarang oksigen yang Dyo gunakan sudah diganti dengan yang lebih kecil. Tak lama waktu berselang terlihat Luhan dan Sehun berlari tergesa – gesa menghampiri Kai yang sedang tertunduk lesu.

"Kai… kenapa kau diluar?" Tanya Luhan sambil menyentuh pundak Kai.

"Karena dia tak ingin melihatku." Jawab Kai. Luhan terlihat ikut sedih mendengar penuturan Kai. Tak lama kemudian suara pintu dibuka terdengar membuat ketiga orang itu mendongak.

"Dokter bagaimana keadaan Dyo?" Tanya Kai.

"Kondisinya sudah membaik hanya saja dia masih lemas, kalau boleh saya menyarankan, jangan buat Dyo-sii tertekan kalau tidak keadaanya akan kembali memburuk." Jawab sang dokter.

"Apa Dyo masih harus tinggal di rumah sakit? Karena saya yakin Dyo akan merengek – rengek ingin cepat pulang." Tanya Luhan.

"Tentu saja, dia harus menjalani proses pemulihan rahim, karena kejadian kemarin rahimnya menjadi lemah. Tapi mungkin itu hanya memakan waktu 1 minggu." Tutur sang dokter. Luhan, Sehun dan Kai megangguk.

"Kalau begitu saya permisi dulu, jika kalian mau masuk, masuk saja hanya tidak boleh terlalu berisik."

"Ne, Dokter, khamsahamnida." Ucap Luhan sambil membungkukan badan. Luhan megang knop pintu, wanita itu ingin cepat – cepat bertemu Dyo, tapi dia mengurungan niatnya dan menatap Kai.

"Kai… bolehkah aku ma-."

"Masuklah, Dyo pasti membutuhkan teman, aku baik – baik saja." Sela Kai sebelum Luhan mengucapkan semua katanya. Wanita itu mengangguk dan masuk kedalam. Sehun yang masih ada disana duduk disamping Kai.

"Hey… aku tau bagaimana perasaanmu, aku pernah mengalaminya juga." Ucap Sehun sambil menepuk bahu Kai pelan.

"Yeah… mungkin bisa dikatakan sama, hanya saja kau tidak benar – benar menyakitinya, apa yang kau alami hanya sebuah insiden. Berbeda denganku…"

"Memangnya apa yang beda?" Kai menghela nafas panjang dan menegakan tubuhnya.

"Aku benar – benar mencium wanita lain didepan Dyo." Ucap Kai.

"Aku tau, tapi kau hanya mencintai Dyo seorang. Sekarang yang perlu kau lakukan hanyalah membuatnya diam dan mendengarkanmu. Oh… mungkin satu hal yang lebih sulit untuk dilakukan. Membuat dia kembali percaya padamu." Kai kembali menghela nafas. Itu dia yang aku tak yakin bisa lakukan. Mungkin aku bisa membuat Dyo mendengarkan penjelasanku tapi aku tidak yakin bisa kembali mendapatkan kepercayaan darinya. Ujar Kai dalam hatinya.

"Berjuanglah, aku tau Dyo akan memaafkanmu." Ucap Sehun sebelum bangkit dan masuk kedalam ruangan inap menyusul Luhan.

Luhan baru saja masuk kedalam ruang inap Dyo. Dia melihat Dyo sedang berbaring diatas kasur. Terlihat bekas air mata masih tertingal dipipinya

"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Luhan sambil menutup pintu. Dyo menatap kearah Luhan dan tersenyum. Luhan melangkahkan kakinya mendekai Dyo.

"Aku sudah lebih baik, mungkin." Ucap Dyo sambil menaikan bahunya.

"Mungkin?"

"Kalau saja aku tidak melihat kejadian menjijikan itu aku yakin aku pasti akan jauh lebih baik." Ucap Dyo.

"Kejadian apa?" Tanya Luhan. Dyo diam matanya menerawang ke luar ruangan melalui jendela.

"Kai melakukannya lagi…" Dyo menghela nafas panjang. "… dia mencium wanita itu tepat saat aku membuka mata." Luhan tercekat.

"Apa – apaan dia? Apa dia mau mati?" Tanya Luhan hendak berbalik keluar tapi tepat saat itu Sehun masuk.

"kau mau kemana?" tanya Sehun heran.

"Aku ingin menghajar Kai." Jawab Luhan sambil berjalan melawati Sehun. Tapi sang pria menahan tangannya.

"Hajima…" ucap Dyo lemah. Sehun dan Luhan menatap Dyo.

"Hajima, biarkan saja dia." Ucap Dyo. Luhanpun mengurungkan niatnya dan berjalan mendekati Dyo.

"Kenapa? Bukankah dia pantas mendapatkan pelajaran?" Tanya Luhan.

"Tidak usah, tuhan akan membalasnya untukku." Ucap Dyo. Luhan duduk disamping Dyo dan menatap wanita itu tak percaya.

"Kau tau dia sudah berselingkuh didepanmu tapi kau masih saja membelanya." Ucap Luhan. Dyo hanya membalasnnya dengan senyuman tipis.

"Chagi~ Kai tidak berselingkuh." Ucap Sehun mulai angkat bicara.

"Apa maksudmu? Sudah jelas dia berselingkuh." Sela Luhan.

"Entahlah, aku hanya berpendapat kalau Kai tidak selingkuh, aku pria dan aku juga kenal Kai walau kita memang belum lama kenal tapi aku sudah tau bagaimana sikap Kai." Dyo hanya bungkam mendengar penuturan Sehun barusan. Dia juga marasakan hal yang sama… tapi sayang, hatinya sudah terlanjur sakit. Dyo ingin sekali menghirup udara bersih dan segar yang bisa menyegarkan pikirkannya, bukan menghisap udara dari tabung oksigen ini.

"Aku memang tak mengerti pikiran para pria." Desah Luhan.

"Bisakah aku pulang sekarang?" Tanya Dyo. Luhan menggeleng pelan.

"Tidak, dokter mengatakan kalau kau harus menjalani pemulihan rahim." Ucap Luhan. Dyo mendesah nafas panjang. Dia sudah mengira hal ini.

"Em… tapi Dyo… em… apa kau sudah tau kalau… janin.." Dyo mengangguk mengerti dengan ucapan Luhan.

"Aku sudah tau, aku keguguran." Dyo kembali mengalihkan pandangannya keluar. Jujur aja dia sedang menahan tangisannya, dia tak mau orang – orang mengasihaninya.

"Mianhae, aku turut sedih." Ucap Luhan. Dyo kembali memandang sahabatnya itu.

"Gwenchana… setidaknya dia sudah berada disamping tuhan, dia juga mengatakan padaku kalau dia sangat mencintaiku." Luhan mengerutkan keningnya tak mengerti.

"Mengatakan?"

"Ah… mungkin saat aku koma, baby itu datang padaku. Mata dan bibirnya sama denganku tapi hidung, rambut dan kulitnya mirip Ka…" Dyo tidak menyelesaikan perkataanya, dia sedang tidak mau membahas tentang pria itu. Cepat – cepat Dyo menglihkan pembicaraannya. "… dia bilang kalau dia sangat mencintaiku, walaupun waktu yang kita punya sangatlah singkat tapi dia mengatakan kalau dia sangat mencintaiku… aku juga sempat meminta maaf karena aku tidak bisa menjaganya dengan baik… hisk…" Sebuah isakanpun keluar dari bibir Dyo. Luhan dan Sehun saling berpandangan dan dengan segera Luhan mengusap tangan Dyo pelan mencoba menenangkannya.

"Mianhae, karena aku kembali menyinggung masalah ini." Ucap Luhan.

"Hisk… aku bodoh… aku umma yang bodoh, aku tidak bisa menjaga babyku bahkan sebelum dia benar – benar menghirup udara didunia ini."

"Tidak… Dyo… kau tidak bodoh, Kai yang bodoh, seharusnya dai bisa menjagamu bukan malah berselingkuh dibelakangmu."

"Tidak… aku mohon, jangan bicarakan pria itu lagi, anggap saja aku tidak pernah ada urusan dengannya, jebal…"

Luhan dan Sehun saling bertatapan. Dyo menatap mereka dengan butiran kristal yang menumpuk dipelupuk matanya.

"Arraseo… sebaiknya sekarang kau istirahatlah, dokter bilang kalau kau tidak boleh memikirkan sesuatu yang berat dulu." Ucap Luhan mendorong Dyo pelan agar kembali tidur diatas bantalnya.

"Benar apa kata Luhan sebaiknya kau istirahat, dengan begitu kau akan cepat pulang." Dyo mengangguk. Benar, cepat pulang itu tujuan utama Dyo.

Luhan dan Sehun menunggu Dyo sampai wanita itu benar – benar telelap.

"Sepertinya dia sudah tertidur." Bisik Sehun pada Luhan. Sang wanita mengangguk, Dyo memang sudah tertidur dengan lelap, terlihat dari nafasnya yang sudah teratur.

"Kajja kita keluar." Bisik Luhan sambil mengambil tas yang diletakan dimeja.

Pintupun dibuka, Kai yang sedari tadi ada disanapun sedikit terlonjak. Dia menemukan Luhan dan Sehun keluar.

"Bagaimana keadaan Dyo?" Tanya Kai. Luhan mendengus pelan.

"Bisakah kau tidak melakukannya didepan Dyo? Tidak cukupkah kau menyakitinya? Setelah kau selingkuh dibelakangnya, membuat janin Dyo keguguran bahkan sampai koma dan sekarang… kau malah mencium wanita itu didepan Dyo untuk kedua kalinya. Kemana otak pintarmu itu Kai?" cecar Luhan.

"Hey.. Hey.. sudah. Ini masih ada dirumah sakit, kau boleh mencecarnya lagi tapi tidak disini chagi." Ucap Sehun mencoba menenangkannya.

"Tunggu? Aku apa?" Ucap Kai kaget. "Aku tidak mencium wanita itu, Dia yang menyerangku duluan, aku bahkan mencoba menjauhkan diri darinya." Lanjut Kai.

"Bagaimana aku bisa mempercayaimu hah? Dyo melihatmu dengan mata dan kepalanya Kai! Sekarang bagaimana aku bisa mempercayaimu hah?"

"Kau bisa melihat rekaman sisi tv, aku benar – benar tidak melakukannya. Percayalah padaku." Tungkas Kai.

"Aku bisa menunjukannya. Aku yakin kamera menangkap semuanya." Lanjut Kai. Luhan menghembuskan nafas panjang.

"Tidak usah, kau tidak perlu menunjukannya padaku, mungkin aku bisa saja mempercayaimu, aku yakin kau tak akan sampai sekejam itu, tapi Dyo… aku merasa dia sudah tidak pernah mempercayaimu." Ucap Luhan. Kai kembali terduduk. Bisakah dia tidak mengungkit – ungkit hal ini? Ujar Kai dalam benaknya.

"Aku sudah tau hal itu." Sehun menepuk pelan bahu Kai.

"Sabarlah, aku tau kau bisa menghadapinya." Kai hanya tersenyum tipis membalas perkataan Sehun.

"Kalau begitu kami pulang dulu, jika kau mau masuk, masuklah, Dyo sudah tidur." Ucap Luhan. Kai mengangguk dan berujar pelan.

"Gomawo."

"Ne."dan dengan itu, Luhan dan Sehunpun meninggalkan Kai.

Perlahan Kai masuk kedalam kamar inap Dyo. Dia mengendap – endap mencoba untuk tidak membuat suara sama sekali. Dia tidak ingin membangunkan Dyo dan mengusirnya lagi. Kai berdiri dihadapan Dyo, tangannya terulur untuk menyentuh rambut Dyo yang sedikit berantakan.

Dengan ragu Kai mengelus surai hitam milik Dyo. Kai tersenyum saat dia mengetahui kalau Dyo tidak bangun saat dia sentuh. Dyo memang tidur dengal lelap. Itulah pikir Kai.

"Haruskan selalu begini?" Gumamnya pelan. "Haruskan aku selalu datang disaat kau terlelap? Dan pergi saat kau terbangun? Melihat dan menjagamu dari luar sana? Tidak bisakah aku selalu berada disisimu?" Lanjutkan. Kai menghela nafas berat seakan – akan udara disekitarnya itu menjadi sulit untuk dihirup.

"Aku tau jawabnnya. Pasti tidak. Aku sudah terlalu banyak menyakitimu bukan? Aku sudah terlanjur membuatmu kecewa, aku sudah terlanjur membuat kepercayaanmu pergi bukan?" Kai terus berdialog sendiri sambil menahan gejolak air mata yang ingin keluar.

"Walaupun begitu, cintaku tetap untukmu. Walaupun seribu malaikat dan gadis cantik datang padaku, aku tetap, hanya akan memilihmu. Tetap. Dan akan selalu seperti itu."

Untuk beberapa saat Kai hanya duduk dan menatap Dyo yang tenang dan damai masuk kedalam alam bawah sadarnya. Sampai akhirnya Kai merasa kalau dia sudah terlalu lama ada disana, dia tidak mau kalau saat Dyo bangun melihatnya ada disana. Kaipun beranjak dair kursinya dan berujar pelan.

"Mungkin saat kau bangun, kau tidak ingin melihatku berada disini, aku akan berada diluar. Aku akan selalu berada untuk mengamatimu dari jauh." Dan dengan itu Kaipun meningalkan Dyo yang masih terlelap.

Tapi satu hal yang Kai tidak sadar. Sebenarnya Dyo sama sekali tidak tidur, wanita itu hanya pura – pura tidur dan memejamkan matanya. Setitik air matapun jatuh dipipi Dyo.

"Kau bohong Kai. Kau bohong! Jika kau memilihku kenapa kau melakukannya dengan Krystal?" Bisik Dyo pelan. Dan sebuah isakanpun keluar dai bibir penuh Dyo.

"Kau benar, Luka ini terlalu besar dan dalam. Aku sendiri tidak tau apakah aku bisa menyembuhkan luka ini atau tidak."

Saat bangun tersentak sambil berteriak. Membuat Kai yang ada disana langsung masuk kedalam. Dia menemukan Dyo dengan keringat yang bercucuran dan mata yang membelalak kaget.

"Gwenchana?" Tanya Kai. Dyo menatap kosong kearah Kai dan berujar pelan.

"Mana babyku?" Kai tersentak dan diam tak mengeluarkan sepatah katapun.

"Dyo-ah…"

"Mana?" Tungkas Dyo.

"Dyo-ah.. mianhae, tapi dia sudah kembali pada sisi tuhan." Dyo menatap Kai nanar. Butiran kristal sudah menumpuk dipelupuk matanya.

"Hisk… pergi Kai… pergi, aku tak mau melihatmu."

"Tapi Dyo…"

"PERGI! Kau tau! Setiap aku melihatmu aku menjadi teriangat pada bayiku." Teriak Dyo.

"Dyo-ah tenang dulu…"

"Tidak. Pergi!" Dyopun melemparkan semua yang ada didekatnya kearah Kai. Mau tidak mau namha itupun keluar.

"DOKTER! DOKTER!" Dengan cepat Kai memanggil dokter.

"Ada apa?"

"Liahtlah keadaan Dyo." Dokter menganguk dan langsung masuk kedalam diikuti satu orang suster. Kai menunggu dengan resah diluar ruangan, berharap kalah keadaan Dyo baik – baik saja.

Tak lama waktu berselang, sang dokter keluar dengan wajah yang menurutkan tidak akan membawa kabar baik.

"Ada apa dok? Apa Dyo baik – baik saja?" Sang Dokter menghela nafas.

"Dia mengalami stress mungkin karena dia terpukul karena kehilangan bayinya. Saya hanya bisa menyarankan agar selalu menamaninya, dia butuh seseorang untuk menemaninya agar stresnya tidak semakin besar. Satu hal lagi, sudah saya katakan dulu, jangan membuat Dyo untuk berpikir keras itu akan membuat keadaannya semakin memburuk." Penuturan sang dokter sangat sukses membuat Kai semakin terjerat dalam rasa bersalah.

"Baik dok. Saya mengerti."

"saya harap anda bisa menjaga Dyo." Ucap Sang Dokter sebelum dia meninggalkan Kai. Sang pria mengangguk dan detik berikutnya dia masuk. Kai menemukan Dyo tengah berbaring lemas diatas kasurnya. Mungkin Dyo diberi obat bius agar dia bisa tenang. Kai mendekat kearahnya dan mengusap pelan pipi Dyo yang semakin kurus.

"Mianhae, Jeongmal Mianhae. Apakah keberadaanku disisimu benar – benar menganggu? Apakah keberadaanku disini semakin menyakitimu?" Gumam Kai dan sedetik kemudian dia mengcup pelan pipi Dyo.

"Baiklah, aku berjanji tidak akan mendekatimu sampai kau benar – benar sembuh."

Sudah hampir satu minggu Dyo diarawat di rumah sakit dan menjalankan perawatan untuk pemulihan rahimnya. Dan sudah hampir satu minggu pula Kai berada menjaga Dyo dari jarak jauh, memastikan kalau kondisi Dyo berangsur – angsur membaik. Dan hari ini adalah hari terakhir Dyo berada dirumah sakit. Onew, Key, Sehun, Luhan dan Kai berada dirumah sakit untuk menjemput Dyo. Walau sebenarnya Kai tidak menjemput secara langsung, dia hanya mengamati Dyo dari jarak 5 meter, berharap kalau Dyo tak melihatnya. Kai ikut tersenyum saat Dyo tersenyum begitu senangnya karena ini hari terakhirnya berada dirumah sakit. Mereka semuapun keluar dari ruang inap itu, tak sengaja mata Luhan bertemu dengan Kai yang sedang memperhatikan dibalik dinding.

"Aku peri ke toilet sebenentar." Ucap Luhan.

"Jangan lama – lama." Ucap Dyo sambil berjalan diiringi ayah dan ibunya.

"Ne. Sehun… antarkan aku." Ucap Luhan sambil menarik pelan tangan Sehun. Tapi bukannya ke toilet, Luhan malah menghampiri Kai.

"Aku kira kau tak melihatku." Ucap Kai saat Luhan dan Sehun berjalan kearahnya.

"Aku tentu saja akan melihatmu yang sedang mengedap – endap melihat kearah Dyo seperti perampok." Kai hanya terkekeh pelan.

"Bagaimana keadaanya?"

"Dia baik – baik saja, mungkin besok dia akan masuk sekolah." Jawab Luhan.

"Tenang saja, kau bisa menemuinya besok disekolah." Timpal Sehun.

"Tapi apakah dia sudah kuat? Maksudku… dia baru saja pulang dari rumah sakit."

"Tenang saja, dia wanita yang kuat, kau tau itu." Ucap Luhan. Kai mengangguk pelan.

"Kalau begitu sebaiknya kita kembali atau Dyo akan curiga." Ucap Sehun. Diangguku oleh Luhan dan Kai.

"Kami duluan, annyeong."

"Ne. Annyeong." Luhan dan Sehunpun pergi meninggalkan Kai. Sedangkan sang pria menatap punggung mereka yang mulai menjauh. Kai menghela nafas panjang, setidaknya dia mendengar kalau Dyo sudah membaik dan besok dia akan masuk kesekolah. Bukankah itu akan lebih mudah? Untuk Kai mengawasi Dyo dari jauh.

Semua kembali seperti semula saat Dyo masuk ke kampusnya lagi. Mereka tidak tau tentang kejadian kalau dia keguguran dan lain sebagainya. Bagaimana bisa? Tentu saja itu ada sangkut pautnya dengan Luhan dan Sehun. Mereka berdua langsung mengambil tindakan, apa lagi Luhan, dengan cepat dia menguhubungi beberapa maidnya untuk memberskan darah yang berceceran disana dia juga tidak lupa mengambil video CCTV yang pasti merekam semua kejadian itu dan langsung menghanguskannya.

Satu hal lagi, Luhan dan Sehun juga menghilangkan semua barang bukti yang menunjukan kejadian itu.

Luhan juga membungkam semua saksi yang ada disana dengan cara memberi mereka 'uang' karena saat itu ada beberapa orang yang melihat Dyo terkepar dan dibawa oleh Kai menuju rumah sakit.

Jadi sekarang, semuanya terasa kembali normal… mungkin satu hal yang tak kembali… Senyuman Dyo untuk Kai. Wanita itu terlihat menjauhi Kai, saat tanpa sengaja mata mereka bertemu, Dyo langsung membuang padangannya dan langsung meninggalkan tempat itu, atau saat mereka bertemu di perpustakaan Dyo lebih memilih diam seperti orang yang tidak pernah mengenal satu sama lain. Kai menjadi teringat sepenggal kalimat dari sebuah lagu.

You, Me.

We're face to face but we don't see eye to eye

Like fire and rain

You can drive me insane

But I can't stay mad at you for anything

We're Venus and Mars

We're like different stars

(Wouldn't Chane a Thing – Joe Jonas & Demi Lovato)

Sungguh hal itu membuat Kai semakin terpuruk, dia sama sekali tidak bisa konsen belajar, apalagi disana selalu ada Kyrstal yang dengan setianya menggoda Kai. Tak jarang kai lebih memilih bolos dari keladi dibanding harus bertemu wanita itu. Saat Kai membolos dia selalu berada untuk melihat Dyo dan memantau wanita itu, tentu saja dari jarah jauh.

Tapi semakin hari Kai sadar kalau sepertinya ada pria lain yang menggeser posisinya dari sampig Dyo. Kim Jonghyun. Pria yang lebih tinggi satu angkatan di atas dia, belangkan ini Jonghyun terlihat sangat akrab dengan Dyo. Dari yang Kai tau kalau ternyata Jonghyun sekarenag menjadi tutor Dyo. Pria itu dengan senang hati mengajar Dyo karena Jonghyun tau kalau Dyo memliki kemampuan dan kesemtapan yang besar untuk masuk kelas gold. Seharusnya aku yang menjadi tutormu Dyo-ah. Ujar Kai sedih dalam hatinya.

Setiap sore Kai dengan sengaja selalu menguntin Dyo dan Jonghyun di perpustakaan, Dia memperhatikan segera gerak – gerik mereka berdua. Dan bertapa teririsnya hati Kai saat sebuah senyuman hangat dan tulus terukir di bibir Dyo. Sayangnya senyuman yang selalu diperuntukan dirinya kini beralih menjadi untuk Jonghyun.

Kai geram sekali pada pria satu itu, jujur saja dia ingin menendang rahang Jongin tapi dia sadar kalau dia tidak bisa melakukannya. Tentu saja, mungkin dan setidaknya walaupun senyuman Dyo bukan diberikan untuknya Kai ikut senang Dyo tersenyum walau jauh dilubuh hatinya Kai merasa sakit.

"Jonghyun Oppa… gomawo untuk hari ini." Ucap Dyo saat mereka meninggalkan perpustakaan.

"Ne." Jawab Jonghyun sambil mengacak rambut Dyo pelan.

"Oppa Jonghyun memang hebat, kalau saja tidak ada Oppa aku yakin aku tidak akan mengerti rumus yang tadi itu."

"Ahahaha… Kau juga hebat, hanya saja kadang – kadang otakmu ini sangat lamban untuk menangkap sesuatu." Ucap Jonghyun sambil menjulurkan lidah dan berlari menjauh.

"Ya! Oppa! Aku tidak lemot!" Tungkas Dyo sambil mengerjar Jonghyun.

Seseorang disana tersenyum miris melihat kejadian itu, bukankah seharusnya aku yang berada disana. Ujarnya dalam hati. Siapa lagi kalau bukan Kai. Diapun berjalan mengikuti Dyo dan Jonghyun, bagaimanapun Kai perlu memastikan kalau Dyo pulang kerumah dengan selamat.

Tapi apa yang dia liat sekarang. Dyo tengah berjalan bergandengan tangan dengan Jonghyun menuju mobilnya.

"Oppa akan antarkam kau pulang, tenang saja. Kau akan selamat." Ucap Jonghyun sambil terus menggandeng tangan Dyo menuju mobilnya.

"Aku kira oppa akan membiarkanku disini dan pulang menaiki taxi." Jawab Dyo.

"Tidak akan, pria macam apa yang meninggalkan seorang wanita sesore ini disekolah?" Ucap Jonghyun sambil memepaskan gandengannya dan membuka pintu mobil untuk Dyo.

"Tapi dulu Kai melakukan hal itu padaku." Gumam Dyo sangat pelan.

"Apa?"

"Tidak. Aku hanya ingin mengatakan kalau Oppa adalah Oppa paling hebat yang aku punya." Ucap Dyo sambil tersenyum dan masuk kedalam.

"Oppa tau, siapa lagi Oppa paling tampan dan baik di kampus ini selain Kim Jonghyun ini? Oppa yakin tidak ada."

"Aish… aku tidak akan memuji oppa lagi. Oppa terlalu narsis." Cibir Dyo. Jonghyunpun tertawa dan menutup pintu, Dia ikut masuk kedalam mobil dan langsung mengantarkan Dyo menuju rumahnya.

Kai yang sedari tadi menatap mereka hanya bisa menghela nafas panjang, sungguh miris nasibnya, dia hanya bisa melihat orang yang dia cintai dari jarak tidak kurang dari 5 meter. Sebenarnya Kai sekarang lebih cocok dibilang penguntit.

Hari ini seperti biasa Dyo setelah semua kelasnya selesai dia pergi ke perpustakaan untuk kembali belajar dengan Jonghyun, tapi lima belas menit berlalu Jonghyun tak kunjung datang. Dyo mecari ponselnya dan segera menelphone pria itu.

"Yoboseyo?"

"Yepboseyo. Dyo-ah."

"Jonghyun Oppa! Kau dimana? Aku sudah lama menunggumu."

"Mianhae, hari ini Oppa tidak bisa mengajarimu."

"Waeyooo?"

"Oppa ada urusan…"

"Urusan? Ah! Aku tau. Pasti ini menyangkut sesuatu yang oppa katakan kemarin bukan?"

"Ne."

"Baiklah Oppa, semoga Oppa Sukses! Hwaiting!"

"Ne Dyo. Gomawo."

Dengan itupun Dyo menutup telphonenya. Dyo melihat kesekelilingnya, ternyata sudah sore. Tadinya Dyo memutuskan untuk pulang tapi setelah dipikir – pikir sepertinya dia lebih baik berada diperpustakaan untuk membaca beberapa materi selanjutnya yang akan diajarkan dosen. Wanita itupun langsung mencari beberapa buku sumber yang dia butuhkan dan langsung mengambil tempat di samping jendela yang memperlihatkan keadaan taman sekolah yang mulai sepi. Dyo menghela nafas panjang dan mulai membuka bukunya, beberapa menit kemudian Dyo pun mulai sibuk dengan dirinya sendiri. Kadang Dyo mencatat semua hal yang menurutnya memang penting atau membacanya berulang – ulang agar dia bisa mengingat semua itu dimemorinya. Dan karena itu Dyo tidak sadar ada seseorang yang menghampirinya sampai orang itu akhirnya duduk dihadapan Dyo.

Sang wanita terkesiap kaget menatap orang yang ada dihadapannya, Dyo bergegas membereskan peralatannya dan beranjak.

"Tunggu. Aku mohon…" Pinta Kai yang tak lain adalah sang pria.

"Maa Kai-sii kita tidak punya urusan, jadi sebaiknya saya keluar." Ucap Dyo sambil beranjak dari kursi. Betapa sangat teririsnya hati Kai saat dia berbicara formal padanya seolah – olah mereka tidak saling mengenal.

"Tunggu. Aku mohon Dyo.." Sang wanita menghela nafas dan kembali mendudukan dirinya dihadapan Kai.

"Ada apa lagi?" Tanya Dyo.

"Aku ingin menjelaskan semuanya." Ucap Kai.

"Apa yang harus dijelaskan bukankah semuanya sudah sangat jelas?" Tanya Dyo.

"Tidak, biarkan aku menjelaskannya dulu."

"Baiklah, jelaskan semua yang ingin kau jelaskan." Ucap Dyo menghembuskan nafas panjang.

"Sebelumnya aku ingin meminta maaf karena karena diriku kita kehilangan baby kita…." Dyo tidak merespon apapun dia hanya menatap Kai. "…semua itu karena kau melihatku berciuman dengan Krystal."

"Sebenarnya apa yang tidak aku berikan padamu yang dia berikan? Apa yang dia lakukan padamu yang tidak aku berikan?" Sela Dyo.

"Tidak, itu hanya aku yang terlalu bodoh. Kau tau… sebenanarnya saat itu, dikelas masih sangat banyak orang, kita belajar bersama seperti apa yang aku katakan padamu. Tapi entah apa yang dilakukan dan dikatakan Krystal membuat semua orang yang ada disana pergi dan meninggalkan kami berdua…" Kai memberi jeda untuk dirinya bernafas dan mengingat hal yang menurutnya menjijikan itu. "… saat itu Kyrstal mendekatiku dan tiba – tiba saja dia berbisik. Membisikan sesuatu hal yang membuatku kehilangan pikirkanku."

"Apa yang dia bisikan?" Tanya Dyo. Kai menatap ragu Dyo. "Dia mengatakan. 'Kai… aku Dyo, apakah kau rindu padaku?' dan entah kenapa saat aku memandang Krystal aku seperti melihatmu dan tiba – tiba saja bibirnya menepel dibibirku. Aku mengira itu dirimu jadi aku… membalasnya." Dyo menghela nafas panjang.

"Aku tau memang ini kedengarannya memang tidak masuk akal tapi itu memang yang terjadi sebenarnya." Ucap Kai tau kalau sepertinya Dyo memang tak percaya pada perkataanya.

"Bagaimana caraku agar bisa percaya padamu Kai? Kau tau, sebuah lubang dihatiku ini tidak bisa langsung sembuh dengan penjelasanmu barusan."

"Aku tau ini memang akan sangat sulit, aku tau kau tidak semudah itu kembali percaya denganku, tapi setidaknya cobalah untuk percaya aku mohon."

"Entahlah Kai… aku tak tau apa aku bisa memaafkanmu atau tidak. Aku akan memikrikannya lagi." Ucap Dyo sambil bangkit dari kurisnya.

"Tunggu." Ucap Kai sambil menangkap tangan Dyo, sang wanita menatap tajam pada tangan Kai yang menecengkram tangannya, Kaipun langsung melepaskannya.

"Biar aku anatarkan." Ucap Kai. Dyo menaikan sebelah alisnya dan menggeleng pelan.

"Tidak usah aku bisa pulang sendiri." Dyo hendak melanjutkan langkahnya tapi Kai kembali mencengkram tangannya.

"Aku tidak bisa membiarkan wanita sepertimu pulang sendiri sesore ini." Ucap Kai. Dyo hanya tersenyum miris saat Kai mengatakan hal itu.

"Tapi dulu kau melakukannya, berhari bahkan berminggu – minggu kau membiarkanku pulang sendiri. Tidak ingatkah kau akan hal itu?" Dyo bicara sambil menatap mata Kai seolah – olah dia memang kecewa dengan tindakan Kai saat itu. "sekarang lepaskan aku." Dyopun menghentakan tangannya dan berjalan keluar dari perpustakaan. Tanpa Kai sadari Dyo mengigit bibirnya mencoba menahan isakan dan air mata yang sedari tadi ingin keluar dari bibirnya.

Sedangkan Kai masih terduduk diam dikursinya. Kata – kata Dyo yang barusan terus terngiang – ngiang dalam benaknya.

Aku baru sadar kalau aku sudah terlalu jauh membuat lubang dalam hatimu. Mianhae Dyo-ah.

.

.

.

~To Be Continued~