Title : MATEMACINTA

Cast :

Do Kyung Soo (17th)

Kim Kai (23th)

Byun Baek Hyun (17th)

Xi Lu Han (17th)

Park Chan Yeol (18th)

And other cast

Rate : T

Genre : Gender Switch, School–life, Romance.

.

.

.

.

Original story by;

Razy Bintang Argian

Remake by;

KazekageLaxy

.

.

.

.

I don't own this story, just remake!

Happy Reading guys ^^

.

.

.

.

.

~MATEMACINTA~

Karya: Razy Bintang Argian

.

.

.

.


"Eoma, aku keluar sebentar, ya," Pamitku pada Eoma yang sedang menyiram tanaman, ditemani Sanha yang sedang bersepeda di halaman.

"Jangan mencuri buah di tempat Paman Cha lagi, ya!" Pesannya, membuatku mendengus.

"Eoma tenang saja. Di sana kan sudah ada satpamnya. Aku tidak mungkin berani!" Aku mengingatkan. You know lah siapa yang kusebut satpam disini. "Aku pergi ya Eoma!"

"Sanha mau ikut!" Bocah itu berseru sambil mengayuh sepedanya ke arahku.

"Tidak boleh! Aku malas menjagamu. Aku mau ke rumah teman," Tolakku. Yang benar saja mengajak bocah ini?

"Sanha bisa bermain sepeda sendiri, tidak usah dijaga," Rengeknya.

"Tidak boleh, sayang," Larang Eoma, membuat bocah itu merengut. "Burung hantu boleh bermain sepeda keluar, kenapa Sanha tidak boleh?" Rajuknya.

"Jangan memanggil 'Burung Hantu' begitu sayang. Panggil Kyungsoo Noona dong."

"Ah, biarkan!" Sahut Sanha. Anak itu memang makhluk Tuhan yang paling nakal.

"Eoma takut Sanha tersesat atau ditabrak kendaraan. Kalau Kyungsoo noona sempat, nanti kamu ditemani main sepeda keluar," Bujuk Eoma. Aku memandang Sanha sambil mengangkat sebelah alis.

"Makanya kau harus menurut padaku, baru setelah itu aku akan menemanimu bermain sepeda keluar." Sanha menjulurkan lidahnya.

"Tidak mau! Sanha bisa meminta tolong pada Uncle Kai. Dasar Burung Hantu jelek!" Ejeknya, membuatku melotot dan siap menyemburnya sebelum Eoma menahanku.

"Sudah! Jangan ribut-ribut lagi, Sanha bermain sepeda di sini saja ya, menemani Eoma." Bocah itu merengut, namun dia menurut.

Aku lantas mulai mengayuh sepedaku ke luar pintu gerbang, tapi sempat kudengar Eoma berguman, 'Sepertinya kemarin Eoma melihat mawar kuning ini ada empat, kenapa sekarang tinggal tiga?' Mengabaikannya, aku segera meluncur ke jalanan sambil diam-diam menahan senyum. Tujuanku sebenarnya adalah rumah Paman Cha, tapi agar Eoma tak curiga atau dipergoki si nakal Sanha, aku sengaja naik sepeda dan memilih jalan memutar. Di jalan, aku kembali menimbang-nimbang rencana konyolku untuk pergi ke rumah Paman Cha. Tidak ada motif kriminal dalam kunjunganku kali ini. Aku hanya ingin memperbaiki hubungan bilateralku dengan Kai saem dan berterima kasih. Tiga hari ini dia sudah rutin mengantar-jemputku ke sekolah –Karna Sehun masih marah– sehingga aku tidak usah repot-repot menaiki bus dan mengkhawatirkan luka-lukaku. Aku juga ingin memberitahu bahwa mulai besok aku tidak perlu diantar-jemput lagi karena lukaku sudah baikan. Tiga hari ini aku selalu berdebar jika pergi ke sekolah bersama Kai saem. Tentu saja bukan berdebar dalam arti romantis, tapi berdebar waswas. Aku tidak bisa membayangkan jika ada yang melihat kami bersama. Bisa-bisa tersebar gosip yang tidak-tidak, apalagi dengan wali kelas sendiri. Ih, tidak deh! Dengan tangan kiri, aku meraba mawar yang terselip di punggungku. Biar aman, durinya sempat kubuang di dapur tadi. Mungkin otakku sedang bermasalah atau bagaimana sehingga aku memiliki ide gila tentang proyek bunga perdamaian ini. Tapi biarkan saja, telanjur. Setelah membuka pagar, sepedaku melaju memasuki halaman rumah Paman Cha.

"Permisi!" Teriakku, namun tak ada jawaban. Aku lalu menuju halaman belakang dan menyandarkan sepedaku di pohon terdekat. Jendela kamar Kai saem terbuka. Dimana dia?

"Permisi, Kai saem!" Aku mengintip ke dalam kamarnya, tapi kosong.

"Oi, pencuri manga! Kau mau menyelinap diam-diam di rumahku lagi?" Tegur Kai saem dari atas pohon rambutan dibelakang, mengagetkanku. Aku mendongak menatapnya.

"Menurut saem, apa ada orang yang mau nyelinap diam-diam di rumah orang akan berteriak-teriak memanggil si pemilik rumah?"

"Mungkin saja jika pelakunya adalah orang yang dikenal. Dia sengaja memanggil-manggil si pemilik rumah untuk memastikan keberadaannya. Jika si pemilik rumah ada, dia pura-pura punya keperluan. Jika tidak, barulah dia beraksi." Ucapnya, membuatku mendengus.

"Baik, anggap saja begitu. Berarti saya sedang berada didalam keadaan pertama." Aku mulai jengkel dengan sikap Kai saem. Tapi mengingat tujuanku kemari untuk gencatan senjata, bukan memperuncing pertikaian, aku mencoba sabar dan menahan diri.

"Oh begitu. Ada keperluan apa? Pohon mangganya sudah tidak berbuah lagi. Lagipula tanganmu masih terluka. Jadi belum bisa memanjat, kan?" Sindirnya, membuatku ingin sekali melemparinya dengan batu kerikil saja. Aku jadi ingin mengurungkan niat memberikan petisi perdamaian ini. Tapi bagaimanapun menyebalkannya, dia sudah banyak membantuku. Anggap saja aku sedang balas budi.

"Saya hanya ingin berterima kasih karena Saem sudah banyak menolong saya. Sudah menyelamatkan saya saat dikeroyok berandalan itu, juga sudah mau mengantar saya ke sekolah beberapa hari ini. Saya mau berterima kasih untuk semuanya."

"Hanya segitu saja?" Kai saem tersenyum mengejek. Menyebalkan sekali! Seharusnya aku tidak melakukan ini. Mungkin dia tidak hanya merasa sedang di atas pohon, tapi juga di atas angin.

"Mh, semenjak pertemuan pertama, saya dan saem selalu terlibat masalah. Dan sebagian besar masalah itu adalah ulah saya, jadi saya ingin meminta maaf. Bagaimana jika kita memulai semuanya dari awal, hubungan yang baik dan jauh dari masalah?" Aku mengambil bunga yang tersembunyi di balik bajuku. Kemudian dengan enggan, aku berjinjit dan mengacungkan bunga itu pada Kai saem.

"Mawar kuning lambang persahabatan. Maaf jika saya lancang, tapi apa saem mau menjadi teman saya?" Kai saem memandangku dengan tatapan tak percaya dalam beberapa detik. Mungkin dia sedang berfikir, kenapa gadis badung dan calon kriminal masa depan sepertiku bisa melakukan hal gila begini. Aku juga bingung kenapa aku bisa begini. Hua!

"Mh." Kai saem lalu mempermainkan mimik wajahnya, seperti orang yang sedang berpikir keras. Aku jadi kesal. Ih, sok mikir sekali sih orang ini. Aku kan hanya mengajak berteman, bukannya mengajak tawuran.

"Ya sudah, yang penting kamu tidak macam-macam jika kita berteman. Jangan minta nilai tambahan atau contekan ulangan." Kai saem membungkuk dan mengambil mawar kuning dari tanganku.

"Ayo naik, mungkin kita bisa latihan mengobrol sebagai teman tanpa keinginan untuk saling memukul." Aku menurut, memanjat pohon rambutan itu lalu duduk di sebelah Kai saem sambil mengayun-ngayunkan kaki. Sepertinya semua sesuai rencana, aku bisa berbaikan dengan wali kelasku.

"Oh ya, pertama aku mau bertanya dulu. Mawar ini hasil curian atau didapat dengan jalan halal?" Tanyanya sambil memainkan mawar kuning di tangannya.

"Penting ya? Jika saya bilang itu hasil curian, apa saem akan mengomeli atau mengejek saya?"

"Untuk menjaga perdamaian, sepertinya tidak."

"Saya mengambil dari kebun ibu saya tanpa izin. Secara teknis itu disebut mencuri, tapi secara hukum itu disebut tindakan kriminal tanpa korban."

"Seperti menyelinap masuk ke kamar orang untuk mengambil komik milik sendiri? Tindakan kriminal tanpa korban?"

"Saem akan membahasnya dan memancing keributan?" Aku menaikkan sebelas alis, menatap Kai saem.

"Tidak, tapi hanya untuk mempertahankan perdamaian ini lebih lama." Kai saem memamerkan senyum lima jarinya. Aku tidak bisa menahan senyum, kembali kubandingkan Kai saem yang sedang mengajar matematika dengan keponakan Paman Cha yang sedang duduk di atas pohon rambutan dengan kaus oblong dan celana pendek di hadapanku.

"Sekarang saem benar-benar bukan seperti guru saya. Kadang saya berfikir saem punya kepribadian ganda."

"Saem? Saya? Apa kita bisa mengobrol biasa seperti waktu kencan malam minggu dulu? Panggil aku Kai. Kita kan sudah menjadi teman. Bicara biasa saja seperti kau mengobrol dengan teman-teman sekelasmu. Lagipula umur kita tidak berbeda jauh kok." Aku mengerutkan kening mendengarnya.

"Memangnya selisih sepuluh tahun menurutmu saem, eh kamu, tidak berbeda jauh?"

"Apa?!" Kai kelihatan kaget sekali.

"Jadi kau mengira aku setua itu? Selisih sepuluh tahun? Ternyata tipuan kacamata dan akting orang tua itu berhasil."

"Tipuan kacamata? Maksudnya?" Aku tak mengerti dan Kai tertawa.

"Sebenarnya mataku masih normal. Kacamata yang biasa kupakai hanya untuk gaya-gayaan agar kelihatan seperti guru, dewasa, dan berwibawa. Aslinya umurku baru 23 tahun. Enam tahun yang lalu, aku seusiamu. Hanya saja dulu, waktu masih SMA, aku tidak suka membuat ulah seperti kamu."

Apa? Jadi dia masih muda? Hm, jika dilihat-lihat dari dekat, benar juga sih. Dia masih muda dan tampan? Eh –APA?

"Ih, enak saja!" Aku bicara pura-pura marah. "Tapi aku juga sempat berikir, pantas kadang-kadang kau terlihat keren seperti lelaki SMA," Gumamku, tanpa sadar.

"Apa?"

"Tapi kenapa kamu bisa mengajar di sekolah? Setahuku perlu proses panjang dan lama agar bisa menjadi guru, apalagi guru SMA," Tanyaku mengalihkan pembicaraan. Aku benar-benar berharap Kai tidak mendengar gumaman ''keren''-ku tadi.

"Aku dekat dengan Kwon saem. Jadi saat aku berkata aku baru lulus dari universitas jurusan matematika, beliau menawarkan pekerjaan ini. Lagipula aku kan hanya guru pengganti. Jika ingin menjadi jadi guru sungguhan, mungkin aku harus banyak pengalaman dulu." Kai menatap padaku, membuatku canggung.

"Tadinya kupikir menjadi guru itu gampang dan tidak ada tantangannya, ternyata ini pekerjaan yang cukup berbahaya, apalagi jika seorang murid menyelinap masuk ke kamar kita dan melihat kita sedang topless." Ucapnya, membuat wajahku memanas. Sial!

"Bagaimana jika kita anggap kejadian itu tidak pernah ada?"

"Tidak bisa dong. Itu mungkin pengalaman sekali seumur hidup. Aku akan mengingatnya terus sampai mati," Ujar Kai dengan nada bangga. Aku mengernyit. Orang yang aneh!

"Omong-omong, jadi karena kau dekat dengan Kwon saem, kau membela Jimin saat kejadian di kantin waktu itu?"

"Oh itu. Kejadian di kantin itu, aku tidak memihak. Waktu itu memang kamu yang bersalah."

"Tapi bukan aku yang membawa nampan berisi ramyun panas dan menumpahkannya pada orang yang kutabrak," Aku membela diri.

"Dia tidak sengaja."

"Seharusnya dia berjalan menggunakan mata."

"Kamu juga tidak."

"Tapi waktu itu aku tidak membawa makanan atau minuman yang bisa tumpah dan mencelakakan orang."

"Bagaimanapun juga, kau tetap keterlaluan. Tidak seharusnya kau membalas dengan menumpahkan ramyun panas itu padanya hanya karena terprovokasi nama 'Chanyeol'.." Mulutku terbuka, tapi aku tidak tahu akan bicara apa. Aku benar-benar kaget karna Kai tahu soal Chanyeol yang terlibat kejadian itu. Aku menghela napas menahan emosi.

"Sepertinya pertemanan ini tidak akan berhasil. Lebih baik kesepakatan soal berteman tadi dibatalkan. Mungkin lebih baik jika kita menjadi guru dan murid saja, Kai saem." Aku turun dari pohon dengan kesal lalu melangkah hendak mengambil sepeda. Sebelum Kai saem menyusul turun mengejarku, lalu menahanku dengan menangkap lenganku. Lengan yang masih ada bekas memarnya.

"Aw!" Teriakku kesakitan.

"Maaf, tidak sengaja." Dia segera melepaskan tangannya. "Dengar, aku mau kita berteman. Aku tidak akan membicarakan soal ini lagi. Memang kita bertentangan dalam beberapa hal, atau banyak hal, tapi bukan berarti kita tidak bisa menjadi teman, kan?"

"Terserah, jika itu maumu. Lagipula aku sudah banyak berhutang budi padamu."

Kai memandangku dengan tatapan serius, sepertinya dia tersinggung dengan ucapanku. "Bukan, tidak seperti itu. Masa bodoh dengan hutang budi itu. Aku tidak mau kau terpaksa menjadi temanku hanya karena aku pernah menolongmu. Aku mau kau menjadi temanku karena kamu memang menyukaiku," Jelasnya.

"Suka dalam artian tidak membenciku," Tambahnya. Aku berpikir sejenak. Apa ruginya berteman dengannya jika memang dia yang mau? Hanya menjadi teman, bukan sahabat seiya-sekata-sehidup-semati. Aku menatapnya, dia juga balas menatapnya.

"Ya sudah, kita berteman." Kai tersenyum.

''Bagus..'' Dia diam sejenak, lalu mengangkat sebelah alisnya dengan gaya yang genit. Membuatku mendadak salah tingkah. Sial! Tatapannya itu lho!

"Jadi, sekarang kamu menyukaiku?"

Sialan!

"Dalam artian tidak membencimu," Jelasku dengan gugup lalu berpaling.

.

.

.

Hubunganku dengan Luhan dan Sehun tidak membaik dalam beberapa hari ini. Kami masih saling mendiamkan. Sementara Baekhyun bersikap netral di antara perseteruan kami. Dia tidak menanyakan bagaimana sebenarnya hubunganku dengan Sehun. Mungkin dia menunggu waktu yang tepat untuk membahas soal ini. Aku juga enggan menjelaskan semuanya tanpa di minta. Aku ingin menjalaninya saja, tidak peduli bagaimana nantinya. Aku mengerti Baekhyun merasa tak nyaman dengan keadaanku dan Luhan, tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa mengubahnya.

Bel pulang berdering beberapa menit yang lalu. Aku dan Baekhyun berjalan pulang menyusuri lorong antar kelas yang mulai sepi. Di depan ruang OSIS, kami berhenti sejenak untuk melihat-lihat mading. Ada ulasan pertandingan basket lengkap dengan foto-fotonya. Yang menarik perhatianku adalah foto Chanyeol dan Kai saem yang ditempel bersebelahan dengan tulisan IDOL BATTLE di bawahnya. Di sebelah artikel itu terdapat pengumuman tentang lomba puisi yang diadakan OSIS.

"Kau tidak ikut lomba karya puisi, Baek? Jurinya kan sastrawan terkenal," Tanyaku pada Baekhyun sambil menunjuk pengumuman itu. Baekhyun yang sedang meresensi buku baru menoleh dengan tatapan heran.

"Kenapa kau bertanya seperti itu? Aku kan tidak pernah berkata aku suka membuat pusisi."

Oh iya. Baekhyun kan tidak tahu jika aku pernah membaca kumpulan puisi di buku Cerita Hati miliknya.

"Eh, aku lupa bilang. Saat menginap dirumahmu, aku tidak sengaja melihat buku puisimu lalu aku baca. Kau tidak marah kan?" Ucapku dengan waswas. Baekhyun menatapku lalu tiba-tiba beranjak tanpa bicara, membuat perasaanku tidak enak. Gawat sekali jika Baekhyun sampai marah padaku karena masalah ini. Sekarang aku yakin sekali jika buku puisi itu adalah ''Diary'' Baekhyun. Aku berjalan tergesa untuk menyusulnya.

"Maafkan aku ya Baek. Karna aku sudah membaca puisi-puisimu tanpa izin. Aku iseng saja, tidak ada niatan lain. Kalau kau tidak suka aku membaca puisi-puisimu, aku minta maf, aku tidak tahu." Baekhyun tetap melangkah tanpa berkomentar. Aduh, sepertinya ini masalah serius!

"Puisi-puisi itu ungkapan hatimu, ya?" Tanyaku hati-hati. "Baek, aku benar-benar tidak bermaksud ingin tahu perasaanmu. Aku kira itu kumpulan puisi biasa. Lagipula kata-katanya terlalu puitis, aku tidak megerti semua maksudnya." Baekhyun berhenti tiba-tiba, membuatku melakukan hal yang sama.

"Tapi kau bisa menangkap kan, apa yang aku tulis?" Tanyanya putus asa. Aku tahu dia tipe gadis tertutup yang tidak biasa mengungkapkan perasaannya kepada orang lain, dan aku merasa bersalah karena sudah mengintip isi hatinya.

"Mh, kau menyukai seseorang yang menurutmu tak bisa kau miliki?" Tebakku, membuat wajah Baekhyun memerah. Ternyata dugaanku benar.

"Itu hal biasa kok, Baek. Semua orang pernah mengalaminya. Kau tidak perlu merasa malu, apalagi padaku, sahabat mu sendiri," Hiburku.

"Apa kau tidak melihat dipuisi itu aku sangat memujanya? Itu sangat memalukan kan?" Baekhyun berjalan sambil menunduk.

"Jujur, aku tidak terlalu memahaminya. Aku kan tidak mengerti bahasa puisi, Ulangan bahasa Indonesia saja aku remidi. Tapi menurutku, yang kau lakukan itu tidak memalukan kok, banyak yang seperti itu. Lihat saja para fangis yang memuja idol mereka yang mungkin berada di belahan bumi lain."

"Masalahnya, dia tidak berada di belahan bumi lain, tapi di sini, di sekolah ini." Sedetik kemudian, Baekhyun melotot menyadari ketidaksengajaannya mengungkapkan rahasia. Aku membola.

"Jadi dia anak Ssekola ini?" Aku terkejut dan jadi penasaran siapa kira-kira pria yang sudah mencuri hati sahabatku ini. Baekhyun tidak menyahut, dia tetap berjalan sambil menunduk. Lebih baik aku tidak mengganggunya sekarang. Sepertinya Baekhyun masih marah padaku soal puisi itu. Saat melintasi ruang guru, aku menoleh ke dalam lewat jendela, ingin tahu apa Kai saem masih di sekolah atau sudah pulang dan berganti status menjadi Kai. Omong-omong, kami menjadi teman akrab sekarang, tapi begitu aku tetap bersikap sebagai muridnya jika di sekolah. Baekhyun belum tahu tentang hal ini, nanti aku akan menceritakan semuanya pada dia.

Bruk!

Pandanganku segera teralih pada Baekhyun saat mendengar suara orang yang bertabrakan, kulihat kertas-kertas suda berhamburan dilantai.

"Maaf Bu, tadi saya tidak memperhatikan jalan," Ucap Baekhyun panik sambil memunguti kertas-kertas yang berserakan di lantai. Aku ikut berjongkok, tapi tidak ikut memunguti kertas-kertas itu. Aku malah memandang wanita yang ditabrak Baekhyun tanpa berkedip. Cantik sekali! Wanita itu bertubuh langsing, kulitnya putih mulus, rambutnya tergerai indah. Dengan senyumannya yang manis dan ramah, dia terlihat anggun sekali. Seharusnya sekolah, dalam artian murid-murid lelaki, gempar oleh kehadiran idol ini. Siapa dia? Baru kali ini aku melihatnya.

"Tidak apa-apa," Sahut wanita itu dengan suara manis, menenangkan Baekhyun yang terlihat panik dan merasa bersalah. Setelahnya wanita itu pergi membawa kertas-kertasnya.

"Kyung!" Panggil Baekhyun.

"Kau kenapa?" Tanyanya dengan terheran karna aku masih memandang wanita itu sampai di ujung lorong.

"Baek, wanita itu siapa?" Tanyaku.

"Pegawai baru mungkin. Baru kemarin aku melihatnya."

"Cantik ya, seperti member AOA itu. Seharusnya dia ada dilayar TV, bukannya di balik meja pegawai dan bekerja sampai siang seperti ini," Komentarku. Baekhyun mengangkat bahu, lalu kami melanjutkan langkah.

"Baek!" Aku melirik Baekhyun disebelahku. "Aku berjanji tidak akan membicarakan tentang puisimu lagi, atau perasaanmu kepada siapapun itu. Aku juga tak akan mencari tahu tentang pria itu. Tolong anggap saja aku tidak tahu. Tapi sungguh, menurutku puisimu sangat bagus."

"Terimakasih," Ucapnya, entah untuk pujianku atau janjiku untuk menjaga rahasianya. Namun dia tersenyum juga walaupun terliat enggan. Diam-diam aku menghela napas lega. Syukurlah aku tidak kehilangan sabahat lagi.

.

.

.

"Burung hantu jelek!" Sanha mengejek dari atas pohon mangga.

"Kai, belajarnya sudah ya. Sanha menantangku tahu!" Pintaku pada Kai. By the way, aku sedang latihan mengerjakan soal-soal matematika di ruang tengah. Dari sini aku bisa melihat Kai sedang mengacak-acak lemari pakaian di kamarnya. Juga Sanha yang sedang duduk di atas pohon sambil mengulum lolipop.

"Tujuan kamu kesinikan untuk belajar, bukan kursus jadi Tarzan," Ujarnya. Seperti biasa, aku sedang bermain di rumah Paman Cha untuk menemani Sanha, sekaligus belajar matematika pada Kai karena sedang musim ulangan. Sayangnya, Kai yang menyebalkan itu tidak pernah mau meberi bocoran soal-soal yang akan dikeluarkan untuk ulangan nanti. No nepotisme, begitu!

"Burung hantu, coba lihat. Keren tidak?" Kai menuju ruang tengah sambil menempelkan kemeja biru bergaris di badannya.

"Keren, bajunya," Candaku. "Memang ada acara apa, sampai mencoba baju?"

"Tidak kok. Hanya ingin terlihat keren saja."

"Memakai baju apapun, kamu keren kok," Ucapku keceplosan. Setelahnya aku pura-pura kembali mengerjakan soal. Bodoh, kenapa aku memuji dia seperti itu ya?

"Burung hantu! Lihat Sanha. Burung hantu bisa naik setinggi ini tidak?" Tantang Sanha dari luar. Aku mengernyitkan alis.

"Kai, kenapa kau menaikkan Sanha sampai setinggi itu. Nanti jika jatuh bagaimana?"

"Tidak akan. Dia bisa pegangan kok. Tenang saja." Sekarang Kai memamerkan kemeja hitam bercoraknya padaku.

"Jika yang ini bagaimana?"

"Bagus." Rasanya aku tidak pernah melihat Kai memakai kemeja itu. Pasti dia menjadi kelihatan lima tahun lebih muda jika memakainya. Eh, berarti umurnya menjadi delapang belas dong. Aneh sekali memiliki guru yang terlihat sebaya dengan kita.

"Burung hantu takut naik pohon, ya? Kalah dong sama Sanha?" Teriak Sanha bangga. Bocah ini rupanya masih berupaya memanas-manasiku.

"Bukannya takut Sanha, Burung hantu hanya tak mau ditempeli ulat bulu yang suka mencari makan disore hari. Ulatnya besar-besar lho, bulunya banyak, membuat gatal, terus paling suka pada anak kecil yang sedang makan lolipop" Ucapku menakut-nakuti dan berhasil.

"Kai uncle, Sanha mau turun!" Rengek bocah itu tiba-tiba dengan suara panik, membuatku tertawa senang. Kai yang sedang mencoba-coba baju lain sambil becermin memandangku kesal.

"Di sana tidak ada ulat bulunya, Sanha."

"Pokonya Sanha mau turun!" Teriak bocah itu ketakutan. Kai menghela napas.

"Awas kamu!" Ancamnya padaku kesal sementara aku tersenyum cengengesan. Sementara Kai keluar menuju halaman belakang, aku berdiri meregangkan badan lalu melirik kamar Kai saem yang kosong. Hehehe...Ide jahilku muncul. Ini kesempatan berharga, aku harus pura-pura melihat-lihat kamar Kai, padahal aslinya aku ingin mencari komik Inu-Yasha yang masih disita. Aku masuk dan melihat-lihat kamar Kai yang lumayan rapi untuk ukuran kamar lelaki. Tanpa membuang waktu, aku mulai mencari-cari komikku di antara tumpukan buku di atas meja. Saat menggeledah rak, tanpa sengaja aku melihat album foto di antara buku-buku tebal miliknya. Aku meraihnya, kemudian membawanya keluar. Sambil duduk, aku mulai membuka-buka album foto itu. Soal komik urusan nanti saja, aku sangat penasaran. Siapa tahu di album ini berisi foto jelek Kai, iya kan? Jadi aku bisa menjadikannya sebagai barang pertukaran untuk diganti dengan komikku nanti, hehe. Saat membuka album itu, tak kutemukan foto masa kecilnya, malahan aku tersenyum melihat foto Kai saat SMA. Dia bergaya gila-gilaan bersama teman-temannya, konyol sekali. Coba saja Kai SMA ini ada di SMAku, dia pasti bisa menjadi saingan berat Chanyeol sebagai siswa idola sekolah. Sekarang aku mengakui Kai itu tampan, tapi kadang tetap saja menyebalkan. Foto-foto lain mungkin diambil saat Kai kuliah. Aku tertawa melihat foto-fotonya dengan rambut agak gondrong. Bagaimana ya, reaksi murid-murid jika melihat Kai saem dengan penampilan seperti ini? Saat membuka halaman berikutnya, aku terkejut melihat foto seorang gadis yang sangat cantik. Rasanya aku pernah melihat dia, tapi di mana ya? Aku berfikir, mengingat-ngingat. Kemudian.. Oh! Ya ampun! Ini kan pegawai baru di sekolah. Di foto ini dia terlihat lebih muda. Kenapa Kai memiliki fotonya, ya? Memang dia siapa? Mataku membesar melihat foto lain yang menampilkan pose mesra gadis itu dengan Kai. Halaman-halaman album selanjutnya dipenuhi foto-foto mereka berdua.

"Jika sudah besar nanti, Sanha bisa naik pohon sendiri. Tidak perlu bantuan Kai uncle lagi. Makanya dari sekarang Sanha harus makan yang banyak agar sehat dan kuat." Suara Kai terdengar, dia dan Sanha nampak masuk ke ruang tengah. Buru-buru aku membalik album tersebut dan mencoba bersikap biasa saja, meski sebenarnya aku masih cukup shock karena foto-foto itu.

"Tapi Sanha juga tidak boleh lupa belajar agar pintar." Kai lalu membawa pandangannya padaku. "Kau tidak mengerjakan soalnya?"

"Istirahat sebentar," Sahutku.

"Sanha saja rajin belajar, tidak malas seperti Burung Hantu." Sanha naik ke kursi lalu duduk sambil menjilat-jilat lolipopnya.

"Ye, yang penting Burung Hantu tidak penakut sepertimu. Sama ulat bulu saja tidak berani," Balasku tidak mau kalah.

"Kai Uncleee!" Rengek bocah itu, membuat Kai memandangku jengkel.

"Sudah, jangan dengarkan dia." Kai lalu meletakkan kertas dan krayon di atas meja di depan Sanha. "Sanha mau belajar menggambar tidak?"

"Mau," Jawab Sanha cepat lalu mulai mencoret-coret kertas di hadapannya. Setelahnya Kai menghampiriku yang masih membuka-buka album foto. Aku meliriknya.

"Eh, ini siapa Kai?" Aku membalik halaman album lalu menunjukkan foto perempuan tadi, Kai melihat sekilas dan aku berdebar.

"Itu Mina."

"Mina siapa?"

"Kwon Mina." Aku memutar bola mata malas, bukan itu maksud pertanyaanku, batinku jengkel. Aku menunjuk foto yang menampilkan pose mesra antara Kai dan Mina.

"Dia ini siapanmu?"

"Mantanku."

"Oh!" Seandainya ini film India, pasti ada petir di luar untuk mendramatisir suasana. Aku terkejut, walaupun sebelumnya sudah menebak bahwa gadis ini adalah pacar Kai pada saat foto ini diambil.

"Kapan kalian pacaran?"

"Setelah aku memotong rambut gondrongku." Aku memutar bola mata. Orang ini!

"Kapan itu?" Tanyaku jengkel.

"Sekitar dua tahun lalu, saat masih kuliah. Tapi beberapa bulan yang lalu kami putus. Di hari kelulusanku, lagi. Ironis sekali. Bukannya bersenang-senang, aku malah patah hati." Suara Kai terdengar getir, lantas dia masuk ke kamarnya.

"Tapi sekarang kan kalian bertemu kembali karena kalian bekerja di tempat yang sama. Dia pegawai baru di sekolah, kan?" Tebakku.

"Jangan-jangan karena dia, kau ingin terlihat keren di sekolah," Lanjutku dengan nada menggoda, mengatakan pikiran yang kudapat setelah melihat Kai merapikan pakaiannya. Kai tidak menyahut. Entah kenapa, tiba-tiba perasaanku menjadi aneh. Aku menatap Kai namun dia tidak melihat ke arahku. Terjadi sesuatu didalam hatiku, rasanya dadaku sesak. Aku menghela napas lalu menutup album dan meletakkannya di meja, lantas kembali mengerjakan soal-soal matematika di hadapanku. Tapi bukan angka-angka itu yang sekarang memenuhi kepalaku.


.

.

.

.

.

Tbc.

Thanks & See u next capter :* :*