Hello Minna… ini dia buat yang menunggu.

Declaimer © Masashi Kishimoto

Who is My True Love

Chapter 10 : Let me Erase it

~! #$%^&*()~

CIIIT

Suara rem mobil itu memenuhi ruang parkir sekolah. Seorang pemuda tampan dan berpengaruh di sekolah itu keluar dari kursi kemudi, disusul oleh seorang gadis manis yang keluar dari kursi penumpang depan.

Kehadiran mereka pun lantas menarik perhatian siswa-siswi di sekitar mereka. Beberapa terlihat keheranan, sementara kebanyakan siswi justru mendelik kesal pada sosok gadis itu.

"Hhh.. mereka kelihatan ingin menerkamku saja. Semua gara-gara kau, Sasuke," bisik gadis itu begitu ia di samping Sasuke. Yah, sejak kejadian tinggalnya ia dengan pemuda itu, mereka jadi lebih dekat.

"Tentu saja, salahmu sendiri berjalan dengan orang setampan diriku." Sasuke memuji diri sendiri. Seringaian muncul di bibirnya, sementara kedua tangannya tersembunyi rapi di saku celananya.

"Ukh, kau membuatku ingin membencimu saja. Rasanya seperti akan ada hal buruk terjadi padaku setelah ini. Sudah ah! Aku pergi dulu, Jaa."

Dengan begitu, Ino ―nama gadis itu― beranjak pergi meninggalkan Sasuke dengan tampang kesal.

Tak butuh waktu lama bagi Ino untuk melewati pelataran parkir serta pelataran sekolah mereka. Gadis itu pun kini berjalan dengan santai di koridor menuju ruang kelas pertamanya, ruang kelas yang juga akan dihuni Sasuke nanti. Lalu kenapa harus berpisah segala kalau memang ruang kelas mereka sama?

"Oi, Yamanaka!"

Ino menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya tadi. Di depannya, berdirilah tiga orang perempuan yang tak asing lagi di matanya. Sesuatu yang dikhawatirkannya muncul juga.

Dengan ekspresi angkuh, Ino menjawab, "Karin? Ada urusan apa kau denganku?"
Karin sedikit mengeryit, ia dan temannya saling melempar pandangan aneh dengan sikap Ino barusan. Namun, tak lama kemudian, seringaian muncul di bibir ketiga siswi di hadapan Ino itu.

Mau tidak mau Ino sedikit takut dengan seringaian itu. Sejak awal ia memang memaksakan diri untuk melawan Karin, untuk tidak kalah lagi darinya, agar ia tak harus dibully gadis merah itu nantinya.

Karin berjalan mendekat, masih dengan seringaian itu. Ino sedikit mundur.
Tangannya mengepal erat, matanya semakin menyipit demi menahan mimik angkuhnya. Di saat-saat seperti ini, ia harus berani, ia tak boleh terlihat takut.

"Berani menentang kami, eh? Yamanaka?" ujar Karin sinis. Tangannya mendorong keras bahu Ino seketika, membuat Ino terkesiap dan kehilangan keseimbangannya.

"Ukh!"

Hampir saja ia terjatuh kalau saja dua tangan kekar lain tak menahan punggungnya, membuat Ino menoleh terkejut.

Sama seperti kejadian lalu, sosok pemilik tangan kekar itu tak lain tak bukan adalah Gaara. Ia tak membalas tatapan Ino dan justru menatap Karin tajam.

"Wah wah wah, ksatrianya datang teman-teman," ujar Karin pada teman-temannya yang ditanggapi dengan tawa mereka. Ino kembali menatap Karin dan teman-temannya. Sepertinya mereka tak lagi mempan dengan tatapan Gaara seperti dulu.

"Jangan membuang-buang waktuku, Karin. Katakan saja apa maumu!" balas Ino sinis. Setidaknya keberadaan Gaara di sampingnya sedikit mengurangi ketakutannya. Walau ia sempat membenci pemuda itu, tapi Ino sadar, Gaara orang baik. Dan Ino tahu, Gaara pasti berada di pihaknya saat ini.

"Bukankah sudah jelas, Yamanaka? Satu peringatan terakhir untukmu dari kami tak kau pedulikan, dan kini kau justru berangkat semobil dengan Sasuke. Kami ingin memberimu pelajaran, Yamanaka!"

Ino melipat tangannya di depan dadanya, menunggu Karin melanjutkan.
Dengan suara yang dibuatnya tinggi, Karin memulai, "Hai Minna! Lihat! Ada pelacur di sini."

Ino terkesiap seketika. Matanya menatap bingung, tak percaya dengan apa yang dikatakan Karin. Begitupun Gaara, ia menambah deathglarenya.

Beberapa pelajar yang berlalu lalang di koridor itu pun berhenti dan menatap kelima manusia itu.

"Hei, Ino! Jahat sekali kau hingga mencampakkan pria nanas itu, bukankah ia sudah cukup tampan? Pintar lagi. Kini kau justru mendekati Sasuke, apalagi semobil dengannya. Jangan-jangan kau melakukan sesuatu dengannya? Lalu mau kau kemanakan pacarmu yang satu ini? Eh?" lanjut Karin sambil menunjuk Gaara. Tatapan aneh diterima Ino dari siswa-siswi lain.

Bisik-bisik pun tak dapat dihindari.

Gaara semakin geram, ia sudah akan menghajar Karin kalau saja tangan Ino tak menghalanginya. Ino menatap tajam Karin, bersiap untuk membalas perkataan gadis merah itu.

"Kau iri, Karin?"

"Kheh, aku tak pantas iri dengan orang sepertimu," balas Karin tak mau kalah.

"Aa.. sou desu ne ―jadi begitu―. Setidaknya, kalau memang benar aku adalah 'pelacur' yang kau maksud, aku lebih mampu merebut hati Sasuke daripada kau, kan?" balas Ino. Seringaian perlahan muncul di bibirnya.

Karin merengut kesal. Kata-kata barusan seolah menjatuhkan harga dirinya. Ia yang tak terima lantas membalas, "Kau Yamanaka bodoh."

"Saa.. wakarimashita ―aku mengerti―. Aku memang bodoh dan kau memang pintar. Tapi kemana kepintaranmu hingga kau bisa semudah itu terbuai pesona Sasuke yang ternyata justru 'melirik'ku, eh?"

Karin sudah tak bisa menahan amarahnya. Ia tak terima direndahkan seperti itu, apalagi oleh juniornya sendiri. Dan kini, siswa-siswi lain yang melihat mereka sedari tadi, terlihat justru mendelik ke arah Karin, menambah api kemarahan Karin bertambah besar.

Tidak terima dipermalukan seperti itu, Karin pun mulai bergerak. Ia melangkah maju mendekati Ino dan mulai menarik surai pirang milik Ino.
Ino sedikit meringis.

Namun, belum sempat Karin bertindak lebih, Gaara menarik tangan Karin dari rambut Ino dan memelintir tangannya.
Kini, justru Karin-lah yang meringis kesakitan.

"Aw...aaw...lepaskan!" bentak Karin. Gaara tak menggubrisnya.

"Lepaskan ia, Gaara!"

"Setelah apa yang dilakukan padamu? Tidak, aku tak segan-segan mematahkan tangannya, Ino." Gaara membalas.

Tak berhasil dengan kata-kata, Ino pun melepas paksa tangan Gaara dari Karin, membuat Gaara menatap bingung Ino dan membuat Karin mendengus kesal sambil mengusap-usap pergelangan tangannya. Gadis merah itu kemudian pergi bersama kedua temannya setelah sebelumnya mengirim ancaman pada Ino.

"Awas kau, Yamanaka!"

Dengan begitu, siswa-siswi di sekitar mereka pun kembali pada kegiatan awal mereka, bersikap seolah tak melihat adegan barusan.

"Kau tidak apa-apa, Ino?" tanya Gaara khawatir. Tangannya merapikan rambut Ino yang berantakkan karena ulah Karin barusan.

"Aku tidak-tidak apa kok."
Gaara menurunkan tangannya. Mereka pun terdiam untuk sementara.

"Aku―."

"Aku―."

Ucap mereka bersamaan.

"Kau duluan." timpal Gaara, membuat Ino sedikit membuang muka gugup.

Dengan satu tarikan nafas, Ino membungkuk tepat di hadapan pemuda itu.
"Aku... aku minta maaf. Gomenasai ne, Gaara. Aku terlalu terbawa emosi waktu itu. Maaf," kata Ino cepat.

Gaara sedikit terkesiap. Kemudian, sebuah senyum tipis muncul di bibir merahnya.

Tangannya mengangkat dagu Ino, membuatnya bertatap mata langsung dengan Gaara.

"Tak apa. Aku juga salah kok. Jadi, kita berteman?"

Sambil tersenyum manis, Ino mengangguk, menyetujui pernyataan Gaara. Setidaknya, teman baik seperti Gaara kembali padanya.

"Sudah, ayo! Kita ke kelas! Bukankah kelas kita sama?" ujar Gaara yang mulai berjalan.

"Hu'um."

Ino mengambil langkah sejajar dengan pemuda itu. Suasana pun berubah damai seperti dulu. Suasana dengan temannya yang dirindukannya.

"Kau semobil dengan Sasuke? Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Gaara di tengah-tengah perjalanan mereka.

"Hehe.. rahasia. Itu urusan pribadi kami." Ino menjawab dengan cengirannya.

"Jadi yang dikatakan Karin benar?"

"Ck, tentu saja tidak, Gaara. Kau jangan berpikiran macam-macam ya?" Ino memukul lengan Gaara, membuat Gaara sedikit meringis. Walau sebenarnya tak terlalu sakit, berakting sedikit tak apa kan?

"Baiklah, sebagai permintaan maafku, hari ini aku akan menemani Gaara terus deh. Kita akan terus bersama hari ini. Ok?" tawar Ino.

"Kheh, bukankah itu hanya akan menguntungkanmu saja, eh?"

Ino merengut kesal mendapat jawaban tersebut. Kalau dipikir pernyataannya barusan memang justru menyebutkan Gaara-lah pihak yang bersalah. Tapi, yah Ino tak punya ide lain sih.

"Gomen, gomen. Aku akan menemanimu terus hari ini," bujuk Gaara. Senyum tak berdosa pun dikeluarkan Ino, membuat Gaara ikut tersenyum.

Sunyi pun kembali mendominasi suasana. Hingga ketika mereka sampai di dekat ruang kelas mereka, Gaara kembali bertanya, "Dan tadi itu.. kau cukup berani, Ino. Apa penyebabnya?"

Mereka berhenti berjalan.

"Eh? Pertanyaanmu aneh Gaara-kun. Tapi, kalau ditanya penyebabnya, aku tak tahu. Hanya saja, aku punya sesuatu yang berharga yang harus kulindungi," jawab Ino pelan, namun seulas senyum terlihat jelas di bibir pink gadis itu.

"Sesuatu yang berharga? Apa itu?" tanya Gaara penasaran.

Sambil berjalan, Ino menjawab, "Kebahagiaanku."

Dan Ino pun berjalan lebih dulu menuju kelasnya diikuti Gaara yang bergumam di belakangnya. 'Kebahagiaan?'

Ino sampai di depan pintu kelasnya, bersiap membukanya.

SREK

Pintu bergeser, menarik perhatian para penghuni kelas yang awalnya ricuh menjadi diam memandang sosok yang hadir barusan.

'Kenapa jadi sunyi begini?' pikir Ino.

Rasa penasaran Ino bertambah ketika dilihatnya seluruh penghuni kelas yang tiba-tiba beranjak mengambil duduk mereka masing-masing, layaknya takut karena kedatangan guru mereka.

"Kheh, kau sudah datang rupanya, Yamanaka?" celutuk seseorang dari depan ruang kelas dengan sinisnya.

Ino menoleh untuk lagi-lagi mendapati Karin yang berseringai beserta kedua temannya tadi serta satu orang lagi temannya yang baru saja bergabung dengan mereka.

Ino melirik ke arah papan tulis tepat di belakang Karin. Ia terkejut bukan main. Di sana, di papan itu tertulis besar namanya, ke-yatim-piatunya, dan lagi-lagi kalimat peng-olokan yang sama seperti tadi pagi padanya.

Tanpa aba-aba, Ino langsung menerjang ke depan kelas. Ia tidak terima diperolok seperti ini.
Begitu sampai, matanya mengamati setiap ruang di bagian depan, mencari penghapus papan.

Naasnya, benda kotak tersebut ada di tangan Karin.

"Mencari ini, Yamanaka?" ujar Karin sambil memainkan penghapus itu. Tanpa pikir panjang lagi, Ino menghapus sendiri tulisan kapur di papan itu dengan kedua tangannya. Karena ia tahu, Karin takkan mungkin memberinya penghapus itu bila ia minta.

Ia sudah tak habis pikir dengan sikap Karin. Gadis itu bah vampir jahat yang tahan mati dalam arti jera. Balasannya terhadap gadis merah itu sama sekali tak membuatnya mundur.

Tapi, dari semua itu, satu hal yang sangat tidak bisa ia terima. Di papan itu, selain mengejeknya sebagai 'pelacur', Karin juga mengejek nama ayahnya karena telah melahirkan Ino sebagai 'anak kurang ajar'. Ino benci orang yang menjelekkan nama ayahnya. Ayahnya bukan seperti itu. Ayahnya sangat menyayanginya. Dan Ino bukan putri 'orang kurang ajar'.

Gaara sudah akan membantu kalau saja ketiga teman Karin tidak menahannya.

Dan di sana, tak jauh dari Ino yang berusaha menghapus semua tulisan penghinaan kepadanya, Karin tengah tertawa terbahak-bahak. Ia sangat suka mengerjai Ino. Bahkan kalau Ino tak mampu menahan emosinya, mungkin ia sudah akan menangis sekarang. Karena kalau sampai ia menangis, semua berarti 'kekalahan' baginya.

SRET

Tiba-tiba seseorang menarik tangan kanan Ino dari papan. Tangan kirinya otomatis berhenti. Ia menoleh untuk mendapati seorang Uchiha Sasuke berdiri di samping kirinya. Matanya melirik tajam pada Karin, membuat Karin serta seluruh penghuni kelas bertambah diam. Suasana kelas pun menjadi tegang. Sunyi, senyap, tidak ada bisik-bisik sama sekali. Gaara sendiri sudah terbebas dari ketiga teman Karin dan mendelik marah pada mereka.

"Sasuke? Aku bisa menjelas―."

Kata-kata Karin terpotong begitu melihat Sasuke yang berjalan ke arahnya dengan menyeret tangan kanan Ino yang dipegangnya sedari tadi.

Tak disangka idolanya justru mengetahui tabiat buruknya. Apalagi dengan pandangan tajam Sasuke itu, Karin tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Nilai buruk sudah terpatri untuknya. Bukankah dibenci idola adalah hal yang paling menyakitkan bagi penggemar?

Tak mempedulikan wajah takut Karin, Sasuke langsung menggoreskan telapak tangan Ino yang bernoda kapur itu pada seragam Karin. Bagian depan, lengan, dan bahu semua ternodai dengan kapur, menimbulkan keterkejutan di wajah hampir seluruh penghuni kelas, terutama Karin dan Ino.

Tak sampai di situ, Sasuke melepas tangan kanan Ino dan beralir meraih tangan kiri Ino yang juga ternodai kapur. Sama seperti sebelumnya, Sasuke menggoreskan telapak tangan kiri Ino pada Karin. Dan kali ini, sasarannya bukanlah seragam, melainkan wajah Karin.

"Sasuke! Hentikan!" bentak Ino seraya menarik tangannya dari genggaman Sasuke. Sasuke menatap bingung Ino. Namun, ekspresi marah belum lepas dari mimik wajahnya.
Ino sendiri tak mengerti kenapa Sasuke bertindak hingga seperti itu. Walau terkesan tak ada luka fisik pada Karin, tapi Ino tahu bagaimana rasanya dipermalukan itu. Ia tak tega hal itu terjadi, walau terhadap 'musuhnya' sekalipun.

Namun, berbeda dengan Gaara, Sasuke justru tak memperdulikan Ino. Kembali menoleh pada Karin, Sasuke menarik paksa lengan Karin dan mendorongnya hingga hampir bertatapan dengan papan tulis tadi.

"Ukh!"

"Cepat hapus sekarang juga!" bentak Sasuke dingin.

Karin masih terdiam sambil menunduk takut. Tangannya bergetar memegang penghapus papan tulis itu. Ia hampir saja menangis.

BRAK

Sasuke menendang keras meja guru di samping Karin, membuatnya bergeser dari tempatnya semula. Kemarahannya bertambah begitu melihat Karin yang hanya diam saja.

"Cepat hapus tulisanmu!" bentaknya sekali lagi.

Dengan rasa takutnya, akhirnya Karin menghapus tulisannya sendiri. Air mata kini jelas keluar di kedua belah pipinya. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

Sudah dibenci idola, kini justru dipermalukan di depan orang banyak oleh idolanya sendiri. Siapa yang tak menangis bila mendapat perlakuan semacam itu?

Begitu papan telah bersih kembali, perlahan Karin meletakkan penghapus itu di tempatnya dan berbalik menghadap Sasuke dengan menunduk.
Sasuke berbalik menatap penghuni kelas lainnya yang terdiam sedari tadi melihat adegan barusan.

"Aku tak segan-segan mematahkan tangan siapa saja yang berani berbuat hal semacam ini." Sasuke memberi peringatan. Matanya menyipit kesal. Ino hanya terdiam di belakangnya. Ia tak mungkin juga membentak Sasuke yang berbuat kasar pada Karin karena pemuda itu telah membantunya. Jadi, ia lebih memilih diam saja. Karin pun sudah beringsut mendekati ketiga temannya.

Tiba-tiba tangan Ino kembali ditarik pergi oleh Sasuke. Disambarnya tas selempang Ino yang terjatuh begitu saja di lantai dan ia kembali menarik Ino, keluar dari kelas.

Teman-teman sekelasnya menatap heran pada mereka berdua.
Tapi, walaupun begitu, tak ada yang berani bertanya sama sekali.

Sunyi menyelimuti ketika mereka berada di luar kelas. Ino masih tak tahu harus bicara apa. Berterimakasih atau justru memarahi pemuda itu?

Dilihatnya pergelangan tangannya yang masih digenggam Sasuke. Sejak tadi Sasuke belum juga melepas tangannya. Jantungnya berdegup tak karuan, sama seperti tadi malam ketika mereka pergi ke pasar malam. Sensasi aneh namun nyaman menjalar begitu saja di relung hatinya. Dan kini ia malah tak tahu mau dibawa kemana ia oleh pemuda di depannya kini.
Mengindahkan perasaan aneh barusan, Ino angkat bicara, "Err...Sasuke! Yang tadi itu..."

Sasuke menghentikan jalannya, berbalik dan menatap Ino.

"Hn?"

Entah mengapa, mendapat tatapan mengintimidasi seperti itu, membuatnya gugup.

"Kenapa- kenapa kau melakukannya? Kau aneh tahu."

"Kheh, inikah tanggapanmu? Bukannya berterimakasih malah mencurigaiku."

"I- iie. Aku tak mencurigaimu, kok. Sungguh." ujar Ino. Tangannya ia gerak-gerakkan di depannya, meyakinkan Sasuke.

'Benar juga, sudah ditolong, masa malah mencurigainya sih,' rutuk Ino pada dirinya sendiri. Ia tersenyum paksa.

"Kalian mau kemana?"

Gaara tiba-tiba muncul dari samping mereka.

"Aaa.. Gaara-kun? Itu, kami mau.. err.."

Melihat gelagat bingung Ino, Sasuke menimpali, "Kami mau pergi dari sini. Dan jangan sampai aku mendengar kau ingin menghalangi kami."

Lagi-lagi seperti kejadian yang lalu, perang deathglare antara Sasuke dan Gaara kembali terjadi. Ino hanya membuang nafas melihat tingkah kedua temannya itu.

"Kheh, tidak. Aku tidak akan menghalangi kalian. Aku hanya ingat, seseorang memintaku menemaninya seharian ini."

Mendapat jawaban seperti itu, Sasuke lantas mendelik pada Ino, meminta keterangan lebih dari maksud Gaara barusan.

Seperti dugaan Sasuke, Ino hanya nyengir tanpa dosa, kedua jemarinya membentuk huruf 'V'. Hhh.. Tak perlu bertanya pun, Sasuke sudah mengerti maksud Ino dan Gaara barusan. Sepertinya kali ini ia memang harus rela berbagi kesenangan dengan pemuda Sabaku tersebut.

~! #$%^&*()~

"Are? Kita turun dari sini? Yakin nih, nggak ketahuan?" pekik Ino sambil memandang pelataran belakang sekolah di bawahnya.

Sasuke yang berada di sampingnya menimpali, "Kalau kau mau lewat depan dan ketahuan Pak Satpam, silahkan saja. Aku tunggu kau di samping sekolah."

"Eitc! Nggak deh. Aku ikut kau saja."
Sasuke memasang tangga tali di pinggiran atap sekolah, menalinya erat demi misi penyelamatan *ralat* pelarian diri ia dan kedua manusia lain di sampingnya. Mengingat waktu sudah berjalan cepat setelah insiden di kelas tadi, Sasuke memutuskan untuk tidak usah mengikuti pelajaran saja. Toh, sudah terlambat. Lagipula, sensei mereka kali ini memang sulit diajak kompromi bila ada yang telat masuk ke kelasnya.

"Kalau kita dicari para sensei bagaimana?" tanya Ino setelah Sasuke berhasil menali tangga tali tadi.

"Sehari saja tidak akan terjadi badai. Sudahlah! Aku turun dulu, kalian mengikuti."

Sesuai kata-katanya, Sasuke beranjak mengambil posisi di dekat tangga itu. Tiba-tiba Ino menyadari sesuatu.

"Matte! Kau tidak boleh turun dulu, Sasuke," pekik Ino sambil menarik lengan Sasuke untuk kembali naik.

"Kenapa?"

"Pokoknya aku harus turun dulu. Kalian yang mengikutiku."

Sasuke dan Gaara terlihat bingung.

"Laki-laki harus dulu. Kalau kau jatuh, kami bisa menangkapmu." Gaara menimpali.
Ino menggeleng cepat, semburat merah muncul di kedua pipinya. Bukan memerah karena membayangkan bagaimana ia ditangkap laki-laki ketika ia jatuh nanti, tapi ada alasan lain.

"Tidak, tidak! Aku harus dulu."

Melihat pipi Ino yang merona, Sasuke dan Gaara akhirnya mengerti maksud tersembunyi dari kata-kata Ino.

Sasuke pun sedikit menunduk demi mensejajarkan tingginya dengan Ino. Seringaian pun muncul.

"Kami takkan melihat'nya', kok," bisik Sasuke tepat di telinga Ino, membuat Ino lebih merona karena malu.

DUK

Ino memukul lengan Sasuke dengan tasnya. Ia merengut kesal.

"Pokoknya aku dulu. Titik!"

Dengan begitu, Ino beranjak menuju tangga tali itu, bersiap menuruninya. Kedua temannya yang lain hanya diam sambil terus berseringai.

Tak disangka ia sampai digoda seperti itu.
'Ck. Harusnya aku pakai short tadi.'

~! #$%^&*()~

"Ne? Kita mau kemana nih?" tanya Ino pada kedua temannya di sampingnya.
Yang ditanya hanya diam saja, karena mereka sendiri juga tak punya jawaban untuk diberikan.

"Pagi-pagi begini, pasar malamnya pasti sepi. Tidak ada festival besar di bulan ini. Huft, kita kemana nih?" tanyanya sekali lagi.

"Ke kuil saja," ujar Gaara.

"Are? Untuk apa kesana?"

"Biasanya para penduduk kuil mengadakan upacara kecil-kecilan. Selain itu ada sedikit tarian daerah yang sengaja untuk menarik turis asing."

"Ne? Kau tahu banyak Gaara."

"Beberapa hari lalu, tak sengaja aku berkunjung ke sana." Gaara menjawab.

"Saa...jadi dari situ kau tau ya...Sou ne," Ino menganggukkan kepalanya mengerti.

"Sudahlah! Ayo cepat berangkat!"

Dengan begitu, Sasuke menarik lengan Ino menuju tangga ke arah kuil tak jauh di depan mereka.

Gaara mendelik tak suka.

Namun walau begitu, ia tak mencoba untuk menghentikan tindakan Sasuke. Beberapa saat kemudian, mereka bertiga sampai di tangga teratas menuju kuil. Rasa lelah terlihat jelas di mimik wajah Ino.

"Lelah sekali nee.." gerutu Ino. Nafasnya terengah-engah dari menaiki tangga kuil yang lumayan banyak.

Dan di sana, di depan mereka, kumpulan turis sedang berkerumun menyaksikan drama tari tradisional yang dimainkan oleh penduduk sekitar kuil. Mata Ino berubah kagum. Kelelahan yang baru saja menimpanya seakan lenyap begitu melihat tarian di depan sana. Tarian itu terlihat halus, lembut, dan berkesan nyaman. Pemain wanita yang memainkannya begitu lihai. Pakaian kimono tersemat rapi di tubuhnya. Sementara di sekitar penari wanita itu, beberapa orang pemain laki-laki memakai pakaian kuno jepang terlihat ingin mengganggu kesenangan penari wanita itu.

Intinya, mereka sedang memainkan drama tari.

"Tak sebegitu ramai yah?" gumam Ino kecewa. Ino merasa tarian itu sangat bagus, sayang sekali bila penontonnya sepi.

"Ini masih pagi. Nanti siang pasti lebih ramai." Gaara menghibur, membuat Ino kembali menampilkan senyumnya lega.

"Baiklah, ayo kita ke sana!" pekik Ino sambil menarik tangan Gaara maupun Sasuke menuju kumpulan turis itu. Berniat ikut menikmati acara itu.

"Melihat tarian ini, aku teringat sesuatu," gumam Ino sendiri. Ia langsung saja mendelik ke arah Sasuke yang berdiri di samping kirinya.

"Sasuke, kalau kau menutup mata dalam hitungan lima detik, dan bila saat kau membukanya seorang gadis tertangkap indera penglihatanmu, kau akan jatuh cinta padanya."

"Ck. Aku tak akan percaya tipuanmu, Yamanaka."
Ino merengut kesal dengan tanggapan Sasuke. Ia pun menoleh pada Gaara.

"Kau percaya kan, Gaara?" tanya Ino dengan mata berbinar-binar penuh harap pada Gaara supaya setuju dengan pendapatnya.

Namun, harapan itu kandas seketika begitu mendengar jawaban Gaara.

"Entahlah, Ino. Hal itu terlalu biasa untuk dipercayai. Menutup mata dan membukanya lalu jatuh cinta, terdengar mengada-ada."

"Tapi kan aku tak mengada-ada. Aku mengambilnya dari kisah nyata. Jadi, kau tak percaya padaku, Gaara-kun?" rengek Ino.

"Emm.. mungkin aku bisa percaya kalau ada bukti-."

"Sudahlah! Lebih baik kalian nikmati pertunjukan ini saja," potong Sasuke tiba-tiba. Ino pun kembali menoleh ke depan dengan tatapan kesal.

Sepanjang acara Ino terus terlihat kesal. Namun, saat pertunjukan menampilkan klimaksnya, Ino begitu antusias. Wajah kesalnya berubah seketika menjadi sangat gregetan dengan pertunjukan itu. Pikirannya sudah tak terfokus lagi pada Sasuke maupun Gaara. Bahkan kekesalannya pun perlahan menyusut atau malah hilang sama sekali.

"Haah.. kenapa wanitanya justru mati." Ino menggerutu kesal setelah pertunjukan selesai. Tak hanya dia, kebanyakan turis yang menonton pun juga terlihat kecewa melihat penari wanita yang justru menjadi korban. Namun, mereka tetap senang mendapat hiburan yang menyenangkan serta menegangkan itu. Hingga tepuk tangan pun memenuhi area sekitar kuil itu.

Setelah para penari tersebut memberi hormat dan beranjak beristirahat, para turis pun kembali berpencar, mencoba mencari hiburan lain atau sekedar menunggu hingga pertunjukan kedua dimulai.

"Eh! Beli eskrim yuk!" ajak Ino yang tanpa sadar menarik tangan Gaara, sementara tangan kirinya menunjuk tempat eskrim yang agak jauh dari tempat mereka.

Mereka pun berlari pergi, meninggalkan Sasuke sendiri. Dan daripada membuang tenaga untuk mengejar mereka, ia pun memilih untuk menikmati daerah kuil dengan santai.

Pemandangan kuil sebenarnya lumayan indah, sejuk, dan nyaman. Hanya saja, karena letaknya di dataran atas, banyak turis yang tak tahu tempat ini. Mungkin bila upacara dan tarian adat di kuil ini semakin berkembang, mengusulkan iklan ke badan pariwisata mungkin dapat menarik lebih pengunjung.

"Hai, Nak!" panggil seseorang ketika Sasuke sampai di dekat kuil. Sasuke menoleh, didapatinya seorang pria paruh baya yang menggerakkan tangannya pada Sasuke pertanda meminta pemuda itu untuk mendekat.

Tak keberatan, Sasuke mengambil duduk di samping paruh baya itu.

"Ini!"

Paman itu menyodorkan sebotol air mineral padanya, yang dengan sedikit tak enak hati diterima Sasuke.

"Doumo arigatou," kata Sasuke mengambil botol itu.

"Kau tidak sekolah? Mana teman-temanmu tadi?" tanya paman itu masih menatap depan.

"Mereka pergi membeli es."

Paman itu menggangguk mengerti.

Kesunyian sempat terjadi sebelum paman itu kembali bicara dengan nada yang sedikit pelan, "Bagaimana pendapatmu dengan pertunjukan tadi?"

"Lumayan."

Mendengar jawaban Sasuke yang singkat itu, membuatnya tertawa serta membuat Sasuke menatapnya bingung.

"Haha.. Ternyata kau orang yang dingin, pemuda."
Paman itu menepuk bahu Sasuke singkat sambil masih tertawa.

"Maaf, maaf."

"Tidak apa-apa," jawab Sasuke.

"Dalam tarian tadi, seorang wanita yang setia menjaga cintanya hingga pemuda yang dicintainya pulang. Bahkan laki-laki lain tak mampu menarik hatinya. Dia adalah wanita berhati laki-laki," kata paman itu.

Sasuke menoleh, alisnya mengerut tak mengerti. Maksudnya apa? Wanita berhati laki-laki?

"Kau sudah pernah jatuh cinta, Nak?"

Sasuke menggeleng, "Belum."

"Oh...wajar saja kau sendiri saat ini," kata paman itu kemudian melanjutkan, "Perasaan laki-laki itu sederhana. Sekali ia benar-benar jatuh cinta, ia takkan melirik gadis lain. Sementara perasaan wanita itu cenderung berubah-ubah. Bila ia terus mendapat perhatian, ia bisa dengan mudah jatuh cinta pada orang lain, padahal di sampingnya ia sudah mempunyai pacar."

"Jadi karena itu paman menyebut wanita tadi berhati laki-laki? Dan apa hubungannya denganku?"

Paman itu hanya diam sambil meneguk botol air mineralnya yang lain.
Setelah mengusap sisa air di mulutnya, paman itu melanjutkan, "Bila seorang lelaki berhasil membuat gadisnya hingga setia seperti itu, lelaki itu pastilah hebat."

Sasuke mulai mengerti maksud pembicaraan ini.

Paman itu menoleh pada Sasuke dan menatapnya lekat. Tangan kanannya memegang bahu kiri Sasuke.

Dengan nada serius, paman itu melanjutkan, "Kalau suatu hari nanti kau jatuh cinta, pastikan kau mengikat erat gadismu. Jangan biarkan ia menoleh pada lelaki lain bahkan saat kalian berpisah pun."

~! #$%^&*()~.

Sasuke berjalan tak tentu arah. Setelah percakapan terakhirnya dengan paman tadi, ia terus kepikiran dengan pesan terakhir orang itu padanya. 'Buatlah gadismu terus melihatmu walau kalian berpisah jauh. Itu berarti kau laki-laki hebat.'

"Ck, untuk apa aku memikirkannya." gumam Sasuke sendiri kemudian ia mengedarkan pandangannya, memfokuskan diri untuk mencari kedua temannya yang sekarang entah dimana.

'Ck. Dimana sih dua anak itu?' pikir Sasuke.

Ia sudah mendatangi mobil eskrim yang beberapa waktu lalu didatangi Gaara dan Ino, tapi mereka juga telah pergi dari sana, membuat Sasuke pada akhirnya merepotkan dirinya sendiri memutari komplek kuil itu demi mencari mereka.

Beberapa menit berlalu, tapi ia belum juga menemukan sosok merah putih itu.
Akhirnya, ia memutuskan untuk duduk di salah satu bangku di bawah pohon rindang. Tempat itu sedikit gelap, membuatnya tak banyak dikunjungi orang. Ada beberapa di antara turis-turis tadi yang berfoto di sana atau sekedar menikmati saat santai mereka. Walau sedikit gelap karena rindangnya daun pohon itu, udaranya tetap terasa sejuk, sama sekali tak terasa lembab.

"Haaah.."

BRUK

Sasuke menjatuhkan diri di bangku kecil itu. Pandangannya teralih pada awan yang bergerak perlahan. Tak ada mendung di atas sana, hanya benda putih lembut dan tarian burung-burung kecil yang menghiasi ruang di langit itu. Sasuke merasa nyaman melihatnya.
Setelah bosan memandangi awan, Sasuke kembali menatap depan. Masih sama, tak ada dua siluet manusia yang dicarinya sedari tadi. Dengan perlahan, Sasuke menutup matanya dan mulai menghitung, "Ichi, ni, san, shi, go."

Begitu hitungan kelima selesai, Sasuke membuka matanya.

Sontak matanya melebar tak percaya. Di sana, tak jauh di depannya, dua sosok yang dicari-carinya tengah berdekatan, sangat dekat. Mereka sama-sama tersenyum di depan kamera hp yang entah tak tau milik siapa, bersiap untuk mengambil foto bersama.

Namun, yang membuatnya terkejut bukanlah kedekatan posisi mereka. Bukan pula sosok laki-laki berambut merah di samping gadis pirang itu, bahkan ia sama-sekali tak peduli dengan laki-laki itu.

Yang menjadi objek pandangnya adalah gadis itu, yah gadis pirang itu.

Tiba-tiba kata-kata gadis itu tadi pagi terngiang di kepalanya.

'Sasuke, kalau kau menutup mata dalam hitungan lima detik, dan bila saat kau membukanya seorang gadis tertangkap indera penglihatanmu, kau akan jatuh cinta padanya.'

"Ini, tidak mungkin."

~! #$%^&*()~

BRAK SREK

Terdengar berbagai bunyi tak menyenangkan dari salah satu ruang kerja di manshion itu. Beberapa pendengar dari ruang tengah yang bersebelahan dengan ruangan itu terlihat gerah dengan berbagai kata-kata, teriakan, bahkan ada juga umpatan yang muncul. Ada di antara mereka yang menutup telinga, ada pula yang mengernyit kesal. Perdebatan antara dua orang di ruang kerja itu benar-benar memuakkan.

"Mereka seperti anak kecil saja." gumam salah satu pria berambut oren kesal, Pein.

Yang lainnya mengangguk setuju.

"Kenapa tidak diadakan pemilihan kandidat saja? Tobi kan jadi bingung," sambung pemuda lain berambut coklat yang meletakkan kepalanya di atas meja tepat di antara mereka.

BRAK

Lagi-lagi suara gebrakan meja dari ruang kerja itu kembali terdengar diikuti suara teriakan Deidara, "Aku tak suka permainanmu, Itachi."

Setelah itu, tak terdengar lagi suara-suara menjengkelkan dari ruangan itu. Mungkin mereka sedang mengatur emosi mereka, terutama Deidara.

"Kalau mereka terus merebutkan posisi kepala kepolisian, kita tidak akan bisa menemukan titik terang," celutuk pria berambut merah bata, Sasori.

Sunyi pun mengisi suasana ruang tengah. Tak ada yang bicara sama sekali. Mereka terbuai dalam pikiran masing-masing. Antara prihatin dengan kedua temannya yang masih memperdebatkan posisi kepala kepolisian, dan memikirkan jalan keluar yang terbaik bagi semuanya.

"Tobi belum pernah tahu, ada penempatan posisi karena kehendak pribadi..." Tobi merengut.

Walau misi terakhir mereka berjalan sukses, dan para penjahat berhasil mereka ringkus, tapi karena gugurnya Inoichi, terjadilah kejadian yang tak diinginkan seperti ini.

"Itachi sejak dulu menginginkan posisi itu. Sementara Deidara merasa posisi itu diberikan oleh Inoichi padanya. Entah apa yang mereka gunakan untuk berdebat, yang pasti motif mereka terlalu kuat untuk menghentikan perdebatan ini." Hidan, pria berambut perak berkata sambil menatap lampu gantung yang mati di atasnya. Yah, hari kan memang masih pagi, jadi lampu pun masih mati.

"Kita tidak tahu kapan kita kembali terjun ke lapangan, tapi kita harus cepat memutuskan. Kalian pilih siapa?" tanya Pein.

Sunyi. Mereka sedang berpikir.

Tiba-tiba Sasori berdiri dari kursinya.

"Aku masih harus mengontrol bisnis mainanku. Aku pilih yang mampu mengendalikan emosinya saja." Dengan begitu, Sasori pergi meninggalkan teman-temannya yang lain.
Tindakan Sasori pun diikuti oleh seorang lagi. Dengan nada seriusnya, ia berkomentar, "Hal semacam ini memang berharga bagi pria. Tapi menurutku, yang berani mengalah adalah yang terbaik." Kakuzu pun pergi setelah mengucapkannya.

Pein menghela nafas, ia merasa tak menemukan jawaban dari kedua pendapat temannya barusan. Mungkin pendapat Sasori lebih mengarah pada Itachi, tapi tetap saja, motif kuat Itachi membuatnya berpikir ulang.

"Kalian memilih siapa?" tanyanya pada beberapa orang yang tersisa.

Yang ditanya hanya menggeleng.
Mereka sama-sama tak tahu harus memilih siapa.

"Tobi lebih suka Ketua Inoichi," rengek Tobi.

"Bodoh! Jangan bicara tentang dia di saat yang tak menentu seperti ini!" Hidan berbisik, memperingatkan Tobi atas kata-katanya barusan, yang mungkin kembali menumbuhkan rasa kehilangan mereka dengan sosok pahlawan itu.

"Haah...baiklah. Terserah apa pendapat kalian." Pein menegakkan tubuhnya. Tatapannya berubah serius.

"Tapi, untuk sementara ini, aku yang akan menempati posisi itu. Jangan ada yang menceritakan hal ini pada Deidara maupun Itachi."

~! #$%^&*()~

Sepulang sekolah lebih didominasi oleh kesunyian. Setelah jalan-jalan, sesuai dengan rencana awal Sasuke, mereka kembali ke sekolah di jam-jam terakhir. Begitu bel berbunyi, Sasuke bersama Ino berpisah dengan Gaara menuju area parkir. Namun, kali ini, Sasuke terdiam terus. Bahkan sekedar basa-basi seperti 'Cepat naik!' atau 'Pasang sabuk pengamanmu!' pun tidak, membuat Ino heran dengan pemuda hitam itu. Ia terus saja terfokus pada kemudinya.
Tapi, Ino yakin, Sasuke tak benar-benar konsentrasi dengan jalan mereka. Kadang-kadang, Ino mendapati mata Sasuke yang terlihat kosong.

Akhirnya, demi mengobati rasa penasarannya, Ino bertanya, "Sasuke? Apa ada masalah?"
Kali ini Sasuke menoleh, ia menghentikan laju mobilnya yang memang sedang di persimpangan lampu merah.

Tapi, bukannya menjawab, Sasuke justru menatap Ino lekat, membuat Ino sedikit salah tingkah kalau-kalau ada yang salah dengan penampilannya.
Merasa tak mendapat respon, Ino mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Sasuke, mencari kesadaran pemuda itu.

Terkesiap, Sasuke mengedipkan matanya dan kembali menatap depan. Sesekali ia mengacak rambutnya sendiri, walau tak terlalu kasar.

"Tidak. Tidak ada apa-apa," kata Sasuke lirih.

"Kalau punya masalah, kau bisa bercerita padaku."

"Hn."

~! #$%^&*()~

"Are? Pein-san. Deidara-nii kenapa? Ia kayak orang marah," tanya Ino ketika tanpa sengaja bertemu dengan Pein di ruang tamu. Awalnya ia mau ngobrol dengan kakaknya, tapi begitu melihat Deidara yang sedang tak ingin diganggu, Ino memutuskan untuk jalan-jalan di manshion saja.

Pein yang membaca koran pun menghentikan kegiatannya dan menoleh pada Ino. Ia berdiri.

"Hanya masalah kecil. Sebentar lagi, ia pasti normal kembali."

Dengan begitu, Pein pergi meninggalkan Ino sambil membawa korannya.
Merasa sedikit lega, Ino mulai berjalan ke koridor sekitar ruang tamu, koridor yang sempat membuatnya penasaran dulu. Koridor yang terdapat berbagai macam karya menarik.

"Jadi, semua benda-benda aneh ini karya teman-teman Dei-nii?"
Ino menyentuh lukisan pemandangan, miniatur boneka kecil yang digantung dan karya lainnya. Ada sebersit rasa bangga ketika ia mengagumi karya-karya itu, tapi di sisi lain, ia menyayangkan, tak ada sama sekali bingkai foto keluarga yang dipajang.

"Sebenarnya orang tua Sasuke dimana, sih?" gumamnya.

TING TONG

Bel manshion yang berbunyi mengalihkan perhatian Ino. Ino segera beranjak ke pintu besar di depan ruang tamu itu.

Sosok pelayan yang dari kejauhan pun Ino beri isyarat agar kembali ke tugas awalnya saja, sementara Ino yang membukakan pintu tamu tersebut.

KRIET

Pintu Ino buka.

DEG

Sosok yang tak diduganya berdiri tepat di depannya. Perasaan yang awalnya tenang-tenang saja, kini seperti tercabik-cabik.

"Shi―Shikamaru?"

"Ino―."

"Jangan bicara padaku!" bentak Ino tiba-tiba. Wajahnya berubah menyiratkan kemarahan. Ingatannya teringat akan sakit hatinya melihat Shikamaru bersama Temari.
Shikamaru menahan lengan Ino sebelum Ino berbalik.

"Izinkan aku menjelaskan!"

Shikamaru terlihat sangat memohon. Ino hanya terdiam.

"Waktu itu, Temari mengantarku pulang. Dan tanpa kuduga, ia berani berbuat seperti itu padaku."

Menunduk, Ino memikirkan kebenaran perkataan Shikamaru.

"Ino?"

Ino mendongak, menatap Shikamaru tajam.

"Apa kau masih mencintaiku, Shikamaru?"

Shikamaru sedikit terperanjat mendengar kata-kata Ino. Ia tak menyangka Ino akan bertanya seperti itu.

Namun, Ino juga tahu, pemuda di depannya ini walau terkesan cuek, tapi ia tak pernah bohong, ia tak bisa berbohong.

"Ino, aku―." Shikamaru mencoba menjelaskan tapi ia menghentikan kata-katanya sendiri. Ia sedikit ragu, membuat marah Ino bertambah.

"Aaa.. ini! Ini milikmu." Shikamaru menyodorkan sebuah amplop coklat besar kepada Ino. Matanya terus mengamati Ino yang kini menatap aneh amplop itu. Ia berusaha mengulur waktu untuk mencari jawaban.

Dengan was-was, Ino menerima amplop itu. Tak dipungkiri, wajahnya kini diliputi rasa penasaran. Ia kembali mendongak pada Shikamaru yang mulai angkat bicara tetap dengan tatapan tajam, "Ino, Tou-san dan Kaa-san mengkhawatirkanmu. Mereka ingin kau kembali."

"Berhenti mengalihkan pembicaraan! Satu kesempatan lagi untukmu. Hanya satu."

Dengan begitu Ino berbalik, menutup keras pintu itu.

BRAK

Shikamaru hanya bisa mematung sambil terkejut. Matanya masih terpaku dengan benda coklat itu, seolah tak percaya dengan sikap Ino terhadapnya barusan.

Sementara Ino, ia mulai terisak. Tubuhnya yang bersandar pada daun pintu itu perlahan merosot. Dadanya naik turun menahan perih yang tiba-tiba menyerang hatinya.

Ino sudah sangat hafal perilaku Shikamaru. Sejak kecil, Shikamaru selalu diajari untuk tidak pernah berbohong, sekecil apapun itu. Dan tadi, tepat di depan mata Ino sendiri, pemuda itu terlihat ragu menyatakan cintanya. Pemuda itu terlihat tak yakin dengan perasaannya sendiri. Yang berarti, Shikamaru tak benar-benar mencintainya. Kalau Shikamaru tak berusaha berbohong, lalu kenapa ia mengalihkan pembicaraan?

"Hiks, apa karena― perempuan itu?"

~! #$%^&*()~

TOK TOK

Suara ketukan pintu itu mengalihkannya dari laptopnya. Ia pun melepas kacamatanya dan beranjak menuju pintu untuk membukanya.

"Ino?" pekiknya begitu melihat sosok adiknya yang tersenyum.

"Onii-san."

Ino langsung menghambur ke tubuh kakaknya. Walau ia sempat melihat raut kesedihan di mata aquamarine gadis itu, tapi melihat senyum sumringah Ino, membuatnya menghilangkan pikiran buruk itu.

Ia pun tersenyum sambil membalas pelukan adiknya.

"Ada apa? Kau terlihat senang?" tanyanya sambil melepas pelukan Ino.

"Hehe. Ini!" Ino menyodorkan amplop coklat yang sedari tadi dibawanya. Deidara menatap bingung amplop itu.

SRET

Deidara menerimanya, membukanya, serta membacanya. Sementara Ino, ia dibuat gregetan menunggu ekspresi kakaknya setelah ini.
Sesuai dugaan Ino, Deidara melebarkan matanya perlahan lalu menatap Ino dengan wajah berbinar-binar.

"Kita saudara kandung?" pekik Deidara senang yang ditanggapi Ino anggukan antusiasnya.

"Iya."

Dan setelahnya, kita sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.

"YAY!" Mereka pun berpelukan saking senangnya.

~! #$%^&*()~

Malam pun tiba. Suhu yang awalnya dingin, entah mengapa menjadi terasa mencekam di ruang makan itu. Tidak ada canda tawa, gurauan atau semacamnya di sana. Mereka seakan kidmat sekali menikmati makanan mereka.

Walau sama sekali tak mengeluarkan suara, tapi Ino tahu, keadaan orang-orang di situ sedang tidak membaik.

Dan itulah yang membuat suhu begitu mencekam tanpa sebab. Tobi yang biasanya mencairkan suasana, kini ia hanya terdiam. Tangannya terus memainkan garpu dan sendoknya. Begitupun Hidan, Sasori, dan Kakuzu pun ikut terdiam.

'Kenapa suasananya seperti ini? Apa ada hubungannya dengan amarah nii-chan tadi siang?' pikir Ino.

SREK

Suara gesekan kursi itu menarik perhatian Ino. Ia mendongak, mendapati Sasuke yang telah selesai dengan makanannya, bersiap untuk pergi.

Sesuai sifatnya, Sasuke tak bicara banyak setelah itu. Ia hanya berjalan santai mendekati kursi makan Ino, membuat Ino menaikkan alis bingung.

"Bersiaplah setelah ini!" bisik Sasuke tepat di telinga Ino. Ia tak mau juga, rencananya harus didengar manusia-manusia lain di sana.

"Kemana?" tanya Ino tak kalah berbisik.
Sasuke kembali menegakkan tubuhnya. Ia memberi gestur dengan delikan kepalanya, pertanda Ino diminta menemuinya nanti. Dan Sasuke pun mulai mengambil langkah.

"Eitc, Matte!" pekik Ino sebelum Sasuke menjauh.

Ino menaruh sendok dan garpunya yang sudah selesai lalu berdiri. Tak lupa ia membungkuk, memberi hormat pada penghuni ruang makan yang lain sebelum ia ikut pergi.

"Kita mau kemana?" tanya Ino begitu telah sejajar dengan Sasuke. Sasuke menoleh sambil berseringai, "Ke kuil."

"Ke kuil yang tadi?"

"Aku ingin berdoa sebentar. Lalu kita jalan-jalan. Terserah mau kemana."
Ino mengangguk mengerti. Senyum pun perlahan muncul di bibirnya.

"Aaaa.. hari ini kau tampak berbeda, Sasuke."

"Benarkah?"

"Hu'um."

Dan begitulah mereka. Tak sampai satu menit, siluet mereka sama-sama hilang tertelan dinding yang menuju lorong kamar keduanya. Namun, percakapan singkat serta ekspresi senang yang beberapa saat lalu dilakukan keduanya tak luput begitu saja dari perhatian para penghuni ruang makan, kecuali Deidara dan Itachi.

Pein terlihat menghela nafas. Hari ini, seakan ia mempunyai banyak persediaan udara di paru-parunya hingga ia terus-terusan membuang nafas tanpa disadarinya.
'Ini akan menjadi sulit.'

~! #$%^&*()~

"Kau tadi berdoa apa, Sasuke?" tanya seorang gadis penasaran pada pemuda yang kini tengah mengemudi mobil yang ia tumpangi.

"Bukan apa-apa. Sekarang kau mau pergi kemana?" pemuda yang ditanya itu mengalihkan pembicaraan. Matanya masih fokus menatap depan.

"Kita ke danau saja." usul Ino, nama gadis itu.

"Untuk apa kesana?"

"Di sana lebih sepi daripada di pasar malam. Pemandangannya indah. Karena dekat dengan pasar malam, jadi suara musik dari konser seperti tadi malam akan kedengaran. Lagipula kita kan bisa memancing di danau itu. Bagaimana? Hm?"
Sasuke hanya mengedikkan bahu, "Terserah kau saja."

~! #$%^&*()~

"Indahnyaaa..." seru Ino kagum sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Matanya berkilau sebagai akibat masuknya cahaya warna-warni dari lampu-lampu kecil di sekitar danau. Apalagi di tengah danau itu sendiri ada banyak bola lampu yang berwarna biru bersinar. Bola lampu yang mengapung yang sering digunakan sebagai penerangan para penangkap ikan umumnya. Menambah pemandangan di tempat itu semakin indah.
Karena itu, bola itu kini banyak dijual sebagai hiasan kolam dan sebagainya.

"Sasuke! Ayo beli satu, lalu kita lempar ke tengah-tengah!" ajak Ino. Ia menarik tangan Sasuke menuju kios kecil tempat bola-bola itu dijual.

"ojii-san, beli satu," pinta Ino pada penjualnya. Paman itu mengangguk.

"Kenapa hanya satu? ojii-san, beli lima." Sasuke menyahut.

"Banyak sekali?"

"Sudahlah! Ayo!" Sasuke pun menarik lengan Ino setelah sebelumnya menyelesaikan transaksinya dengan paman penjual tadi.

Begitu mereka sampai di pinggiran danau, Sasuke mengambil satu bola lampu dan memberikan bungkus plastik berisi bola itu pada Ino. Ino pun mengambil satu bola dari sana.

"Bagaimana cara menyalakannya?" gumam Ino sendiri. Setelah mengamati bola itu dengan detail, akhirnya ia menemukan power kecil. Dengan sekali petikan pada power itu, bola pun menyala.

"Siap?" tanya Sasuke.

"Matte! Bagaimana kalau lemparnya jauh-jauhan?" Ino mengusulkan.

"Kheh, baiklah."

Dan dalam hitungan tiga, mereka melemparnya bersama-sama.

"Ichi, ni, san. Yak!" seru Ino. Kedua bola itupun melambung bersamaan. Namun, di akhirnya, jelas terlihat satu bola yang mengambil jarak lebih jauh.

"Yaaah.. kok kalah sih?" rengek Ino lesu.

"Kau salah memilih lawan, Yamanaka."

"Huft!"

Dengan mimik cemberut karena kalah, Ino membalikkan badannya. Tiba-tiba Ino berhenti, tubuhnya mematung. Maniknya sukses melebar.

Sasuke yang menyadari ada keanehan pada Ino juga ikut berbalik. Pandangannya mengamati arah yang sama dengan Ino. Tak jauh beda dengan Ino, ia juga terkejut.

Kini ia tahu jelas yang membuat Ino terkesiap. Sosok berambut nanas tinggi tengah mencium pipi seorang gadis lain berambut pirang berkucir empat. Mereka terlihat senang. Sasuke tahu pasti, perempuan itu adalah Temari, salah satu murid baru pindahan dari Suna.

Tak perlu berpikir panjang, Sasuke menoleh pada sosok gadis di sampingnya. Hatinya terasa disayat melihat Ino yang terisak, gadis itu menangis.
Tanpa persetujuan gadis itu sendiri, Sasuke beranjak ke depannya, mencoba menghalanginya dari memandang kedua insan tadi. Tangannya ia begarkan. Dan dengan perlahan, ia merangkul tubuh mungil itu.

"Hiks...hiks..." isakannya bertambah.

Sasuke, ia juga teriris. Matanya ikut menyiratkan kepedihan. Ia tak tega harus melihat Ino yang seperti ini. Ia tak suka melihat Ino yang rapuh. Terlebih, ia benci melihat Ino menangis.

Perlahan, Sasuke menaikkan hoodie jaket Ino untuk menutupi kepala pirang gadis itu, menutupinya agar tak terlihat orang lain, terutama dua orang tak jauh di belakangnya.
Sasuke mengelus pelan punggung Ino. Memberinya kenyamanan demi meredakan tangisannya.

Sasuke ingin menghiburnya. Ia ingin dijadikan Ino tempat bersandar seperti ini. Ia ingin menjadi orang yang selalu ada untuk Ino.
Entah sejak kapan tumbuh perasaan aneh ini padanya. Tapi, satu yang Sasuke tahu, ia takkan pernah membiarkan Ino terluka, mulai saat ini.

Ia akan melakukan apa saja demi mengembalikan senyum manis Ino.

"Kita pergi dari sini," bisiknya seraya menggandeng Ino menjauh dari tempat itu. Tak lupa bungkus plastik berisi bola lampu itu juga ia bawa.

Sepanjang perjalanan, tangannya tak lepas dari mengelus bahu gadis itu.
Beberapa saat kemudian, mereka mendapat duduk di bangku kosong di luar area danau. Ino masih menunduk, berita bagusnya, tangisannya sedikit mereda.
Sasuke tidak tahu harus berkata apa, ia tak berpengalaman dengan hal seperti ini. Jadi, hanya dengan berharap, ia mengelus punggung Ino.

"Shika-."

"Hei, kenapa masih mengingatnya? Lupakan saja ia," bujuk Sasuke. Ino lantas mendongak. Tangannya menyentuh bibirnya sendiri.

"Ada apa?"

Tanpa menjawab pertanyaan Sasuke, Ino langsung berdiri. Bingung, Sasuke ikut berdiri. Ino mengedarkan pandangannya seperti mencari sesuatu. Tapi, Sasuke yakin, Ino tak sedang mencari sosok Shikamaru.

Ingin Sasuke bertanya sekali lagi, namun tindakan Ino sudah menjawabnya.

Gadis itu berlari ke arah kran kecil di pinggiran jalan. Ia menunduk dan menyalakan kran itu. Ino buru-buru membasuh bibir merahnya. Tak hanya satu atau dua kali, lebih dari itu Ino terus membasuh bibirnya dengan air. Sasuke berjalan mendekat. Dan di saat itu pulalah, Ino berhenti membasuh. Namun, belum sampai di situ, Ino kembali menangis sambil mengusap bibirnya dengan lengan jaketnya. Kali ini, Ino mengusapnya lebih kasar. Sasuke tak tega melihat Ino yang seperti sedang menyiksa diri seperti ini, ia menghentikan gerakan Ino. Ia meraih lengan Ino dan membalikkan tubuh Ino untuk menatapnya.

"Apa yang kau lakukan? Sudahlah, jangan seperti ini terus! Kita selesaikan masalahmu pelan-pelan, Ok?" Ino mengangguk. Ia menurut ketika Sasuke membawanya kembali ke bangku sebelumnya.

"Katakan padaku, kenapa kau berbuat seperti itu?" Sasuke bertanya pelan. Tangannya kembali bertengger di bahu Ino, membuat Ino bertatap mata langsung dengan Sasuke. Onyx bertemu aquamarine lembut.

"Aku, hiks, aku hanya ingin, menghapus ciuman Shikamaru dulu. Itu saja," jawab Ino getir.
Ia kembali menunduk sambil menahan tangis karena teringat kenangan indah namun terasa menyakitkan untuk saat ini.

Sasuke menatap Ino sendu. Ia meraih dagu Ino, memaksa gadis itu untuk kembali menatapnya.

"Bukan seperti itu caranya."

Perlahan, Sasuke mendekatkan wajahnya dengan Ino. Seakan terhipnotis, Ino pelan-pelan menutup mata. Semakin dekat, Sasuke jelas dapat merasakan hembusan nafas Ino di kulitnya.

"Maaf, tapi izinkan aku menghapusnya." kalimatnya berhenti begitu dua bibir itu bersentuhan. Nyaman dan nikmat.

Malam itu, di kegelapan itu, mereka berbagi rasa yang sama-sama mereka butuhkan. Tak ada lagi yang bertanya 'apa yang kau lakukan?', 'kenapa kau menangis?' ataupun 'mengapa ia mengkhianatiku'. Bagi mereka, ciuman itu sebagai penutup segalanya. Ciuman itu penutup kesedihan mereka. Dan ciuman itu, pembuka hati baru mereka.

~! #$%^&*()~

TOK TOK

Suara ketukan pintu itu sama sekali tak mendapat respon. Si pelakunya sudah mengetuk pintu di sebelahnya, namun sama saja tak ada respon. Dengan sedikit terpaksa, ia membuka pintu itu.

Kosong. Tak ada yang menghuni ruang kamar itu. Tapi setidaknya, seberkas cahaya rembulan terlihat jelas dari tirai transparan yang menutupi dinding kaca pembatas kamar itu dengan balkon.

"Ino? Apa Sasuke di sini?" panggilnya. Sama seperti ketukan pintunya, tak ada yang menjawab panggilannya. Dengan sekali tarikan nafas, ia memberanikan diri untuk pergi ke balkon.

SRET

Tirai ia buka. Seperti dugaannya, matanya menangkap sosok yang dicari-carinya yang kini tengah duduk di ayunan bersama satu orang lainnya.
Ia pun mendekati dua sosok itu, berdiri tepat di depan keduanya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat adiknya dan sosok lainnya itu justru tertidur. Pantas saja panggilannya tak mendapat jawaban sedari tadi.

Tepat di depannya kini, sosok gadis berambut pirang tertidur nyenyak di pundak adiknya, sementara adiknya sendiri menyandarkan kepalanya dengan kepala gadis itu. Dan yang membuatnya lebih terkejut adalah salah satu tangan adiknya dan salah satu tangan gadis itu tersembunyi rapi di sebuah sarung tangan besar dan tebal. Melihatnya saja, ia bisa menduga, di dalam sarung tangan itu, kedua jemari tangan mereka pasti saling terpaut.

Merasa prihatin dengan keadaan dua insan itu, akhirnya ia kembali ke dalam kamar untuk mengambil selimut. Suhu malam ini sedang dingin. Apalagi dua manusia tadi tidur di luar kamar mereka, pasti rasanya seperti membeku.

Saat ia kembali ke balkon, dua sosok itu tetap bergeming. Senyum pun muncul di bibirnya. 'Mungkin lain kali tidur di ayunan seperti itu, akan sangat nyenyak,' pikirnya.
Itachi, namanya, menunduk di depan dua sosok itu. Dengan perlahan-lahan, ia menyelimuti tubuh adiknya dan gadis pirang yang terbuai dalam alam mimpi itu bersama. Ia tak tahu bagaimana hal ini bisa terjadi, tapi setidaknya, sikap adiknya pasti akan sedikit berubah setelah kejadian ini.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu, perdebatannya dengan kakak gadis pirang itu tadi siang, benar-benar menyesakkan. Pandangan lembutnya kini berubah sendu.

Ia mengusap rambut adiknya pelan.
"Maafkan Onii-san, Sasuke."

TBC

Thanks buat yang udah baca en review fic ini…

Keberatan untuk menuliskan sesuatu di kotak review?