Ansatsu Kyoshitsu
Disclaimer : Matsui Yuusei
.
Warning : OOC, Typo(s), EyD tidak sempurna, ide pasaran, dll.
.
Happy reading!
..
.
Chapter 10 : Jam Dinding
"Jamnya mati ya?"
Isogai mendongak ke atas papan tulis begitu mendengar perkataan Maehara. "Ah, benar. Aku akan mengganti baterainya."
"Kalau mau turun ke gedung utama aku nitip jusnya Isogai!"
"Aku juga!" Mimura mengikuti permintaan Maehara.
"Maehara, kau kan yang piket hari ini. Harusnya kau yang membeli baterai dan menggantinya," tegur Kataoka.
"Eh? Benarkah? Aku piket hari ini ya? Bukannya besok?"
Tuk.
Isogai menyentil pelipis Maehara. "Jangan berlagak sok lupa."
"Isogai, aku masih punya sisa baterai. Pakai saja."
"Waah! Arigato Itona, kau penyelamat kelas," balas Isogai riang, dengan penuh terima kasih.
Itona hanya mengangguk datar. "Siapa yang akan memanjat dan mengambil jamnya?"
Mereka sontak menoleh ke arah Maehara.
"Kenapa aku? Aku tidak mau!"
"Tapi kau yang piket hari ini kan?" Sugino mengingatkan.
Sekarang semakin banyak anak-anak kelas yang berdiri di barisan depan. Ikut bergabung dalam rencana penggantian batu baterai jam dinding yang mati.
"Kau juga tinggi Maehara, lakukan saja. Pasti mudah untukmu," kata Mimura Kouki.
Maehara berusaha mengelak. "Aku piket bersama Kataoka, kenapa tidak dia yang mengambilnya? Dia kan juga tinggi. Atau kalau tidak yang lain saja."
"Hah? Kau mau anak perempuan memanjat untuk mengambil jam dinding sementara anak laki-laki menonton dari bawah. Kau punya niat terselubung kan?"
"Ya! Anak perempuan saja yang melakukannya. Siapapun boleh."
"Okajima, aku tidak bicara denganmu!"
"Ya, ya, kenapa kau jadi semangat sekali?!" seru Okano kesal.
"Oke, oke, biar aku yang ambil! Puas?"
Semua anak tersenyum lebar untuk Maehara. Pemuda itu mengambil kursinya lalu naik ke atas untuk mengambil jamnya, dia harus sedikit berjinjit karena tingginya kurang.
"Mana baterainya?" tanyanya setelah melompat turun.
"Ini. Itu baterai yang bagus, akan tahan lama."
"Kalau kau bicara begitu, kami tidak bisa menyangkalnya Itona."
"Baiklah Maehara, pasang sekarang."
"Hah? Aku lagi? Kenapa harus aku Isogai?" Maehara berseru tidak terima. "Aku tidak ma—oke, oke, karena aku yang piket dan karena aku laki-laki yang tinggi harus aku lagi yang memasangnya."
Maehar bersungut-sungut kesal. Ia sengaja meloncat ke kursi dan menapakkan kakinya dengan keras.
"Santai aja Maehara. Slow..."
"Diam kau Okano! Kau tidak tahu sakitnya kakiku karena harus berjinjit."
"Ups! Ada yang marah."
"Maehara masih miring. Kau mau membuat angka dua belas di arah jam tiga ya?"
"Nakamura, aku bahkan belum memasangnya tapi kau sudah berkomentar seperti itu."
"Maaf, habis kau lama."
"Memasang jam ini tidak semudah yang kau pikirkan tahu. Coba kau yang pasang saja!"
Maehara berhenti mencoba dan berbalik ke anak-anak 3-E yang mengamatinya. Ia mengulurkan jam dinding bulat itu. Wajahnya kelihatan lelah.
"Ada yang mau menggantikanku mencobanya? Aku menyerah."
Hening. Tidak ada yang menjawab. Semua menatap Maehara penuh harap.
Pemuda itu menghela nafas panjang. "Baiklah..."
Ia turun dari kursi dan menyingkirkannya. "Tolong pindahkan mejaku ke sini. Kursi ini kurang tinggi."
Isogai dan Mimura mengangkat meja Maehara tepat ke bawah jam dinding seharusnya berada. Maehara melompat naik, sekali lagi mencoba menyangkutkan lubang di belakang jam ke paku.
"Akhirnya..." desahnya lega.
"Maehara, sedikit miring ke kiri," beritahu Nakamura. Pemuda itu langsung menggesernya. "Kali ini terlalu ke kanan. Kau menggesernya terlalu jauh."
Maehara mencoba lagi.
"Terlalu condong."
Lagi.
"Itu bahaya, hampir jatuh."
Masih sekai lagi.
"Itu sama seperti posisi awal tadi. Belum pas."
"Sedikit ke kanan."
"Ya, sedikit lagi."
Dahi Maehara berkedut kesal. Ia ingin protes tapi tahu hasil akhirnya dia juga yang bakalan kalah. Pemuda itu terpaksa hanya menghela nafas panjang berkali-kali, mencoba menambah stok perpanjangan kesabarannya.
"Pasnya gimana sih?" Ia mundur sedikit demi sedikit.
"Maehara awa—"
BRUKH!
Seruan dari Okano telat, Maehara sudah terlanjur jatuh dari meja. Mereka yang melihat sekuat tenaga menahan tawanya. Mau ketawa kasihan, tidak ketawa tapi lucu. Jadinya terdengar banyak suara seperti pfffft yang sekilas didengar Maehara.
"Cukup! Siapapun gantikan aku!" Maehara berdiri dengan jengkel.
Isogai menggantinya membetulkan posisi jam dinding itu. Ia hanya sedikit menyentuhnya dan teriakan serta seruan betul begitu, bagus Isogai, akhirnya pas terlontar dari semua penonton.
"Memangnya apa bedanya dari yang kulakukan tadi?! Perasaan sama saja deh!"
Kataoka menepuk pundak Maehara pelan. "Sabar."
"Tahu begini, aku tidak memberi tahu kalau jamnya mati."
.
.
.
Tbc.
.
.
.
Halo, hola, yang udah mau mereview sampai chap ini arigato ya! Selalu tunggu kelanjutan ceritanya ya! Chapter depan ada fic yang temanya dari reader lho, ditunggu ya!
Bye-bye! Jaa na! Sampai jumpa! XD
