Chapter 9: THE SPECULATION
.
Motherfucker
An Action Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"Are you ready to kill?"
A sequel of Welcome to Our Madness
.
.
.
MEI 28
Seminggu tidak bertemu, Youngjae agak kaget dengan perubahan dari Junhong. Walau itu hanya dari warna rambutnya yang semula pirang kini menjadi merah. Tapi tetap saja hal itu membawa perubahan. Mengingat Junhong yang menghilang setelah insiden waktu itu.
Air muka Junhong tidak berubah saat melewati Jongup dan Jungkook yang sedang berlatih di area kosong bengkel, sambil ditemani Daehyun.
"Kemana saja, Junhong?" Youngjae memilih untuk menyapa lebih dahulu.
Tapi Junhong tidak menjawab—dia melenggang melewati Youngjae dan duduk di salah satu sofa usang di bengkel itu; memperhatikan Jungkook yang berlatih.
Jungkook tersadar dan kemudian meminta Jongup berhenti hanya sekedar untuk menyapa. "Warna itu bagus untukmu, Junhong."
"Untukmu juga." Itu bukan maksud yang kau tangkap.
"Eh?" Jungkook memandangnya tidak mengerti.
Well, mungkin dokter di rumah sakit itu bisa menangani Jungkook dengan baik karena Junhong melihat kondisinya sudah sehat. Atau memang karena dia tidak parah melukainya, tetapi teman-temannya itu melebihkan kondisinya? Aish! Ini semua memang tentang keselamatan Jungkook yang Junhong sendiri tidak tahu mengapa teman-temannya begitu memedulikannya.
"Aku lebih suka hitam."
Sebuah suara berat terdengar dari arah belakang. Junhong tidak perlu menoleh untuk mengetahuinya. Lagipula kini Yongguk mendudukkan diri di sampingnya.
"Sudah jernih otakmu?"
Junhong mendengus lalu berdiri. Ia tidak membiarkan ada yang mencegahnya saat ia melangkah menuju pintu yang ia lewati untuk masuk tadi.
"Kau mau kemana?" tanya Youngjae.
Tapi Junhong memang tidak mau menjawab.
Jungkook ada di posisiku dahulu.
Dia sangat diperhatikan.
Junhong menendang sebuah batu kecil yang berada tak jauh dari sepatunya. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan berdecak beberapa kali memikirkan hal itu.
"Sepertinya semua berubah menjadi brengsek."
Bahkan Junhong tidak menyadari bahwa kakinya sudah membawa ia jauh dari tempat mereka. Ia terlalu sibuk menggerutu untuk hal yang tidak ia sukai.
Lalu Junhong memilih untuk mengambil uang dari ATM terdekat di jalan sepi itu. Mungkin ia akan menghabiskan waktunya sendiri pada malam pukul sepuluh ini.
Junhong berjalan dan kemudian berhenti berdiri di depan mesin. Dia mengeluarkan dompetnya dan mulai memasukkan kartunya lalu mengetikkan sandi.
Berapa yang harus ia ambil?
Tentu orangtuanya selalu menransfer begitu banyak nominal uang untuknya. Jadi Junhong tidak perlu berpikir keras.
Mungkin 10 lembar pecahan limapuluhribu won cukup untuk mengisi dompetnya beberapa hari.
Setelah mengambil uangnya dan meletakkannya ke dalam dompet—beserta kartunya—Junhong berbalik dan baru tersadar bahwa ada lima orang asing—beberapa di antaranya menodongkan senjata—ke arahnya.
Yang berhadapan dengan Junhong menadahkan tangannya."Serahkan, jika tidak ingin mati."
Junhong bertahan dengan stoic face-nya saat itu juga.
"Bocah, kami tidak main-main." Orang yang memegang pisau lipat itu berkata.
Sedangkan dua lainnya yang memegang pistol—Junhong yakin dengan apa yang mereka sembunyikan di balik mantel itu—hanya tertawa.
Mereka pikir aku tidak bisa menghadapi mereka? Cih!
Saat sang ketua—Junhong pikir—hampir bicara lagi, Junhong lebih dahulu melayangkan sebuah tendangan tepat mengenai pipi kanannya. Yang lain bergerak—dan benar saja, dua orang itu mengeluarkan benda yang mereka sembunyikan dari mantel, sialnya itu adalah pistol laras ganda.
Junhong berlari sambil berusaha menghindar saat ia mendengar suara peluru yang ditembakkan. Tapi salah seorang berhasil mengejarnya, lalu menendang ia di bagian kaki dan membuat ia tersungkur. Junhong segera berbalik namun tidak lebih cepat untuk bangkit, sampai orang itu berhasil menonjok wajahnya. Junhong melawan, memukul kepala orang itu keras dengan kepalanya. Dan pening itu tentu saja tidak berpengaruh hanya untuk orang itu, ia pun merasakan hal yang sama.
Lalu satu pria yang memegang pisau lipat mendekat dan hampir menusukkannya di dada, tapi Junhong masih bisa untuk menonjok wajahnya. Dan pria itu tidak menyerah, lalu bermaksud menusukkan pisau itu kembali, namun Junhong menggulingkan tubuhnya sehingga yang kena adalah lengan atasnya; tersayat.
Ketiga pria lainnya berhasil menyusul, dan kini posisi Junhong di kelilingi oleh lima orang. Sial, dia terkepung. Junhong segera memasang kuda-kuda, tidak peduli pada bibir bawahnya yang sobek.
"Kukira kau hanya bocah ingusan."
Junhong tidak suka berbasa-basi.
Dia melayangkan kembali sebuah tendangan pada salah satu pria yang memegang pistol. Lalu pria lainnya dengan pistol berniat untuk menembak, tapi Junhong menendangnya juga sampai tersungkur. Junhong ingin menghabisi keduanya lebih dahulu, namun ia sadar masih ada tiga lain di belakang tubuhnya yang bersiap menyerang. Maka Junhong melayangkan sebuah tendangan memutar yang berhasil mengenai dua dari mereka. Lalu Junhong mendekat pada sang pemegang pistol yang tersungkur, merebut pistolnya yang tergeletak dengan cepat, lalu menembakkannya tepat di kepala dua orang itu.
Saat Junhong berniat untuk menembak tiga lainnya, salah satu dari mereka ternyata berada di belakang tubuhnya lalu mencekikknya dengan lengan atas dan bawah. Ia menepis pistol di tangan Junhong lalu memukul kepalanya dengan keras. Junhong tersungkur, tapi pria itu menginjak punggungnya.
"Bocah yang kurang ajar sekali."
Junhong tidak peduli suara siapa itu, yang pasti dia berusaha bangkit dari tendangan-tendangan itu.
Fuck! Dia tidak boleh kalah dari preman-preman bodoh ini.
Mungkin pikirannya sedang kacau, jadi Junhong berfantasi bahwa dia bisa melawan mereka tanpa menyentuh. Dan dia berpikir bahwa itu terbukti saat ia merasakan pria yang menendangnya berhenti, lalu merintih dan terjerambab jatuh. Lalu ada suara rintihan lain berulang kali. Pukulan demi pukulan sampai akhirnya berhenti disaat Junhong berhasil berbalik.
Dan Sehun sudah mengulurkan tangan padanya.
"Warnamu merah." Dia terkekeh lalu memperlihatkan deretan giginya.
Junhong membalas kekehan itu kemudian saat otaknya tersambung kembali. Dia menerima uluran tangan itu dan berdiri.
"Well, aku mengira kita tidak bertemu hanya sekitar satu minggu tapi kurasa kau bertambah tinggi. Dan kau terlihat lebih bagus dengan warna merah ini."
"Ini tidak seperti yang kau lihat. Aku tidak selemah itu."
Sehun tertawa dan menepuk bahu bagian belakang Junhong. "Harusnya aku tidak datang, ya?"
Junhong tersenyum. "Tapi terima kasih."
Sehun melipat kedua tangannya dan menaruh di belakang kepala sambil berjalan berdampingan. "Anggap saja balas budi karena kau telah menyelamatkan Xiumin."
Mereka berjalan menjauhi area itu dan berhenti di sebuah taman hanya untuk memeriksa luka Junhong—Sehun yang memaksa.
"Hanya lebam biasa dan luka gores." Junhong berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia baik-baik saja. Dia memperhatikan bagaimana Sehun berusaha membersihkan luka gores di lengan itu dari kerikil dan darah menggunakan air dari keran air siap minum di taman itu.
"Memang." Sehun tetap terfokus. "Tapi tetap saja perlu dibersihkan."
Junhong tersenyum tipis—dia bisa menahan rasa perih di lengannya. "Apa kabar dengan Xiumin?"
"Oh, mampirlah kalau ada waktu. Xiumin akan senang."
"Baiklah."
Sehun menjauh setelah selesai sambil mematikan keran. "Lain kali gunakan yeop chagi. Ah, ttwieo chagi."
Junhong memperhatikan Sehun. "Aku kurang handal dalam menendang dengan ttwieo chagi."
"Eh?" Sehun mengukur tingginya dengan Junhong menggunakan tangan. "Padahal kau tinggi, mungkin lebih mudah."
"Cedera dahulu membuatku tidak bisa melakukannya."
Sehun mengangguk saja beberapa kali.
"Kau cukup hebat."
Sehun tertawa dengan pujian itu. "Kau juga. Mungkin jika kita bersama, kita bisa menjadi partner yang sangat hebat."
Junhong membalas tawanya. "Kau benar."
"Dan lain kali gunakan bakkat chagi."
"Kadang tidak terpikir."
"Tapi itu bagus, kau bisa melumpuhkan lawanmu."
"Aku bisa belajar darimu." Junhong melirik luka di lengannya.
Sehun terkekeh sambil mengeluarkan sebuah sapu tangan lalu mengikatnya di lengan Junhong, menahan darah dari lukanya. "Aku juga ingin belajar sesuatu darimu."
"Hum," Junhong mengangguk sambil berpikir. "mau kuajarkan hal lain tentang ini?"
"Sure."
Pemuda yang lebih tinggi mengedarkan pandangannya dan menemukan sebuah minimarket di ujung jalan.
"Ayo. Ada sesuatu yang menarik."
Sehun mengikuti Junhong yang berjalan lebih dahulu keluar taman, menuju minimarket yang hanya satu-satunya mencolok disana. Lalu setelah sampai, keduanya masuk dengan tidak mencurigakan.
"Selamat malam." sang kasir wanita menyapa.
Sebenarnya Sehun hanya mengikuti langkah Junhong ke arah box pendingin.
"Kau lebih suka Heineken, cheongju atau soju?"
Sehun terkikik setelah mengerti. "Soju."
"Baiklah, aku ambil empat botol." Junhong membuka pintu lemari pendingin dan mengambil empat botol lalu memberikannya dua pada Sehun. "Ini menyenangkan. Kadang kulakukan jika ingin berolahraga malam hari." katanya sambil menutup pintu.
Sehun tertawa.
"Jadi kita mau mulai berolahraga?"
Junhong berjalan lebih dahulu. "Sampai di kasir, aba-aba baru dikibarkan."
"Baiklah~."
Sang kasir membungkuk rendah saat mengira Junhong dan Sehun mau menyimpan belanjaan mereka depan meja kasir. Tapi wanita itu segera berteriak saat Junhong tertawa dan berlari keluar bersama Sehun.
Ada alarm yang berbunyi di saat keduanya masih berlari untuk menjauh sambil tertawa puas. Junhong mengarahkan langkah mereka pada sebuah gang kecil dan kemudian berhenti disana.
"Sialan. Seharusnya kita mengerjai dulu wanita itu. Dia lumayan."
"Oh, sayangnya aku tidak suka wanita." Junhong tertawa dan mengambil posisi duduk menyandar pada dinding.
Sehun terkikik sambil mengambil posisi duduk juga di hadapannya sambil menyandar.
"Lebih menyenangkan jika aku sedang dalam mood."
"Bagaimana dengan CCTV?"
Junhong membuka tutup botol pertama dan kemudian meneguknya. "Mereka tidak akan mengadukan pencurian empat botol soju. Haha, itu tidak menarik untuk jadi headline berita."
"Itu persepsi lucu, Junhong." Sehun membuka miliknya dan kemudian meneguknya.
"So," Junhong bersandar lalu memejamkan matanya. "kita teman, bukan?"
Sehun meliriknya tanpa menjawab.
~..o..~
HOLLA .w.
Inilah yang terjadi ketika Junhong merasa muak dengan Badman yang menurutnya 'menganak-emaskan Jungkook'. Dia merasa bahwa Sehun bisa menjadi temannya. Tapi sebenarnya apa yang Sehun pikirkan?
Wah, wah, pembaca ff ini semakin bertambah setiap harinya tapi semakin banyak yang malu-malu kucing untuk member review? Sebenarnya apa susahnya mereview? Kalian hanya perlu menuangkan pemikiran kalian setelah membaca. Tolong hargai penulis. Mereka selalu menyempatkan waktunya setiap hari untuk melanjutkan cerita mereka :)
Terima kasih atas semuanya. Seperti biasa hari minggu saya selalu buru-buru, harus berangkat pagi
Btw di chapter ini Jungkook ga berdarah kok XD buat armybana575
So, seeya di next chapie, atau di ff lain :3
Lovelove, Yuri Masochist
