Hurt 10
Chapter 10 : Desperation.
"Na—Natsu?"
Pria yang merasa namanya di panggil pun berbalik dan kaget dengan siapa yang ia temui,tapi menutupi nya dengan sebuah senyuman.
"wah, aku tidak menyangka bisa bertemu Lucy Fullbuster di sini" kata Natsu tersenyum,sedangkan Lucy yan mendengar nya tiba-tiba sesak Nafas.
.
.
.
.
.
"kenapa kau bicara seperti itu?" Tanya Lucy yang kaget dengan perkataan Natsu yang Tiba-tiba.
"Hah? Jadi belum? Ku kira kalian sudah kan sudah Lima Tahun" kata Natsu dengan suara menyindir.
"Lucy?" teriak Gray yang mencari Lucy, menyadari bahwa ia telah menghilang.
"wahh,pacar mu sudah mencarimu lebih baik aku pergi dari pada nanti Teman baik ku di kira Selingkuh dengan ku" kata Natsu dengan Nada menghina lalu pergi meninggalkan nya.
"Natsu,Tunggu!" kata Lucy mencoba menarik tangan Natsu tapi Natsu hanya menepis nya mentah-mentah.
"Jangan pegang aku" kata Natsu dengan nada sarcartis.
.
.
"Luce~" panggil Natsu pada Lucy, sedangkan Lucy hanya membirkan nya saja.
"Ayo ambil misi, bukanya kau ingin membayar uang sewa bulan ini" kata Natsu sedangkan Lucy hanya menjawab nya dengan desahan lelah.
"Tidak Natsu percuma saja pergi dengan mu nanti juga kau akan menghancurkan nya" kata Lucy, sedangkan Natsu hanya tertawa karna itu hanyalah hal biasa menurutnya.
"Jangan tertawa aku serius!" teriak Lucy pada Natsu, sedangkan Natsu hanya menggembukan pipinya.
"Ayolah Luce, bukankah itu sudah sering kita lakukan?" kata Natsu dengankan Lucy melihat kea rah lain.
"sudahlah Natsu, kemarin aku pergi mengerjakan misi dengan Gray" kata Lucy tersenyum, sedangkan Natsu kaget, biasanya Lucy mau melakukan misi kalau ia bersama dengan Natsu. Kenapa kali ini tidak.
"Kau pergi dengan Ice-Bastard?" Tanya Natsu kaget.
Dan Lucy mengaguk sambil bergumam senang.
"Hei kalau begitu pergi ambil misi lagi yah? Temani aku" pinta Natsu pada Lucy. tapi Lucy hanya berdiri dan meninggalkan Natsu.
"Lucy,Tunggu!" panggil Natsu mencoba menahan tangan Lucy. tapi di tepis nya dengan kasar.
"Jangan pegang aku" katanya datar.
Sedangkan Natsu yang menerimanya hanya kaget dengan perlakuan teman nya itu.
.
.
"Natsu,kau kenapa?" Tanya Juvia saat melihat Natsu yang baru pulang dengan muka marah.
"Aku melihatnya Juvia" kata Natsu pada Juvia, dan langsung saja Juvia tahu siapa yang di maksudkan nya, dan ia merasakan penderitaan Natsu.
Tanpa basa-basi lagi langsung saja Juvia memeluk Natsu,dia ingin Natsu bisa bahagia. Natsu adalah laki-laki yang sangat baik di mata Juvia. Tak lama pun Natsu membalas pelukan Juvia. Ia sangat membutuhkan seseorang sekarang dan hanya ada Juvia yang berada di samping nya.
"aku menyangi mu" kata Juvia memeluk Natsu erat.
"Tolong jangan begitu tersenyumlah, aku tahu memang susah tersenyum dalam keadaan seperti ini tapi jangan menipuku dengan mengatakan bahwa kau baik-baik saja Aku mengerti perasaan mu. Jika memang kalau kau sedang kesusahaan jangan di tahan. Ada Juvia di sini" kata Juvia yang semakin memeluk Natsu erat.
"Aku menyangi mu,Natsu sangat" kata Juvia sedangkan Natsu hanya terdiam.
Wanita Ini sangat mengerti dirinya.
.
.
.
.
"Apa?! Kau beretemu Natsu?" teriak Gray yang kaget saat mendengar perkataan Lucy barusan.
Mereka Baru saja pulang dari rumah Madam Evaille, pada Saat mereka menuju rumahnya setelah misi Lucy sempat menghilang, ya ampun hilang di kota besar seperti Crocus itu sangat berbahaya. Tapi Gray menemukan nya dengan cepat hanya saja Lucy terlihat sangat murung bahkan sampai di rumah Madam pun ia masih begitu. Dan pada saat Gray bertanya barulah Lucy memeberitahu.
"Tadi aku bertemu dengan Natsu"
Lucy hanya menjawab pertanyaan Gray dengan anggukan bibirnya kaku untuk bercerita tentang apa yang terjadi saat ia bertemu dengan Natsu.
"Jangan pegang aku"
Entah kenapa kata-kata itu terus terngiang di kepalanya, dan seperti ada Déjà Vu tadi, tapi kata-kata Natsu itu betul-betul membuatnya terluka.
"Berarti ada Juvia di sini" kata Gray yang tiba-tiba membuat kepala Lucy yang sedari tadi tertunduk tiba-tiba tegap.
"A—apa?!"
"Juvia juga ada di Crocus" kata Gray yang kali ini, "Hari itu saat aku pergi menemuinya ia benci pada ku, saat kedua kali aku datang dia sudah tidak ada" kata Gray pelan mengingat ketika ia datang ke Matera Juvia sudah tidak ada di sana.
"tapi kenapa kau bisa tahu Gray?" Tanya Lucy yang kali membuat Gray sadar bahwa ia telah keceplosan.
"Huh?"
"Kenapa kau bisa tahu kalau Juvia juga ada di sini Gray?" Tanya Lucy ,yang langsung membuat Gray kegalapan.
'SIal keceplosan lagi'
"itu—itu.."
"Katakanlah bahkan saat kau pergi ke Matera menjemput Juvia kau tidak berbicara apa-apa!" kata Lucy yang sedikit membentak.
Gray hanya tertunduk kaku terpaksa ia harus menceritakan tentag kejadian 3 tahun lalu.
.
.
.
.
.
.
"Sudah baikan?" Tanya Juvia pada Natsu yang sedang makan.
Juvia pun duduk di samping Natsu memegang tangan nya dan mulai berbicara dengan nya "Natsu ceritakan pada ku ada apa tadi saat kau pergi?" Tanya Juvia pada Natsu.
"Aku bertemu dengan Lucy" kata Natsu pelan dengan suara nya yang datar.
"Oh, Lalu?" Tanya Juvia pada Natsu yang mulai khawatir kalau ada Gray di sini.
"Ada Gray bersamanya.." kata Natsu. "Oh..."
"Apa kau tidak takut?" Tanya Natsu yang mendengar Jawaban Juvia tadi "Buat apa? Juvia punya Natsu" katanya yang sedikit membuat Natsu tesipu.
"Mau makan? Ayo kita pergi ke restoran aku malas masak" kata Juvia santai.
Natsu hanya menjawab nya dengan senyum dan mengambil tangan Juvia dan menggandeng nya keluar dari Rumah yang mereka tempati.
"Kau tahu? Aku senang sekali ketika kau menjadi seorang penyani Juvia,sangat senang" kata Natsu pada Juvia sambil mereka berjalan menuju restoran di mana biasanya mereka makan berdua.
"Hmm"
"Lalu aku senang sekali lagumu yang judul nya,Red" kata Natsu pada Juvia, "Kenapa?" Tanya Juvia sedikit menggoda Natsu padahal ia sudah tahu jawaban nya.
"Karna itu Untuk ku.." kata Natsu tersipu. Sedangkan Juvia hanya tertawa.
.
.
.
.
.
"Kenapa kau tidak pernah bilang Gray?!" teriak Lucy dengan Mata yang sudah berkaca-kaca.
"Untuk apa Aku bilang? Nanti kau hanya akan bertambah sakit Hati" kata Gray yang sedari meremas Ujung T-shirt nya menahan amarah nya.
"uggghh" Gumam Lucy pelan mencoba menahan amarahnya Pun pergi meinggalkan Gray di penginapan mencoba mencari ketenagan di jalan-jalan di Crocus.
'ini kah yang Natsu rasakan selama ini?'
'Rasa sakit hati karna dihianati?'
'Karna itu makanya dia pergi?'
"Ugghh..."
"Natsu maafkan aku" Gumam Lucy yang berjalan terus tampa Arah di Kota besar seperti Crocus.
Lucy terus berjalan-berjalan sampai Tiba-tiba ia mendengar Suara tawa dua orang yang taka sing di telinga nya.
Satunya sura Pria dan satunya lagi suara wanita, seperti suaranya Juvia dan suaranya...
Natsu?
Tiba-tiba saja Lucy berbalik mencoba mencari Pria bersurai Salmon dan Wanita berambut Biru Azure dan saat ia berbalik ia menemukan sang Pria bersurai Salmon sedang memeluk wanita berambut Biru Azure dengan Bahagianya.
Membuat Lucy pun teringat dengan penjelasan Gray tadi.
'Natsu saat ia pergi,ia pergi bersama-sama dengan Juvia'
'Ia berkata padaku Bahwa , aku tidak moleh menyentuh Juvia'
Lucy pun terdiam dan ia mulai berpikir Apahkah Natsu sudah menyukai Juvia?
.
.
.
.
To Be Continue
Hurt 11
.
.
.
Maaf terlamabat Aku bakalan ada di Hiatus selama beberapa Bulan sudah kelas 9 SMP bulan Maret Ujian Full
Sampai Jumpa, Maaf tidak balas Review.
Celine-nee-sama
