Disclaimer : Bleach by Tite Kubo
Fate of a Revenge
Chapter 9 : The Missing Word
If I can't become a butterfly to fly in your sky
Then I don't care even if I'm a monster that takes up all of your sorrow and suffers
-Izayoi Namida-
Aku memandangi tubuhku dengan tatapan tidak percaya. Setelah melihat masa lalu yang mengerikan dalam mimpiku, kini aku malah menatap setiap bagian tubuhku bagai sedang mengalami mimpi yang sesungguhnya. Tubuhku yang sudah teroyak-oyak dan kedua bola mataku yang sudah buta kini bisa berfungsi kembali. Ya, aku bisa melihat jemariku yang bergerak dan lenganku yang masih utuh. Pandanganku juga masih sama, tidak sedikitpun ada yang mengganjal. Dan yang paling terpenting, aku bisa merasakan hangatnya nafasku yang berhembus tidak karuan. Padahal aku yakin, saat gadis hantu itu menyiksaku, aku merasakan nyawaku mulai keluar dari ragaku dengan rasa sakit yang luar biasa.
Dan kini aku bisa bangkit dengan kondisiku semula.
Apa yang sebenarnya terjadi?
"Ku-Kurosaki-kun? Daijoubu?"
Suara manis itu membuatku tersadar. Mataku yang ku pastikan masih bisa melihat dengan sempurna ini memandang gadis berambut panjang yang menatapku dengan air mata yang masih menggantung di ujung mata besarnya. Suaranya yang manis pun bisa terdengar jelas menggema di ruang yang remang-remang ini. Setelah memastikan bahwa aku benar-benar masih hidup, aku kembali melempar pandanganku ke arahnya.
"Apa yang terjadi padaku, Inoue?"
Gadis itu malah menangis sejadi-jadinya sambil tersungkur di dadaku, membuatku semakin tidak mengerti.
"I-Inoue, tenanglah"
Kemudian bayang samar mulai tampak dari sudut gelap ruang ini. Adrenalinku mulai terpacu lagi untuk menghadapi sosok gila yang akan muncul berikutnya. Belum lagi, kini ada Inoue yang bersamaku. Aku harus melindunginya juga, tidak seperti leluhurku yang dulu.
"Siapa di sana?" ujarku dengan setenang mungkin.
Namun, bayang yang masih samar itu tidak menjawab dan tetap melangkah maju mendekati kami. Jantungku semakin berdebar kencang. Belum lagi angin dingin yang berhembus melalui kayu-kayu rapuh mulai menggelitiki tubuhku. Suara derap langkah sosok yang tak ku ketahui semakin terasa dekat dengan sedikit kilauan cahaya putih yang memantul dari wajahnya, membuatku semakin bergidik ngeri.
"Hei! Siapa kau?"
Aku berteriak semakin keras sambil merangkul Inoue seakan ingin melindunginya. Tetap saja, sosok itu tidak menjawab sama sekali dan tetap berjalan maju mendekati kami. Langkah demi langkah semakin terasa hingga aku bisa melihat sepatu sneakers-nya berhenti di depan kami.
Tunggu, sepatu?
Mata beririskan batu obsidian-ku membelalak tidak percaya. Pria tegap berambut biru gelap dengan kaca mata favoritnya kini berdiri di hadapan kami sambil memperbaiki kacamata yang sedikit merosot ke hidungnya. Ia kemudian tersenyum sinis.
"Kurosaki, kau pasti sudah berpikir yang bukan-bukan, kan?"
Amarahku memuncak. Aku seperti merasa dipermainkan.
"Kau! ISHIDA!"
Ia malah tertawa terbahak-bahak dan Inoue yang sedari tadi menangis di pelukanku mengangkat wajahnya untuk menatap Ishida. Dari belakang Ishida juga ku lihat ada bocah berambut silver yang berusaha menahan tawa. Mereka benar-benar puas melihatku yang hampir mati ketakutan.
"Hei, Kurosaki. Kowakatta?"
"Teme!"
Entah kenapa, meski kami semua sedang berada dalam manor yang mencekam ini, rasa takut kami mulai mencair. Entah kenapa. Bahkan sempat terlupa dari benakku bahwa kami sedang melakukan penyelidikan tentang manor tua ini. Manor yang menyimpan sejuta misteri dan takdir tentang kami yang sangat mencengangkan. Benar-benar mencengangkan diriku.
"Ano," Inoue mencoba untuk memotong pertengkaran kecil kami. "Kurosaki-kun, apa semua itu benar?"
Aku kemudian kembali menatap Inoue, berusaha mengerti apa yang dikatakannya.
"Semua yang di mimpi itu, apakah semuanya benar?"
Hah?
"Aku juga melihatnya, Ishida-kun dan Hitsugaya juga. Kami semua melihat masa lalu, Kurosaki-kun!"
"Apa?"
Hitsugaya yang kini mulai angkat bicara. Ia kemudian berjalan mendekatiku sambil tertawa kecil dan Inoue mulai menjauhi diriku, menghampiri Ishida.
"Saat kau berteriak kesakitan, kami semua menemukanmu di tempat ini. Kau meronta-ronta seperti sedang disiksa dan tubuhmu terasa sangat dingin. Beberapa saat kemudian, kau tiba-tiba pingsan dan tak sengaja aku…memegang tanganmu dan melihat…apa yang kau lihat, Kurosaki."
Sorot tiga pasang mata itu kemudian terlihat nanar. Entah seperti empati atau rasa bersalah, aku juga tidak tahu. Yang jelas, kebisuan sempat menyelimuti kami, membuat atmosfir manor yang sudah dingin ini semakin mencekam. Namun, Hitsugaya kembali melanjutkan kata-katanya yang sempat terputus. Sedangkan Inoue dan Ishida malah melihat keluar melalui jendela kecil yang berada di atas atap.
"Ah, ternyata begitu ceritanya. Kita benar-benar tolol telah memasuki manor misterius ini."
Aku sedikit melihat adanya sinar penyesalan yang tersorot dari mata Hitsugaya, sinar penyesalan yang terasa sangat kompleks dan sangat sulit untuk aku mengerti sendiri. Aku kemudian kembali duduk untuk menguatkan kembali mentalku. Apakah aku harus keluar dari manor ini ataukah tetap melanjutkan perjalanan yang tidak kami tahu apa tujuannya. Kepalaku kembali terasa sangat pusing memikirkan itu.
Tak lama setelah kesunyian ini melingkupi kami tangan gemetar Inoue menyentuh pelan pundakku. Aku sedikit terjingkat saat melihat air mata kembali menetes dari pelupuk matanya.
"H-Hei, ada apa Inoue?"
"Go-gomen ne, Kurosaki-kun…"
Setelah meminta maaf padaku ia kemudian memelukku erat sambil membisikkan sesuatu yang tidak bisa ku dengan. Suaranya saat itu sangat sendu dan samar. Sudah berusaha ku fokuskan pendengaranku untuk mendengarnya tetapi tetap saja, tak satupun kata ku dengar. Hanya sayup-sayup suaranya yang bergema di telingaku, terasa dingin dan menggetarkan. Ia kemudian menarik pelukannya, menjauh dariku sambil memalingkan wajahnya. Kilauan butir air mata yang jatuh bisa ku lihat dengan jelas. Apa yang terjadi?
Inoue kemudian berlari menerobos Ishida dan Hitsugaya yang berdiri di depannya menuju pintu kembar yang masih berdiri kokoh. Kami berusaha mengejarnya terutama Ishida, ia benar-benar mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengejar Inoue. Tetapi, hal yang aneh terjadi, saat kami mengejarnya sepanjang lorong yang gelap, Inoue yang masih terus berlari menjauhi kami hilang ditelan kegelapan. Dan yang kami dapatkan dari pengejaran kami hanyalah, jalan buntu.
"Hhh…Kurosaki!"
Setelah Ishida berhasi mendapatkan napasnya kembali, ia langsung menarik kerahku dan menghimpitku ke dinding. Pancaran matanya kini penuh amarah. Sedangkan diriku masih tetap dilanda kebingungan yang luar biasa hebat.
"Apa yang dikatakan Inoue, hah? Apa yang dikatakannya saat memelukmu?"
Emosi Ishida kini benar-benar meledak.
"Aku tidak tahu." Ujarku datar.
"APA?"
Ishida kemudian melemparkan pukulannya tepat ke arah wajahku dan berhasil membuatku tersungkur.
"AKU TAHU KAU TIDAK MENCINTAI INOUE, KUROSAKI! TAPI…tidakkah kau merasa dirimu sangat keterlaluan?"
Aku malah menatap lantai dengan mata sayu. Hah, aku memang pantas mendapatkan semua ini, aku memanfaatkan gadis polos itu untuk kepentingan diriku sendiri, sama seperti leluhurku dulu, yang memanfaatkan Kagihime demi ambisinya. Aku benar-benar seorang berengsek kelas kakap.
"KUROSAKI TATAP AKU!"
Tangan Ishida kembali menarik kerah bajuku, memaksaku untuk menatap matanya yang sudah penuh emosi.
"KALAU KAU TIDAK BISA MENYELAMATKAN INOUE, AKU PASTIKAN KAU AKAN MATI!"
Ishida kemudian menghempaskanku kembali ke lantai yang dingin. Tak apa, aku pantas mendapatkannya mengingat semua perlilaku buruk yang sudah ku berikan pada Inoue, aku pantas untuk mendapatkan yang lebih parah dari ini.
"Maaf…maafkan aku…"
Aku tahu permintaan maaf tidaklah cukup tetapi paling tidak, suasana sedikit menjadi lebih tenang sehingga kami dapat melanjutkan perjalanan meski tanpa sepatah kata pun yang terucap dari bibir kami.
"Asore!"
Bunyi samar lonceng kini menggema sepanjang lorong yang bercahayakan lilin-lilin kecil, membuat suasana di tempat ini menjadi semakin mencekam. Namun, tetap saja tidak ada percakapan di antara kami sepanjang jalan ini. Sudah sekitar 10 menit kami melintasi lorong ini tetapi belum juga kami menemukan persimpangan ataupun pintu. Belum lagi derit-derit bunyi kayu yang kami tapaki menambah ketegangan di tempat ini.
Aku kemudian memutar kepalaku ke kanan dan ke kiri untuk melihat sekitar. Hanya dinding tua yang rapuh, tidak ada yang spesial hingga aku melihat kegelapan dari samping kananku. Tunggu, apakah itu persimpangan jalan? Lubang itu berukuran tidak lebih dari tubuhku, membuatku menjadi sangat penasaran dengan lubang ini. Aku kemudian menghentikan langkahku, diikuti oleh Ishida dan Hitsugaya yang juga ikut menghentikan langkah kakinya. Dengan memberanikan diri, aku memasukkan tanganku ke lubang itu, memastikan itu adalah lorong sempit atau hanya lubang biasa.
Glep.
Aku kemudian merasakan sesuatu menggenggam tanganku. Kini aku benar-benar ingin berteriak. Rasanya dingin dan kaku. Aku coba untuk berontak kecil, namun hasilnya nihil. Dengan sekuat tenaga aku tarik tanganku kembali dan sesuatu muncul dari kegelapan.
"WHAAA!"
Tubuh manusia tiba-tiba muncul dari kegelapan dan wajahnya kini benar-benar tepat berada di depan wajahku. Aku tidak bisa mendeskripsikan seperti apa wajahnya itu, yang jelas, begitu sosok misterius itu keluar, aku langsung menutup mataku dan membiarkan sosok itu menimpaku.
"LEPASKAN DIA DARI TUBUHKU! SIAPAPUN! HITSUGAYA, ISHIDA!"
Aku meronta meminta tolong namun bukan pertolongan yang ku dapat, malah perkataan Hitsugaya yang mencengangkan yang ku dapatkan.
"Renji…? Kenapa?"
Aku langsung membuka mataku dan mendapati Renji yang menatapku dengan seringainya yang mengerikan bersaaman dengan suara samar wanita yang menggema sepanjang lorong.
"Kau tidak mungkin membunuhnya kan?"
Glossary
Daijoubu? : Tidak apa-apa?
Gomen ne : Maaf ya
Kowakatta : Takut
Teme : Kau/Kamu (dalam bahasa yang kasar)
Chariot330 : Sudah terupdate akhirnya. Walaupun dengan cliffhanger lagi, maafkan saya. Rencananya sih bagian bloody juga mau di masukkan di chapter ini, tapi entah kenapa, kalo masukin bloody ke chapter ini rasanya setengah-setengah doang. Jadi chapter selanjutnya bakalan bloody mungkin. Soal ichigo yang bisa ngeliat lagi, entar saya jelasin di chapter depan. Well, mungkin saya ngupdatenya bakalan lamaaaa banget. Saya mau fokus SNMPTN. Soalnya sekarang zaman mencari PTN sudah berubah drastis dari tahun-tahun yang lalu, haaaah…nasib-nasib. Pendek kata, PLEASE REVIEW!
Balesan review yang gak log in
Hantu Toilet : Ehehe...Makasih atas pujiannya. Review lagi ya?
Hiruma Yuki-chan : Iya, makasih atas sarannya untuk menambahkan bloody. Mungkin di chapter depan akan saya usahakan untuk semakin bloody! Review lagi ya?
Tyal : Hontou? Masih ada typo? Ah, saya harus koreksi lagi. Makasih udah dipuji, jadi malu *plak* Oke, review lagi ya?
Parachipusu : Makasih udah diingetin. Berarti referensi saya salah! Review lagi ya?
vida tranquila : Kalo ichi mati ceritanya selesai dong. Ntar saya jelasin di chapter2 selanjutnya. Makasih sudah review! Salam kenal juga! Review lagi ya?
aya-na rifa'i : Sudah diupdate. Review lagi ya nee?
Voidy : Aaa~ Nee-ku tersayang. Maaf fb nggak ada kabar, lagi sibuk ee. Iya, harusnya memang kemaren ch 8 n 2 berkorelasi, tetapi entah kenapa...mungkin karena waktu bikin ch 2 kemampuan menulis saya tidak sebaik sekarang jadi, waktu nuli ch 8 kalo nggak ada yang diubah dikit rasanya gimanaa gitu. Maaf ya nee. Saya nggak panggil nee pake sebutan formal kok, tenang aja. Pendek kata, review lagi ya nee? Saya akan menunggu review baik maupun pedas dari nee.
