"Seperti kamu, yang tau hampir semua tentangku…" katanya, "Aku tau semua tentangmu, Usui Kazuyoshi…" katanya lalu pergi dari situ. Lagi-lagi meninggalkan Switch yang bingung akan tingkah gadis itu. Dia benar-benar tidak bisa menebak jalan pikiran gadis itu.

Sementara Rei berjalan di koridor dengan perasaan marah. Dia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai ia tidak melihat seseorang yang berjalan ke arah yang berlawanan darinya.

Bruk!

"Ah… Gomennasai…" kata gadis berambut hitam panjang itu. Wajahnya yang pucat sebagian tertutup rambutnya.

"Harusnya aku yang minta maaf." ujar Rei sambil tersenyum tipis.

"Anata wa… Rei-san?" kata gadis bersuara aneh itu.

Egao wa Mitai!

Summary : Rei, cewek yang gosipnya merupakan ketua geng berandalan, masuk menjadi anggota Sket Club. Dalam waktu singkat, Rei dan Switch menjadi akrab. Apa Rei masuk hanya untuk mendekati Switch?

Sket Dance by Shinohara Kenta

Semi-Canon, GaJe, Typo, dll.

This story is Mine.

DLDR, If you don't like, please click back button.

Chapter10: Kegalauan Rei dan Masalah Baru

.

.

Rei menaikkan sebelah alisnya, namun dia tidak heran karena semua sudah tahu tentangnya karena rumor menyesatkan itu. Tapi Rei sudah tidak khawatir lagi, karena Switch membelanya dan rumor itu menghilang dengan sendirinya, meskipun masih ada yang membicarakannya di belakang.

"Iya, Reiko-san?"

"Ikut denganku sebentar…" Yuki langsung menarik tangan Rei. Sedangkan Rei hanya menurut saja, tidak protes seperti biasanya. Rei lalu mengikuti gadis itu ke sebuah ruangan yang penuh dengan barang-barang aneh. Occult Club.

"Silahkan duduk…" pinta gadis itu. Rei pun duduk di seberang gadis pucat itu. Yuki lalu mengeluarkan bola kristalnya.

"Mau meramal?" tanya Rei. Yuki mengangguk pelan. "Gak usah repot-repot." ujar Rei kesal lalu berdiri.

"Sasayaka Akira…" suara seram gadis itu membuat Rei membeku. Bagaimana gadis aneh itu bisa tahu? Bukannya Rei sudah menutup rapat-rapat masa lalunya? Termasuk namanya?

"K…kamu tau dari mana?"

"Aku tau semuanya…"

"[Jangan buang-buang waktu dengan ramalan gak jelas itu, Yuki-san.]" kata Switch yang tiba-tiba sudah ada di belakang Rei. "[Apa ini metode baru?]"

"Switch-kun…" mata gelap Yuki beralih ke pemuda berkacamata itu. "Kau benar-benar gak ngerti ya…"

"[Maaf Yuki-san]" Switch menarik lengan Rei.. "[Kami benar-benar gak ada waktu untuk ikut permainanmu sekarang, karena kami harus pergi.]"

"Matte, Switch-kun." Switch menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Yuki yang menatap Switch dan Rei secara bergantian. "Gadis ini dikutuk."

Rei tersenyum sinis ke adah Yuki.

"Hidupku selalu penuh dengan kutukan, Reiko-san. Aku gak akan pernah hidup bahagia. Kalau itu yang kamu maksudkan…"

"[Rei..]"

Rei keluar dari ruang klub. Sementara Switch berdiri menatap Yuki. Dia tahu kalau gadis itu belum selesai bicara.

"Switch-kun, sebenarnya bukan itu maksudku. Aku melihat aura gadis itu dipenuhi aura kegelapan yang menutupi warna aura terang gadis itu."

"[Bukannya aku udah pernah bilang, kalau kesukaanmu pada hal-hal mistik itu tidak ada gunanya?]"

"Aku yakin kutukan pada gadis itu akan hilang dengan satu hal." ucap gadis itu perlahan, tidak memperdulikan perkataan Switch. Membuat Switch mengerutkan alisnya, namun pemuda berkacamata itu tidak mengatakan apapun.

"Aku yakin kau akan mengerti Switch-kun." ujar gadis itu. Switch pun keluar dari ruangan itu untuk menyusul Rei. Namun saat ia sampai di ruang klub ia tidak menemukan Rei.

"Kamu udah baikan sama dia?" tanya Himeko.

"[Lho, kukira dia tadi pergi kesini?]" tanya Switch.

"Gak ada kok." kata Bossun. "Udah, kamu tunggu di sini aja." lanjutnya. Switch pun lalu duduk di depan komputernya dan menutup laptopnya. Sedangkan Bossun menatap Switch heran. Biasanya pemuda yang selalu memakai vest hijau itu terlihat tenang di depan komputer, tapi sekarang ia terlihat gelisah. Switch lalu berdiri dan membawa laptopnya keluar dari ruangan.

"Switch, kawatta nda…" gumam Bossun pelan, lalu menyusul Switch.

.

.

Di atap sekolah…

Rei duduk di sudut atap dan bersandar di pagar besi berwarna perak yang mengelilingi atap itu. Dengan gelisah ia memetik asal gitarnya. Mata birunya menatap kosong ke lantai atap, sementara ia mengingat kejadian semalam.

Flashback on

Rei sedang berjalan santai sambil meminum jus strawberrynya. Tasnya ia sampirkan di bahu kanannya. Samar-samar ia mendengar suara musik yang menghentak, terdengar seperti lagu Anime. Sepertinya itu suara musik dari lagu milik Momoka. Semakin lama semakin jelas. Sepertinya konser Momoka berlangsung di stadion tak jauh darinya. Rei lalu berjalan ke arah stadion itu, penasaran dengan suara Momoka yang katanya 'moe' itu.

Rei lalu menyandarkan tubuhnya di dinding dan melipat tangannya di depan dada. Sesekali kepala Rei mengangguk-angguk mendengar musik yang dihentakkan dan juga suara Momoka. Dan juga suara-suara otaku yang membalas lagu dari Momoka.

Rei berdiri di luar stadion sampai musik usai. Tak lama kemudian penonton, yang kebanyakan adalah otaku, keluar dari pintu stadion. Namun Rei tidak melihat Switch, Bossun, dan Himeko keluar dari gedung itu. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari situ.

Saat ia melewati pagar yang terletak di belakang stadion, secara tidak sengaja ia mendengar suara laki-laki dan perempuan yang sedang berbincang-bincang. Rei lalu mencari-cari suara pasangan itu, dan ia melihat Switch dan Momoka.

"Switch-kun…" kata Momoka dengan wajah yang memerah, "Terima kasih udah datang ke setiap konserku."

"[Hohohoho… Gak masalah. Aku kan penggemarmu.]" ujar Switch. Momoka tersenyum lembut.

"Nee, Switch-kun. Aku suka padamu…" kata gadis itu dengan wajah yang memerah. Rei memperhatikan mereka dengan tatapan datar, namun tidak bisa dipungkiri, kalau hati gadis nyentrik itu terasa sakit. Namun ia tetap berdiri di situ untuk mendengar jawaban Switch atas pernyataan cinta yang mendadak itu.

Sepertinya mereka berdua tidak menyadari keberadaan Rei karena Rei berdiri di area yang cukup gelap, sementara tempat mereka berdua diterangi lampu. Suasana menjadi hening sejenak. Rei maupun Momoka menunggu jawaban Switch dengan hati yang berdebar-debar.

"[Gomenne, Momoka.]"suara laptop Switch memecahkan keheningan. "[Aku masih mencintai teman masa kecilku, Sawa. Jadi kupikir aku tidak akan jatuh cinta kepada siapapun lagi.]"

Rei terbelalak. Dengan perasaan tidak karuan ia meninggalkan tempat itu. Sepertinya percuma, karena perasaannya maupun perasaan Momoka tidak terbalas.

Sesampainya di apartemennya, ia membanting tasnya di ranjangnya. Lalu ia bersandar pada dinding. Tidak, ia tidak menangis. Airmatanya sudah sekeras batu sehingga tidak bisa dikeluarkan lagi. Ia hanya menatap kosong ke arah ranjang di depannya.

Flashback off

"Lagi galau, Onee-chan?"

Rei mengangkat kepalanya ke asal suara. Cih, kenapa aku harus ketemu dia dalam keadaan yang begini sih! umpatnya. Dilihatnya Aoi sedang berdiri di depannya, menatap Rei dengan angkuh. Tangannya ia lipat di depan dadanya.

"Bukan urusanmu!" Rei membuang mukanya. Aoi tersenyum sinis melihat tingkah kakaknya itu.

"Jangan begitu, Onee-chan.." Aoi mendekati Rei dan berjongkok sehingga posisi mereka sejajar. "Jangan galak begitu sama adik tersayangmu ini."

"Cih." Rei mendecih kesal. "Kamu bukan adikku lagi, dan aku bukan kakakmu lagi."

Aoi tertawa angkuh. Lalu ia berdiri dan mundur selangkah. "Onee-chan, kalo kamu dengerin nasihatku, kamu pasti gak bakal hancur gara-gara otaku bodoh yang gak berguna itu. Jadi lebih baik kamu keluar dari klub bodoh dan aneh itu, dan pulang ke rumah."

"Beraninya kau!" umpat Rei berang. Ia lalu menubruk Aoi hingga gadis itu terjatuh ke lantai. Dengan marah ia memukul pipi kanan Aoi hingga menimbulkan lebam biru di pipi mulusnya.

Ia hendak memukul Aoi untuk kedua kalinya, kalau Tsubaki tidak menghalangi mereka. Tsubaki berusaha menahan Rei sedangkan Aoi menatap Rei dengan ketakutan.

"Pergi ke UKS! Cepat!" teriaknya pada Aoi yang bergetar karena takut.

"Ah.. I…iya…" dengan kalut Aoi pergi dari tempat itu. Sementara Tsubaki terus menahan Rei yang meronta.

"Oi, lepasin gak!" bentak Rei. Tsubaki terus menahan gadis itu agar tidak mengejar Aoi.

"Gak. Sebagai wakil ketua OSIS sudah tugasku untuk melindungi siswa di sini." ucapnya tegas. Rei menatap pemuda itu kesal. Ia pun berhenti meronta.

"Oke, kalo itu maumu." Rei kembali duduk di tempatnya semula. Sementara Tsubaki menatapnya tajam. Terutama pada rambut panjangnya dan sepatu bootnya.

"Salahku apa lagi sih?!" ujar gadis itu, menyadari kalau ia sedang ditatap oleh pemuda berbulu mata panjang itu.

"Kamu udah melanggar peraturan. Pertama, rambutmu itu. Kedua, sepatumu salah." ujar pemuda itu. Rei berdiri dan menatap pemuda itu berang.

"Apa urusanmu hah? Toh guru-guru di sini gak masalah kok, kamu yang sewot." hardiknya. "Lagipula ada banyak siswa di sini yang berpakaian bebas seperti Sinzou, atau Bossun. Lagian Himeko rambutnya dicat pirang. Kenapa aku yang kamu marahin sih! Dasar cowok berpikiran sempit!"

"Setidaknya, kalo mau ngecat rambut itu, cat semua, jangan setengah-setengah begitu. Dan lagi, harusnya kamu memakai sepatu yang udah disiapkan di loker masing-masing."

"Dante aja rambutnya di cat setengah!" gerutunya. Rei pun berdiri dan membawa gitar akustiknya pergi dari atap. Namun Tsubaki menahannya. Rei menoleh dan menatap Tsubaki tajam.

"Apa lagi?" tanyanya marah.

"Kamu harus ikut ke ruang OSIS karena udah menyerang salah satu siswa." katanya tegas, namun Rei menepis tangan pemuda itu.

"Terus? Kamu mau panggil orang tuaku ke sekolah?" tanyanya getir. Tsubaki mengangguk mantap. Rei kembali mendecih kesal melihat sikap kembaran Bossun itu.

"Datang aja ke kuburan!" lalu Rei pergi dari tempat itu dengan marah. Meninggalkan Tsubaki yang heran akan tingkah gadis itu. Tsubaki menghela nafasnya.

"Baru kali ini aku ketemu cewek yang lebih keras kepala dari Onizuka."

.

.

Di ruang klub.

Rei masuk ke ruang klub dan langsung menghempaskan tubuhnya di samping Himeko. Lalu ia menyerahkan gitar akustik berwarna coklat itu pada Himeko. Himeko mengambilnya dan menatap Rei heran.

"Lho, kenapa, kok merengut begitu?"

"Gak ada apa-apa." katanya datar.

Himeko menyodorkan pelocan kepada Rei. "Mau pelocan?"

"Hm? Rasa apa?"

"Rasa salmon panggang."

"Terima kasih…"

Dengan tidak minat, Rei mengambil pelocan dari tangan Himeko, lalu mengulumnya perlahan. Ia lalu menyandarkan tubuhnya di sofa, berusaha menenangkan dirinya.

"Kalo ada masalah, jangan sungkan cerita." kata Himeko pada gadis itu. "Gak apa-apa, gak ada orang di sini."

Rei mengernyitkan alisnya, lalu ia menyadari kalau tidak ada orang lain selain Himeko di ruangan itu. "Lho, Switch dan Bossun kemana?"

"Tadi pergi." katanya sambil mengelap Cyclone-nya. "Eh, aku boleh liat senjatamu? Yang dipakai buat menghajar preman-preman itu?"

"Kamu mau ngeliat Steel?" tanya Rei antusias. Lalu ia mengeluarkan senjatanya dari dalam hak sepatu boot-nya. Lalu menyodorkannya pada Himeko. "Hati-hati, ini berat banget lho."

Duakk!

"Kenapa kamu ngomongnya pas aku udah megang senjata ini sih?" kata Himeko sambil berusaha mengangkat besi itu. Rei hanya tertawa kecil.

"Kan aku udah bilang." ujarnya lalu mengambil Steel dari tangan Himeko. Lalu memanjangkannya hingga 1 meter. "Ini kan banyak ruasnya, makanya berat." Rei lalu menyerahkannya kepada Himeko.

"Wah, jadi agak ringan." Himeko memegang senjata milik Rei. "Lho, kok kamu bawa senjata begitu? Kamu kan…"

"Iya aku memang bukan cewek berandalan." Rei melipat tangannya di depan dada, "Tapi dulu waktu aku masih dalam keluarga Sasayaka, aku rentan diserang berandalan, makanya aku selalu bawa senjata. Lagipula aku gak senang diantar sama supir, jadi aku selalu naik kereta."

"Hehehe, iya. Gadis dari kalangan atas rentan diserang berandalan ya…"

"Lagian ini kan cuma alat perlindungan diri. Tapi banyak yang salah paham. Aku malah dituduh gadis berandalan." Rei menggaruk kepalanya. "Sampai aku mendapat julukan Red Devil." ujarnya sambil tersenyum lebar.

"Hehehe, aku dulu juga begitu, sampai mendapat julukan Onihime." Himeko mulai membuka masa lalunya. Matanya terlihat sendu. "Aku sudah banyak menyakiti orang sejak itu."

"Tapi itu kan dulu, sekarang udah beda. Kita di sini buat nolongin orang kan?"

Himeko menatap Rei yang sedang tersenyum lembut. Namun ia juga bisa melihat kegetiran di mata gadis itu. "Nee, Himeko. Apa kamu punya orang yang kamu suka?"

Mata biru Himeko membesar, dan wajahnya langsung memerah. Namun ia tidak menjawab. "Kamu bohong kalo kamu bilang gak ada. Semua orang pasti menyukai lawan jenisnya kan? Yah, walaupun ada yang suka sama sesama jenisnya sih." ujar Rei sambil menatap Himeko dengan tatapan jahil.

"S…Sou ya…" kata Himeko gugup. "A…aku suka sama…"

Pintu terbuka, membuat Himeko dan Rei kaget. mereka berdua lalu menoleh ke arah pintu.

"Ah, ini dia orangnya!" kata Bossun riang. "Switch. Rei ada di sini nih!"

"[Rei-chaan~~ Aitaaaaiii~~]" Switch langsung masuk dan berlari ke arah Rei dengan suara riang yang dibuat-buat.

Duakk!

"Jangan mengatakan hal menjijikan itu, baka!" Rei memukul kepala Switch dengan besinya, sambil mengernyit jijik. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah Bossun yang sedang berbicara di depan pintu.

"Naa, kamu beneran gak mau masuk?"

"Ya udah, kalo kamu maksa." orang yang itu lalu masuk ke dalam ruang klub. Saat ia melihat Rei mata kucingnya terbelalak kaget. Rei pun langsung berdiri dan menatap orang itu tajam.

"O…Omae wa…"

Tsubaki langsung mendatangi Rei yang terbelalak kaget, dan menarik tangan gadis itu. Rei menahan tubuhnya agar tidak mengikuti Tsubaki.

"Hei, kamu ngapain sih?" bentak Rei. Tsubaki menatapnya tajam tanpa melepaskan cengkeramannya.

"Aku mau bawa kamu ke ruang OSIS untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu!" ucapnya tegas. "Dan kamu akan mendapatkan sanksi skors."

"[Skorsing?]"

"Oi, Tsubaki! Jangan gegabah begitu! Emangnya dia salah apa?" tanya Bossun heran.

"Dia udah menyerang Sasayaka Aoi!" ujar Tsubaki. Himeko menoleh ke arah Rei yang membuang mukanya ke arah jendela.

"Beneran itu Rei?" tanya Himeko.

"Kalo dia gak ngomong kalo klub ini klub bodoh dan aneh, aku gak bakal serang dia." ujar Rei dingin. Suasana hening sejenak. Namun tatapan semua orang di situ tertuju pada Rei. Rei mengalihkan pandangannya dan menatap Tsubaki mantap. "Tapi kalo itu maumu, silahkan. Aku gak keberatan."

Tsubaki lalu membawa Rei keluar dari ruangan klub, namun saat di depan pintu, Rei berhenti dan menatap Switch lembut.

"Kamu tau?" kata Rei perlahan, membuat perasaan Switch kembali tidak karuan, "Siapa yang tahan kalo orang yang aku suka dihina, sebagai otaku yang gak berguna? Padahal semua tau kalo kamu itu adalah otaknya Sket Club, Database sekolah, bahkan kamu yang menolongku dari isu yang membuatku hampir menjadi penyendiri."

"[Rei…]"

"Rei…" ujar Himeko. "Kamu gak perlu melakukan ini."

"Tsubaki, bisa gak, kamu gak menskorsing Rei?" pinta Bossun. Tsubaki akan menjawab, namun Rei mengangkat tangannya, melarang Tsubaki untuk berbicara.

"Udahlah, anggap ini pengorbanan." ujar Rei sambil tersenyum jahil. Pandangannya beralih ke Himeko yang menatapnya cemas, Bossun yang memasang wajah cengengnya, lalu Switch yang menatapnya datar. Rei menghela nafasnya sebelum melanjutkan.

"Bossun, Himeko, dalam masa skorsing, kan aku masih bisa untuk berlatih untuk turnamen baseball minggu depan, kan? Dan juga Kaimei Rock Festival yang berlangsung dua minggu lagi." Rei tersenyum lebar.

"Jaa, sampai nanti…"

Lalu Rei dan Tsubaki pergi ke ruang OSIS. Himeko dan Bossun mengalihkan pandangannya ke arah Switch yang masih menatap ke arah pintu dengan tatapan kosong.

"Switch…" panggil Himeko. "Kamu gak akan ngejar dia?"

"[Entahlah,]" Switch mengambil tas Rei yang tertinggal, lalu berjalan keluar klub. "[Kurasa aku akan pergi jalan-jalan sebentar.]"

"Nee, Bossun!" desak Himeko. Bossun menghela nafasnya.

"Himeko. Kaya'nya semuanya jadi tambah rumit."

.

.

Di depan ruang OSIS…

"Akira Rei! Karena sudah menyerang salah satu siswi, maka kamu diskors selama seminggu!"

Switch berdiri di depan ruang OSIS dan mendengarkan percakapan yang ada di dalam ruang OSIS, namun ia tidak mendengar keluhan ataupun protes dari gadis itu. Ia malah mendengar gadis itu berkata, "Baiklah…"

Pintu pun terbuka, dan Rei keluar dari ruangan. Betapa terkejutnya gadis itu ketika melihat Switch menunggunya di depan ruang OSIS.

"Hm? Switch?" tanyanya perlahan.

"[Skorsing selama seminggu ya…]" ketik Switch sambil menyerahkan tas Rei. "[Hukuman yang berlebihan hanya karena menyerang salah satu siswa.]"

Rei menghela nafasnya sembari mengambil tasnya. "Udahlah. Ini memang kesalahanku." Rei berjalan menyusuri koridor dengan tatapan kosong. Switch pun berjalan di sebelah gadis itu.

"[Kenapa kamu gak membela diri?]"

"Percuma, gak ada saksi mata."

"[Kamu menyerangnya karena kamu membela Sket Club kan?]" ketiknya lagi. "[Dan juga… aku?]"

"Itu udah seharusnya kan?" Rei berhenti berjalan dan menatap Switch datar. "Kalo kamu, Bossun, atau Himeko jadi aku, pasti kalian juga ngelakuin hal yang sama."

"[Bisa dibayangkan.]"

"Padahal kalian udah membantu murid-murid di sini untuk menyelesaikan masalah mereka." untuk kesekian kalinya Rei menghela nafasnya. "Dan aku gak suka kalo kamu dibilangin otaku gak berguna."

Switch tersenyum tipis. Membuat Rei merona merah dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Tapi itu bukan masalah kan!" ujar Rei sambil melangkahkan kakinya ke ruang klub. "Toh kamu bukan cuma cerdas, tapi bisa mencari informasi dengan cepat walaupun itu kadang gak penting."

"[Kalo ada internet, aku bisa melakukan apapun!]" Switch menyusul Rei. "[Termasuk mencari informasi tentang kostum maid yang moe untuk kamu pakai…]"

Duakk!

Rei menjitak kepala Switch dengan wajah yang memerah.

"Jangan ngomong yang macam-macam! Dasar otaku mesum!"

.

.

Switch berdiri di atap, memperhatikan Rei yang berjalan dengan gontai, keluar dari area sekolah. Namun ketenangannya itu berakhir saat seseorang memanggilnya.

"Switch-kun…"

Switch menoleh dan mendapati Yuki sedang menatapnya dengan matanya yang pucat. "Kaya'nya ini kesialan dari Rei-san, sampai dia di skorsing begitu…"

"[Gak ada yang namanya kesialan, Yuki-san. Dia di skorsing karena kesalahannya sendiri.]"

"Oh, jadi kamu juga ngakuin, kalo kakakku tersayangku itu salah dan pantas di skorsing?" Aoi datang dengan senyum palsunya seperti biasa. Lalu berjalan dengan anggun ke arah Switch dan Yuki. Yuki langsung mundur saat melihat Aoi.

"[Sasayaka Aoi.]"

"Ne… Switch-kun…" Aoi mendekati Switch yang kaku di tempatnya. "Kamu lebih memihak aku daripada dia kan?" ujarnya sambil tersenyum manis.

Wah, moe! pikir Switch. Namun Yuki mencoleknya, dan menyadarkannya dari fantasi gilanya. Switch pun langsung mengalihkan pandanganya ke arah lapangan sekolah, namun Rei sudah tidak ada di sana.

"[Setidaknya itu yang dia katakan. Dia orang yang bertanggung jawab untuk mengakui kesalahannya.]"

"Sou dake do…" ujar Aoi. "Bukannya aku mau menghina dia sih. Tapi aku saranin jangan terlibat lebih jauh dengan Akira." katanya lembut. "Dia bisa membuatmu berada dalam kesulitan lho…" lalu ia pergi dari tempat itu. Yuki langsung menatap Switch dengan mata pucatnya.

"Switch-kun… Dia bukan gadis yang baik seperti yang terlihat…" ujarnya pelan. "Auranya berbeda…"

"[Hm…]" Switch mengangguk, "[Aku sudah tau.]" lalu ia berjalan menuju pintu atap. Yuki lalu mengikutinya, menunggu lanjutan dari pemuda berkacamata itu.

"[Dan aku curiga kalo dia terlalu melebih-lebihkan peristiwa penyerangan itu.]"

.

.

Ruang Sket Club…

"Switch!" ujar Himeko cemas, lalu mendekati Switch yang berdiri di ambang pintu. Himeko menggenggam Steel yang secara tidak sengaja tertinggal di ruang klub. Switch mengerutkan dahinya melihat batang besi itu.

"[Apa itu?]" tanya Switch, "[Hohoho… Himeko, kamu mau bikin toko besi tua?]"

Duakk!

"Enak aja! Ini bukan besi tua tau!" ujar Himeko usai memukul Switch dengan besi yang dipegangnya. "Ini senjata milik Rei! Namanya Steel…"

"[Steel?]" tanya Switch sembari mengingat-ingat.

"Itu lho, senjata yang dipakai Rei untuk melawan preman-preman itu…" kata Bossun mengingatkan.

"[Oh, iya. Aku terkesan kalo kamu punya ingatan yang kuat, Bossun.]" ketik Switch. "[Lalu? Kenapa dia gak bawa ini sama dia?]" tanyanya lagi.

"Kamu tuh gak peka atau gimana sih?" tanya Himeko marah. "Justru itu masalahnya!"

Switch mengambil besi itu, dan memperhatikannya.

"[Hm? Aku terkejut, benda ini berat banget!]" ketiknya lagi. "[Mungkin karena beratnya maka preman-preman itu kalah telak. Aku bisa memodifikasinya sedikit.]"

"Ya ampun…" keluh Himeko. "Jangan kamu rusak itu, Switch!" larang Himeko.

"[Aku gak mau ngerusak ini. Justru aku mau memodifikasi ini biar kekuatan ledaknya sempurna, ho ho ho…]"

"Kekuatan ledak? Kamu kedengeran kaya' professor gila yang ada di film action…" ujar Bossun.

"[Ho ho ho.. begitulah aku…]" Switch lalu mengemasi barang-barangnya dan mengambil tasnya.

"[Aku pulang dulu ya! Aku mau nonton Futari wa Nervous! Sudah lama aku gak nonton!]" ketiknya lalu pergi. Himeko dan Bossun hanya bisa bertatapan heran.

"Begitu gak ada Rei, dia jadi otaku lagi…" ujar Himeko bingung.

"Yah, begitulah dia…" Bossun memaklumi. Tiba-tiba Himeko teringat sesuatu.

"Eh! Steel-nya Rei!"

.

.

Kamar Switch…

Switch memperhatikan detail dari senjata milik Rei. Setelah dipanjangkan menjadi 1 meter, sepertinya ruas-ruas dari senjata itu merusak penampilannya, jadi Switch akan memodifikasinya sedikit. Switch pun menggambar detail dari modifikasi Steel. Lalu keluar dari kamarnya sambil membawa sketsanya, dan Steel.

"Ah, Kazuyoshi, kamu mau kemana?" tanya Ibu Switch ketika Switch sudah sampai di ambang pintu.

"[Aku mau keluar sebentar, ibu.]" ujarnya lalu keluar dari rumahnya.

.

.

Pinggir sungai, dekat apartemen Rei…

Jreng…

Rei memetik gitar akustik merahnya. Lagi-lagi pikirannya melayang entah kemana. Mata birunya menatap sungai di depannya dengan tatapan kosong. Suara laptop Switch masih terngiang di telinganya, membuat hatinya sakit.

Aku masih mencintai teman masa kecilku, Sawa. Jadi kupikir aku tidak akan jatuh cinta kepada siapapun lagi.

Jreng…

Aku masih mencintai Sawa.

Jreng…

Aku tidak akan jatuh cinta kepada siapapun lagi.

Jreng…

Aku lebih mengenalmu dari Momoka.

Jreng…

Kalau jaminannya adalah perasaanku?

"Urusai!"

Byurr!

Dengan marah Rei melempar gitar kesayangannya ke sungai. Menimbulkan riak-riak air yang mengacaukan bayangan awan yang dihiasi semburat merah, yang terpantul di sungai yang jernih itu. Namun suara itu masih terngiang di telinganya.

Apa itu semua cukup?

"Semuanya itu cukup untuk membuat hidupku hancur, otaku bodoh!" teriaknya frustasi. Namun tidak ada yang menjawab perkataannya. Hanya sungai yang beriak tidak tenang, namun itu tak cukup menjadi jawaban atas perasaannya yang kacau.

Nafas Rei masih terengah-engah. Tidak disangka, ternyata berteriak itu membuang-buang tenaga. Namun semuanya itu membuatnya agak lega. Hingga akhirnya ia teringat sesuatu.

"Shi…Shimatta! Gitarku!" ujarnya panik.

"Onee-chan, itu gitar mahal lho… Sayang banget kamu buang-buang begitu…"

Dengan kesal Rei menoleh ke asal suara. Dilihatnya Aoi sedang berdiri di belakangnya sambil tersenyum sinis ke arahnya. Matanya yang berwarna aquamarine itu menyipit. Pipi kanannya diplester putih. Sedangkan tak jauh di belakang gadis itu terparkir mobil mewah berwarna hitam. Rei mendecih kesal.

"Ngapain kamu kesini? Mau kuhajar lagi?" ujarnya tajam.

"Jangan galak-galak dong, Onee-chan…" jawabnya pura-pura tersinggung. "Aku kaget aja ngeliat Onee-chan ngelempar gitar kesayangan Onee-chan ke sungai…"

Rei mengalihkan pandangannya ke arah sungai. Masih tersisa riak-riak air yang ditimbulkan oleh Rei. Dengan pasrah Rei menghela nafasnya lalu berjalan melewati Aoi, "Ah, sudahlah… Aku bisa beli lagi kok…"

"Onee-chan yakin? Dengan uang yang Onee-chan punya sekarang?"

Rei menghentikan langkahnya, dan kembali menatap Aoi tajam. "Maksudmu apa?!"

"Yah, begitulah…" Aoi tersenyum tanpa merasa bersalah, "Itu kan gitar yang dibeli Otou-sama khusus untuk Onee-chan… Aku yakin Onee-chan gak bakal ngelepasin gitar itu, apalagi Onee-chan mau ikut Kaimei Rock Festival…"

"Lalu?"

"Aku gak keberatan kok kalo aku ngebeliin Onee-chan gitar yang sama persis dengan yang Onee-chan buang itu…"

Rei terkekeh sinis, lalu mengibaskan tangannya. "Gak usah repot-repot… Anak manja macam kamu itu gak bakal ngerti apa-apa…" Rei pun berjalan meninggalkan Aoi yang membeku mendengar perkataan tajam Rei. Dengan perasaan tidak karuan Aoi pun masuk ke dalam mobil mewah itu, dan mobil mewah itu pergi ke arah yang berlawanan dengan arah perginya Rei.

Rei pun berjalan ke arah apertemennya dengan lesu. Benar kata Yuki, ini adalah kutukan. Pertama, ia di skors, kedua, ia tidak sengaja membuang gitarnya ke sungai. Apakah ada hal yang lebih buruk dari ini?

"[Rei?]"

Rei mengalihkan pandangannya ke asal suara. Dan dilihatnya Switch berjalan dengan santai ke arahnya. Yah, apa lagi yang lebih buruk dari bertemu orang yang sama sekali tidak ingin ditemui setelah dua kesialan yang menghampirinya?

"[Kamu kelihatan lesu? Ada apa?]" tanya Switch. Rei tidak menjawab. Gadis itu hanya menunduk.

"[Maa.. Maa~… Biar kutebak. Gitarmu jatuh ke sungai?]"

Bingo! Kata-kata Switch langsung membuat Rei menatapnya dengan terbelalak.

"Kamu tau dari mana?!"

"Ya, soalnya aku nemu ini mengapung di pinggir sungai…" Bossun muncul dari belakang Switch sambil menenteng gitar Rei yang basah. Rei langsung berlari mendekati Bossun dan mengambil gitar kesayangannya itu.

"Wah, terima kasih ya! Kukira aku gak akan liat ini lagi!" ujarnya riang.

"Sama-sama! Udah ya! Aku mau pulang nih! Nanti kalo aku gak pulang Rumi bisa ngamuk nanti! Jaa!" ujarnya lalu berlalu. Meninggalkan Rei dan Switch berdua saja. Sejenak suasana langsung berubah menjadi canggung.

"[Rei?]" suara laptop Switch memecahkan kesunyian.

"A…ah! I..iya…" jawab Rei salah tingkah. Namun gadis itu kembali diam, dan berusaha memenangkan jantungnya yang sudah berdebar kencang.

"[Udah malam…]" ketiknya lagi.

"Memang udah malam," Rei mendongakkan kepalanya, menatap warna langit yang sudah berubah menjadi biru gelap, "Terus kenapa?"

"[Gak pulang?]"

"Hm… Tadinya sih aku mau latihan main gitar, tapi gara-gara jatuh ke sungai ya… kamu tau lah…" Rei mengangkat gitarnya yang basah kuyup.

"[Mau jalan-jalan sebentar?]" tanya Switch. "[Cari makanan?]"

"Ayam kali, pake cari makan segala.." gurau Rei. Lalu ia berjalan melewati Switch, "Ke apartemenku aja yuk, deket sini aja kok…" ajaknya. Mau tidak mau akhirnya Switch pun mengikuti Rei. Tak lama kemudian mereka sampai dikompleks apartemen. Rei pun masuk ke dalam lift dan menekan tombol 7.

"[Rei…]" ketik Switch. "[Kaya'nya kamu dan Bossun bertetangga ya?]" tanyanya.

"Hm?" mata sapphire Rei mengalihkan pandangannya dari pintu lift.

"[Dia tinggal di salah satu apartemen di sini, dengan Ibu dan adik perempuannya.]"

"Oh, itu…" guman Rei pelan. "Aku udah tau…"

"[Kamu sering mampir ke sana?]" tanya Switch. Rei menggeleng.

"Gak. Soalnya aku kan baru kenal dia…" ujarnya. Pintu lift pun terbuka, dan Rei pun membuka pintu apartemen yang berada di samping kanan lift.

Begitu Rei membuka pintu, aroma khas raspberry langsung menyapa indra penciuman Switch. Rei langsung menyuruh Switch duduk di sofa berwarna merah darah yang tertata rapi. Sedangkan Rei langsung masuk ke dalam kamarnya.

Begitu Rei sudah tidak ada di situ, Switch langsung menyesap aroma raspberry itu dalam-dalam. Switch mengira rumah itu akan beraroma mawar atau strawberry. Sejenak Switch meneliti ruangan itu. Sofa berwarna merah darah, sedangkan di depannya ada meja marmer berwarna hitam pekat. Dan di hadapan Switch ada TV flat LED 32" yang tergantung di dinding.

Tak jauh di belakang sofa itu, ada dapur yang dilengkapi lemari masak berwarna putih. Namun meja makannya berwarna hitam dengan kursi berwarna merah.

Berbeda sekali dengan apartemen Bossun yang perabotannya didominasi warna coklat krem. Apartemen Rei didominasi warna merah, hitam dan putih. Bahkan pintu-pintunya di cat berwarna putih, sewarna dengan dindingnya. Menampilkan kesan minimalis dan kaku.

Tanpa sadar Switch sudah ada di depan buffet yang terletak di samping TV, memperhatikan foto Rei dengan Aoi semasa mereka masih kecil. Sepertinya sekitar 10 tahun. Mereka tersenyum sambil berpegangan tangan. Foto itu di ambil dengan latar belakang menara Eiffel. Rei memakai gaun Lolita berwarna merah dengan aksen mawar di leher gaunnya. Sedangkan Aoi memakai gaun Lolita dengan aksen bunga iris di leher gaunnya juga. Rambut Rei hitam kelam, sedangkan Rambut Aoi kuning pirang dengan mata aquamarine-nya.. Walaupun begitu mereka sangat mirip.

Namun ada yang berbeda dari foto itu. Mata Rei. Bukan. Tepatnya, warna matanya.

"Switch! Ayo! Aku bakal masak makan malam!" ajak Rei yang tau-tau sudah ada di dapur. Switch berbalik dan menatap Rei yang menatapnya heran.

"Switch?"

TBC

Amel : *ngetok Tsubaki pake toa* ekspresimu, sumpah, alay banget! *nahan ketawa*
Tsubaki : Kan kamu yang nyuruh aku begitu, dasar author labil.
Amel : *ngeluarin aura gelap* apa katamu?!
Switch : [Maa, maa. Sabar, Amel-chan] *ngelusin kepala Amel*
Bossun : Jangan galak-galak sama adikku, Amel!
Himeko : Ciee, dia belain adiknya…
Switch : [Hohoho, manis sekali!]
Rei : Jadi, mereka kembaran ya? Pantes sama-sama alay…
Bossun + Tsubaki : Urusai!

Amel : Kalian berisik! Mau ngebales review dulu neh…

maggie98 : Wah, senangnya, ternyata Amel udah ditagihin buat fic-nya…(ditagih kok malah seneng…) Ini udah diapdet kok. Makasih ya, Amel gak nyangka kalo cerita ini banyak yang suka… ^^ Iya, Switch ini kirain dingin, ternyata kocak. Kalo Tsubaki, hehe, Amel suka sifat tegasnya, itu juga yang bikin dia lucu karena sering kelahi sama Bossun.. :D

kinara Nazareth : Maafkan Amel karena baru ngebales review-mu… makasih udah membaca ya, silahkan menikmati chapter ini… :D

YuIchi : wah, gak nyangka juga ternyata ada juga yang namanya hampir sama dengan nama keluarga Rei.. ^^ judulnya apa ya? Amel juga kepingin baca ._. Yosh! Atashi wa, ganbaru maasu!

syfalizzy-chan : wah, makasih ya.. Ini udah apdet…

In-chan : Yap! Makasih udah suka sama cerita ini dan karakternya… ^^ Oh iya, lagunya Momoka yang 'maru maru' itu yah? Soalnya susah nih, cari di google tapi gak ketemu-ketemu..

Untuk yang punya akun, udah dibales lewat PM kan? hehehe… *dibacok

Oh, iya, maafkan Amel ya, mungkin apdetnya bakal jarang banget, soalnya hari Senin Amel udah magang… Makanya chapter ini Amel bikinnya kepanjangan… ^^

Paling sering mungkin dua minggu sekali… Kalo lebih cepet sih, Alhamdulillah…

Yosha! See you in next chap!