The Watched

Author: xxBubbleandTroublexx

Translator: meongmungee

Characters: Baekhyun, Kai, EXO


.

Diversion
(Pengalihan)

.

.

.

Kyungsoo selalu mudah jatuh sakit. Ketika ia terlahir lebih awal dari seharusnya, semua orang mengira ia akan mati. Tidak ada seorangpun yang punya waktu untuk mengurus bayi yang lemah, terutama ketika semuanya harus berjuang demi bertahan hidup. Jadi ketika ia tidak juga mati, penduduk Desa membencinya. Buang saja dia, penduduk Desa berbisik kepada orangtuanya. Lemparkan saja dia kepada The Infected, lalu punya anak lagi. Anak yang lebih kuat dan akan hidup lama.

Orangtuanya tidak mendengarkan mereka, dan Kyungsoo bertahan hidup. Hal ini membuat penduduk Desa semakin membencinya. Kyungsoo belajar dengan cepat untuk tidak mempercayai siapapun. Terlebih setelah beberapa anak laki-laki di Desa mencoba melemparkannya keluar dinding. Kyungsoo memang lemah, tapi ia tidak bodoh. Orang-orang tidak bisa dipercaya.

Kemudian Baekhyun datang (Oh Baekhyun yang berharga). Awalnya Kyungsoo waspada, ia takut pada anak laki-laki yang terlihat sangat kuat itu. Bagaimana mungkin seseorang yang bertahan hidup setelah kehilangan orangtuanya tidak membenciku? Pikirnya. Namun ia salah. Baekhyun tidak peduli kalau Kyungsoo lemah. Ia membela Kyungsoo dari apapun dan siapapun tanpa memikirkan keselamatannya sendiri. Bocah gila itu bahkan pernah mengejar seorang anggota Brotherhood dengan sebuah tongkat karena ia telah menendang Kyungsoo hingga bocah malang itu tersungkur di atas tanah. Terkutuklah kau! Ia berteriak, matanya berapi-api. Terkutuklah kau ke neraka!

Saat itulah Kyungsoo sadar kalau ia mencintaiBaekhyun. Bukan cinta yang romantis. Namun lebih sederhana daripada itu, lebih kekanakan. Seperti anak kecil yang naksir pada seseorang yang lebih tua. Semakin Kyungsoo tumbuh, semakin tumbuh juga rasa cintanya. Kyungsoo sekarang cukup dewasa untuk menyadari bahwa Baekhyun adalah satu-satunya orang yang ia pedulikan setelah kematian orangtuanya. Rasa cintanya masih sama, tidak bersifat romantis, tapi semakin kuat. Kyungsoo tahu kalau tanpa Baekhyun ia bukan apa-apa, dan ia akan mati (yang lemah selalu mati duluan) tanpanya.

Dan seegois apapun kedengarannya, Kyungsoo ingin meninggal sebelum Baekhyun. Hal ini akan menyakiti Baekhyun, sangat, sangat menyakitinya, tapi Kyungsoo sudah memutuskan. Ia ingin menghembuskan napas terakhirnya di pelukan Baekhyun, sambil mengatakan bahwa pada akhirnya semuanya akan baik-baik saja. Baekhyun selalu menjadi yang lebih kuat di antara mereka berdua, dan Kyungsoo ingin menjadi egois. Ia akan meninggal duluan, lalu ia tidak akan pernah hidup sendiri tanpa Baekhyun.

Egois, tapi Kyungsoo tidak bisa menahannya.

.

.

.

Kyungsoo terbatuk dalam kegelapan. Ia berusaha duduk meski tubuhnya menggigil. Ketika ia tidak sanggup melakukannya, ia kembali menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, menekuk tubuhnya seperti bola. Suho telah berbaik hati menampung mereka berdua, jauh lebih baik hati daripada penduduk Desa yang lain, tapi Kyungsoo merindukan rumahnya sendiri. Ia rindu tempat tidurnya, ia rindu memasak untuk mereka berdua….dan berbaring di dalam kegelapan, namun di antara semua itu ia lebih merindukan Baekhyun.

Ia mengepalkan tangannya, kedua matanya juga dipejamkan erat-erat. Apa yang Baekhyun PIKIRKAN? Pergi dengan sebuah peta dan ide bodoh kalau ia bisa menyelamatkan kita semua….Kyungsoo menghela napas. Baekhyun memang selalu seperti itu, gegabah jika sudah menyangkut menepati janjinya. Ia menyayangi Baekhyun, sungguh, tapi bagaimana mungkin ia bisa begitu bodoh?

Parahnya lagi, bukan hanya Baekhyun yang berpikir ia bisa melakukannya, Kyungsoo juga sempat berpikir Baekhyun dapat melakukannya. Ia percaya Baekhyun akan menemukan Desa lain, mengungkapkan teka-teki apapun itu yang diberikan oleh The Watchers dan pulang untuk menyelamatkan semuanya. Semuanya akan baik-baik saja, dan Baekhyun akan kembali aman.

Kyungsoo percaya semua itu hingga akhirnya matahari tenggelam. Ia menjadi khawatir dan harapannya memudar, kemudian ia semakin ketakutan, semua harapannya pun sirna. Suho juga terdiam, merasa gugup. Pria itu pergi ke kamarnya di belakang rumah dan belum juga kembali. Hal ini membuat Kyungsoo takut. Suho sudah menyerah, Kyungsoo sadar Baekhyun benar-benar tidak akan kembali. Kemudian ia menangis.

Baekhyun meninggal persis seperti kedua orangtuanya. Berubah menjadi The Infected, kehilangan semuanya yang serba Baekhyun dan sekarang hanya bersisa tubuhnya. Ia bahkan tidak punya kesempatan untuk terbang kembali ke sisi The Watchers. Jiwanya juga sudah mati di hutan. Kyungsoo terisak, mencoba untuk tabah. Tapi ia gagal, seperti biasanya. Baekhyun tewas karena aku….Karena Kyungsoo lemah dan Baekhyun tidak cukup bijaksana untuk membiarkannya mati begitu saja. (Ia tahu itu karena Baekhyun menyayanginya, tapi itu hanya membuatnya semakin terluka)

Kyungsoo tidak bisa menahannya lagi, Ia terisak hingga tubuhnya bergetar. Ia membenamkan wajahnya di selimut, menangis sekeras-kerasnya. Baekhyun, kumohon, kumohon jangan mati. Kau tidak pernah berbohong padaku, kau bilang kau akan kembali. Kau bilang kau akan pulang. Kumohon Baekhyun janganlah berbohong. Aku tidak ingin mati sendirian, tidak tanpamu, tidak disini. Baekhyun kumohon pulanglah….

Sebuah tangan menyentuh punggungnya, mengelusnya dengan lembut. Kyungsoo terkejut, menengadahkan kepalanya dan melihat Suho berjongkok di sebelahnya dalam kegelapan. Prajurit tua itu mendekatkan wajahnya. "Kyungsoo," Ia berbisik. "Ia akan kembali."

Kyungsoo menggelengkan kepalanya sambil batuk-batuk. "Hari sudah gelap…..Ia sudah tewas."

"Percayalah padanya. Percayalah pada The Watchers yang sudah mengirimnya keluar sana. Baekhyun baik-baik saja, ia akan berhasil."

Kyungsoo tertawa getir, lalu mengelap wajahnya. "Tidak. Bahkan Kai pun tidak akan sanggup bertahan hidup di luar sana. Terlebih ada monster. Apa yang akan terjadi sekarang setelah ia meninggal?"

"Kyungsoo," Suho berkata dengan suara yang lebih keras. "Aku tidak menyuruhmu untuk tidak khawatir. Aku tahu di luar sana memang berbahaya." Ia menggosok kakinya yang puntung. "Tapi Baekhyun itu tangguh, jauh lebih tangguh dari yang orang-orang pikirkan. Seandainya saja ia terlahir dengan tubuh lebih besar dan juga sedikit menjaga mulutnya, ia bisa saja menjadi seorang prajurit."

"Baekhyun? Memimpin orang-orang? Ia akan jadi gila hanya dalam waktu beberapa bulan."

Suho mengangguk. "Aku tidak bilang Baekhyun akan menyukainya, ia terlalu blak-blakan, terlalu cerdik untuk memimpin orang-orang. Tapi yang paling penting adalah ia cerdik, dan menjadi cerdik adalah apa yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. Menjadi kuat, gesit, dan mengetahui semua hal, itu semua baik, tapi The Infected akan selalu lebih kuat, lebih gesit, dan mereka tidak butuh pengetahuan apapun untuk membunuhmu. Menjadi cerdik artinya kau bisa menyesuaikan diri, kau akan melakukan apapun supaya kau terus hidup. Baekhyun menciptakan keberuntungannya sendiri. Ia cukup cerdik untuk itu. Ia akan kembali, aku berjanji."

Kyungsoo berbaring di atas lantai kemudian berpikir. Apakah Baekhyun cukup cerdik untuk bertahan hidup? Ia tidak yakin. Tapi ia tahu jika ada seseorang yang sanggup melakukannya, maka orang itu adalah Baekhyun. "Baiklah," Ia berbisik. "Baiklah, aku akan mempercayaimu."

Suho tertawa dengan suara bergetar sambil memeluk Kyungsoo erat. "Benar, sekarang Baekhyun berada di luar sana untuk menyelamatkanmu, kita harus melakukan tugas kita juga. Tidak ada siapapun yang boleh tahu kalau ia pergi. Bahkan Kai."

Baru saja ia mengatakan itu, seseorang tiba-tiba mengetuk pintunya.

.

.

.

Kai tidak seharusnya memukuli Jae Sun. Ia sungguh tidak seharusnya melakukan itu. Kehilangan kendali dan juga fokusnya. Ia benci rasa kehilangan kendali seperti itu….merasa sangat marah hingga ia tidak bisa berhenti. Itu bukan dirinya, dan ia tidak seharusnya membiarkan hal ini terjadi.

Tapi rasanya sangat melegakan melihat Jae Sun di atas tanah.

Kai merasa melakukan hal yang benar saat ia memukul Jae Sun. (Siapa yang menyangka ternyata manusia bisa lebih menyebalkan daripada The Infected?) Kai tersenyum memikirkannya, lalu segera menyingkirkan pikiran tentang Jae Sun. Menghajarnya telah memakan waktu, dan sekarang matahari sudah terbenam. Orang-orang jarang sekali keluar setelah matahari terbenam. Bahkan para penjaga juga benci melakukannya. Tidak dapat melihat dengan baik, dan juga tahu bahwa The Infected bisa menyerang tanpa harus melihat, membuat orang-orang sangat ketakutan. Tapi tetap saja, Kai tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Baekhyun punya hak untuk tahu, dan kai perlu memberitahunya tentang perasaannya.

Kai tiba di rumah Suho, ia memanjat tangga yang terbuat dari tali dengan mudah, kemudian menapakkan kakinya. Ia mengetuk pintunya, kemudian berseru. "Suho?"

Suara-suara terdengar dari dalam, sepertinya seseorang sedang buru-buru. Kai mengetuk pintunya lagi, kali ini lebih keras. "Suho! Ini Kai! Aku harus masuk!"

Pintunya terbuka, Suho membukanya dengan mata terbuka lebar. "Kai?" Ia bertanya dengan suara pelan. "Apa yang kau lakukan disini?"

"Aku harus bicara dengan Baekhyun," jawab Kai, lalu ia masuk ke dalam rumah, melewati Suho begitu saja. Prajurit itu menggeram, lalu menyalakan lentera. Kai melihat-lihat ke dalam rumah, mendapati Kyungsoo terbaring di lantai. Bocah itu tidak bergerak, hampir seluruh tubuhnya tertutup selimut. Namun Kai dapat melihat bahwa ia begitu pucat dan kurus. Hatinya terenyuh, menyadari betapa sakitnya Kyungsoo. Kai berbalik untuk menatap Suho.

"Aku harus bicara dengan Baekhyun," Ia berkata, melihat ke ruangan di belakang rumah. Itu adalah kamar Suho, tapi dimana Baekhyun? "Ini penting, ada sesuatu yang harus ia ketahui."

Wajah Suho berubah keras dan ekspresinya tidak dapat dibaca. Ia menggelengkan kepalanya, menghindari tatapan Kai. "Baekhyun sedang tidur," katanya. "Ia terluka dan butuh istirahat. Ini perintah The Brotherhood."

"Suho, aku serius…..Jae Sun telah-" Kai berhenti, benci harus mengatakannya keras-keras. "Jae Sun telah meminta kepada Dewan Tinggi supaya Baekhyun menikahinya."

Hal ini menarik perhatian prajurit tua itu. Ia memasang wajah tak senang, kemudian duduk di sebuah kursi goyang. "Jae Sun?" Ia bertanya dengan suara nyaris tak percaya. "Jae Sun?"

Kai mengangguk. "Lay memberitahuku. Baekhyun belum tahu….tapi jika ia tahu, mungkin kita bisa melakukan sesuatu untuk mengubah pikiran Dewan Tinggi. Keputusannya belum diumumkan, masih ada waktu."

"Kapan keputusannya akan diumumkan?" Suho bertanya.

Kai melangkah ke ruang belakang, merasa tidak sabaran. "Setelah Baekhyun berumur 18." Ia melangkah lagi, lalu sekali lagi, seakan-akan berada dekat dengan Baekhyun dapat mengubah takdirnya.

"Apa yang bisa kau lakukan?" Suho bertanya. Kai menatapnya. Ia tahu Suho sedang berpikir keras, jauh lebih keras daripada saat ia berpikir tentang The Infected.

"Aku akan menikahinya," Kai berkata dengan tegas.

Kedua alis Suho terangkat. Ia tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Itu bisa saja berhasil," Suho bangkit lalu meraih kruk-nya. "Baekhyun akan mendengarkanmu. Tapi bukan malam ini. Malam ini ia harus beristirahat. Kembalilah besok dan kita akan memikirkan hal ini. Satu malam tidak akan mengubah apapun."

Itu bukanlah hal yang Kai inginkan. Ia cemberut sambil menatap pintu. Memikirkan bahwa ia harus pergi tanpa melihat Baekhyun dan mengetahui bahwa ia baik-baik saja dan sedang tidur nyenyak di rumah Suho, membuatnya terbakar. Kai tidak bergerak. Ia tidak bisa melakukannya. Ia tidak bisa pergi tanpa melihat Baekhyun. Ia berhasil meraih gagang pintu ketika Suho menarik tangannya.

"Kai," katanya. "Ia baik-baik saja."

Sebelum Kai bisa memprotes, Suho sudah menariknya keluar rumah. "Ia akan berada disini besok. Kembali lah besok."

"Tapi aku HARUS-"

"Kai?" Ia mendendengar Kyungsoo memanggilnya dari belakang Suho. (Bocah itu sama sekali belum tidur dari awal). "Kai jangan khawatir. Baekhyun menyukaimu. Ia merasa bahagia."

Suho menutup pintunya dan Kai bisa mendengar pintunya dikunci. Ia menatap pintunya, tidak yakin dengan apa yang baru saja terjadi. Ia mengetuk pintunya, lalu berteriak supaya diizinkan masuk. Dua orang di dalam mengabaikannya, kemudian lampu di dalam rumah dipadamkan. Ia pun menendang pintunya dengan frustasi. (Ya, ia memang kekanakan, tapi Suho juga sama) Masih belum menyerah, Kai berjalan ke belakang rumah, ia memeriksa apakah semua jendelanya terkunci. Ternyata jendelanya memang terkunci dan Kai tidak mungkin membobol jendelanya hanya untuk bertemu dengan Baekhyun. Ia mengetuk jendelanya perlahan.

"Baekhyun?" Ia berbisik. "Apa kau ada disana?"

Tidak ada jawaban. Kai menghela napas, lalu menempelkan kepalanya ke kusen jendela yang terbuat dari kayu. Kurasa kau sedang tidur…."Baekhyun aku berjanji apapun yang terjadi, aku akan melindungimu. Selama ini aku payah dan sekarang semuanya akan berubah. Jae Sun tidak akan pernah memiliki dirimu ataupun Kyungsoo….Aku berjanji."

Ia menghela napas, lalu menempelkan kedua telapak tangannya di permukaan kayu. Ia menghela napas dalam-dalam. "Baekhyun, aku mencintaimu," Ia berbisik. "Aku mencintaimu."

Kemudian ia duduk di luar jendela. Ia menatap langit lalu mengatakannya lagi. "Aku mencintaimu, Baekhyun, dan aku bersumpah kau akan aman."

.

.

.

.

.

Baekhyun sedang bermimpi….atau setidaknya ia kira begitu. Semuanya terasa dingin, dan gelap dan ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali. Apa aku sudah mati? Pikirnya, ia berusaha membuka kedua matanya namun sia-sia saja. Apa aku tewas? Benarkah begitu?

Ia pikir kematian akan berbeda dari ini…..lebih ringan mungkin. Bukannya berbaring dalam kegelapan dan tidak bisa bergerak. Ini payah. Kematian payah. Surga payah. Tunggu, apa aku masuk surga? Baekhyun merenung. Ia tidak menyangka ia seburuk itu hingga ia bisa masuk neraka. Pasti karena mulut bodohku….

Sesuatu mencengkeram tangannya, menyentakkannya dengan kasar. Baekhyun berteriak dalam hati. "Sialan!" sebuah suara memaki. Baekhyun terdiam. Iblis macam apa yang memaki-maki? Jadi aku belum mati, aku cuma pingsan. Ini lebih baik daripada neraka. Tapi jika ia masih hidup itu artinya ia masih bisa mati. Baekhyun tidak suka itu. Ia ingin berusaha melawannya, namun sial tubuhnya tidak bisa bergerak! Ia mengutuk dalam hati sambil melawan rasa kaku dan lelahnya. Dimana aku?

"Kau kancil cilik," sebuah suara kembali terdengar. "Berhasil sampai kemari….sejujurnya bagaimana kau bisa melakukannya? Kurasa tidak masalah, kau ada disini sekarang…Apa yang akan kulakukan padamu?"

Tidak ada yang masuk akal. Namun nada suara orang itu membuat Baekhyun kesal. Ia mencoba membalas makiannya, namun kepalanya sakit dan ia tidak dapat melakukannya. Perlahan ia kehilangan kesadarannya lagi, ia memutuskan untuk membalas pemilik suara itu segera setelah ia bangun.

Aku senang aku belum mati.

Tapi aku harus melawan dengan keras….supaya aku bisa kembali pada Kyungsoo.

Dan pada Kai.

.

.

.

.

.


.

T/N: Halo semua, terima kasih sudah nungguin update-an saya. Mohon permakluman, saya lagi frustasi tiap mau buka ffn diblok mulu. kadang mau kadang kaga. bikin emosi aja. Mohon maaf kalo ada salah-salah atau typo ya, saya ngebut baca ulangnya, takutnya baru mau publish nanti ffn-nya gamau kebuka lagi (soalnya sering gitu)
okelah, sekian curhatan saya. See you!