Konnichiwa minna-san! Author Nirina kembali lagi di fic yang sama dan berchapter baru :D langsung saja, happy reading!

.

Disclaimer : Naruto punya Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Romance, Mystery, Drama

Warning! : AU, OOC, Slight!NaruHina, typo, gaje, dll.

.

DRRTT DRRTT

Suara getaran yang berasal dari sebuah smartphone membuat seorang gadis yang tengah duduk menikmati secangkir teh panas menghentikan sejenak kegiatan membaca majalahnya. Ia meletakkan majalah itu dan mengambil ponselnya. Jari putihnya menekan tombol hijau di layar touchscreen di smartphone miliknya. Melihat siapa yang menelponnya itu, ia hanya tersenyum gembira.

"Hinata!" Suara yang cempreng itu membuat gadis yang dipanggil Hinata itu menjauhkan sedikit jarak smartphone dari telinganya.

"Ada apa, Naruto?" tanya Hinata, lalu menyeruput teh yang masih panas yang berada di dekatnya.

"Kau sudah sarapan?"

"Belum," jawab Hinata dengan nada suara yang pelan.

"Kebetulan sekali! Aku ingin mengajakmu sarapan di café Green Army yang terkenal itu. Sekalian ada hal yang ingin kubicarakan."

"Bolehlah. Baiklah, aku bersiap-siap dulu."

TREK!

Percakapan via mobile itu diputuskan secara sepihak oleh Hinata. Ia segera bergegas ke kamarnya, mengambil handuk putihnya dan memasuki kamar mandi. Setelah membersihkan diri, ia mengenakan dress selutut perpaduan warna orange-hitam yang santai. Cocok untuk memulai pagi hari yang begitu cerah.

Tak lama kemudian, suara klakson mobil tertangkap di indera pendengarannya. Hinata yang sedang memakai sendalnya itu buru-buru membuka pintu rumahnya. Dilihatnya sebuah mobil terparkir dirumahnya. Ia juga melihat sosok yang ia kenal turun dari mobil itu. Berjalan dengan santai menghampirinya.

"Hinata! Sudah siap?" tanya Naruto. Kedua tangannya ia selipkan dibalik kantong celananya. Yang dipanggil hanya mengangguk mantap dan menutup pintu rumahnya.

Naruto sejenak terpaku melihat penampilan Hinata yang bisa dibilang simple itu. Hinata yang merasa di tatap terus oleh Naruto hanya bisa membalas tatap pemuda itu dengan heran.

"Ada apa? Apa ada yang aneh dengan penampilanku?" tanya Hinata.

"T-tidak ada, hehehe," jawab Naruto dengan tawa kaku nya itu. Tangannya menggaruk tengkuk belakangnya yang tidak gatal. 'Oh, God! Kenapa dengan gayanya yang simple itu membuatku seperti ini?'

"Hei, Naruto! Ayo kita pergi." Hinata melihat Naruto yang masih berdiri diam di belakangnya. Lalu memasuki mobil Naruto.

"I-iya, Hinata."

.

.

.

TOK TOK TOK

"Sasuke?" Sakura yang sudah berdiri di depan pintu kamar hotel Sasuke hanya bisa mendengus pasrah. Kemana Sasuke? Kenapa sedari tadi Sakura mengetuk pintunya ia tidak membuka pintu?

CKLEK!

"Tidak di kunci ternyata," gumam Sakura pelan.

Sakura diam-diam memasuki kamar itu. Ia mendapati kamar Sasuke yang kosong namun sedikit berantakan. Sakura meletakkan tasnya yang bermotif kotak-kotak cream bertali pink di sofa kamar Sasuke. Sejenak ia mengamati tempat tidur yang berada di depannya.

"Memang kalau cowok nggak pernah ada yang beres," keluhnya. Lalu ia merapikan selimut dan letak bantal di tempat tidur itu. Sampai sebuah suara berat menginterupsinya.

"Sakura?"

Sakura yang merasa dipanggil itu menoleh ke sumber suara. Dan betapa terkejutnya ia, medapati sasuke yang baru keluar kamar mandi yang berbekal handuk putih yang menyelimuti bagian bawahnya.

"Kenapa kau ada disini?" tanya Sasuke. Sekali-sekali ia mengeringkan rambutnya yang basah itu dengan handuk yang ada di tangannya.

Sakura tak menghiraukan pertanyaan itu. Ia masih diam bergelut dengan pikiran dan hatinya. Tatapannya tannya takgerak sesentipun dari objek di depannya, Sasuke. Setelah selesai bergelut dengan hati dan pikirannya itu, Sakura segera membalikkan badannya. Dengan cepat ia mengambil tasnya dan melangkah keluar dari kamar pemuda Uchiha itu.

"A-aku mau jalan-jalan sebentar! Kau kutunggu di lobby."

BRAK!

Melihat Sakura yang gugup tak karuan itu, Sasuke hanya bisa menggeleng pelan kepalanya. "Dasar, kau tetap aneh Sakura."

Sakura melewati koridor hotel dengan sedikit tergesa-gesa. Lalu mulai memelankan langkahnya yang sedari tadi memburu. Sejenak ia mengambil nafas dan membuangnya. Mencoba menenangkan dirinya.

Tiba-tiba pikirannya memutar memori yang tak sengaja terekam tadi. Ya, pose Sasuke yang begitu seksi selepas mandi. Dengan perut sixpack-nya yang tereskpos, rambut dark blue yang basah, juga otot-otot kekar yang membuat Sakura meneguk air liurnya sendiri. Menyadari wajahnya mulai memanas, merona malu, ia menundukkan sedikit wajahnya.

"Kenapa aku memikirkan itu sih?!" pekik Sakura seraya menggeleng-gelengkan kuat kepala pink-nya. Ia memberhentikan sejenak dirinya di depan lift hotel. Jarinya tergerak menekan tombol 'turun' yang berada di sebelah lift itu. Dengan sabar, gadis musim semi ini menunggu terbukanya pintu lift.

TING!

Ketika Sakura hendak memasuki lift itu, seseorang yang mempunyai gelagat yang aneh mendahului Sakura. Sakura mengamati orang tersebut dengan seksama sembari pelan ia melangkah memasuki kotak bergerak itu. Sedari tadi ia mengamati orang tersebut dari ekor matanya.

'Aneh sekali orang ini. Ia memakai mantel tebal dan sweater sebagai dalamannya. Ia berpakaian layaknya berpergian pada musim dingin, tapi Filipina itu salah satu Negara tropis di Asia Tenggara," batin Sakura.

TING!

Lagi-lagi bel lift berbunyi. Menandakan mereka berdua sudah sampai tujuan. Sakura sengaja mempersilahkan orang aneh itu keluar dari lift dan mengikutinya dari belakang. Ketika Sakura hendak mendudukkan dirinya di kursi lobby. Sakura terus melihat orang itu keluar dari hotel.

"Hei Sakura." Seseorang yang menepuk pundak mungilnya membuat ia terkejut dan hampir saja terjungkang kebelakang.

"Sasuke! Kau mengagetkan saja!" gerutu Sakura kesal. Hampir saja ia melemparkan topi jerami musim panasnya kearah muka tampan itu.

"Kau sudah siap, Sakura?" tanya Sasuke. Ia mengambil tempat disebelah gadis pink itu. Sementara yang ditanya hanya menganggukkan kepalanya dengan mantap.

"Ayo kita pergi!" Sasuke menarik tangan Sakura keluar dari hotel.

"Hei, lepaskan tangan ku! Sakit, bodoh!" teriak Sakura. Namun, Sasuke yang melihat ekspresi Sakura hanya bisa tertawa. Meihat itu, Sakura pun ikut tertawa karenanya.

Tapi, sayangnya dibalik tawa mereka akan ada sesuatu yang membuat mereka menangis sedih.

.

.

.

Dua insan manusia ini sedari tadi terdiam tak bersuara. Hanya terdengar bunyi dentingan pisau dan garpu yang beradu di café ini. Keheningan yang sedari tadi mengikat mereka, akhirnya lepas juga saat suara berat pemuda terlontar.

"Hinata," panggilnya. Sementara yang dipanggil menghentikan sejenak kegiatan menyantap Caramel Cardamom Slice Cake yang ia pesan. Ia menatap pemuda yang memanggilnya dengan tatapan 'ada-apa-?'

Sementara pemuda itu sibuk merogoh kantong celananya. Lalu mengeluarkan sebuah kartu berwarna emas yang berkilauan.

"Aku sengaja mengadakan sebuah pesta untuk para pengusaha sebagai rencana penangkapan Sasori. Aku mengundangnya," ucap pemuda itu dengan santai.

"Oh, biar kutebak. Kau adalah pewaris tunggal perusahaan Namikaze, hm?" Tanya Hinata, lalu ia menyeruput jus stroberi yang ia pesan juga.

Naruto hanya diam tak berkutik mendengar tebakan teman sesama asistennya ini." Da-dari mana kau tahu?"

"Sejak dulu, aku sudah diajak sama Ayahku bercengkrama dengan anak-anak pemilik perusahaan. Ya, kalau kau tau nama lengkapku, kau bakalan tahu siapa aku," jawab Hinata dengan senyum tipis yang tercetak diwajah anggunnya.

"Aku sudah tahu kalau kau adalah anak pengusaha Hyuuga itu kan?" Hinata mengangguk. "Nah, sekarang kembali ke topik utama. Acara ini diselenggarakan nanti malam. Jadi, sebaiknya kau harus bersiap-siap." Naruto menyuapkan sepotong kecil Chocolate Slice Cake.

"Bersiap-siap? Apa aku akan berperan di depan layar?" tanya Hinata. Ia menaikkan sedikit alisnya. Sementara itu, Naruto mengangguk sebagai jawabannya.

"Jika kau bisa berperan sebagai pacarku, semua akan beres," ucap Naruto dengan santai.

Mendengar itu, seketika wajah Hinata memerah. "Pa-pacar?"

"Ya. Kenapa? Kau tak ingin mengecewakan bos kita kan?" tanya Naruto. Ia sejenak menikmati jus alpukat miliknya.

"Sudah selesai ya tujuanku disini. Sampai jumpa, dan jangan lupa bayar punya mu sendiri," ucap Naruto seraya meninggalkan tempatnya. Membuat Hinata yang mendengarnya sedikit memerah marah.

'Dasar! Kukira kalau dia mengajakku ke sini bakalan dibayar. Ternyata, ditanggung sendiri!' umpat Hinata dalam batinnya. Dan dengan berat hati ia mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyerahkannya ke kasir café itu.

.

.

.

"Boracay! Akhirnya aku bisa menghirup udara segar!" pekik Sakura.

Gadis pink itu benar-benar menikmati tempat tujuan ini. Boracay Island, salah satu pulau terindah di Asia Pasifik. Sakura memejamkan sejenak matanya. Menyembunyikan manik sebening klorofil itu guna merasakan dengan damai arus angin yang sepoi-sepoi. Angin yang sedari tadi mampu membuat helaian-helaian bubble gum-nya menari-nari bagaikan penari Hawai. Sejenak terpejam, ia mulai membuka kembali matanya. Melepaskan kacamata hitam yang bertengger di batang hidungnya. Kedua matanya bersinar kagum, memandang pemandangan pantai yang berada di depannya sembari mengucapkan, "sugoi!" berkali-kali.

Tak hanya Sakura, pemuda yang berada disampingnya turut hanyut dalam suasanya pantai yang segar nan indah. Sepasang manik kelamnya menyusuri tiap sudut pemandangan. Mengamati eloknya pohon kelapa yang melambai-lambai bagaikan menyambut mereka. Samar-samar ia mendengar deru ombak yang menggebu-gebu. Pasir putih tempat ia berpijak membuat telapak kaki Sasuke merasakan butiran-butiran kecil yang menggelitiki telapak kakinya itu. Sungguh, ini benar-benar bisa menyuci mata dan pikirannya yang sempat penat terbawa arus kehidupan yang cukup sibuk.

"Hah, sungguh aku tak pernah mendapati pemandangan seperti ini di Jepang." Sakura menurunkan topi jerami musim panasnya. Kemudian berputar-putar layaknya anak kecil yang diberikan satu truk permen gulali.

Melihat itu, Sasuke tak sadar mengeluarkan tawanya. Ia melihat Sakura begitu lucu. "Jadi, apa kita berkeliling sebentar lalu berjemur?" tanya Sasuke. Ia mendekati Sakura yang tengah merasa dunianya sendiri.

"Aku ingin berkeliling di pantai pulau ini! Aku harus membawa pemandangan indah saat pulang ke Jepang!" seru Sakura sembari menunjukkan kamera SLR yang ia kalungi di lehernya. Melihat itu, Sasuke hanya bisa mengangguk sembari tersenyum dengan ceria.

JPRET!

JPRET!

Ini sudah beberapa kalinya Sakura mengambil setiap sisi pemandangan indah yang di suguhkan. Mereka sekali-sekali tertawa riang akibat gurauan-gurauan yang tercipta. Terkadang mereka bermain dengan ombak-ombak yang menghampiri di bibir pantai. Membuat pakaian mereka sedikit basah akibat air yang biru bening dan bersih itu.

Jauh dari mereka, seseorang mengamati mereka dengan serius. Tak henti-hentinya ia menyumpah serapah seseorang diantara mereka. Dan dengan seringaian dan tatapan magenta-nya yang sinis itu ia berkata, "tertawalah hingga puas. Kesedihan akan menghampiri sesaat lagi." Lalu ia pergi meninggalkan mereka berdua dengan memasukkan kedua tangannya di kantong mantelnya.

Sibuk dengan kegiatan mereka, panadngan Sasuke teralih dengan sebuah hiu yang ganas menghampiri Sakura dengan cepat. Dengan segera ia berlari meskipun agak susah dihambat oleh air yang setara dengan perutnya. Dengan sekuat tenaga itu….

"SAKURA!"

Ia memeluk Sakura dan dengan sigap ia berenang menghindari terjangan hiu yang lumayang besar itu. Tak perduli dengan pekikan heran yang terlontar dari bibir mungil Sakura. Yang ia inginkan hanyalah keselamatan Sakura.

Pekikan Sakura cukup mengundang perhatian para turis yang sedang berjemur ataupun bermain air di bibir pantai. Mereka melihat seekor hiu dengan ganasnya menghadang mereka. Membuat sebagian dari mereka berlari tunggang langgang ketakutan. Dan sebagian lagi melapor kepada guard yang tengah berjaga di pantai pulau itu. Mereka berbondong-bondondong membawa obor setelah Sasuke membawa Sakura sedikit menjauh dari pantai. Mereka mengayunkan obor itu guna mengusir hewan karnivora itu.

"Are you okay?" tanya guard itu menghampiri Sasuke yang terkapar diatas lembutnya pasir putih pantai.

Sasuke mengangguk lemah sebagai jawaban. Lalu, sekejap ia mendengar rentetan pertanyaan khawatir yang keluar dari bibir Sakura.

"Sasuke! Kau baik-baik saja? Astaga, betis mu terluka!" pekik Sakura sembari melihat kondisi betis Sasuke yang sedikit terkoyak akibat gigi taring hiu itu.

"Please, take your first aid box! I'll treat him! Someone help him to walk to the boat! We'll back to Phillipine!" perintah Sakura. Pelan tangan mungilnya itu mengelus kepala Sasuke yang basah saat pemuda itu meringis kesakitan. "Tenang, Sasuke! Aku akan mengobatimu."

"Here you are! Hurry up, treat him!" ujar guard itu sembari menyerahkan kotak pertolongan pertama kepada Sakura. Selebihnya, beberapa orang menuntun Sasuke menaiki boat yang mereka tumpangi.

Di perjalanan kembalinya ke pelabuhan pantai di Filipina, Sakura dengan sigap mengobati Sasuke yang masih meringis kesakitan. Ia merasa tersiksa ketika obat merah mulai menyentuh luka yang berlumuran darah itu.

"Tenang Sasuke, ini hampir selesai," ujar Sakura dengan suara parau. Ia entah kenapa merasakan kedua matanya mulai memanas. Ia mulai menggigit bibir bawahnya dengan pelan, menyembunyikan isakan yang mungkin akan terdengar kuat. Dengan cepat ia melilitkan perban putih di betis Sasuke.

Akhirnya selesai. Sakura menundukkan wajahnya, membuat helaian pony pink-nya menutupi sebagian wajahnya. Lambat laun terdengar isakan tangis yang semakin kuat.

"Sakura," sapa Sasuke dengan suara tercekat. Sakura yang mendengarnya itu mulai menatap sendu Sasuke.

"Tak perlu khawatir. Ini juga demi kau," lanjut Sasuke. Ia mulai membangkitkan setengah badannya, bersender di pinggir kapal.

"Nggak. Ini semua karena aku. Kalau aku menyadari kedatangan hewan bejat itu, kau pasti nggak bakalan seperti ini, Sasuke!" Setetes liquid menuruni pipinya yang putih itu.

"Sudahlah," Sasuke menghapus airmata Sakura dengan senyuman tipisnya, "Itu sudah terjadi, jangan di sesali."

Sakura mendengar itu hanya bisa tersenyum. Dan tanpa sadar ia memeluk Sasuke dengan erat. Sasuke yang terdiam kaget itu mulai mengangkat tangannya. Membalas pelukan tubuh yang rapuh itu dengan usapan ketenangan.

Adegan yang langka itu hanya disaksikan oleh angin laut yang berhembus. Ombak laut yang menderu sebagai sorak-sorak gembira yang menyertai mereka. Serta Matahari yang menyebarkan suasana hari yang mulai siang dengan sejuk.

.

.

.

Siang terlewati, malam pun menjelang. Langit gelap malam dihiasi cahaya rembulan yang begitu indah diantara taburan bintang yang berkilauan. Ya, sama seperti gadis yang satu ini.

Gadis ini elok bersolek di depan meja riasnya. Sibuk mempercantik diri, merias wajahnya. Menabuhkan blush on berwarna merah tipis di kedua pipinya yang putih. Menambahkan eyeshadow perpaduan warna hijau-orange dengan tipis lalu menitahkan eyeliner yang tak terlalu tipis di sekitar matanya. Mewarnai bibirnya yang tipi situ dengan lipstick berwarna merah pudar. Lengkap sudah penampilannya yang menawan. Pas dengan dress panjang yang ia kenakan dan rambut indigo-nya yang dibuat bergelombang. Dress orange tak berlengan.

TIN TIN!

Suara klakson mobil yang begitu nyaring terdengar hingga ke kamar gadis ini yang berada di lantai dua rumahnya. Mendengar klakson mobil itu cepat-cepat ia memasang jepitan bunga Kamboja kecil berwarna merah terang dan mengambil tasnya yang elegan. Dengan sedikit tergesa-gesa namun hati-hati ia menuruni tangga rumahnya. Sejenak ia berhenti di depan pintu, memakai sepasang high heels 7 sentimeter orange pastel yang ia beli tadi siang.

Gadis itu membuka pintunya. Yang terlihat di depannya adalah seorang pemuda tampan dengan dandanan rapi menunggu di depan rumahnya. Cukup membuat gadis itu kagum, sebab penampilannya yang apik terpancar dari setelan jas berwarna hitam dan kemeja dalam berwarna abu-abu metalik.

"Sudah siap, Hinata?" tanya pemuda itu. Manik secerah samudra itu menatap lekat-lekat objek indah di depannya. Hinata yang ditatap seperti itu hanya mengangguk kaku.

"Kita memang tidak merubah fisik kita seperti mereka. Tapi, paling tidak kita berakting layaknya artis professional. Demi menangkap belut tak bersisik," ucapnya dengan seringai yang membuat Hinata sedikit bergidik ketakutan.

"Kau, kenapa menjemputku, Naruto?" tanya Hinata heran.

"Tenang, acara berlangsung jam 8 malam. Ini masih jam 7. Ada waktu satu jam lagi. Lagian, meskipun aku mengadakan acara ini, aku merasa tidak enak membiarkan pemeran pacarku datang sendirian. Tidak elit." Naruto membentuk senyuman tipis diwajah coklatnya. Membuat Hinata merona karenanya.

"Jadi, sebaiknya kita berangkat, Nona Hinata." Naruto mengamit lengan Hinata dan menuntunnya berjalan memasuki mobilnya.

"Kita, tidak boleh mengecewakan mereka, Hinata!" kata Naruto dengan semangatnya yang tinggi itu. Membuat Hinata sedikit menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Dan kini, mereka tengah melaju menuju rumah pemuda Namikaze ini.

TBC

A/N:

Holla minna~!

Akhirnya update juga nih fic:D Karena nggak tau mau ngapain selama liburan ini, jadi saya manfaatkan buat update ini fic. Dan ini adalah pertama kalinya saya update fic sebulan dua kali XD *plak* Gimana chapter ini? Puaskah? Rencananya sih 1 atau 2 chapter lagi fic ini bakalan tamat. Tapi, itu masih rencana.-. Kalau soal bahasa Inggris, gomen kalau bahasa Inggrisnya kayak blepotan gitu *ojigi*

Review?

.

Balas Review:

Febry sweetchery: Ini chapter 10 nya sudah update! ^A^ Belum tau sih mau sampai chapter berapa, rencana sih 1 atau 2 chapter lagi tapi entah deh.-. *digeplak* Lagian kalau dibatasin gitu nanti alur ficnya nggak ngalir, jadi aneh nanti.-. Thanks for review^^